Batik Trusmi dan Kesetaraan

Berawal dari mention-mentionan saya dan teman-teman kantor lama via Twitter, teringat lagi nostalgia kompakan pakai batik kala itu. Bertepatan juga di hari batik, seperti hari kemarin. Untuk itulah, rasanya ingin menulis hal-hal bertema batik. Namun sempat agak bingung memilih topik batik dari daerah mana. Jogja yang memang mau nggak mau setiap hari saya kunjungi, atau asal daerah lain yang belum saya kunjungi?

Sepertinya saat ini lebih menarik mengulas batik asal daerah yang bukan Jogja karena jenis batiknya sudah sangat familier di mata saya -_-. Akhirnya saya putuskan memilih batik trusmi karena bentuknya yang berbeda sekali dengan batik Jawa. Siapa tahu kelak betulan berkunjung ke sana dan membeli kainnya.

Seperti yang pernah saya tulis di blog ini waktu itu, selama ini saya memang kurang gaul soal fashion dan kain, namun selalu berusaha memahami, hingga akhirnya menulis tentang batik Truntum beberapa waktu lalu sebagai awal saya mengenali produk budaya berbentuk bahan pakaian.

Batik Trusmi berasal dari Cirebon. Nama Trusmi sediri diambil dari kepanjangan terus bersemi. Istilah trusmi juga diambil dari nama desanya, yaitu Desa Trusmi yang sekarang juga menjadi kampung batik terkenal di sana. Trusmi tersebut tergolong jenis batik pesisir (pantai). Mungkin itulah sebab mengapa kebanyakan bergaya kebebasan dan fleksibel. Seperti bentuk awan dan burung (entah burung atau naga terbang ya…) menunjukkan hal-hal yang luas dan transenden. Karena bentuknya yang khas dan warnanya yang cukup tegas serta makna yang terkandung di dalamnya, membuatnya pantas menyandang predikat salah satu ikon batik nasional. Daerah Cirebon sendiri semula memiliki dua kerajaan maka batiknya disebut batik keraton.

Menurut sejarah, seperti halnya batik-batik lain di nusantara, batik Cirebon pun merupakan hasil asimilasi dan akulturasi beragam budaya. Batik gaya Cirebon yang sekarang semula lahir sejak Pelabuhan Muara Jati di daerah tersebut dijadikan tempat transit para pedagang. Pedagang yang singgah rata-rata berasal dari Tiongkok, Arab, Persia, dan India.

Selain itu, filosofi dan religiusitas yang terkandung dalam batik Trusmi berhubungan erat dengan sejarahnya dan juga berkait tatkala Sunan Gunung Jati menyebarkan Islam pada abad ke-16. Menurut berbagai sumber, pernikahan Sunan Gunung Jati dengan Putri Ong Tien wanita berketurunan Tiongkok disinyalir menjadi awal bergabungnya dua kebudayaan tersebut. Kala itu keraton menjadi pusat kosmik sehingga ide atau gagasan serta pernak-pernik budaya Tiongkok masuk dan berasimilasi dengan budaya Cirebon. Termasuk hasil asimilasi itu adalah batik Cirebon dengan motif awan yang lekat dengan mitologi Tiongkok yang dinamakan dengan motif mega mendung.

Motif mega mendung sekalipun dipengaruhi gaya Tiongkok namun sarat makna religius dan filosofi. Garis-garis gambarnya merupakan simbol dari perjalanan hidup manusia dari lahir, anak-anak, remaja, dewasa, berumah tangga sampai meninggal dunia. Antara lahir dan mati tersambung garis penghubung yang kesemuanya menyimbolkan kebesaran Illahi. Menarik sekali.

Selain itu ada beberapa jenis batik Cirebon yang lain dan juga sarat degan legenda dan filosofinya masing-masing, yang barangkali akan lebih total bila diuraikan sambil travelling ke kampung batiknya langsung.

Batik menurut pengamatan saya, juga sedikit banyak menggambarkan kondisi masyarakat tempat batik ini dibuat. Misal di Jawa, batik menggambarkan masyarakat yang berlapis-lapis karena hampir semua memiliki fungsi masing-masing dan lumayan ribet. Bahkan batik jenis parang tidak bisa dipakai di keraton karena dianggap kurang sopan. Secara antropologi, batik trusmi juga menggambarkan masyarakat Cirebon yang lugas dan egaliter, maka tepat bila mewakili hubungan masyarakat yang blak-blakan dan setara. Barangkali sedikit berkebalikan dengan Jawa yang serba hati-hati, suka mbatin, dan cenderung agak feodal, hehe. (peace ^^)

So, Selamat Hari Batik 2 Oktober 2014 🙂

contoh batik trusmi

contoh batik trusmi

contoh batik trusmi motif mega mendung

contoh batik trusmi motif mega mendung

Iklan

Tradisi Kain di Indonesia

Ketika berbicara mengenai kain, pertama yang terlintas di benakku adalah Indonesia dengan segala yang plural di dalamnya. Kita tahu, Indonesia itu sendiri memiliki 1700 kepulauan, juga lebih dari 300 suku, dan 350-an bahasa. Tentunya nggak terbayang berapa jumlah kekayaan dan warisan budaya yang tersimpan di sana. Dari cara membuat rumah hingga memposisikan kain setiap daerah memiliki caranya sendiri-sendiri. Di berbagai catatan dan sastra lama, kain tardisonal pun banyak ditulisakan sebagai produk masyarakat yang memiliki nilai budaya tinggi karena selain memiliki keragaman bentuk, kain-kain tersebut diciptakan dengan lambang seni dan nilai falsafah.

