Patah Hati

Kamu pergi ke psikiater, dalam keadaan nyaris gila dan hampir bunuh diri. Kemudian curhat bahwa pacarmu mengabaikanmu. Dia tidak peduli padamu, bahkan ketika kamu sakit, dia milih jalan-jalan sama teman-temannya. Ketika kamu butuh dia berkomitmen dengan serius dia malah jujur kalau selama ini pacaran diam-diam dengan mantannya.

Psikiater pun meyakinkanmu untuk berhenti saja dengan pacarmu, mending bersama orang lain atas pertimbangan masa depan dan sebagainya. Kamu disuruh memulai hidupmu kembali, dan sederet nasihat logis lainnya. Sebab pria itu kurang bertanggung jawab. Kamu setuju.

Tapi,
begitu sampai rumah dan masuk kamar, tetap saja, nomor pacarmulah yang akan kau hubungi, kamu begitu rindu. tanganmu sudah siap mendial nomornya. Kamu bahkan tidak suka psikiater itu mengatai pacarmu tidak bertanggung jawab. Kamu merasa kesempatan kedua itu selalu ada, bersamaan dengan ketiga, keempat, dan seterusnya. Meskipun… km telah memulai panggilan pertama, kedua… kedupuluh delapan, ke nomor ponsel pacarmu itu dan tetap tidak dijawabnya..

 

 

tulisan ini hanya sekadar guyon. jangan masukkan hati 😀

Andai Waktu Dapat Kembali

Kini Mia menetap di Melbourne, di mana musim mengenal 4 cara untuk membuat bumi tersiram kehidupan. Andai waktu dapat diputar kembali. Ia pasti tak sesedih ini sekarang. Tidak. Ia bukan sedih. Hanya bimbang. Bingung dengan hidupnya. Juga ada sedikit merasa marah. Namun tak mengerti apa yang kini benar-benar membuatnya marah. Kesalahpahaman itu begitu tak tahu diri menyerangnya, sehari setelah mendarat di kampung halamannya. Mengapa begitu terlambat ia tahu? Mengapa tidak kemarin ketika ia masih memiliki waktu mempertimbangkan kapan ia akan pulang? Kenapa tidak kemarin ketika keputusannya dapat berubah?

Ponselnya masih tergeletak di atas meja. Sebaris pesan singkat masih tertera di sana.

 

kamu jangan pergi dulu. Masih ada yang harus kusampaikan soal Galih. Berita bahwa ia menikah hanya rumor. Itu kerjaan iseng Delia. Tak suka bahwa kamu berdekatan dengannya. Galih mencarimu.

Hana

 

Memang Hana salah satu teman lama Mia ketika di Indonesia, yang tak tahu bahwa gadis itu merencanakan kepulangannya cukup mendadak. Terlebih ketika kabar beredar bahwa Galih, pria yang diam-diam dicintainya itu rupanya tak benar-benar sedang akan menikah.

Mia mondar-mandir dari satu ruangan ke ruangan lainnya. Sepi. Sebab hari itu menjelang natal. Keluarganya pasti berada di rumah nenek. Beratus kilometer dari rumahnya. Sebab hanya dia saja yang Budha, ia tak merayakan natal. Namun rumah itu damai baginya. Semua perbedaan tak pernah menjadi persoalan. Meski Budha, tak seorang pun di keluarganya yang menolak keyakinannya. Ia jadi ingat kakak pertamanya, Andrew, yang setahun lalu menjadi muslim dan tak ada yang mengingkarinya. Namun hari ini tiba-tiba ia butuh keluarganya. Sebab bebannya begitu berat. Ia begitu sendirian. Tak mungkin bila ia menyusul mereka, sebab mereka pasti sedang berkonsetrasi dengan hari besar. Ia tak ingin mengganggu.

Tapi ia merasa setengah gila.

Di luar salju turun.

Di dalam, perapian mulai membara, menebarkan hangat. Sekaligus perih.

Ia kembali marah. Seperti semula.

Lalu untuk apa aku berpikir soal itu? Selama ini mereka pun tak benar-bener dekat. Hubungan tak pernah menjadi jelas. Bila ia mencintaiku, mengapa tak sekalipun ia menyatakannya? pikir Mia. Ia sedih dan kecewa. Tapi ia merasa bahwa tak ada gunanya ia memikirkan penyesalan itu. Ia teringat kala itu. Sejak 2 tahun berteman, Galih menjadi perhatian. Perhatian yang tidak biasa. Selama ini mereka hanya suka berbicara banyak hal. Tidak hanya soal kuliah, namun juga masalah global. Hal-hal yang tak selalu bisa dibicarakan dengan semua teman.

Malam itu, ia mengirimi kue tart ketika hari ulang tahun. Ia hanya meletakkannya di depan pintu. Beserta surat. Ia tak tahu mengapa. Tiba-tiba ia terbuka dengannya banyak hal, soal masalah pribadi. Namun tak hanya dengan Mia. Dengan yang lain pun juga. Kadang Mia merasa ada sesuatu yang tengah ia sembunyikan. Tapi ia hanya merasa itu hanya ke-GR-an semata. Sebab sepanjang ia menjadi teman curhat, ia banyak membahas Audrey. Mantannya, yang kebetulan adalah sahabat Mia sendiri. Sahabat sejak mereka selalu aktif di gereja. Dan agak terpisah sejak Mia memilih menjadi Budha, 4 tahun yang lalu. Audrey masih aktif di sana, Mia sudah belajar mengenai keyakinannya.

Ia selalu bercerita seolah ia menyesali. Mengapa hanya karena keyakinan orang-orang menjadi terpisah? Galih seorang muslim yang taat. Sekalipun ketika mereka bersama, tak ada unsur perbedaan keyakinan yang membuat mereka menjadi bersebrangan. Tidak. Mereka bersahabat. Sampai akhirnya Audrey bersama pria lain, dan kemudian Galih 2 tahun memilih menyendiri.

Tapi Mia hanya percaya, bahwa pria seperti Galih, adalah tipikal setia. Ia butuh waktu untuk melupakan Audrey. Mungkin bertahun lamanya, atau mungkin baru ketika ia sudah menjadi manula. Ia sering kali mengajak Mia ke acara soasial. Yang ia yakini adalah salah satu cara melupakan Audrey. Galih pekerja keras, namun berhati lembut. Ia ingin melupakan Audrey, sekalipun Mia merasa ada sikap Galih yang sedikit tak biasa. Tapi Mia lagi-lagi tidak ingin menjadi terlalu perasa. Ia mencintai Galih dengan caranya. Ia merahasiakannya. Sebab persahabatan lebih segalanya daripada cinta. Begitu pikirnya.

