Review “Matilda”

img_20180912_093155_hdr

Judul: Matilda
Penulis: Roald Dahl
Ilustrasi: Quentin Blake
Penerbit: Noura Books
Jumlah halaman: 278
Cetakan I: tahun 2018

 

 

 

Matilda Wormwood adalah bocah cilik yang genius. Ia telah bisa membaca secara autodidak di usia 4 tahun. Dan pada usia 5 tahun, ia tidak hanya menghabiskan seluruh buku anak di perpustakaan umum, tetapi juga membaca buku-buku karya penulis besar seperti Charles Dickens, Ernest Hemingway, hingga George Orwell. Matilda tumbuh menjadi sangat cemerlang di usianya yang masih sekecil itu. Menurut gurunya, bahkan ia sebetulnya sudah cocok masuk universitas dua tahun mendatang. Ironisnya ia tidak hidup di lingkungan yang sesuai dengan yang ia butuhkan.

Ayahnya adalah pengusaha mobil bekas yang licik dan hanya menyayangi anak lelakinya. Ibunya hampir setiap sore meninggalkannya di rumah demi bermain bingo. Di rumah, ia menghadapi kedua orang tua yang selalu mengabaikannya, bahkan menganggapnya koreng. Matilda harus berkerja keras mengingatkan mereka bahwa usianya sudah cukup untuk bersekolah. Dan pada akhirnya ketika ia masuk sekolah, tantangan demi tantangan masih harus dihadapi. Ia harus bertemu dengan seorang kepala sekolah yang tiran dan membenci anak-anak. Di rumah dan di sekolah, Matilda selalu bertemu “monster”. Orang-orang dewasa seperti mereka bahkan tak peduli ada yang istimewa pada diri Matilda. Namun alih-alih membuat iba, polah Matilda di kemudian hari justru mengundang ketakjuban dan tawa.

Bagaimana tidak, demi mencegah dirinya meledak karena tertekan, ia membuat hal-hal konyol untuk memberi “pelajaran” pada orang-orang dewasa yang suka menindas, bahkan tanpa ketahuan. Hingga datang pada suatu hari di sekolah, sebuah keajaiban muncul. Matilda tiba-tiba saja dapat menggerakkan benda-benda tanpa menyentuhnya. Kemampuan yang ajaib itu pun akhirnya ia gunakan untuk menolong orang yang paling peduli dengannya.

Tentu saja buku ini berhasil membuat saya jatuh cinta sejak halaman pertama hingga terakhir. Tidak hanya cara bercerita Roald Dahl yang enak diikuti, bahasa yang ringan, dan plot yang menarik, tapi juga banyak nilai moral yang dapat direnungkan. Humor cerdas yang bertebaran dalam buku ini juga nggak kalah menariknya. Tak heran sih buku ini pernah memenangkan Children’s Book Award pada tahun 1988 dan 1999.

Novel ini sebetulnya bisa dibaca semua umur, recommended banget deh pokoknya. Saya terbiasa mendaftar buku-buku jadul yang berkualitas dan masih relevan dari zaman ke zaman. Dan ini salah satu yang ada di daftar itu kalau menurut saya. Meski bisa dibaca segala usia, tetapi bahasanya sedikit lebih rumit untuk anak-anak di bawah umur. Saya jadi pengin baca karya Roald Dahl yang lain.

 

Iklan

Ke Sarangan Kita Berdendang

Di dunia ini, kita kadang lupa bersyukur memiliki sepasang telinga. Telinga, bagi yang berfungsi baik, akan menangkap banyak hal di sekitarnya meski belum tentu mampu “mendengar”. Indra kita yang satu ini tidak akan tahan dengan keheningan yang kosong dalam waktu lama. Kemudian sebagian dari kita menyukai bunyi-bunyian yang disebut musik. Memang ada juga orang-orang yang tidak terlalu suka musik sepertiku. Tetapi, bisa dikatakan setiap orang memiliki kecederungan suka mendengar sesuatu yang khas. Bisa sebuah lagu, suara tokek di malam hari, bising pasar, gemerisik daun, atau sekadar suara seseorang yang dirindukan.

