sengaja ataupun tidak….

 

aanmansyur.tumblr.com

aanmansyur.tumblr.com

 

catet: apalagi manusia….

Yeah, saya selalu sependapat dengan nilai-nilai semacam ini. 🙂

aanmansyur.tumblr.com

aanmansyur.tumblr.com

 

Mudah-mudahan saja kelak bertemu pasangan yang memandang pernikahan bukan tempat untuk berfoya-foya, sedangan yang lain terseok-seok karena harus berkorban.

Kekasih Kirana

Orang-orang ini begitu teganya ingin memisahkan gadis itu dengan kekasihnya. Sebelumnya semua orang tahu, gadis bernama Kirana ini mencintai kekasihnya melebihi dirinya sendiri. Semua orang tahu sejak 5 tahun yang lalu, ia telah memutuskan akan tetap bersama kekasihnya, Menikah ataupun tidak. Meskipun tentu, kebersamaan lama tanpa pernikahan itu mengusik hampir semua orang. Tepatnya nilai-nilai yang berlaku di masyarakat secara umum.

Kirana pun akhirnya memutuskan akan menikahi kekasihnya. Tapi mengapa orang-orang ini malah terkejut dan tidak suka ketika Kirana memutuskan untuk menikah dengan kekasihnya itu? Bukankah mestinya itu kabar gembira?
Mendadak gadis itu tak suka teman-temannya berkomentar yang seolah ia mengambil jalan yang salah dan keji, ia juga pusing setiap kali Tana, kakak satu-satunya mencoba mencomblanginya dengan teman-temannya yang belum menikah… Hapir semua orang ingin memisahkan mereka berdua. Lantaran apa?

Bukankah yang Kirana lakukan sama dengan yang dilakukan banyak orang? Mencintai dan ingin bersama. Apakah ia salah?

“Please, Kiran, bisakah kamu membuka mata lebar-lebar?”
“Aku bahkan sudah buka hatiku lebar-lebar. Tapi aku tak dapat mencintai yang lainnya, selain dia.”
Lalu bebannya bertambah, tatkala si ibu pun seolah ingin menghentikan niatnya.
“Nduk, bangunlah dari mimpimu. Dia nggak pantas buat kamu. Nggak pantas sama sekali.”
“Kenapa Bu? Karena Kiran sudah mapan? Karena dia tak bisa memberi Kiran nafkah?”
“Bukan begitu maksud Ibu, Kiran…”
“Kirana lebih mengenalnya Bu. Kiran nggak bisa jauh-jauh dari dia.” Gadis itu menatap ibunya dengan ekspresi memohon.
“Kenapa Kiran? Kamu bisa menikah dengan yang lebih baik. Yang lebih dapat menjagamu.”
“Ibu, Kiran sudah berkali-kali jatuh cinta dan patah. Kirana selalu menemukan pria-pria yang tidak benar-benar mencintai, mereka selalu menyakiti seolah Kiran selalu pantas disakiti dan ditinggalkan. Kiran bosan, Bu. Perasan Kiran sudah mati untuk pria-pria macam mereka.”
Kali ini ibunya terdiam, ia tak tahu lagi harus bagaimana.
“Selain itu, Kiran tak mau mengalami hal yang sama seperti yang dialami Ibu waktu dulu, ditinggalkan Ayah demi wanita lain. Meskipun pada akhirnya kita berdua menerima.”
“Iya, Ibu paham sulit bagi kamu menerima keputusan ayahmu. Tapi Kiran, Ibu tetap mau kamu pikirkan baik-baik keputusanmu.”
“Kiran tahu apa yang terbaik bagi Kiran. Aku mencintanya, Bu. Kiran menemukan hal benar di sana. Dan Kiran tahu dia juga mencintaiku. Dia takkan berkhanat dan meninggalkan Kiran. Kiran sudah memutuskan untuk menikah dengannya, bila memang harus menikah untuk membuat status Kiran sempurna sebagai wanita.”

