Reuni Orang-Orang Asing

Sepertinya saya memang mengalami dua reuni yang agak menggelikan belakangan ini. Kemarin dan hari ini. Saya memang suka bertemu teman-teman dalam sebuah forum, apalagi kalau tidak lama-lama. Hanya sedikit menangkap kejanggalan di reuni semalam. Bayangkan engkau sebagai wanita yang belum menikah, berada di antara teman-teman lama sesama wanita yang semuanya telah berkeluarga dan punya beberapa anak. Kira-kira apakah obrolan yang banyak terjadi?

Kedua, rupanya reuni baru akan terasa aneh kalau dikemas dalam tema yang formal. Ada satu sesi di mana para alumni dari berbagai angkatan menyebutkan pekerjaaan-pekerjaan mereka usai lulus dengan bergiliran. Hasilnya sudah diduga. Hampir semua nggak bekerja di bidang sastra dan yang berhubungan dengan itu. Menurut saya sudah hal yang wajar di Indonesia, alumnus sarjana bekerja di bidang yang tidak nyambung dengan ilmu yang dipelajarinya 4-5 tahun.

Saya guru Matematika, sejak semester 8, kujawab demikian dengan ekspresi biasa saja. Juga jujur menyatakan kalau hal menyenangkan selama kuliah adalah karena angkatan saya cuma 3 orang, dan saya suka belajar di suasana yang tidak terlalu ramai. Rasanya ingin menyampaikan bahwa, pekerjaan fulltime saya cuma membaca dan menyepi, apa pun itu yang lain pekerjaan parttime, terima kasih. Dan acara semacam ini sungguh kurang bermutu. Lalu sesi lain, para dosen banyak membahas mereka yang pernah dapat besiswa atau ke luar negeri. Juga dosen lain pun bercerita pengalamannya di luar negeri. Sebagai semacam ‘patokan’. Baru sadar kalau peserta dari sastra Indonesia cuma saya seorang.

Jadi inget kata kakak angkatan yang terbiasa ngomong ceplas-ceplos tapi kadang bener: “mepelajri sastra memiliki visi misi mengubah keadaan di masyarakat. Lebih luas lagi dunia. Kalau sastra inggris nggak mempelajari karya sastra secara mendalam, malah banyak tata bahasa dan manfaatnya di bidang pekerjaan, sama saja kayak les bahasa Inggris di elti dong. Banyak toh yang akhirnya kerja di bank atau perhotelan?”
Tapi itu dulu, waktu sastra Inggris dan Indonesia, masih saling sindir dalam forum-forum tertentu. Sekarang, kedua jurusan itu tampak saling membutuhkan dan bergantung.

Sebaliknya, prodiku sendiri juga masih kacau bin tidak jelas. Sampai tahun ini bahkan masih mencari identitas, dan sampai 3 kali, saya, yang termasuk alumni, bahkan dimintai ide mata kuliah tambahan yang bermanfaat untuk profesi mahasiswa ke depannya.”
Semakin ngawur lagi. Ide-ide keren yang dulu bermunculan dikemanakan?
Memang bakal disetujui apa kalau saya usulkan yang aneh-aneh, seperti Matkul Kesetaraan Gender dan Feminisme misalnya? Perasaan dulu mahasiswa yang bertampang sosialis dan mempelajari buku-buku kiri dicap komunis juga deh. Usulan skripsinya pun alot dan njulik. Tapi menarik juga, usaha tetep penting bukan? Saya bakal usulkan hal-hal yang memang dibutuhkan di zaman edan semacam sekarang.

Kembali ke masalah acara.

Tahu bakal ditodong mic, aku hanya bolak-balik ke arah meja snack, ambil kopi, ambil camilan, dan lain-lain sebelum disodori benda tersebut untuk berbicara. Kami semua berbicara satu-satu brgiliran menceritakan (memamerkan) kesibukan sekarang. Kerja freelance dan wiraswasta masih dianggap pengangguran di negeri ini, saya sadar itu. Dan akhirnya di depan umum seperti itu, tentu saja aku hanya bicara sedikit dan secukupnya saja. Selain malas ngomong, memang sudah lama sekali tidak terbiasa di depan publik, sejak tidak lagi akif di organisasi dan sejak pekerjaan editor membuat saya jadi semaikin introvert. Sejujurnya, selain pohon tebu dan pria bertampang ganteng, suasana formal seperti itu juga salah satu hal yang membuat saya agak elergi dan pengin cepet menjauh.

Maklum kalau akhirnya banyak yang tidak jadi datang karena alasan malu dan nggak nyaman dengan acara formal. Dan selanjutnya, aku menyadari, orang-orang terbaik yang mestinya dapat menghidupkan hal yang “sastra” di kampus, lama kelamaan menjadi terpecah sendiri-sendiri dan hilang. Kukira acaranya bakal seperti pesta kebun sambil bakar jagung dan ngobrol bebas seperti tadi malam.

Tiba-tiba jadi bertanya-tanya, apakah reuni ini memang untuk reuni itu sendiri?
Atau apakah ada hubungannya dengan unsur marketing dan peningkatan akreditasi kampus?
Apakah ada gunannya perkumpulan reuni diadakan setiap dua tahun? Bukannya malah efektif kalau 10 tahun sekali?

Omong-omong, memang kesuksesan seseorang dapat dinilai dari kantor tempat ia bekerja atau apakah ia pernah keluar negeri?