Tampaknya kita juga sepakat, mendengar sesuatu yang sama berulang-ulang menjenuhkan bagi siapa pun. Terutama bila kita tidak menyukainya. Tapi bagaimana bila mau tak mau, kita berada dalam kondisi itu dan tak bisa menghindar?

Seperti hari ini, bus besar yang kami tumpangi telah melaju 2 jam dari Yogyakarta, sekarang memasuki Solo dan harus bertemu macet selama sejam. Tidak ada masalah dengan busnya. Bus yang memuat 50 penumpang ini cukup nyaman untuk berwisata. Full AC, wangi apel, coffe maker, kursi berbantal, dan selimut yang baru dicuci, televisi, dan wi-fi. Tapi musik yang menyala dari dari sistem audionya membuat siapa pun seperti sudah 3 hari terperangkap di dalamnya. Katakanlah bila satu lagu berlangsung 7 menit. Kami telah tiga jam mendengarnya.

Terlalu mahal harus kubayar
Kecuranganmu dengan…
Dengan air mata…
Dengan air mata…

“Sudah yang ke-26.” Ternyata seorang teman yang duduk di belakangku menghitungnya. Ia sibuk membaca Mrs. Dalloway sepanjang jalan tetapi sempat menyimak dan menghitung lagu. Yang terlihat paling nelangsa adalah Tina, teman di sampingku. Ia kini membenamkan diri ke dalam selimut, menyerah karena tak bisa menutupi telinganya rapat-rapat. Ponselnya kehabisan daya dan mati. Sedari tadi ia mendengar musik kesukaannya sendiri dengan earphone.

“Aku kangen denger suaranya Bruno Mars, lagu-lagunya Payung Teduh, Banda Neira, John Lagend, dan…” Ia menyebutkan semuanya.

“Sabar. Kita kayaknya sejam lagi sampai,” kataku menenangkannya sekaligus mengingatkan diriku sendiri. “Demi nilai A, kita mesti semangat.”

Aku mengingat beberapa hari lalu Bu Noerna, dosen mata kuliah Penulisan Kreatif kami mengumumkan sesuatu, bahwa ia tidak bisa menemani ujian semester minggu depan karena harus menyusul suaminya ke Belanda. Sebagai gantinya, ia memberikan opsi. Pertama mengerjakan 50 soal open book tapi tidak boleh copy paste. Opsi kedua mengadakan perjalanan wisata dan harus menuliskan sebuah karya terbaik. Kami semua memilih opsi kedua. Apalagi setelah beliau bilang akan mensubsidi separuh dari seluruh biaya perjalanan. Dan semua yang mengerjakan dijamin dapat A, asal tidak plagiat dan harus menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Kulihat semua orang tampak gelisah. Tentu bukan karena macet yang sedang terjadi di pusat Kota Solo. Seorang dari kami maju meminta supir menghentikan bus di pom bensin terdekat dengan alasan mau pipis. Tapi aku tahu ia sedang ingin keluar dari bus untuk muntah yang kelima kalinya. Yang lain ikut menghambur keluar mencari saklar, masjid, minuman hangat, camilan, udara segar, dan sekadar selfie ketika bus menemukan rest area.

“Kamu ngerasa ada yang aneh nggak sih dengan Pak Supir?” Seorang kawanku, Bowo, yang sekaligus koordinator acara ini, berbisik ke arahku. Ia jadi koordinator karena ialah satu-satunya yang bisa disuruh-suruh. Bahkan bila kausuruh ia mengambil sandal jepitmu yang nyemplung sumur, ia akan mengambilnya.

“Iya sih. Mungkin dia nggak punya referensi lagu lain?”

“Aku rasa karena tidak bisa memutar tape-nya. Soalnya aku sudah menyerahkan CD musik kita. Tapi cuma diletakkan aja di dekat bangku.”

“Maaf ya, Adik-Adik.” Tiba-tiba tour guide kami, Mas Tiyok mendekat dengan tampang khawatir. “Perjalanan kalian jadi nggak nyaman. Pak Cipto, driver kita memang penggemar dangdut. Sebetulnya sekarang yang nyetir Pak Mangun, tapi karena tiba-tiba masuk angin, jadi supir satu-satunya yang bisa berangkat cuma Pak Cipto.”

