Resensi Novel: The Dancer (Mimpi di Ujung Selendang Merah Muda)

novel The Dancer (Mimpi di Ujung Selendang Merah Muda)

Judul:  The Dancer (Mimpi di Ujung Selendang Merah Muda)
Penulis:  Arthasalina
Penerbit: Mazola
Rilis:   September 2014
ISBN : 139786022960225
Jumlah halaman:  235
Genre: Fiksi

Banyak yang bilang keadaan hatiku bisa dilihat dari bagaimana aku menari. Katanya lebih jujur daripada mendengar jawaban dari mulut. Mungkin aku memang ditakdirkan untuk terjun ke sini, menari bersama hidup. Bukan hidup bersama tarian–Ajeng (halaman 155-156)

Menjadi penari tradisonal di zaman yang sudah modern seperti sekarang rupanya tidak mudah. Terlebih bila telah terlanjur meraih gelar sarjana kedokteran kemudian dihadapkan dengan dua pilihan. Tetap menjadi penari sesuai impian atau melanjutkan koas untuk menjadi dokter, seperti harapan ayahnya. Hal rumit itulah yang diadapi oleh Ajeng. Sejak ibunya meninggal karena kanker, ia memutuskan mengikuti kata hatinya untuk menjadi penari. Yang berarti ia juga menetang ayahnya. Baginya menjadi penari seperti menghadirkan kembali sosok ibunya yang juga sama-sama penari. Tidak mudah menjalani pilihan itu. Di samping ayahnya yang menolak keras pilihan itu karena berambisi anak-anaknya bisa menjadi dokter.

Menjadi penari adalah profesi yang kurang bergengsi bagi masyarakat pada umumnya. Terlebih profesi tersebut masih dipandang sebelah mata. Namun Arthasalina, penulis novel ini, seperti menceritakan pada kita bahwa tidak sekedar menghibur saja tujuan seorang penari, melainkan ada misi melestarian budaya dalam proses itu.

Meski halangan dan rintangan terjadi, Ajeng bertekad kuat berada di jalan itu. Ia juga mengikuti berbagai lomba dan pementasan, bahkan sempat menjadi penari sintren, seenis tarian tradisional yang melibatkan roh. Di tengah-tengah kesibukannya meniti karier di bidang menari, ia pun berusaha memajukan sanggar tari milik ibunya yang sudah lama tidur. Belum lagi ketika ia dihadapkan dengan rahasia besar yang akhirnya terkuak dan mengharuskan ia harus menentukan sesuatu yang berhubungan dengan masa lalu ayahnya. Yang juga berkorelasi dengan seorang tokoh di novel tersebut yang berjasa dalam perjalanan kariernya.

Adapun Deden, adalah salah satu mahasiswa Teknik Mesin yang memutuskan mengambil cuti dan datang ke Jawa (Jogja-Solo) untuk mencari pengalaman secara praktik, di samping merasa suntuk dengan kehidupan kota. Ia adalah orang yang semula menolak hal-hal yang berhubungan dengan budaya, bahkan tidak suka dengan pertunjukan tari. Namun, perjalanannya ke Jogja-Solo membuatnya jatuh cinta dengan Jawa dan orang-orangnya. Cara pandangnya mulai berubah sejak perkenalannya dengan Ajeng dan pertemuannya secara tidak sengaja. Deden yang berasal dari tradisi yang lebih metropolitan pun mengagumi sifat santun Ajeng juga. Kehadiran Ajeng sedikit banyak mengubah sikap Deden.

