Back to the Past

Terlempar di Zaman Purba

Siang itu perasaanku masih saja dingin, sedingin kutub utara. Sebulan sudah aku patah hati. Dan demi melupakan itu, aku mengambil freelance di toko bunga yang terletak di pusat kota. Maksudnya agar tidak melulu memikirkan sakit semacam itu di waktu-waktu luang.
Suatu hari aku harus mengantar pesanan bunga di apartemen sebelah. Jalanan ramai seperti biasa dan aku berjalan melintasi trotoar, kemudian berbelok ke arah kafe. Tiba-tiba saja seseorang berteriak di belakangku.

“Awas!!!”

Dan setelahnya dunia terasa gelap dan entah bagaimana aku terbangun dengan bingung di suatu tempat yang aneh.

Ini bukan lagi di tengah kota. Tidak lagi di tengah keramaian. Sekitarku adalah padang rumput dengan ukuran besar, bukit bebatuan di kejauhan, dan…

“Garu! Kamu tidak apa-apa?”

Seorang pria berpakaian minim, maksudnya berpenampilan begitu purba mendatangiku. Aku terperanjat sebelum bersiap lari. Ia berbahasa aneh dan anehnya lagi, aku justru mengerti. Aku begitu bingung tentang suasana yang tiba-tiba ini sehingga kepalaku berdenyut-denyut tak karuan.

“Kamu siapa? Jangan dekat-dekat! Tolong!”

Rambut gondrong, pakaian minim dari kulit entah apa juga tongkat panjang yang dibawanya. Ia benar-benar manusia purba. Sementara aku pun heran luar biasa dengan penampilanku yang tak jauh beda dengannya.

“Aku Kharpha! Calon suamimu. Oh mungkin ada yang salah dengan kepalamu karena terantuk batu tadi,” katanya dengan intonasi cepat. Ia tiba-tiba menarik tanganku untuk berdiri,” ayo cepat Gharu. Tidak ada waktu lagi. Kita harus pergi. Daerah kita sudah diinvansi sekelompok banteng liar.”

Calon suami? Invansi banteng? Apa lagi itu?

Belum sempat berpikir, manusia purba itu sudah menarik tanganku sementara suara gedebum dari belakang menciutkan nyaliku untuk bertanya. Barangkali sekitar ribuan jumlahnya, binatang hampir mirip banteng berukuran superbesar sedang menuju arah kami. Kami berlari sekencang mungkin seperti setan jalan. Dan tak lama kami sampai di sebuah bukit, di dalam goa.

Setelah segalanya sudah berangsur tenang, aku kembali mengingat-ingat. Ini pasti ada kesalahan. Beberapa menit lalu aku sedang mengantar bunga, lalu mendadak dunia gelap dan tiba-tiba aku ada di sini. Yang jelas ini bukan di akherat. Mana ada akherat pakai dikejar-kejar banteng?

“Kita di sini dulu Gharu? Kamu pasti lapar. Sebentar, aku carikan sesuatu dulu untuk kita makan. Kamu jangan ke mana-mana.”

Sementara pria purba bernama Kharpa itu menghilang, aku mengambil napas untuk sekedar menerima dan percaya bahwa aku mungkin sedang terlempar di dimensi masa lalu. Di sebuah zaman yang barangkali belum ada teknologi. Kutengok alam di luar sana. Sebenarnya tempat ini jauh lebih indah. Bintang bertaburan dengan begitu jelas. Padang rumput meliuk-liuk diterpa angin juga tetumbuhan raksaasa yang tak pernah ditemui di zamanku. Suara hewan liar terdengar samar. Aku membayangkan sekawanan dinosaurus seperti di film-film.

Tak lama kemudian Kharpa datang dengan seonggok kayu dan seekor kelinci besar di tangan satunya. Ia tersenyum ke arahku seraya menata kayu-kayu itu dan menyalakannya dengan batu. Ia membuat api unggun. Malam yang dingin pun menjadi hangat.

Lelaki itu tak banyak bicara. Seperti sudah terlatih alam, ia menguliti kelinci itu sebelum dijadikannya kelinci panggang. Dari remang cahaya api unggun, sebenarnya bila tanpa bulu, ia begitu tampan. Ia mungkin jenis manusia purba campuran Austronesia-Melayu, seperti yang pernah kutahu di pelajaran Sejarah sekolahku dulu. Dan aku lega ketika aku yakin, manusia purba tidak serupa monyet yang selama ini diyakini. Yah, itung-itung study tour lintas waktu, pikirku dalam hati. Aku tersenyum-senyum sendiri.

“Ini makanlah,” katanya.

