Selamat Idul Fitri

Oleh: A. Mustofa Bisri (Gus Mus)

 

Selamat idul fitri, bumi
Maafkanlah kami
Selama ini
Tidak semena-mena
Kami memperkosamu

Selamat idul fitri, langit
Maafkanlah kami
Selama ini
Tidak henti-hentinya
Kami mengelabukanmu

Selamat idul fitri, mentari
Maafkanlah kami
Selama ini
Tidak bosan-bosan
Kami mengaburkanmu

Selamat idul fitri, laut
Maafkanlah kami
Selama ini
Kami mengeruhkanmu

Selamat idul fitri, burung-burung
Maafkanlah kami
Selama ini
Memberangusmu

Selamat idul fitri, tetumbuhan
Maafkanlah kami
Selama ini
Tidak puas-puas
Kami menebasmu

Selamat idul fitri, para pemimpin
Maafkanlah kami
Selama ini
Tidak habis-habis
Kami membiarkanmu

Selamat idul fitri, rakyat
Maafkanlah kami
Selama ini
Tidak sudah-sudah
Kami mempergunakanmu.

 

 

Iklan

doa pagi ini

Hari ini saya ingin berdoa untuk orang tua saya, semoga Allah senantiasa menjaga mereka, memberi mereka kesehatan, umur panjang, dan keselamatan di mana pun mereka berada. Saya tahu, seorang anak tidak akan mampu membalas budi orang tua dalam porsi yang sama. Termasuk juga saya.

Selama ini, kedua orang tua sayalah yang senantiasa mengayomi saya, selalu ada di belakang saya tatkala sedih dan bahagia. Bahkan bila saya terkena imbas oleh ke-ngeyel-an saya sendiri di masa lalu, mereka masih ada untuk saya. Dapat dikatakan, sebagian besar pencapaian dalam hidup saya tidak lain tidak bukan adalah karena jerih payah dan doa orang tua saya. Saya selalu ingat, merekalah yang bahkan sejak saya kecil, selalu bangun lebih awal dan tidur lebih akhir untuk bekerja demi anak-anaknya, bahkan hingga hari ini. Merekalah kedua orang yang pernah dan selalu mengajari saya cara mengenal Tuhan dan senantiasa mengingatkan untuk tidak berjalan terlalu jauh dari-Nya. Meskipun, seperti halnya orang tua normal hasil didikan zaman dulu, kedua orang tua saya tentu memiliki sisi posesif dan sifat “memiliki wewenang dalam menentukan nasib anak-anaknya”.

Tapi sisi lain dari itu semua, merekalah yang membuat saya terinspirasi. Akhirnya, saya meyakini, bagi saya kemalasan adalah dosa yang mengakibatkan kerugian, terutama waktu. Meskipun sekarang saya masih sulit bangun pagi, tapi saya tahu saya akan terus berusaha mendedikasikan tenaga, pikiran, waktu, bahkan perasaan sepanjang hidup saya untuk Allah, seperti yang dilakukan kedua orang tua saya. Seperti yang juga diajarkan oleh agama. Bila tidak demikian, memang benar sih, capek. Bekerja yang niatannya untuk dunia saja, rasanya memang lebih melelahkan dan cepat bosan. Demikian yang selalu diingatkan oleh mereka.

Saya rasa, memang tidak mudah mengerti jalan pikiran orang tua kita sebelum kita benar-benar jadi orang tua seperti mereka. Barangkali saat ini saya belum atau sedang tidak menjadi orang tua. Tapi setidaknya, saya perlu beriman pada hal-hal yang belum saya temui.

Maka, saya dedikasikan doa saya ini untuk kedua orang tua saya–kedua orang tua spesial yang tak kurang mengingatkan anak-anaknya soal ibadah dan betapa dekat sama Allah itu segalanya dibanding dekat dengan hal-hal bersifat duniawi. Juga para orang tua di luar sana yang sudah merasakan betapa susahnya jadi orang tua di zaman sekarang.

Dan saya mengerti, terkadang kedua orang tua kita memang kurang logis ngasih imbauan pada anak-anaknya, tapi Tuhan lebih tidak terjangkau akal dalam masalah mengatur kehidupan manusianya. Meskipun keduanya sama-sama berdasarkan kasih sayang yang tidak terputus dan tak terbatas.