Dan itulah pembicaraan terakhir mereka, sebelum Tana, dan beberapa orang yang kalap ini mengendap-endap membawa parang, pisau, bahkan bensin dan korek api, di pagi buta itu.
“Mau Ke mana kalian dengan benda-benda itu?” Kiran yang kebetulan sudah bangun menemukan keributan kecil di halaman.
“Membunuh pacarmu.” Tana berkata lantang.
“Hentikan itu Kak, kumohon. Membunuhnya, sama saja dengan Kakak membunuhku!” gadis itu berteriak, sembari berlari menghadang di pintu gerbang. “Apa salah dia, Kak?”
“Salahnya adalah… membuat kamu gila. Aku yakin kamu sudah kerasukan.” Tana tak mau kalah, ia sudah nyaris mendorong Kirana supaya menyingkir.
“Kalian yang kerasukan!” Ibu datang menghentikan keributan. Tana dan teman-temannya ini mendadak terdiam. Bila Ibu sudah demikian, maka tak seorang pun berani berkutik.
“Hentikan sekarang juga. Kalian, kembali ke urusan kalian masing-masing. Kamu, Tana pulang dan urus saja istri dan anak-anakmu.”
“Tapi, Bu…” Sekalipun Tana masih tak terima dengan keputusan adik semata wayangnya, ia pun terpaksa mengalah. Mereka semua pun berjalan menjauhi halaman. Berangsur rumah kembali sepi, sementara Kirana sudah didekap sang ibu, berjuang menghentikan tangisnya sendiri.

“Ya sudah, Nak. Ibu mengizinkanmu menikah dengannya, asal kamu bahagia. Ibu hanya berharap hidup kamu bahagia, disertasimu sukses, pekerjaanmu lancar, organisasi kemanusiaanmu di Kongo tak tersendat gara-gara pusing soal pernikahan.”
“Ibu benar-benar merestui kami?”

Melihat ibunya mengangguk mantap, gadis berusia 30 tahun itu melompat-lompat seperti remaja.
“Tak ada yang akan memisahkan kita lagi,” bisik Kirana dalam senyum bahagia sambil mendekap kekasihnya.

Matahari seperti bersinar lebih cantik hari itu. Kirana memeluk kekasihnya dengan begitu bahagia, ibunya di belakangnya tersenyum terharu. Tak ada pemandangan yang lebih aneh hari itu, kecuali seorang perempuan yang mendekap sebatang pohon asem, benda yang paling dekat dengannya sejak kecil, dan seorang ibu yang berdiri dengan senyum kelegaan.

Terinspirasi dari fenomena unik, Eija-Riitta Berliner-Mauer (54) di Jerman, yang memutuskan menikahi tembok Berlin pada tahun 1979.

*Karya ini ditulis untuk memenuhi tugas Komunitas Penamerah.

Tentang Pertemuan dan Perpisahan

“Aku tidak pernah keberatan menunggu siapa pun berapa lama pun selama aku mencintainya. Menunggu adalah bagian dari pertemuan itu sendiri. Kalau kita ketemu hanya lima menit dan menunggu selama 95 menit maka itu berarti pertemuan berlangsung 100 menit. Perpisahan pun sering tidak berarti apa-apa—seperti tidak pernah ada perpisahan bagi orang yang saling mencintai. Mereka saling memaki ketika bertemu tetapi tetap saling mengenang ketika berpisah. Perpisahan yang sebenarnya akan terjadi ketika tidak pernah ingat lagi kepada seseorang meskipun kita hidup bersamanya. Juga jika seseorang sudah mati, selama kita masih mengingat dan mengenangnya berarti tiada perpisahan sama sekali.”

–Seno Gumira Ajidarma–Cerpen Linguae

Perempuan

Suatu hari di catatan harian.

 

Ada perempuan yang dicintai karena wajah, kulit bersih, kepintaran, kepopuleran, kemudaan, jabatan ayahnya, kebaikan, atau barangkali karena harta. Ada pula yang dipilih karena pelarian. Mereka akhirnya sakit dan terjatuh, karena rupanya alasan-alasan itu tak menjamin kebahagiaan yang berlangsung lama di masa depan. Realitasnya manusia punya lebih banyak sisi keji daripada indah. Dan romantisme memiliki kadalursa. Sedangkan kasih sayang yang sejati tak memilikinya.