“Terima kasih Kharpa,” kataku. “Bisa kau jelaskan mengapa kita terdampar di sini?”

“Kelompok kita sudah pindah, dan kamu sempat hilang. Itu sebabnya aku mencarimu. Aku khawatir kamu dimakan binatang buas. Aku nggak akan ikut pindah sebelum menemukanmu,” jawabnya sambil mengumpulkan daun-daun kering, menatanya di bawah pohon tak jauh dari tempatku, kemudian tidur di atasnya.

Dan entah mengapa mendadak ada perasaan hangat yang menjalar di hatiku. Di zamanku, nyaris tak pernah ada pria semanis itu, rela mengorbankan nyawa demi menyelamatkan perempuannya dari bahaya. Namun itu tak berlangsung lama. Setelah aku tertidur, seseorang memanggilku.

“Mbak… Mbak… sudah sadar?”

Aku membuka mata dan menangkap deretan gedung apartemen. Cahaya matahari menyilaukan mataku.  Ok, itu tadi mimpi atau apa? Sebenarnya aku sedikit menyesal tapi aku yakin pastilah aku sudah kembali ke masa sekarang.

“Apa yang terjadi?” tanyaku.

“Mbak tadi kejatuhan pot bunga dari atas, lalu pingsan.” Seorang pria yang tengah menahan bahuku menjawab.

Sekerumunan orang berangsur pergi setelah melihatku sadar. Dan aku terkejut pria yang kini mencoba menolongku berdiri mirip sekali dengan Kharpa. Hanya saja tentu ia tak berbulu dan memakai pakaian kulit kayu.

“Kharpa?!”

“Apa? Bukan, nama saya Bayu. Mari aku antar pulang,” jawabnya sambil tersenyum.

Mendadak dunia aneh ini pun menghangatkan hatiku. Aku berjalan pulang sambil bertanya-tanya, apa tadi mimpi? Fenomena alam? Atau suatu pertanda?

*karya ini dibuat untuk lomba nulis Gagasmedia, dan dibuat secara ekspress, 1 jam sebelum dikirim
Iklan

Sebuah Pernyataan

catatan:

-dari perempuan kepada laki-laki-

pada lebaran ketigaku:

 

Sudahlah, jangan lagi banyak berbicara soal hal-hal duniawi: kecantikan fisik, fashion, foya-foya, tentang menimbun harta, atau bluefilm yang kerap engkau nikmati dan kau sebut itu kumpulan kesenangan, yang kau mumpung-mumpungkan selagi masih hidup. Jangan lagi berbicara soal kenikmatan-kenikmatan yang semu dan segera akan pergi. Jangan ajari aku tentang cara menikmati hal-hal yang aku sendiri enggan menyentuhnya. Jangan banyak mengajakku berdiskusi tentang hal-hal yang jarang sekali kupercayai: kebahagiaan sementara, janji-janji kosong, dan obsesi duniawi yang kurasa cukup mengerikan untuk kuselami. Bukankah kita semua tahu, ada kebahagiaan yang sesungguhnya kita cari, dan tidak selalu soal dunia?

Mari duduk berdua di sini. Sediakan sedikit waktu untuk berbicara tanpa obsesi, saling memahami arah tatapan mata dan perasaan masing-masing. Mari kita pergunakan bahasa hati saja sesekali, dan dengarkan apa yang akan aku katakan sebagai pernyataan:

Mari mulai detik ini, kita berbicara saja tentang kemanusiaan, tentang negara kita yang masih terjajah, tentang sejarah agama juga persamaan ketika kita ingin dunia kita damai, tentang betapa sia-sianya manusia yang berebut harta benda, juga tentang apa keimanan dan makna takwa yang sesungguhnya. Mari kita berbincang saja tentang ilmu-ilmu filsafat, tentang kebaikan dan kebenaran, tentang eksistensi Tuhan, tentang perkembangan ilmu pengetahuan, tentang perihal karya sastra, tentang iklim sosial, tentang anarkisme, tentang sejarah budaya, dan barangkali tentang pendidikan anak. Atau bila kau bosan berbicara tentang itu semua, baiklah kita bisa berbicara hal-hal sederhana di sekitar kita. Tanaman organik, atau pendapatmu tentang suasana pagi.

Kau tahu, secantik apa sesuatu yang engkau pandang saat ini, akan beranjak keriput dan beruban, dan semakin berbau tanah suatu saat nanti. Marilah sejenak berhenti, kita berbicara hal-hal lain yang membuat kita tumbuh setiap hari, belajar setiap waktu, mencintai Tuhan sepanjang hidup, dan berjanji bertemu lagi pada keabadian. Saling ada dan tidak hanya untuk saat ini saja.