Kami menoleh ke arah Pak Cipto yang tengah merokok di dekat pohon. Ia terlihat menanti dengan sabar seperti cara menyetirnya. Meski tampangnya garang, berkumis tebal, badan  besar, tato di lengan dan separuh wajah, ia driver yang tak suka nyalip bus lain dengan brutal. Bahkan cenderung pelan dan berhati-hati. Kini aku, Tina, Bowo, dan Mas Tiyok tampak seperti membuat perkumpulan kecil yang mencurigakan.

“Boleh minta tolong bilang ke Pak Cipto nggak Mas, supaya ganti musiknya? Dangdut nggak papa, tapi yang penting jangan itu terus,” kata Bowo.

Mas Tiyok ragu. Ia bukan tidak pernah mencoba memintanya pada Pak Cipto.

“Nah itu dia. Sebetulnya dia nggak biasanya seperti ini. Tadi sudah saya tegur, tapi beliau jawab kalau musiknya diganti, dia khawatir bakal ngantuk terus tidur tiba-tiba pas lagi nyetir. Kalau sudah tidur bakal sulit bangunnya.”

Baik Tina maupun Bowo tampak bergidik. Mereka membayangkan betapa nggak asyik mendengar lagu “Mahal” berulang-ulang sampai hari kiamat. Meski demikian, tentu lebih nggak asyik lagi naik bus yang supirnya ketiduran. Mereka pun menerima nasib. Apalagi mengingat bakalan dapat nilai A di mata kuliah yang dosennya terkenal pelit nilai itu.

Tina terlihat sangat kesal. Ia hobi mendengar musik pop indie yang liriknya sulit dimengerti itu dan sangat anti dangdut. Ia berjalan lesu, tampak seperti lebih ingin masuk neraka ketimbang kembali ke bus.

Jalan ke arah Sarangan rupanya sedikit membuat tak sadar menahan napas. Berkelok-kelok dengan pemandangan kanan kiri yang penuh jurang. Sedikit membuat ngeri tetapi sepadan dengan pemandangan indah yang terhampar sejauh mata memandang. Sejenak kami mengabaikan musik favorit Pak Cipto yang masih hingar bingar di dalam bus yang melaju pelan karena teralihkan dengan jajaran rumah di perbukitan seperti di luar negeri. Kabut terlihat di mana-mana. Sebelum turun pun kami sudah membayangkan udara perbukitan yang sejuk dan segar.

Sebelum sampai lokasi, kami sempat deg-degan dengan tanjakan yang sangat curam. Tetapi dengan tenang, Pak Cipto mampu menaikkan kendaraan tanpa membuat seorang pun khawatir. Memarkirnya dengan santai.

Kami sampai di sebuah penginapan kecil. Sepertinya semua orang di bus ini bernapas lega dan buru-buru keluar dari sana seolah lagu “Mahal” bakal mengikuti mereka. Tetapi memang lagu ini cukup membekas bagi beberapa orang. Siang ketika kami bersiap berkemas di kamar masing-masing untuk berkeliling danau, terdengar seorang mahasiswa bernyanyi.

Katanya tebu manis airnya
Kucoba tanam di pinggir hati
Tumbuh memang tumbuh
Sayang sayang sayang
Tebu berduri menusuk hati

Layar berlayar
Perahu kayu
Biarlah biarlah kini
Tanpa dirimu

“Itu lagi, itu lagi!” Seorang anak melemparinya dengan kaus kaki bau hingga ia terkejut dan berhenti bernyanyi. Terdengar tawa berderai sambil misuh-misuh setelahnya.

Sarangan tempat yang indah untuk refreshing dan mencari inspirasi. Kami memanfaatkan waktu dua hari itu untuk berkeliling danau, melihat air terjun dan mencoba makanan khas seperti sate kelinci. Tak lupa mencicil tugas karya tulis mumpung ide mendadak berdatangan.

Sore di hari selanjutnya kami pulang dengan bus yang sama dan tentu driver dan musik yang tak berubah.

