Review: Modern Islamic Parenting

35564780_2087462968242531_2209632391708803072_n

Judul: Modern Islamic Parenting
Penulis: DR. Hasan Syamsi
Penerbit: Aishar Publishing
Cetakan 1: November 2017
Bahasa: Indonesia
ISBN: 978-602-1243-08-4
Jumlah halaman: 312

 

Hampir tidak ada gaya parenting yang sempurna di dunia ini. Tapi setiap orang tua menginginkan cara yang ideal untuk menerapkannya. Meski bertahun berkecimpung di dunia pendidikan anak, saya tetap merasa harus belajar lebih banyak. Sebab mengajari anak orang lain ternyata bisa beda ceritanya dengan mengajari anak kandung sendiri. Mendidik anak sendiri tidak hanya terbatas sekian jam di kelas, tetapi sepanjang waktu di mana pun itu. Tanggung jawabnya juga lebih berat. Konon bahkan dilaporkan kepada Allah kelak di hari akhir. Dalam proses belajar mendidik anak, tak jarang saya mengadopsi ilmu dari berbagai buku dan artikel. Terkadang masih terpengaruh juga dengan beberapa gaya mendidik orang tua saya. Tetapi pada intinya, saya setuju anak-anak (di keluarga muslim) mestinya dibesarkan sesuai dengan nilai-nilai islami pula. Nah dari sini saya tahu, ini sedikit menantang bagi saya mengingat anak-anak tumbuh di lingkungan islami yang sedikit beragam. Maklum tinggal di Jawa, keluarga besar kami tergolong plural. Tapi tentu saya tidak mempermasalahkan keberagaman itu, karena anak-anak akan tetap tumbuh dalam dunia yang menantang di luar sana, yang perlu bagi saya sebagai orang tua, menjadi pengarah yang mampu membawa mereka pada pencerahan, dan bukan sebaliknya. Memiliki anak-anak yang mampu menjaga dirinya dan tak mudah terbawa arus negatif pastilah sungguh damai rasanya.

“Sekiranya kamu bersikap keras lagi kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. (Ali Imlan: 159)

Beruntung saya menemukan buku Modern Islamic Parenting yang ditulis oleh DR. Hasan Syamsi melalui pengalamannya selama 20 tahun membesarkan anak-anak. Menjadi orang tua kan, meminjam istilah Elly Risman, nggak bisa terjun bebas. Melainkan harus belajar juga. Saya juga membacanya berulang-ulang selama beberapa minggu ini dan merasa tertarik dengan isinya. Buku ini berisi paduan mendidik anak dengan lembut sesuai ajaran Nabi namun masih relevan diterapkan di masa sekarang. Sayangnya buku ini belum terdaftar di goodreads. Padahal menurut saya, isinya mencakup hampir semua yang dibutuhkan para orang tua mendidik anak-anaknya untuk berkarakter islami. Secara garis besar buku ini menerangkan beberapa poin untuk dijadikan pedoman dalam membentuk anak-anak yang islami. Pertanyaan-pertanyaan kecil saya terkait bagaimana sih cara paling ideal membentuk generasi islami, terjawab di buku ini.

Dibuka dengan uraian singkat terkait tanggung jawab orang tua terhadap kehidupan anak-anak termasuk juga pentingnya memposikan diri sebagai orang tua yang diidolakan anak. Sampai di sini, saya menyadari perlunya refleksi diri sebagai orang tua selama ini karena bagaimanapun orang tualah figur utama anak-anak. Mereka akan meniru dan bertindak sesuai apa yang dilihat sejak dini. Menerapkan kebiasaan baik seperti mengucapkan tolong, maaf, dan permisi, menggosok gigi, sholat, bahkan menyukai buku meski belum bisa membacanya, mudah dilakukan ketika mereka masih berada di usia dini. Nah ternyata, mereka pun juga peniru ulung yang belum bisa memilah baik dan buruk. Belajar dari pengalaman, saya pernah shock mendengar anak pertama saya mengucapkan istilah kasar yang tidak pernah didengar di rumah. Maka kami yang orang rumah selalu mengalihkan pada istilah lain dan lucu untuk diucapkan hingga ia lupa dengan sendirinya. Sejak itu, saya jadi tahu pentingnya menjaga anak-anak dari efek buruk lingkungan luar yang kurang sesuai dengan prinsip keluarga.

Pada buku ini, ada banyak poin yang dibahas terkait mendidik anak secara islami, yaitu seperti:

  • Memahami jenis mainan dan hadiah untuk anak,
  • Pentingnya belajar menyelesaikan masalah,
  • Menghukum dengan tepat,
  • Pendidikan seks usia dini,
  • Hingga pada membentuk karakter anak sejak dini.

 

Tak hanya itu, buku ini juga merangkum hal-hal yang akan ditemui orang tua tatkala anaknya beranjak remaja dan apa yang sebaiknya dilakukan. Tak lupa, karena ini buku yang full mengarahkan para orang tua membentuk anak-anak yang soleh, maka di beberapa bab di buku ini Hasan Syamsi juga menambahkan arahan mengenai bagaimana agar anak-anak kita dapat menjadi pengafal Al-Quran, salah satunya adalah meminimalisir atau malah menjauhkan mereka dari hingar bingar televisi dan gadget. Di akhir halaman, buku ini dilengkapi pula dengan doa agar anak-anak kita dimudahkan dalam menghafal Al-Quran. Sekalipun saya nggak muluk-muluk ingin anak saya mengahafal seluruh isi Al-Quran, tapi saya memprioritasnkan hanya hal-hal baik yang dipelajari mereka pada usia dini sebagai landasan untuk proses belajar di tahun-tahun berikutnya. Dan tak terasa, di usia anak pertama yang belum 3 tahun, alhamdulillah, ia hafal beberapa surat (yang pendek) Juz ‘Ama, doa sehari-hari, dan juga ayat kursi.

Bahasa yang dituturkan dengan ringan pada buku ini membuat pembaca mudah memahaminya. Namun menurut saya, tiap bab di buku ini dibahas dengan kurang mendalam. Tiap subbab dalam buku ini kalaupun dipecah menjadi beberapa buku pun tetap bisa. Kendati demikian, buku ini isinya berbobot dan mudah dipahami, meskipun susunan per pembahasan sedikit acak-acakkan. Membaca buku ini ibarat sedang menyimak seorang ustadz dalam sebuah forum yang tengah sibuk menjawab seabrek pertanyaan dari para jamaah. Terkadang tidak berurutan tapi setiap pembahasan mengandung informasi penting yang rugi kalau dilewatkan.

“Kita ajarkan kepadanya bahwa dusta dan iman tidak menyatu, dan dusta kecil ataupun besar sama saja.”–(h. 236)

Sayang ditemukan banyak kalimat negasi yang pilih penulis dalam buku yang bertema pendidikan islami ini, padahal kalimat positif lebih mudah dipahami ketimbang yang negatif. Seperti pada halamn 40- “Ketika salah seorang teman berbuat tidak baik, jangan berlaku kasar dan berkata kepadanya, ‘Saya tidak ingin kau membawa perilaku burukmu ke rumah kami'” dan kalimat selanjutnya hanya berupa “Usahakan untuk memberi penjelasan kepadanya dengan tenang.” Pada halaman 45 bahkan hanya berisi contoh-contoh kalimat ancaman yang tidak boleh dilontarkan tanpa dilengkapi dengan alternatif kalimat yang positif yang dapat diterapkan orang tua. Namun tidak mengapa, dengan begitu, pembaca seolah diajak aktif berpikir dan kretif mencari sendiri kalimat terbaik untuk dikatakan kepada putra-putrinya. Syukurlah kalimat negatif yang sejenis hanya sebagian kecil saja di buku ini.

Buku ini menarik untuk dibaca dan diterapkan orang tua kepada anak-anaknya. Apalagi seperti halnya buku-buku islami lain, materinya didukung oleh pengalan surat Al-Quran dan hadist yang sahih. Kalau sudah begitu saya, jadi tambah luluh. Namun orang tua meski tak habis ikhtiarnya untuk menjadikan anak-anaknya ahli surga, perlu juga bertawakal. Sebab, hasil kan tetap saja di tangan Allah. Saya bahkan ingin sekali menjadikan isi buku ini pedoman. Barangkali sejak selesai baca ini saya terdorong membuat semacam evaluasi dalam jurnal pribadi berdasarkan poin-poin di buku ini seiring dengan perkembangan dan proses belajar saya sebagai orang tua.

Buku ini diperuntukkan bagi siapa pun yang membutuhkan semacam gambaran bagaimana mendidik yang tepat dan islami sesuai dengna anjuran Nabi. Recommended bagi orang tua, calon orang tua, atau siapa pun yang tengah berjuang mendidik anak-anak.

 

Iklan

Of Mice and Men by John Steinbeck: Ulasan Singkat

32212419_1706975229351864_5420380845040992256_n

Judul: Of Mice and Men (Tragedi Hidup Manusia)
Penulis: John Steinbeck
Penerjemah: Shita Athiya
Penerbit: Selasar Surabaya Publishing
Cetakan 1: September 2011
Bahasa: Indonesia
ISBN: 978-979-25-9413-3
Jumlah halaman: 150

 

Blurb:

Berusahalah memahami masing-masing manusia, karena dengan memahami satu sama lain. kalian bisa bersikap baik satu sama lain. Mengenal baik seorang manusia tak pernah berakhir dengan membencinya dan nyaris selalu menjadi mencintainya.

 

George bertubuh kecil namun cerdas dan pemimpi. Ia ingin suatu hari dapat memperbaiki hidup, tak lagi menjadi buruh kasar dan memiliki tanah sendiri. Sedangkan Lennie bertubuh besar namun memiliki keterbelakangan mental. Mereka harus pindah lagi dan mencari pekerjaan pada tuan tanah yang baru di Soledad.

Mereka terusir karena sebuah kasus. Lennie dituduh memperkosa seorang gadis, padahal yang sebenarnya ia hanya tertarik pada tekstur roknya. Bahkan suka memegangi hewan-hewan kecil seperti tikus, kelinci, dan anak anjing hanya karena tertarik dengan bulu-bulunya, tanpa menyadari bahwa perbuatannya membuat hewan-hewan kecil tersebut terbunuh. Hal-hal kecil seperti yang Lennie lakukan ini sering kali menyulitkan hidup sahabatnya, George yang tengah berjuang mewujudkan impian.