Sebab aku lebih ingin engkau menikahi jiwa dan isi pikiranku, tidak sekedar tubuhku—yang kelak akan binasa bersama bumi seisinya.

heart-key-love-silver-true-love-Favim.com-47258

Penantian atau Kebodohan?

sebuah cerita pendek

2012

Di sebuah taman, duduk dua orang permepuan dan laki-laki. Mereka sudah bersahabat cukup lama, 2 tahun.. tidak, mungkin bagi banyak orang, 2 tahun cukup sebentar saja, dibanding mereka yang sudah bersahabat bertahun-tahun. mereka memiliki kegalauan yang sebenarnya hanya menuggu waktu untuk diselesaikan. Ada ketertarikan yang tidka lagi ketertarikan antar dua sahabat, tapi lebih, tentunya ketertarikan antara laki-laki dan perempuan, namun tak satu pun yang berani memulai, terlebih menegaskan. Si permepuan jomblo, sedangkan si laki-laki sudah memiliki pacar sejak 15 tahun yang lalu, dan kini tinggal jauh di luar negeri sana, dan perempuan tahu bahwa laki-laki ini sedang digantung oleh si pacar.

perempuan: aku ingin memastikan satu hal. Aku mencintai kamu. Bagaimana dengan kamu?
laki-laki: aku juga mencintaimu kamu, tapi juga masih mencintai dia…
perempuan: oh, ya aku ngerti. Tenang, kamu boleh milih tentu saja. Tadi aku hanya jujur.
laki-laki: tapi aku pasti akan pilih kamu
perempuan: lho, kenapa?
laki-laki: Karena dia kurasa dia tidak mencintaiku sebaik kamu.
perempuan: Jadi kapan itu?
laki-laki: Maksdmu?
perempuan: Mencintaiku…
laki-laki: tidak sekarang
perempuan: oke, aku mengerti

 

 

2013

laki-laki: Aku banyak bertengkar dengan dia akhir-akhir ini
perempuan: Oh ya? masalah apa?
laki-laki: Karena banyak alasan, banyak masalah yang sulit aku ceritakan
perempuan: Oh.. kalo begitu kamu harus berusaha
laki-laki: sepertinya tidak mungkin. Maukah kamu menemaniku untuk masalah ini
perempuan: Bukankah kamu tahu aku mencintai kamu? Maka aku akan selalu ada buatmu.
laki-laki: trima kasih ya.. kamu baik… kamu memang perempuan terbaik di mataku.
Perempuan: bukan pelarian bukan?
Laki-laki: hehe, kuharap bukan. Aku gak ada pikiran untuk itu.

 

 

2014

laki-laki: Kamu baik, aku pasti mencintai kamu, tapi aku sudah putus kok sama dia..
perempuan: Oh ya? Kenapa kalian putus?
laki-laki: Karena buat apa pacaran lama, bila dia tidak ingin bersamaku lama.
perempuan: Oh begitu. lalu?
laki-laki: Lalu aku harap aku bisa memperbaiki semua, hubungan denganmu
perempuan: Maksudmu kamu sudah mencintaku?
laki-laki: Iya, tapi maaf, untuk saat ini, belum bisa sungguh-sungguh, karena masih ada dia berkelebat di ingatanku.
perempuan: oh tentu, jadi kapan kamu mau mencintai aku?
laki-laki: aku pasti akan mencintai kamu, tp sulit bagiku melupakan luka yang dia torehkan di hatiku
perempuan: ok.

 

 

2015

laki-laki: dia sudah benar-benar hilang dari hidupku dan aku akan memenuhi janjiku untuk mencintaimu sepenuhnya
perempuan: Secepat itu? Benar kamu gak ada komunikasi lagi?
laki-laki: Benar
perempuan: Dan kamu sudah yakin denganku?
laki-laki: Hm… lagi-lagi masih sulit bagiku melupakan dia. Gak mungkin aku mencintai kamu, selama dia masih mengusik ingatanku. Itu akan menyakitimu. Tapi percayalah aku akan berusaha.
perempuan: Oh, kamu belum melupakan dia, kenapa tidak bersamanya saja?
laki-laki: Sebab aku merasa banyak hal menguatkanku untuk tidak bersamanya
perempua: Ok, aku paham.
laki-laki: Kamu mau nunggu aku sebentar lagi?
Perempuan: Akan aku usahakan

 

 

2016

perempuan: Sudah sampai detik ini, apakah kau masih ingat dengannya?
laki-laki: Sejujurnya masih.. bukankah ingatan tidak begitu saja hilang?
perempuan: Ya, kamu benar
laki-laki: Tapi tenang, bagaimana pun hanya kamu perempuan yang aku tuju, aku hanya butuh waktu..
perempuan : Waktu? untuk?
laki-laki: untuk melupakan dia
perempuan: oh tenang saja.


