dirimu yang bisa

Kau takkan bisa mengendalikan orang lain, tentang bagaimana ia bersikap kepadamu, atau berpikir tentangmu. Tiba-tiba saja kita terpenjara oleh sesuatu yang tidak kita tahu.

Namun, yang mampu mengeluarkanmu dari sana adalah dirimu sendiri.

 

Surat untuk Ar

img_20180911_101630.jpg

 

Hai, Ar.

Bagaimana Romadan hari keduamu?

Apa kau masih bersemangat? Apakah ada sesuatu yang membuat hatimu tergerak ke arah sesuatu, mungkin semacam kesadaran? Mungkin hal yang lebih bagus lagi, kesalehan? Ya ampun, mengapa kamu malah tertawa?
Iya, dari wajahmu, aku tahu kau mengalami banyak hal belakangan ini. Beberapa membuatmu bersemangat, kau bisa menjalankan puasa setelah beberapa tahun vakum karena anak-anakmu masih butuh ASI. Dan hari ini kau bersemangat bisa menjalankannya sembari momong. Momong (maksduku, menjadi full time mom) di Indonesia adalah proses yang sulit diceritakan. Di samping kamu sepanjang hidup belajar menjadi ibu yang baik, kamu juga mesti mengalami berbagai “gangguan” yang datang dari luar, seperti nyiyiran dan hal-hal lain yang sesungguhnya tak memberikan kontribusi apa-apa. Kamu sering kali tak selamat dari nyiyiran orang yang sebetulnya tak benar-benar tahu hidupmu. Sementara cuma Tuhan yang tahu segala usaha terbaikmu. Kamu benar itu membuatmu bertambah dewasa. Aku tahu, kita hidup di dalam masyarakat yang gimana ya mengibaratkannya…, semacam “jenis masyarakat yang lebih cerewet mengurusi ibadah orang lain, sedangkan keluarganya sendiri tak beribadah.” Untunglah, kamu cenderung cuek.

Tetapi kau tak bisa membohongi semua orang termasuk aku, kau tengah berusaha untuk selalu bangkit, sebab semakin hari kamu semakin sering kehilangan ketertarikan terhadap hal-hal yang semula membuatmu percaya. Memang sedih mengetahui kamu tengah kehilangan rasa percaya. Apakah itu iman?

Ada apa denganmu akhir-akhir ini?
Tanaman-tenaman depan rumahmu mengering. Rumput-rumput liar di sekitar tanaman daun mint beranak pinak. Bahkan bibit binahong dari ibumu kemarin habis dimakan ayam-ayam tetangga, tidak jadi tumbuh menjadi rimbun seperti yang pernah dibicarakan ibuk kepadamu. Kau tak tahu hal itu?

Rasanya aku tak mengerti. Memang aku tahu ada masa-masa seperti hari ini yang kerap kau lewati dalam diam.
Kau memang sempat mengalami di mana hubunganmu dengan Tuhan tidak terlalu baik. Kau malas salat, kau tak menyimak satu pun kajian keagamaan di televisi atau di media sosial. Memang kamu tak perlu datang ke pengajian karena siapa yang akan menjaga anak-anakmu di rumah? Beberapa waktu lalu ketika kamu datang dengan salah satunya pun, kamu bukannya menyimak materi, tetapi malah sibuk mengawasi anakmu yang lebih tertarik main di jalan dan memanjat gerbang.

Apakah kau sedang terlalu lelah? Aku heran, karena biasanya kau bisa bangkit sendiri dari gelapnya rasa lelah tanpa bantuan.

Tapi ada sisi di mana kamu berusaha tetap tegak berdiri karena dua anakmu membutuhkanmu. Dan kamu harus senantiasa memakai berbagai topeng supaya tidak terlihat lelah atau tengah marah dengan sesuatu. Kamu ini kuat, percayalah padaku.
Kamu juga tak sendirian, ada jutaan ibu sepertimu di luar sana, meskipun tak saling mengenal, mereka tak beda jauh darimu.
Kau tak membayangkan sebelumnya ini akan terjadi, tapi ternyata terjadi. Kamu memang harus menerima dan butuh waktu untuk itu. Dan kehidupan tetap berjalan.

Sudahlah, mari kita bicara hal-hal yang lain saja. Omong-omong… masih bisa fokuskah kamu dengan pekerjaan-pekerjaan baru yang datang belakangan ini? Menarik bukan, karena mereka sesuai dengan bidangmu. Masih bersemangatkah dirimu memegang cita-cita? Masihkah kamu nyaman menjadi diri sendiri?
Atau malah mengalami sesuatu yang berkebalikan, seperti ingin melepaskan semuanya dan pergi jauh? Kuharap itu tak pernah terjadi. Tolong jalanilah sebab kamu bisa, Ar. Ada orang-orang seperti keluargamu yang bahkan selalu ada untukmu. Maka demi mereka, orang-orang yang butuh kamu bahagia, bekerjalah dengan gembira.

Sesungguhnya, jauh dari kesibukan yang kini kau jalani, di dalam lubuk perasaanmu, kulihat kamu amatlah kesepian, Ar. Aku paham soal itu. Barangkali kau sedang kembali mengalami reading slump? Oh, jangan. Jangan pernah meninggalkan kebasaan itu, Ar. Setiap kau membaca buku, kau dapat hidup dengan normal. Maksudku, kau tidak akan jadi makhluk aneh yang suka bengong dan bingung di tengah malam atau pagi buta. Membaca membuatmu memiliki teman ngobrol yang mampu mengisi kekosongan jiwamu bukan? Kau takkan merasa sendirian. Tapi bagaimana sih kamu ini, belakangan bahkan kamu hanya membaca buku dan melupakannya? Kadang membaca beberapa halaman, sebagian halaman, tanpa ingin tahu kelanjutannya… bahkan tanpa menuliskan sesuatu yang mungkin bisa kau bagi di media sosial spaya orang tertarik pula membacanya. Bukunya Matt Haig yang kemarin hari kau baca? Bukankah kontennya menarik? Kamu juga sempat membaca karya Mira W. tentang penderita bipolar yang menurutmu perlu dibaca semua orang, kamu juga sempat membaca beberapa esai di buku Catatan Pinggir-nya Goenawan Muhamad yang mampu mengisi insomniamu.

Ke mana kebiasaan menulismu? Ada apa dengan hobi membacamu?
Jangan lupa menulis sesuatu setiap kali kamu merasa tak mengerti dengan dirimu sendiri, Ar. Itu penting supaya kamu tidak lekas meledak.

Kau boleh kehilangan rasa percaya pada keindahan di dunia, tapi jangan menyerah untuk mencari cahaya meski hanya dari seberkas lilin.

Mungkin saat ini, kamu merasa kegelapan pantas untukmu, tapi tidak untukku. Aku juga membutuhkanmu. Bagaimana jadinya aku tanpa dirimu yang tersenyum utuh?

 

 

-Dari seseorang di cermin kamarmu-

Review: Le Petit Prince

img_20180914_143734

Judul: Le Petit Prince
Penulis: Antoine de Saint-Exupery
Penerbit: PT GPU
Cetakan ke-10: tahun 2018
Jumlah halaman: 118
ISBN : 9786020323411

 

Dalam pengasingannya pada tahun 1941 hingga 1943 di Amerika, Antoine de Saint-Exupery menulis sesuatu yang lain dari biasanya. Tentang seorang pilot yang terdampar di Gurun Sahara dan bertemu dengan seorang pangeran kecil dari planet lain. Dan buku ini untuk anak-anak?

Kenyataannya memang banyak tokoh di dunia ini tetap menulis ketika berada di dalam tahanannya. Dan banyak penulis cerdas membuat alegori untuk mengatakan sesuatu tanpa tampil “blak-blakan”. Termasuk Antoine yang menulis novel ini dalam pengasingannya. Saya jadi ingat Pramoedya A.T. yang juga sempat menulis novel ketika diasingkan di Pulau Buru. Dan buku-buku yang ditulisnya bukan tentang hal-hal yang biasa. Seperti Duong Thu Huong yang tetap menulis selama dan setelah dipenjara oleh pemerintah sosialis Vietnam yang pernah ikut diperjuangkannya. Diasingkan tidak membuat seorang penulis sejati lantas berhenti berkarya.

Bertemu seorang anak berpakaian aneh ini juga pengalaman yang menakjubkan bagi si pilot dalam novel ini, yang merupakan representasi si penulisnya sendiri. Pangeran kecil ini innocent, ia mempertanyakan segala hal yang tak dipikirkan orang-orang dewasa pada umumnya. Entah mengapa saya selalu suka tokoh-tokoh innocent entah dalam buku maupun film. Tokoh-tokoh polos menurut saya lebih berani mempertanyakan sesuatu dari dasar, tidak sungkan bertanya tentang hal-hal yang memang ada di kepalanya, dan mereka biasanya akan terbuka terhadap segala jawaban yang ditemuinya.

Ia bercerita pada si pilot bahwa ia telah mengembara ke planet-planet tetangganya yang berisi orang-orang dewasa yang begitu aneh. Tak kalah aneh pula yang ia temui tatkala ia sampai di bumi. Kisah si pangeran cilik melakukan perjalanan dari planet ke planet ini sungguh tidak bisa dilewatkan.

“Apa yang mereka cari?” Begitu yang ia tanyakan ketika menemui si tukang wesel di sebuah stasiun di Planet Bumi yang penuh dengan orang yang terburu-buru. “Manusia,” kata Pangeran Cilik, “mereka menjejalkan diri ke dalam kereta api kilat, tetapi lupa apa yang mereka cari.” (hlm 97)

Sisi lain yang menarik dari novel ini menurut saya adalah tema tentang kasih sayang yang universal. Si pengeran cilik diceritakan hanya mengenal 1 bunga mawar di planetnya. Bunga ini sangat bawel tapi yang paling peduli. Meskipun ia bertemu dengan ribuan bunga yang sama di bumi, pada akhirnya hanya satu bunga itulah yang paling penting. “Kamu menjadi bertanggung jawab untuk selama-lamanya atas siapa yang telah kamu jinakkan” (hlm 88). Begitulah hingga ia harus pergi karena merasa telah membuang waktu dengan meninggalkan si bunga sendirian di planetnya.