Dan aku, mereka, atau barangkali kamu, adalah perempuan, yang secara nurani ingin dicintai tanpa pretensi. Sebab perempuan butuh cinta yang tulus, bukan diterbangkan dengan pujian selayak layang-layang, lalu dibuang ketika koyak.

Perempuanlah yang melahirkan kehidupan, ia butuh berani mati untuk itu…
Tak perlu jadi “murahan” untuk hal yang bakal membuatmu banyak berkorban di masa yang akan datang.

Berterimakasihlah pada agama untuk soal ini. Tuhan toh pemilik keputuasan terbaik.

Belajar dari romantisme Kakek-Nenek dan Ayah-Ibu.
“cinta adalah soal jiwa, bukan hal-hal bersifat kulit”

SIM dan Pelajaran Hidup

Kaget dan merasa melakukan kesalahan besar, ketika sadar satu-satunya kartu paling penting bagi hidupku raib dari dompet. Surat Izin Mengemudi-ku. Sedih karena SIM itulah yang nyaris tidak pernah digunakan dibanding kartu-kartu yang lain. Karena ia tak pernah berfungsi itulah, maka ia disimpan di tempat aman, kemudian tidak lagi diambil (tidak juga ditengok). Sudah hampir 3 tahun ini (alhamdulillah) aku bahkan tak pernah ditilang atau berhubungan dengan polisi. Itu tandanya benda itu tidak pernah keluar ‘rumah’. Juga jarang sekali berada jauh dari sana. Sejak beli dompet baru setahun yang lalu pun, SIM sudah mendapat tempat paling aman dari kesibukan tangan.

Tapi hari ini, aku merasa kecolongan. Entah di mana tepatnya benda itu kini berada, sejak kapan, dan dengan cara bagaimaan ia hilang. Heran dan nyelek bahwa kenyataannya, aku baru sadar sore ini SIM-ku tak berada di sana. Ah, rasanya jadi malas ke mana-mana. Barangkali karena SIM memiliki satu tempat khusus yang aman dan tak pernah dipegang itu, maka ia jadi luput dari perhatian. Sementara selama ini aku begitu percaya ia ada di tempatnya dan baik-baik saja. Oke, aku mengerti ini: hal yang paling aman dan membuat kita merasa tenang-tenang saja, rupanya bisa jadi sesuatu yang paling mungkin hilang…

Maka waspadalah selalu pada hal-hal yang kelihatan aman.

Noted. Itu pelajaran penting.

Oh yeah, sekarang hari Jumat. Dan ini memang bukan hariku T_T

Senja di Matanya

Barangkali bila ia tak berwarna jingga, oranye, dan kemerahan, ia tak akan diberi nama senja. Tapi bila setiap senja, tidak ada sosok kerempeng dan suka duduk menyendiri di taman itu, maka ia bukan lagi senja untukku. Melainkan kegelapan. Sebetulnya aku lebih suka pagi. Tapi kini, sore berarti menemukannya di salah satu sudut taman. Perasaan itu terlalu lucu bila kusebut cinta. Dan aku terlalu belia untuk menyebut itu.

Aku melihat senja di matanya. Di mana aku hanya akan melihat rona itu ketika kami berpapasan sepulang sekolah dengan ia masih memakai seragamnya, yang berbeda dengan seragamku. Mula-mula aku merasa aneh dengan tingkahnya yang menjauhi orang-orang, dia pun aneh dengan mataku yang sering mengekorinya diam-diam dengan penuh tanda tanya.
Tapi kini, kami selalu memiliki hal untuk dibicarakan. Aku merasa diam-diam bahagia.

Sementara taman ramai seperti hari-hari biasanya. Nelayan, pedagang, petani kopra. Juga orang-orang yang sekadar berjalan-jalan. Kami duduk berdua di tempat favoritnya. Ia melihat langit, aku melihat laut.

