Resensi Novel: Separuh Kaku

DSCN4037

Judul: Separuh Kaku
Penulis: Setiyo Bardono
Penerbit: Senja
Tahun terbit: 2014
Jumlah Halaman: 248
Genre: Humor
ISBN: 9786027968974

Blurb

Kepindahan orang tua dari Depok ke Cilebut membuat Panji akrab dengan kereta rel listrik (KRL). Melalui tragedi ingus, Panji berkenalan dengan Eka Naomi Keretawati hingga berujung pada peristiwa Salah Wati. Entah mengapa sejak menjadi TRAINer, istilah keren untuk penumpang kereta, Panji dekat dengan gadis-gadis yang namanya berhubungan dengan kereta. Sebelumnya Eka Naomi Keretawati, sekarang Eva Peron. Eva sendiri sering dipakai roker untuk mengistilahkan kereta ekonomi. Eva, ekonomi vanas. Hingga kekecewaan cinta membuat Panji menjalani jalur salah dengan naik di atap kereta.
Ikuti kisah Panji, seorang TRAINer, dalam kesehariannya di ular besi.

Sepanjang pengalaman membaca saya, ide bertema stasiun dan kereta yang saya temukan dari bacaan lebih banyak diambil oleh genre sastra, romance, atau lagu-lagu bernafaskan romantisme dan drama. Namun kali ini Setiyo Bardono memformulasikan stasiun dan kereta dengan genre humor. Saya pun menemukan banyak hal unik di dalamnya.

Panji dalam novel ini digambarkan sebagai pemuda Kampung Cilebut yang mencari jati diri. Ia rela prihatin dengan berdesakan di kereta demi meraih cita-citanya untuk bisa kuliah selepas SMA. Sejak pindah rumah ia tak punya pilihan efektif lain selain naik kereta ke sekolahnya di daerah Depok. Menjadi langganan kereta ekonomi, tentunya ia pun jadi akrab dengan berbagai suasana di KRL. Mulai dari bertemu Naomi (Wati) yang berujung pada salah Wati, hingga tragedi kecelakaan penumpang atap yang menimpa salah satu sahabatnya.

Di samping mengamati, ia juga punya sudut pandang konyol mengenai hal-hal di sekitarnya. Sebagai penumpang rutin, ia bahkan punya ikatan kekeluargaan dengan penumpang lain yang setiap hari ditemuinya di gerbong tiga karena perasaan senasib seberdesakan. Selain itu ia juga menemukan belahan hatinya walaupun tidak berujung baik. Guyon khas yang mengalir natural dan ringan dalam novel ini berhasil membuat saya jadi senyum-senyum sendiri sampai ngakak selama membacanya.

Berbicara tentang genre humur, memang tidak mudah menampilkan komedi karena selain itu berhubungan dengan keterampilan dan pengalaman, juga berkaitan dengan selera audience. Tapi menurut saya, justru karena berangkat dari masyarakat menengah ke bawah, membuat buku ini dekat dengan kehidupan sehari-hari sehingga terasa akrab. Selama ini saya jarang menemukan buku bergenre humor yang betulan bikin tertawa. Mungkin karena saya punya selera humor yang gampang-gampang sulit, hehe.

Kelebihan novel ini juga terletak pada kritik sosial. Penulis seperti mengajak pembaca untuk melihat lebih dekat kondisi kereta ekonomi dan melihat masyarakat dari segi transportasi umum dari sudut pandang remaja bernama Panji dan berbagai peristiwa kocak yang dialaminya. Menyorot masyarakat KRL gerbong ekonomi itulah yang membuat novelnya terasa membumi dan akrab. Panji berbicara dari banyak hal, mulai dari kondisi KRL yang selalu berdesakan, tips naik kereta, hingga informasi jajananan khas sekitar stasiun seperti lontong dan gorengan yang dipotong menggunakan gunting hingga tahu sumedang.

Di samping menghadirkan hiburan, novel ini juga mengajak kita sedikit banyak merenungi perihal seputar fasilitas umum yang dekat dengan kita sehari-hari, terutama yang berhubungan dengan KRL Ekonomi. Novel ini juga diselingi puisi-puisi ringan dan lirik lagu gubahan ala Panji yang kadang konyol yang sepertinya merupakan keahlian penulis. Dilihat dari diksinya, penulis konsisten mengangkat tema KRL dan stasiun. Bahkan termasuk nama tokoh-tokohnya. Setiyo B. juga menyelipkan ramalan bintang edisi KRL Ekonomi yang bikin ‘mules’ saat membacanya. Misalnya seperti ramalan zodiac Panji berikut ini.

halaman 172

halaman 172

Dalam segi teknis, cover menggunakan gambar yang lucu dengan jenis font yang nyaman dibaca dan tidak mengikuti buku-buku yang lainnya. Seperti memang ditujukan untuk bacaan super santai.
Membaca profil penulsi di halaman belakang, Setiyo B rupanya pernah menerbitkan buku dengan tema serupa yaitu, Mimpi Kereta di Pucuk Cemara dan Aku Mencintaimu dengan Sepenuh Kereta. Sudah dapat ditebak si penulis jelas melahirkan ide-ide kreatif ini dari pengalamannya ber-KRL ria 🙂

Ada beberapa salah ejaan dan typo yang tidak terlalu berpengaruh dan dapat disempurnakan lagi di cetakan berikutnya.
Overall, membuat saya beruntung menemukan buku ini. Berharap dapat membaca buku Setiyo B. selanjutnya. Novel “Separuh Kaku” ini rocommended untuk dibaca sebagai hiburan di kala senggang.:)

Iklan

Resensi Novel: Hujanlah Lain Hari

Sumber: goodreads.com

Sumber: goodreads.com

Judul: Hujanlah Lain Hari
Penulis: Lindaisy
Penerbit: Diva Press
Tahun Terbit: November 2014
Genre: Fanfiction
Jumlah halaman: 356

Cerita diawali oleh masa kecil Shim Jangwoo yang cukup keras. Meski ia dari keluarga yang tidak mampu, namun menjujung tinggi kejujuran. Jangwoo kecil tak melupakan segala peristiwa yang ia alami. Termasuk juga seorang gadis kecil, anak sahabat ayahnya, yang mengikutinya di tengah hujan kala itu. Namun peristiwa nahas terjadi dan menewaskan kedua orang tuanya. Sejak itu, Jangwoo membenci hujan.

Lalu bertahun kemudian, Jangwoo pun tumbuh dewasa. Ia bertemu Geum Janhwa di sebuah kedai ramyun. Geum Janhwa adalah si pemilik Kedai yang tekun namun sedikit dingin dan tertutup. Ketertarikannya terhadap Janhwa dan kondisi keuangannya yang nyaris ambruk membuatnya mau melamar pekerjaan sebagai tukang masak di kadainya. Ia bahkan rela meninggalkan profesi musiknya, memotong rambut gondrongnya, dan belajar membuat ramyun terbaik. Janhwa dan Jangwoo pun menjadi rekan kerja yang cocok.

Hubungan mereka pun berkembang. Jangwoo semakin masuk dalam kehidupan Janhwa. Sedikit demi sedikit ia pun mulai mengenali gadis itu. Ia anak yatim piatu dan hanya memiliki seorang adik yang dirawat di rumah sakit karena hepatitis B. Menjadi koki dan menjalankan kedai bukan impian sejatinya, namun kedua orang tua dan kondisi membuatnya demikian. Di samping kuliah, Janhwa bekerja keras menjalankan kedai. Jangwoo tahu, ia seperti mengenali Janhwa karena mirip dengan seseorang. Kebiasaan Janwa yang suka menutupi masalahnya itu justru membuat Jangwoo ingin selalu berada di dekatnya dan membantunya. Terlebih ketika tahu bahwa adiknya harus dioperasi dan membutuhkan biaya yang besar. Jangwoo mencoba membantu. Ia bahkan menjual satu-satunya gitar kesayangannya.

Tiba-tiba Park Woohyun datang di antara mereka dan mengacaukan segalanya. Woohyun adalah teman Janhwa sejak kecil yang belakangan mencintai Janhwa. Sementara itu, atas semua bukti yang ditemukannya, Jangwoo semakin yakin bahwa Geum Janwa adalah seseorang yang terkait erat dengan masa lalunya. Gadis yang pernah mengejarnya di tengah hujan di masa kecilnya. Gadis yang selama ini dicarinya. Namun sepertinya tidak mudah bagi Jangwoo memberi pesan pada Janhwa bahwa ia adalah gadis kecil di masa lalunya.

Terlebih segalanya tambah berantakan sejak peristiwa perampokan yang mengganggu kelangsungan kedai ramyun milik Janhwa. Lagi-lagi pelakunya adalah orang yang Jangwoo kenal di masa kecilnya, yang tak lain adalah musuhnya. Kembali Jangwoo difitnah seolah Jangwoo-lah otak dari pencurian dokumen itu. Sayang Janhwa percaya dan lantas membencinya.

Belum lagi menemukan penyelesaian, Woohyun mengambil kesempatan di tengah kesulitan Jangwoo. Ia membantu Jangwoo dengan membayarkan sejumlah uang untuk menyelesaikan kasus, namun semua itu tidak gratis, dengan syarat bahwa Jangwoo harus menjauhi Janhwa, sebab ia tak ingin Janwoo merebutnya. Demi kebahagiaan Janhwa, Jangwoo bersedia pergi.

Tapi uang memang bukan segalanya. Semua hal yang dimiliki Woohyun tak lantas membuatnya mendapatkan cinta Jahnwa, seperti semudah saat ia meminta mainan kepada orang tuanya.

Membaca novel ini seperti menyimak drama Korea dalam bentuk buku. Pergerakan alur maju dan flashback yang dramatis, tokoh-tokohnya yang digambarkan cantik dan tampan, hingga setting yang berada di Korea di musim hujan. Novel dengan tebal 356 halaman ini dituturkan dengan dialog dan narasi dan seimbang. Setiap narasi bahkan dituliskan dengan cukup detail ala drama Korea. Novel ini memiliki ending yang manis yang menguraikan segala jawaban tentang masa lalu mereka, meski kita tak akan menemukan hal-hal yang mengejutkan di sana.