Lama kutunggu kejujuranmu
Terkadang harus menanggung kekecewaan

Terlalu mahal harus kubayar
Kecuranganmu dengan dengan air mata
Dengan air mata
Dengan air mata…

Bowo dan beberapa yang lain bersenandung menirukan lagu dengan riang. Beberapa yang lain menirukan dengan nada pilu. Sepertinya mau tidak mau banyak dari kami akhirnya menghafal lagu ini di luar kepala karena selalu mendengarnya baik sedang terjaga maupun tidur.

Anak-anak geng bondes di kursi paling belakang sibuk membicarakan cara-cara yang mungkin bisa membuat supir mau menghentikan lagu konyolnya. Entah itu dengan menyetel musik hard rock di HP keras-keras, menggemboskan ban, mengunci Pak Sopir di kamar mandi umum, dan hal-hal dungu lainnya. Tetapi, aku yakin takkan ada yang berani melakukannya. Di samping ide-ide itu dapat merugikan seluruh penumpang juga, melihat perangai Pak Cipto yang jarang bicara tapi bermuka sangar itu pun sudah bikin siapa pun keder. Akhirnya tak ada hal lain yang dilakukan semua orang kecuali pasrah menyimak dan terkadang mendendangkan lagu itu dalam hati.

“Aku kepikiran satu cara,” kataku nyaris seperti bergumam.

“Apa itu?” tanya Tina yang sudah terlihat tak punya harapan hidup.

“Kayaknya itu tugasmu deh, Wok.” Aku memanggil Bowo yang duduk tak jauh dari tempatku.

“Iya, semua kan memang tugasku.”

Dalam hal ini Bowo yang paling bisa diandalkan. Apalagi kalau sudah denger iming-iming nilai A dan dibantuin garap tugas. Kami bertiga, bersama Tina, melakukan rapat kecil sambi berbisik ketika bus berhenti di rest area dan semua keluar untuk pipis dan muntah.

“Kamu yakin bakal berhasil?”

“Nggak tahu.”

“Terus aku kudu ngapain dulu?”

“Ajak dia ke warung, traktir kopi atau apa kek,” kataku.

“Otak kamu pasti jadi ikutan miring kayak anak belakang ya,” katanya jengkel. “Kalau terjadi apa-apa sama aku tolong kabari ibuku ya,” ucapnya kepadaku dan Tina, sambi menyanyi kecil lagu “Mahal”-nya Maggie Z. dan keluar dari bus. Mencari Pak Cipto.

Kami semua sudah di bus sepuluh menit kemudian kecuali Pak Cipto dan Bowo.

“Itu lagi ngapain si Bowo?” tanya salah satu teman sekelas.

“Melancarkan misi.”

“Misi apaan sih?” Banyak orang kini penasaran.

“Tunggu aja.”

30 menit, 40 menit, 60 menit.

Ternyata lama juga. Yang lain ikut khawatir.

Dari arahku duduk, tak sulit mencari di mana mereka berdua berada. Mereka tengah duduk di sebelah warung kopi agak jauh dari parkiran, menghadap hamparan sawah dan bukit. Tempat itu memang paling sepi. Beberapa anak ikut mengintip di dekatku. Tapi segera bosan dan kemudian kembali ke kursi.

Dari tempat dudukku, kulihat punggung Pak Cipto tiba-tiba bergetar seperti orang terisak. Bowo menepuk-nepuk pundaknya seperti menenangkan. Pak Cipto betulan menangis. Beberapa mahasiswa seakan tertarik menonton dan menebak-nebak apa yang terjadi di laur sana. Bowo memberikan sapu tangannya untuk mengelap ingus Pak Cipto. Mereka berdua beranjak dari warung menuju bus, dan kini gantian Bowo yang ditepuk-tepuk pundaknya oleh Pak Cipto seperti mengucapkan terima kasih.

Pak Cipto masuk dengan wajah lebih cair, sekilas memandang kami semua sebelum menuju kursi kebesarannya. Tak menyangka, ia menyuruh Mas Tiyok menyetelkan CD yang diberikan Bowo sebelum berangkat. Lagu-lagu band Indie kesukaan Tina mengalun ke dari segala arah. Kini semua orang justru terheran.