“Ada yang hilang di ingatanku. Membuatku harus terus ke tempat ini,” jawabnya, ketika aku menanyakan mengapa sering sekali ia di sini. Matanya menerawang masa lalu.
“Aku selalu bisa melihat wajahnya bila sedang menghadap barat menjelang azan Magrib tiba.”
Entah menunggu dalam arti sebenarnya atau menyimpan makna lain. Ah, bukankah bahasa itu sendiri sering diperalat manusia untuk menyampain sesuatu yang maknanya tersembunyi? Itu kata guru bahasaku.
“Siapa?”
“Perempuan bersayap itu.”
Meski tak mampu membaca kehilangannya, perlahan hatiku terperangkap mata itu. Ada marah yang kemudian hadir sesaat. Sepanjang jam, ia hanya menceritakan si perempuan bersayap ini dengan berbinar. Mungkin aku cemburu. Atau merasa takut.

“Aku akan pergi, dan aku menunggu malaikat cantik itu datang dari langit senja dan menjemputku.”
“Perempuan bersayap itu?”
“Ya.”
“Dia bukan malikat!”
“Bagaimana aku bisa membuktikan padamu bahwa ia benar malaikat?” Kami beradu argumen.

Lelaki ini pasti tidak waras, namun mengapa aku masih mencintainya?

“Kenapa kamu ingin pergi?” Pertanyaan itu begitu saja membuat tenggorakku tercekat. Aku tak tahu kenapa aku menanyakan itu. Padahal aku tak suka membicarakan perpisahan. Terlebih hari ini.
“Tidak mungkin dia yang akan menjemputmu pulang. Kau tahu, konon wujud malaikat amat buruk untuk digambarkan.”

Tapi ia hanya terdiam, matanya mendekap senja rekat-rekat.
Seperti ada yang tiba-tiba membentang jauh antara aku dan dia. Ada sesak yang tak dapat kujabarkan. Yang berat dari pertemuan memang hanya pada menghadapi perpisahan. Andai aku bisa menahannya, andai aku bisa mengatakan bahwa hidupnya masih begitu panjang. Andai aku dapat membuatnya melupakan perempuan bersayap itu.

“Apa kamu juga ingin melihat malaikat?” Ia bertanya.
“Aku bahkan tidak ingin membayangkannya,” jawabku, bernada beku.

Dan malam memulangkan mimpi kami. Pagi dan sore seperti tak bersua. Namun, entah bagaimana aku ingin menemuinya di taman yang sama. Sosok yang membuatku ingin mencari warna senja di matanya. Kurasa hanya senja yang dapat membuatku menemuinya.

Tapi ia tak ada di sana. Aku mencari-cari hingga putus asa. Kurasa tak seorang pun juga dapat ditanyai perihal si misterius itu. Ke mana dia?

Air mataku tiba-tiba saja jatuh. Bersama itu, sekelebat bayang seorang perempun bersayap sepasang melayang di angkasa dan menghilang di balik senja. Ia tersenyum kepadaku, atau sebetulnya sedang memandangku sinis. Entahlah. Yang jelas, malam terlanjur menggantikan hari. Takkan bisa aku jelaskan rasa kehilangan ini, sebab terlalu dalam.

 

 

*FF ini ditulis untuk memenuhi tugas mingguan Komunitas Penamerah.

Pasar Tradisional ala Pedesaan

Jangan heran bila berlibur lama di Bantul, Gunung Kidul, atau kabupaten lain di Yogyakarta. Terutama bila kita ingin membeli sesuatu di pasar tradisional. Yeah, nggak mungkin ada semacam minimarket modern di kawasan pedesaan. Seperti halnya desa-desa lain yang masih tergantung peradaban Jawa, pasar tradisional di pedesaan akan berbeda dengan yang di kotamadya atau wilayah kota kabupaten. Mereka masih mengikuti sistem pasaran atau penanggalan ala jawa yang sepekannya terdiri dari 5 hari. Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon.

Seperti halnya di Mangiran, tempat orang tuaku tinggal bila akhir pekan dan merupakan desa kelahiran Ibu. Mangiran berada di Kecamatan Caturhardjo, masih cukup dekat dengan alam dan masyarakat tradisional. Bila libur tiba, pagi hari aku sering mengantar Ibu ke pasar tradisional untuk membeli bahan makanan, namun lokasinya akan berbeda-beda. Mengapa demikian?