Yeah, kuakui, ada sebagian dari masyarakat kita yang merasa menemukan perasaan pulang dan bahagia ketika telah berada di negeri-negeri yang jauh di sana. Ada juga yang demi sesuatu yang lebih penting di tanah airnya, mereka bersedia berlama-lama menahan ketidakbetahan. Dan kita juga tahu, ada juga manusia yang sudah merasa bahagia dan sukses ketika dia terbebas dari tanggung jawab pekerjaan apa pun. Ada juga yang bahagia bila ia bekerja lebih dari 20 jam per hari meskipun gajinya sama seperti pegawai bank yang masih training. Ukuran sukses dan bahagia tentu bermacam-macam. Orang juga berkarakter macam-macam. Bagaimana fakultas sastra bisa kurang menjangkau hal-hal yang mestinya “sastra”?

Tapi, hei, apakah itu arti sukses yang sebenarnya?
entahlah..
Sebab tatkala aku mengatakan pada seorang teman yang baru pulang menjelesaikan tugasnya di luar negeri, “Kamu beruntung kesampaian jalan-jalan ke luar negeri, Jenk. Aku baru mimpi aja sudah harus ingat kalau itu mustahil. Kenapa nggak lanjutin kontrak kalau di sana memang banyak tawaran?”
Mukanya malah berubah sendu, dan ia mengatakan, “Aku pulang dan memutuskan tidak melanjutkan kontrak karena pengen menikah, Jenk… tapi calon belum ada, padahal usiaku sudah nggak muda, selain itu aku khawatir dengan ibuku yang sudah sepuh dan belum melihatku menikah.” Dan intinya dia belum merasa sukses. Atau barangkali setiap kesuksesan yang dicapai orang-orang belum tentu merupakan kesuksesan sempurna seperti kelihatannya?

Hari ini aku pulang mengajar dengan resah. Jalan-jalan macet. Sedari siang parade kampanye semakin brutal bentuknya. Cuaca gerah. Dan saya, baru sadar kalau sekarang lagi musim liburan. Pantes.

Reuni Miss-Miss

 

 

Bertahun-tahun sudah tak berjumpa. Dulu kala ketika kita masih bekerja bareng di kantor yang sama, aku masih mahasiswi yang ‘terserah mauku’ dan terobesesi hal-hal baru, sementara kalian telah beranjak dewasa dan ingin menjadi ibu, yang merindukan segala hal mapan pada tempatnya. Kala itu aku tak memahami jalan pikiran kalian, dan bertanya apakah tatkala menjadi dewasa, perempuan akan begitu mengesampingkan dirinya sendiri? Menjadi sedemikian ‘wanita’? Sebaliknya, barangkali waktu itu, kalian juga hanya sekadar memaklumiku, “ah, masih muda.”
Demikianlah masa lalu, betapa lucunya bila ia kembali diulang.
Malam ini, di sebuah ruangan yang pintunya diberi palang “Reuni Mathemagics” periode 3, aku di tangah kalian semua–belum menikah dan suka bermimpi. Tapi rupanya memang banyak yang berubah. Di antara kita, anak-anak kecil berkeliaran: naik ke kursi, berlarian di bawah meja, mengelilingi kolam ikan, menerbangkan sedotan, membuat meletus balon-balon—-betapa lucu anak-anak itu dan betapa gesitnya kalian mengejar-ngejar mereka (kupikir miss-miss ini sempat membelah diri demi mengawasi mereka)

Dan perasaan sedari tadi, cuma aku yang begitu tenang dan hanya makan.

 

 

 

jalan tengah dan kesabaran: catatan harianku

28 Maret 2014
Jumat–di hari yang tak bersahabat denganku, seperti biasa

 

Belakangan saya kembali menikmati hobi menulis dan membaca di dalam suasana yang sunyi, seperti dulu kala, dan akhirnya, saya tahu betapa bahagianya bisa menulis hal-hal yang memang ingin saya tulis. Seperti catatan kecil yang seharian ini saya buat:

 

1.
Manusia memang mesti berada “di tengah”
Satu sisi agama dan nilai-nilai hidup mengajari manusia untuk hidup sebaik mungkin, tapi di sisi lain kita semua tidak boleh terlalu mencintai dunia.
Dan atas banyak alasan, aku selalu sepakat dengan itu.

 2.

Dalam doa, aku pun berada di tengah. Benar kata seorang kawan di masa lalu, bahwa kita tak perlu berdoa minta rezeki sama Tuhan karena Ia sudah siapkan sesuai jatahnya. Yah, kurasa rezeki memang sudah diatur oleh Tuhan sesuai usaha manusianya. Bahkan anak bayi yang lahir di lingkungan miskin juga sudah ditentukan rezekinya, tergantung apakah orang tuanya korupsi atau tidak.
Maka, menurutku, bila kita hanya berdoa minta ditambah materi, sama saja membuat hidup kita rugi dengan hal-hal indah yang bisa kita harap, seperti: kesehatan, menjadi bermanfaat untuk dunia, kesampaian travelling ke penjuru bumi, atau memiliki sahabat-sahabat sejati misalnya.
Tapi doa yang terbaik bagiku adalah jangan pernah Tuhan jauh dan meninggalkanku. Dan semoga Ia selalu kucintai di atas segala hal dalam hidupku. Dalam doa, hanya mampu kuserahkan segalanya pada Yang Maha Pemberi Hidup dalam kondisi netral.

3

Ukuran baik buruk bukan masyarakat yang menentukan, selama mereka tidak terlalu peduli tentang kita dan selama mereka juga tidak pernah membiayai kita seumur hidup. Keyakinan akan ukuran yang terbaik tergantung individu masing-masing.

Dalam hal ini kesabaran memang dibutuhkan.

 

4.