Bukan masalah orang jawa atau bukan, Mas. Sebenarnya masalah kebiasaan. Saya yakin adat mana pun juga mengajarkan hal yang sama. Mungkin kebiasan yang ada di lingkungan sekitar kita yang mengubahnya.”–Ajeng (halaman 59)

“Orang Jawa atau bukan, yang membuat kesan sopan dan punya tata krama itu perilakuknya”-Ajeng (halaman 60)

Deden nyaris tak pernah menemukan perempuan seunik Ajeng. Di sisi lain, Ajeng pun nyaman dengan kebersamaan mereka. Namun, sebelum mereka sama-sama saling tahu perasaan masing-masing, Deden keburu pindah lagi ke Bandung karena cuti kuliahnya habis. Selama setahun mereka tak bertemu bahkan tak terhubung melalui ponsel. Selama itu Ajeng yang bergelut dengan karier menarinya, sedangkan Deden sibuk dengan kelulusan dan pekerjaan barunya. Apakah kelak mereka bersama, atau Ajeng lebih memilih Andi, teman seprofesi denganya di dunia tari?

“Pria dewasa itu menentukan pilihan, sebatas memlilih ketentuan bukan karakter pria.” (halaman 56) demikian yang Deden ingat dari pertemuannya dengan Ajeng.

Novel The Dancer (Mimpi di Ujung Selendang Merah Muda) diakhiri dengan ending yang manis dan membuat saya tersenyum. Memang pembaca mungkin akan mudah menebaknya dari awal. Sisi menariknya adalah banyak pesan penting yang dapat ditemukan di dalam dialog-dialog tokohnya yang sarat dengan pengetahuan seputar local wisdom.

Novel ini menceritakan perjuangan mempertahankan pilihan dan tentang usaha yang tidak kenal lelah. Diceritakan dalam sudut padang orang pertama yang terdiri dari dua tokoh, yaitu Ajeng sebagai tokoh sentral dan Deden sebagai tokoh pendukung. Keduanya memiiki karakter yang berbeda. Ditunjukkan dengan Pov Ajeng yang menggunakan gaya bahasa “aku-kamu”, sedangkan Deden menggunakan” lo-gue”, menunjukkan perbedaan tradisi dan karakternya juga. Setting tempat ini adalah Semarang, Solo, Bandung, meskipun ada lokasi-lokasi lain, dan rata-rata tidak dideskripsikan secara lebih lengkap.

Keberhasilan novel ini terletak pada jalan ceritanya yang runut dan ide cerita yang membuat penasaran, juga pesan-pesan yang disertakan dalam dialog tokoh-tokohnya. Gaya bahasa dituturkan dengan ringan dan mudah dipahami. Dilengkapi pula beberapa footnote untuk memperkaya pengetahuan kita terhadap bahasa daerah. Terutama Jawa dan Sunda. Di samping itu, secara samar, penulis juga memperkenalkan budaya yang yang berasal dari nenek moyang sehingga tersampaikan misi penulis memperkenalkan budayanya, terutama tradisi tari. Seperti halanya cara Ajeng memperkenalkan keramahtamahan orang jawa terhadap Deden.

Cover buku ini sudah sesuai dengan tema dan judulnya, The Dancer (Mimpi di Ujung Selendang Merah Muda) meskipun sepertinya tidak akan ada masalah bila judul tersebut tidak menggunakan bahasa Inggris, mengingat novel tersebut, lebih sering menampilkan sisi kedaerahan dan ke-Indonesia-an. Di samping itu, saya pribadi barangkali agak merasa mengganjal dengan hal-hal yang kebetulannya agak dipaksakan. Seperti ketika secara tidak sengaja, Deden bertemu istri seorang teman di sebuah terminal bus, apalagi ia belum mengenal si istri temannya itu sebelumnya. Atau secara kebetulan ia bertabrakan dengan Ajeng di daerah ladang lereng gunung yang rata-rata luas dan masih “alas”. Yeah, meskipun dalam hidup ini hal-hal yang kebetulan bukan sesuatu yang mustahil, tapi alangkah baiknya dikondisikan selogis mungkin. Selain itu, sejak awal perkenalan, Deden terlalu beranggapan bahwa orang Jawa selalu indah, santun, suka gotong royong, dan wanitanya feminin. Padahal stereotype orang Jawa nggak selalu begitu. Terlebih di era sekarang. Bukankah demikian?