Di Mangiran itu sendiri, ada tiga lokasi pasar terdekat yang bisa ditempuh. Pasar Mangiran, Gumulan, dan Surobayan yang letaknya di Desa Sanden. Ketiganya akan ramai sesuai jatah “pasaran” itu sendiri. Pasar Mangiran akan ramai di pasaran Pahing dan Wage. Pasar Gumulan disediakan untuk pasaran Legi, sedangkan Pasar Suroboyan untuk pasaran Kliwon dan Pon. ketiganya yang paling dekat dengan rumah. Artinya bila penanggalan Jawa menunjukkan pasaran Legi, jangan pernah iseng ke Surobayan, sebab kau hanya akan menemukan bangunan tua dengan pilar-pilar yang sepi tanpa tanda-tanda kehidupan.

Bentuk pasar di sana juga sedikit berbeda dengan pasar-pasar tradisional di kota. Bedanya tidak ada konsep kios yang membuat penjualnya menetap dan berjualan di sana sepanjang hidupnya. Mereka hanya akan saling mengerti posisi nyaman masing-masing ketika menggelar bersama dagangannya. Baik pedagang maupun pembeli semuanya nomaden. Dan mereka juga sudah hafal di luar kepala harus ke pasar mana setiap harinya. Fenomena pasar nomaden seperti ini juga kujumpai waktu KKN di Panggang Gunung Kidul tahun 2009 lalu, di mana kami sering kecelik dan harus tanya sana-sini lokasi pasar setiap hari, sampai akhirnya hafal dengan sendirinya.

“Apa nggak capek ya, Bu, pindah-pindah gitu?” tanyaku pada Ibu di perjalanan pulang dari Pasar Surobayan.

“Ya enggak. Udah jadi kebiasaan.”

Aku manggut-manggut. Yeah, kalau emang udah tradisi mau bagaimana lagi.

Aku pikir, barangkali itu bagian dari feng shui ala Jawa, di mana orang akan menentukan waktu dan lokasi-lokasi tertentu untuk kegiatan ekonomi, seperti fenomena pasar ini. Mungkin saja kegiatan pindah lokasi bisa juga membuka peluang rezeki dan energi baru. Atau sebetulnya, karena penanggalan Jawa selain dipengaruhi agama Hindu-Budha, juga dipengaruhi agama Islam, makanya sistem pasar pun mesti hijrah, untuk memperingati (menyiratkan pesan) bahwa Rasul dulu suka hijrah (pindah). Tapi hijrah itu sendiri adalah tradisi Islam.

Pernah aku baca di beberapa situs, bahwa sistem penanggalan Jawa itu aslinya lebih rumit dan lengkap dari yang kita kira. Kerumitan penanggalan juga terjadi pada tradisi-tradisi dan peradaban kuno lainnya, yang konon tidak sembarangan ditentukan. Untuk menentukan masa tanam dan panen pun, masyarakat Jawa juga menggunakan sistem penanggalan berbeda, yaitu pranata mangsa. Belum lagi bila ingin menentukan hari pernikahan atau mendirikan bangunan baru. Segalanya mesti disesuaikan dengan karakter alam. Dan tentu tidak mudah dipahami oleh pemikiran ala modern.

Kembali ke pasar. Menarik memang. Dan yang menarik dari pasar tidak hanya sistemnya, tapi juga segala hal yang murni. Nuansa guyup, keriuhan yang manusiawi, sayur dan buah yang organik, dan terutama makanan tradisionalnya–yang nggak akan mungkin dijumpai di pasar modern.

@googleimage

@googleimage

don’t tell my mother, aku pengin ke Ubud

Ubud, yeah… bulan ini aku kebayang soal Ubud. Padahal bulan kemarin pengin ke Bromo.