Aku benci di-PHP-in, oleh apa pun itu. Membuatku ingat sejarah diskriminasi yang dialami penduduk marginal, juga termasuk sejarah para perempuan di Indonesia.
Kini sudah zaman kesetaraan. Dan aku bersyukur bahwa aku tipikal yang selalu memiliki kegiatan sendiri yang menyenangkan selama tidak sedang tidur. Bagaimana bila yang mengalami adalah tipikal yang tidak punya kegiatan di luar kemapanan-kemapanan itu, selain menunggu dan menunggu? Dan bersyukur bahwa selama ini aku memang nyaman dengan kesendirian.
Namun bagaimanapun, kalimat “Aku benci di-PHP-in” adalah keputusan yang sama-sama kita sepakati bukan?

5.

Tidak ada orang tua yang sempurna untuk anak-anaknya. Tapi orang tua adalah ‘jalan’ dan tokoh-tokoh terbaik bagi “jalan hidup” anak-anaknya. Begitu juga anak-anak adalah jalan hidup terbaik bagi orang tuanya. Kita semua dalah pembawa sebab dan akibat bagi orang lain dalam bentuk karakter yang beragam. Dan toh bukan hal yang aneh bila karakter anak-anak bisa sangat berbeda dengan orang tuanya, di zaman sekarang… Dan segala hal itu memang sudah digariskan oleh Tuhan. Begitu juga dengan pasangan hidup.
(dan aku sedang tidak berbicara tentang lakon pewayangan)

 

6.

Dengan hal-hal yang amat bersebrangan, kita hanya butuh memaklumi.

Lalu seluas apa makna sabar? Apakah sungguh kesabaran memiliki batasan?

 

 

Dongeng Calon Arang

download

 

Judul : Cerita Calon Arang
Penulis : Pramoedya Ananta Toer (1954)
Penerbit : Lentera Dipantara
Edisi : Cetakan 5, Februari 2010
Format : Paperback, 94 halaman

 

 

 

Kala itu, Daha adalah sebuah negeri yang megah dan makmur. Kini bernama Kediri. Hasil pertanian selalu baik, kemanan negerinya terjaga, dan seperti yang dijabarkan pada bagian awal, setiap orang berbahagia. Daha diperintah oleh seorang raja yang bijaksana dan disegani bernama Erlangga. Namun tak jauh dari istana, terdapat sebuah dusun bernama Dusun Girah, di sana tinggal seorang janda yang begitu ditakuti semua orang. Begitu pula orang selalu takut mendengar nama dusun tersebut. Sebab si janda bernama Calon Arang merupakan ahli tenun yang memiliki perangai yang buruk. Ia tengah marah sebab tak seorang pun mau mempersunting putri semata wayangnya, Ratna Manggali. Kendati Ratna Manggali seorang gadis yang begitu cantik, tak seorang pun mau karena takut kepada ibunya. Dimulailah bencana yang mengusik kedamaiana Daha dan sekitarnya.

Ribuan orang dikirimi teluh dan dibunuh secara sadis. Penyakit mematikan ditebarkan di mana-mana. Bahkan darah orang-orang yang dibunuhnya dipakai keramas oleh Calon Arang dan pengikutnya.
Raja memerintahkan pasukan untuk menumpas Calon Arang, namun gagal karena para pemimpin kelompok terbunuh dengan mudah oleh kesaktian si dukun, membuat seluruh prajurit mundur seketika. Maka, sang raja memanggil setiap orang salih untuk mencoba mencegah calon arang dengan cara lain. Hingga ia menemukan seorang tokoh pertapa yang taat kepada agama dan paling disegani di wilayah Daha bernama Mpu Baradah. Ia pun dimintai bantuan oleh sang raja untuk menghentikan Calon Arang yang semakin menjadi.

Mpu Baradah meminta raja untuk mengutus seseorang untuk mempersunting Ratna Manjali sebelum rencana penaklukan itu dimulai. Erlangga yang telah mempercayai Mpu Baradah sebagai pendeta yang cerdas dan bersahaja pun mengutus Empu Bahula hingga lamaran pun diselenggarakan. Musibah mereda sesaat ketika acara pernikahan tersebut berlangsung. Namun rupanya wabah penyakit yang bertebaran di sekitar Dusun Girah masih berlangsung.

Pada akhirnya Empu Bahula berhasil meminta tolong pada istrinya untuk mengungkap rahasia Calon Arang. Setelah menemukan rahasia Calon Arang, Mpu Baradah pergi membunuhnya. Calon Arang berhasil dibunuh, namun Mpu Baradah menghidupkan si penyihir untuk mensucikan jiwanya sebelum dibunuh kembali. Calon Arang pun meninggal dengan tenang. Mpu Baradah juga menolong para penduduk yang masih dapat diselamatkan.

Seperti halnya kita tahu, dongeng Calon Arang telah secara turun temurun diceritakan, dari mulut ke mulut, juga dari naskah ke naskah. Termasuk yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer. Karena dituturkan oleh masyarakat dari berbagai daerah, maka dongeng tersebut menjadi beberapa versi.

“Semua manusia bersaudara satu sama lain. Karena itu tiap orang membutuhkan pertolongan harus memperoleh pertolongan. Tiap orang keluar dari satu turunan, karena itu satu sama lain adalah saudara.” (hal.21)

Setidaknya ada beberapa hal yang kupetik ketika membaca dongeng ini.
– rupanya, seiblis apa pun seorang ibu, ia tetap akan mencintai anak kandungnya
– setiap yang berlaku jahat dan brutal sekalipun, tetep ingin berakhir menjadi baik
– jangan main-main dengan seorang anak gadis yang belum menikah, bila kau tak ingin dibunuh oleh ibunya

haha, tentu saja saya cuma bercanda karena tidak sesederhana itu. Sejujurnya, banyak hal menyedihkan yang saya temukan dalam buku ini.