Karakter tokoh-tokohnya sekalipun secara fisik semuanya cantik dan ganteng, namun memiliki ciri khas sendiri sehingga dapat melengkapi komposisi cerita dengan menarik. Tak hanya itu, penulis sudah cukup baik menyesuaikan karakter tokoh dengan latar belakang kehidupan masing-masing. Keunggulan lain dari novel ini adalah pesan moral yang terselip di dalamnya, seperti tentang kejujuran, kerja keras, dan juga beberapa kutipan bagus yang saya temukan:

Punya segalanya bukan jaminan kebahagiaan (halaman 29)

Punya pengalaman buruk lebih banyak daripada pengalaman baik bukan berarti kau bisa membencinya. (halaman 206)

Sebetulnya sih membaca bagian pertengahan novel ini seperti melawan rasa bosan. Ada banyak narasi yang isinya terkesan berbelit dan kurang penting, membuat saya kadang berhenti sejenak dan beberapa kali membacanya dengan cara skip, itu pun tidak membuat saya ketinggalan mengikuti plotnya. Rasa antusias untuk melanjutkan hingga selesai baru datang kembali setelah ada di seperempat bagian akhir. Meskipun ada beberapa adegan yang terkesan kebetulan, terutama yang berkaitan dengan setting, namun lumayan tertutupi oleh penyelesaian cerita yang cenderung tidak terburu-buru.

Meski latar tempatnya di Korea, namun sayang kurang tereksplore dengan baik. Di samping itu, setting waktu, seperti tahun dan bulan tidak disertakan dengan jelas. Hanya beberapa hal yang menunjukkan bahwa itu di Korea, seperti kedai ramyun, orang-orang bernama khas Korea, dan sedikit saja nama tempat seperti Seoul. Di samping itu ada salah satu dialog yang sedikit kurang logis di halaman 268-269, tentang mengapa Jangwoo heran bahwa Woojin mengenal Janhwa? Bukankah Woohyun si adik laki-lakinya, sudah berteman dengan Janhwa sejak kecil? Bukankah sudah wajar bila kedua keluarga otomatis juga sudah saling kenal? Apalagi Jangwoo sudah tahu bahwa Woohyun memang dekat dengan Janhwa sejak kecil. Tapi tidak mengapa, barangkali ini hanya karena penulis lebih bersemangat di poin yang lain.

Selebihnya deskripsi lokasi bisa disempurnakan dengan menceritakan dengan detail hingga tradisi masyarakat atau kondisi alam. Namun tidak masalah karena sepertinya novel ini memang disajikan sebagai bacaan yang menghibur, sehingga bagi penyuka fanfiction atau drama Korea, novel ini dapat menjadi pilihan di kala senggang.

Resensi Novel: Queen, Demi Menghapus Bayangmu

IMG_20141228_185751

Judul: Queen, Demi Menghapus Bayangmu
Penulis: Niena Sarowati
Penerbit: Senja
Tahun terbit: 2014
Tebal: 300 Halaman
ISBN: 978-602-296-026-3

Alfira Queenza memutuskan “lari” dari Jakarta ke Bandung setelah mendapati Milly, sahabatnya sendiri berselingkuh dengan Davin, pacar yang sudah bersamanya selama 3 tahun. Setelah mendapat izin kedua orang tuanya, ia pun mengambil cuti kuliah untuk menata hidupnya kembali setelah patah hati. Tak seorang pun tahu kepergiaan Queen ke Bandung kecuali kedua orang tuanya.

Di Bandung ia tinggal di Kos Cemara yang rata-rata penghuninya lelaki. Salah satu teman kosnya yang paling dekat adalah Obit. Selama di Bandung Obit-lah yang sering berada di sisi Queen. Queen merasa betah. Terlebih nuansa yang ia temui di Kos Cemara seperti keluarga, Abah, pemilik kos yang ramah, Cilla cucunya yang lucu membuat hidupnya terisi, juga para penghuni kos dan pacar-pacarnya yang selalu menemani dan mendukungnya.

Ia menjalani hari-harinya yang menarik selama di Bandung. Pada suatu ketika ia menolong seorang anak kecil yatim piatu di jalan, tak disangka pertemuan itu membawanya berkunjung ke panti asuhan. Dari kunjungan itu, ia merasa tergerak untuk terus membagi kebahagiaan, dan panti itulah menjadi tempat berkegiatannya selama di Bandung. Tak hanya itu, ia juga bergabung dengan komunitas anak jalanan melalui salah satu teman kosnya, Alan.

Kesibukannya di panti dan komunitas anak jalanan mampu mengalihkannya dari rasa galau. Namun ketenangan hidupnya nyaris ambruk ketika Davin menyusulnya dan membuat kekacauan. Menyusul kekacauan lain ketika Milly juga datang mencarinya, hingga akhirnya teman-temannya pun tahu apa alasan Queen ke Bandung dan menjalani kesibukan-kesibukan itu. Queen tahu keputusannya untuk tetap bangkit tidak boleh rusak begitu saja.

Setiap manusia pasti punya masalah. Dan, masalah itu ada untuk kita hadapi. Kita cari jalan keluarnya, bukan kita hindari. Jika satu masalah kamu hindari, maka akan muncul masalah baru. (halaman 176)

Sementara kedekatannya dengan Obit seperti memunculkan semacam chemistry. Obit yang baik, perhatian, dan selalu ada membuat Queen merasa tenteram. Namun tak dipungkiri Davin masih mengusik hidupnya. Kenangan bersamanya tak mudah dilupakan. Namun semua itu membuatnya harus menentukan langkah.

Novel Queen diceritakan dengan alur maju, kadang-kadang diselipi dengan flash back tentang masa lalu Queen bersama Davin. Sisi menarik dari novel ini adalah tentang semangat tokoh Queen untuk survive dari kondisi terburuknya dan memilih bangkit. Seperti menyiratkan pesan bahwa ketika satu duniamu runtuh, bukan berarti hidupmu berakhir. Memang tidak mudah menerima kenyataan bahwa dua orang yang sangat dipercayai malah mengkhianati di belakang kita. Namun Queen tidak lantas terjebak dalam hal-hal negatif meskipun bagi siapa pun itu mungkin saja jadi pilihan.

Karakter, tokoh Queen dalam novel ini digambarkan sebagai gadis yang tidak terlalu istimewa namun memiliki proses perubahan karakter yang cukuo bagus, baik dalam hal penampilan maupun cara berpikir. Tokoh lain yang sering muncul adalah Obit. Namun sayang tokoh lain terlihat tidak terlalu memiliki peran dan kurang tereksplore sehingga terkesan hanya sampingan. Bahkan bila boleh berpendapat, nama tokoh-tokohnya masih bisa ditukar nama karena nyaris tidak memiliki ciri karakter khusus. Tapi tidak mengapa, sebab dari awal, tokoh-tokoh ini sudah cukup dijelaskan berurutan di bagian awal ketika Queen sudah pindah.

Sayangnya meski jalinan ceritanya cukup menarik, namun terdapat beberapa adegan yang temponya terlalu cepat dan ada yang diuraikan terlalu panjang di bagian yang sebetulnya tidak terlalu penting sehingga terkesan agak membosankan. Di samping itu ada beberapa yang menyangkut unsur kelogisan cerita yang mestinya dapat diperbaiki.

Salah satunya adalah, sepertinya agak kurang logis bila kedua orang tua Queen percaya begitu saja cerita Davin bahwa Queen melahirkan seorang anak di Bandung, apalagi hanya dengan melihat foto Queen menggendong bayi (halaman 195-196). Dalam novel ini diceritakan Queen sudah di Bandung selama 5 bulan, dan bayi yang digendongnya sudah beberapa bulan. Sementara wanita hamil kan butuh 9 bulanan sampai melahirkan, padahal mereka sebelumnya sudah tahu bahwa Queen aktif di panti asuhan.

Selain itu rasanya kok agak gimana ya anak usia playgroup berperilaku seperti Cilla? Semula saya kira Cilla sudah di atas kelas 3 SD an ketika membaca bagian ketika ia mengajak Queen berkenalan (halaman 24), ketika Cilla menengahi pertengkaran Via dengan Obit (halaman 56), hingga saat menceritakan masakan Queen (halaman 216-217). Kegemarannya makan dengan porsi yang begitu banyak (halaman 51), dan beberapa hal lain juga agak mengganjal. Tapi tidak mengapa karena mungkin hanya faktor kurang detail karena penulis terlalu antusias menceritakan anak kecil lucu yang membuat hidup tokoh Queen berwarna.

Mengenai konsep cerita, agaknya novel Queen kurang mengeksplore kondisi sosial masyarakat padahal ia menjadi bagian dari perjalanan Queen. Ketika di pantu asuhan, lebih banyak diceritakan saat Queen ikut mengasuh para bayi dan anak ketimbang aktivis panti. Ditambah lagi kebiasaan tokoh-tokohnya yang nongkrong di tempat-tempat agak mewah seperti plaza, kafe, salon, dan lain-lain agaknya kurang seimbang, hingga nyaris tidak ada penggambaran masyarakat yang melatarbelakangi komunitas anak jalanan yang mengarah pada masyarakat marginal. Bahkan di sela kegiatan itu, sering ditemukan jenis kuliner yang dikonsumsi Queen dan teman-temannya bernama asing seperti big ice tea hingga coupe la braga. akan lebih sesuai bila sesekali mereka nongkrong di warung bakso dan minum es teh warung pojok misalnya. Namun tak mengapa, karena mungkin fokus utama dan misi dari cerita novel Queen bukan ke arah sana.

Novel ini terbilang menarik dengan meskipun sedikit datar dan ending-nya mudah ditebak. Barangkali tidak jarang kita temui mereka atau mungkin termasuk juga kita yang pernah melarikan patah hati ke hal-hal positif seperti kegiatan sosial, sibuk bekerja siang malam, melanjutkan pendidikan, travelling, atau memulai bisnis. Tapi jarang yang menuliskannya menjadi novel sehingga dapat dijadikan insiprasi pembaca. Menurut saya novel ini tetap mempunyai muatan positif dan menceritakan dengan cara menarik tentang cara lain keluar dari keadaan terpuruk. Dengan gaya bahasa ringan dan mudah dimengerti, novel ini cocok untuk dibaca oleh remaja.

Film Refrain dan Opini tentang Persahabatan

“Persahabatan itu nggak memilih. Persahabatan bukan didasari oleh gender, usia, motif, atau apa pun itu. Persahabatan yang tulus nggak harus punya alasan.”