Allah, mohon kabulkanlah limpahan doa yang tentu seluruhnya hanya bisa saya sampaikan lewat batin.

*edisi iktikaf bareng ortu 🙂

pojok lamunan

Hei, sudah berapa jam aku melamun? Sejak sebelum tarawih sendirian di kamar, hingga tarawihnya usai pun lamunan pun dilanjut. Rasanya hari ini kata-kata yang keluar dari mulutku bisa dihitung dengan jari. Di samping memang karakterku cenderung begitu, di samping terpengaruh juga lingkungan kantorku yang orang-orangnya pendiam, kurasa, aku sedang kehabisan alasan untuk berbicara hari ini. Tapi dengan begitu sih aku jadi lebih banyak menulis dalam diam. Aku menyukai kesunyianku. Aku suka diam seperti ini karena selalu lebih baik daripada berbicara. Belum tentu juga ada yang mau mendengar.
Aku sudah meminum secangkir kopi sekalipun aku tak sempat makan. Aku sudah mendengar musik berjam-jam sejak tadi pagi, entah sudah berapa ratus kali. Beberapa musik yang sama kuputar berulang-ulang. Aku juga sudah membaca bebarapa lembar buku dan belum selesai, tapi rupanya hingga saat ini aku tak beranjak dari lamunan. Oh iya, aku juga tak menemukan HP-ku sedari tadi, entah hilang di jalan atau tertinggal di kantor. Tapi peduli amat. Toh jarang berbunyi. Aku cenderung tipe yang tak bisa memegang benda elektronik berlama-lama, terlebih tidak banyak berfungsi. Rasanya aku sedang gemar berdiam diri dan duduk sambil ngetik-ngetik di tempat tidurku sendiri.
Tentu saja, diam bukan berarti berhenti. Tak lama, aku iseng baca-baca beberapa blog sebelah. Beberapa kucomot dan kusimpan di folder khusus untuk kukirim ke teman-temanku bila mereka sedang galau barangkali. Beberapa ingin kutulis sebagai kuis main-main. Seperti yang kudapatkan dari salah satu postingan blog An Mansyur, rasanya aku ingin mencoba menjawabnya dengan font tebal:

1. Apakah kau lebih mencintai seseorang menggunakan dada, jari-jari, atau kepala?      Kepala

2. Berapa waktu yang kamu butuhkan dalam sehari untuk masing- masing aktivitas berikut ini?
a) duduk di dekat jendela bersama segelas teh atau kopi memikirkan diri sendiri:   2 jam
b) menatap langit-langit kamarmu sebelum tertidur:   setengah jam
c) tidur dan menggeliat di atas kasur:   5 jam
d) telanjang di kamar mandi:   5 menit

3. Kamu lebih suka meninggalkan dan menanggalkan atau ditinggalkan dan ditanggalkan?   Yang kedua

4. Kau memaafkan seseorang untuk kepentingan siapa?  Orang yang saya maafkan dan diri saya sendiri tentu

5. Kata apa yang paling sering kau sebutkan ketika sedang bersedih?  Tuhan dan kematian

6. Siapa pengarang dan sutradara favoritmu?     Pengarang aja ya… Pramoedya AT

7. Apakah kau lebih senang menyanyi, menari, atau diam pada saat gembira?   Diam

8. Berapa lama waktu yang kau butuhkan untuk melepaskan rindumu kepada orang yang tidak mungkin kembali? Bisa      seumur  hidup, haha, bingung sama pertanyaannya…

9. Apakah kau guci mahal yang takut pecah atau telur yang selalu berharap dipecahkan?   Kedua

10. Bisakah kau menjelaskan rasa kesedihan sebagaimana kau menjelaskan rasa makanan favoritmu?  Nyaris nggak bisa

11. Jika aku memintamu jujur mengatakan sesuatu yang paling buruk perihal aku, apa yang ingin kau katakan——-

12. Apakah kau ingin menjadi hantu atau orang yang dihantui?     Hantu

13. Jika kau seorang karakter fiksi, siapa dirimu?  Mary Jane (pacar Spiderman) dan Alina, tokoh cerpennya Seno Gumira Adjidarmo, padahal nggak banyak penjelasan karakter ya di cerpen itu, haha

14. Kau lebih menyukai kedalaman laut atau ketinggian langit?   Ketinggian langit dong

15. Berlari atau berjalan? Diminta atau dicuri? Di kening atau di punggung tangan?  Berjalan; Dicuri; di Kening.. eh ini yang terakhir itu maksudunya mengarah ke pertanyaan apa ya?