Mereka celingukan ke arah Bowo minta penjelasan.

“Bukan ideku. Idenya si Alin tuh.” Bowo menunjukku dengan suara hampir tak terdengar. Ia memencet-mencet gawainya, menulis sesuatu di grup WA kelas kami.

“Tadi aku cuma disuruh jadi temen curhat Pak Cipto aja kok. Bener rupanya, Pak Cipto seneng ada yang mau dengerin curhat. Dia butuh pendengar yang baik. Eh, ternyata nyimak cerita hidupnya aku jadi ikut sedih lho, Gaes. Ternyata Pak Cipto habis ditinggal istrinya, selingkuh sama supir bus lain yang lebih mapan dan ganteng. Sekarang dia ngurus 4 anaknya sendirian. Mana dua anaknya ada yang tunarungu. Yang paling kecil masih balita lagi. Makanya dia sering dengerin lagu dangdut karena bagi dia musik itu kayak sahabat karib. Penyemangat kalau pas lagi kerja sama teringat nasib pahitnya sendiri.” Begitu yang Bowo tulis.

Semua orang kini membaca pesan Bowo di grup dengan hening. Entah kenapa aku jadi ikut sedih. Pantes saja tadi Pak Cipto terlihat menangis. Aneh juga melihat pria berpenampilan sangar menangis. Ternyata kita memang nggak bisa melihat seseorang dari penampilan.

Tiba-tiba, Dodit, anak bondes paling acakadul dari yang lain berdiri. Memberikan sebuah CD pada Mas Tiyok untuk disetel. Isinya lagu-lagu Maggie Z semua. Bedanya, kini tak ada wajah-wajah protes di dalam bus, semua ikut berdendang. Kecuali Tina tentu saha. Dan Pak Cipto menyetir dengan riang melajukan bus mengantar kami pulang.

 

 

*Cuplikan lagu diambil dari lagu Maggie Z. berjudul “Mahal”

*Dikirim untuk memenuhi tantangan ke-3 menulis bertema interpretasi lagu.

#katahatichallenge #katahatiproduction #cerpen #fiksi

Tradisi di Malam Satu Suro

 

Pada postinganku sebelumnya, aku sempat bercerita bahwa sebagian masyarakat di tempat tinggalku masih melakukan ritual mubeng beteng setiap malam satu Suro/Muharam. Ritual ini biasanya dilakukan oleh mereka yang menganut Kejawen. Sedangkan mubeng beteng berasal dari kata “mubeng” yang berarti berkeliling, dan “beteng” yang berarti benteng. Maksudnya memang berjalan mengelilingi benteng keraton. Meskipun masyarakat kejawen sekarang merupakan minoritas, tradisi ini tetap diselenggarakan dari tahun ke tahun dan nyaris tidak mengalami perubahan. Bahkan menjadi paling sakral dibanding tahun baru lain.

Di Yogyakarta sebetunya ada banyak tahun baru, yaitu tahun baru Masehi, Muharam, Imlek yang merupakan tahun baru warga Tionghoa, Nyepi bagi pemeluk Hindu, dan masih banyak lagi karena di sini masyarakat sangat beragam. Kita bisa menemukan orang-orang dari berbagai suku dan golongan yang menganut kepercayaan dan keyakinan yang berbeda-beda. Perayaan malam satu suro adalah jenis tahun baru yang jauh hingar-bingar. Orang-orang yang melakukan ritual ini tidak meniup terompet apalagi menyalakan kembang api. Memang sebagian besar warga muslim di Jogja mengadakan pengajian akbar untuk menyambut tahun baru islam di kampung-kampung. Tetapi warga tertentu yang masih tradisional melakukan tirakatan, lek-lekan (yang berarti tidak tidur semalaman), dan sebagian melakukan nyenyepi/bersemedi ke gunung, pantai, makam, dan tempat-tempat keramat lain.

pelepasan-lampah-budaya-mubeng-beteng_20161003_003205

Orang Jawa sendiri, terutama yang tinggal di daerahku, dikenal sangat menghargai peninggalan nenek orang moyang dan terikat dengan leluhur. Sampai-sampai mereka  diharapkan tidak merantau atau pindah jauh, kalau bisa tinggal di tanah nenek moyang. Ari-ari atau plasenta mereka ketika lahir ditanam di sekitar rumah. Harapannya, ari-ari membuat yang punya tak akan jauh dari “rumah” sepanjang hidupnya. Kalaupun merantau harus kembali suatu saat nanti. Tidak heran bila di Yogyakarta, orang-orang satu kampung bisa masih satu keluarga. Mereka juga akan menganut nilai-nilai dari zaman lampau. Termasuk pada perayaan ini.