Novel ini terbit tahun 1937, pada dekade 1930-an, ketika masih terjadi krisis global. Bahkan merupakan kisah yang terinspirasi oleh pengalaman hidup penulis sendiri yang pernah menjadi buruh. George dan Lennie merepresentasikan kaum buruh kasar. Novel ini menceritakan dua orang sahabat dari kelas pekerja kasar yang melakukan perjalanan bersama karena perasaan sepi. Goerge pun membutuhkan Lennie sebagai teman perjalanan yang tak memiliki niat jahat sedikit pun.

“Tak perlu otak untuk menjadi orang yang baik. Kelihatan bagiku kadang-kadang tepat terjadi sebaliknya. Lihat saja orang yang benar-benar pintar dan biasanya hampir tak pernah jadi orang baik.” (Hlm. 54)

Sebetulanya novel ini memiliki ide cerita yang sederhana. Memberikan pesan kepada pembaca bahwa memiliki teman yang menyulitkan lebih baik daripada tidak memilikinya sama sekali. Meski seolah bercerita tentang perjalanan 2 orang sahabat yang mengadu nasib dalam keadaan yang penuh keterbatasan, secara tersirat, Steinbeck lebih banyak bercerita tentang kondisi para buruh dan kisah-kisah kemanusiaan lain. Termasuk juga isu rasisme terhadap warga kulit berwarna.

Novel ini tentulah keren pada zamannya. Dituturkan dengan gaya sederhana ala Steinbeck dan ide yang dekat dengan kondisi masyarakat saat itu, membuat novel ini pantas meraih penghargan di bidang kesusastraan. Of Mice and Men, yang membuat miris perasaan ini pun menyuguhkan ending yang bikin geleng-geleng kepala.

John Steinbeck sendiri konon telah menerbitkan 27 buku selama hidupnya, termasuk 16 novel, 5 kumcer, dan 6 buku nonfiksi. Dan setelah membaca karya yang ini, saya jadi penasaran sama karya Steinbeck yang lain.

 

 

Resensi Novel Erau Kota Raja

23657332

Judul: ERAU, Kota Raja
Penulis: Endik Koeswoyo
Penerbit: PING!!!
Jumlah halaman: 203
Tahun terbit: 2015
ISBN: 978-602-296-056-0

Kapal yang berlabuh akan selalu kembali ke dermaga untuk berlabuh. Begitu juga dengan cinta yang selalu tahu ke mana dia harus pulang (halaman 117).

Kirana pun akhirnya menyerah dan memutuskan untuk tidak lagi bersama Doni yang telah bersamanya selama 4 tahun. Sekian lama ia menunggu dan berkali-kali menanyakan kepastian, namun Doni masih selalu ragu berkomitmen. Ia tak juga terlihat ingin membawa hubungan mereka ke arah pernikahan. Terlebih Kirana telah berusia 26 tahun, yang bagi wanita itu bukan lagi usia muda. Sementara ia terus berjuang mengatasi patah hatinya sendiri, Pak Joko bosnya yang sebenarnya tahu situasi hubungan Kirana, malah menugaskannya ke Kalimantan Timur untuk meliput upacara adat terpenting di daerah itu. Dengan masih menyimpan galau, ia pun tetap berangkat ke Kalimantan Timur. Tempat yang tak pernah terbanyangkan akan dikunjunginya.

Perjalanan Kirana memang tidak terlalu lancar. Sampai di sana ia menemukan berbagai kendala. Hotel-hotel dan penuh menjelang festival. Belum lagi transportasi sulit didapat. Padahal ia tidak familiar dengan daerah Kutai dan sekitarnya. Ia juga mesti berhadapan dengan Ridho yang sok kenal dan agak menyebalkan begitu datang di area souvenir. Namun untunglah ia bertemu dengan Pak Camat yang menolongnya menyediakan tempat tinggal di rumahnya, selain itu, ia juga bertemu dengan Reza. Kirana tak lantas akrab dengan Reza, namun pada akhirnya, Reza banyak membantu liputannya. Melalui perkenalannya itu, sedikit banyak kepribadian Reza yang unik mampu membuat Kirana kagum.

Tugas meliput Erau mampu sejenak mengalihkannya dari patah hati. Ia merasa beruntung berkesempatan melihat kebudayaan yang begitu kaya di Kaltim. Terlebih selama di sana, Kirana tinggal dengan Pak Camat dan istrinya yang ramah dan begitu perhatian seperti keluarganya sendiri. Liputannya pun terbantu karena ada Reza yang mau mengantarnya ke mana-mana dan hafal dengan perihal kebudayaan dan festival Erau. Kirana yang baru saja menjomblo dan tiba-tiba kagum dengan sosok Reza yang penuh kejutan, begitu pula dengan Reza yang tak pernah melihat gadis seperti Kirana sebelumnya tentu dapat memunculkan benih perasaan di antara keduanya.

Namun kedekatan mereka diiringi berbagai kendala. Kirana harus menghadapi Bu Tati, ibunda Reza yang protektif dan menganggapnya adalah pengganggu masa depan Reza. Bu Tati tiba-tiba merasa tak suka dengan Kirana sebab ia memiliki calon istri pilihan yang lebih pantas mendampingi Reza.
Masalahnya Reza terlanjut jatuh cinta dengan Kirana, pun juga gadis itu. Meski demikian mereka masing-masing menyadari kenyataan yang terjadi ketimbang mengutamakan keinginan pribadi. Kirana yang gesit, mandiri, dan berprinsip itu memahami situasi yang terjadi. Ia menjadi pembuka jalan untuk Reza dan ibunya berdamai hingga keinginan keduanya terjembatani. Meski tidak mudah dijalani baik Kirana maupun Reza.

Saya barangkali terkesan dengan sifat Alia yang teguh dan penyabar. Barangkali perempuan seperti Kirana dapat menyerah begitu saja ketika penantiannya tak kunjung menemukan jawab, sementara Alia mampu bertahan menunggu sekian lama meski Reza tak juga membuka hati untuknya. Saya tak terlalu suka dengan karakter Doni yang tak bernyali untuk serius menikahi Kirana, meski demikian akhirnya ia pun mendapat konsekuensi logis, yaitu kehilangan kepercayaan Kirana. Sedangkan tokoh Reza, di balik sifat keras kepala dan cueknya, tetap memiliki karakter positif, yaitu memiliki kepedulian dengan masyarakat di daerahnya dan keukeuh mempertahankan pilihan hidupnya, hingga pada akhirnya mampu membuktikan bahwa dirinya memang ingin berbakti pada sang ibu.

Erau, Kota Raja merupakan versi novel yang sebelumnya diadaptasi dari film yang judulnya sama. Terlihat dari pemilihan gambar di covernya yang diambil dari tokoh-tokoh filmnya. Meski setting yang diambil dari novel ini adalah Kalimantan Timur dengan festival Erau-nya yang megah dan meriah itu, tema besar ini lebih pada seputar permasalahan yang dialami oleh umumnya perempuan usia 26 tahun. Terutama tentang apakah itu jodoh, bila jodoh itu ada siapakah ia. Selain itu, melalui cerita hidup Reza dan Kirana, novel ini juga sedikit mengingatkan pada kita apakah pekerjaan yang dijalani selama ini sudah sesuai dengan hati.

Kita akan mengikuti cara khas Kirana yang cukup bijak ketika menyelesaikan permasalahannya, Reza, hingga ibunya. Pun ketika akhirnya memutuskan langkah hidupnya selanjutnya. Juga akhir yang menarik tentang rahasia jodoh yang selalu ia pertanyakan.

Namun sayang, interaksi dan dialog antara Kirana dan Reza agak kurang menggigit. Saya sendiri tak terlalu terhanyut suasana yang mestinya terbangun romantis karena barangkali selain pertemuan mereka singkat, obrolan terkesan datar. Proses move on Kirana juga terkesan cepat untuk pasca berakhirnya hubungan yang telah 4 tahunan dijalani. Untungnya interaksi dengan tokoh lain cukup menarik untuk diikuti, terlebih ketika Kirana harus menghadapi Ibu Tati yang semula membencinya dan Alia yang cemburu dengannya.

Melalui novel ini, kita sedikit banyak membaca perjalanan Kirana yang dapat menjadikan pelajaran hidup bagi pembaca, juga memberikan motivasi untuk tetap berusaha bangkit dari masalah. Novel yang memiliki 204 halaman ini dituliskan dengan gaya bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti. Sisi menarik novel ini juga terletak pada penggambaran suasana yang membuat kita seolah ikut jalan-jalan menonton keriuhan festival Erau. Selain itu, plot dan penyelesaian konflik tidak terkesan berlebihan.

Novel ini reccomended untuk ditambahkan di daftar koleksi.

Resensi Novel: Separuh Kaku

DSCN4037

Judul: Separuh Kaku
Penulis: Setiyo Bardono
Penerbit: Senja
Tahun terbit: 2014
Jumlah Halaman: 248
Genre: Humor
ISBN: 9786027968974

Blurb

Kepindahan orang tua dari Depok ke Cilebut membuat Panji akrab dengan kereta rel listrik (KRL). Melalui tragedi ingus, Panji berkenalan dengan Eka Naomi Keretawati hingga berujung pada peristiwa Salah Wati. Entah mengapa sejak menjadi TRAINer, istilah keren untuk penumpang kereta, Panji dekat dengan gadis-gadis yang namanya berhubungan dengan kereta. Sebelumnya Eka Naomi Keretawati, sekarang Eva Peron. Eva sendiri sering dipakai roker untuk mengistilahkan kereta ekonomi. Eva, ekonomi vanas. Hingga kekecewaan cinta membuat Panji menjalani jalur salah dengan naik di atap kereta.
Ikuti kisah Panji, seorang TRAINer, dalam kesehariannya di ular besi.

Sepanjang pengalaman membaca saya, ide bertema stasiun dan kereta yang saya temukan dari bacaan lebih banyak diambil oleh genre sastra, romance, atau lagu-lagu bernafaskan romantisme dan drama. Namun kali ini Setiyo Bardono memformulasikan stasiun dan kereta dengan genre humor. Saya pun menemukan banyak hal unik di dalamnya.

Panji dalam novel ini digambarkan sebagai pemuda Kampung Cilebut yang mencari jati diri. Ia rela prihatin dengan berdesakan di kereta demi meraih cita-citanya untuk bisa kuliah selepas SMA. Sejak pindah rumah ia tak punya pilihan efektif lain selain naik kereta ke sekolahnya di daerah Depok. Menjadi langganan kereta ekonomi, tentunya ia pun jadi akrab dengan berbagai suasana di KRL. Mulai dari bertemu Naomi (Wati) yang berujung pada salah Wati, hingga tragedi kecelakaan penumpang atap yang menimpa salah satu sahabatnya.