Memang sesungguhnya tidak mudah membedah karya-karya yang ditulis seorang Pramoedya meskipun karya tersebut disajikan dalam konsep dongeng. Namun, saya menangkap beberapa hal penting dari dongeng Calon Arang yang sepertinya berada “di balik layar”:
Pertama, bahwa sejak dulu, pertentangan antar dan intern agama selalu terjadi, dan setiap konflik menimbulkan korban, pertentangan Calon Arang dan Mpu Baradah menandakan terdapat pertentangan agama di zaman kerajaan Daha. Intinya dalam buku ini, banyak diceritakan tentang dua kubu kekuatan, dua hal yang kontradiksi, tokoh-tokoh yang bersebrangan, juga tentang permusuhan terhadap sesuatu yang bertolak belakang. Barangkali demikianlah gaya khas penulis yang dalam hidupnya selalu melakukan perlawanan dan selalu berkelahi dengan halangan dan kekuasaan. Mereka tentu menulis dengan cara yang lain.

Kedua, dongeng Calon Arang dalam buku ini juga mengantarkan pembacanya untuk menolak lupa pada sebuah rezim di mana, kala itu, pembantaian juga terjadi di mana-mana, genosida dan bahkan penghilangan sejumlah orang terjadi tanpa kita tahu alasan tepatnya. Dan hingga hari ini masih banyak yang hanya menjadi tanda tanya.

Ketiga: jangan lupa juga tentang sejarah penjajahan yang cukup mengubah sistem di Indonesia bahkan hingga hari ini, dan membuat kita belajar mengenai bagaimana itu penjajahan dari masa ke masa.

Oleh karena beberapa konten yang agak sadis di beberapa bagiannya, barangkali cerita dongeng ini lebih cocok dibaca masyarakat berusia 15 tahun ke atas.

Catatan Senin Malam

1
Aku ingat pernah menuliskan film The Lady, tapi entah di manakah file itu berada.
Film itu begitu menarik, dan setiap peristiwanya kuingat… setiap apa pun yang menyangkut film itu di tahun 2012-an.

Barangkali di dunia ini, cinta yang sempurna tidak ada. Seperti yang ada di film itu.

Cinta? hm, sejak kapan aku sanggup jujur dengan perasaanku?

2.
Karena mimpi itu gratis, kenapa tidak kita tulis mimpi kita sebanyak-banyaknya?

Akhir-akhir ini, aku sedang terus menuliskan mimpi dan rencana-rencana hidup di setiap kesempatan. Belakangan kutahu, menulis rencana hidup juga sudah menjadi tradisi sejak zaman Romawi Kuno. Tapi seperti halnya banyak orang di laur sana, aku juga selalu takut. Bukan takut bermimpi, melainkan tentang hal-hal yang mungkin kelak menghalangi supaya aku berubah pikiran.

3.

Betapa akhir dari sesuatu yang telah lama ditunggu dan ditebak-tebak jawabannya, bisa menimbulkan rasa sedih dan lelah dua kali lipat sepertinya. Dan yang kumaksud ini, tentang ditemukannya bangkai pesawat Malaysia Airlines MH370 yang hilang, yang kubaca beberapa saat yang lalu.
Tapi meski demikian, meski kepastian kadang menyakitkan, tak ada lagi penantian dan prasangka yang tak pasti yang berlarut dan berlanjut.
Demikianlah kadang hidup itu mengajari kita.

4.
Perpisahan selalu menimbulkan kesedihan, sekalipun kita sadar, kesedihan selalu tak berlangsung lama dan kadang datang kemudian pergi, kadang menjadi awal dari sesuatu atau akhir dari sesuatu.

Hari ini, seorang guru yang telah bekerja sama denganku 3 bulan ini mengundurkan diri karena akan pindah ke Kalimantan. Namanya Rina. Dia mahasiswa di salah atu universitas swasta islam di Yogyakarta. Sejak awal aku mewawancarainya, aku telah melihat kesungguhannya. Dia menemuiku tidak lewat iklan yang kupasang di koran atau jejaring sosial, tapi inisiatif begitu ada info terdengar dari temannya. demikianlah, langsung kuserahkan beberapa murid kepadanya yang sedang menunggu guru yang bersedia.

Aku selalu menaruh kepercayaan dengan mudah terhadap mereka yang mau mengajar, dan benar, Rina adalah salah satu dari mereka yang memang berjiwa mengajar. Sebab selama ini aku menghafal seperti apa tipikal pengajar yang orientasinya cenderung hanya pada materi. Tapi untunglah itu hanya satu dua yang kutemui. Rina tipikal yang tulus. Sejak awal dia sudah care dengan permasalahan murid, bila aku harus mengganti jadwalnya dengan guru lain, ia akan meminta nomor si guru tersebut, untuk menjelaskan perihal si murid, supaya ke depannya dapat melanjutkan materi yang diajarkan sebelumnya. Dan itu dia lakukan tanpa kuminta. Yeah, barangkali sebab dia juga paling dewasa dia antara yang lain, maksudnya, sebab guru-guru lain masih semester awal dan masih awam soal mengajar, tapi di samping itu, Rina inilah yang paling mengerti kalau tidak mudah bagiku meng-handle semua ini sendirian.

Dan di antara 12 guru yang bekerja sama denganku akhir-akhir ini, alhamdulillah kebanyakan memang tak berorientasi pada gaji. Melainkan pada kualitas. Termasuk dia. Maka, aku menjadi yakin, suatu hari cita-cita bikin sekolah untuk rakyat menemukan cahaya. Tapi saking loyalnya, Rina bahkan saat pamitan tadi dia minta honor dua kali mengajarnya bulan ini diberikan salah satu temennya, temen guru juga 😐 . Padahal sudah kuyakinkah bahwa gaji bisa ditransfer ke mana pun guru-guru ini bepergian. Tapi katanya, itu sudah menjadi niatnya. Akhinya itu pun jadi amanah yang mesti kusampaikan akhir bulan nanti.