Tapi Galih pernah menanyakan, “Apakah salah bila seandainya, aku mencintai seseorang yang semula adalah sahabatku?” perkataannya tak jelas ke arah mana. Namun Mia hampir saja terbang, merasa bahwa itu tentang dirinya. Ia membayangkan cara romantis yang berakhir bahagia karena dua orang mampu saling mengerti tanpa harus berkata-kata. Tapi Mia adalah perempuan yang realistis. Ia kembali ingat. Sahabat Galih tak hanya dia. Ada Jean, Annisa yang selalu aktif di masjid, ada Fera, Kea, dan yang lainnya, yang kebetulan juga teman-teman organisasinya. Mereka lebih pintar, cantik, juga… seiman. Huft. Ia tak boleh GR.

Kemudian begitu menginjak semester akhir, mereka banyak berpisah. Masing-masing sibuk mengurus kampus. Mia bahkan sempat ke luar pulau karena menjadi guru relawan. Namun itu hanya cara Mia mengusir gelisah yang membuatnya gila. Sejak Galih terlihat dekat dengan seorang adik angkatan. Mia sempat sedih. Terbakar cemburu dan pikiran yang tidak-tidak. Tapi ia ingat, ia hanya sahabatnya. Ia harus rela sahabatnya menentukan piilihan degan siapa ia akan bersama. Ia terluka. Tapi untunglah, kesibukannya organisasi membuat perasaannya teralihkan. Sekalipun masih sesekali ia dan Galih bertukar kabar melalui email.

Dan menjelang wisuda, kabar bahwa ia akan menikah pun sampai di telinganya. Tak sanggup berhadapan langsung dengan Galih, ia menghilang usai wisuda, yang kebetulan ada Galih di sana. Ia berangkat ke Jakarta sebelum mengurus segalanaya untuk kembali ke Aussi. Tanpa pamit. Kecuali dengan teman-temannya seasramanya.

Udara dingin. Salju memenuhi jalan-jalan. Mia duduk di salah satu sofa dekat jendela. Memandang langit yang putih dan samar. Ia menghela napas. Kenangan memang selau hadir dengan begitu misterius. Kenangan selau membuat seseorang berdiri antara kenyaaan dan masa lalu dengan cukup menyesakkan. Ia hangat sekaligus gelap. Tiba-tiba ia melihat bayangan wajah Galih di mana-mana. Ia merasa keputusannya telah tepat. Ia bertekad tak akan kembali kecuali bila ada hal sangat mendesak. Dua tahun sejak ia merasa Galih menjadi bersikap berbeda, namun tak sekali pun ia merasa bahwa Galih benar-benar ingin bersamanaya. segalanya tak pernah jelas. Ia juga marah pada keadaan itu.

Pria yang benar-beanr mencintai, mestinya memiliki nyali untuk membuktikan, begitu pikir Mia. Ia menjadi begitu kecewa. Ah, andai waktu dapat diputar kembali dan ia memilih untuk menjadi lebih berani mengatakan. Apa yang salah dari perasaan? Tapi lagi-lagi, ia bertanya, apakah benar Galih mencintainya? Ataukah semua ini terjadi karena perbedaan keyakianan bisa mejadi masalah yang begitu sensitif di Indonesia sehingga ia pun berhati-hati? Barangkali Galih pun ingin tak sekadar mencintai, tapi perbedaan begitu menjadi tembok besar yang menghalangi. Sehingga segalanya harus berhenti.

Mia menghela napas lagi. Menghirup seangkir kopi yang masih mengepul dalam cangkir di tangannya. Bagaimanapun ia seharusnya menyadari, bahwa ada hak seseorang yang tak boleh dilanggar. Ia mengerti setiap orang, termasuk juga Galih berhak memutuskan apapun yang ia inginkan. Sekalipun hak itu adalah untuk tidak bersamanya. Ia tahu, ia sudah memutuskan, ia takkan kembali ke Indonesia.

 

 

cerita ini dikirim untuk tugas GWA 3, karya kedua. dikirim jam 11.40 hari Minggu, setelah diedit segera pagi hari-

 

 

Aku Ingin Jatuh Cinta

Aku ingin jatuh cinta. Disergap semacam rasa, tak sekadar datang dalam samar, dan hilang tiba-tiba. Aku ingin merasa jatuh cinta lagi selayak remaja yang menginjak masa dewasa. Tapi aku terlalu sering menemui tipe pria dan tak satu pun membuatku bergetar atau berperilaku aneh seperti yang biasa orang alami—yang perempuan alami. Aku bahkan mulai ngeri, jangan-jangan itu hanya jera sesaat, atau selamanya. Tapi kini aku bahkan enggan berdekatan lebih dari teman dengan seorang pria.

Aku ingin jatuh cinta. Seperti engkau mencintainya. Seperti juga orang lain. Namun entah bagaimana. Barangkali pada masa lalu aku sempat merasa menyerah terhadap cinta. Kukira kini cinta semacam virus yang harus disingkirkan jauh-jauh. Aku melihat begitu mudahnya orang mencintai dan dicintai. Tapi aku tidak mengalami. Aku juga tidak langsung percaya ketika seseorang pun akhirnya mengatakan bahwa dia mencintaiku, karena aku khawatir, bila aku adalah pelarian, seperti yang sudah-sudah. Maka kukira kata-kata seperti itu hanya semacam bercanda.

Aku ingin jatuh cinta, dengan serius. Dengan sesungguhnya. Tidak ada tarik ulur atau keraguan. Tapi aku ragu….

Kau bilang cinta butuh perasaan semacam cemburu. Tapi aku merasa lucu. Bila itu cinta mestinya tak saling membuat cemburu. Tak juga saling menyakiti. Sebab bagiku, aku tak pernah tahan dengan perasaan itu, lebih tepatnya tak bisa membayangkan dampaknya di masa mendatang. Aku tak perlu cemburu bila mencintai seseorang, agar tak perlu juga merasa kesal.

Mungkinkah itu. Ah.. aku mulai berpikir yang tak mungkin. Aku sudah berdamai dengan kondisiku saat ini. Mestinya begitu.