Penokohan Ajeng dan Deden yang berbeda karakter sudah cukup pas digambarkan sebagai tokoh utama dan bagian dari tema novel. Hanya saja konstruksi karakter sang ayah kurang begitu konsisten sebab di awal ia digambarkan sebagai sosok yang membenci dunia tari. Terlihat dari keukeuhnya ia menyuruh Ajeng melanjutkan koas dan melarangnya menari, namun ibu Ajeng sendiri adalah penari. Belum lagi masa lalunya yang menunjukkan bahwa penokohan sang ayah kurang sesuai sebagai sosok yang menentang profesi penari. Atau kalaupun iya, kurang diberi penjelasan.

Di samping itu, alur terasa agak tergesa dan oleh karenanya banyak detail yang kurang mendapat perhatian penulis dalam hal dialog dan penuturan, seperti pada halaman 30 di mana Mak Atun, mengatakan “wis tuwo” untuk menyebut nenek Ajeng, sebab dalam Jawa puya tingkatan bahasa, akan lebih tepat bila disebut dengan “sampun sepuh“. Selain itu penggambaran setting tampaknya perlu disempurnakan lagi dengan detail dan ciri khas, sebab meski sempat disebutkan nama-nama lokasi, seperti Sleman, namun belum kentara andaikata nama daerahnya diubah menjadi Kebumen atau Padang, misalnya. Lagipula (merujuk pada halaman 213) makanan jenis batagor tidak hanya ada di Bandung, Solo pun ada.

Namun tidak mengapa. Barangkali memang bukan pada deskripsi setting,dan detail masyarakat secara kebudayaan yang istimewa dari novel ini. Sesuai dengan konsep awalnya, novel ini sudah menggambarkan cerita hidup orang-orang yang bergulat dengan profesinya, yang tentunya tidak lepas dari kehidupan pribadi yang juga cukup berliku. Seperti halnya seorang penari. Sekalipun seorang penari dapat tampil total dan tersenyum tanpa beban di atas pentas, mereka juga tetap manusia biasa di balik panggung. Selebihnya tidak banyak kesalahan tata bahasa, typo, dan ejaan di sana, pun sudah lumayan penataan marginnya.

Novel ini direkomendasikan suntuk pembaca dewasa muda yang sedang mempertahankan pekerjaan sejatinya.

Iklan

Resensi: Le Mannequin (Hatiku Tidak Ada di Paris)

DSCN3645

Judul : Le Mannequin, Hatiku Tidak Ada di Paris
Penulis : Mini GK
Penerbit : Diva Press
Genre : Chick Lit
Tahun Terbit : 2014
Editor : Ratna Mariastuti
ISBN : 978-602-255-588-9
Harga : Rp48.000,-

Hal yang menyedihkan tentang cinta adalah jika kamu telah bertemu seseorang yang berarti buat kamu tapi pada akhirnya kalian tidak dapat bersatu... –318

Tidak seperti bayangan awal saya ketika melihat cover depan. Membaca fragmen pertama novel ini memang seperti berjalan-jalan sebentar di tengah Kota Paris yang romantis dan nyeni, namun melanjutkan membacanya, saya banyak menemukan local wisdom ala Indonesia, berada di Indonesia, dan menyimak orang-orang yang hidup di Indonesia. Sekaligus juga menelusuri suasana ala Gunung Kidul dengan keindahan alamnya.