 

catatan subuh

 

Bagiku salat Subuh bersama adalah awal dari segala kebahagiaan kita seharian kemudian. Tapi bila itu telah menjadi biang keributan di antara kita, aku akan berhenti membangunkanmu dan tak akan berharap engkau mau membangunkanku.

Semoga masih ada di dunia ini, cinta yang tetap terbagun karena kecintaan kita terhadap Allah.

 

 

 

episode langit

Di kota kecil ini, setiap siang adalah saat di mana orang-orang angkuh terbangun untuk menggelar panggung. Telingamu akan bising oleh suara-suara yang melengking tajam ketika kau membuka mata, matamu sakit oleh cahaya-cahaya yang menyakitkan, dan kepalamu seperti dihuni ribuan rayap dari berbagai penjuru. Dan dalam kaku dan marah, kita takkan memilih berbicara. Lalu barangkali engkau yang pendatang akan bertanya-tanya bagaimana bisa kota ini kehilangan peta. Kota ini lebih kehilangan langit dan mereka semua bahkan membakar arah. Mereka membangun langit-langitnya sendiri dengan kesombongan. Di tempat ini, cahaya tidak selalu berarti terang atau jawaban yang ditemukan dari kegelapan. Seperti halnya aku yang hidup dalam bayang-bayang rerumputan dan bebatuan yang diam di tepi kali.

Di tempatku berada, malam selalu menjelma sesat, di mana setiap orang menutup semua pintu dan berkhayal tentang kelelawar yang menghisap otakmu tiba-tiba. Tak satu lampu pun menerangi jalan-jalan. Di tempat ini, matahari dapat berhenti bercahaya. Meski setiap orang menudingku aneh karena hanya aku aku mencintai langit malam dan membenci terik yang palsu, tapi tak mengapa. Bagiku langit adalah kekasih sejati dengan segala aksara dan rahasianya. Demikianlah bila aku telah menyimpan sesuatu yang takkan kau urai.

Aku akan selalu suka malam juga hal-hal yang tak disukai orang-orang di kotaku. Barangkali sejak aku harus berpisah denganmu kala itu. Sebab siang dan orang-orang adalah dua hal yang tak menyukaiku. Maka mudah bagiku mengunjungi malam dan lari ke arah pekatnya sementara mereka menutup pintu dan kami tak saling mengganggu. Kurasa tak pernah dan nyaris tak ada yang sempat bersamaku menemukan langit begitu indah di malam hari. Ada ketidakbatasan yang selalu kupertanyakan. Selalu ingin kutuju. Pada suatu hari nanti, kukhayalkan, aku ingin membongkar langit, membangun menara, dan menyimpan semua hujan. Mungkin supaya dapat kusimak engkau dari arah sana. Memastikanmu bahagia.

Aku yang di tempat ini, aksara yang diabaikan waktu, dijauhi musim, dipisahkan dari angin. Aku yang kini menutup semua pintu entah demi apa. Dan hingga detik ini aku masih saja menyimpan sajak-sajakmu. Meski aku belum pernah tahu apa yang kelak dapat menghentikan perasaan itu.