Entah mengapa tiba-tiba aku menjadi ingin mencintai seseorang. Padahal katamu, mencintai itu rasanya sakit. Kamu benar. Pada masa lalu aku merasakannya. Cinta memang sakit. Tapi bukan itu yang membuat sakit. Kita hanya terlalu percaya bahwa apa yang kita pikirikan itu benar. Harapan kita yang membuatnya begitu. Keyakinan kita yang barangkali salah. Harapan itulah yang menyakiti kita. Atau barangkali kitalah yang “sakit”.

Aku ingin jatuh cinta lagi, tapi takut. Takut berpisah seperti kebanyakan orang. Juga takut tak mengalami bahagia seperti sebagian yang lainnya. Aku khawatir bahwa itu tak lebih bermakna. Aku takut bila jatuh cinta membuatku hilang arah. Tapi aku ingin jatuh cinta, seperti kamu mencintainya. Barangkali aku bermimpi. Atau mungkin juga tidak.

Adakah jatuh cinta itu siklus yang dialami dengan periodik berbeda setiap orangnya? Mengapa ada yang menemukannya sejak masih kecil? Ada juga menemukan di tengah deru hujan dan jalan raya? Ada ketika usai pengajian di masjid sebelah rumah? Ada pula yang baru menemukan cinta di usia 50 tahunan, dan hm.. aku tak bisa membayangkan bila aku mengalami hal serupa.

Bukankah demi memiliki bayi atau dipanggil ibu, orang harus mengalami apa itu jatuh cinta, lalu menikah kemudiannya? Dan yang terpenting bukankah demi menjadi ada bagi seseorang, maka harus saling jatuh cinta? Tapi bagaimana bila semua itu dilakukan tanpa cinta? Atau bagaimana bila ia tak pernah hadir di hati manusia? Di hatiku? Ah, cinta itu apa? Absurd sekali.

Sudah hampir usia 27 tahun. Aku tak jua jatuh cinta. Aku memang beberapa kali merasa kagum, salut, suka… pada pria-pria tertentu di masa lalu, tapi itu baru terjadi bila ada sesuatu yang lain dari pria itu selain sekadar penampilan luar, yaitu otak, hati, atau keberanian.. kepribadian…. Tapi aku tidak jatuh cinta. Hanya semacam suka. Tidak juga pernah terbawa mimpi, terlintas di lamunan, atau sempat lewat di pikiran. Sungguh datar saja. Sehingga aku mulai ragu, adakah aku bisa jatuh cinta suatu saat nanti.

Bukan berarti aku tak berkesampatan demikian bukan? Aku pernah dihadapkan oleh situasi di mana pipiku merasa panas tanpa alasan jelas tatkala berjumpa dengan seseorang. Tapi terhenti begitu saja tatkala kupergoki ia sudah punya yang lain, atau ketika kupergoki dia menggandeng seorang perempuan. Masa sekolah dulu. Dan di masa kuliah, aku bertemu dengan pria yang sungguh kukagumi karena ia seorang pintar dan berani, tapi hilang begitu saja ketika tak ada respons atau semacamnya. Terlebih lagi menjadi menyesal pernah menyukai sejak kutahu dia seorang playboy. Ah, sepertinya aku mulai ngelantur saja. Aku bisa mebedakan mana yang baik mana yang tidak. Hubungan itu tak terjadi. Perasaan itu tak ada.

Ah, aku masih saja bertanya. Aku ingin tahu.

Cinta barangkali seperti proses kimia. Di mana ada dua senyawa melebur dan berikatan. Ada saling interaksi, tergantung, emosi, atau mungkin dua hal bertolak belakang yang saling melengkapi. Seorang teman menyebutnya chemistery.
Ada juga yang tak terdefinisi, kau tak menemukan arti apa-apa, tapi kau sadar kau tak bisa hidup tanpa dia.

Tapi perasaan cinta agaknya terdengar bodoh dan menghamba. Bagaimana mugkin orang jatuh cinta tapi mereka labil dan tak jelas emosinya? Kadang menangis, kadang terlalu bahagia. Sebagian ada yang sampai mengorbankan banyak hal dalam hidupnya. Memenjarakan dirinya sendiri. Ada yang sampai berubah, dan ada yang mau pindah kota demi tinggal dekat dengan pacar. Pacar lho. Belum juga bakal berjodoh.

Oh, aku tahu… sebetulnya tak ada korelasi pas antara cinta dengan pacaran. Tapi dengan apa semua itu terbukti, bila tak ada interaksi semacam pacaran? Tau saling mengatakan? Lalu apa setelah itu? Selesai? Tidak, kurasa semua itu ada kelanjutan. Tak berhenti hanya sebatas kata-kata.

Jatuh cinta sepertinya terlihat repot dan penuh atribut aneh. Aku tak setuju. Aku menolak jatuh cinta. Aku tak mau jatuh cinta. Tapi aku ingin menikah dan jadi seorang ibu suatu saat nanti. Aku bimbang. Sedangkan usia bertambah. Orang-orang semakin tak gentar menyindirku soal pernikahan meski mereka tak ikut membesarkanku. Tetangga, semakin lebar telinga dan matanya mengorek perkembangan hidupku. Dan apa hubungannya usia dengan semua kekonyolan impianku itu? Begitu menyebalkan memang.

Ah, aku sungguh ingin jatuh cinta. Meski aku tak peduli apa aku akan menikah dan jadi ibu misalnya, atau jadi nenek suatu hari nanti. Kelak aku ingin mengetahui bagaimana rasanya begitu terikat dengan perasaan seseorang. Hanya jatuh cinta. Mungkin terasa indah rasanya, apalagi bila rindu. Banyak pujangga menulis kisah karena jatuh cinta. Aku hanya menulis untuk artikel kesehatan di majalah tempatku bekerja. Tak ada puisi. Tak pernah ada kata-kata puitis.

Maka aku sesungguhnya tak jatuh cinta sampai detik ini. Sebaiknya dengan apa jatuh cinta dilami? Ditunggu? Dicari? Didatangkan? Dipesan lewat telepon? Atau sebenarnya aku tak benar-benar ingin jatuh cinta? Mungkinkah aku dapat hidup dalam waktu lama tanpa sesuatu yang disebut cinta? Adakah cinta sebenarnya diperlukan? Adakah ia menyambut semua impian yang dipunya manusia? Apakah ia juga menjadi tempat pulang?