Di samping mengamati, ia juga punya sudut pandang konyol mengenai hal-hal di sekitarnya. Sebagai penumpang rutin, ia bahkan punya ikatan kekeluargaan dengan penumpang lain yang setiap hari ditemuinya di gerbong tiga karena perasaan senasib seberdesakan. Selain itu ia juga menemukan belahan hatinya walaupun tidak berujung baik. Guyon khas yang mengalir natural dan ringan dalam novel ini berhasil membuat saya jadi senyum-senyum sendiri sampai ngakak selama membacanya.

Berbicara tentang genre humur, memang tidak mudah menampilkan komedi karena selain itu berhubungan dengan keterampilan dan pengalaman, juga berkaitan dengan selera audience. Tapi menurut saya, justru karena berangkat dari masyarakat menengah ke bawah, membuat buku ini dekat dengan kehidupan sehari-hari sehingga terasa akrab. Selama ini saya jarang menemukan buku bergenre humor yang betulan bikin tertawa. Mungkin karena saya punya selera humor yang gampang-gampang sulit, hehe.

Kelebihan novel ini juga terletak pada kritik sosial. Penulis seperti mengajak pembaca untuk melihat lebih dekat kondisi kereta ekonomi dan melihat masyarakat dari segi transportasi umum dari sudut pandang remaja bernama Panji dan berbagai peristiwa kocak yang dialaminya. Menyorot masyarakat KRL gerbong ekonomi itulah yang membuat novelnya terasa membumi dan akrab. Panji berbicara dari banyak hal, mulai dari kondisi KRL yang selalu berdesakan, tips naik kereta, hingga informasi jajananan khas sekitar stasiun seperti lontong dan gorengan yang dipotong menggunakan gunting hingga tahu sumedang.

Di samping menghadirkan hiburan, novel ini juga mengajak kita sedikit banyak merenungi perihal seputar fasilitas umum yang dekat dengan kita sehari-hari, terutama yang berhubungan dengan KRL Ekonomi. Novel ini juga diselingi puisi-puisi ringan dan lirik lagu gubahan ala Panji yang kadang konyol yang sepertinya merupakan keahlian penulis. Dilihat dari diksinya, penulis konsisten mengangkat tema KRL dan stasiun. Bahkan termasuk nama tokoh-tokohnya. Setiyo B. juga menyelipkan ramalan bintang edisi KRL Ekonomi yang bikin ‘mules’ saat membacanya. Misalnya seperti ramalan zodiac Panji berikut ini.

halaman 172

halaman 172

Dalam segi teknis, cover menggunakan gambar yang lucu dengan jenis font yang nyaman dibaca dan tidak mengikuti buku-buku yang lainnya. Seperti memang ditujukan untuk bacaan super santai.
Membaca profil penulsi di halaman belakang, Setiyo B rupanya pernah menerbitkan buku dengan tema serupa yaitu, Mimpi Kereta di Pucuk Cemara dan Aku Mencintaimu dengan Sepenuh Kereta. Sudah dapat ditebak si penulis jelas melahirkan ide-ide kreatif ini dari pengalamannya ber-KRL ria 🙂

Ada beberapa salah ejaan dan typo yang tidak terlalu berpengaruh dan dapat disempurnakan lagi di cetakan berikutnya.
Overall, membuat saya beruntung menemukan buku ini. Berharap dapat membaca buku Setiyo B. selanjutnya. Novel “Separuh Kaku” ini rocommended untuk dibaca sebagai hiburan di kala senggang.:)

Perempuan di tengah Perang: Silent Honor, Putri dari Timur

DSCN3911

Judul: Silent Honor, Putri dari Timur
Penulis: Danielle Steel
Genre: Romance, Historical Fiction
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2004  (catakan kedua)
Jumlah halaman: 333

Shikata ga nai, yang terjadi terjadilah–168

Sudah kali kedua saya baca sejak novel ini dipinjami seorang sahabat tahun 2010 lalu. Pertama hanya saya baca sebagai selingan. Yang kedua ketika benar saya selami, rupanya ada banyak hal menarik di novel ini dan rasanya perlu dibuat review.

Novel ini bercerita tentang dua generasi. Cerita dibuka dengan pertemuan Masao dan Hademi yang dijodohkan seperti tradisi Jepang kuno pada tahun 20-an akhir. Masao berpikiran moderat, sedangkan Hademi seperti halnya wanita Jepang kebanyakan di zaman itu, konservatif, patuh dan santun. Ia bahkan tak berani menatap mata Masao sebelum menikah. Ada begitu banyak perbedaan di antaranya, namun itu tak menghalangi perasaan keduanya yang saling jatuh cinta. Meski sulit bagi Masao mengajarkan kemodernan dan kesetaraan kepada istrinya, namun Hademi tetap menghormati dan mengagumi suaminya. Meski senantiasa menyimak pemikiran Masao, ia tak  terlalu setuju dengan ide-ide itu. Konflik perbedaan itu terlihat seperti ketika Hademi merahasiakan seraya membebat perut hamilnya sampai benar-benar kelihatan pada waktunya. Di samping itu ia juga ingin melahirkan di rumah ditemani ibu dan saudaranya dan berharap melahirkan anak laki-laki, sedangkan Masao bersikeras membawanya ke rumah sakit karena ia begitu takut kehilangan Hademi dan anak mereka. Sebagai pria modern, beberapa tindakan Masao mengejutkan Hademi, seperti membantu pekerjaan domestik, menemaninya melahirkan, dan menginginkan anak perempuan.

Dan ambisi itulah yang membawa kisah mengarah pada Hiroko, tokoh utama dalam novel ini.

Tidak seperti bayangan Masao, Hiroko rupanya tumbuh seperti replika ibunya, bahkan lebih pemalu dan rapuh. Tidak seperti Yuri adik lelakinya yang mirip Masao. Hiroko terdidik dengan cara tradisonal dan selama 7 tahun, Masao dan Hidemi terus bertengkar tentang pendidikan anak-anaknya. Kedua pandangan yang berseberangan itu membuat jarak yang aneh. Sang ayah yang keukeuh, dan pada akhirnya ibunya yang demi tradisi tetap tunduk pada keputusan suami, lalu melepaskan Hiroko pergi. Hiroko pun patuh dan pergi demi menghormati sag ayah yang bahkan sudah menabung untuk mengirimnya ke Amerika, meskipun itu membuatnya merasa tercerabut dari kehidupannya yang sesunguhnya. Ia telah mencintai Jepang seperti bagian jiwanya. Tapi ia juga menghormati ayahnya.

Di sana, ia dititipkan oleh keluarga Tanaka yang masih kerabat. Keluarga Tanaka, yaitu Takeo dan Reiko, besikap baik padanya meski mereka sepenuhnya orang Amerika secara hukum, gaya hidup, dan kejiwaan.  Hiroko menjalani sekolah dan tinggal di asrama. Dari sana, kehidupan Hiroko yang sulit dimulai. Ia tak diterima di lingkungannya. Salah satu teman sekamarnya pun hanya ramah ketika di kamar, dan cuek ketika di luar. Yang satunya lagi bahkan bersikap dingin. Secara keseluruhan, warga ‘Barat’ termasuk Amerika bersikap deskriminatif terhadap bangsa kulit berwarna. Saat itu, bahkan orang Jepang ataupun setiap orang yang berasal dari “Timur” dipandang rendah dan mirip bangsa budak. Tak terkecuali Hiroko yang akhirnya lebih banyak di-bully teman-temannya dan tak diterima di lingkungan mereka. Kehidupan di sana ternyata tidak seperti harapannya. Dan moment di-bully dan tak diterima oleh semua teman sekampusnya itu cukup membuat saya ikut hanyut.

Dalam kesedihan dan keterasingannya itu, ia bertemu dengan Peter Jenkins, salah satu sahabat Takeo yang bekerja di sebuah universitas. Peter adalah orang yang mengagumi kebudayaan Jepang dan juga mencintai Hiroko sejak pertama mengenal. Kepribadian Hiroko yang rapuh membuat Peter ingin selalu mengasihi dan melindunginya. Peter-lah yang akhirnya mampu mengisi kekosonganya. Namun Tidak mudah bagi mereka bersama karena perbedaan-perbedaan itu. Terlebih sikap Hiroko yang amat pemalu, hati-hati, dan taat tradisi. Peter berumur jauh lebih tua dari Hiroko. Barangkali kedewasaan sekaligus kebosanannya terhadap perempuan modern Amerika itulah yang membuatnya ingin menghabiskan usia bersama Hiroko. Percintaan mereka mengalir lembut namun membara. Mereka bahkan sempat menyusun impian bersama dan memiliki banyak anak bila kelak dapat menikah. Namun permasalahan politik harus memisahkan mereka sebelum mimpi itu terwujud.

Tatkala Pearl Herbour diserang Jepang pada tahun 1941, posisi warga Jepang semakin terpojok. Penyerangan itu membuat warga Amerika, temasuk Kalifornia marah. Mereka melampiaskan kemarahan kepada siapa pun yang berwajah Jepang. Termasuk Hiroko yang menjadi sasaran anarkisme siswa di sekolahnya. Situasi semakin sulit. Hingga pada akhirnya masyarakat yang dinilai “Jepang” dipaksa meninggalkan tempat tinggalnya dan harus mengungsi dari kamp pengasingan satu ke kamp pengungsian yang lain. Keluarga Tanaka yang setia dengan Amerika merasa ditolak oleh negaranya sendiri. Bersama Hiroko mereka harus menjalani hari-hari berat sebagai “warga musuh”. Hiroko yang baru saja menjalin hubungan dengan Peter pun harus terpisah jarak dan waktu. Sementara Peter justru ditugaskan bergabung dengan militer untuk menyerang Jepang.

Namun dalam kondisi sulit itu, Hiroko mampu menjalani pengasingannya dan bertahan hidup. Ia sempat turut membersihkan kandang kuda yang dijadikan kamp hingga membantu di klinik darurat ketika wabah menyerang, hingga kehilangn orang-orang yang dicintai yang pergi ke medan perang. Lebih buruk lagi, kewarganegaannya yang masih Jepang membuatnya menghadapi introgasi dan intimidasi dari militer. Meski demikian, Hiroko selalu berusaha bertahan hidup dan bahkan tidak segan untuk barakhir asal itu demi kehormatan keluarga dan martabatnya. Namun rupanya kehidupan di kamp memang cukup berat untuk dijalani, terlebih bila harus berdampingan dengan segala kesedihan dan duka.