Benar. Tapi omong-omong, apa sih artinya Refrain? Kalau menurut google translate sih ‘menahan diri. Tentang apa sih film ini kok sampai ada soal menahan diri? Atau bisa jadi refrain adalah istilah musik yang berarti bagian perulangan dari lagu. Ya marilah kita abaikan sejenak judul, karena agak sulit memang dihubungkan dengan pesan moral filmnya :p

Refrain bercerita tentang Niki (Maudy Ayunda) dan Nata (Afgansyah Reza). Mereka bersahabat sejak kecil. Kedua orang tuanya bekerja di satu perusahaan dan sama-sama harus dinas ke luar kota. Oleh karenanya mereka selalu bersama ke mana pun itu. Apa keburukan dan kelebihan yang dimiliki satu sama lain, mereka pun sudah hafal. Setiap pada Niki di sana ada Nata, dan begitu juga sebaliknya. Bahkan saking dekatnya, mereka berjanji siapa yang lebih dulu jatuh cinta, harus ngasih tahu. Tapi janji itu tidak tertepati. Suatu hari Niki jatuh cinta pada Oliver, kapten tim basket di sekolahnya. Sejak itu, Nata merasa ada yang hilang. Niki sudah tak lagi sering ada waktu untuknya. Namun, tak hanya sekadar itu, Nata cemburu. Rupanya diam-diam Nata menyukai Niki, perasaan itu ada begitu saja tanpa bisa diprediksi, tapi rahasia itu disimpannya jauh karena mereka bersahabat. Sejak itu, dunia terasa berubah di mata Nata. Sedangkan dunia baru berubah di mata Niki ketika ia tahu sikap Nata yang antipati terhadap Oliver itu karena ia menyayangi Niki. Niki pun menjauh. Namun perasan cinta juga bagian dari proses dan tidak bisa instan. Ada sesuatu yang akhirnya membuat Niki menyusul Nata ke Austria 5 tahun kemudian. Tak bisa dipungkiri, bahwa cinta juga melampaui hubungan bernama persahabatan, sebab tahu bahwa Nata adalah pria terbaik dalam hidup Niki, telebih sejak Oliver, cinta pertamanya menyakitinya, dan tahun-tahun yang entah bagaimana telah dilaluinya. Yuhu, ini film remaja yang menarik meskipun ide tentang sahabat jadi cinta memang klise.

Refrain film yang rilis tahun 2013-an, yang memang awalnya tak berniat saya tonton karena kesibukan dan tak terkondisikan nonton film sejenis drama. Tapi jenuh juga terus-terusan nonton film idealis sehingga film ringan sesekali jadi pilihan. Awalnya sih karena tokoh utamanya memang artis di dunia musik, ngarepnya sih bakal seperti film August Rush. Ternyata beda sih, hehe. Film remaja yang satu ini ‘imut’, apalagi diselipi dengan iklan di adegan pembuka =)). Sebenarnya film yang disutradarai Fajar Nugros ini diadaptasi oleh novel karangan Winna Efendi yang judulnya Refrain juga, tapi saya sendiri belum baca novelnya. Ya entah mengapa, pengalaman dan firasat selalu mengatakan novel selalu lebih bagus daripada versi filmnya. Tak mengapa. Ada beberapa adegan manis yang mengesankan di film itu.

Pertama, ketika Nata dengan tegas ngelarang Niki diajakin kencan tiba-tiba sama Oliver sepulang sekolah. “Ngapaian sih mau sama dia? Entar kamu diapa-apain lho? Ngaco ah, nggak usah!” Tapi toh akhirnya Niki berangkat juga dan Nata membawakan tas Niki sambil mencemaskannya. Karakter Nata ini kadang dingin tapi protektif, sering ia ngingetin Niki untuk belajar biar nggak ketinggalan. Mungkin sih di dunia ini memang ada tipe sobat cowok yang ‘keibuan’ seperti itu.

Kedua ketika si Nata berani memukul Oliver atas tindakan kurang ajarnya pada Niki di acara promnait lalu menggandengnya pulang, padahal sebelumnya mereka lagi marahan karena Niki tahu Nata ‘mengkhianati’ persahabatan dengan menyayanginya. Tapi perempuan mana yang tidak terenyuh ketika ada yang membelanya ketika dalam posisi “tersudut”? Ya toh?

Ketiga, ketika 5 tahun kemudian akhirnya Niki nyusul Nata ke Austria dan happy ending, walaupun adegan yang ini terkesan buru-buru. Meski dari awal, film ini predictable, tapi jalan ceritanya menarik untuk diikuti dan tidak terlalu mainstream kok. Beberapa kekurangan tentu ada, sebagai film remaja, saya belum pernah menemukan dua tokoh ini hidup dalam pengaruh keluarga dan orang tua, melainkan pyur hanya tentang mereka. Kecuali kakak Nata yang lebih tepat disebut sampingan. Malahan Annalise (Chelsea Elizabeth Islan) benaran hanya sampingan, terbukti ketika adegan buka-bukaan perasaan yang bersifat kecelakaan itu (karena deim-diem Annalise suka Nata), sepertinya ngambang entah bagaimana kelanjutannya. Tiba-tiba di promnait, Annalise jejer bedua dengan kakak lelakinya Nata.

Soal akting tidak diragukan lagi, mereka cukup menjiwai dan tidak lebay, baik ketika berperan sebagai remaja maupun ketika dewasanya. Apalagi bawaan karakter Afgan yang romantis, menurut saya pas meranin Nata di film itu. Nonton ini saya jadi ngerasa betulan ngerasa balik jadi remaja, zaman masih suka nontonin fenomena temen-temen yang mirip sinetron. Gimana tidak, nggak banyak remaja yang punya nasib seperti Niki kecuali dalam imaji. Remaja cantik, sugih, sukses, populer, anggota cheerleader, dan punya sahabat ganteng yang selalu ngejagain serta membelanya seperti seorang kakak itu hanya milik mereka yang beruntung aja. Urusan entar jadi sahabat doang atau bakal pacaran, yang jelas punya sahabat yang selalu ada itu berkah tersendiri bagi kaum hawa. Memang sih jenis cerita remaja di film itu atau di banyak cerita lainnya selalu klise, persahabatan yang jadi cinta. Tapi tak mengapa, mengingat animo pasar, tipe remaja nggak cantik dan kaku yang hanya punya teman buku dan petugas perpus yang akhirnya punya pacar di masa kuliah tentu agak merepotkan untuk dituliskan dan kurang menarik untuk dijadikan ide cerita remaja, haha.

Pesan moral menurut versi saya (versi pemikiran tua maksudnya)

Benar memang rasanya galau bagi perempuan dihadapkan dengan kondisi ketika teman atau sahabat pria ternyata punya perasaan lebih. Padahal selama itu kita udah nyaman deket tanpa pretensi, selama itu kita percaya teman/sahabat kita sudah jadi teman curhat yang tidak punya maksud lain. Tapi tidak bisa dipungkiri pada akhirnya perempuan itu kompleks, mereka tetap butuh persahabatan ketika sudah masuk pada hubungan cinta yang berlangsungnya bakal lama. Itulah yang sering kali sulit dipahami kaum lelaki. Memang gimana tuh maksudnya? Jadi begini, hubungan cinta tidak hanya sekadar status dan kewajiban-kewajiban standar ala timur sebagaimana lelaki dan perempuan bentukan masyarakat patriakhat, tapi juga hubungan yang bahkan seperti sahabat dan kekasih sejati: interaksi, kesetaraan, saling pengertian, kedekatan batin, negosiasi, keterbukaan, kejujuran, ada diskusi, hingga kepekaan emosi. Perempuan (terutama yang berpikiran maju) jelas nggak mau bertahan di hubungan yang hanya bersifat ‘ngasih makan status’ untuk melegalkan cinta hormonal atau sekadar nafsu semata, sehingga aslinya ‘saling terpisah’, serba hierarki, nggak ada “komunikasi”, dan berbicara hanya soal kebutuhan sehari-hari. Nggak percaya? Buktikan aja kalau sudah nikah:)

Saya setuju dengan apa yang dikatakan Nata ketika nasehatin Niki dalam adegan di film itu:

Di dunia nggak ada yang namanya cinta pada pandangan pertama. Yang ada juga nafsu atau suka pada pandangan pertama. Yang lalu disalahartikan sebagai cinta.

Itulah mengapa menurut saya mungkin saja kok perempuan atau laki-laki jatuh cinta sama sahabat sendiri. Jodoh bisa datang dengan cara apa saja. Saya yang selama ini selalu jadi pihak penonton, sering banget menyaksikan ending yang semacam itu di kehidupan sehari-hari. Entah dari cerita teman, para tetangga, hingga mbah-mbah, yang malahan menurut mereka lebih langgeng ketimbang yang ketemu gede, karena ya sejak dulu cuma si dia saja yang udah dikenal dan udah nyaman 🙂Nonton film remaja yang satu ini, saya jadi ngerasa keyakinan saya sejak dulu ada benarnya. Tidak ada persahabatan murni lawan jenis di dunia ini, kecuali dua alasan, pertama have fun aja, kedua karena cinta yang tak bisa dijelaskan karena terbentur nilai buatan masyarakat itu sendiri di Indonesia, ketiga barangkali pihak perempuan/lelakinya homoseksual :|. Film ini lumayan juga dijadikan selingan di tengah kesibukan monoton.

Sesuai pengalaman pribadi, saya nggak terlalu percaya ada persahabatan sejati antara lelaki dan perempuan di dunia ini. Tapi saya percaya persahabatan dapat dibangun oleh dua orang yang memutuskan untuk saling mencintai dan ingin bersama selamanya. 🙂


Resensi Novel Angela

DSCN3952

Judul : Angela, Semoga Waktu Tak Hapuskan Ingatanku Tentangmu
Penulis : Hardy Zhu
Penerbit : deTeens
Tahun Terbit : September 2014
Cetakan : Pertama
Editor : ItaNov_
ISBN: 9786022790594
hlm: 173

 

Seperti judulnya, novel ini bercerita tentang Angela, mahasiswi semester awal di sebuah universitas ternama di Unida. Acara reuni SMP yang ia datanginya bersama Gifty, sahabat kentalnya, mampu mengubah hidupnya. Ia bertemu dengan Sandy di acara tersebut. Yang membuatnya terkejut adalah penampilan Sandy sekarang yang sudah berbeda dari ketika masih SMP. Bila dulu ia tipis dan hitam seperti tripleks (halaman 19) :D, kini menjelma jadi cowok tampan yang membuat para cewek meliriknya. Terlebih ia telah sukses dengan bisnisnya.  Sandy begitu baik dan perhatian, bahkan sejak masih sama-sama di bangku SMP sikapnya tak berubah, alias selalu “tersedia” untuk Angela. Apalagi Gifty, salah satu orang yang tahu bahwa Sandy menyukainya, selalu mendukung mereka supaya jadian.