Ah, ada kalanya aku membayangkan, suatu saat aku jatuh cinta, pada orang yang juga mencintaiku. Lalu perasaaan itu bertahan lama. Tak terbatas waktu. Hingga senja menyapa. Hingga masa tua pun mampu dilalui berdua. Ada kala ketika aku membayangkan kami berdua menjadi lansia, berjalan berdua melaintasi taman, saling menjaga, bergandeng tangan, saling percaya, dan tak ada lagi yang perlu dikhawatirkan, sebab bertahun lamanya kami telah saling mengasihi. Ada hal yang kupahami dari ini. Aku ingin jatuh cinta, dalam dunia yang aman, damai dan penuh kepercayaan, pada jalan yang semestinya. Maka bukan hanya cinta jawabannya. Aku tahu akan kuceritakan semua ini pada Tuhan. Barangkali cinta semacam kerja alam. Bukankah alam memiliki pengatur yang Maha Sempurna? Dan aku pasrah karenanya.

*Tulisan ini dikirim untuk memenuhi tugas GWA3 hari Minggu kemarin yang bertema “Aku Ingin Jatuh Cinta”. dan dibuat sejam sebelum berangkat mengajar pagi harinya, lalu berhasil dikirim lewat e-mail 15 menit sebelum dedline jam 12 siang. jadi maklum bila terlihat acakadul.:D

kutipan

“Di dalam sejarah, di luar surga, manusia kecewa. Tapi seperti harapan, kecewa juga lahir dari rongga yang bisa menelannya kembali. Mungkin rongga itu sebenarnya rasa syukur yang luas tapi tak selalu jelas.”–Goenawan Mohamad

Tamu

-Sebuah Cerita Pendek

Pagi sudah menjelang. Sayup suara burung gereja bersenandung di atap-atap kamar. Aku berusaha mengingat mimpi. Sudah mimpi keempat aku bertemu pria yang sama. Dalam wajah yang semula samar. Lalu begitu jelas gestur dan raut wajahnya. Entah siapa dia. Ah, barangkali aku kecapekan. Setiap hari, hampir sejak pagi hingga malam menjelang tidur aku dihajar pekerjaan.

Aku cukup tak mempercayai hal-hal abstrak semacam mimpi. Meskipun seorang teman sempat begitu antusias menjelaskan bahwa mimpi itu ada hubungan dengan dunia nyata. Dia mengatakan bahwa bisa saja itu jodohku nanti. Dia bahkan berani sumpah. Dan aku hanya tertawa.

Mimpi hanya bunga tidur, pikirku. Dan aku lebih percaya bahwa harapan kita di alam bawah sadar secara tak sengaja terekam dalam mimpi. Tapi itu jelas hasil pemikiran. Obsesi. Sedikit khayalan.

Barangkali pada suatu saat di masa lalu, aku sempat memikirkan satu wajah pria yang bagiku ideal untuk diimpikan. Dalam kehidupan nyata memang aku tak pernah menemuinya. Mimpi pertama, pria itu memberiku bunga. Mimpi kedua ia membawa sepasang merpati putih. Mimpi ketiga, ia mengajak jalan-jalan di suatu tempat, juga ngobrol dalam bahasa mimpi. Mimpi keempat pria dalam mimpi itu mengatakan bahwa ia suka musik jazz. Tapi namanya juga mimpi, sehari kemudian, semua itu sudah terlupa. Anehnya, sekarang, aku mengingatnya lagi, menghubungankannya.

Lamunanku terhenti ketika bel pintu rumahku berbunyi nyaring. Rasa kantuk masih menguasaiku. Mungkin tukang antar susu. Tapi kenapa sepagi ini datangnya? Aku segera berlari ke ruang depan dan membukakan pintu dengan malas.

Sesosok pria berdiri di hadapanku. Memandangku sambil tersenyum, memamerkan derertan giginya yang putih.
“Hai. Mau sarapan bareng?”

“Eh? Kamu? Kamu?” Mulutku terasa terkunci. Antara percaya atau tidak, pria dalam mimpi itu kini ada di depan mataku. Butuh beberapa menit memercayai penglihatanku. Alih-alih mengatakan ya atau tidak, aku malah bengong. Kantukku tiba-tiba lenyap.

“Siapa kamu? Kenapa bisa ada di dunia nyata?”

“Apa? Dunia nyata?” pria itu malah heran. Tapi ia langsung menyadari. “Oh ya lupa. Kenalkan saya Abid. Baru saja pindah depan rumah kamu. Maaf ya bikin kaget pagi-pagi.”

Aku menjabat tanganya dengan gugup dan kalut. Mungkin aku sudah mendadak gila.

“Nama kamu?”

“Aku… aku, Maricia Zaska. Eh.. biasa dipanggil Caca saja. Lalu kenapa tiba-tiba kamu ingin sarapan bareng?”

“Aku… sekalian sambil kenalan. Jadi, apa kita bisa sarapan bareng? Di depan sana ada bubur ayam sepertinya.”

“Iya. Oke,” aku buru-buru mengambil sandal. Sampai jalan kompleks, aku baru sadar bahwa aku masih memakai piyama dan rambut acak-acakan. Orang-orang yang sempat melihat kami, melirikku dengan aneh. Barangkali mereka pikir, aku ini pasien RSJ, yang diajak jalan-jalan seorang perawat yang ganteng dan rapi.

“Jadi kamu baru pindah ke sini?” tanyaku memecah keheningan.

“Yap, aku dari Blora, baru pindah dua hari yang lalu dan tinggal sendirian.”

“Dalam rangka?”

“Pindah tugas,” jawabnya singkat.

Pria itu memesankan teh hangat untuk kami berdua. Sementara deru kendaraan semakin ramai, begitu juga dengan denyut jantungku. Aku masih tak mempercayai bahwa mimpiku menyiratkan semacam pesan. Ini pasti hanya kebetulan. Tapi aku benar-benar seperti digulung-gulung oleh kondisi. Ini situasi yang lucu dan agak konyol memang. Aku didera perasaan antara heran, lucu, sedikit ngeri, dan entah apa lagi. Sampai tak terasa bubur di depanku habis, kami tak banyak bicara.

“Apa kamu juga suka musik jazz?” teringat mimpi yang terakhir, sekadar ingin menguji hal aneh ini.
Ia tersedak. “Lho, kamu kok tahu aku suka musik jazz?”