Namun, apakah Hiroko pada akhirnya dapat bersama lagi dengan keluarganya di Jepang, dan juga Peter?

Novel Danielle Steel yang satu ini kaya dengan detail suasana pada saat Perang Dunia II dan berbagai sejarah yang mengikutinya, seperti kondisi politik dunia, kemanusiaan, dan juga cinta yang saling menguatkan. Bobot yang dilengkapkan dalam novel ini, membuatnya tak sekadar romance biasa. Kelihaian Daniel mendeskripsikan adegan dan peristiwa sering kali bikin saya nahan napas, sedih tiba-tiba, dan sekaligus penasaran karena twist-twist yang ditampilkan cukup mengejutkan. Juga tentang persahabatan yang tiba-tiba lahir karena peperangan. Di mana pun perang memang bisa merusak hubungan antarmanusia yang beragam, namun novel ini menceritakan secara tersirat bahwa di dalam kondisi tergelap pun akan tetap ada celah cahaya yang akan ditemui oleh orang-orang yang tak berputus asa.

Diwarnai dengan ketegangan yang mengalir halus dan manis, novel ini memang memiliki kemampuan untuk menarik pembaca terus mengetahui kelanjutan ceritanya sampai selesai. Hanya sayang porsi endingnya dituturkan lebih singkat ketimbang bab-bab sebelumnya. Namun itu tidak terlalu mempengaruhi bobot cerita.

Buku Danielle Steel pertama yang saya baca bersjudul Now and Forever tahun 2005 lalu, setelah saya baca Silent Honor, Putri dari Timur, saya merasa kelak mesti baca buku-buku Danielle yang lainnya. 🙂

Resensi Novel: The Dancer (Mimpi di Ujung Selendang Merah Muda)

novel The Dancer (Mimpi di Ujung Selendang Merah Muda)

Judul:  The Dancer (Mimpi di Ujung Selendang Merah Muda)
Penulis:  Arthasalina
Penerbit: Mazola
Rilis:   September 2014
ISBN : 139786022960225
Jumlah halaman:  235
Genre: Fiksi

Banyak yang bilang keadaan hatiku bisa dilihat dari bagaimana aku menari. Katanya lebih jujur daripada mendengar jawaban dari mulut. Mungkin aku memang ditakdirkan untuk terjun ke sini, menari bersama hidup. Bukan hidup bersama tarian–Ajeng (halaman 155-156)

Menjadi penari tradisonal di zaman yang sudah modern seperti sekarang rupanya tidak mudah. Terlebih bila telah terlanjur meraih gelar sarjana kedokteran kemudian dihadapkan dengan dua pilihan. Tetap menjadi penari sesuai impian atau melanjutkan koas untuk menjadi dokter, seperti harapan ayahnya. Hal rumit itulah yang diadapi oleh Ajeng. Sejak ibunya meninggal karena kanker, ia memutuskan mengikuti kata hatinya untuk menjadi penari. Yang berarti ia juga menetang ayahnya. Baginya menjadi penari seperti menghadirkan kembali sosok ibunya yang juga sama-sama penari. Tidak mudah menjalani pilihan itu. Di samping ayahnya yang menolak keras pilihan itu karena berambisi anak-anaknya bisa menjadi dokter.

Menjadi penari adalah profesi yang kurang bergengsi bagi masyarakat pada umumnya. Terlebih profesi tersebut masih dipandang sebelah mata. Namun Arthasalina, penulis novel ini, seperti menceritakan pada kita bahwa tidak sekedar menghibur saja tujuan seorang penari, melainkan ada misi melestarian budaya dalam proses itu.

Meski halangan dan rintangan terjadi, Ajeng bertekad kuat berada di jalan itu. Ia juga mengikuti berbagai lomba dan pementasan, bahkan sempat menjadi penari sintren, seenis tarian tradisional yang melibatkan roh. Di tengah-tengah kesibukannya meniti karier di bidang menari, ia pun berusaha memajukan sanggar tari milik ibunya yang sudah lama tidur. Belum lagi ketika ia dihadapkan dengan rahasia besar yang akhirnya terkuak dan mengharuskan ia harus menentukan sesuatu yang berhubungan dengan masa lalu ayahnya. Yang juga berkorelasi dengan seorang tokoh di novel tersebut yang berjasa dalam perjalanan kariernya.

Adapun Deden, adalah salah satu mahasiswa Teknik Mesin yang memutuskan mengambil cuti dan datang ke Jawa (Jogja-Solo) untuk mencari pengalaman secara praktik, di samping merasa suntuk dengan kehidupan kota. Ia adalah orang yang semula menolak hal-hal yang berhubungan dengan budaya, bahkan tidak suka dengan pertunjukan tari. Namun, perjalanannya ke Jogja-Solo membuatnya jatuh cinta dengan Jawa dan orang-orangnya. Cara pandangnya mulai berubah sejak perkenalannya dengan Ajeng dan pertemuannya secara tidak sengaja. Deden yang berasal dari tradisi yang lebih metropolitan pun mengagumi sifat santun Ajeng juga. Kehadiran Ajeng sedikit banyak mengubah sikap Deden.

Bukan masalah orang jawa atau bukan, Mas. Sebenarnya masalah kebiasaan. Saya yakin adat mana pun juga mengajarkan hal yang sama. Mungkin kebiasan yang ada di lingkungan sekitar kita yang mengubahnya.”–Ajeng (halaman 59)

“Orang Jawa atau bukan, yang membuat kesan sopan dan punya tata krama itu perilakuknya”-Ajeng (halaman 60)

Deden nyaris tak pernah menemukan perempuan seunik Ajeng. Di sisi lain, Ajeng pun nyaman dengan kebersamaan mereka. Namun, sebelum mereka sama-sama saling tahu perasaan masing-masing, Deden keburu pindah lagi ke Bandung karena cuti kuliahnya habis. Selama setahun mereka tak bertemu bahkan tak terhubung melalui ponsel. Selama itu Ajeng yang bergelut dengan karier menarinya, sedangkan Deden sibuk dengan kelulusan dan pekerjaan barunya. Apakah kelak mereka bersama, atau Ajeng lebih memilih Andi, teman seprofesi denganya di dunia tari?

“Pria dewasa itu menentukan pilihan, sebatas memlilih ketentuan bukan karakter pria.” (halaman 56) demikian yang Deden ingat dari pertemuannya dengan Ajeng.

Novel The Dancer (Mimpi di Ujung Selendang Merah Muda) diakhiri dengan ending yang manis dan membuat saya tersenyum. Memang pembaca mungkin akan mudah menebaknya dari awal. Sisi menariknya adalah banyak pesan penting yang dapat ditemukan di dalam dialog-dialog tokohnya yang sarat dengan pengetahuan seputar local wisdom.

Novel ini menceritakan perjuangan mempertahankan pilihan dan tentang usaha yang tidak kenal lelah. Diceritakan dalam sudut padang orang pertama yang terdiri dari dua tokoh, yaitu Ajeng sebagai tokoh sentral dan Deden sebagai tokoh pendukung. Keduanya memiiki karakter yang berbeda. Ditunjukkan dengan Pov Ajeng yang menggunakan gaya bahasa “aku-kamu”, sedangkan Deden menggunakan” lo-gue”, menunjukkan perbedaan tradisi dan karakternya juga. Setting tempat ini adalah Semarang, Solo, Bandung, meskipun ada lokasi-lokasi lain, dan rata-rata tidak dideskripsikan secara lebih lengkap.

Keberhasilan novel ini terletak pada jalan ceritanya yang runut dan ide cerita yang membuat penasaran, juga pesan-pesan yang disertakan dalam dialog tokoh-tokohnya. Gaya bahasa dituturkan dengan ringan dan mudah dipahami. Dilengkapi pula beberapa footnote untuk memperkaya pengetahuan kita terhadap bahasa daerah. Terutama Jawa dan Sunda. Di samping itu, secara samar, penulis juga memperkenalkan budaya yang yang berasal dari nenek moyang sehingga tersampaikan misi penulis memperkenalkan budayanya, terutama tradisi tari. Seperti halanya cara Ajeng memperkenalkan keramahtamahan orang jawa terhadap Deden.

Cover buku ini sudah sesuai dengan tema dan judulnya, The Dancer (Mimpi di Ujung Selendang Merah Muda) meskipun sepertinya tidak akan ada masalah bila judul tersebut tidak menggunakan bahasa Inggris, mengingat novel tersebut, lebih sering menampilkan sisi kedaerahan dan ke-Indonesia-an. Di samping itu, saya pribadi barangkali agak merasa mengganjal dengan hal-hal yang kebetulannya agak dipaksakan. Seperti ketika secara tidak sengaja, Deden bertemu istri seorang teman di sebuah terminal bus, apalagi ia belum mengenal si istri temannya itu sebelumnya. Atau secara kebetulan ia bertabrakan dengan Ajeng di daerah ladang lereng gunung yang rata-rata luas dan masih “alas”. Yeah, meskipun dalam hidup ini hal-hal yang kebetulan bukan sesuatu yang mustahil, tapi alangkah baiknya dikondisikan selogis mungkin. Selain itu, sejak awal perkenalan, Deden terlalu beranggapan bahwa orang Jawa selalu indah, santun, suka gotong royong, dan wanitanya feminin. Padahal stereotype orang Jawa nggak selalu begitu. Terlebih di era sekarang. Bukankah demikian?

Penokohan Ajeng dan Deden yang berbeda karakter sudah cukup pas digambarkan sebagai tokoh utama dan bagian dari tema novel. Hanya saja konstruksi karakter sang ayah kurang begitu konsisten sebab di awal ia digambarkan sebagai sosok yang membenci dunia tari. Terlihat dari keukeuhnya ia menyuruh Ajeng melanjutkan koas dan melarangnya menari, namun ibu Ajeng sendiri adalah penari. Belum lagi masa lalunya yang menunjukkan bahwa penokohan sang ayah kurang sesuai sebagai sosok yang menentang profesi penari. Atau kalaupun iya, kurang diberi penjelasan.

Di samping itu, alur terasa agak tergesa dan oleh karenanya banyak detail yang kurang mendapat perhatian penulis dalam hal dialog dan penuturan, seperti pada halaman 30 di mana Mak Atun, mengatakan “wis tuwo” untuk menyebut nenek Ajeng, sebab dalam Jawa puya tingkatan bahasa, akan lebih tepat bila disebut dengan “sampun sepuh“. Selain itu penggambaran setting tampaknya perlu disempurnakan lagi dengan detail dan ciri khas, sebab meski sempat disebutkan nama-nama lokasi, seperti Sleman, namun belum kentara andaikata nama daerahnya diubah menjadi Kebumen atau Padang, misalnya. Lagipula (merujuk pada halaman 213) makanan jenis batagor tidak hanya ada di Bandung, Solo pun ada.