 

2017

laki-laki: aku tak tahu apakah aku sudah benar-benar melupakan dia, tapi aku sudah belajar untuk ada selalu buat kamu
perempuan: tentu. Aku hargai usahamu.
Laki-laki: maukah kamu menyediakan waktu untukku sebentar lagi, agar aku siap deganmu?
Perempuan: tentu, selalu ada waktu.
laki-laki: benarkah?
perempuan: iya, tapi kali ini untuk melupakan kamu dan mencari yang benar-benar mencintaiku
laki-laki: (:O-terkejut) tapi, katanya kamu mau nunggu?
perempuan: sampai kapan? aku sadar, menunggu pria yang masih selalu mencintai mantannya, juga pekerjaan wanita bodoh. udah lima tahun saya mengalah demi menunggu kepastian kita, tapi aku gak tega membuatmu seperti ini.
laki-laki: Kamu merasa tidak tega? Dengaku?
perempuan: Iya. Gak tega karena gara-gara keinginanmu bersamaku, kamu jadi harus bersikeras melupakan mantanmu. Saya prihatin denganmu
laki-laki: tapi aku butuh waktu,
perempuan: sedangkan saya butuh kepastian. dan saya memilih pergi semata karena mencintai kamu juga, gak mungkin kan saya maksain kamu harus cinta sama saya, dan membuatmu merasa harus melupakan cinta sejatimu di masa lalu?
laki-laki : Kita belum benar-benar berusaha,
perempuan: saya sudah. Sejak 2012 lalu
laki-laki: Kamu gak percaya aku? Kamu belum benar-benar yakin dengan usahaku?
perempuan: Bukan. Saya hanya sadar saja. Bahwa setiap pria pasti hanya mencintai satu orang wanita saja, meski ia memiliki banyak harapan. Sejak 2012 lalu, Darl.. kamu berusaha mati-matian melupakan dia dan kamu gak bisa. Tandanya dia tak tergantikan di hati kamu. Tidak akan pernah. Sadarlah dengan itu.
laki-laki: oh, harusnya aku mengerti itu. Maafkan aku (wajah laki-laki membeku, tak lagi bisa menjawab)
perempuan: Tentu. Dan selalu. Kini lupakan saja tentang kita. Kurasa tak akan terlalu membuatmu terbebani, seberat ketika kamu berpisah dengan dia. Jangan khawatir.
laki-laki: lalu bagaimana aku?
perempuan: Maksdnya? Nasibmu?
laki-laki: Iya
perempuan: Sudah kubilang, tenang saja. Bukankah kamu akan menikah usia 45 tahun nanti? Masih ada waktu sekitar 10 tahunan untuk mencari penggantiku. Bye…

 

 

Gadis itu pun berlalu dengan kegemasan luar biasa bertahun ini. Bukan lagi gadis, tapi sudah wanita beranjak tua yang belum menikah juga. Dalam hatinya berbicara, andai kamu lebih banyak menggunakan kata “kita”, andai kamu tak terlalu jujur tentang sulitnya kamu melupakan dia, dan andai kamu banyak meyakinkan aku bahwa kamu benar-benar ingin bersamaku.. aku tidak akan semantap ini untuk pergi meninggalkanmu. Bagaimana pun aku permempuan. Aku tak bisa terus-terusan menjadi ban serep yang entah kapan akan dianggap manusia. Lagipula cinta gak bisa dipaksakan, dan aku bukan tipe pemaksa.

 

 

Dan berakhirlah kisah romantis ini, eh maaf, kisah aneh maksudnya. Hahaha. (jadi tertarik bikin banyak cerita aneh akhir-akhir ini). apakah sudah cukup aneh untuk disebut sebagai cerita?

Rahasia

Tak ada sore dan udara menjadi segar
Tak ada gelap, lalu mata enggan menatap
Tak ada bintang mati, butiran pasir terbang ke langit
Tak ada fajar, hanya remang malam
Semua tlah hilang terserap matahari
Harum mawar memburu bulan
Rahasia tetap diam tak terucap
Untuk itu semua aku mencarimu
Berikan tanganmu, jabat jemariku
Yang kau tinggalkan hanya harum tubuhmu
Berikan suaramu, bawa semua bisikanku memanggil namamu
Atau kau ingin aku berteriak sekencang kencangnya
Agar seluruh ruangan ini bergetar oleh suaraku