“Kok bisa betul?” aku terperanjat.

“What?”

“Berarti yang kamu bilang waktu itu benar, ups.” Aku mencari kosakata yang pas agar dia tak mengaggapku edan. “Maksudnya barusan waktu masih di jalan.”

“Memang tadi aku bilang aku suka musik jazz?” ia masih terlihat heran.

“Sepertinya begitu, hehe….” Berhentilah tolol Ca, kataku dalam hati. Aku mengaduk es teh yang kupegang, padahal sudah kosong.

Pria itu tertawa kecil. “Kamu lucu juga ya. Kapan-kapan, kalau kamu nggak keberatan, kita sarapan bareng lagi ya?”

“Siap.”

Entah mengapa, hari Minggu ini rasanya begitu indah.

Karya ini hasil tugas GWA kedua, tulisan kedua, yang dikirim email, sebagai salah satu kegiatan iseng

Tera

Kamarin, tawamu masih begitu jelas di ingatanku. Seperti biasa, bila ada masalah kau akan megajakku di bertemu di kafe, dan kau biarkan aku dulu yang bercerita. Kamu kadang aneh dan tak tertebak. Kamu yang pengin ketemu, aku yang disuruh cerita dulu. Namun itu tak masalah. Akhir dari moment nongkrong kita pasti selalu berbentuk tawa.

Aku bersyukur, bertahun-tahun sejak kita bertemu waktu SMP, sampai sekarang kita tetap bersahabat. Kamu pendiam, dan aku tak bisa diam. Kamu rapi dan sempurna, aku berantakan. Kamu genius matematika dan mata pelajaran lain, sedangkan satu-satunya keahlianku cuma memainkan gitar. Aku tomboy sedangkan kamu begitu manis dan feminin. Memang benar yang namanya sahabat, sekalipun berbeda banyak hal, masih saja mau saling menerima.

Malam itu, tiba-tiba kau bilang bahwa kedua orang tuamu akhirnya bercerai. Aku bersedih untukmu. Tapi kau tak menangis. Seolah sudah terbiasa menerima kepahitan yang serupa. Justru aku yang menangis. Aku tomboy, tapi hanya tampilan luar.
Rasanya baru kemarin, kamu minta aku mengiringi nyanyianmu, lagu yang kau suka, dan kau dengarkan setiap akan tidur di malam hari.

Ucapkan salammu
Pada bulan dan bintang
Mereka yang setia
Menjagamu tidur

Malam kemarin di kafe, kau memang tak seperti biasanya. Kita memesan cokelat ketiga, akhirnya saling mengingat kekonyolan masa SMP, yang sudah kita bicarakan ratusan kali, agar kau pun teralihkan dari duka yang membuatmu banyak diam beberapa hari ini. Kamu tidak pernah bisa tidur tanpa ditemani, hingga akhirnya aku mengajarimu berdoa dulu sebelum tidur, hal yang mestinya diajarkan orang tuamu sejak kecil.

Aku ingat ketika kamu membenci pelajaran Bahasa Indonesia dan kugambarkan karikatur pria botak mirip guru kita, dan kau tak bisa menahan tawa. Aku ingat kau tahu aku benci pelajaran Sejarah, dan kau menggambar manusia purba mirip guru kita, dan aku tertawa terbahak di tengah pelajaran, gambarmu lebih bagus. Dan aku simpan itu sampai sekarang.
Ah, kenangan yang begitu melekat, sebab kau sahabat pertamaku, dan selamanya.

Kini obrolan kita sudah mulai seputar cowok. Tapi kali ini kau lebih banyak mendengar curhatanku tentang seorang cowok yang tengah kusuka di kelas tapi yang paling sering kucaci-maki.

Kau tersenyum sekilas. Dan kembali kita berbicara tentang bagaimana seharusnya kau menyikapi perpisahan kedua orang tuamu. Tampaknya ada sesautu di matamu yang seperti tak ingin kuketahui.

Lalu gerimis datang. Malam sudah pekat. Waktunya kita tidur. Kau menolak menginap di rumahku, maka kubiarkan kau pulang sendirian. Dan aku sungguh kepikiran semalaman. Entah mengapa perasaanku tak nyaman. Hujan semakin deras. Aku semakin gelisah. Kau tak mengabariku seperti biasa, sekadar mengatakan sudah mau tidur dan sudah berdoa.

Hingga kudengar kabarmu, beberapa saat yang lalu melalui telepon. Kau dalam perjalanan ke rumah sakit. Segores luka di pergelangan tanganmu, juga dengan darah yang berceceran ke mana-mana. Ibumu bercerita lewat telepon dengan terbata. Hatiku mencelos. Aku berlari menelusuri sepanjang jalan yang seolah begitu jauh. Ada pedih yang ikut tergores di sana. Sampai di rumah sakit, aku berlari menuju lorong ke arah UGD, yang juga begitu jauh… dengan perasaan tak karuan.

Apa yang kau lakukan Tera? Pisau? Luka sayatan di pergelangan tangan kirimu.. aku tak mengerti. Apa kau tengah melakukan hal bodoh? 

Aku sampai di depan UGD. Ibumu menangis di salah satu kursi. Aku duduk di kursi lainnya, di sampingnya. Tak ada yang bicara satu sama lain, selain isak tangis perlahan. Lampu menyala, kau masih ditangani di dalam sana. Kau dengar aku Tera? Aku di sini menenamimu. Aku tak akan lagi kemana-mana.
Dan sayup-sayup terdengar lagu kesukaanmu bergema di hatiku….

Ucapkan salammu
Pada bulan dan bitang
Mereka yang setia
Menjagamu tidur

Semoga nyenyak tidurmu
Dihiasi mimpi indah…

Hingga lampu padam, dan seorang dokter yang menanganimu keluar dengan wajah yang sungguh tak ingin kulihat.

Tulisan ini adalah hasil tugas GWA ke-2 tulisan yang pertama.

Khayalan Gila dan Keputusan Hidup

Pagi ini aku berkhayal, ditemani segelas teh dingin, dan baru menuliskannya setelah jam kerja usai. Siang ini.