Namun tidak mengapa. Barangkali memang bukan pada deskripsi setting,dan detail masyarakat secara kebudayaan yang istimewa dari novel ini. Sesuai dengan konsep awalnya, novel ini sudah menggambarkan cerita hidup orang-orang yang bergulat dengan profesinya, yang tentunya tidak lepas dari kehidupan pribadi yang juga cukup berliku. Seperti halnya seorang penari. Sekalipun seorang penari dapat tampil total dan tersenyum tanpa beban di atas pentas, mereka juga tetap manusia biasa di balik panggung. Selebihnya tidak banyak kesalahan tata bahasa, typo, dan ejaan di sana, pun sudah lumayan penataan marginnya.

Novel ini direkomendasikan suntuk pembaca dewasa muda yang sedang mempertahankan pekerjaan sejatinya.

Resensi: Mesopotamia, Mimpi yang Panjang dan Melelahkan

novel Mesopotamia

Judul: Mesopotamia, Mimpi yang Panjang dan Teramat Melelahkan
Penulis: Senja Nilasari
Tahun terbit: September 2014
Penerbit : PING!!!
Genre : Fiksi
Jumlah Halaman : 220
ISBN : 139786022960232

Novel ini berkisah tentang Oman. Seorang arsitektur asal Irak yang bekerja di Indonesia. Tatkala kembali ke rumah yang diwariskan oleh ibunya, ia menemukan sebuah sebuah buku Meet the Sumerians. Tiba-tiba saja ia terlempar ke tempat yang begitu asing yang kelak ia tahu adalah di zaman Mesopotamia. Sebagai pendatang asing bagi bangsa tersebut, ia pun dijadikan budak seorang tuan dan mengerjakan hal-hal yang tak pernah lakukan di dunia nyata, seperti merawat ternak dan menjadi pelayan. Tak berhenti sampai di situ, perjalann penuh liku membuatnya terlempar dari satu tuan ke tuan yang lainnya hingga pada akhirnya ia terlibat dalam proyek pembuatan Ziggurat Ur, salah satu ziggurat terbesar pada zaman itu. Bahkan Raja Shugi, raja yang menjadi penguasa di zaman itu, meminta Oman untuk memberikan ide dan pengalamannya sebagai arsitek. Tentu saja dengan dua dialog yang sulit saling mempercayai. Hal-hal yang berbeda yang dibawa Oman membuat mereka mengiranya alien. Bukan tidak sadar Oman sedang sedang berada di dimensi masa lalu, sebab ia masih ingat bahwa ia memiliki kehidupan yang sebenarnya. Hanya saja ia tak mengerti bagaimana keluar dari sana. Bahkan cara berada di sana pun ia tak tahu. Mimpinya seperti begitu nyata hingga membuatnya ingat kembali pengetahuan sejarah peradaban yang sudah terkubur itu. Novel ini pun diakhiri dengan serangkaian adegan yang membuat saya seperti menahan napas ingin tahu akhirnya.

Apakah Oman dapat kembali, atau menetap di peradaban Sumeria yang sudah terlanjur ia jalani?

Novel ini adalah salah satu buku kesekian bertema projek astral yang diterbitkan divapress. Sepertinya sudah menjadi kebiasaan bahwa novel bertema astral projection dan berlatar belakang peradaban kuno selalu menampilkan alur campuran. Novel ini berlatar Irak, Indonesia, dan Sumeria pada zaman Mesopotamia. Penuturan disampaikan dengan sudut pandang orang ketiga, dengan gaya bahasa mengalir ringan dan mudah dimengerti. Diksi yang dipilih oleh penulis pun sederhana dan dapat dipahami.

“Mesopotamia, Mimpi yang Panjang yang Teramat Melelahkan” ditulis oleh Senja Nilasari dan merupakan novel pertamanya yang diterbitkan. Meskipun termasuk pendatang baru, Senja sudah menulis novel ini dengan sangat baik dan tampaknya sudah melakukan riset yang cukup. Novel ini seperti ditulis dengan hati-hati, terlihat dari jalinan cerita yang lumayan logis. Meskipun tentu saja, kita tidak dapat membandingkan sebuah novel fiksi dengan fakta sejarah yang sebenarnya. Sebab bukan hanya pada kebenaran sejarah letak menariknya.

Dalam novel bertema astral projection ini, Omar menjadi tokoh utama dan memiliki porsi lebih banyak dibanding tokoh yang lain. Omar digambarkan sebagai arsitek yang tekun, pekerja keras, dan sering kali lebih mementingkan pekerjaannya. Dibuktikan bahwa ia menunda berangkat ke Irak ketika kabar kematian ibunya sampai di telinganya. Sedangkan karakter Diva yang lembut dan pasrah. Ada pula Qanitah, adik perempuan Oman yang penyabar, sedangkan ayah Omar digambarkan sebagai ayah yang diktator dan dominan. Di samping itu bangunan karakter raja yang gila kekusaaan dan para budak dan tuan berdiri sendiri-sendiri dan berhasil dijabarkan dengan tidak langsung oleh Senja. Seperti yang pernah saya baca dari penuturan seorang penulis (saya lupa namanya) bahwa kualaitas karya dapat dilihat dari apakah pembaca dapat mengimajinasikannya sendiri atau terlalu banyak diguru oleh penjelasan gamblang. Novel ini mampu memenuhi poin pertama. Membaca karya yang satu ini membuat saya ingat untuk tidak melihat buku dari penampilan luarnya. Deskripsi setting yang dibangun membuat pembaca dapat membayangkan sendiri situasi yang dipaparkan dalam alur demi alur. Unsur imajinasi dibangun cukup kuat.

Namun, hingga dua per tiga bagian novel ini masih bercerita tentang Sumeria dan kehidupan masyarakatnya, juga tentang seorang raja yang otoriter dan membanggakan diri sendiri. Di samping itu, novel Mesopotamia dibingkai cerita kehidupan realitas Omar yang sepotong-sepotong seperti masa kecil Omar yang kurang bahagia, kodisi perang hingga cerita mengenai dirinya dan Diva kekasihnya yang juga tidak banyak dieksplore. Meski demikian, novel bertema astral projection ini memenuhi totalitasnya dengan keterhubungan antarcerita, terlebih setiap tokoh memiliki peran yang masing-masing saling berpengaruh.

Hingga bagian tengah-tengah itulah, saya merasa harus sejak istirahat untuk kembali membaca ketika mud saya datang lagi. Terutama di babak sebelum Oman betemu dengan Raja Shulgi. Bukan karena ceritanya tidak menarik, tapi bagian tersebut memang agak lambat dan datar. Tapi justru agak tergesa ketika masuk di beberapa babak yang agak menegangkan. Di samping itu ada missing link di bagian ketika Diva berada di alam Oman yang lain itu. Saya juga agak penasaran dengan situasi ‘mimpi di dalam mimpi’ yang terjadi di halaman 172. Membuat saya sempat bingung sebelum ingat kembali bahwa novel ini memang hanya fiksi :p.

Dari segi penampilan buku, tidak banyak yang akan saya utarakan. Ukuran font dan halaman sudah sesuai, terlebih sudah dilengkapi footnote untuk menjelaskan istilah asing. Hanya agak mengganjal salah satunya di bagian cover. Meskipnn sudah menggambarkan tema buku, menurut saya perpaduan warnanya agak sedikit pucat sehingga bagunan ziggurat menjadi terkesan kurang tegas. Tapi itu hanya salah satu dari pandangan subjektif saya. Tapi toh, kualitas novel tidak bisa ditentukan dengan kulit. Selain itu, misalnya di halaman 196-197 terdapat penataan margin yang barangkali bagian dari kesalahan tak disengaja di mesin cetak. Ditemukan pula beberapa kesalahan eja dalam novel ini seperti di halaman 159. kata “Ke dua”, mestinya jadi “kedua” ya :), dan beberapa kesalahan tanda baca seperti di halaman 44 dan 146.

Meski demikian, novel yang lebih cocok untuk segmen young adult ini tetap menarik untuk mengisi liburan.

Resensi Novel: Maya and the Darkness Surrounding

novel Maya, and the Darkness Surrounding

Judul                        : Maya and the Darkness Surrounding
Penulis                     : Arikho Ginshu
Penerbit                   : PING!!!!
Tahun terbit           : Agustus 2014
Genre                       : Fiksi
ISBN                         : 139786022556190
Jumlah halaman    : 296
Harga                        : Rp42.000,-

 

“Untukku, perkara tersulit dalam mencintai bukanlah belajar mengakhiri, sebab aku bahkan belum memulainya. Namun yang paling rumit adalah memilah hati, sebab cintaku tumbuh di antara dua hal yang sama pentingnya. Kekasih dan sahabat mungkin dua hal yang berbeda, namun sering berada dalam timbangan yang rasa yang nyaris sama.” (halaman 274)

 

Maya, and the Darkness Surrounding bercerita tentang 4 sahabat yang tengah hiking ke Gunung Kerinci sebagai perjalanan kesekian menjelajah alam. Tondi, Binar Saga, Damar, dan Rimba. Namun terjadi sesuatu di tengah perjalanan. Tatkala berhenti untuk berkemah, salah satu dari mereka dan satu-satunya wanita, tidak dapat terbangun dari tidurnya. Mereka bertiga merasa terpukul dan perjalanana pun dihentikan. Mereka membawa Binar ke puskesmas terdekat namun hasilnya nihil. Tidak ditemukan penyebab medis yang membuat Binar saga tak sadarkan diri. Atas saran seorang bidan yang memeriksanya, Binar dibawa ke seorang paranormal yang terkenal di desa tersebut. Ki Rangkat, nama orang pintar tersebut, menjelaskan bahwa Binar berada di dimensi astral. Sang paranormal menjelaskan bahwa Tondi-lah yang bisa menjemputnya pulang. Demi kesetiakawanan dan perasaan yang diam-diam disimpannya, perjalanan astral yang nyaris tidak mungkin itu pun dilakukan.

Di sisi lain, terjadi krisis besar di zaman peradaban suku Maya, tepat Amorza tinggal. Bersamaan dengan munculnya Binar Saga ke dunia mereka. Amorza, yang bertanggung jawab memanggil Binar saga secara tak sengaja ke dunia mereka, menjemput Tondi menyeberangi dunia perantara untuk membantu menyelamatkan Binar Saga yang tersesat di sana.