Gaya bahasa dalam novel ini memang terkesan sederhana sehingga mudah dipahami, tapi isinya yang bertema filsafat ringan mengajak pembaca merenungi hidup yang mungkin sudah terlalu biasa bagi orang dewasa. Buku ini berhasil mengubah banyak hal tak lagi biasa dengan kembali pada pertanyaan polos ala anak-anak.

Meskipun demikian, novel yang telah diterjemahkan ke dalam 200 bahasa ini lebih direkomendasikan untuk remaja ke atas.

Berhenti Saja Dulu

Akhirnya kukatakan ini pada diri sendiri. Lega rasanya sudah menghentikannya. Mungkin untuk saat ini aku rehat dulu dari hal-hal yang bersifat kompetisi.

Pertama, sepertinya aku nggak siap untuk perlombaan. Apa lagi yang membuat ngoyo. Sudah tantangan kesekian, dan aku bahkan menyiapkan beberapa bahan tulisan hasil pengamatan di lingkungan. Ternyata aku tetap nggak memiliki waktu yang cukup. Tak apa sih. Nggak semua rencana harus segera berjalan hingga sampai ke tujuan.

Aku juga baru ingat, untuk belajar menulis dengan konsisten, ada banyak cara, kita nggak perlu menempuh hanya satu jalan. Ini memang cuma alasan malas aja sih, haha. Mungkin aku akan tetap membaca tulisan-tulisan peserta lain di waktu senggang dan melakukan blogwalking. Aku akan terus belajar. Aku masih perlu memotivasi diriku untuk lebih banyak baca dulu untuk saat ini.

Menurutku, kita bisa rutin mengikuti atau bahkan bikin challenge kita sendiri kapan pun kita ingin. Itu pun nggak harus sekarang. Bisa saja kapan-kapan kalau waktu sudah mendukung. Sekarang kan aku punya prioritas lebih penting. Lagipula aku sudah berjanji pada diri sendiri untuk mengurangi penggunaan gadget, fokus momong anak-anak, dan rutin baca buku per minggu di tahun ini. Anak-anak lagi senang-senangnya meniru perilaku orang dewasa. Kan nggak adil, aku yang selama ini mengondisikan anak-anak supaya nggak tertarik sama gadget, eh malah akunya sendiri yang sering pegang handphone.

Kalau pun aku harus nge-blog, langkah pertama yang harus kulakukan adalah beberes ala Konmari. Banyak hal yang harus dibenahi lebih dulu. Sudah jadi tujuan awal membuang sampai tuntas postingan yang tidak diperlukan dan simpan yang benar-benar penting. Atau lanjut memposting review buku-buku yang sudah dibaca. Segala hal berkait buku dan jenis bacaan lain saja. Membereskan ala Konmari adalah proyek akhir tahun lalu dan masih akan teap berjalan sampai benar-benar tuntas. Ternyata ini hal simpel yang mengerjakannya butuh ketelatenan dan waktu yang panjang. Menulis hal sepele seperti ini saja harus menunggu anak-anak tidur.

Lagipula lelah jadi orang lain. I mean, menulis sesuai keinginan segelintir orang. Aku mau jadi diri sendiri. Menulis hal-hal yang memang ingin aku tulis. Dan kalau memang sudah waktunya aku belajar nulis dengan serius, maka akan ada saatnya, barangkali aku juga akan belajar pada guru-guru yang aku sendiri akrab dengan karya-karyanya. Semua ada saatnya. Nanti juga aku tak lagi bermasalah menulis hal-hal yang bukan aku, atau sesuai permintaan. Secara profesional barangkali. Aku sudah terbiasa bilang “tidak” untuk hal-hal yang kurang sreg. Aku juga terbiasa nyari-nyari alasan kalau lagi malas sih. Seperti hari ini, hehe.

Sekian.

Review “Matilda”

img_20180912_093155_hdr

Judul: Matilda
Penulis: Roald Dahl
Ilustrasi: Quentin Blake
Penerbit: Noura Books
Jumlah halaman: 278
Cetakan I: tahun 2018

 

 

 

Matilda Wormwood adalah bocah cilik yang genius. Ia telah bisa membaca secara autodidak di usia 4 tahun. Dan pada usia 5 tahun, ia tidak hanya menghabiskan seluruh buku anak di perpustakaan umum, tetapi juga membaca buku-buku karya penulis besar seperti Charles Dickens, Ernest Hemingway, hingga George Orwell. Matilda tumbuh menjadi sangat cemerlang di usianya yang masih sekecil itu. Menurut gurunya, bahkan ia sebetulnya sudah cocok masuk universitas dua tahun mendatang. Ironisnya ia tidak hidup di lingkungan yang sesuai dengan yang ia butuhkan.

Ayahnya adalah pengusaha mobil bekas yang licik dan hanya menyayangi anak lelakinya. Ibunya hampir setiap sore meninggalkannya di rumah demi bermain bingo. Di rumah, ia menghadapi kedua orang tua yang selalu mengabaikannya, bahkan menganggapnya koreng. Matilda harus berkerja keras mengingatkan mereka bahwa usianya sudah cukup untuk bersekolah. Dan pada akhirnya ketika ia masuk sekolah, tantangan demi tantangan masih harus dihadapi. Ia harus bertemu dengan seorang kepala sekolah yang tiran dan membenci anak-anak. Di rumah dan di sekolah, Matilda selalu bertemu “monster”. Orang-orang dewasa seperti mereka bahkan tak peduli ada yang istimewa pada diri Matilda. Namun alih-alih membuat iba, polah Matilda di kemudian hari justru mengundang ketakjuban dan tawa.

Bagaimana tidak, demi mencegah dirinya meledak karena tertekan, ia membuat hal-hal konyol untuk memberi “pelajaran” pada orang-orang dewasa yang suka menindas, bahkan tanpa ketahuan. Hingga datang pada suatu hari di sekolah, sebuah keajaiban muncul. Matilda tiba-tiba saja dapat menggerakkan benda-benda tanpa menyentuhnya. Kemampuan yang ajaib itu pun akhirnya ia gunakan untuk menolong orang yang paling peduli dengannya.

Tentu saja buku ini berhasil membuat saya jatuh cinta sejak halaman pertama hingga terakhir. Tidak hanya cara bercerita Roald Dahl yang enak diikuti, bahasa yang ringan, dan plot yang menarik, tapi juga banyak nilai moral yang dapat direnungkan. Humor cerdas yang bertebaran dalam buku ini juga nggak kalah menariknya. Tak heran sih buku ini pernah memenangkan Children’s Book Award pada tahun 1988 dan 1999.

Novel ini sebetulnya bisa dibaca semua umur, recommended banget deh pokoknya. Saya terbiasa mendaftar buku-buku jadul yang berkualitas dan masih relevan dari zaman ke zaman. Dan ini salah satu yang ada di daftar itu kalau menurut saya. Meski bisa dibaca segala usia, tetapi bahasanya sedikit lebih rumit untuk anak-anak di bawah umur. Saya jadi pengin baca karya Roald Dahl yang lain.

 

Ke Sarangan Kita Berdendang

Di dunia ini, kita kadang lupa bersyukur memiliki sepasang telinga. Telinga, bagi yang berfungsi baik, akan menangkap banyak hal di sekitarnya meski belum tentu mampu “mendengar”. Indra kita yang satu ini tidak akan tahan dengan keheningan yang kosong dalam waktu lama. Kemudian sebagian dari kita menyukai bunyi-bunyian yang disebut musik. Memang ada juga orang-orang yang tidak terlalu suka musik sepertiku. Tetapi, bisa dikatakan setiap orang memiliki kecederungan suka mendengar sesuatu yang khas. Bisa sebuah lagu, suara tokek di malam hari, bising pasar, gemerisik daun, atau sekadar suara seseorang yang dirindukan.

Tampaknya kita juga sepakat, mendengar sesuatu yang sama berulang-ulang menjenuhkan bagi siapa pun. Terutama bila kita tidak menyukainya. Tapi bagaimana bila mau tak mau, kita berada dalam kondisi itu dan tak bisa menghindar?

Seperti hari ini, bus besar yang kami tumpangi telah melaju 2 jam dari Yogyakarta, sekarang memasuki Solo dan harus bertemu macet selama sejam. Tidak ada masalah dengan busnya. Bus yang memuat 50 penumpang ini cukup nyaman untuk berwisata. Full AC, wangi apel, coffe maker, kursi berbantal, dan selimut yang baru dicuci, televisi, dan wi-fi. Tapi musik yang menyala dari dari sistem audionya membuat siapa pun seperti sudah 3 hari terperangkap di dalamnya. Katakanlah bila satu lagu berlangsung 7 menit. Kami telah tiga jam mendengarnya.

Terlalu mahal harus kubayar
Kecuranganmu dengan…
Dengan air mata…
Dengan air mata…

“Sudah yang ke-26.” Ternyata seorang teman yang duduk di belakangku menghitungnya. Ia sibuk membaca Mrs. Dalloway sepanjang jalan tetapi sempat menyimak dan menghitung lagu. Yang terlihat paling nelangsa adalah Tina, teman di sampingku. Ia kini membenamkan diri ke dalam selimut, menyerah karena tak bisa menutupi telinganya rapat-rapat. Ponselnya kehabisan daya dan mati. Sedari tadi ia mendengar musik kesukaannya sendiri dengan earphone.

“Aku kangen denger suaranya Bruno Mars, lagu-lagunya Payung Teduh, Banda Neira, John Lagend, dan…” Ia menyebutkan semuanya.