Oke, akhirnya kami share soal cita-cita. Dia juga tertarik di bidang itu. Kami saling mendoakan semoga sukses di masa mendatang. Dan akhirnya aku juga malah curhat, kelak sku memang ingin membuat sekolah gratis untuk masyarakat yang tidak mampu, juga yang berada di pinggir wilayah Indonesia, supaya tidak ketinggalan hidup di zaman kapitalis seperti ini. Untuk itulah, aku bakal bekerja keras di waktu mendatang, supaya dalam proses itu, segalanya dapat terlaksana dengan lancar satu per satu. Tentu aku butuh doa untuk membuat segalanya terlaksana.
Dan rupanya, cita-citaku sama dengan Rina. Kami akhirnya memutuskan untuk jangan lost contact, sebab suatu hari siapa tahu Tuhan mengizinkan, kami bisa bekerja sama. Amin untuk segala doa yang berniat dari jiwa.

Surat dari negeri hujan

Dear Penghuni Bulan,

Pernahkah engkau mendengar dongeng tentang peri pemetik air mata?

Apakah kehidupan memang lahir dan berakhir dari air mata? Hm, aku ragu. Terlebih tatkala kubuka kunci ingatan melalui foto-fotomu yang engkau kirim dari negeri bulan. Lalu, sekelebat kenangan menghangat, sejak bertemu engkau pertama kali, tatkala aku belum berdamai pada air mata. Kurasa air mata adalah kesedihan yang gelap dan beku. Maka kita tak boleh memilikinya. Kemudian kehidupanku terus berjalan dengan kita berdua main kucing-kucingan. Tahukah bahwa dalam jarak yang begitu jauh dan dunia yang begitu diam ini, aku selalu mendengar sayup detak jantungmu, menyimak tidurmu, menghafal kebiasaanmu tatkala pagi, dan menerka jam bepergianmu di kala malam, juga selalu dapat menatap keindahan yang engkau tangkap lewat matamu. Seperti segenap kartu pos hasil cuilan air laut yang engkau kirim dari negerimu. Selalu saja aku ingin mencuri-curi kesempatan untuk bisa minggat ke negerimu, tapi kata ibuku, negerimu begitu jauh dan tak terjangkau, aku takkan bisa menempuhnya. Dan aku takkan tahu bagaimana cara pergi ke sana. Ibuku tak pernah percaya bahwa sesungguhnya kita memiliki peri-peri ungu yang setia mengantarkan surat-surat kita tepat waktu, berserta kiriman ekspresi wajah kita dan musik-musik yang kita saling tukar.

Aku bahkan selalu suka melihat rautmu yang memberengut setiap aku terlihat tak memerhatikan perkataanmu. Aku bahkan sampai menghafal eskpresi kecewamu. Sesungguhnya, aku hanya banyak bersikap dingin pada orang yang membuat hatiku nyaman. Takkan kubiarkan ia menemukan pipiku yang merona karena malu dan peri-peri ungu memotretnya untuk dikirim ke negerimu. Meskipun aku akan gagal bersembunyi dari tawa yang lepas tatkala engkau berbicara hal-hal konyol. Peri-peri itu terlanjur merekam tawaku untuk dilempar ke negerimu, ah, pasti wajahku buruk sekali.

Namun, tak kupungkiri, aku juga suka caramu tertawa, lalu dalam diam-diam itu, aku akan senantiasa menyimpan tawamu itu yang menjelma butir-butir berbentuk tetesan embun yang mengkristal, telah kusimpan mereka sejak kita memiliki kebersamaan yang aneh ini. Kini semuanya telah memenuhi dinding kamarku hingga penuh. Hingga aku begitu sedih bila suatu saat aku akan berhenti mengumpulkannya.

Siapa yang tahu tentang nasib seseorang di masa depan? Dan kau takkan menyadari itu. Kau takkan menyadari bahwa aku membenci pagi sejak kutahu hanya pada malam hari aku dapat bersamamu. Menemuimu.

Tapi selalu saja, aku akan menghilang dengan bodohnya, tatkala engkau mulai menemuiku. Aku takut engkau menangkap air mataku yang tak pernah kutahu mengapa bisa begitu mudah membanjir ketika mengingatmu. Aku selalu takut, kenanganmu selalu dapat mengalahkan segalanya yang kusebut kenangan selama ini. Kau tahu kenapa? Sebab selama ini aku tak menganggap kenangan adalah kecacatan, maka ia tak akan kubuang sia-sia. Seperti juga uraian kenanganmu yang selalu aku dengarkan dalam kebahagiaan, melalui surat-suratmu. Namun semenjak itu, tak pernah aku berani memilikimu. Ingatkah engkau tatkala aku bercerita tentang masa kecilku? Aku jenis anak kecil yang suka mencabuti bunga-bunga. Suatu ketika aku menelusuri sebuah hutan dan menemukan bunga yang begitu indah dan berwarna abu-abu, warnanya membuat perasaanku damai, dan bunga itulah yang terindah dari yang pernah kulihat. Maka dari itu, aku takkan berani memetiknya. Aku takut melihat bunga itu layu bila dipetik, lalu mati dan bentuknya akan terus membuatku terluka. Maka aku menjaganya dengan membuatnya tetap menjadi rahasia. Demikianlah yang kurasakan.