Di Dimensi Maya, Binar saga yang menjelajahnya lebih dulu menemukan nasib yang tak terduga yang membuatnya tak bisa pulang kembali ke kehidupan nyata. Dalam dimensi yang lain itu, Tondi sadar masih tetap saja mencintai Binar meski sulit menggapainya. Hanya saja, Binar yang di hadapan bangsa Maya, tidak seperti Binar Saga yang sesungguhnya. Tentu saja sebagai orang yang mencintainya, Tondi mencari segala cara untuk menjemputnya, bahkan rela mempertaruhkan nyawanya.

Lalu, apakah Tondi berhasil membawa si gadis pulang? Dan bagaimana kisah persahabatan mereka pada akhirnya?

Selain di Sumatra dan Yogyakarta, setting novel ini juga di peradaban bangsa Maya. Dan novel bertema kasih sayang, cinta, dan persahabatan ini sebenarnya terpecah menjadi dua fokus yang menyatu dan berhubungan. Dipaparkan pua dengan dua sudut pandang, yaitu sudut pandang Tondi di masa kini dan Amorza di masa lalu, sebagai penduduk bangsa Maya. Hanya saja bagian Tondi mendapat porsi lebih banyak. Terlebih buku ini diawali dan diakhiri dari kisah Tondi. Lepas dari itu, keduanya memiliki bangunan cerita yang utuh. Amorza dan Arzoda, sepasang kembar yang ditakdrkan menjadi orang yang disucikan oleh rakyat di peradaban suku Maya. Amorza memiliki bakat menyeberang ke dunia astral. Sama halnya dengan Tondi.

Bagian pertama diawali dari tengah, di mana Tondi berproses masuk ke penghubung dan bertemu Amorza. Dituturkan dengan deskripsi cerita yang membuat saya ingin mengetahui mengikuti cerita selanjtunya. Kemudian bagian kedua yang bertutur mengenai kisah pertemuan mereka berempat hingga persahabatan terjalin dari sudut pandang Tondi. Hingga datang peristiwa yang menimpa Binar saga di lereng Kerinci. Kemudian kisah berlanjut dri sisi Amorza, penghuni peradaban Maya dari masa lalu yang tengah kehilangan saudara kembarnya, Arzoda. Di bagian ini, Amorza menceritakan bahwa ia masih terhubung dengan roh Arzoda dan dapat menyeberang ke dunia astral. Kemudian cerita pun beranjak ke penyelesaian dengan alur maju dan runut.

Novel Maya, and the Darkness Surrounding merupakan proyek Divapress yang mengusung tema astral projector yang korelasikan dengan peradaban-peradaban dunia di masa lalu. Dalam novel ini Arikho memilih peradaban bangsa Maya sebagai latar dimensi lain. Mendengar bangsa Maya, yang terbayang dalam benak kita barangkali sebuah peradaban yang canggih dan ramalannya kalender matahari yang termasyur itu. Namun dalam novel ini, Maya lebih banyak digambarkan sebagai tempat di mana sekelompok penduduknya rata-rata bar-bar dan memiliki seorang raja yang haus darah. Manusia dengan senang hati melihat manusia lain dikorbankan dengan sadis sebagai bentuk pengorbanan memuja bulan. Sedikit banyak membuat saya ingat film “Pompaii” di mana pembantaian manusia dijadikan hiburan rakyat.

Namun, membaca kisah si kembar Amorza dan Arzoda membuat saya tersentuh. Terlebih ketika mengetahui mereka yatim piatu dan mau tak mau menjalani takdirnya sebagai orang yang disucikan dalam kepercayaan suku Maya. Sebagai penduduk bangsa Maya, mereka termasuk yang merasa nuraninya tersakiti ketika melihat manusia dikorbankan beramai-ramai.  Tatkala Arzoda pun meninggal, saya seperti diajak menyimak kisah kesendirian seorang anak di tengah takdirnya yang sulit. Secara subjektif, cerita kedua kembar tersebut lebih mendalam ketimbang cerita cinta Tondi kepada Binar Saga itu sendiri. Namun barangkali kisah Amorza memang sengaja diposisikan oleh penulis sebagai poin pendukung keseluruhan cerita.

***

Adapun kelebihan novel ini terletak pada deskripsi setting yang rinci dan detail, porsi yang pas antara narasi dan dialog, serta penggarapan alur yang terlihat berhati-hati. Kesalahan ketatabahasaan dan teknis pun tidak banyak ditemukan dan tidak terlalu mempengaruhi jalan cerita. Membaca kisah perjalanan di novel ini seperti ikut menikmati keindahan alam. Diksi yang disajikan pun menarik dan mudah dipahami, saya rasa penulis sudah cukup mampu menyajikan bab demi bab sebagai satu kesatuan cerita yang utuh. Didukung oleh keterhubungan yang berkorelasi antarbab. Meskipun alurnya bercampuran, tetap dapat diikuti hingga selesai.

Dalam hal penokohan, Tondi sebagai tokoh utama dideskripsikan karakter dewasa, pengayom, dan tulus. Meskipun ada sisi Tondi yang tak berani menghadapi masalah, terlebih ketika dihadapkan dengan kerumitan suasana di tengah hubungan persahabatan itu. Binar saga tidak begitu banyak diceritakan, selain bahwa ia satu-satunya wanita yang paling disayangi di antara 3 pecinta alam tersebut karena mampu mencairkan suasana. Damar, orang yang disukai Binar dipaparkan sebagai tokoh sampingan yang tidak begitu banyak berpengaruh dalam cerita. Begitu juga dengan Rimba, selain bahwa ia paling akrab dengan Binar sebagai sahabat. Kemudian tokoh Arzoda dan Amorza, keduanya hidup di peradaban Maya, memiliki interaksi psikologis yang cukup kuat. Dapat dikatakan, karakter Tondi dan Amorza-lah yang memiliki bangunan karakter lebih kuat daripada yang lain. Meski sepertinya ini novel pertama yang diterbitkan Arikho, tapi saya menduga si penulis sudah berpengalaman menulis sebelumnya.

***

Secara kesuluruhan, penampilan novel ini sudah lumayan. Hanya saja ada beberapa poin dalam novel ini yang sepertinya perlu disempurnakan lagi.

Untuk cover, sebetulnya konsep bangunan kuil dengan seorang gadis berkupluk merah sudah menggambarkn isi novel, hanya saja kurang sesuai lantaran tokoh utama dalam novel ini justru bukan Binar Saga. Terlebih gambar tokoh wanita di sana agak terlalu besar dan kurang seimbang dengan gambar di belakangnya. Melihat covernya, saya sempat mengira bahwa tokoh utamanya si gadis bertopi merah ini. Selain itu, saya juga menemukan beberapa missing link, pertama, masa lalu Tondi tentang neneknya: mengapa Tondi sebagai penyebab neneknya tidak juga meninggal? Kedua, secara umum, dunia astral tidak dapat diterima begitu saja sehingga oleh logika manusia biasa sehingga mestinya ada bagian khusus untuk menceritakan hal tersebut sehingga dapat diterima tokoh-tokohnya. Atau barangkali ini hanya keterbatasan pengetahuan saya mengenai perihal astral kecuali yang pernah ditampilkan di film Insidious yang pernah saya tonton. Namun, saya pikir proses deskripsi astral perlu disempurnakan lagi. Ketiga, ada ketidaksamaan konsep. Di dalam novel ini saya menangkap inkonsistensi, seperti mengapa roh Tondi dan Binar dapat terlihat di masa lalu, sedangkan Amorza tidak terlihat di dimensi sekarang? Malah prolog dalam cerita tersebut menempatkannya seperti makhluk asral sementara di masa bangsa Maya, Amorza belum meninggal.

Beberapa point dari novel ini juga terkesan datar dan agak berbelit. Tadinya saya kira bakal menemukan adegan duel bebas ala film “Gladiator” ketika masuk pada inti konflik, hehe. Tapi tak mengapa, dalam hal menulis fiksi, penulis bebas berimajinasi.

Bagaimana pun, pesan tersembunyi yang sengaja dipaparkan penulis cukup tersampaikan, apakah cinta memang dapat menembus ruang dan waktu?

 

“Cinta mungkin tidak akan pernah mati, namun cinta bisa saja berubah, Tondi. Melihatnya orang yang kau cintai bahagia jauh lebih penting daripada kau harus mengekangnya dalam cinta yang mungkin tak lagi sama untuk kalian berdua.” (halaman  294)

 

Nah, untuk pembaca muda dan remaja yang kelak menemukan buku ini, selamat membaca dan selamat menelusuri dimensi Maya.

 

Kei: Ada Cinta di Tengah Perang

novel Kei

Judul     : Kei
Penulis  : Erni Aladjai
Penerbit: GagasMedia
Terbit    : 2013
Tebal    : 250 halaman
ISBN      : 9789797806491

 

 

 

 

 

 

Inilah menara dari mana aku menyaksikan,
antara cahaya dan air yang membisu,
waktu dengan pedangnya,
dan aku mengalir ke dalam hidup
-Pablo Neruda-

 

Konflik di Kepulauan Maluku semenjak tahun 1999 hingga 2001, telah memakan ribuan jiwa. Begitu banyak orang kehilangan keluarga, kekasih, harta benda, harapan, dan juga kebahagiaan. Namun, seperti yang tertulis dalam pengantar novel tersebut, di antara pulau-pulau yang lain, Kei-lah salah satu pulau yang terlambat terkena dampak konflik tetapi paling cepat menyembuhkan dirinya. Novel ini pun diberi judul “Kei”.

Namun, ada yang menakjubkan di sini. Selain tradisi persaudaraan yang tak pernah kita kenali, ada juga pelajaran hidup dan cinta yang tumbuh di antara peperangan itu tatakala membaca novel ini. Perang seperti mengingatkan saya pada salah sebait puisi Subagio Sastrowardoyo:

Mulut dan bumi berdiam diri. Satunya suara
hanya teriak nyawa yang lepas dari tubuh luka,
atau jerit hati mendendam mau membalas kematian…

Erni, penulis novel ini, menempatkan tokoh Namira Evav dan Sala sebagai tokoh sentral. Sala kehilangan ibu–keluarga satu-satunya karena penyerangan antaretnis dan agama. Namira kehilanagn kedua orang tuanya pun karena konflik yang sama. Sala yang protestan dan Namira yang muslim, jatuh cinta di pengungsian, di dalam suasana rusuh itu. Dalam kesedihan, mereka mencoba tegar demi menjadi relawan untuk sesama. Kebersamaan dalam kesamaan nasib tidak dapat mencegah keduanya saling menyayangi dan mencintai. Bahkan kelak ingin bersama. Sementara konflik berlangsung, banyak orang islam, katholik, dan protestan berlindung di gereja, saling melindungi dan berusaha untuk tidak terpengaruh pada konflik antarras dan agama. Dalam suasana demikian kesedihan digambarkan sebagai nasib yang tidak mengenal perbedaan ras maupun keyakinan.