“Sabar. Kita kayaknya sejam lagi sampai,” kataku menenangkannya sekaligus mengingatkan diriku sendiri. “Demi nilai A, kita mesti semangat.”

Aku mengingat beberapa hari lalu Bu Noerna, dosen mata kuliah Penulisan Kreatif kami mengumumkan sesuatu, bahwa ia tidak bisa menemani ujian semester minggu depan karena harus menyusul suaminya ke Belanda. Sebagai gantinya, ia memberikan opsi. Pertama mengerjakan 50 soal open book tapi tidak boleh copy paste. Opsi kedua mengadakan perjalanan wisata dan harus menuliskan sebuah karya terbaik. Kami semua memilih opsi kedua. Apalagi setelah beliau bilang akan mensubsidi separuh dari seluruh biaya perjalanan. Dan semua yang mengerjakan dijamin dapat A, asal tidak plagiat dan harus menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Kulihat semua orang tampak gelisah. Tentu bukan karena macet yang sedang terjadi di pusat Kota Solo. Seorang dari kami maju meminta supir menghentikan bus di pom bensin terdekat dengan alasan mau pipis. Tapi aku tahu ia sedang ingin keluar dari bus untuk muntah yang kelima kalinya. Yang lain ikut menghambur keluar mencari saklar, masjid, minuman hangat, camilan, udara segar, dan sekadar selfie ketika bus menemukan rest area.

“Kamu ngerasa ada yang aneh nggak sih dengan Pak Supir?” Seorang kawanku, Bowo, yang sekaligus koordinator acara ini, berbisik ke arahku. Ia jadi koordinator karena ialah satu-satunya yang bisa disuruh-suruh. Bahkan bila kausuruh ia mengambil sandal jepitmu yang nyemplung sumur, ia akan mengambilnya.

“Iya sih. Mungkin dia nggak punya referensi lagu lain?”

“Aku rasa karena tidak bisa memutar tape-nya. Soalnya aku sudah menyerahkan CD musik kita. Tapi cuma diletakkan aja di dekat bangku.”

“Maaf ya, Adik-Adik.” Tiba-tiba tour guide kami, Mas Tiyok mendekat dengan tampang khawatir. “Perjalanan kalian jadi nggak nyaman. Pak Cipto, driver kita memang penggemar dangdut. Sebetulnya sekarang yang nyetir Pak Mangun, tapi karena tiba-tiba masuk angin, jadi supir satu-satunya yang bisa berangkat cuma Pak Cipto.”

Kami menoleh ke arah Pak Cipto yang tengah merokok di dekat pohon. Ia terlihat menanti dengan sabar seperti cara menyetirnya. Meski tampangnya garang, berkumis tebal, badan  besar, tato di lengan dan separuh wajah, ia driver yang tak suka nyalip bus lain dengan brutal. Bahkan cenderung pelan dan berhati-hati. Kini aku, Tina, Bowo, dan Mas Tiyok tampak seperti membuat perkumpulan kecil yang mencurigakan.

“Boleh minta tolong bilang ke Pak Cipto nggak Mas, supaya ganti musiknya? Dangdut nggak papa, tapi yang penting jangan itu terus,” kata Bowo.

Mas Tiyok ragu. Ia bukan tidak pernah mencoba memintanya pada Pak Cipto.

“Nah itu dia. Sebetulnya dia nggak biasanya seperti ini. Tadi sudah saya tegur, tapi beliau jawab kalau musiknya diganti, dia khawatir bakal ngantuk terus tidur tiba-tiba pas lagi nyetir. Kalau sudah tidur bakal sulit bangunnya.”

Baik Tina maupun Bowo tampak bergidik. Mereka membayangkan betapa nggak asyik mendengar lagu “Mahal” berulang-ulang sampai hari kiamat. Meski demikian, tentu lebih nggak asyik lagi naik bus yang supirnya ketiduran. Mereka pun menerima nasib. Apalagi mengingat bakalan dapat nilai A di mata kuliah yang dosennya terkenal pelit nilai itu.

Tina terlihat sangat kesal. Ia hobi mendengar musik pop indie yang liriknya sulit dimengerti itu dan sangat anti dangdut. Ia berjalan lesu, tampak seperti lebih ingin masuk neraka ketimbang kembali ke bus.

Jalan ke arah Sarangan rupanya sedikit membuat tak sadar menahan napas. Berkelok-kelok dengan pemandangan kanan kiri yang penuh jurang. Sedikit membuat ngeri tetapi sepadan dengan pemandangan indah yang terhampar sejauh mata memandang. Sejenak kami mengabaikan musik favorit Pak Cipto yang masih hingar bingar di dalam bus yang melaju pelan karena teralihkan dengan jajaran rumah di perbukitan seperti di luar negeri. Kabut terlihat di mana-mana. Sebelum turun pun kami sudah membayangkan udara perbukitan yang sejuk dan segar.

Sebelum sampai lokasi, kami sempat deg-degan dengan tanjakan yang sangat curam. Tetapi dengan tenang, Pak Cipto mampu menaikkan kendaraan tanpa membuat seorang pun khawatir. Memarkirnya dengan santai.

Kami sampai di sebuah penginapan kecil. Sepertinya semua orang di bus ini bernapas lega dan buru-buru keluar dari sana seolah lagu “Mahal” bakal mengikuti mereka. Tetapi memang lagu ini cukup membekas bagi beberapa orang. Siang ketika kami bersiap berkemas di kamar masing-masing untuk berkeliling danau, terdengar seorang mahasiswa bernyanyi.

Katanya tebu manis airnya
Kucoba tanam di pinggir hati
Tumbuh memang tumbuh
Sayang sayang sayang
Tebu berduri menusuk hati

Layar berlayar
Perahu kayu
Biarlah biarlah kini
Tanpa dirimu

“Itu lagi, itu lagi!” Seorang anak melemparinya dengan kaus kaki bau hingga ia terkejut dan berhenti bernyanyi. Terdengar tawa berderai sambil misuh-misuh setelahnya.

Sarangan tempat yang indah untuk refreshing dan mencari inspirasi. Kami memanfaatkan waktu dua hari itu untuk berkeliling danau, melihat air terjun dan mencoba makanan khas seperti sate kelinci. Tak lupa mencicil tugas karya tulis mumpung ide mendadak berdatangan.

Sore di hari selanjutnya kami pulang dengan bus yang sama dan tentu driver dan musik yang tak berubah.

Lama kutunggu kejujuranmu
Terkadang harus menanggung kekecewaan

Terlalu mahal harus kubayar
Kecuranganmu dengan dengan air mata
Dengan air mata
Dengan air mata…

Bowo dan beberapa yang lain bersenandung menirukan lagu dengan riang. Beberapa yang lain menirukan dengan nada pilu. Sepertinya mau tidak mau banyak dari kami akhirnya menghafal lagu ini di luar kepala karena selalu mendengarnya baik sedang terjaga maupun tidur.

Anak-anak geng bondes di kursi paling belakang sibuk membicarakan cara-cara yang mungkin bisa membuat supir mau menghentikan lagu konyolnya. Entah itu dengan menyetel musik hard rock di HP keras-keras, menggemboskan ban, mengunci Pak Sopir di kamar mandi umum, dan hal-hal dungu lainnya. Tetapi, aku yakin takkan ada yang berani melakukannya. Di samping ide-ide itu dapat merugikan seluruh penumpang juga, melihat perangai Pak Cipto yang jarang bicara tapi bermuka sangar itu pun sudah bikin siapa pun keder. Akhirnya tak ada hal lain yang dilakukan semua orang kecuali pasrah menyimak dan terkadang mendendangkan lagu itu dalam hati.

“Aku kepikiran satu cara,” kataku nyaris seperti bergumam.

“Apa itu?” tanya Tina yang sudah terlihat tak punya harapan hidup.

“Kayaknya itu tugasmu deh, Wok.” Aku memanggil Bowo yang duduk tak jauh dari tempatku.

“Iya, semua kan memang tugasku.”

Dalam hal ini Bowo yang paling bisa diandalkan. Apalagi kalau sudah denger iming-iming nilai A dan dibantuin garap tugas. Kami bertiga, bersama Tina, melakukan rapat kecil sambi berbisik ketika bus berhenti di rest area dan semua keluar untuk pipis dan muntah.

“Kamu yakin bakal berhasil?”

“Nggak tahu.”

“Terus aku kudu ngapain dulu?”

“Ajak dia ke warung, traktir kopi atau apa kek,” kataku.

“Otak kamu pasti jadi ikutan miring kayak anak belakang ya,” katanya jengkel. “Kalau terjadi apa-apa sama aku tolong kabari ibuku ya,” ucapnya kepadaku dan Tina, sambi menyanyi kecil lagu “Mahal”-nya Maggie Z. dan keluar dari bus. Mencari Pak Cipto.

Kami semua sudah di bus sepuluh menit kemudian kecuali Pak Cipto dan Bowo.

“Itu lagi ngapain si Bowo?” tanya salah satu teman sekelas.

“Melancarkan misi.”

“Misi apaan sih?” Banyak orang kini penasaran.

“Tunggu aja.”

30 menit, 40 menit, 60 menit.

Ternyata lama juga. Yang lain ikut khawatir.

Dari arahku duduk, tak sulit mencari di mana mereka berdua berada. Mereka tengah duduk di sebelah warung kopi agak jauh dari parkiran, menghadap hamparan sawah dan bukit. Tempat itu memang paling sepi. Beberapa anak ikut mengintip di dekatku. Tapi segera bosan dan kemudian kembali ke kursi.

Dari tempat dudukku, kulihat punggung Pak Cipto tiba-tiba bergetar seperti orang terisak. Bowo menepuk-nepuk pundaknya seperti menenangkan. Pak Cipto betulan menangis. Beberapa mahasiswa seakan tertarik menonton dan menebak-nebak apa yang terjadi di laur sana. Bowo memberikan sapu tangannya untuk mengelap ingus Pak Cipto. Mereka berdua beranjak dari warung menuju bus, dan kini gantian Bowo yang ditepuk-tepuk pundaknya oleh Pak Cipto seperti mengucapkan terima kasih.