Di sisi lain, Angela malah sedang terpesona akut dengan penulis teenlit favoritnya, Azka. Berawal dari tak sengaja ia mengambil novel tersebut dari rak buku karena buru-buru ke kampus, tahunya ia jadi ngefans. Berkali-kali ia mencoba berinteraksi dan menarik perhatian si penulis dengan mention-mentionan di Twitter. Tentu saja berkah baginya ketika berhasil bertemu dengan si penulis, bahkan sempat diminta untuk menemaninya riset novel berikutnya ketika si penulis datang ke kotanya. Namun sial karena Sandy selalu punya alasan untuk menggagalkan pertemuan mereka. Baik dengan cara paling sederhana sampai paling ekstreem. Namun pada akhirnya terungkap alasan mengapa semua hal ini terjadi.

Belum sempat novel ini didaftarkan di currently-reading atau to read di akun Goodreads saya, ia sudah selesai terbaca karena saking asyiknya menikmati jalan cerita aja. Saya memang bukan penggemar teelit selama 8 tahunan ini. Tepatnya sejak tahu semakin lama teenlit, terutama yang bernuansa romansemakin tidak jelas bentuk dan arahnya, telebih setelah kecampuran film sinteron dan film televisi dengan persoalan yang cenderung kurang dekat dengan remaja bahkan jarang mengandung bobot untuk dibaca semua kalangan dan menghibur meski tetap santun. Tapi sekian lama saya menghindari jenis teenlit, kecuali demi pekerjaan, saya kok merasa seperti menemukan teenlit yang kembali menemukan celah seperti semula ketika membaca novel Angela ini. Memang idenya sederhana dan bukan tidak pernah diangkat. Hanya saja unsur meremaja, kepolosan, kelucuan, diksi, kelogisan cerita hingga gaya bahasa dan alur yang lincah terbaca dari novel ini, yang membuatnya berbeda dengan teenlit era kini. Terlebih banyak teenlit yang isinya seperti mengampanyekan kehidupan hedonis yang justru mengkhawatirkan ketimbang menginspirasi. Tapi denger-denger kondisi itu tak berlangsung lama dengan maraknya renovasi teenlit, yang menghadirkan kisah remaja yang tidak klise dan pesan moral yang baik dari sana serta sudah digarap lebih serius, sehingga bila ke toko buku untuk membelinya, kita mesti selektif menemukan jenis yang ‘serius’ itu.

Teenlit memang tidak melulu mengeksplore gaya hidup remaja yang sarat pacaran dan hura-hura. Justru bila dikemas dengan tepat, teenleit sebagai jembatan mereka, khususnya remaja, yang tidak suka baca menuju terbuka dengan bacaan.

Seperti pada konsep novel Angela, yang meskipun tema adalah cinta dan persahabatan. Pembaca akan menemukan sendiri bagaimana kedua hal itu hadir dengan caranya sendiri di kehidupan remaja juga tentang bagaimana menyesaikan konflik-konflik ala remaja. Sejak saya membaca serial Lupus, Olga, Princes Diary, Dialova, More Than Love (yang malah nggak bisa dibilang teenlit meski tokohnya remaja SMA), kemudian fakum selama 8 tahunan, dan mesti baca lagi sejak 2012 untuk berbagai alasan. Meskipun sudah terlalu dewasa untuk membaca teenlit, saya nggak nyesel baca Angela.

Kelebihan lain dari novel ini adalah tidak ada unsur pergaulan bebas di mana ciuman, pelukan, dan sebagainya menjadi kewajaran seperti teenlit kebanyakan. Gaya bahasanya sederhana dan mudah dimengerti, juga menggunakan aku-kamu yang sesuai setting lokasi, sebagai sikap menentang kebiasaan teenlit harus “lo-gue”, yang semestinya lebih cocok dengan pergaulan ala Jakarta-Betawi. Novel ini juga lebih banyak menggambarkan hubungan persahabatan, kegelisahan ala remaja ketika masuk pada level ngefans terhadap sesuatu, juga tentang pekerjaan partime beserta segala persoalan yang dekat dengan remaja.

Settingnya dijabarkan cukup baik, dengan gambaran suasana dan juga detail melalui sudut pandang Angel terhadap hal-hal yang dihadapnya.

Kekurangannya? Tentu ada. Namun hanya sedikti saja, misal tokoh Angel sebagai sentral lengkap dengan ciri khas fisik, cara berpikir, hingga kesukannya, membuat jalan ceritanya hanya tentang sisi Angela. Sehingga tokoh-tokoh lain seperti Gifty agak terpinggir, Sandy, dan juga Azka (si penulis) kurang tereksplore. Selain itu endingnya juga terlalu cepat juga agak bisa ditebak ^^, mestinya novel ini dapat digarap lebih baik lagi tanpa dibatasi jumlah halamannya. Tapi tak mengapa, menurut saya Angela sudah tampil dengan oke. Juga cover yang cukup mudah menarik perhatian dengan warna pink tua serta memiliki ukuran font yang nyaman dibaca. Tapi sepertinya mesti hati-hati dengan bagian buku yang dijilid, sebab dua lembar terakhir buku ini tiba-tiba lepas, hehe. Tapi tenang saja, sudah saya lem lagi:p

Teenlit yang memang disajikan sebagai cermin kehidupan perkotaan ini memang tentang remaja, tapi bisa dibaca kalangan dewasa muda kok. Untuk para remaja, ini recommended deh;)

Resensi Novel: Senyum Pertama di Pagi Airin

DSCN3921

Judul: Senyum Pertama di Pagi Airin
Penulis: Okta Rahasti
Penerbit: de TEENS
Tahun terbit: August 2014
Genre: teenlit
ISBN: 9786022960034
Jumlah halaman: 200

Bahagia itu bukan bukan sesuatu yang kita dapat dari orang  lain, tapi bagaimana kita memberikan sesuatu pada orang lain.”–Hime, halaman 119

Cerita dalam novel ini dibuka dengan tokoh Airin yang suka melukis dan bersikap dingin terhadap semua orang di rumahnya. Bila sedang menyendiri, tak seorang pun bisa mengganggunya. Begitupun adiknya. Sikap pendiamnya ini akibat dari trauma terhadap mantannya, Dennis. Di rumah besar itu, ia tinggal dengan adik perempuannya, Hime, dan juga beberapa pembantu. Airin dan Hime adalah dua gadis keturunan warga Jepang yang dititipkan kepada neneknya sejak sang ibu meninggal dunia.

Airin memiliki kebiasaan berjalan sendirian di sekitar jalan raya. Hal itu membuatnya bertemu dengan seorang cowok misterius bernama Reza. Perkenalannya dengan Reza rupanya mampu mengubah sifat dinginnya menjadi lebih hangat.

Sementara Hime pacaran dengan Andra, cowok yang semula ia benci. Kesalahpahaman terjadi sehinga membuat Airin tak mengizinkan mereka pacaran. Hime dan Andra pun menyembunyikan hubungan. Segala cara Hime upayakan agar Andra diterima oleh Airin. Namun banyak hal akhirnya jadi kacau sejak Airin dan Reza bertemu secara tidak sengaja dengan Hime dan Andra di sebuah restoran Jepang.

Kemudian, masuklah di bagian menuju inti konflik. Masa lalu Airin, jawaban dari masa lalu Reza, dan kehidupan mereka selanjutnya ditentukan oleh sebuah peristiwa. Hime termasuk korban luka pengeboman di sebuah mall, dan kemudian Reza pergi begitu lama membawa sebuah rahasia besar yang disimpannya dari Airin. Kemudian 5 tahun berlalu dan jawaban demi jawaban terungkap.

Mampukah Airin tetap berbahagia meski keadaan telah berubah? Dan masihkah Hime tetap bersama Andra?

Novel ini sebetulnya sederhana, dituturkan dengan gaya bahasa yang ringan dan mudah dimengerti serta berusaha menghadirkan celah untuk pembaca terus bertanya tentang ending dan tokoh-tokohnya dengan cara yang sangat simpel. Bentuk alurnya yang campuran lumayan tidak bikin jenuh untuk membacanya sampai selesai.

Berbicara mengenai tokoh, Airin, sebagai judul dalam novel ini, merupakan tokoh yang bersikap dingin dan berubah ceria di saat-saat kemudian. Kalau membaca bagian awal, akan tampak sebagai orang sombong dan ketus. Berbeda dengan adiknya, Hime, yang cenderung penyabar dan banyak melakukan aksi di novel ini. Bisa dibilang, Hime sebetulnya lebih cocok menjadi tokoh utama dalam novel ini. Reza adalah cowok misterius yang memiliki masa lalu. Sedangkan Andra adalah siswa sekelas Hime, anak basket, dan sering mengganggu Hime. Secara keseluruhan, karakter-karakter dalam novel tidak terlalu khas, semuanya punya sisi ketus dan lembutnya masing-masing. Kecuali pada nama dan penggunaaan bahasa keseharian aku kamu atau lo-gue yang membedakan mana Andra yang Indonesia, dan mana kedua gadis yang blesteran Jepang. dua per tiga novel awal novel ini masih menceritakan kehidupan sehari-hari tokoh-tokohnya dengan datar. Meski lumayan terdapat adegan “ramai” di bagian sepertiga akhir di novel ini.

Sebetulnya novel ini masih bisa ‘digarap’ lagi. Masalah ide latar belakang tokoh, misalnya, cowok-cowok tampan misterius, kaya, dan pemain basket atau sekolah di luar negeri selalu disandingnya dengan putri-putri cantik yang tinggal di puri (baca:  rumah gedong dengan banyak pelayan) sudah sangat sering ada di novel atau film-film remaja. Akan lebih berbeda bila diperkaya dengan karakter dan latar belakang yang tidak mainstream untuk menghindari kesan datar.