Well, aku bingung dengan lokasi impian yang ingin kukunjungi. Omong-omong soal tempat yang ingin kukunjungi, sebetulnya lokasi-lokasi yang bukan Jogja, seluruh permukaan bumi ini, adalah tempat yang ingin kukunjungi seumur hidupku. Pulau terasing, pegunungan, hutan, dasar laut, negara-negara dengan bangunan dari peradaban zaman lampau, kota tua, daerah pedalaman beserta suku–suku budayanya, dan masih banyak lagi. Wajar ya, dari lahir sampai setua ini, aku masih di Jogja. Maka orang semacam aku akan sewajarnya ingin ke tempat yang bukan Jogja. Meskipun hanya sementara. Bukankah manusia normal nggak mungkin pengen backpakeran ke kecamatan sebelah rumahnya?

Membicarakan tempat impian, justru mendorongku untuk curhat panjang lebar.

Dan gilanya, mimpi itu sudah ada sejak SMP, sejak kawan-kawan sebaya penasaran dengan pacaran, aku justu penasaran dengan backpakeran. Ini memang gara-gara bacaan. Dan sejak mereka sibuk mencari jati diri, aku juga mencari pembenaran diri untuk ingin keliling dunia. Dengan segala kelabilannya itu. Haha, sudahlah, itu bagian dari masa lalu suramku. Jadi begini.

Kurasa di dunia ini ada orang yang tak terlalu muluk soal mimpi tapi sempat bepergian ke mana-mana. Ada juga orang yang selalu “bermimpi” sepanjang hidupnya tapi lagi lagi hanya mampu berada di kampung halamannya. Dan aku memang ada di golongan kedua. Tapi tentu, kedua hal itu tetap membawa keberuntungannya sendiri-sendiri. Aku juga bersyukur dengan keadaan ini, meskipun minim pengalaman.

Mentok aku hanya bisa ikut piknik keluarga atau teman, dan itu pun nggak mungkin sampai lebih dari 4 hari. Biasa deh, terbentur kecenderungan altruis. Tututan keluarga, kekhawatiran orang tua, ngantor (yang sebetulnya cuma pekerjaan bersifat alibi), konstruksi sosial masyarakat, tradisi patriakhat yang di negaraku masih dikutuk oleh kaum feminisme, dan lain-lain. Semua itu membuatku harus mikir. Juga omongan orang-orang, sekalipun nggak ada satu pun dari mereka yang ikut membesarkanku. Dan posisi anak pertama membuatku harus punya alasan kuat untuk bisa kabur keluar daerah. Entah itu pekerjaan, atau undangan negara (yang sifatnya mustahil). Dan malahan aku baru diperbolehkan backpakeran ke luar daerah kalau sudah punya suami. Untuk orang sepemimpi aku, kehidupan semacam itu tentu amat menggemaskan. Iya klau suaminya juga hobi travelling. Kalau nggak? Berani ngejamin?

Aku nggak mungkin bisa tiba-tiba menenteng tas ranselku, kemudian ngilang ke negeri antah berantah. Pulang ke rumah pasti aku dipecat jadi anak. Atau setidaknya akan jadi “omongan” orang-orang yang notabene nggak ikut membesarkanku itu.

Yeah, aku masih bingung, seluruh bumi dengan keindahannya adalah lokasi tujuanku. Selalu saja aku menemukan keagungan Allah, melalui lokasi-lokasi yang alami itu. Seperti pulang. Yang hanya mampu kuandalkan nasib untuk bisa betulan kesana. Sisanya keiklhasan bila lagi-lagi tidak terlaksana.

Tapi belakangan, aku memang pengin ke Ubud yang di pulau Bali itu, dalam waktu dekat atau kelak. Pengen tahu seperti apa rasanya jalan-jalan sore hingga malam di sana. Ubud punya pesona yang membuatku ingin datang. Yang menarik dari Ubud mungkin wisata religi dan alamnya. Tapi Ubud atau segala mimpi backpakeran itu belum pernah bersahabat dengan orang-orang yang menyayangiku, ibu terutama. Mana mungkin diizinkan.

Baiklah, bermimpi dulu.