Pak Cipto masuk dengan wajah lebih cair, sekilas memandang kami semua sebelum menuju kursi kebesarannya. Tak menyangka, ia menyuruh Mas Tiyok menyetelkan CD yang diberikan Bowo sebelum berangkat. Lagu-lagu band Indie kesukaan Tina mengalun ke dari segala arah. Kini semua orang justru terheran.

Mereka celingukan ke arah Bowo minta penjelasan.

“Bukan ideku. Idenya si Alin tuh.” Bowo menunjukku dengan suara hampir tak terdengar. Ia memencet-mencet gawainya, menulis sesuatu di grup WA kelas kami.

“Tadi aku cuma disuruh jadi temen curhat Pak Cipto aja kok. Bener rupanya, Pak Cipto seneng ada yang mau dengerin curhat. Dia butuh pendengar yang baik. Eh, ternyata nyimak cerita hidupnya aku jadi ikut sedih lho, Gaes. Ternyata Pak Cipto habis ditinggal istrinya, selingkuh sama supir bus lain yang lebih mapan dan ganteng. Sekarang dia ngurus 4 anaknya sendirian. Mana dua anaknya ada yang tunarungu. Yang paling kecil masih balita lagi. Makanya dia sering dengerin lagu dangdut karena bagi dia musik itu kayak sahabat karib. Penyemangat kalau pas lagi kerja sama teringat nasib pahitnya sendiri.” Begitu yang Bowo tulis.

Semua orang kini membaca pesan Bowo di grup dengan hening. Entah kenapa aku jadi ikut sedih. Pantes saja tadi Pak Cipto terlihat menangis. Aneh juga melihat pria berpenampilan sangar menangis. Ternyata kita memang nggak bisa melihat seseorang dari penampilan.

Tiba-tiba, Dodit, anak bondes paling acakadul dari yang lain berdiri. Memberikan sebuah CD pada Mas Tiyok untuk disetel. Isinya lagu-lagu Maggie Z semua. Bedanya, kini tak ada wajah-wajah protes di dalam bus, semua ikut berdendang. Kecuali Tina tentu saha. Dan Pak Cipto menyetir dengan riang melajukan bus mengantar kami pulang.

 

 

*Cuplikan lagu diambil dari lagu Maggie Z. berjudul “Mahal”

*Dikirim untuk memenuhi tantangan ke-3 menulis bertema interpretasi lagu.

#katahatichallenge #katahatiproduction #cerpen #fiksi

Tradisi di Malam Satu Suro

 

Pada postinganku sebelumnya, aku sempat bercerita bahwa sebagian masyarakat di tempat tinggalku masih melakukan ritual mubeng beteng setiap malam satu Suro/Muharam. Ritual ini biasanya dilakukan oleh mereka yang menganut Kejawen. Sedangkan mubeng beteng berasal dari kata “mubeng” yang berarti berkeliling, dan “beteng” yang berarti benteng. Maksudnya memang berjalan mengelilingi benteng keraton. Meskipun masyarakat kejawen sekarang merupakan minoritas, tradisi ini tetap diselenggarakan dari tahun ke tahun dan nyaris tidak mengalami perubahan. Bahkan menjadi paling sakral dibanding tahun baru lain.

Di Yogyakarta sebetunya ada banyak tahun baru, yaitu tahun baru Masehi, Muharam, Imlek yang merupakan tahun baru warga Tionghoa, Nyepi bagi pemeluk Hindu, dan masih banyak lagi karena di sini masyarakat sangat beragam. Kita bisa menemukan orang-orang dari berbagai suku dan golongan yang menganut kepercayaan dan keyakinan yang berbeda-beda. Perayaan malam satu suro adalah jenis tahun baru yang jauh hingar-bingar. Orang-orang yang melakukan ritual ini tidak meniup terompet apalagi menyalakan kembang api. Memang sebagian besar warga muslim di Jogja mengadakan pengajian akbar untuk menyambut tahun baru islam di kampung-kampung. Tetapi warga tertentu yang masih tradisional melakukan tirakatan, lek-lekan (yang berarti tidak tidur semalaman), dan sebagian melakukan nyenyepi/bersemedi ke gunung, pantai, makam, dan tempat-tempat keramat lain.

pelepasan-lampah-budaya-mubeng-beteng_20161003_003205

Orang Jawa sendiri, terutama yang tinggal di daerahku, dikenal sangat menghargai peninggalan nenek orang moyang dan terikat dengan leluhur. Sampai-sampai mereka  diharapkan tidak merantau atau pindah jauh, kalau bisa tinggal di tanah nenek moyang. Ari-ari atau plasenta mereka ketika lahir ditanam di sekitar rumah. Harapannya, ari-ari membuat yang punya tak akan jauh dari “rumah” sepanjang hidupnya. Kalaupun merantau harus kembali suatu saat nanti. Tidak heran bila di Yogyakarta, orang-orang satu kampung bisa masih satu keluarga. Mereka juga akan menganut nilai-nilai dari zaman lampau. Termasuk pada perayaan ini.

Tradisi mubeng beteng ini semula digagas oleh Sultan Agung sekitar tahun 1613-1645 yang saat itu menganut Islam. Di daerahku, keraton (sebuatan dari kerajaan) menggunakan penanggalam tahun Hijriah. Meskipun idenya datang dari Sultan, tetapi beliau dan raja-raja setelahnya beserta keluarga sendiri tidak melakukannya. Mubeng beteng hanya dilakukan oleh abdi dalem dan masyarakat yang mau mengikuti saja. Wajar sih raja dan keluarganya tidak ikut. Aneh saja membayangkan ritual sesakral itu buyar karena mendadak banyak warga yang pengin berfoto dengan raja.

Sultan Agung waktu itu memikirkan cara terbaik bagaimana rakyatnya dapat menerima ajaran baru sementara mereka telah lekat dengan adat dan kebiasaan dari zaman mataram kuno yang mayoritas menganut Hindu. Raja pun mengambil jalan tengah dengan tidak serta merta menghilangkan kebiasaan lama, melainkan mengolaborasikannya dengan ajaran Islam. Seperti mengubah istilah penanggalan saka menjadi penanggalan hijriah.

Mubeng beteng mempunyai istilah lengkap “topo bisu mubeng beteng“. “Topo” berarti bertapa, “bisu” berarti tidak bicara. Pada topo bisu mubeng beteng, serangkaian ritual dilakukan. Sebelum dimulai, para abdi dalem memandikan kereta kuda, keris dan pusaka lain yang dinamakan dengan jamasan. Mencuci benda-benda keramat di keraton dilakukan dengan upacara. Mereka juga membacakan macapatan atau kidung berbahasa jawa. Para abdi ini menggunakan pakaian warna biru tua yang tidak mencolok, juga tidak membawa keris dan alas kaki. Di antaranya akan berkeliling sambil membawa bendera dan panji-panji kerajaan. Diikuti oleh masyarakat yang tak harus menggunakan pakaian adat berjalan di belakangnya. Mereka mengelilingi benteng keraton dengan diam tanpa bicara atau melakukan hal negatif sejak bada magrib. Omong-omong, para perokok aktif mesti mikir dua kali untuk bergabung dalam arak-arakan ini karena mereka akan berjalan sekitar 5 kilometer tanpa ngudud. Selain berbicara/mengeluarkan suara, seluruh peserta juga tidak diperbolehkan makan dan minum selama berkeliling.

kereta_3_ok

Macapat sendiri adalah sebuah tembang yang dilantunkan menjelang acara. Macapat yang kutemukan dari berbagai sumber ternyata mengacu pada puisi yang mengandung filosofi dan makna yang cukup dalam. Syairnya menceritakan fase kehidupan manusia dari sebelum lahir hingga kematiannya. Walisongo juga pernah menggunakannya untuk berdakwah. Isinya penuh nasihat dan petuah. Aku selalu senang mendengar tembang-tembang Jawa yang dilantunkan di Keraton meskipun tidak memahami artinya. Membahas syair macapat tentu tidak cukup dalam satu postingan.

Dalam ritual mubeng beteng, berjalan kaki adalah simbol dari laku prihatin. Para abdi akan berdoa untuk keselamatan dan ketenangan lahir batin diri sendiri, keluarga, kerjaaan, hingga untuk bangsa dan negara. Konon, doa orang-orang yang prihatin sering kali dikabulkan. Keheningan yang diciptakan pada ritual ini dimaksudkan untuk merefleksikan hubungan manusia dengan Tuhannya yang jauh dari hiruk-pikuk duniawi. Berdoa yang baik memang dalam ketenangan. Selain itu, acara ini sebagai ritual penting bagi masyarakat untuk berintrospeksi diri, bersyukur, merenung, dan mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa. Di zaman dulu mubeng beteng tidak hanya untuk berdoa, tetapi juga dalam rangka berjaga dari serangan musuh. Terutama sebelum benteng-benteng dibangun. Mungkin semacam jaga ronda bagi kerajaan.

Meski demikian sakral filosofi Malam Satu suro, ternyata banyak pula masyarakat di Yogyakarta masih menghubungkannya dengan mitos bernuansa horor. Mereka menganggap bahwa Muharam adalah bulan yang buruk. Saking buruknya, dalam bulan itu orang tidak boleh mengadakan hajatan atau menggelar acara besar. Pada malam satu Suro, ruh orang-orang yang meninggal kembali ke rumah masing-masing untuk menengok yang masih hidup. Dedemit, jin, setan, dan sebangsanya keluar ke alam manusia untuk melakukan perayaan besar. Terdengar mirip hallowen sih. Bedanya, orang-orang dilarang keras keluar rumah supaya tidak terkena sial. Orang boleh percaya ataupun tidak. Kalau aku sih memilih tidak. Aku akan sedih membayangkan almarhum kakek-kakekku mencariku di rumah dan kecewa karena ternyata aku sudah pindah. Jadi, mitos ini dipandang salah kaprah oleh sebagian besar masyarakat. Karena akan lebih baik meyakini tidak ada bulan yang buruk karena semua hari dan bulan itu baik untuk beraktivitas.