Dan untuk dialognya, saya pernah membaca sebuah nasihat seorang penulis novel (lupa namanya), bahwa dialog yang ideal adalah dialog yang bertukar pikiran. Hanya saja di dalam novel ini lebih banyak saling respons yang cenderung impulsif dan minim tukar pikiran, seperti nada bentak dan reaksi cuek yang banyak ditemukan membuatnya sulit terlihat chemistry antartokohnya. Malah sekilas mirip adegan sinetron yang sarat bully-bully-an. Namun hal ini masih dapat dimaklumi karena persoalan dialog memang penyakit umum para penulis yang mesti ditaklukan.

Nah, akhirnya saya mesti menjelaskan juga kekurangan novel ini yang menurut saya termasuk banyak :p. Informasi mengenai setting dalam novel misalnya, perlu adanya riset dan deskripsi yang lebih memadai, sebab setting lokasi misalnya, hanya disebutkan Jakarta dan Bandung saja tanpa ada ciri khas pendukung, membuatnya masih dapat dipindah di sembrang kota. Miasalnya di halaman 99 hanya disebutkan sebuah taman yang asri, tidak disebutkan nama taman atau deskripsinya.

Di samping itu, memberikan unsur kebetulan boleh-boleh saja, asal masih logis dan dalam porsi yang cukup. Hanya saja di novel ini dapat dibilang ada banyak kebetulan yang kurang logis, seperti pada bagian awal. Barangkali akan sulit diterima ketika di dalam hujan deras, dua orang gadis dari jepang “ilang” nyari alamat neneknya di jakarta, berteduh secara tidak sengaja di bawah atap pagar rumah orang, dan taraa.. rupanya itulah rumah si nenek. Belum lagi kebetulan-kebetulan lain yang cenderung agak dipaksakan.

Saya juga sempat agak bingung dengan bagian kenapa tiba-tiba Dennis yang menembakkan pistol sementara ada banyak polisi di belakangnya. Bukankah di Indonesia bahkan membeli pistol pun mesti mendapatkan izin yang tidak mudah, atau kecuali si pemiliknya polisi? Sementara Dennis tidak dijelaskan sebagai polisi dari awal novel. Dengan sembarangan menembak buron yang sedang tidak berontak apakah malah justru menjadi tersangka percobaan pembunuhan juga ya? 🙂 Namun tidak mengapa karena novel ini memang bergenre fiksi.

Konflik dalam novel ini dihadirkan serba singkat dan terburu. Jujur selain sedikit membingungkan, rangkaian konfliknya tergolong terlalu banyak dan melebar untuk diringkas menjadi 200 halaman. Akan lebih baik bila satu dua konflik saja yang dikembangkan. Beberapa adegan yang penting seperti momen meninggalnya ibu Andra juga diceritakan terlalu ramping. Karater sang ibu juga lebih sebagai pelengkap yang tak terlalu berpengaruh dalam alurnya. Tentunya bila digarap lebih serius lagi akan menjadi lebih menarik. Di samping itu, pertemuan Airin dengan Reza disorot lebih sebentar daripada cerita hubungan Hime dan Andra.

Untuk penampilan buku ini, bagian margin, font dan penataan sudah oke. Covernya juga eye-catching dengan warna oranye dan kuning yang terlihat manis. Selain itu sudah nyaris tidak ada typo di sana.

Memang tidak ada naskah yang sempurna, namun setidaknya ada beberapa quote menarik yang dapat dijadikan inspirasi remaja yang membaca novel ini, salah satunya yang tertera pada blurb:

Hal yang paling menyakitkan adalah bukan saat orang-orang yang kita cintai membenci kita, bahkan pergi untuk selamanya, tapi saat kita membiarkan mereka berada dalam bahaya karena kita.

Novel ini dapat dijadikan bacaan ringan untuk remaja di kala senggang.

Resensi: Le Mannequin (Hatiku Tidak Ada di Paris)

DSCN3645

Judul : Le Mannequin, Hatiku Tidak Ada di Paris
Penulis : Mini GK
Penerbit : Diva Press
Genre : Chick Lit
Tahun Terbit : 2014
Editor : Ratna Mariastuti
ISBN : 978-602-255-588-9
Harga : Rp48.000,-

Hal yang menyedihkan tentang cinta adalah jika kamu telah bertemu seseorang yang berarti buat kamu tapi pada akhirnya kalian tidak dapat bersatu... –318

Tidak seperti bayangan awal saya ketika melihat cover depan. Membaca fragmen pertama novel ini memang seperti berjalan-jalan sebentar di tengah Kota Paris yang romantis dan nyeni, namun melanjutkan membacanya, saya banyak menemukan local wisdom ala Indonesia, berada di Indonesia, dan menyimak orang-orang yang hidup di Indonesia. Sekaligus juga menelusuri suasana ala Gunung Kidul dengan keindahan alamnya.

Le Mannequin (Hatiku Tidak Ada di Paris) bercerita tentang seorang gadis bernama Sekar Purnomo, yang meski lahir dan tinggal di wilayahpedesaan Gunung Kidul, tetapi memiliki mimpi besar menjadi desainer ternama. Terbatasnya ekonomi keluarga, ia tak berkesempatan menempuh pendidikan yang tinggi. Bermodal kepercayaan diri dan cita-cita, ia pun memutuskan hijrah ke Jakarta dan bekerja di perusahaan garmen. Candra Kusuma, satu-satunya sahabatnya, berusaha menahannya. Candra adalah sahabat masa kecilnya. Mereka tumbuh bersama namun memiki impian yang berbeda. Sekar yang ingin mendunia, sedang Candra hanya ingin memajukan desanya. Namun, keduanya selalu saling ada. Kebersamaan hinga dewasa mampu menumbuhkan benih cinta di hati Candra yang akhirnya ia simpan dalam-dalam. Mau tak mau, ia pun merelakannya pergi jauh ke Jakarta untuk waktu yang lama. Meski berat pula bagi Sekar meninggalkan orang tua dan sahabat yang selalu memberinya nasihat dan dukungan itu.

Sekar datang ke Jakarta dengan tanpa pengetahuan apa pun tentang kota tersebut. Lukman, pria yang tak sengaja ditemuinya di kereta inilah yang kelak membantu segala keperluan dan akhirnya menjadi kekasihnya. Tahun-tahun berlalu, membawa Sekar menemukan kesempatan di bidang yang dia impikan, menjadi desainer di butik Pavo milik Madame Diamanta. Ia bermetamorfosa menjadi gadis yang berpenampilan menawan dan memiiki karier yang gemilang. Daya kreatif dan kerja kerasnya sedikit banyak berpengaruh pada kemajuan butik. Sementara hubungnnya dengan Lukman yang sudah hampir 2 tahun belum menemukan titik jawaban. Malah cobaan demi cobaan mendera dengan hadirnya Sabinta dan isu perjodohan yang digadang-gadang orang tua Lukman. Membuat saya ikut gemas.

Di sisi lain, ia pun bertemu dengan Yasak, anak sulung Diamanta yang jatuh cinta padanya pada pandangan pertama. Namun pertemuannya barangkali kurang tepat sebab Sekar tengah diliputi kegalauan. Meski demikian, Yasak selalu ada untuknya, terutama ketika melewati berbagai kesulitan termasuk menghadapi teror Gita, salah satu karyawan Pavo yang menyimpan dengki kepadanya. Gita ini menurut saya mirip tokoh antagonis sinteron.

Cobaan Sekar tak berhenti sampai di sana. Hubungannya dengan Lukman kandas lantaran pria tersebut memilih menikahi Sabinta. Mimpinya terancam retak dengan kabar itu hingga akhirnya ia memutuskan untuk resign dan pulang kampung. Tentu saja Yasak dan Diamanta tidak sependapat, terlebih mereka memahami mimpi besar Sekar yang tinggal selangkah lagi. Hingga akhirnya, Sekar mengambil cuti untuk memikirkan kembali keputusannya sambil pulang ke Gunung Kidul. Kembali ke kampung halaman mampu mengobati luka hatinya, meski bayangan Lukman masih ada di benaknya. Pertemuan kembali dengan sahabat masa kecilnya dan tawaran Diamanta mengikuti fashion week di Perancis cukup mengembalikan kebahagiaannya. Terlebih pada saat yang sama ia pun tahu alasan Candra selama ini menunggunya.

Namun meski cita-cita sudah di depan mata dan kondisi mengikatnya pada jalan yang harus ditempuh, ia tetap harus menentukan dengan siapa ia akan menyandarkan hatinya. Kakak beradik Yasak dan Demian yang romantis dan sama-sama mencintainya, Candra yang telah mengenalnya sejak kecil, atau Lukman yang kembali mencarinya karena menyesali keputusannya menikahi Sabinta?

Nggak kebayang ribetnya kan, sebab satu aja repot, apalagi 4, :))).

Novel ini memiliki alur mau dan mundur. Akhir dari kisah ini mengalir manis dan menyajikan ending yang cukup mendebarkan. Seperti kata Pak Ahmad Tohari dalam endorsement-nya, bahwa karya Mini GK ini memang mengesankan. Tentunya Mini GK telah berpengalaman menulis kisah romance setelah sebelumnya menerbitkan dua novel berjudul Abnormal dan Stand by Me.

Novel Le Mannequin (Hatiku Tidak Ada di Paris) disajikan dengan tema cinta dan perjuangan hidup yang mengalir dengan ringan. Adapun deskripsi latar yang detail, diksi yang enak dibaca, nilai-nilai kesederhanaan, juga pesan moral dan mitos-mitos yang bertabaran menjadi kelebihan novel ini. Cara Mbak Mini GK menceritakan keindahan alam Guning Kidul tak kalah menarik. Tak lupa ia memadukan nilai-nilai keluhuran asli Indonesia, ibarat long dress bergaya modern dengan sentuhan batik.

Kesukaan Sekar terhadap sepasang boneka mannequin yang disebutkan beberapa kali di dalam novel membuatnya tidak lepas dari judul yang dipilih. Mbak Mini tak kehilangan ketahanannya memperkenalkan hal yang baru namun beridentitas dalam karyanya yang satu ini. Tidak hanya itu, novel ini pun dilengkapi dengan cerita dongeng Sam Pek Eng Tay. Boleh jadi novel ini memiliki napas yang berbeda meskipun dari segi cerita sebetulnya umum. Kisah gadis desa yang berjuang ke kota, ditinggal nikah sama pacar, dan kebimbangan di antara banyak pilihan adalah tema yang klise.

Tentu saja tidak ada karya yang sempurna. Masih banyak hal yang sepertinya dapat diperbaiki dalam novel ini.