Aku adalah perempuan merdeka, tidak butuh terikat pada apapun, termasuk pernikahan. Menemui banyak petualangan yang bahagia. Mencintai siapapun yang aku mau, bersetia diam-diam, berkarya banyak-banyak, bersahabat dengan berbagai manusia, lintas benua malah. Selain itu aku juga telah mencapai karir, mandiri juga soal finansial. Aku cukup puas. Seorang single yang cukup sukses. Kini tinggal di rumah besar, aku sendiri yang membelinya. Ada dua mobil antik di garasi, punya satu supir, dan dua pembantu.
Lalu, usia pun rupanya berjalan tanpa henti. Seperti jarum jam yang baterainya masih bagus.
Terkadang ada ketakutan. Aku tiba-tiba menjadi perempuan tua, tidak lagi cocok bila memakai pakaian yang dulu. Pelembab juga tidak lagi memiliki efek untuk kuit keriputku. Fisik bahkan tak dapat lagi sering diajak berpetualang di tempat-tempat lalu melakukan backpaker. Keluarga sudah pergi. Rumah besar ini hanya aku yang tinggal. Musik yang dulu kugemari sekarang menjadi musik klasik di era sekarang.

Aku hidup sendirian di pinggir kota yang hampir sebagian besar isinya adalah anak muda. Lalu aku duduk di kursi rotan tua. Mulai membayangkan yang tidak-tidak. Tidak ada tempat bercerita, atau membagi rahasia berharga. Keponakan dan cucu-cucu mereka pastilah sibuk dengan urusan masing-masing. Aku menulis sendiri, menumpuknya seperti biasa di gudang. Beberapa mereka, tetangga lansia yang sama-sama sudah bungkuk dan beruban juga, datang berkunjung, baru saja rumahnya sepi karena cucu mereka sudah pulang. Lalu berjam-jam mereka akan menceritakan seluruh anak dan keluarganya. Sama sekali tidak ada yang bisa diajak ngobrol sial politik negeri, perkembangan seni, atau bahkan buku-buku sastra yang baru saja dibaca. Akhirnya aku akan banyak diam. Setidaknya ada yang menemani, selain kucing-kucingku. Sesekali saja.

Sedangkan tetangga lain tak ada yang dapat diajak berkumpul, sebab mereka sibuk menjaga cucu, sementara anak-anaknya bekerja. Sisanya sudah menjemput ajal. Kadang aku menghabiskan waktu dengan merajut, membaca majalah, dan tiba-tiba lebih tertarik selalu berdekatan dengan mukena, sajadah, dan Alquran, sebab aku merasa kapan pun aku bisa dijemput malaikat.
Rambutku sudah memutih seluruhnya. Gigiku pun sudah habis. Seringkali terganggu dengan suara hingar, sedikit saja. Aku jadi begitu sensitif. Mereka, para tetangga merayakan banyak hal dengan rumah yang penuh orang, ada juga yang berulang tahun dan cucu-cucu mereka yang merayakan. Belum lagi keriuhan yang terjadi setiap tahun baru. Sedangkan aku tidak pernah selamanya merasakan didatangi cucu begitu banyak seperti itu. Bahkan berkeluarga pun tak pernah kualami.

Yang kuingat adalah masa-masa muda penuh petualangan, tapi semua itu tak menarik lagi. Hanya menjadi catatan usang di pojok gudang. Tak ada siapa pun yang aku dongengkan. Anak-anak kecil itu bahkan mengira aku orang gila. Kalau aku berniat baik ingin memberi cokelat misalnya. Mereka lari dan tertawa. Mereka enggan main di rumahku. Kadang juga mereka menyebutku nenek sihir. atau menyama-nyamakannya dengan buku-buku yang mereka baca. Nenek sihir yang tinggal di kastil.

Badanku semakin kurus, tak ada pasangan yang menemani untuk sekedar mengeluh bahwa punggungku sakit, seperti pasangan lansia dua rumah di sebelah. Tak satu pun yang kuingat, dan pernah menjadi bagian dari hidupku. Lalu ingatan itu hanya tentang kisah cinta yang tak berujung, lalu pria-pria yang pernah dekat, tak ingin menjadi suamiku, karena mereka lebih suka mengingat masa lalunya, mengingat permepuan lain sebagiannya. Dan aku menyadari bahwa aku pelarian. Dan salah satunya masih kusayang, tak pernah menjadi bagian hidupku, kecuali ingatan itu. tapi tak masalah, sebab aku berjiwa merdeka. Aku menang sekalipun aku terjebak cinta sepihak pada satu orang saja, sepanjang hidupku. pada orang yang akhirnya menikahi perempuan yang lebih muda 8 tahun darinya. Bahkan dia begitu bahagia. Bahagia dengan hidupnya, bahagia bersama istri, anak-anak, dan cucu-cucunya, dan tentu saja melupakanku.

Barangkali aku hanya menyesali mengapa tak peduli dengan orang yang benar-benar mencintai dan ingin bersamaku.. Menghabiskan hari tua bersama… Ah, barangkali hanya sesal yang melintas sesaat seperti har-hari biasa ketika aku suntuk.
Ah,..
Lansia sepertiku memang bahagia, dengan rumah besar, kebun yang luas, juga dua pembantu, dengan semua pencapaian yang kualami. Bahkan simpanan di bank pun menumpuk, hanya saja kelak akan kuwariskan ke panti asuhan, sebab keponakan dan cucu-cucu sudah cukup dengan yang mereka punya. Sebab aku tak punya anak, cucu apalagi. Setiap hari aku hanya bersama kucing-kucing persiaku, merawatnya, setiap hari memberi makan kucing-kucingku yang sudah berjumlah 100 ekor itu, dan merekalah yang selalu ada bersamaku. Tidak perlu merepotkan keluarga lain, saudara, para keponakan, dan anak-anak mereka.

Lalu aku mulai merasa sunyi satu per satu sampai habis sisa usia. Rupanya penyesalan memang hadir terakhir dan datangnya sungguh tak tahu diri.

Yeah, aku memang bahagia mungkin. Menang dengan idealisme, melawan idealisme mayoritas banyak orang. Tapi ada yang terasa tak pernah datang, mengirim ruang yang disebut kekosongan. Bumi semakin tua. Barangkali dalam kesendirian, aku mati, lalu para tetangga akan datang mencari ketika ada bau bangkai tercium di sekitar mereka.. Sementara para pembantu pergi dengan uangku yang dicurinya dari lemari.