 

 

Cerita 2018

img_20190122_060348

Di Yogyakarta ada sebuah tempat bernama Krapyak. Orang-orang akan langsung teringat kandang menjangan atau panggung krapyak setiap mendengarnya, yaitu sebuah bagunan berbentuk kotak mirip benteng yang dulu digunakan oleh para raja dan para pangeran meletakkan hewan-hewan hasil buruan. Krapyak beratus tahun lalu adalah hutan belantara dengan berbagai binatang liar di dalamnya. Sekarang Krapyak adalah sebuah kampung yang penuh dengan rumah penduduk dan hiruk pikuknya. Kini juga menjadi tempat tinggalku sejak akhir tahun 2017 lalu.

Tak ada jejak hutan lagi di Krapyak, kecuali pohon-pohon tua besar di beberapa tempat dan masih terkadang kita dapat melihat burung-burung yang biasanya dipelihara orang di dalam kandang, asyik mematuk tanah di halaman. Bila kau bangun pagi dan membuka jendela, sejuknya udara akan menyeruak masuk hingga seluruh ruangan. Seperti udara dari masa lalu. Bila pagi, Krapyak seperti desa yang bangun dengan anggun. Terkadang tercium aroma dapur yang seperti masih menggunakan tungku. Pada jam 4, terdengar pula suara orang menyapu halaman. Nenekku yang tinggal di desa juga menyapu halaman di pagi buta. Orang dulu barangkali melakukan itu. Di sini banyak “orang dulu”.

Pada malam satu suro, masih banyak peduduk di sini melakukan ritual keliling benteng keraton. Mereka menganut adat dan begitu sering mengadakan kumpul mengaji. Tapi karena masih setengah desa, mereka juga masih akrab dengan mitos. Yang cukup menjengkelkan adalah perihal tuyul. Setiap ada warga kehilangan uang secara misterius, orang-orang akan ngobrol soal tuyul yang masih berkeliaran. Tetangga yang membuka warung, sempat bercerita padaku bahwa uang-uangnya sampai disimpan rapat, diikat dengan karet dan diberi rerempahan. Aku agak sedikit bergidik dan memakluminya, tapi tak ikut melakukannya. Sebetulanya aku bergidik karena lebih enggan dengan burung hantu besar warna hitam yang dipeliharanya, bertengger begitu dekat dengan kami dan memandangku dengan curiga. Paruhnya yang runcing itu bisa melubangi kulitmu kapan pun ia mau. Dua bulan setelah kami pindah pun, seorang tetangga lain menanyakan apakah pintu rumahku sempat diketuk sama orang yang nggak kelihatan. Aku tak ingat, tapi ia berharap aku tak perlu takut bila itu terjadi, karena biasanya makhluk ini hanya mengucapkan selamat datang. Sementara aku kerap sendiran saja, apalagi ketika dua bocah itu tidur, mitos-mitos ini sempat sedikit mengganggu. Tapi tidak membuatku gentar. Orang tak seharusnya takut sama hal-hal yang tak bisa disentuhnya.

Kampung ini religius menurut pandanganku. Beberapa hal memang sedikit membuat terkejut seperti nyanyian setiap habis azan, yang setelah kuamati betul-betul, ternyata itu sholawatan. Ada pula azan yang dikumandangkan pada jam 3 pagi. Nah, aku beruntung punya pengalaman tinggal di tempat dengan nuansa religius yang berbeda. Di kampung asalku, yang tak jauh dari Krapyak, memiliki kebiasaan yang tidak sama. Orang-orang muslim tidak tahlilan, tak ada sholawatan, dan semacamnya. Kalau mau mempelajari keberagaman, saya rasa di sinilah tempatnya. Sedikit membingungkan tapi seru, syukurlah, toleransi terjalin cukup baik di sini.

Lalu, tahun 2018 adalah tahun adaptasi terberat yang pernah kujalani. Di sisi lain tempat ini cukup nyaman bagiku. Kami bekerja keras membuat rumah di atas sepetak tanah leluhur suami kemudian memutuskan tinggal mandiri. Lokasinya sedikit jauh dari jalan raya, tapi semua tempat seperti dapat terjangkau. Tak jauh dari rumah ada pula superindo, pom bensin, toko-toko, rumah makan, dan meski pasar juga tidak jauh, tiap pagi sudah ada tukang sayur mangkal di depan rumah. Kendati demikian, mengurus dua balita dan tak ke mana-mana, dengan suami lebih banyak kesibukan di luar rumah tentu bukan hal mudah bagi siapa pun yang terbiasa dengan orangtua di sekitarnya. Bagiku yang terbiasa dengan riuhnya suasana rumah, kampung yang ramai, dan juga bisingnya jalanan, rumah ini jauh dari semua itu. Berat karena jadi sering kali tak memiliki teman bicara remeh-temeh. Tentu aku belum bisa bercerita bebas dengan anak-anak balita.

Tetapi tahun 2018 setidaknya banyak hal tercapai dengan cukup mudah. Seperti si sulung yang lebih cepat mandiri karena sering melihat emaknya harus nyambi-nyambi mengurus adiknya. Dalam setahun, tatangan demi tantangan sebagai ibu syukurlah mampu kulewati. Awal yang baik untukku.

Tahun 2018 pula, buku single pertamaku terbit. Memang hanya buku resep diet ala golongan darah tetapi cukup membuatku bersemangat menulis hal-hal bermanfaat di kemudian hari. Meskipun buku resep itu akhirnya jarang dieksekusi lagi karena tak ada yang diet di rumah. Tahun itu aku juga dapat pesanan membuat buku bertema pendidikan, yang sepertinya terbit tahun ini.

Pada tahun 2018 pula akhirnya aku bergabung dalam komunitas membaca buku di Instagram, yang akhirnya mengalihkanku dari rasa penat yang rawan. Senang karena jadi termotivasi menghabiskan timbunan di rak buku dan menambah wawasan. Setidaknya buku-buku ini adalah teman ngobrol yang mungkin jauh lebih baik daripada tembok dan laba-laba.

Apakah aku tak pernah merasa takut di tempat tinggal yang baru ini?
Tentu saja pernah.
Ketakutan pertamaku adalah sering berjumpa secara tiba-tiba dengan binatang-binatang berbahaya yang kukira hanya ada di ensiklopedi. Seperti kalajengking di wastafel dapur, kelabang yang tiba-tiba muncul di lantai, ular kisi di garasi, dan luwing yang katanya suka masuk di telinga orang. Dengan begitu aku jadi lebih serius bersih-bersih rumah dan bersikap waspada.

 

 

#catatanharian #kaleidoskop #katahatichallenge  #katahatiproduction

 

 

Khusus

Malam ini aku sudah menyelesaikan membaca sebuah novel yang sialnya ber-ending menggantung. Sepertinya, gegara minggu belakangan ini aku sedang iseng membaca novel bergenre romantis dan aku jadi kapok.
Lalu belum mengantuk, aku membaca KBBI. Aku menelusuri beberapa istilah.

pri-vat: 1. pribadi; 2. tersendiri; 3.partiklir

Privat merujuk sesuatu yang bersifat pribadi. Pribadi barangkali merujuk pada hal-hal yang tidak dibagi pada siapa pun kecuali diri sendiri atau seseorang terdekat atau yang dianggap spesial.

Bila kau menyuka kesendirian dan privasi, maka sesuatu yang telah terbagi-bagi dan semua orang tahu tentu bukan lagi hal yang menarik. Aku khawatir kita memiliki sisi kanak-kanak di mana kita selalu memiliki ruang rahasia yang hanya diri sendiri atau orang-orang tertentu yang tahu. Bila ruang rahasia itu telah diketahu semua orang, maka tempat itu bukan lagi markas khusus.

oh iya, “khusus”. Apakah arti istilah khusus?

khusus (adjektiva): khas, istimewa, tidak umum.

Aku yakin setiap orang di negeri ini sudah tidak lagi khusus ketika mereka tinggal bersama masyarakat yang gotong royong. Sebab semuanya harus bersama. Semuanya harus sama. Semua orang harus tahu apa yang kita alami. Kita harus tahu banyak pula tentang orang lain. Terkadang aku masih menemukan kampung-kampung tertentu bahkan harus menyamakan bendera partai yang harus dipilihnya. Betapa lucunya itu. Kampung tempatku tinggal selalu perang dingin dengan kampung lain yang memiliki bendera partai berbeda.

Lalu apa itu umum? Orang-orng di negriku sering kali menyamakan istilah berbaur dengan “umum”. Berbaur di sini diartikan dengan sesuatu di mana kita tidak lagi khusus, dan masalah khusus kita sebaiknya jadi masalah umum. Karena saking dekatnya masyarakat dengan istilah umum ketimbang khusus, maka sudah hal biasa suami istri tinggal bersama orang tua/mertua dan keluarga besar kemudian membagi hal-hal khusus mereka menjadi wacana bersama.
Pernikahan yang digelar megah pun sudah bukti bahwa itu sudah jadi hal umum. Mulai detik itu juga, pasangan baru mesti siap menjadi sorotan baru pula bagi orang-orang di sekitarnya. Kapan punya anak? Kapan ngasih adik ke anak pertama? Kok nggak KB? dan remeh-temeh lainnya yang selalu jadi pembicaraan bersifat umum.