Tradisi mubeng beteng ini semula digagas oleh Sultan Agung sekitar tahun 1613-1645 yang saat itu menganut Islam. Di daerahku, keraton (sebuatan dari kerajaan) menggunakan penanggalam tahun Hijriah. Meskipun idenya datang dari Sultan, tetapi beliau dan raja-raja setelahnya beserta keluarga sendiri tidak melakukannya. Mubeng beteng hanya dilakukan oleh abdi dalem dan masyarakat yang mau mengikuti saja. Wajar sih raja dan keluarganya tidak ikut. Aneh saja membayangkan ritual sesakral itu buyar karena mendadak banyak warga yang pengin berfoto dengan raja.

Sultan Agung waktu itu memikirkan cara terbaik bagaimana rakyatnya dapat menerima ajaran baru sementara mereka telah lekat dengan adat dan kebiasaan dari zaman mataram kuno yang mayoritas menganut Hindu. Raja pun mengambil jalan tengah dengan tidak serta merta menghilangkan kebiasaan lama, melainkan mengolaborasikannya dengan ajaran Islam. Seperti mengubah istilah penanggalan saka menjadi penanggalan hijriah.

Mubeng beteng mempunyai istilah lengkap “topo bisu mubeng beteng“. “Topo” berarti bertapa, “bisu” berarti tidak bicara. Pada topo bisu mubeng beteng, serangkaian ritual dilakukan. Sebelum dimulai, para abdi dalem memandikan kereta kuda, keris dan pusaka lain yang dinamakan dengan jamasan. Mencuci benda-benda keramat di keraton dilakukan dengan upacara. Mereka juga membacakan macapatan atau kidung berbahasa jawa. Para abdi ini menggunakan pakaian warna biru tua yang tidak mencolok, juga tidak membawa keris dan alas kaki. Di antaranya akan berkeliling sambil membawa bendera dan panji-panji kerajaan. Diikuti oleh masyarakat yang tak harus menggunakan pakaian adat berjalan di belakangnya. Mereka mengelilingi benteng keraton dengan diam tanpa bicara atau melakukan hal negatif sejak bada magrib. Omong-omong, para perokok aktif mesti mikir dua kali untuk bergabung dalam arak-arakan ini karena mereka akan berjalan sekitar 5 kilometer tanpa ngudud. Selain berbicara/mengeluarkan suara, seluruh peserta juga tidak diperbolehkan makan dan minum selama berkeliling.

kereta_3_ok

Macapat sendiri adalah sebuah tembang yang dilantunkan menjelang acara. Macapat yang kutemukan dari berbagai sumber ternyata mengacu pada puisi yang mengandung filosofi dan makna yang cukup dalam. Syairnya menceritakan fase kehidupan manusia dari sebelum lahir hingga kematiannya. Walisongo juga pernah menggunakannya untuk berdakwah. Isinya penuh nasihat dan petuah. Aku selalu senang mendengar tembang-tembang Jawa yang dilantunkan di Keraton meskipun tidak memahami artinya. Membahas syair macapat tentu tidak cukup dalam satu postingan.

Dalam ritual mubeng beteng, berjalan kaki adalah simbol dari laku prihatin. Para abdi akan berdoa untuk keselamatan dan ketenangan lahir batin diri sendiri, keluarga, kerjaaan, hingga untuk bangsa dan negara. Konon, doa orang-orang yang prihatin sering kali dikabulkan. Keheningan yang diciptakan pada ritual ini dimaksudkan untuk merefleksikan hubungan manusia dengan Tuhannya yang jauh dari hiruk-pikuk duniawi. Berdoa yang baik memang dalam ketenangan. Selain itu, acara ini sebagai ritual penting bagi masyarakat untuk berintrospeksi diri, bersyukur, merenung, dan mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa. Di zaman dulu mubeng beteng tidak hanya untuk berdoa, tetapi juga dalam rangka berjaga dari serangan musuh. Terutama sebelum benteng-benteng dibangun. Mungkin semacam jaga ronda bagi kerajaan.