Lalu selesai.
Kehidupan berjalan lagi seperti biasa. Bahkan tak akan ada yang menengok makamku, kecuali keponakan yang terpaksa menyempatkan diri, kebetulan ingat, kebetulan lewat setelah mereka mendoakan makam nenek kakek mereka beberapa meter dari nisanku, sebelum ramadhan tiba….

Oh no.

Berhenti! Itu hanya sekadar khayalan bila pilihanku menang, atau egoku di atas segala, atau perasaanku tak boleh diganggu, dan aku bisa membuktikan sampai seumur hidup bahwa ia tak hilang. Masa mudaku memilih kebebasan. Merdeka untuk melakukan apapun.
Tampaknya memang perlu revisi semua itu… tentu saja.

Hm…

Mumpung masih muda, maka sebaiknya aku memilih jalan terbaik, terwajar, terrealistis, dan terlogis untuk ditempuh.
Aku tahu meski tidak mudah, aku dapat menjalani semua jalan ini, pilihan-pilihan itu, dan keputusan-keputusan hidup yang mesti kuambil dengan tanggung jawab dan sepenuh hati, beserta sikap tentu saja. Kadang memang perlu berpikir pragmatis, untuk keputusan hidup yang besar. Kupikir, karena tidak hanya idealisme kita hidup, tetapi juga dengan pragmatisme-pragmatisme semacam itu. Pragmatisme semacam membagi hidup dalam bentuk menikah mungkin saja.

Sebab hidup ini berubah dan begitu fleksibel, mengapa kita meniru rupa karang? Membusuk oleh ketetapan kita sendiri. Lalu sunyi. Ah, barangkali… Barangkali saja… Ada orang-orang yang bertahan, bertahan untuk menyimpan apa yang memang ia ingin simpan. Selamanya. Dan bukankah itu tak boleh diganggu? Tetap kita harus hargai. aku tetap menyimpan kekaguman untuk mereka yang menjalaninya dan bertahan di dalamnya. Tentu saja, setiap orang memiliki pilihan yang berbeda.

Tapi ini hidupku, yang hanya aku yang menjalani, hanya aku yang mengerti. Hanya Tuhan yang tahu.

Sebab manusia, berhak mengubah paradigma, pandangan, bahkan peta kejiawaan. Manusia, berpotensi menang melawan ketakutan… Dan semua kegelisahannya… Bahkan mampu menang melawan keinginannya sendiri.

Aku tahu, aku tak akan menjadi nenek single seperti khayalanku tadi. Aku tahu, Tuhan selalu bersamaku.

Seems like yesterday
That we were having so much fun
I can see you smile
Remembering the things we’ve done
But time goes by so fast
So many things were left unsaid
I wish I had a chance
To spend the day with you just one

I’ve always known that you’ve tried your best
Don’t keep any regrets in you
And you’ll be fine

I can feel you everywhere I go
I wrote this song for you to know
I’m wishing on every star to show you a sign
And if you can hear what I’m singing now
I wish happiness to be found in your life
And I’ll be there someday on the other side

Take it easy now
You were just too sensitive for this life
Don’t you worry ’bout us
Someday we should be fine

And I’ll be there someday on the other side

Senja di Pantai

Pantai itu ramai seperti hari-hari libur akhir pekan. Setiap menjelang senja tiba, orang-orang akan berkumpul di sana. Beberapa ada yang menghidupkan kamera, ada juga yang bersiap mengambil gambar. Ada juga yang hanya duduk dan ngobrol. Pantai itu telah dikenal orang menyimpan senja paling rupawan daripada tempat-tempat lain. Terkadang pantai itu pun dijadikan lokasi prewedding.

Senja di pantai ini, pada suatu hari di masa lalu, sempat menjadi saksi impianku, tentang mencintai hingga maut menjemput, tentang masa depan yang saling setia, tentang dia yang tak tergantikan. Tentang pertama kali aku menemuinya. Tentang saat-saat saling mencintai kemudian tak lagi bersama. Senja ini yang akan selalu kutemui sejak ia tak di sini.

Senja di pantai itu seolah memiliki warna yang tak tergantikan waktu-waktu lain. Mereka yang berkunjung menikmati setiap kesiur angin serta bau khas lautan. Menambah romantis suasana pantai tatkala beranjak malam. Semua orang barangkali setuju, bahwa senja selalu saja menyimpan seribu rahasia dan keindahan. Ada yang tak ambil pusing, sebab senja hanya semacam hiasan selayak karang dan buih. Namun ada yang hidupnya habis memandangi senja setiap sore tiba. Sebab ia begitu berbeda setiap hari, juga berbeda makna pada setiap yang memandang. Seperti sekarang, aku melihat senja begitu misteri di ufuk Pantai Parangtritis. Namun senja ini, tetap misteri. Tatkala aku melihat ada separuh hati yang tersisa.

Senja yang menjadi saksi bisu keputusanku. Senja yang berhari-hari setelahnya menemani kesunyianku yang begitu kuat mengiris. Senja yang membuktikan dirinya bahwa tidak hanya warnanya saja yang terasing dari luasnya warna langit, tetapi juga tentang kesendirian yang sudah mulai kujalani.

Di pantai ini senja semburat jingga, menemani kesunyianku. Menemani sepanjang hidupku. Bola oranye menyala yang senantiasa menggantung di antara awan kelabu di perbatasan cakrawala itu. Mengiris waktu, membunuhi ingatan, namun tetap saja, perasaan itu lekat, bagai senja di hati orang-orang yang mempercayainya. Sayup-sayup ombak berbisik membelai pantai, mereka dan senja berubah puisi di hatiku.

Angin menerbangkan helai rambutku. Setahun sudah kupandangi senja setiap sore tiba. Barangkali para penjual dan penduduk di sana sudah begitu hafal dengan kebiasaanku mengunjungi Parangtritis untuk menunggui senja. Entah itu akan kuambil gambar, entah itu kulukis atau kutuliskan. Seperti halnya setiap orang yang berada di sana, mereka akan menunggui momen saat surya menampilan bentuk bulat yang menyala, lalu bergerak begitu cepat seolah tenggelam di dasar samudra. Kecuali bila ia terhalang awan dan terganti gelap begitu saja. Bagiku tak mengapa. Bagaimanapun kelihatannya, ia tetap memiliki arti tersendiri bagi hatiku. Bagi sisa usiaku.

Senja dan perasaan itu, barangkali akan senantiasa ada. Seperti pantai ini, yang riuh dan damai setiap senja menyapa….