Bila kau membuka kamus bahasa, kau akan terkejut dengan kenyataan bahwa “umum” memiliki penjabaran yang cukup panjang. Penulis kamus ini mungkin saja orang yang lebih antusias dengan keumuman ketimbang sebaliknya. Abaikan, tentu itu hanya pikiran isengku.

umum: 1 a mengenai seluruhnya atau semuanya; secara menyeluruh, tidak menyangkut yang khusus
(tertentu) saja: 2 a untuk orang banyak; (untuk orang) siapa 3 n orang banyak; khalayak ramai:
4 v tersiar (rata) ke mana-mana; (sudah) diketahui orang banyak:

Pernahkah kau menjadi seseorang yang tidak lagi “khusus”? Apa hal sakral terakhir yang kau alami belakangan ini? Lalu apakah itu sakral? Tiba-tiba saja aku ingin mencari artinya.

sakral:
sa-kral/ suci; keramat.

Entah apakah khusus dan sakral ada keterkaitannya. Tapi jika sesuatu itu sudah tak lagi keramat, apakah masih indah jadinya? Seperti menemukan pulau yang kau kira tak ada siapa pun misalnya, ternyata telah penuh dengan turis.

Sejujurnya aku masih bingung mencari contoh perpaduan istilah-istilah itu di kehidupan sehari-hari. Apakah seperti ini contohnya:

Obrolanmu barangkali sudah jadi sekadar basa-basi dan persoalan kebutuhan sehari-hari. Dan obrolan semacam ini sudah jadi hal umum, karena kamu bisa saja membiacarakan itu pada semua orang. Barangkali semacam obrolan soal cuaca dengan teman lama yang baru saja ditemui.

Tapi jika sesuatu itu telah menjadi milik banyak orang, maka dinamakan umum. Kukira. Jadi bila engkau memiliki sesuatu yang bersifat sakral pada seseorang dan kemudian ternyata kamu bukan satu-satunya ataupun istimewa, maka sesuatu itu bukan lagi bersifat pribadi, maka tidak lagi disebut hal privat. Bila ada sebuah kabar di mana kamu orang terakhir tahu atau bukan satu-satunya yang tahu, maka bisa dibilang “tidak ada yang spesial dari dirimu” seperti yang kau kira selama ini. Namun, karena perasaan seperti itu sudah biasa kualami sejak dulu, aku tak lagi tekejut.
Bagaimana denganmu?

Ya memang, bukankah kita akan selalu berada di dua hal ini: umum dan khusus? Dan kita memiliki ukuran sendiri untuk memisahkannya. Berbeda-beda pula.

Memang ada perasan seperti menjadi berharga dan penting setiap ada yang membagi rahasianya padaku. Selalu saja aku tergelitik ingin bertanya, “apakah aku sesuatu yang ‘khusus’ bagimu?”
Aku selalu merasa penting bagi ibuku karena alasan itu, beliau selalu membagi cerita rahasianya padaku.

Setidaknya aku bersyukur karena aku masih bisa ngobrol dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia seperti dini hari ini. Banyak hal yang kuobrolkan dengan buku-buku sering kali hal-hal khusus, lebih karena tak mungkin juga dipahami orang lain. Ada banyak hal dari hidup kita tak bisa kita bagi pada orang lain. Ada sebagian dari hal-hal itu justru lebih mudah dibicarakan pada orang lain ketimbang dengan yang terdekat.

Jadi, aku beruntung karena masih memiliki beberapa hal di mana aku tak bisa membaginya pada seorang pun: buku-buku yang cuplikannya sering kali menyentuh dan kesunyian yang lebih memahami.

Mata yang Bercerita

Mestinya, kita di sini
Duduk di tepi pantai dengan segelas kopi
Akan aku dengar ceritamu hari ini
Mungkin tentang matahari yang bersembunyi
Atau burung-burung yang lupa bernyanyi

Nyatanya, ada muram di matamu
resah yang sulit dijabarkan
Mengingatkanku dengan buku yang kubaca kemarin hari
Ada bahasa di dunia ini, rupanya, yang kutahu
hanya cukup dimengerti kita sendiri
Ah, mari kita tulis saja puisi
Atau kita akan terbelah karena saling menanti

Ataukah kita akan di sini saja sore ini
duduk di tepi beranda
Menatap hiruk pikuk jalan raya
dan menebak-nebak setiap cerita
di balik mata lelah orang-orang yang berjalan kaki

Tapi yang ingin kupandangi sesungguhnya adalah engkau
dan sepasang mata yang selalu saja membuatku bertanya
Sepasang ruang yang setiap kukunjungi
akan menghilang seperti senja yang keburu pergi
Andaikan saja, aku bisa menerjemahkan cara matamu bercerita

 

Yogyakarta, 27 Oktober 2018

 

*Puisi ini diikutsertakan di OWOB Challenge, Menulis Puisi bertema “Mata” Oktober 2018

Review: Modern Islamic Parenting

35564780_2087462968242531_2209632391708803072_n

Judul: Modern Islamic Parenting
Penulis: DR. Hasan Syamsi
Penerbit: Aishar Publishing
Cetakan 1: November 2017
Bahasa: Indonesia
ISBN: 978-602-1243-08-4
Jumlah halaman: 312

 

Hampir tidak ada gaya parenting yang sempurna di dunia ini. Tapi setiap orang tua menginginkan cara yang ideal untuk menerapkannya. Meski bertahun berkecimpung di dunia pendidikan anak, saya tetap merasa harus belajar lebih banyak. Sebab mengajari anak orang lain ternyata bisa beda ceritanya dengan mengajari anak kandung sendiri. Mendidik anak sendiri tidak hanya terbatas sekian jam di kelas, tetapi sepanjang waktu di mana pun itu. Tanggung jawabnya juga lebih berat. Konon bahkan dilaporkan kepada Allah kelak di hari akhir. Dalam proses belajar mendidik anak, tak jarang saya mengadopsi ilmu dari berbagai buku dan artikel. Terkadang masih terpengaruh juga dengan beberapa gaya mendidik orang tua saya. Tetapi pada intinya, saya setuju anak-anak (di keluarga muslim) mestinya dibesarkan sesuai dengan nilai-nilai islami pula. Nah dari sini saya tahu, ini sedikit menantang bagi saya mengingat anak-anak tumbuh di lingkungan islami yang sedikit beragam. Maklum tinggal di Jawa, keluarga besar kami tergolong plural. Tapi tentu saya tidak mempermasalahkan keberagaman itu, karena anak-anak akan tetap tumbuh dalam dunia yang menantang di luar sana, yang perlu bagi saya sebagai orang tua, menjadi pengarah yang mampu membawa mereka pada pencerahan, dan bukan sebaliknya. Memiliki anak-anak yang mampu menjaga dirinya dan tak mudah terbawa arus negatif pastilah sungguh damai rasanya.

“Sekiranya kamu bersikap keras lagi kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. (Ali Imlan: 159)

Beruntung saya menemukan buku Modern Islamic Parenting yang ditulis oleh DR. Hasan Syamsi melalui pengalamannya selama 20 tahun membesarkan anak-anak. Menjadi orang tua kan, meminjam istilah Elly Risman, nggak bisa terjun bebas. Melainkan harus belajar juga. Saya juga membacanya berulang-ulang selama beberapa minggu ini dan merasa tertarik dengan isinya. Buku ini berisi paduan mendidik anak dengan lembut sesuai ajaran Nabi namun masih relevan diterapkan di masa sekarang. Sayangnya buku ini belum terdaftar di goodreads. Padahal menurut saya, isinya mencakup hampir semua yang dibutuhkan para orang tua mendidik anak-anaknya untuk berkarakter islami. Secara garis besar buku ini menerangkan beberapa poin untuk dijadikan pedoman dalam membentuk anak-anak yang islami. Pertanyaan-pertanyaan kecil saya terkait bagaimana sih cara paling ideal membentuk generasi islami, terjawab di buku ini.

Dibuka dengan uraian singkat terkait tanggung jawab orang tua terhadap kehidupan anak-anak termasuk juga pentingnya memposikan diri sebagai orang tua yang diidolakan anak. Sampai di sini, saya menyadari perlunya refleksi diri sebagai orang tua selama ini karena bagaimanapun orang tualah figur utama anak-anak. Mereka akan meniru dan bertindak sesuai apa yang dilihat sejak dini. Menerapkan kebiasaan baik seperti mengucapkan tolong, maaf, dan permisi, menggosok gigi, sholat, bahkan menyukai buku meski belum bisa membacanya, mudah dilakukan ketika mereka masih berada di usia dini. Nah ternyata, mereka pun juga peniru ulung yang belum bisa memilah baik dan buruk. Belajar dari pengalaman, saya pernah shock mendengar anak pertama saya mengucapkan istilah kasar yang tidak pernah didengar di rumah. Maka kami yang orang rumah selalu mengalihkan pada istilah lain dan lucu untuk diucapkan hingga ia lupa dengan sendirinya. Sejak itu, saya jadi tahu pentingnya menjaga anak-anak dari efek buruk lingkungan luar yang kurang sesuai dengan prinsip keluarga.

Pada buku ini, ada banyak poin yang dibahas terkait mendidik anak secara islami, yaitu seperti:

  • Memahami jenis mainan dan hadiah untuk anak,
  • Pentingnya belajar menyelesaikan masalah,
  • Menghukum dengan tepat,
  • Pendidikan seks usia dini,
  • Hingga pada membentuk karakter anak sejak dini.

 

Tak hanya itu, buku ini juga merangkum hal-hal yang akan ditemui orang tua tatkala anaknya beranjak remaja dan apa yang sebaiknya dilakukan. Tak lupa, karena ini buku yang full mengarahkan para orang tua membentuk anak-anak yang soleh, maka di beberapa bab di buku ini Hasan Syamsi juga menambahkan arahan mengenai bagaimana agar anak-anak kita dapat menjadi pengafal Al-Quran, salah satunya adalah meminimalisir atau malah menjauhkan mereka dari hingar bingar televisi dan gadget. Di akhir halaman, buku ini dilengkapi pula dengan doa agar anak-anak kita dimudahkan dalam menghafal Al-Quran. Sekalipun saya nggak muluk-muluk ingin anak saya mengahafal seluruh isi Al-Quran, tapi saya memprioritasnkan hanya hal-hal baik yang dipelajari mereka pada usia dini sebagai landasan untuk proses belajar di tahun-tahun berikutnya. Dan tak terasa, di usia anak pertama yang belum 3 tahun, alhamdulillah, ia hafal beberapa surat (yang pendek) Juz ‘Ama, doa sehari-hari, dan juga ayat kursi.