Erni Aladjai agaknya memiliki keahlian menyajikan sebuah cerita dalam perpaduan sejarah, cinta dan persahabatan, juga kemanusiaan yang membawa pembacanya seperti mengalami dan ikut merasakan suasana perang dengan cukup mendalam. Disusun dengan riset yang tentunya menguatkan fakta di balik cerita, novel ini tidak saja tentang kisah korban peperangan, tapi juga sejarah bangsa Indonesia. Peperangan seolah memang selalu merupakan kisah tentang kepedihan dan harapan, juga bangsa yang seperti tengah diombang-ambingkan. Namun, bila saja novel ini tidak bertema peperangan, beberapa bagian yang cukup kocak ditemukan di sana dan membuat saya tersenyum.

Soal tradisi Kei, ada tiga point yang saya temukan di sana. Kei memiliki tradisi yang bagi saya begitu luhur, seperti mutiara di dasar lautan yang tak sempat terambil.

Pertama, mereka sangat menjaga alam sebab pada alamlah manusia bergantung, tentunya melalui cerita tentang ritual-ritual unik yang dapat engkau baca di sana. Kedua, bahwa Kei yang plural memiliki perjanjian keramat yang dilakukan para nenek moyang terdahulu, bahwa semua orang Kei adalah bersaudara, untuk kemudian dipatuhi setiap orang dan semua generasi sepanjang usia.

Kita adalah telur-telur yang berasal dari ikan yang sama dan seekor burung yang sama pula. demikian bunyi pepatah adat Pulau Kei.

Ketiga, para prianya menempatkan kaum perempuan dengan begitu mulia, mereka dilindungi selayak permata. Perempuan bahkan memiliki peran besar dalam mendamaikan dua daerah yang berperang. Kebudayaan semacam itulah yang turut mengambil bagian penting dalam sejarah perdamaian.

Melindungi kaum perempuan adalah panggilan yang mengurat biru di nadi-nadi lelaki Kei. Itu adalah ajaran para leluhur...” (hlm 60)

Keempat, adalah, menurut yang pernah saya cari tentang etnis di Indonesia, hampir tak ditemukan ajaran tua mengenai tradisi untuk membantai sesama manusia, terlebih yang sebangsa. Dalam Kei, tidak ada Protestan, Katholik, maupun Islam. Tidak ada pengkotak-kotakan dalam pluralisme. Maka Erni menjelaskan secara selintas dalam novelnya, bahwa konflik memang datang dari orang-orang yang bukan Kei. Pendatang yang disebut dengan istilah ‘orang asing’yang membawa tujuan memecah belah bangsa Indonesia’. Untuk itulah, keadaan selalu mengajak kita berpikir.

Novel ini ditulis dalam sudut pandang orang ketiga yang serba tahu. Setting dalam ceritanya cukup tergambarkan dengan baik, dan karakter tokohnya berdiri sendiri dengan kuat. Cerinya pun mengalir dalam alur maju, kadang mundur di beberapa poin ketika Namira dan Maya mengenang masa dulu, dan juga menyimpan kejutan-kejutan, hal-hal yang tak pernah disangka, ironi, dan tragedi, yang membuat perasaan jadi miris.

Membaca kisah dramatis dalam novel ini sekaligus membuat saya bertanya-tanya. Apakah cinta memang harus bersama? Apakah orang-orang yang terpisah karena konflik ini dapat bertemu kembali? Apakah luka akan tersembuhkan?

Novel ini layak menjadi referensi pengetahuan kita tentang local wisdom dan sejarah konflik daerah di Indonesia. Menurut saya, pantas bila novel Kei menjadi pemenang unggulan Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta tahun 2012 lalu.

 

 

Efek Feromon dalam Imaji Dua Sisi

novel Imaji Dua Sisi

Judul : Imaji Dua Sisi
Penulis : Sayfullan
Penerbit : de TEENS
ISBN : 978-602-7968-86-8
Editor : Itanov
Desain kaver : Ann_Retiree
Layouter : Fitri Raharjo
Tahun Terbit : 2014
Tebal : 333 halaman

Sering kali perasaan cinta disebut chemistery, maka ia tak terjelaskan kapan, mengapa, dan bagaimana, serta seperti apa bentuknya.

Tadinya saya kira novel ini seperti novel remaja biasa dengan cerita cinta yang itu-itu saja. Dibuka dengan kisah masa lalu Bumi sebagai salah satu tokoh, kemudian cerita tentang moment ospek kampus menjadi pembuka novel Imaji 2 Sisi ini. Tapi setelah lanjut membaca, ternyata dugaan saya meleset. Membaca bab demi bab, saya sadar bahwa novel ini memiliki pengaruh yang cukup ‘menohok’ perasaan saya :D, ditambah lagi dengan analogi teori kimia yang dipadukan dengan istilah cinta yang selama ini dikenal merujuk pada sesuatu yang tak berwujud.

Nggak ada ilmu pengetahuan apa pun yang bisa merumuskan cinta, Bum. Kalaupun ada, gue pasti juga bakal meraciknya. (halaman 158)

Demikian yang dikatakan Lintang tatkala Bumi menyampaikan teorinya. Bumi, dalam novel ini, meyakini feromon–salah satu hormon yang memiliki kontribusi besar dalam proses jatuh cinta, mempunyai pengaruh begitu besar dalam mendapatkan pasangan yang diincarnya.

Menyimak teori Bumi tentang bau tubuh manusia yang diekstrak, membuat saya ingat novel karya Patrick Süskind yang berjudul Perfume the Story of a Murderer, di mana tokoh utamanya yang jenius aroma, membuat parfum dari ekstrak manusia. Hanya saja novel tersebut membuat pembacanya seperti melihat konsep keindahan berpadu dengan kisah seram pembunuhan.

Lintang, Bara, dan Bumi dalam novel ini, adalah tiga orang yang bertemu di kampus jurusan Kimia di salah satu universitas negeri di Semarang. Sama-sama mendapat tugas aneh dalam ospek, mereka pun saling dekat dan terlibat, dan akhirnya terjebak dalam kondisi yang cukup membingungkan.

Lintang yang asal Jakarta pindah ke Semarang untuk lari dari masalahnya, yaitu menghindari Rakai, mantannya yang akan menikah. Dalam kerja keras melupakan itulah, ia bertemu dengan kehidupan baru di kampus dan dua orang yang mengisi harinya dengan persahabatan: Bara yang ekstrovert, berpenampilan keren, dan lucu, juga Bumi yang introvert dan culun namun genius, yang malah akhirnya sama-sama mencintai Lintang diam-diam. Ada pula Repi, mahasiswi rempong salah satu sahabat yang se-kost dengan Lintang yang berantusias ingin menjadi pacar Bara. Namun dalam novel ini, Repi tidak begitu sering diekspose. Menyimak pertemanan mereka yang kadang kocak itu, membuat kita lebur antara apa itu cinta, apa itu persahabatan. Keduanya menjadi hubungan aneh, persahabatan ganjil yang tapi berjalan harmonis dari waktu ke waktu yang berawal dari perasaan tertindas yang sama di masa ospek.

Yeah, kekaburan antara persahabatan dan cinta memang sering kali dialami oleh para gadis.

Lintang semula dikenal sebagai pribadi yang jutek dan anti lelaki. Namun Bara melihatnya sebagai kamuflase yang menutupi kepribadian yang sesungguhnya. Lintang sering kali ketus terhadap Bara. Namun ia juga penasaran apakah sikap itu karena Lintang memang membencinya atau sebaliknya. Sedangkan terhadap Bumi, Lintang malah sangat ramah. Bara bingung dan geram, tapi nyatanya ia sadar diri tatkala ia tahu kondisinya tak memungkinkan untuk bersama Lintang, ia pun pasrah.

Bumi diliputi cemburu ketika Bara dekat dengan Lintang, sebaliknya, Bara pun tak begitu suka melihat Lintang akrab dengan Bumi.
Bumi adalah sosok serius dan mencintai kimia. Ia bahkan sempat menceritakan impian dan teorinya mengenai feromon kepada Lintang. Bumi percaya bahwa bahwa ada semacam metode kimia yang dapat menyerap aroma alami manusia, zat yang dipercaya sebagai biang keladi cinta. Aroma yang diambil dari seseorang tersebut dapat menimbulkan perasaan cinta. Tentu Lintang yang realistis tidak menerima pemikiran itu. Sebab selain sadis, akan terdengar palsu bila feromon direkayasa sedemikian rupa demi mendapatkan cinta yang diinginkan. Bahkan perasaan ketertarikan yang dimaksud akan hilang ketika feromon telah habis. Namun menyerap feromon Bara demi mendapatkan Lintang merupakan bagian dari rencana besar Bumi.

Konflik pun meruncing. Bumi mencari cara dan keberanian untuk menyatakan maksud hatinya kepada Lintang. Demi memilikinya, segala cara dilakukan. Dengan rencana gila sekali pun. Namun dalam hati kecilnya, Bumi menyadari bahwa karakter yang secara iseng disampaikan Lintang sebenarnya ada pada Bara.
Anehnya, Bara yang sebenarnya juga mencintai Lintang malah memilih untuk membantu Bumi dan terpaksa meladeni Repi sebagai pelarian. Belum lagi perasaan Bumi tersampaikan, Bara malah mendapat permohonan dari Lintang untuk berpura-pura jadi pacarnya dan menemaninya pulang ke Jakarta karena pernikahan sang mantan dengan kakak kandungnya sendiri akan berlangsung. Lintang tidak mau seluruh keluarganya tahu bahwa Rakai adalah mantannya sebelum kecelakaan yang menimpa sang kakak terjadi. Namun sialnya usahanya gagal dan kekacauan pun terjadi.

…Setiap orang di sini pernah merasakan patah hati, kan? Tapi, bukankah itu tak lantas membuat seseorang harus berhenti berjalan? (halaman 252)

Sementara, melihat mereka berdua pergi bersama, Bumi menganggap itu sebagai pengkhianatan Bara terhadapnya. Bukan Bumi tidak tahu perasaan Bara terhadap Lintang, tapi bahwa perasaan dikhianati dan keyakinan bahwa Lintang lebih mencintai Bara, membuat impiannya mengekstrak feromon Bara ingin segera terealisasikan.