Tapi aku memang mencintai kebersamaan denganmu–yang membuatku selalu mau menunggumu, dan aku selalu rela membebaskanmu, berdoa agar kamu selalu bahagia, juga akan bersedia membaca setiap suratmu. Dan, ah, kau telah bosan bila menemukan kenyataan itu, bosan mendengar hal yang sama. Barangkali ada juga satu jenis perasaan yang bisa mendebukan perasaan lain yang kukira sudah sedemikian mapan, hanya karena satu orang yang tak pernah dimiliki. Dan aku akan bersedia menyimpan perasaan itu bertahun kemudian bila itu harus kulakukan. Sebab di negeriku aku telah banyak diajari menjadi membosankan dan menyimpan air mata rapat-rapat, menyimpan kebahagiaan rapat-rapat, juga barangkali menyimpan kematian rapat-rapat..
Apakah saat menerima surat ini, kamu sedang bahagia? Aku bahagia bila kamu bahagia. Kau tahu, aku selalu kagum cara negerimu mengajarimu soal menanam dan menyemai kebahagiaan.

Rasanya di negeriku, kehidupan memang terbentuk dan lahir dari air mata, seperti yang pernah diucapkan seorang penyair yang menyukai senja. Tapi pernahkah engkau mendengar dongeng sekawanan peri yang membawa air mata dari bawah bantal kita yang basah bila kita tengah bersedih di tengah malam dan di tengah tidur?

Baiklah kuceritakan.

Peri-peri itu datang dari negeri yang sangat jauh. Mereka hadir diam-diam di kala semua orang tertidur. Di tangannya mereka membawa dua keranjang kosong untuk memunguti air mata yang tersimpan di bawah bantal. Mereka menadah butir air mata yang jatuh dari pelupuk orang-orang yang bersedih dan peri-peri itu mengubahnya jadi kristal. Meskipun tak lebih besar dari biji kenari, tapi keranjang yang mereka bawa itu mampu menampung seluruh air mata kesedihan di negeri bumi. Karena semua orang tak mengetahui perihal itu, maka mereka mengira yang terbang dan beribu jumlahnya itu hanya kunang-kunang atau sekawanan lebah.

Peri-peri itu mencari setiap air mata dan membawanya dalam bentuk kristal bening. Konon air mata itu dikumpulkan di dalam ceruk-ceruk gua, dan peri-peri itu selalu tak pernah kehabisan stok. Dalam air mata itu, tersimpan seluruh kenangan yang diteteskan oleh si empunya air mata. Maka bila butir-butir kristal air mata itu didekatkan di telinga, engkau akan mendengar berbagai kisah yang dialami orang-orang. Bahkan engkau bisa melihat sebuah dunia di sana bila engkau dekatkan kristal itu di depan mata. Juga akan kau temukan setiap rahasia yang tersimpan rapat-rapat. Peri-peri akan menjaganya supaya tidak seorang pun mencuri lalu menjualnya di jalan-jalan.

Betapa selalu absurd cerita-cerita yang berasal dari negeri dongeng. Haha, sudahlah.

Namun, tahukah engkau, suatu hari aku terbangun pada pagi hari yang menjemukan sepeti biasa, aku melihat sekawanan peri-peri itu dalam cahaya kehijauan menjinjing keranjang besar dan meninggalkan kamarku. Semula kukira mereka hanya arak-arakan sekawanan capung. Mereka terbang entah ke mana dan hanya kutangkap ekor cahayanya. Sampai surat ini selesai kutuliskan, aku masih tak tahu, apa yang baru saja mereka bawa dari dalam kamarku semalaman.

Kau percaya itu?

Temanmu 

 

 

*terinspirasi cerpen Agus Noor tentang peri pemetik air mata

23:09

 

 

ups, saya lupa mengerjakan tugas Komunitas Penamerah, saya lupa menyelesaikan satu pekerjaan saya, saya lupa di mana menaruh flasdisk saya, saya lupa menutup gorden jendela saya, padahal hari Senin belum datang, dan saya lupa banyak hal, meskipun sesungguhnya, saya tahu, saya selalu menolak lupa, untuk hal-hal yang akan selalu menjadi pelajaran berharga.

 

yah, tapi tentu saya ingat saya harus tidur segera

besok ada janji penting 😉

 

 

 

 

 

Mari Bercerita

by: Payung Teduh

Seperti yang biasa kau lakukan
Di tengah perbincangan kita
Tiba-tiba kau terdiam
Sementara ku sibuk menerka
Apa yang ada di pikiranmu

Sesungguhnya berbicara denganmu
Tentang segala hal yang bukan tentang kita
Mungkin tentang ikan paus di laut
Atau mungkin tentang bunga padi di sawah
Sungguh bicara denganmu
Tentang segala hal yang bukan tentang kita
Selalu bisa membuat semua lebih bersahaja

Malam jangan berlalu
Jangan datang dulu terang
Telah lama kutunggu
Kuingin berdua denganmu
Biar pagi datang setelah aku memanggil terang
Hai pencuri kau, terang!

 

yeah, saya suka lagu ini 🙂

01:55

Rasanya bukan sekali dua kali aku mendapat saran supaya salat tahajud, supaya segalanya lancar, supaya tidak berat menjalani hidup. Barangkali dari luar aku kelihatan ringkih dan tidak sanggup hidup. Tapi bagaimana aku bisa salat tahajud, bila biasanya aku baru bisa tidur dini hari atau menjelang pagi, dan sulit bangun lagi setelah terlanjur tidur sampai matahari terang benderang? Malah, mungkin aku baru bisa tiba-tiba bangun di tengah tidur kalau mengalami mimpi buruk.