Bahasa yang dituturkan dengan ringan pada buku ini membuat pembaca mudah memahaminya. Namun menurut saya, tiap bab di buku ini dibahas dengan kurang mendalam. Tiap subbab dalam buku ini kalaupun dipecah menjadi beberapa buku pun tetap bisa. Kendati demikian, buku ini isinya berbobot dan mudah dipahami, meskipun susunan per pembahasan sedikit acak-acakkan. Membaca buku ini ibarat sedang menyimak seorang ustadz dalam sebuah forum yang tengah sibuk menjawab seabrek pertanyaan dari para jamaah. Terkadang tidak berurutan tapi setiap pembahasan mengandung informasi penting yang rugi kalau dilewatkan.

“Kita ajarkan kepadanya bahwa dusta dan iman tidak menyatu, dan dusta kecil ataupun besar sama saja.”–(h. 236)

Sayang ditemukan banyak kalimat negasi yang pilih penulis dalam buku yang bertema pendidikan islami ini, padahal kalimat positif lebih mudah dipahami ketimbang yang negatif. Seperti pada halamn 40- “Ketika salah seorang teman berbuat tidak baik, jangan berlaku kasar dan berkata kepadanya, ‘Saya tidak ingin kau membawa perilaku burukmu ke rumah kami'” dan kalimat selanjutnya hanya berupa “Usahakan untuk memberi penjelasan kepadanya dengan tenang.” Pada halaman 45 bahkan hanya berisi contoh-contoh kalimat ancaman yang tidak boleh dilontarkan tanpa dilengkapi dengan alternatif kalimat yang positif yang dapat diterapkan orang tua. Namun tidak mengapa, dengan begitu, pembaca seolah diajak aktif berpikir dan kretif mencari sendiri kalimat terbaik untuk dikatakan kepada putra-putrinya. Syukurlah kalimat negatif yang sejenis hanya sebagian kecil saja di buku ini.

Buku ini menarik untuk dibaca dan diterapkan orang tua kepada anak-anaknya. Apalagi seperti halnya buku-buku islami lain, materinya didukung oleh pengalan surat Al-Quran dan hadist yang sahih. Kalau sudah begitu saya, jadi tambah luluh. Namun orang tua meski tak habis ikhtiarnya untuk menjadikan anak-anaknya ahli surga, perlu juga bertawakal. Sebab, hasil kan tetap saja di tangan Allah. Saya bahkan ingin sekali menjadikan isi buku ini pedoman. Barangkali sejak selesai baca ini saya terdorong membuat semacam evaluasi dalam jurnal pribadi berdasarkan poin-poin di buku ini seiring dengan perkembangan dan proses belajar saya sebagai orang tua.

Buku ini diperuntukkan bagi siapa pun yang membutuhkan semacam gambaran bagaimana mendidik yang tepat dan islami sesuai dengna anjuran Nabi. Recommended bagi orang tua, calon orang tua, atau siapa pun yang tengah berjuang mendidik anak-anak.

 

Of Mice and Men by John Steinbeck: Ulasan Singkat

32212419_1706975229351864_5420380845040992256_n

Judul: Of Mice and Men (Tragedi Hidup Manusia)
Penulis: John Steinbeck
Penerjemah: Shita Athiya
Penerbit: Selasar Surabaya Publishing
Cetakan 1: September 2011
Bahasa: Indonesia
ISBN: 978-979-25-9413-3
Jumlah halaman: 150

 

Blurb:

Berusahalah memahami masing-masing manusia, karena dengan memahami satu sama lain. kalian bisa bersikap baik satu sama lain. Mengenal baik seorang manusia tak pernah berakhir dengan membencinya dan nyaris selalu menjadi mencintainya.

 

George bertubuh kecil namun cerdas dan pemimpi. Ia ingin suatu hari dapat memperbaiki hidup, tak lagi menjadi buruh kasar dan memiliki tanah sendiri. Sedangkan Lennie bertubuh besar namun memiliki keterbelakangan mental. Mereka harus pindah lagi dan mencari pekerjaan pada tuan tanah yang baru di Soledad.

Mereka terusir karena sebuah kasus. Lennie dituduh memperkosa seorang gadis, padahal yang sebenarnya ia hanya tertarik pada tekstur roknya. Bahkan suka memegangi hewan-hewan kecil seperti tikus, kelinci, dan anak anjing hanya karena tertarik dengan bulu-bulunya, tanpa menyadari bahwa perbuatannya membuat hewan-hewan kecil tersebut terbunuh. Hal-hal kecil seperti yang Lennie lakukan ini sering kali menyulitkan hidup sahabatnya, George yang tengah berjuang mewujudkan impian.

Novel ini terbit tahun 1937, pada dekade 1930-an, ketika masih terjadi krisis global. Bahkan merupakan kisah yang terinspirasi oleh pengalaman hidup penulis sendiri yang pernah menjadi buruh. George dan Lennie merepresentasikan kaum buruh kasar. Novel ini menceritakan dua orang sahabat dari kelas pekerja kasar yang melakukan perjalanan bersama karena perasaan sepi. Goerge pun membutuhkan Lennie sebagai teman perjalanan yang tak memiliki niat jahat sedikit pun.

“Tak perlu otak untuk menjadi orang yang baik. Kelihatan bagiku kadang-kadang tepat terjadi sebaliknya. Lihat saja orang yang benar-benar pintar dan biasanya hampir tak pernah jadi orang baik.” (Hlm. 54)

Sebetulanya novel ini memiliki ide cerita yang sederhana. Memberikan pesan kepada pembaca bahwa memiliki teman yang menyulitkan lebih baik daripada tidak memilikinya sama sekali. Meski seolah bercerita tentang perjalanan 2 orang sahabat yang mengadu nasib dalam keadaan yang penuh keterbatasan, secara tersirat, Steinbeck lebih banyak bercerita tentang kondisi para buruh dan kisah-kisah kemanusiaan lain. Termasuk juga isu rasisme terhadap warga kulit berwarna.

Novel ini tentulah keren pada zamannya. Dituturkan dengan gaya sederhana ala Steinbeck dan ide yang dekat dengan kondisi masyarakat saat itu, membuat novel ini pantas meraih penghargan di bidang kesusastraan. Of Mice and Men, yang membuat miris perasaan ini pun menyuguhkan ending yang bikin geleng-geleng kepala.

John Steinbeck sendiri konon telah menerbitkan 27 buku selama hidupnya, termasuk 16 novel, 5 kumcer, dan 6 buku nonfiksi. Dan setelah membaca karya yang ini, saya jadi penasaran sama karya Steinbeck yang lain.

 

 

Buku Single Pertama: Sehat dengan Resep Rumahan Ala Golongan Darah


IMG_20180505_230701Memasak bukan lagi kegiatan yang mengerikan bagi saya ketika kepepet. Kepepet yang saya maksud adalah sejak saya menikah, hamil, dan kemudian mesti merawat anak-anak. Saya baru sadar bahwa memasak makanan sehat itu begitu penting karena kalau beli di luar nggak selalu ada. Kita semua, terlebih anak-anak butuh sekali makanan sehat, bahkan sejak mereka masih berbentuk embrio. Satu-satunya cara menjamin mereka mendapat asupan sehat adalah membuatnya sendiri di rumah. Dan hanya seperti itulah memang motivasi seorang ibu sehinga tiba-tiba ia jadi suka ngubrek-ngubrek dapur. Di samping itu, rasanya memang urusan hidup sehat seluruh anggota keluarga lebih banyak tergantung dari dapur.

Hingga pada suatu ketika di tahun 2016 lalu, tiba-tiba saya mendapat tawaran menyusun buku resep bertema diet ala golongan darah dari seorang teman yang bekerja sebagai editor di Penerbit Javalitera. Antara senang dan ragu. Senang karena selalu ada pembelajaran baru di setiap pekerjaan yang akan saya selesaikan, dan ragu apakah nanti saya bisa. Masalahnya membuat resep makanan biasa saja nggak mudah, apalagi itu ditujukan untuk diet. Sesuai golongan darah pula. Berhubung kata teman saya, naskah tetap bakal diproof-kan ke ahli gizi sebelum diterbitkan, maka saya pun setuju mengerjakannya.

Sejak itu, hal-hal terkait dapur membuat saya terkagum. Konon jenis makanan tertentu dapat menimbukan reaksi yang berbeda pada tubuh yang berbeda pula. Pada cabai misalnya, tak seberapa parah efeknya dikonsumsi satu orang, tapi bisa berbahaya dikonsumsi yang lainnya meskipun sama-sama menyukai rasanya. Teringat Simbah Selatan (Ibunya ibu saya), pernah bercerita perihal jenis tumbuhan yang beracun bila salah mengolahnya, dan simbah utara (ibunya bapak) yang hobi menuliskan hal-hal terkait tumbuhan herbal, mengoleksi tanamannya, dan juga suka juga menceritakannya, maka saya pun percaya, memang segala hal yang tumbuh di sekitar kita, hampir bisa dikonsumsi. Tanaman kimpul, sejenis umbi-umbian, bisa dikonsumsi asal harus dari pohon yang daunnya tidak gatal. Di bidang tanaman obat, ada jenis tanaman insulin yang bila dikonsumsi tanpa menggunakan kapsul, rasa pahitnya bisa bertahan di mulut hinga 2 hari. Tapi semua itu butuh dipelajari. Seperti kata Eka Kurniawan dalam cerpennya “Kutukan Dapur”, karena beberapa bisa membuat sekarat bila engkau memakannya, dan yang lain membuatmu hidup bila memakannya dalam keadaan sekarat. Entah mengapa saya malah jadi penasaran “Rijsttafel” dan “Jejak Rasa Nusantara”-nya Fadly Rahman. Jadi pengin juga baca karya-karyanya Jean anthelme Brillant-Savarin, yang konon pernah menuliskan dalam bukunya, bahwa makanan juga juga berpengaruh pada psikologi manusia.