Misalnya, pada bagian pertemuan dengan Demian di pembukaan novel terkesan agak instan. Kalau saya jadi Sekar,
barangkali butuh pertemanan tahun kedua untuk mau difoto menggunakan kamera pribadinya, hehe. Di samping itu, banyak hal yang kerap dihadirkan Mbak Mini GK dalam novel ini tentang kebetulan-kebetulan yang kurang masuk akal. Jakarta, Bandung, dan Paris seolah dihadirkan sebagai kota kecil di mana kita akan sering ketemu tetangga kita yang itu-itu aja. Lalu bagaimana proses pekerjaan mendesain itu sendiri? Bagaimana proses berperasaan terhadap seseorang? Saya belum begitu menangkap feel-nya selain rata-rata disebabkan oleh kekaguman secara fisik. Tapi tidak mengapa.

Karakter Sekar sendiri digambarkan sebagai gadis desa yang polos tapi bersemangat. Kenekatananya meraih cita-cita membawanya pada serangkaian kesuksesan dan keberuntungan. Secara fisik, ia ditampilkan sangat mempesona. Kecantikan ini membuat setiap pria tampan langsung “memuja”. Sekar digambarkan sebagai gadis sukses namun tidak terlalu banyak memiliki wawasan mengenai kehidupan dan cenderung nerimo (pasrah). Metamorfosis karakternya ditopang oleh orang-orang di sekitarnya. Namun penggambarannya pas sebab di dalam novel, Sekar pun bukan orang yang suka membaca, melainkan sibuk di wilayah pekerjaan dan mengejar mimpi di bidang fashion. Kehadiran tokoh Candra yang digambarkan sebagai pria penyabar dan kutu buku hadir sebagai peyeimbang dan pengisi. Sebagai sahabat masa kecil yang cukup berpangaruh dalam hidup Sekar.

Sebagai karya yang merepresentasikan genre chick lit, novel ini tampaknya sengaja dihadirkan bertema cinta dengan segala aspeknya yang sempurna. Hampir semua tokoh wanita dan prianya ganteng, cantik, berkulit cerah, tinggi, dan tajir. Konsekuaensi dari itu, tokoh sampingannya kurang memiliki bangunan karakter yang kuat. Pada dasarnya kan manusia itu terdiri dari kelebihan dan kekurangan. Namun, karakter para pria yang cukup penting dalam novel ini nyaris tidak dideskripsikan secara realistis. Barangkali akan lebih natural bila, misalnya nih: pria cerdas berwajah oriental berambut kaku, jarang mandi, punya kebiasaan gigit kuku kalau gugup, atau pobhia gerobak misalnya. Untungnya tokoh Candra yang seorang guru dan tak ingin hijrah dari desa digambarkan lumayan detail sekalipun tidak jauh dari jenis ‘sempurna’. Barangkali akan lebih menggambarkan penduduk Gunung Kidul kalau tokoh Candra berkulit sawo matang dan tidak terlalu tinggi.

Segi tampilan, seperti ukuran font dan margin sudah pas. Hanya beberapa saja kesalahan eja dan diksi tapi tidak terlalu berpengaruh.
Overall, novel ini memberikan kesan manis dan menarik. Apalagi banyak quote yang dapat dijadikan pelajaran hidup, salah satunya seperti berikut.

Adalah kado termahal yang pernah ada, yaitu kesempatan–189

Selamat berburu novel dan selamat membaca 🙂

Resensi Novel: Maya and the Darkness Surrounding

novel Maya, and the Darkness Surrounding

Judul                        : Maya and the Darkness Surrounding
Penulis                     : Arikho Ginshu
Penerbit                   : PING!!!!
Tahun terbit           : Agustus 2014
Genre                       : Fiksi
ISBN                         : 139786022556190
Jumlah halaman    : 296
Harga                        : Rp42.000,-

 

“Untukku, perkara tersulit dalam mencintai bukanlah belajar mengakhiri, sebab aku bahkan belum memulainya. Namun yang paling rumit adalah memilah hati, sebab cintaku tumbuh di antara dua hal yang sama pentingnya. Kekasih dan sahabat mungkin dua hal yang berbeda, namun sering berada dalam timbangan yang rasa yang nyaris sama.” (halaman 274)

 

Maya, and the Darkness Surrounding bercerita tentang 4 sahabat yang tengah hiking ke Gunung Kerinci sebagai perjalanan kesekian menjelajah alam. Tondi, Binar Saga, Damar, dan Rimba. Namun terjadi sesuatu di tengah perjalanan. Tatkala berhenti untuk berkemah, salah satu dari mereka dan satu-satunya wanita, tidak dapat terbangun dari tidurnya. Mereka bertiga merasa terpukul dan perjalanana pun dihentikan. Mereka membawa Binar ke puskesmas terdekat namun hasilnya nihil. Tidak ditemukan penyebab medis yang membuat Binar saga tak sadarkan diri. Atas saran seorang bidan yang memeriksanya, Binar dibawa ke seorang paranormal yang terkenal di desa tersebut. Ki Rangkat, nama orang pintar tersebut, menjelaskan bahwa Binar berada di dimensi astral. Sang paranormal menjelaskan bahwa Tondi-lah yang bisa menjemputnya pulang. Demi kesetiakawanan dan perasaan yang diam-diam disimpannya, perjalanan astral yang nyaris tidak mungkin itu pun dilakukan.

Di sisi lain, terjadi krisis besar di zaman peradaban suku Maya, tepat Amorza tinggal. Bersamaan dengan munculnya Binar Saga ke dunia mereka. Amorza, yang bertanggung jawab memanggil Binar saga secara tak sengaja ke dunia mereka, menjemput Tondi menyeberangi dunia perantara untuk membantu menyelamatkan Binar Saga yang tersesat di sana.

Di Dimensi Maya, Binar saga yang menjelajahnya lebih dulu menemukan nasib yang tak terduga yang membuatnya tak bisa pulang kembali ke kehidupan nyata. Dalam dimensi yang lain itu, Tondi sadar masih tetap saja mencintai Binar meski sulit menggapainya. Hanya saja, Binar yang di hadapan bangsa Maya, tidak seperti Binar Saga yang sesungguhnya. Tentu saja sebagai orang yang mencintainya, Tondi mencari segala cara untuk menjemputnya, bahkan rela mempertaruhkan nyawanya.

Lalu, apakah Tondi berhasil membawa si gadis pulang? Dan bagaimana kisah persahabatan mereka pada akhirnya?

Selain di Sumatra dan Yogyakarta, setting novel ini juga di peradaban bangsa Maya. Dan novel bertema kasih sayang, cinta, dan persahabatan ini sebenarnya terpecah menjadi dua fokus yang menyatu dan berhubungan. Dipaparkan pua dengan dua sudut pandang, yaitu sudut pandang Tondi di masa kini dan Amorza di masa lalu, sebagai penduduk bangsa Maya. Hanya saja bagian Tondi mendapat porsi lebih banyak. Terlebih buku ini diawali dan diakhiri dari kisah Tondi. Lepas dari itu, keduanya memiliki bangunan cerita yang utuh. Amorza dan Arzoda, sepasang kembar yang ditakdrkan menjadi orang yang disucikan oleh rakyat di peradaban suku Maya. Amorza memiliki bakat menyeberang ke dunia astral. Sama halnya dengan Tondi.

Bagian pertama diawali dari tengah, di mana Tondi berproses masuk ke penghubung dan bertemu Amorza. Dituturkan dengan deskripsi cerita yang membuat saya ingin mengetahui mengikuti cerita selanjtunya. Kemudian bagian kedua yang bertutur mengenai kisah pertemuan mereka berempat hingga persahabatan terjalin dari sudut pandang Tondi. Hingga datang peristiwa yang menimpa Binar saga di lereng Kerinci. Kemudian kisah berlanjut dri sisi Amorza, penghuni peradaban Maya dari masa lalu yang tengah kehilangan saudara kembarnya, Arzoda. Di bagian ini, Amorza menceritakan bahwa ia masih terhubung dengan roh Arzoda dan dapat menyeberang ke dunia astral. Kemudian cerita pun beranjak ke penyelesaian dengan alur maju dan runut.

Novel Maya, and the Darkness Surrounding merupakan proyek Divapress yang mengusung tema astral projector yang korelasikan dengan peradaban-peradaban dunia di masa lalu. Dalam novel ini Arikho memilih peradaban bangsa Maya sebagai latar dimensi lain. Mendengar bangsa Maya, yang terbayang dalam benak kita barangkali sebuah peradaban yang canggih dan ramalannya kalender matahari yang termasyur itu. Namun dalam novel ini, Maya lebih banyak digambarkan sebagai tempat di mana sekelompok penduduknya rata-rata bar-bar dan memiliki seorang raja yang haus darah. Manusia dengan senang hati melihat manusia lain dikorbankan dengan sadis sebagai bentuk pengorbanan memuja bulan. Sedikit banyak membuat saya ingat film “Pompaii” di mana pembantaian manusia dijadikan hiburan rakyat.

Namun, membaca kisah si kembar Amorza dan Arzoda membuat saya tersentuh. Terlebih ketika mengetahui mereka yatim piatu dan mau tak mau menjalani takdirnya sebagai orang yang disucikan dalam kepercayaan suku Maya. Sebagai penduduk bangsa Maya, mereka termasuk yang merasa nuraninya tersakiti ketika melihat manusia dikorbankan beramai-ramai.  Tatkala Arzoda pun meninggal, saya seperti diajak menyimak kisah kesendirian seorang anak di tengah takdirnya yang sulit. Secara subjektif, cerita kedua kembar tersebut lebih mendalam ketimbang cerita cinta Tondi kepada Binar Saga itu sendiri. Namun barangkali kisah Amorza memang sengaja diposisikan oleh penulis sebagai poin pendukung keseluruhan cerita.

***

Adapun kelebihan novel ini terletak pada deskripsi setting yang rinci dan detail, porsi yang pas antara narasi dan dialog, serta penggarapan alur yang terlihat berhati-hati. Kesalahan ketatabahasaan dan teknis pun tidak banyak ditemukan dan tidak terlalu mempengaruhi jalan cerita. Membaca kisah perjalanan di novel ini seperti ikut menikmati keindahan alam. Diksi yang disajikan pun menarik dan mudah dipahami, saya rasa penulis sudah cukup mampu menyajikan bab demi bab sebagai satu kesatuan cerita yang utuh. Didukung oleh keterhubungan yang berkorelasi antarbab. Meskipun alurnya bercampuran, tetap dapat diikuti hingga selesai.