Ini bukan masalah aku banyak berpikir atau sedang mikir hal-hal berat. Tapi karena insomniaku belum juga sembuh. Dan berserakanlah segala hal di atas tempat tidurku. Buku-buku kumpulan cerpennya Agus Noor, buku antologi cerpen Orang-orang Kotagede, koran hari Minggu kemarin yang belum selesai kubaca, majalah Horison bulan ini, juga agenda pekerjaanku. Yeah memang tidak lebih baik dari melakukan tahajud, tapi mereka semua memang belum juga membuatku bisa tertidur.

Lalu, kuputuskan untuk membuka tirai jendela supaya dapat melihat pemandangan kebun kecil di luar, menatap mekarnya kemuning yang sepi di kegelapan, dan mendengar musik. Esok, cahaya matahari yang membangunkanku.

01:55 di jam kamarku
Berharap bisa segera tidur dan bermimpi indah.

10:25

Kamu pernah merasa tidak penting? Atau hanya sesaat saja penting karena kamu sedang dibutuhkan?

Ah, rasanya bukan hanya tentang itu mengapa depresimu tiba-tiba saja datang menemanimu.
Karena pada dasarnya kau kesepian. Sepi, sebab kamu asing dan merasa tak seorang pun dapat melengkapi hidupmu.

Seseorang pernah berkata, kalau kamu merasa sedang tak nyaman dengan hidupmu sendiri, ambilah headset-mu, setel musik keras-keras, lalu abaikan dunia. Memang dengan keheningan, kita sering menemukan kedamaian. Tapi ini zaman riuh, suara-suara di sekitar akan membuat telingamu sakit.

 

 

*secangkir kopi, koran pagi, dan obrolan dengan diri sendiri.

Mbah Uti

1
Di sebelah kamarku adalah rumah kecil mbah utiku. Di antara semua ruang di rumah ini, ruang kecil itulah yang selalu hingar dan ramai. Yeah, mbah utiku adalah tipikal wanita gaul era dulu dan kini. Beliau eyang yang punya banyak teman, ceria, dan selalu bersemangat menjalani hidup meskipun telah janda. Setiap hari, selalu berkumpul para embah untuk ngibrol ngalor-ngidul, bercanda, atau numpang tidur berjam-jam bila bosan di rumah mereka. Mereka adalah teman-teman Mbah Uti dari berbagai kalangan. Ada yang teman senam, teman angklung, temen belanja, ataupun sekadar teman galau. Hampir setiap hari rumah kecil itu seperti mirip basecamp komunitas simbah-simbah. Sering kali terdengar tawa, orang-orang yang ngobrol, hingga denting piring dan gelas, hingga membuat rumah ini tidak sesunyi kuburan. Bila iseng, aku sering ikut nimbrung sekadar duduk atau nguping aja mendengar obrolan mereka yang sering konyol itu. Namanya juga mbah-mbah. Ada juga yang saling tidak nyambung saat bercakap lantaran salah satunya mengalami masalah pada pendengaran.

Mbah Uti sangat bertolak belakang denganku dalam hal pertemanan. Mbah Uti ekstrovert, sedangkan aku sangat introvert. Sejak kecil teman-teman yang main ke rumah bisa dihitung dengan jari. Tapi kalau teman-teman Mbah, hm, belum pernah ada anggota keluarga yang hafal berapanya saking banyaknya. Mbah Uti sebenarnya agak sama ekstrovertnya dengan adik perempuanku. Bedanya dunia adik perempuaku dulu sebelum berkeluarga adalah di luar rumah. Dan baru ketahuan betapa banyaknya teman-temannya ketika ia diwisuda dan menikah. Yeah, kurasa “teman dan sahabat” adalah kemewahan bagi orang-orang tertentu.

Tapi memang tidak setiap manusia supel barangkali selalu nyaman menempatkan dirinya di tengah publik terus menerus. Rupanya manusia gaul seperti Mbah juga punya sisi di mana ia juga butuh privasi. Hari ini, bahkan menyuruh adik lelakiku yang sering nongkrong sambil ngelukis di deket pintu untuk membukakan setiap tamu, dan mengatakan kalau simbah tidak di rumah. Intinya, seharian ini adik lelakiku jadi front office sementara.

Eh, kebetulan aja siang tadi ibuku tidak sempat dipesenin apa-apa, dan adikku itu sedang ke belakang. Dengan polosnya Ibu mengizinkan seorang mbah untuk masuk, dan langung saja si Mbah tersebut menerobos gang kecil rumahku, duduk di ruang tengah, kemudian menyetel radio. Mau nunggu Uti pulang katanya. Maka dengan sopan dan hati-hati, kubilang bahwa Uti kebetulan sedang pergi. Beliau merespons dengan tawa dan maklum. Lalu si mbah tadi pun akhirnya pulang. Sudah itu, aku mencari Mbah ke sebuah kamar yang dulu dipakai Uti dan mbah Kung tidur sebelum Mbah Kung meninggal. Rupanya Mbah Uti lagi selonjor di belakang lemari pojok sambil nunggu ruang tamunnya sepi. Kulihat beliau mengehela napas lega sambil bangkit ketika kukatakan kondisinya sudah aman. Rasanya aku nggak pernah lihat Mbah Uti seperti ini sebelumnya.

“Uti lagi nggak mau nerima tamu.”
“Lho kenapa Ti?”
Dan dengan enteng Uti menjawab, “lagi pengin merenung sendirian aja.”
“Oh, oke.” Kami semua mengangguk mengerti.

Entah si Embah yang lagi ketularan aura keluarga intiku yang rata-rata gemar menyendiri, atau memang setiap manusia punya sisi ingin sendiri sehingar apa pun ia? Karena hari ini mbah utiku sedang menolak semua tamunya.

Entahlah… tapi siang ini, usai hujan deras tiba, rumah jadi lebih sunyi dari biasanya. Gerimis dan teh hangat di kamar menemaniku menyelesaikan pekerjaan.