Meski demikian sakral filosofi Malam Satu suro, ternyata banyak pula masyarakat di Yogyakarta masih menghubungkannya dengan mitos bernuansa horor. Mereka menganggap bahwa Muharam adalah bulan yang buruk. Saking buruknya, dalam bulan itu orang tidak boleh mengadakan hajatan atau menggelar acara besar. Pada malam satu Suro, ruh orang-orang yang meninggal kembali ke rumah masing-masing untuk menengok yang masih hidup. Dedemit, jin, setan, dan sebangsanya keluar ke alam manusia untuk melakukan perayaan besar. Terdengar mirip hallowen sih. Bedanya, orang-orang dilarang keras keluar rumah supaya tidak terkena sial. Orang boleh percaya ataupun tidak. Kalau aku sih memilih tidak. Aku akan sedih membayangkan almarhum kakek-kakekku mencariku di rumah dan kecewa karena ternyata aku sudah pindah. Jadi, mitos ini dipandang salah kaprah oleh sebagian besar masyarakat. Karena akan lebih baik meyakini tidak ada bulan yang buruk karena semua hari dan bulan itu baik untuk beraktivitas.

 

 

Cerita 2018

img_20190122_060348

Di Yogyakarta ada sebuah tempat bernama Krapyak. Orang-orang akan langsung teringat kandang menjangan atau panggung krapyak setiap mendengarnya, yaitu sebuah bagunan berbentuk kotak mirip benteng yang dulu digunakan oleh para raja dan para pangeran meletakkan hewan-hewan hasil buruan. Krapyak beratus tahun lalu adalah hutan belantara dengan berbagai binatang liar di dalamnya. Sekarang Krapyak adalah sebuah kampung yang penuh dengan rumah penduduk dan hiruk pikuknya. Kini juga menjadi tempat tinggalku sejak akhir tahun 2017 lalu.

Tak ada jejak hutan lagi di Krapyak, kecuali pohon-pohon tua besar di beberapa tempat dan masih terkadang kita dapat melihat burung-burung yang biasanya dipelihara orang di dalam kandang, asyik mematuk tanah di halaman. Bila kau bangun pagi dan membuka jendela, sejuknya udara akan menyeruak masuk hingga seluruh ruangan. Seperti udara dari masa lalu. Bila pagi, Krapyak seperti desa yang bangun dengan anggun. Terkadang tercium aroma dapur yang seperti masih menggunakan tungku. Pada jam 4, terdengar pula suara orang menyapu halaman. Nenekku yang tinggal di desa juga menyapu halaman di pagi buta. Orang dulu barangkali melakukan itu. Di sini banyak “orang dulu”.

Pada malam satu suro, masih banyak peduduk di sini melakukan ritual keliling benteng keraton. Mereka menganut adat dan begitu sering mengadakan kumpul mengaji. Tapi karena masih setengah desa, mereka juga masih akrab dengan mitos. Yang cukup menjengkelkan adalah perihal tuyul. Setiap ada warga kehilangan uang secara misterius, orang-orang akan ngobrol soal tuyul yang masih berkeliaran. Tetangga yang membuka warung, sempat bercerita padaku bahwa uang-uangnya sampai disimpan rapat, diikat dengan karet dan diberi rerempahan. Aku agak sedikit bergidik dan memakluminya, tapi tak ikut melakukannya. Sebetulanya aku bergidik karena lebih enggan dengan burung hantu besar warna hitam yang dipeliharanya, bertengger begitu dekat dengan kami dan memandangku dengan curiga. Paruhnya yang runcing itu bisa melubangi kulitmu kapan pun ia mau. Dua bulan setelah kami pindah pun, seorang tetangga lain menanyakan apakah pintu rumahku sempat diketuk sama orang yang nggak kelihatan. Aku tak ingat, tapi ia berharap aku tak perlu takut bila itu terjadi, karena biasanya makhluk ini hanya mengucapkan selamat datang. Sementara aku kerap sendiran saja, apalagi ketika dua bocah itu tidur, mitos-mitos ini sempat sedikit mengganggu. Tapi tidak membuatku gentar. Orang tak seharusnya takut sama hal-hal yang tak bisa disentuhnya.