Dalam hal penokohan, Tondi sebagai tokoh utama dideskripsikan karakter dewasa, pengayom, dan tulus. Meskipun ada sisi Tondi yang tak berani menghadapi masalah, terlebih ketika dihadapkan dengan kerumitan suasana di tengah hubungan persahabatan itu. Binar saga tidak begitu banyak diceritakan, selain bahwa ia satu-satunya wanita yang paling disayangi di antara 3 pecinta alam tersebut karena mampu mencairkan suasana. Damar, orang yang disukai Binar dipaparkan sebagai tokoh sampingan yang tidak begitu banyak berpengaruh dalam cerita. Begitu juga dengan Rimba, selain bahwa ia paling akrab dengan Binar sebagai sahabat. Kemudian tokoh Arzoda dan Amorza, keduanya hidup di peradaban Maya, memiliki interaksi psikologis yang cukup kuat. Dapat dikatakan, karakter Tondi dan Amorza-lah yang memiliki bangunan karakter lebih kuat daripada yang lain. Meski sepertinya ini novel pertama yang diterbitkan Arikho, tapi saya menduga si penulis sudah berpengalaman menulis sebelumnya.

***

Secara kesuluruhan, penampilan novel ini sudah lumayan. Hanya saja ada beberapa poin dalam novel ini yang sepertinya perlu disempurnakan lagi.

Untuk cover, sebetulnya konsep bangunan kuil dengan seorang gadis berkupluk merah sudah menggambarkn isi novel, hanya saja kurang sesuai lantaran tokoh utama dalam novel ini justru bukan Binar Saga. Terlebih gambar tokoh wanita di sana agak terlalu besar dan kurang seimbang dengan gambar di belakangnya. Melihat covernya, saya sempat mengira bahwa tokoh utamanya si gadis bertopi merah ini. Selain itu, saya juga menemukan beberapa missing link, pertama, masa lalu Tondi tentang neneknya: mengapa Tondi sebagai penyebab neneknya tidak juga meninggal? Kedua, secara umum, dunia astral tidak dapat diterima begitu saja sehingga oleh logika manusia biasa sehingga mestinya ada bagian khusus untuk menceritakan hal tersebut sehingga dapat diterima tokoh-tokohnya. Atau barangkali ini hanya keterbatasan pengetahuan saya mengenai perihal astral kecuali yang pernah ditampilkan di film Insidious yang pernah saya tonton. Namun, saya pikir proses deskripsi astral perlu disempurnakan lagi. Ketiga, ada ketidaksamaan konsep. Di dalam novel ini saya menangkap inkonsistensi, seperti mengapa roh Tondi dan Binar dapat terlihat di masa lalu, sedangkan Amorza tidak terlihat di dimensi sekarang? Malah prolog dalam cerita tersebut menempatkannya seperti makhluk asral sementara di masa bangsa Maya, Amorza belum meninggal.

Beberapa point dari novel ini juga terkesan datar dan agak berbelit. Tadinya saya kira bakal menemukan adegan duel bebas ala film “Gladiator” ketika masuk pada inti konflik, hehe. Tapi tak mengapa, dalam hal menulis fiksi, penulis bebas berimajinasi.

Bagaimana pun, pesan tersembunyi yang sengaja dipaparkan penulis cukup tersampaikan, apakah cinta memang dapat menembus ruang dan waktu?

 

“Cinta mungkin tidak akan pernah mati, namun cinta bisa saja berubah, Tondi. Melihatnya orang yang kau cintai bahagia jauh lebih penting daripada kau harus mengekangnya dalam cinta yang mungkin tak lagi sama untuk kalian berdua.” (halaman  294)

 

Nah, untuk pembaca muda dan remaja yang kelak menemukan buku ini, selamat membaca dan selamat menelusuri dimensi Maya.

 

Efek Feromon dalam Imaji Dua Sisi

novel Imaji Dua Sisi

Judul : Imaji Dua Sisi
Penulis : Sayfullan
Penerbit : de TEENS
ISBN : 978-602-7968-86-8
Editor : Itanov
Desain kaver : Ann_Retiree
Layouter : Fitri Raharjo
Tahun Terbit : 2014
Tebal : 333 halaman

Sering kali perasaan cinta disebut chemistery, maka ia tak terjelaskan kapan, mengapa, dan bagaimana, serta seperti apa bentuknya.

Tadinya saya kira novel ini seperti novel remaja biasa dengan cerita cinta yang itu-itu saja. Dibuka dengan kisah masa lalu Bumi sebagai salah satu tokoh, kemudian cerita tentang moment ospek kampus menjadi pembuka novel Imaji 2 Sisi ini. Tapi setelah lanjut membaca, ternyata dugaan saya meleset. Membaca bab demi bab, saya sadar bahwa novel ini memiliki pengaruh yang cukup ‘menohok’ perasaan saya :D, ditambah lagi dengan analogi teori kimia yang dipadukan dengan istilah cinta yang selama ini dikenal merujuk pada sesuatu yang tak berwujud.

Nggak ada ilmu pengetahuan apa pun yang bisa merumuskan cinta, Bum. Kalaupun ada, gue pasti juga bakal meraciknya. (halaman 158)

Demikian yang dikatakan Lintang tatkala Bumi menyampaikan teorinya. Bumi, dalam novel ini, meyakini feromon–salah satu hormon yang memiliki kontribusi besar dalam proses jatuh cinta, mempunyai pengaruh begitu besar dalam mendapatkan pasangan yang diincarnya.

Menyimak teori Bumi tentang bau tubuh manusia yang diekstrak, membuat saya ingat novel karya Patrick Süskind yang berjudul Perfume the Story of a Murderer, di mana tokoh utamanya yang jenius aroma, membuat parfum dari ekstrak manusia. Hanya saja novel tersebut membuat pembacanya seperti melihat konsep keindahan berpadu dengan kisah seram pembunuhan.

Lintang, Bara, dan Bumi dalam novel ini, adalah tiga orang yang bertemu di kampus jurusan Kimia di salah satu universitas negeri di Semarang. Sama-sama mendapat tugas aneh dalam ospek, mereka pun saling dekat dan terlibat, dan akhirnya terjebak dalam kondisi yang cukup membingungkan.

Lintang yang asal Jakarta pindah ke Semarang untuk lari dari masalahnya, yaitu menghindari Rakai, mantannya yang akan menikah. Dalam kerja keras melupakan itulah, ia bertemu dengan kehidupan baru di kampus dan dua orang yang mengisi harinya dengan persahabatan: Bara yang ekstrovert, berpenampilan keren, dan lucu, juga Bumi yang introvert dan culun namun genius, yang malah akhirnya sama-sama mencintai Lintang diam-diam. Ada pula Repi, mahasiswi rempong salah satu sahabat yang se-kost dengan Lintang yang berantusias ingin menjadi pacar Bara. Namun dalam novel ini, Repi tidak begitu sering diekspose. Menyimak pertemanan mereka yang kadang kocak itu, membuat kita lebur antara apa itu cinta, apa itu persahabatan. Keduanya menjadi hubungan aneh, persahabatan ganjil yang tapi berjalan harmonis dari waktu ke waktu yang berawal dari perasaan tertindas yang sama di masa ospek.

Yeah, kekaburan antara persahabatan dan cinta memang sering kali dialami oleh para gadis.

Lintang semula dikenal sebagai pribadi yang jutek dan anti lelaki. Namun Bara melihatnya sebagai kamuflase yang menutupi kepribadian yang sesungguhnya. Lintang sering kali ketus terhadap Bara. Namun ia juga penasaran apakah sikap itu karena Lintang memang membencinya atau sebaliknya. Sedangkan terhadap Bumi, Lintang malah sangat ramah. Bara bingung dan geram, tapi nyatanya ia sadar diri tatkala ia tahu kondisinya tak memungkinkan untuk bersama Lintang, ia pun pasrah.

Bumi diliputi cemburu ketika Bara dekat dengan Lintang, sebaliknya, Bara pun tak begitu suka melihat Lintang akrab dengan Bumi.
Bumi adalah sosok serius dan mencintai kimia. Ia bahkan sempat menceritakan impian dan teorinya mengenai feromon kepada Lintang. Bumi percaya bahwa bahwa ada semacam metode kimia yang dapat menyerap aroma alami manusia, zat yang dipercaya sebagai biang keladi cinta. Aroma yang diambil dari seseorang tersebut dapat menimbulkan perasaan cinta. Tentu Lintang yang realistis tidak menerima pemikiran itu. Sebab selain sadis, akan terdengar palsu bila feromon direkayasa sedemikian rupa demi mendapatkan cinta yang diinginkan. Bahkan perasaan ketertarikan yang dimaksud akan hilang ketika feromon telah habis. Namun menyerap feromon Bara demi mendapatkan Lintang merupakan bagian dari rencana besar Bumi.

Konflik pun meruncing. Bumi mencari cara dan keberanian untuk menyatakan maksud hatinya kepada Lintang. Demi memilikinya, segala cara dilakukan. Dengan rencana gila sekali pun. Namun dalam hati kecilnya, Bumi menyadari bahwa karakter yang secara iseng disampaikan Lintang sebenarnya ada pada Bara.
Anehnya, Bara yang sebenarnya juga mencintai Lintang malah memilih untuk membantu Bumi dan terpaksa meladeni Repi sebagai pelarian. Belum lagi perasaan Bumi tersampaikan, Bara malah mendapat permohonan dari Lintang untuk berpura-pura jadi pacarnya dan menemaninya pulang ke Jakarta karena pernikahan sang mantan dengan kakak kandungnya sendiri akan berlangsung. Lintang tidak mau seluruh keluarganya tahu bahwa Rakai adalah mantannya sebelum kecelakaan yang menimpa sang kakak terjadi. Namun sialnya usahanya gagal dan kekacauan pun terjadi.

…Setiap orang di sini pernah merasakan patah hati, kan? Tapi, bukankah itu tak lantas membuat seseorang harus berhenti berjalan? (halaman 252)

Sementara, melihat mereka berdua pergi bersama, Bumi menganggap itu sebagai pengkhianatan Bara terhadapnya. Bukan Bumi tidak tahu perasaan Bara terhadap Lintang, tapi bahwa perasaan dikhianati dan keyakinan bahwa Lintang lebih mencintai Bara, membuat impiannya mengekstrak feromon Bara ingin segera terealisasikan.