Untuk itulah saya bersyukur mendapat kesempatan menyusun buku ini, meski dua bulan rasanya nggak cukup kalau yang dibuat model begini. Saya jadi ingat proses ketika mulai dikerjakan. Demi menyusun buku ini, saya kudu menyiapkan referensi terkait golongan darah, menggolongkan lebih dahulu bahan yang boleh atau tidak boleh disertakan dalam resep ala diet sehat, kemudian mencari bahan makanan, menakar, memodifikasi dari resep yang sudah ada, tes rasa, hingga memotretnya. Resep sudah sesuai prinsip diet golongan darah tapi rasanya masih ambyar tentu harus diulang. Begitulah seterusnya sampai ketemu takaran yang pas dan masuk akal. Sempat nyesel sih kenapa nggak dari dulu saya belajar memotret makanan lebih serius karena di tahap pemotretan inilah saya sempat ketar-ketir.

Referensi yang paling banyak saya gunakan dalam proses ini tentunya buku-buku karya Dr. Peter J D’Adamo yang telah mengkaji lebih dalam mengenai hubungan golongan darah dan tipe pola hidup sehat yang sesuai. Penemu pertama golongan darah memang bukan Dr. Peter J D’Adamo, melainkan Karl Lansteiner. Namun kajian mengenai kesehatan lebih banyak ke Dr. Peter J D’Adamo. Ssebelum semua resep ini disusun dan dieksekusi, tentu saya membutuhkan daftar jenis makanan yang direkomendasikan atau tidak direkomendasikan untuk dikonsumsi masing-masing golongan darah.

Daftar resep makanan dalam buku ini sebenarnya sangat akrab di lidah kita sehari-hari. Mudah pula dibuatnya. Tapi yang membuat buku ini berbeda karena bahan-bahannya sudah disesuaikan dengan golongan darah. Pada prinsip diet golongan darah ala Dr. Peter J D’Adamo, dikatakan bahwa setiap golongan darah memiliki reaksi tertentu yang berbeda terhadap satu makanan. Makanan tertentu bisa cocok dengan salah satu golongan darah, namun kurang sesuai bila dikonsumsi golongan darah lain. Misalnya, resep bertema daging lebih banyak ditemukan untuk golongan darah O karena memang golongan ini yang lebih cocok mengonsumsi daging. Sedangkan golongan darah A, lebih banyak membutuhkan sayur dan beberapa protein dari telur dan ikan yang masih diperbolehkan namun dalam jumlah terbatas. Resep dalam buku ini juga terbagi tiga di tiap-tiap golongan darah, yaitu masakan utama, kudapan, dan minuman.

Tentu saja, diet ala golongan darah hanya sebagai pilihan di antara banyak pilihan diet lainnya. Sifatnya hanya rekomendasi. Diet golongan darah sebetulnya lebih luas pembahasannya. Dalam diet golongan darah, jenis olahraga yang dianjurkan untuk masing-masing golongan pun berbeda. Namun buku ini tentu lebih banyak membahas di makanannya. Meski sebetulnya, bila kita mengaplikasikan semua resep ini tanpa memerhatikan jenis golongan darah, toh tak ada risiko yang besar. Hanya saja, tetap berlaku prinsip supaya sehat, tidak dianjurkan makan berlebihan. Di samping itu mesti didukung juga pola sehat yang lain seperti istirahat yang cukup, menghindari stres, dan berolah raga rutin.

Semua itu proses menyusun buku ini kelihatannya simpel, tapi ternyata cukup rumit. Hal terpenting dari menyusun buku ini, saya mendapatkan pengalaman yang sangat berharga, yaitu mempelajari memasak makanan sehat, belajar teknik memasak lebih banyak, dan banyak hal terkait pola hidup sehat. Dan selain itu saya jadi termotivasi untuk terus belajar hal-hal yang bermanfaat lain setelah ini. Meski pernah menyusun buku resep, bukan berarti saya lulus belajar masak. Sebaliknya, saya justru berpikir banyak hal mesti dibenahi. Masih perlu banyak belajar dan update pengetahuan mengenai manfaat bahan makanan di sekitar. Hal yang saya kerjakan ini tentu masih jauh dari sempurna.

Sebagai informasi, buku ini bisa ditemukan di toko-toko buku di seluruh Indonesia. Semoga bermanfaat. 🙂

 

IMG_20180610_071706_HDR

IMG_20180610_072352_HDR

Belajar dari Menidurkan Bayi

Seperti halnya Satya, Tama jenis bayi yang memiliki telinga yang super sensitif sejak lahir. Dengar suara sedikit aja, tidur nyenyaknya terganggu. Dengar langkah kaki, matanya yang sudah mulai merem jadi melek kembali. Untuk tidur lebih lama, mereka harus berjuang. Tepatnya ibunya yang mesti memperjuangkan. Tak jarang saya dengan senang hati mematikan atau men-silent HP di rumah, terlebih di jam-jam tidur anak. Pasalnya, bayi usia nol hari hingga beberapa bulan ke depan harus tidur lebih banyak. Tidak hanya untuk menambah berat badan, tapi yang utama adalah perkembangan otak.

Menurut beberapa artikel kesehatan yang saya telusuri, tidur adalah kebutuhan yang sangat penting untuk bayi dan anak-anak karena dalam tidur itulah, terjadi proses bertumbuh. Bayi semakin bertambah usia semakin sedikit durasi tidurnya. Kalau newborn, diharapkan mesti tidur 15-19 jam per hari untuk mengoptimalkan tumbuh kembangnya. Orang tua mesti menerapkan pola tidur yang baik untuk anak-anaknya sesuai dengan usianya.

Sementara itu tiap orang punya kegiatan masing-masing. Tinggal di kampung dengan jarak rumah berdekatan kan rasanya seperti tinggal satu atap juga. Ada kerja, teleponan, masak, betulin pintu, menemani balita main, nonton TV, dengerin musik, dan banyak lagi. Belum lagi mereka yang gemas dan kangen lihat bayi kebangun tentulah tidak mungkin menidurkannya kembali, melainkan mengajak main supaya tetep terjaga. Di samping itu ada kakak kecil yang masih suka bikin suara keras dan suka bangunin adiknya yang mulai tidur ini karena belum tahu konsep orang tidur nyenyak jangan dibangunin tanpa alasan jelas. Tama jadi lebih banyak melek di siang hari di usianya yang masih 2 bulan ini. Begitu juga Satya yang terkadang ikutan nggak jadi tidur kalau sudah lihat adiknya masih melek.

Sebagai ibu yang gampang cemas, sering deh batin ini menjerit? Mau ditidurkan di mana ini anak-anak? Ada sih areal lebih sepi, di kamar Mbah Uyut. Tapi Uyut suka nonton TV dan lihat acara dangdut. Dekat jendela kamarnya juga ada burung kenari Akung (ayah saya) yang sepanjang hari berkicau dan suara merdunya bahkan kedengaran sampai kampung sebelah. Belum lagi suara yang asalnya dari bagunan yang baru dibangun dekat rumah yang sering terdengar riuh mesin berat. Sepertinya kurang adil dong kalau semua orang disuruh anteng demi satu orang bayi saja di jam tidur mereka.

Satu-satunya solusi sepertinya adalah mengkondisikan mereka untuk beradaptasi terhadap lingkungan. Yaitu, bagaimana caranya supaya mereka tetap bisa berdamai dengan kebisingan-kebisingan kecil itu dan tetap bisa tidur sesuai jatahnya. Itung-itung sambi mengajari mereka tentang beradaptasi terhadap keberagaman masyarakat. Metode ini pernah berhasil saya terapkan pada Satya, si kakak waktu masih bayi. Satya sering kali tetap bisa tidur di tengah kebisingan ketika menginjak usia 1 tahunan. Tapi melatih para bayi yang masih rawan itu sungguh memeras hati, apalagi kala itu saya juga baby blues.

Jadi begini anak-anakku, kita ini di samping makhluk individu juga makhluk sosial. Kita hidup bersama dengan banyak orang dengan karakter dan kepentingan yang berbeda-beda. Memang sebagai individu kita memiliki pemikiran, pendapat, dan pengalaman yang berbeda dari mereka dan patut diakui. Tetapi kita tidak bisa memaksakan pemikiran kita pada mereka, tidak bisa menuntut mereka sesuai dengan harapan kita. Pada dasarnya, tidak semua keinginan kita menjadi kenyataan lho, Nak. Mungkin orang tuamu bisa selalu memahamimu ya dan juga selalu menerimamu apa adanya, tapi kalau kami sedang tidak berada di sampingmu, bagimana? Nggak selamanya orangtuamu berada di sekitarmu kan? Yang bisa kita lakukan adalah beradaptasi. Menyesuaikan diri. Bersabar. Melonggarkan hati dan pikiran sekaligus untuk menerima perbedaan tanpa ikut terbawa arus.

Dari moment-moment menidurkan bayi yang sering kali dramatis ini pun saya belajar. Kelak saya tahu, saya juga belajar bagaimana membesarkan anak dengan cara terbaik namun tetap menghindari diri dari menjadi durhaka terhadap orang tua atau generasi lama sekitar kita yang tentu berbeda cara mengasuh dengan kita. Melonggar itu tadi sungguh tidak mudah. Entah bagamana caranya, saya tetap mesti mencari tahu karena anak-anak bayi segera akan tumbuh besar.