Tugas GWA tahap pertama, karya kedua:

–dikirim hari Minggu tanggal 9 September 2012, bersamaan dengan karya yang satunya, sebelum tulisan ini.–

Cerita tentang Mimpi

Hei, saya hanya ingin cerita soal mimpi.

Saya mimpi aneh sekali tadi malam. Pertama sebelum terbangun samar, saya mimpi menaiki pesawat berbentuk kapsul. Lalu mendarat di suatu tempat aneh yang saya yakini itu planet lain, mungkin di galaksi lain juga. Semuanya penuh warna, hanya saja begitu berbeda dengan yang saya temui di bumi. Rumput berwarna pink, ada juga yang ungu, ada yang berbentuk jel seolah dapat digigit dan dicampur dengan es buah. Pohon-pohonnya juga berbentuk aneh. Tanah yang saya pijak saat keluar dari pesawat kapsul itu adalah bening. Tidak serupa tanah berwarna cokelat, yang sering kita temui setiap hari. Benar-benar bening. Saya kira saya hampir tercebur di air, atau nyungsep di hamparan agar-agar. Ternyata tanah. Dan suhunya dingin. Langit di atas sana juga keunguan. Dalam mimpi itu, saya bolak-balik keluar masuk pesawat dan hampir merasa bingung jika harus berjalan-jalan di planet aneh itu. Perasaan saya saat itu tak dapat terjabarkan. Hanya sedikit yang saya ingat, sepertinya saya membuat makanan di dapur pesawat saya, dan tidak kepikiran untuk kembali ke bumi.

Saya terbangun, sesaat, kemudian tidur lagi.. tanpa melihat jam. Sungguh dalam soal tidur saya lebih sering menjadi makhluk primitif, tanpa butuh jam, HP atau kabar berita terbaru di internet.

Saya bermimpi lagi. Tiba-tiba di bumi. Tapi tidak di negara saya berada. Tapi di kawasan perang. Saya menjadi anggota yang ditugasi di daerah perang. Sepertinya masih di kawasan Asia, entah Vietnam tahun lampau, atau Thailand. Orang-orangnya memiliki postur dan warna kulit yang tak jauh beda. Saya harus kejar-kejaran padahal semula saya dikirim untuk mengajar di daerah pedalaman. Tapi karena sepertinya dalam mimpi, saya mengetahui rahasia musuh, maka saya menjadi salah satu anggota yang dikejar-kejar. Saya melihat kelompok saya berlari dari kejaran. Melintasi hutan, berenang melalui danau di tengah hutan, hingga menyamar menjadi petani alang-alang ketika melihat tentara musuh. Kami berlari hingga melintasi padang ganja, dan sembunyi di bangunan tua untuk memanggil helikopter yang menyelamatkan kami. Jangan tanya mengapa saya tahu itu ganja, mimpi sering kali tidak dapat dijabarkan bagaimananya. Saya juga merasa ketika kami, saya dan orang-orang di dekat saya berlari lagi, saya melihat satu tentara musuh berusaha menembaki kami, tapi untunglah tak ada yang terkena. Tapi saya pun mikir, apakah bila saya benar-benar tertembak lantas saya merasa sakit atau nggak bisa bangun? Toh bagaimana pun ini hanya mimpi.

Bangun-bangun, rasanya capek sekali, seperti habis berlari puluhan kilometer.

Mimpi yang aneh bukan. Saya jadi ingat kata Carl Gustav Jung, apakah mimpi saya semacam arketipe? Entahlah.

Lake-of-dream-hd-wallpaper

 

Pertanyaan

ketika tiba-tiba hidup mulai menemukan titik kebersimpangan, kesamaran, dan ketiadaan makna…

apa yang mestinya aku lakukan…?

tetap di sini, dan akan seperti itu yang kualami

atau berpindah, dan aku tak tahu apa yang akan kutemui nanti?

Samar

Hari ini, seperti sepasang sahabat, kita masih memiliki tawa yang sama. Senyummu secerah matahari biasanya. Lagi-lagi tiada terik melukai sepori pun kulitku, sekalipun aku seringkali berbicara bagai bara dan arang yang liar terlempar. Lalu kita pun menelusuri senja dalam diam, seperti biasanya. Kau ceritakan tawamu yang menyimpan luka, kukeluhkan kerisauanku yang begitu samar. Kita hampir saja tak pernah memiliki bahasa yang dapat saling menangkap makna. Tapi mengapa kurasakan begitu dalam luka itu, dan kau sadari begitu abu-abunya hatiku saat ini.

Ah, apa yang mereka tahu soal kenangan? Apa yang mereka tahu soal hidup kita? Apa yang dapat mereka pahami dari terjalnya perjalanan kita? Aku selalu saja berpura-pura tak peduli itu. Diam-diam kita nyaris menyimpan dalam hal yang beracun, entah kapan meledak serupa bom waktu.

Barangkali ketika kita berpisah lagi, lalu menemui ruang-ruang sunyi kita masing-masing: ada yang tinggal separuh, atau barangkali habis dan tiada lagi apa-apa di sana.

Selayak udara, kita berhembus seperti biasanya. Kita berlari ke arah yang memang kita tuju. Kita berjalan pada liku yang hanya kita sendiri yang menapakinya. Bertahun-tahun ini, kita memang berjalan sendiri-sendiri. Tak lagi tahu apa-apa soal masa depan. Tak lagi peduli soal rasa.. sebab kita telah jera, mungkin saja.

Lagi-lagi tawa kita sama. Seperti semula. Bagai sepasang sahabat. Seperti biasa, tatkala kutemukan begitu jurang yang ada di antara kita. Tatkala kutemukan ada yang begitu tebal sebagai tembok di sana. Ada luka yang yang pernah kurasakan, dan hitam yang sempat tertera. Seperti saat aku merasa aku seperti tak dapat menjangkaumu. Adakah selamanya kita tak pernah saling mengisi? Atau barangkali kita tak sempat menyadarinya? Andai kita tak pernah melewatkan semua kesempatan, andai waktu berbicara dengan begitu lugas dan tegas, andai kita pun saling mengerti tanpa harus menelaah aksaranya.

Barangkali antara kita hanya sebatas tawa, yang mencoba saling bertukar kabar, mengirim radar-radar pesan yang samar… dan selalu masih menyimpan rahasia hati. Yang terdalam—paling tersembunyi.

Kau dan aku—masih saja terpisah rasa