2
Orang introvert juga manusia. Maka dari itu, wajar bila punya cita-cita bersifat kemanusiaan. Aku ingin hidupku bermanfaat bagi banyak orang. Punya sekolah membaca gratis bagi masyarakat, punya perpustakaan umum, jadi donatur tetap, punya usaha yang bisa mengurangi pengangguran di negriku, dan lain-lain adalah cita-cita dan rencana yang tak akan beranjak dari benakku. Meski aku belum tahu akan mulai dari mana…

3.
Pelajaran penting hari ini:
Jangan heran dengan perbedaan-perbedaan di seluruh dunia dalam hidup kita. Setiap manusia dihuni jiwa yang berbeda. Dan semuanya mengabdi pada apa yang “jiwa” itu mau.

Tradisi dan Kekejaman (part 2)

Sebuah catatan kecil

Saya istighfar berkali-kali sembari menahan kesal ketika membaca sebuah berita di yahoo.com hari ini dan menyadari bahwa di belahan bumi ini, ada sebuah tradisi–tanpa bermaksud menghakimi tradisi tersebut–yang menyingkirkan para perempuan yang sedang menstruasi dengan cara-cara yang kurang manusiawi. Dan aku hampir menangis ketika melihat foto-fotonya. Rata-rata mereka dibiarkan tinggal di sebuah gubug, melawan udara dingin, dan sendirian. Terlebih sebelum ini, aku sempat menelusuri beberapa sejarah penindasan di kawasan negara-negara di Asia, Amerika, dan juga beberapa yang lainnya, yang tentunya tak kalah memprihatinkan.
–> http://id.berita.yahoo.com/foto/tradisi-chaupadi-di-nepal-1394424201-slideshow/

Barangkali aku geram dan meradang. Ingin tahu lebih banyak, aku pun menelusuri sumber lain. Dan akhirnya kutemukan bahwa kebiasaan tersebut termasuk tradisi lama yang dianut oleh masyarakat yang memang masih primitif serta tidak berpendidikan (hanya masyarakat tertentu saja yang terjamah hal-hal yang keilmuan di sana). Meski masih bingung antara maklum atau kesal, aku pun menyadari sesuatu. Untuk apa menuding tradisi lain, wong budaya sendiri aja bukan budaya yang sempurna.

Yeah, aku sadar, kebudayaan di Jawa (di mana aku lahir) juga mengenal tradisi patriakhat, bahkan tak kalah “primitif”nya, dan masih ada sisa-sisa patriakhat yang melekat di zaman kini. Tentunya segalanya butuh proses yang tidak sebentar apalagi instan. Terlebih bila patriakhat tidak hanya masih didukung kaum pria tetapi juga sebagian wanita.

Aku sempat lupa, bahwa aku hanya akan akan mengumpati dengan rasa sebal, sebuah kebudayaan atau kaum lelaki yang menyingkirkan perempuannya ketika mengalami hal-hal wajar seperti menstruasi seolah makhluk najis yang mesti dijauhi, sementara mereka hidup di lingkungan yang beradab. Aku hanya akan mengutuk mereka yang memposisikan kaum perempuan serendah budak. Seperti hanya sekadar dinilai dari ‘manfaat’ dan bukan harkat dan martabat.

Namun, berbicara sejarah bangsa, konon sama halnya berbicara tentang sejarah kekejaman. Tidak ada sejarah yang tidak luput dari kekejian. Dan kita juga dapat menemukannya di berbagai referensi yang membahas sejarah tradisi kita sendiri. Tidak hanya yang dialami Kartini tetapi juga yang lain. Barangkali ada yang pernah membaca sebuah buku berjudul Panggil Aku Kartini Saja yang ditulis oleh Pramoedya AT? Kita juga tidak lupa sejarah rezim Orde Baru yang patriakhat merendahkan organisasi Gerwani yang rata-rata terdiri dari perempuan cerdas dan revolusioner, menjatuhkan mereka dengan berderet fitnah dan stigma.

Kembali pada sebuah tradisi di Nepal ini. Sebab kita semua tahu persis bukan, beda manusia beradab dengan yang jahiliyah? Minimal nurani kitalah yang bisa membedakan. Kelompok beradab berada di zaman maju, di mana informasi dan segalanya mudah diakses, komunikasi juga dapat dilakukan dalam berbagai cara, di samping itu, masyarakatnya juga bukan yang terbelakang. Sedangkan yang jahiliyah adalah tentang keterbatasan dan keterbelakangan. Dan aku hanya bisa berdoa, semoga kelak, wilayah tersebut segera menemukan pencerahan.

Kita toh paham, ada perbedaan besar antara tradisi dan manusia-manusiaanya. Manusia modern yang masih meremehkan para wanitalah yang lebih barbar dan tidak humanis. Bukan mereka ini.

pilihan

Apakah sesunggunya kita memiliki pilihan?

Ibu kita akan sakit bila kita bersikeras menerima pekerjaan yang letaknya jauh menyeberangi 5 negara. Sementara kita memiliki segudang pilihan dan rencana besar untuk membuat segalanya berubah beberapa tahun ke depan. Tapi ayah kita pun akan sakit melihat ibu sakit karena terus mengkhawatirkan anaknya yang merantau.

Lalu kita terhenyak memandangi koper-koper yang bakal dibongkar lagi isinya. Diam-diam membunuh rencana besar kita sendiri. Sambil menunggu apa yang akan mereka rencanakan untuk kita di masa mendatang.

Kemudian berbicaralah kita pada perasaan kita sendiri: di dunia ini, cuma kedua orang tua kita yang sungguh peduli, maka percayalah segala pilihan mereka terbaik untuk kita