 

(untuk Tuhan dan hari-hari yang senantiasa berganti)

kepada Engkau:

 

Tuhan:

engkau adalah matahari, bumi, dan jutaan galaksi 
kau yang tak lelah mengajariku batas di mana perasaan bermuara,
di mana cinta aman tersimpan
dan di mana kasih tersembunyi dalam diam

engkau daun, embun, bunga, dan hujan di bulan Juli
yang menjawab segala dingin
yang senantiasa menyapa dari ujung jendela
mengantar gerimis demi gerimis pulang pada usia

dan engkaulah lautan, awan, udara, dan peta musim
semesta yang mengajariku berjalan
dan mencari jalan pulang
pada segenggam kedamaian

 

 

-00:25, di dini hari yang dingin

Bahagia Pun Butuh Alasan: You’re Not Funny Enough

Judul: You’re Not Funny Enough (Novel)
Penulis: Jacob Julian
Penerbit: PING!!! (Juni, 2014)
Halaman: 280 halaman
ISBN: 9786022556176

Apa yang membuatmu ingin bahagia? Siapa yang akan kau bahagiakan? Kenapa kau ingin bahagia? (halaman164)

Kapabilitas seorang comic atau komedian ditentukan apakah show-nya berhasil. Apa yang terjadi bila seorang comic sudah tak lagi berhasil membuat audience-nya tertawa? Dan mengapa demikian?

Jamie adalah seorang comic yang sedaang meniti kariernya dari bawah. Semula, ia menemukan sisi gelap dan menariknya stand up comedy sebab berhubungan erat dengan seni menggembirakan banyak orang dengan komedi yang dibawakan. Seorang comedian selalu butuh memperbarui ide, kemampuan tampil, dan waktu untuk mempersiapkan materi demi membuat penontonya terhibur.

Dalam kesuntukannya kuliah, ia menemukan hiburan yang menarik pada stand up comedy. Kemudian ia bercita-cita menjadi comic terkenal. Demi menekuni karier impiannya ini, ia bahkan sempat berhenti kuliah.Ia lalu bekerja di kafe Beni, seorang sahabat yang bahkan mau memberikan pekerjaan lengkap dengan fasilitas selama ia mau tampil rutin di kafenya. Namun rupanya nasib baik belum berpihak padanya. Sejak putus dari Sonya, Jamie mengalami kemunduran. Tak seorang pun datang untuk menonton pertunjukan tunggalnya di kafe sebab penontonnya tak merasa Jamie selucu yang dulu. Kegagalannya tampil dalam show tunggal membuatnya terdorong untuk berhenti bekerja dengan Beni, bahkan ingin melupakan dunianya dan berganti profesi. Segala daya upaya sudah dilakukan. Ia merasa bahwa dunia comic tak lagi memberikan keuntungan dalam hidupnya. Ia juga menyadari bahwa kesedihannya membuatnya tak memiliki semangat untuk menggali lagi kemampuannya. Alasan-alasan itulah yang menyebabkan ia memutuskan untuk tetap berhenti. Jamie kehilangan kepercayaan diri dan merasa bahwa menjadi comic bukan lagi jalannya. Ia pun memutuskan move on ke Kalimantan.

Dalam perjalanannya ke Kalimantan, ia bertemu dengan sepasang backpaker, Fey dan Luka. Mereka mendesaknya untuk menampilkan stand up comedy di lounge kapal sebagai hadiah pertunangan. Demi pertemanan, ia pun melakukannya. Pada saat itulah, ia justru mendapat respons yang lumayan bagus dari penonton. Apalagi Fey yang pada akhinya malah menjadi fansnya dan berharap ia dapat menontonnya kembali. Namun kehadiran Fey dan tunangannya belum cukup membuat kepercayaan dirinya kembali. Tawaran kapten untuk tampil rutin di kapalnya pun ia tolak. Namun, ia merasa ada sepercik semangat dalam hidupnya tatkala Fey yang ceria dan manis itu memposisikannya idola. Bahkan terang-terangan di depan Luka, tunangannya. Sayang, itu tak cukup membuatnya bangkit ketika menyadari Fey sudah ada yang punya.

Turun dari kapal, Jimie menemukan kehidupan yang berbeda dan menuntutnya untuk mulai dari nol. Namun hidup rupanya menyimpan kejutan lain. Menjadi tukang bersih-bersih mal membuatnya bertemu dengan Pak Gaiman–orang lokal yang menetap tinggal di atas tanah leluhurnya yang kini menjadi bangunan mal. Rupanya Pak Gaiman adalah seorang pesulap. Perkenalan dengan Pak Gaiman mengantar Jamie pada kesadaran bahwa menjadi komedian memang profesi sejatinya. Dari seorang Gaiman yang keras dan banyak pengalaman, Jamie banyak mendapat petuah berharga darinya.