Lintang terkejut tatkala tiga orang terdekatnya malah menghilang satu-satu sepulang ia dari Jakarta. Repi pindah kost tanpa pamit, Bumi dikabarkan pindah kampus, dan pada saat yang sama Bara menghilang secara misterius. Dalam prasangka yang berkecamuk, Lintang mendatangi rumah nenek Bumi. Ia menerima surat berisi pernyataan hati Bumi selama ini terhadapnya, yang belum sempat disampaikan Bara kepada Lintang. Juga skema ekstrak feromon yang tertera di papan laboratorium pribadi Bumi yang terdapat nama Bara sebagai sasarannya. Bimbang dan kalap, Lintang mencari Bumi, ia berusaha menghentikan rencana gila Bumi. Hingga ia menemukan Bumi di Bandung, Bumi mengaku bahwa ia pun tak tahu keberadaan Bara meski Lintang masih curiga. Lalu tatkala hubungan Lintang dan Bumi berjalan setahun, petunjuk mengenai keberadaan Bara pun datang dengan cara tak terduga. Petunjuk yang barangkali membawa mereka pada jawaban. Arah perasaan Lintang, keberadaan Bara, rahasia di antara mereka, dan juga kisah akhir eksperimen mengerikan milik Bumi.

Lin, mana mungkin kita bisa melalui satu tahun lebih bersama tanpa ada cinta? Mana logis ikatan kita ini hanya karena hanya feromon yang sampai sekarang pun masih tersimpan di lemari pendingin laborat! (halaman 325)

Novel yang disajikan dalam 3 sudut pandang tokoh ini menarik untuk diikuti. Dengan alur yang runut juga penokohan yang cukup kuat membuat novel ini mudah dipahami. Tampaknya Sayfullan memiliki keahlian mengkomposisikan gaya bahasa yang ringan dan sering kali kocak. Novel ini juga menyimpan kejutan-kejutan. Bisa dikatakan, kedua hal itu, kekocakan dan nuansa romantis bisa berganti-ganti dapat tersaji dengan komposisi yang pas. Novel Imaji 2 Sisi ini cukup keren dan recommended untuk dibaca.

Di novel ini, sesuai dengan temanya, cinta dan kehidupan seperti diibaratkan dengan rumus-rumus kimia. Saya hanya belum mengerti mengapa novel ini diberi judul Imaji 2 Sisi, hehe. Beberapa kesalahan ejaan dan diksi memang masih ditemukan namun tidak terlalu mempengaruhi daya tarik ceritanya. Di samping itu, saya juga merasa ending-nya agar terlalu buru-buru. Ada sempat merasakan keganjilan cerita ketika sampai pada bab pernikahan Langit, kakak Lintang. Tapi untunglah bagian yang agak bikin deg-degan itu selesai dengan indah.

Anyway, novel ini keren sekali dan saya ingin memberinya 4 bintang. ^^

Bahagia Pun Butuh Alasan: You’re Not Funny Enough

Judul: You’re Not Funny Enough (Novel)
Penulis: Jacob Julian
Penerbit: PING!!! (Juni, 2014)
Halaman: 280 halaman
ISBN: 9786022556176

Apa yang membuatmu ingin bahagia? Siapa yang akan kau bahagiakan? Kenapa kau ingin bahagia? (halaman164)

Kapabilitas seorang comic atau komedian ditentukan apakah show-nya berhasil. Apa yang terjadi bila seorang comic sudah tak lagi berhasil membuat audience-nya tertawa? Dan mengapa demikian?

Jamie adalah seorang comic yang sedaang meniti kariernya dari bawah. Semula, ia menemukan sisi gelap dan menariknya stand up comedy sebab berhubungan erat dengan seni menggembirakan banyak orang dengan komedi yang dibawakan. Seorang comedian selalu butuh memperbarui ide, kemampuan tampil, dan waktu untuk mempersiapkan materi demi membuat penontonya terhibur.

Dalam kesuntukannya kuliah, ia menemukan hiburan yang menarik pada stand up comedy. Kemudian ia bercita-cita menjadi comic terkenal. Demi menekuni karier impiannya ini, ia bahkan sempat berhenti kuliah.Ia lalu bekerja di kafe Beni, seorang sahabat yang bahkan mau memberikan pekerjaan lengkap dengan fasilitas selama ia mau tampil rutin di kafenya. Namun rupanya nasib baik belum berpihak padanya. Sejak putus dari Sonya, Jamie mengalami kemunduran. Tak seorang pun datang untuk menonton pertunjukan tunggalnya di kafe sebab penontonnya tak merasa Jamie selucu yang dulu. Kegagalannya tampil dalam show tunggal membuatnya terdorong untuk berhenti bekerja dengan Beni, bahkan ingin melupakan dunianya dan berganti profesi. Segala daya upaya sudah dilakukan. Ia merasa bahwa dunia comic tak lagi memberikan keuntungan dalam hidupnya. Ia juga menyadari bahwa kesedihannya membuatnya tak memiliki semangat untuk menggali lagi kemampuannya. Alasan-alasan itulah yang menyebabkan ia memutuskan untuk tetap berhenti. Jamie kehilangan kepercayaan diri dan merasa bahwa menjadi comic bukan lagi jalannya. Ia pun memutuskan move on ke Kalimantan.

Dalam perjalanannya ke Kalimantan, ia bertemu dengan sepasang backpaker, Fey dan Luka. Mereka mendesaknya untuk menampilkan stand up comedy di lounge kapal sebagai hadiah pertunangan. Demi pertemanan, ia pun melakukannya. Pada saat itulah, ia justru mendapat respons yang lumayan bagus dari penonton. Apalagi Fey yang pada akhinya malah menjadi fansnya dan berharap ia dapat menontonnya kembali. Namun kehadiran Fey dan tunangannya belum cukup membuat kepercayaan dirinya kembali. Tawaran kapten untuk tampil rutin di kapalnya pun ia tolak. Namun, ia merasa ada sepercik semangat dalam hidupnya tatkala Fey yang ceria dan manis itu memposisikannya idola. Bahkan terang-terangan di depan Luka, tunangannya. Sayang, itu tak cukup membuatnya bangkit ketika menyadari Fey sudah ada yang punya.

Turun dari kapal, Jimie menemukan kehidupan yang berbeda dan menuntutnya untuk mulai dari nol. Namun hidup rupanya menyimpan kejutan lain. Menjadi tukang bersih-bersih mal membuatnya bertemu dengan Pak Gaiman–orang lokal yang menetap tinggal di atas tanah leluhurnya yang kini menjadi bangunan mal. Rupanya Pak Gaiman adalah seorang pesulap. Perkenalan dengan Pak Gaiman mengantar Jamie pada kesadaran bahwa menjadi komedian memang profesi sejatinya. Dari seorang Gaiman yang keras dan banyak pengalaman, Jamie banyak mendapat petuah berharga darinya.

Di tengah menjalani profesi barunya sebagai tukang bersih-bersih, tak disangka ia bertemu dengan Fey yang rupanya telah putus dari Luka. Dari pertemuan itu, ia tahu bahwa Fey ternyata memedulikannya. Ia juga berharap Jamie dapat menjadi comedian kembali seperti yang ia kenal dulu, dan di samping itu, Fey juga mengutarakan isi hatinya pada Jamie yang saat itu malah tidak ngeh dengan maksudnya. Fey lantas menghilang lagi dengan meninggalkan tanda tanya bagi Jamie.

Pada suatu hari Jimie ditawari Gaiman dan rekannya untuk mengisi pembukaaan sirkus. Dalam kebimbangannya, Jamie tahu ia hanya butuh kerja keras dan konsisten di jalan yang pernah ditempuh yang bahkan pernah harus berkorban demi berada di jalan itu. Tapi rupanya perasaan pada Fey yang ceria dan manis juga mampu mengembalikan semangatnya. Jamie mau menjalani profesi sebagai pembuka sirkus Gaiman dan kawan-kawan dengan stand up comedy. Kerja kerasnya membuahkan hasil. Secara berkala ia mulai mendapat banyak perhatian dan penggemar. Pada akhirnya ia bahkan mendapatkanan kesempatan tur stand up comedy ke beberapa kota dari sponsor. Hal itu membuat Jamie bersemangat. Tentu saja ia siap menjadi populer dan muncul di televisi hanya demi menemukan Fey kembali. Ia sadar rupanya Fey adalah salah satu alasan terkuat yang membuat ia bangkit kembali ke dunia stand up comedy.

Novel karya Jacob Julian ini memiliki ending yang manis di mana tokoh Jamie kembali sukses menjadi comic atas kerja kerasnya dan sadar bahwa ia butuh Fey, seseorang yang akan selalu mendukung kariernya dan tak akan meninggalkannya. Kehadiran seorang kekasih yang setia tentu membuat Jamie bahagia. Menunjukkan pada kita bahwa kebahagiaan pun juga butuh alasan. Terlebih seorang comic juga butuh berbahagia untuk bisa membuat orang lain tertawa dan bahagia.

Alur dalam novel Julian ini cukup menarik dan mampu menggambarkan kehidupan comedian dari sisi yang lain secara lebih dekat. Pembaca seperti diajak untuk memahami dunia comedian dari latar belakang dan sepak terjangnya. Hanya saja masih ditemukan beberapa kalimat rancu seperti yang ada dalam halaman 107: “Karena suatu saat. orang berpacaran juga bisa berakhir dengan kata-kata… “, halaman 238: “kau sudah pacar?”, dan juga beberapa di halaman lainnya. Untuk itulah, baik penulis maupun editor perlu mencermati lebih teliti karena kesalahan-kesalahan kecil yang bersifat gramatikal juga bisa berpengaruh pada feel pembaca. Kemudian perlu juga bagi penulis untuk riset logat/aksen bahasa, sebab Pak Gaiman yang penduduk suku daerah tentu berbeda gaya bahasa dengan Jamian dan Beni misalnya.

Namun demikian, lepas dari hal-hal itu, novel You’re Not Funny Enough cukup menarik sehingga dapat dijadikan bacaan ringan di kala suntuk. Saya yang sudah lama tak membaca novel teenlit pun menikmati novel ini dan menemukan banyak hal yang membuat saya akhirnya tersenyum di bagian akhir kisahnya. Bila saya harus menggunakan bintang untuk menilai novel ini, baiklah saya akan kasih 3 bintang 🙂