Adalah Puri Agung Ubud Krisnakusuma yang terletak tepat di jantung kota Ubud. Puri itu dulu adalah pusat pemerintahan Kerajaan Ubud serta sebagai pusat kegiatan seni budaya dan adat. Ada juga di wilayah barat Ubud, terdapat Tukad (Kali) Ayung. Di sungai tersebut kita bisa melakukan arung jeram. Lalu ada Museum Rudana konon menyimpan lebih dari 400 buah lukisan dan patung hasil karya para seniman, baik yang berasal dari Bali, Indonesia (luar Bali), maupun para seniman asing. Sedangkan Wanara Wana atau Hutan Kera, (popular dengan nama Monkey Forest) adalah kawasan hutan sakral yang terdapat di kawasan Ubud, tapi entah bagaimana itu, yang jelas, kata sakral itu kedengaran seperti lokasi alami di mana segalanya masih dekat dengan alam. Pastilah menyenangkan.

Jalan-jalan di sana menghabiskan liburan sepertinya menarik.

Dan masih banyak lagi lokasi menarik yang baru bisa kutemukan di internet. Dan apakah minggu depan mimpi ke Ubud itu masih ada atau berubah, cuma Allah yang tahu…

Toh aku sendiri masih labil soal rencana hidup dan selalu curiga dengan begitu banyak hal yang berkait impian. Dibayangi ketakutan semacam: bahwa ini cuma akan jadi angan-angan siang bolong seperti mimpi-mimpi lainnya. Kemungkinan besar, siklus mud juga ikut andil mengubahnya. Namanya juga anak pertama. Ia harus selalu memilih antara keluarga atau mimpi “tersembunyi”-nya.

Saya pengin ke Ubud, sebab diam-diam, saya bosan jadi “burung yang digendutkan di dalam sangkar”.

Ah, sudahlah, jadi nggak karuan…

😐

*ditulis untuk memenuhi tugas mingguan Komunitas Penamerah

@googleimage

@googleimage

es krim pengalih galau

Sebetulnya sulit bagi saya menjelaskan perihal makanan paling unik, apalagi saya sendiri tidak hobi makan. Dulu, memang makaanan apa pun itu sulit untuk dideskripsikan sebagai sesuatu. Entah mana yang unik, biasa, aneh, atau sebetulnya saya yang tidak gaul soal makanan. Sebab karena tidak hobi makan hal-hal baru itulah, saya sering ragu dengan diri saya sendiri. Ketika makan hal baru, saya berpikir, jangan-jangan sebetulnya makanan ini enak, tapi saya cuma ketinggalan trend. Atau saya anggap ini enak, tapi ternyata yang lain bilang itu nggak banget. Misal pada sayur pare. Bagi saya, pare itu enak, tapi tidak bagi banyak orang yang saya temui. Saat itu penilaian saya tentang makanan hanya sehat atau tidak sehat.

Bagi saya makanan hanya sesuatu yang harus dikonsumsi demi melangsungkan kehidupan, oleh karenanya ia mesti dikonsumsi sesuai standar kesehatan. Tapi rupanya, makanan juga bisa memiliki karakter tersendiri. Itulah mengapa tradisi wisata kuliner menjadi cukup populer. Nah, sejak saya menyadari adanya perbedaan reaksi manusia terhadap makanan itulah, saya jadi mulai peduli. (Meskpun jarang juga sih). Apalagi jenis makanan bisa jadi menceritakan suatu sejarah, kenangan, atau peristiwa penting, separti salah satu cerpen Putut EA, berjudul “Sambal Keluarga”, yang rupanya menyimpan kisah tersendiri mengenai sebuah keluarga. Makanan rupanya juga mewakili keragaman budaya dan tradisi di berbagai belahan dunia.

Nah, baiklah, omong-omogn masakan aneh, saya jadi inget makanan aneh yang tahun 2012 lalu berhasil tercicipi. Yeah, karena sebetulnya makanan itu dibeli karena rasa penasaran dan sedikit frustrasi kerena sesuatu yang sedang bikin resah saat itu.