Di tengah menjalani profesi barunya sebagai tukang bersih-bersih, tak disangka ia bertemu dengan Fey yang rupanya telah putus dari Luka. Dari pertemuan itu, ia tahu bahwa Fey ternyata memedulikannya. Ia juga berharap Jamie dapat menjadi comedian kembali seperti yang ia kenal dulu, dan di samping itu, Fey juga mengutarakan isi hatinya pada Jamie yang saat itu malah tidak ngeh dengan maksudnya. Fey lantas menghilang lagi dengan meninggalkan tanda tanya bagi Jamie.

Pada suatu hari Jimie ditawari Gaiman dan rekannya untuk mengisi pembukaaan sirkus. Dalam kebimbangannya, Jamie tahu ia hanya butuh kerja keras dan konsisten di jalan yang pernah ditempuh yang bahkan pernah harus berkorban demi berada di jalan itu. Tapi rupanya perasaan pada Fey yang ceria dan manis juga mampu mengembalikan semangatnya. Jamie mau menjalani profesi sebagai pembuka sirkus Gaiman dan kawan-kawan dengan stand up comedy. Kerja kerasnya membuahkan hasil. Secara berkala ia mulai mendapat banyak perhatian dan penggemar. Pada akhirnya ia bahkan mendapatkanan kesempatan tur stand up comedy ke beberapa kota dari sponsor. Hal itu membuat Jamie bersemangat. Tentu saja ia siap menjadi populer dan muncul di televisi hanya demi menemukan Fey kembali. Ia sadar rupanya Fey adalah salah satu alasan terkuat yang membuat ia bangkit kembali ke dunia stand up comedy.

Novel karya Jacob Julian ini memiliki ending yang manis di mana tokoh Jamie kembali sukses menjadi comic atas kerja kerasnya dan sadar bahwa ia butuh Fey, seseorang yang akan selalu mendukung kariernya dan tak akan meninggalkannya. Kehadiran seorang kekasih yang setia tentu membuat Jamie bahagia. Menunjukkan pada kita bahwa kebahagiaan pun juga butuh alasan. Terlebih seorang comic juga butuh berbahagia untuk bisa membuat orang lain tertawa dan bahagia.

Alur dalam novel Julian ini cukup menarik dan mampu menggambarkan kehidupan comedian dari sisi yang lain secara lebih dekat. Pembaca seperti diajak untuk memahami dunia comedian dari latar belakang dan sepak terjangnya. Hanya saja masih ditemukan beberapa kalimat rancu seperti yang ada dalam halaman 107: “Karena suatu saat. orang berpacaran juga bisa berakhir dengan kata-kata… “, halaman 238: “kau sudah pacar?”, dan juga beberapa di halaman lainnya. Untuk itulah, baik penulis maupun editor perlu mencermati lebih teliti karena kesalahan-kesalahan kecil yang bersifat gramatikal juga bisa berpengaruh pada feel pembaca. Kemudian perlu juga bagi penulis untuk riset logat/aksen bahasa, sebab Pak Gaiman yang penduduk suku daerah tentu berbeda gaya bahasa dengan Jamian dan Beni misalnya.

Namun demikian, lepas dari hal-hal itu, novel You’re Not Funny Enough cukup menarik sehingga dapat dijadikan bacaan ringan di kala suntuk. Saya yang sudah lama tak membaca novel teenlit pun menikmati novel ini dan menemukan banyak hal yang membuat saya akhirnya tersenyum di bagian akhir kisahnya. Bila saya harus menggunakan bintang untuk menilai novel ini, baiklah saya akan kasih 3 bintang 🙂

Salam dari Embun

Hal membahagiakan hari ini adalah ketika embun membangunkan tidurku dan mengajakku berbicara dalam hening.