Kampung ini religius menurut pandanganku. Beberapa hal memang sedikit membuat terkejut seperti nyanyian setiap habis azan, yang setelah kuamati betul-betul, ternyata itu sholawatan. Ada pula azan yang dikumandangkan pada jam 3 pagi. Nah, aku beruntung punya pengalaman tinggal di tempat dengan nuansa religius yang berbeda. Di kampung asalku, yang tak jauh dari Krapyak, memiliki kebiasaan yang tidak sama. Orang-orang muslim tidak tahlilan, tak ada sholawatan, dan semacamnya. Kalau mau mempelajari keberagaman, saya rasa di sinilah tempatnya. Sedikit membingungkan tapi seru, syukurlah, toleransi terjalin cukup baik di sini.

Lalu, tahun 2018 adalah tahun adaptasi terberat yang pernah kujalani. Di sisi lain tempat ini cukup nyaman bagiku. Kami bekerja keras membuat rumah di atas sepetak tanah leluhur suami kemudian memutuskan tinggal mandiri. Lokasinya sedikit jauh dari jalan raya, tapi semua tempat seperti dapat terjangkau. Tak jauh dari rumah ada pula superindo, pom bensin, toko-toko, rumah makan, dan meski pasar juga tidak jauh, tiap pagi sudah ada tukang sayur mangkal di depan rumah. Kendati demikian, mengurus dua balita dan tak ke mana-mana, dengan suami lebih banyak kesibukan di luar rumah tentu bukan hal mudah bagi siapa pun yang terbiasa dengan orangtua di sekitarnya. Bagiku yang terbiasa dengan riuhnya suasana rumah, kampung yang ramai, dan juga bisingnya jalanan, rumah ini jauh dari semua itu. Berat karena jadi sering kali tak memiliki teman bicara remeh-temeh. Tentu aku belum bisa bercerita bebas dengan anak-anak balita.

Tetapi tahun 2018 setidaknya banyak hal tercapai dengan cukup mudah. Seperti si sulung yang lebih cepat mandiri karena sering melihat emaknya harus nyambi-nyambi mengurus adiknya. Dalam setahun, tatangan demi tantangan sebagai ibu syukurlah mampu kulewati. Awal yang baik untukku.

Tahun 2018 pula, buku single pertamaku terbit. Memang hanya buku resep diet ala golongan darah tetapi cukup membuatku bersemangat menulis hal-hal bermanfaat di kemudian hari. Meskipun buku resep itu akhirnya jarang dieksekusi lagi karena tak ada yang diet di rumah. Tahun itu aku juga dapat pesanan membuat buku bertema pendidikan, yang sepertinya terbit tahun ini.

Pada tahun 2018 pula akhirnya aku bergabung dalam komunitas membaca buku di Instagram, yang akhirnya mengalihkanku dari rasa penat yang rawan. Senang karena jadi termotivasi menghabiskan timbunan di rak buku dan menambah wawasan. Setidaknya buku-buku ini adalah teman ngobrol yang mungkin jauh lebih baik daripada tembok dan laba-laba.

Apakah aku tak pernah merasa takut di tempat tinggal yang baru ini?
Tentu saja pernah.
Ketakutan pertamaku adalah sering berjumpa secara tiba-tiba dengan binatang-binatang berbahaya yang kukira hanya ada di ensiklopedi. Seperti kalajengking di wastafel dapur, kelabang yang tiba-tiba muncul di lantai, ular kisi di garasi, dan luwing yang katanya suka masuk di telinga orang. Dengan begitu aku jadi lebih serius bersih-bersih rumah dan bersikap waspada.

 

 

#catatanharian #kaleidoskop #katahatichallenge  #katahatiproduction