Bila dikelompokkan, kain taradisional yang setidaknya suku di Indonesai mengenal 2 jenis kain, yaitu tenun dan batik. Menurut referensi yang kucari dari beberapa sumber, tenun merujuk pada jenis kain yang disulam dari benang dengan pilihan warna alami tertentu dan biasanya dibuat dengan menggunakan alat tenun. Banyak yang memasukkanya dalam golongan tekstil. Sejarah mengatakan bahwa tenun telah dikenal oleh nenek moyang kita sejak abad 8 hingga 2 sebelum masehi. Kala itu tenun diciptakan sebagai cermin penghormatan terhadap leluhur dan penghormatan terhadap kebesaran alam. Dan kebiasaan itu pun dilestarikan hingga sekarang.

Misal, masyarakat suku Batak pun mengenal 3 sumber kehangatan yang utama, yaitu matahari, api, dan kain ulos. Sebab suku Batak kebanyakan tinggal di bukit yang bertemperatur dingin, oleh karenanya selain matahari, ulos bahkan menjadi sumber kehangatan. Kain ulos memiliki peranan penting di kehidupan mereka. Selain dipakai dalam kegiatan sehari-hari, kain ulos juga digunakan dalam acara-acara besar seperti pernikahan, kelahiran, dan upacara kematian. Sementara di Sumba pun dikenal kain tenun yang memiliki corak fauna dan memiliki nilai religius yang tinggi. Belum lagi di daerah Bali, Kalimantan, dan daerah lainnya yang juga memiliki tradisi kain tenun.

Karena faktor geofrafi dan budaya itulah, maka setiap daerah memiliki corak kain yang berbeda. Di samping itu tenun juga mengandung fungsi sosial budaya yang penting. Sejak terjadi perdagangan global di zaman kerajaan Sriwijaya, di mana pedagang India, Arab, Tiongkok, dan sebagainya berdatangan dan mempengaruhi budaya, kain tenun pun mengalami akulturasi, kita dapat melihatnya pada perkembangan tenun yang ada di Palembang.

Tentunya akan sangat panjang bila kain tenun dibahas secara kesuluruhan. Aku juga baru tahu, di kotaku, Jogja, tradisi kain tenun juga sudah cukup poluler. Kain itu dinamakan lurik. Owalah, jian…

Sedangkan tradisi batik sebenarnya lebih meluas di Indonesia dan jenisnya pun bergam. Dari ujung wilayah suku Baduy hingga Madura pun kita akan menemukan sederet jenis batik yang berbeda corak, gaya, dan filosofinya. Karena batik di Jawa lebih banyak diekspos, ia jadi lebih populer dibanding kain batik di pulau-pulau lainnya. Batik Jawa yang polanya rumit dan lebih bervariasi akan berbeda dengan jenis batik Madura yang bisanya hanya satu tema, bunga-bungaan saja atau hewan saja. Belum lagi Pekalongan dan Jambi yang punya gaya batiknya sendiri, yang tak kalah keren juga.

Bila dicari dari asal usulnya, batik sebenarnya lebih merujuk pada budaya tulis. Secara etimologi, kata batik berasal dari gabungan dua kata bahasa Jawa, yaitu “amba” dan “titik”. Amba yang berarti “menulis” dan titik berarti sebuah noktah kecil. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, batik merupakan jenis kain yang dilukis dengan malam, kemudian diolah dan diproses dengan cara tertentu. Dalam bahasa Inggris teknik ini dikenal dengan istilah wax-resist dyeing. Itu berarti nenek moyang kita telah mengenal budaya tulis, menunjukkan bahwa mereka telah maju dalam ilmu pengetahuan. Amat pantas bila batik disebut sebagai wujud eksistensi budaya karena mengandung nilai-nilai filosofi.
Sehingga kelak bila mau memakai batik ke acara pernikahan, jangan sampai memilih jenis batik suwung, sebab itu dipakai untuk acara kematian. Begitu juga sebaliknya. Atau jangan juga memakai jenis parang di acara kerajaan, karena bisa-bisa dikira nantangin perang.

Saking kayanya nilai budaya yang terkandung dalam batik (khusus yang batik tulis) sampai-sampai pada tahun 2009 lalu, untuk pertama kalinya batik diakui sebagai World Heritage oleh UNESCO. Yeah, barangkali engkau telah membaca berulang kali mengenai batik sehingga tak perlu lagi kutulis ulang. Yeah, semacam itulah. Sayangnya batik tulis tersaingi oleh batik yang cap yang lebih laris di pasaran karena harganya lebih murah.

Pagi ini, melalui kain, aku jadi banyak baca artikel soal adat istiadat suku-suku budaya di Indonesia, yeah, itung-itung sambil ingat pelajaran Antropologi waktu SMA dulu.
Suatu saat kalau punya kesempatan jalan-jalan keliling Indonesia, pengin banget deh sekalian bikin buku tentang kain-kain tradisional dan kebiasaan masyarakat suku adatnya. 🙂 Tentunya itu akan sangat menarik.

*Untuk memenuhi tugas mingguan Komunitas Penamerah