“Kamu masih mengantuk?”
“Pekerjaanmu kemarin hari cukup menguras tenaga kan? Kelihatan dari kantung matamu yang tebal.”
“Bagaimana perasanmu hari ini?”
“Aku tahu kamu bahagia tatkala sibuk bekerja.”
“Berangkatlah kerja dan hati-hati di jalan, sebab sepertinya kami sepakat untuk tak mengguyurmu dengan hujan.”
“Semoga akhir pekanmu membahagiakan ya, jangan takut berharap demikian. Kamu harus mulai belajar berpikir positif.”

-Salam dari embun pagi harimu

 

Pagi di Hari Sabtu

Demikianlah bila sedang libur puasa sementara seluruh keluargamu berpuasa: bangun kesiangan, bikin kopi sampai tumpah, dan berjumpalitan ngebut 80 km/jam berangkat ke kantor. Seperti zaman single dulu. (Yeah, perempuan nikah kan biasanya dianggap berkepribadian lebih hati-hati dan “lebih wanita” dariapda ketika single).

Tapi lebih santai memang berangkat kerja di hari Sabtu dan aku selalu suka itu. Jalanan lebih lengang dari biasanya karena sebagian besar kantor di kota ini libur. Kau akan menemukan nuansa yang lebih hangat meski kamu merasa sepi. Kau takkan bertemu kemacetan yang dipenuhi orang-orang yang kalut memikirkan pekerjaannya. Kau bahkan akan sempat mengamati warna langit dan jajaran pegunungan di kejauhan sana yang diselimuti kabut samar. Juga bisa mengamati bangunan dan pertokoan serta aktivitas paginya sepanjang jalan yang kini semakin berdesakan.

Dan demikian bila kamu sedang sendiri. Tak perlu selalu diperhatikan sebab Tuhan toh merasa engkau mampu mengurus hidupmu sendiri. Itulah gunannya bersyukur dengan semua kondisi. 🙂

sepi

 

Sepi itu adil. Ia tak memandang kamu seorang bos, suami/istri, seorang anak, artis, pemimpin negara, politikus sekalipun.

Kesepian menyapamu bagai angin di musim hujan bila ia hadir. Engkau menggigil dalam bosan dan lelah tapi betah. Saat itu, engkau berharap memiliki lorong yang bisa engkau pakai berjalan ke arah-Nya sewaktu-waktu untuk sekadar curhat. Sebab barangkali hanya Ia Yang Maha Memahami, sampai kau menyadari bahwa manusia bukan tempat bergantung.

 

 

 

pernyataan

Oke, saya capek, penat, dan bosan mengikuti arus keramaian pemilu ini. Semakin banyak orang brutal di sekitar kita dan mereka semua bawa pilihannya masing-masing. Saya sendiri nggak punya waktu 24 jam penuh untuk menelusuri kedua capres dari sejarah, karakter, atau apa pun itu karena saya harus bekerja, toh lagipula mustahil bisa mendapat data yang akurat, lengkap, dan adil. Di sekitar saya, orang-orang ramai memperjuangkan pilihannya masing-masing dengan alasan yang semuanya kuat. Oleh sebab itu, saya nggak bisa menghakimi siapa yang lebih buruk atau lebih baik. Saya nggak mau jadi “orang buta sebelah” karena subjektivitas, karena siapa tahu dengan mudah percaya, saya malah nggak tahu fakta yang sebenarnya. Siapa tahu dengan merasa paling benar, saya malah jadi takabur, parah lagi malah jadi fanatik terhadap sesuatu yang seharusnya tak perlu begitu. Padahal fanatik adalah awal mula dari kesempitan berpikir.

Saya hanya berharap tanggal 9 cepat datang supaya segala kekacauan ini tidak berlangsung terus-terusan. Dan siapa pun presidennya nanti, saya akan ikut mensyukuri dan tetap berdoa untuk kebaikan negara RI. Bukankah inti dari semua ini adalah Indonesia di masa mendatang? Bukan partai atau golongan? Sebab saya tidak mau dibutakan oponi-opini yang selalu memihak, maka saya cenderung nggak punya ketertarikan dengan eforia pemilu ini. Entah apakah itu kampanye hitam, putih, atau abu-abu, di era media seperti ini, bukankah orang berhak memilih mana yang ingin dijadikan media langganan.

Kamu sendiri milih mana? TVOne atau MetroTv? hehe. Peace.