Saat itu, kami (saya dan Pit-pit, sobat keluyuran saya) jalan-jalan ke pasar seni Vredeburg. Seperti biasa, jalan-jalan ala kawan sepergalauan adalah sambil curhat hal pen(t)ing dan berbagi uneg-uneg. Dan kebetulan sekali, di sela kesibukan pekerjaan sehari-hari, kami rupanya mengalami kegaluaan yang sama dan harus di-share. Karena perempuan punya keistimeawaan multitasking, kami bisa jalan-jalan, sambil curhat, sambil foto-foto dengan pose se-edan mungkin, sambil memikirkan bisnis masa depan, sambil ngobrol situasi sosial, dan melihat-lihat stand produk kesenian. Sobat saya ini bahkan bisa sambil FB-an dan SMS-an. Sementara saya masih lebih banyak menjadi penyimak.

Tidak lama, akhirnya kami menemukan satu jenis makanan yang cukup menarik di salah satu stand. Namanya es krim temulawak. Seperti biasa, saya selalu menghargai produk inovasi apa pun itu. Apalagi produk asli Indonesia dan terbuat dari rempah bernama temulawak. Dan konon es krim itu dibuat oleh mahasiswa UGM dalam suatu proyek. Yeah, cukup keratif. Apalagi saya sendiri menempatkan es krim, cokelat, dan kopi sebagai alternatif obat penat. Siapa tahu es krim inovasi ini bisa meredam stres. Penasaran dengan eskrim temulawak bergambar wayang itu, akhirnya kami pun membelinya.

Temulawak itu sendiri adalah jenis tanaman herbal yang mengandung zat yang menyehatkan. Apalagi rasa asli Indonesia tentunya akan familiar di lidah kita. Temulawak adalah rempah yang sarat gizi karena memiliki kandungan kurkumin yang tinggi. Zat kurkumin, seperti yang kita tahu, bermanfaat menjaga kesehatan hati, sebagai anti oksidan, dan dapat menambah nafsu makan.

Namun, begitu dimakan, olala.. Wajah kami berubah seketika. Dari melow karena menanggung beban, tiba-tiba terkejut dengan heran. Kami tercengang dan saling pandang sebelum sama-sama mengomentari dengan berbisik-bisik…
“Apaa menurutmu rasanya?”
“Kayu. Lha menurutmu?”
“Sama.”

Kemudian kami pun nggak bisa nahan geli dan akhirnya ngakak, atau malah sebetulnya tambah pengin nangis. Entahlah. Kami pun berjalan menjauhi stand supaya tidak bikin penjualnya berpikir macam-macam. Rasanya mirip kayu. Yeah, memang sih tentu saja kami belum pernah makan kayu sebelumnya. Tapi aromanya jelas cenderung kayu. Tiba-tiba saya membayangkan sejumlah serbuk kayu mabel dihaluskan sebelum dicampur dengan bahan es krim, dan tentunya itu hanya imaji konyol saya.

“Dibuang aja ya?” Pit-pit, sobat saya itu sepetinya tidak tahan dengan rasanya sejak jilatan pertama.
“Jangan, mubadzir lho,” kata saya. Dan setelah dipikir-pikir, akirnya kami sepakat menghabiskannya apa pun yang terjadi. Jarang-jarang juga kan makan hal unik sambil curhat soal beban hidup yang sedang mendera.

Kami pun mencari tempat aman di salah satu taman yang agak tersembunyi supaya ekspresi katro makan es krimnya tidak vulgar di depan umum. Sekaligus saya pun mencoba mempelajari dan merenungkan apakah lidah saya yang salah atau memang rasa kayu bukan hal yang aneh di dunia perkulineran. Dan kami putuskan sebaiknya es krim ini rasanya lucu dan unik. Bukan nggak enak, sebab dengan begitu kami tetap bisa memberikan apresisasi positif terhadap si pencipta es krim kayu tersebut, eh, maksudnya es krim temulawak. Tapi keanehan itulah yang saat itu sedikit mengalihkan rasa galau berbagai hal waktu itu. Mungkin efek baik temulawak, atau memang rasanya yang membuat mengalihkan perhatian sesaat. Kadang memang makanan aneh, mengalihkan dunia kita sementara.

Ah, jadi kangen sama sobat dolan-dolan saya yang satu itu.

@googleimage

@googleimage

*ditulis untuk memenuhi tugas Komunitas Penamerah bertema makanan terunik yang pernah dimakan.