Lintang terkejut tatkala tiga orang terdekatnya malah menghilang satu-satu sepulang ia dari Jakarta. Repi pindah kost tanpa pamit, Bumi dikabarkan pindah kampus, dan pada saat yang sama Bara menghilang secara misterius. Dalam prasangka yang berkecamuk, Lintang mendatangi rumah nenek Bumi. Ia menerima surat berisi pernyataan hati Bumi selama ini terhadapnya, yang belum sempat disampaikan Bara kepada Lintang. Juga skema ekstrak feromon yang tertera di papan laboratorium pribadi Bumi yang terdapat nama Bara sebagai sasarannya. Bimbang dan kalap, Lintang mencari Bumi, ia berusaha menghentikan rencana gila Bumi. Hingga ia menemukan Bumi di Bandung, Bumi mengaku bahwa ia pun tak tahu keberadaan Bara meski Lintang masih curiga. Lalu tatkala hubungan Lintang dan Bumi berjalan setahun, petunjuk mengenai keberadaan Bara pun datang dengan cara tak terduga. Petunjuk yang barangkali membawa mereka pada jawaban. Arah perasaan Lintang, keberadaan Bara, rahasia di antara mereka, dan juga kisah akhir eksperimen mengerikan milik Bumi.

Lin, mana mungkin kita bisa melalui satu tahun lebih bersama tanpa ada cinta? Mana logis ikatan kita ini hanya karena hanya feromon yang sampai sekarang pun masih tersimpan di lemari pendingin laborat! (halaman 325)

Novel yang disajikan dalam 3 sudut pandang tokoh ini menarik untuk diikuti. Dengan alur yang runut juga penokohan yang cukup kuat membuat novel ini mudah dipahami. Tampaknya Sayfullan memiliki keahlian mengkomposisikan gaya bahasa yang ringan dan sering kali kocak. Novel ini juga menyimpan kejutan-kejutan. Bisa dikatakan, kedua hal itu, kekocakan dan nuansa romantis bisa berganti-ganti dapat tersaji dengan komposisi yang pas. Novel Imaji 2 Sisi ini cukup keren dan recommended untuk dibaca.

Di novel ini, sesuai dengan temanya, cinta dan kehidupan seperti diibaratkan dengan rumus-rumus kimia. Saya hanya belum mengerti mengapa novel ini diberi judul Imaji 2 Sisi, hehe. Beberapa kesalahan ejaan dan diksi memang masih ditemukan namun tidak terlalu mempengaruhi daya tarik ceritanya. Di samping itu, saya juga merasa ending-nya agar terlalu buru-buru. Ada sempat merasakan keganjilan cerita ketika sampai pada bab pernikahan Langit, kakak Lintang. Tapi untunglah bagian yang agak bikin deg-degan itu selesai dengan indah.

Anyway, novel ini keren sekali dan saya ingin memberinya 4 bintang. ^^

Bahagia Pun Butuh Alasan: You’re Not Funny Enough

Judul: You’re Not Funny Enough (Novel)
Penulis: Jacob Julian
Penerbit: PING!!! (Juni, 2014)
Halaman: 280 halaman
ISBN: 9786022556176

Apa yang membuatmu ingin bahagia? Siapa yang akan kau bahagiakan? Kenapa kau ingin bahagia? (halaman164)

Kapabilitas seorang comic atau komedian ditentukan apakah show-nya berhasil. Apa yang terjadi bila seorang comic sudah tak lagi berhasil membuat audience-nya tertawa? Dan mengapa demikian?

Jamie adalah seorang comic yang sedaang meniti kariernya dari bawah. Semula, ia menemukan sisi gelap dan menariknya stand up comedy sebab berhubungan erat dengan seni menggembirakan banyak orang dengan komedi yang dibawakan. Seorang comedian selalu butuh memperbarui ide, kemampuan tampil, dan waktu untuk mempersiapkan materi demi membuat penontonya terhibur.

Dalam kesuntukannya kuliah, ia menemukan hiburan yang menarik pada stand up comedy. Kemudian ia bercita-cita menjadi comic terkenal. Demi menekuni karier impiannya ini, ia bahkan sempat berhenti kuliah.Ia lalu bekerja di kafe Beni, seorang sahabat yang bahkan mau memberikan pekerjaan lengkap dengan fasilitas selama ia mau tampil rutin di kafenya. Namun rupanya nasib baik belum berpihak padanya. Sejak putus dari Sonya, Jamie mengalami kemunduran. Tak seorang pun datang untuk menonton pertunjukan tunggalnya di kafe sebab penontonnya tak merasa Jamie selucu yang dulu. Kegagalannya tampil dalam show tunggal membuatnya terdorong untuk berhenti bekerja dengan Beni, bahkan ingin melupakan dunianya dan berganti profesi. Segala daya upaya sudah dilakukan. Ia merasa bahwa dunia comic tak lagi memberikan keuntungan dalam hidupnya. Ia juga menyadari bahwa kesedihannya membuatnya tak memiliki semangat untuk menggali lagi kemampuannya. Alasan-alasan itulah yang menyebabkan ia memutuskan untuk tetap berhenti. Jamie kehilangan kepercayaan diri dan merasa bahwa menjadi comic bukan lagi jalannya. Ia pun memutuskan move on ke Kalimantan.

Dalam perjalanannya ke Kalimantan, ia bertemu dengan sepasang backpaker, Fey dan Luka. Mereka mendesaknya untuk menampilkan stand up comedy di lounge kapal sebagai hadiah pertunangan. Demi pertemanan, ia pun melakukannya. Pada saat itulah, ia justru mendapat respons yang lumayan bagus dari penonton. Apalagi Fey yang pada akhinya malah menjadi fansnya dan berharap ia dapat menontonnya kembali. Namun kehadiran Fey dan tunangannya belum cukup membuat kepercayaan dirinya kembali. Tawaran kapten untuk tampil rutin di kapalnya pun ia tolak. Namun, ia merasa ada sepercik semangat dalam hidupnya tatkala Fey yang ceria dan manis itu memposisikannya idola. Bahkan terang-terangan di depan Luka, tunangannya. Sayang, itu tak cukup membuatnya bangkit ketika menyadari Fey sudah ada yang punya.

Turun dari kapal, Jimie menemukan kehidupan yang berbeda dan menuntutnya untuk mulai dari nol. Namun hidup rupanya menyimpan kejutan lain. Menjadi tukang bersih-bersih mal membuatnya bertemu dengan Pak Gaiman–orang lokal yang menetap tinggal di atas tanah leluhurnya yang kini menjadi bangunan mal. Rupanya Pak Gaiman adalah seorang pesulap. Perkenalan dengan Pak Gaiman mengantar Jamie pada kesadaran bahwa menjadi komedian memang profesi sejatinya. Dari seorang Gaiman yang keras dan banyak pengalaman, Jamie banyak mendapat petuah berharga darinya.

Di tengah menjalani profesi barunya sebagai tukang bersih-bersih, tak disangka ia bertemu dengan Fey yang rupanya telah putus dari Luka. Dari pertemuan itu, ia tahu bahwa Fey ternyata memedulikannya. Ia juga berharap Jamie dapat menjadi comedian kembali seperti yang ia kenal dulu, dan di samping itu, Fey juga mengutarakan isi hatinya pada Jamie yang saat itu malah tidak ngeh dengan maksudnya. Fey lantas menghilang lagi dengan meninggalkan tanda tanya bagi Jamie.

Pada suatu hari Jimie ditawari Gaiman dan rekannya untuk mengisi pembukaaan sirkus. Dalam kebimbangannya, Jamie tahu ia hanya butuh kerja keras dan konsisten di jalan yang pernah ditempuh yang bahkan pernah harus berkorban demi berada di jalan itu. Tapi rupanya perasaan pada Fey yang ceria dan manis juga mampu mengembalikan semangatnya. Jamie mau menjalani profesi sebagai pembuka sirkus Gaiman dan kawan-kawan dengan stand up comedy. Kerja kerasnya membuahkan hasil. Secara berkala ia mulai mendapat banyak perhatian dan penggemar. Pada akhirnya ia bahkan mendapatkanan kesempatan tur stand up comedy ke beberapa kota dari sponsor. Hal itu membuat Jamie bersemangat. Tentu saja ia siap menjadi populer dan muncul di televisi hanya demi menemukan Fey kembali. Ia sadar rupanya Fey adalah salah satu alasan terkuat yang membuat ia bangkit kembali ke dunia stand up comedy.

Novel karya Jacob Julian ini memiliki ending yang manis di mana tokoh Jamie kembali sukses menjadi comic atas kerja kerasnya dan sadar bahwa ia butuh Fey, seseorang yang akan selalu mendukung kariernya dan tak akan meninggalkannya. Kehadiran seorang kekasih yang setia tentu membuat Jamie bahagia. Menunjukkan pada kita bahwa kebahagiaan pun juga butuh alasan. Terlebih seorang comic juga butuh berbahagia untuk bisa membuat orang lain tertawa dan bahagia.

Alur dalam novel Julian ini cukup menarik dan mampu menggambarkan kehidupan comedian dari sisi yang lain secara lebih dekat. Pembaca seperti diajak untuk memahami dunia comedian dari latar belakang dan sepak terjangnya. Hanya saja masih ditemukan beberapa kalimat rancu seperti yang ada dalam halaman 107: “Karena suatu saat. orang berpacaran juga bisa berakhir dengan kata-kata… “, halaman 238: “kau sudah pacar?”, dan juga beberapa di halaman lainnya. Untuk itulah, baik penulis maupun editor perlu mencermati lebih teliti karena kesalahan-kesalahan kecil yang bersifat gramatikal juga bisa berpengaruh pada feel pembaca. Kemudian perlu juga bagi penulis untuk riset logat/aksen bahasa, sebab Pak Gaiman yang penduduk suku daerah tentu berbeda gaya bahasa dengan Jamian dan Beni misalnya.

Namun demikian, lepas dari hal-hal itu, novel You’re Not Funny Enough cukup menarik sehingga dapat dijadikan bacaan ringan di kala suntuk. Saya yang sudah lama tak membaca novel teenlit pun menikmati novel ini dan menemukan banyak hal yang membuat saya akhirnya tersenyum di bagian akhir kisahnya. Bila saya harus menggunakan bintang untuk menilai novel ini, baiklah saya akan kasih 3 bintang 🙂