Le Mannequin (Hatiku Tidak Ada di Paris) bercerita tentang seorang gadis bernama Sekar Purnomo, yang meski lahir dan tinggal di wilayahpedesaan Gunung Kidul, tetapi memiliki mimpi besar menjadi desainer ternama. Terbatasnya ekonomi keluarga, ia tak berkesempatan menempuh pendidikan yang tinggi. Bermodal kepercayaan diri dan cita-cita, ia pun memutuskan hijrah ke Jakarta dan bekerja di perusahaan garmen. Candra Kusuma, satu-satunya sahabatnya, berusaha menahannya. Candra adalah sahabat masa kecilnya. Mereka tumbuh bersama namun memiki impian yang berbeda. Sekar yang ingin mendunia, sedang Candra hanya ingin memajukan desanya. Namun, keduanya selalu saling ada. Kebersamaan hinga dewasa mampu menumbuhkan benih cinta di hati Candra yang akhirnya ia simpan dalam-dalam. Mau tak mau, ia pun merelakannya pergi jauh ke Jakarta untuk waktu yang lama. Meski berat pula bagi Sekar meninggalkan orang tua dan sahabat yang selalu memberinya nasihat dan dukungan itu.

Sekar datang ke Jakarta dengan tanpa pengetahuan apa pun tentang kota tersebut. Lukman, pria yang tak sengaja ditemuinya di kereta inilah yang kelak membantu segala keperluan dan akhirnya menjadi kekasihnya. Tahun-tahun berlalu, membawa Sekar menemukan kesempatan di bidang yang dia impikan, menjadi desainer di butik Pavo milik Madame Diamanta. Ia bermetamorfosa menjadi gadis yang berpenampilan menawan dan memiiki karier yang gemilang. Daya kreatif dan kerja kerasnya sedikit banyak berpengaruh pada kemajuan butik. Sementara hubungnnya dengan Lukman yang sudah hampir 2 tahun belum menemukan titik jawaban. Malah cobaan demi cobaan mendera dengan hadirnya Sabinta dan isu perjodohan yang digadang-gadang orang tua Lukman. Membuat saya ikut gemas.

Di sisi lain, ia pun bertemu dengan Yasak, anak sulung Diamanta yang jatuh cinta padanya pada pandangan pertama. Namun pertemuannya barangkali kurang tepat sebab Sekar tengah diliputi kegalauan. Meski demikian, Yasak selalu ada untuknya, terutama ketika melewati berbagai kesulitan termasuk menghadapi teror Gita, salah satu karyawan Pavo yang menyimpan dengki kepadanya. Gita ini menurut saya mirip tokoh antagonis sinteron.

Cobaan Sekar tak berhenti sampai di sana. Hubungannya dengan Lukman kandas lantaran pria tersebut memilih menikahi Sabinta. Mimpinya terancam retak dengan kabar itu hingga akhirnya ia memutuskan untuk resign dan pulang kampung. Tentu saja Yasak dan Diamanta tidak sependapat, terlebih mereka memahami mimpi besar Sekar yang tinggal selangkah lagi. Hingga akhirnya, Sekar mengambil cuti untuk memikirkan kembali keputusannya sambil pulang ke Gunung Kidul. Kembali ke kampung halaman mampu mengobati luka hatinya, meski bayangan Lukman masih ada di benaknya. Pertemuan kembali dengan sahabat masa kecilnya dan tawaran Diamanta mengikuti fashion week di Perancis cukup mengembalikan kebahagiaannya. Terlebih pada saat yang sama ia pun tahu alasan Candra selama ini menunggunya.

Namun meski cita-cita sudah di depan mata dan kondisi mengikatnya pada jalan yang harus ditempuh, ia tetap harus menentukan dengan siapa ia akan menyandarkan hatinya. Kakak beradik Yasak dan Demian yang romantis dan sama-sama mencintainya, Candra yang telah mengenalnya sejak kecil, atau Lukman yang kembali mencarinya karena menyesali keputusannya menikahi Sabinta?

Nggak kebayang ribetnya kan, sebab satu aja repot, apalagi 4, :))).

Novel ini memiliki alur mau dan mundur. Akhir dari kisah ini mengalir manis dan menyajikan ending yang cukup mendebarkan. Seperti kata Pak Ahmad Tohari dalam endorsement-nya, bahwa karya Mini GK ini memang mengesankan. Tentunya Mini GK telah berpengalaman menulis kisah romance setelah sebelumnya menerbitkan dua novel berjudul Abnormal dan Stand by Me.

Novel Le Mannequin (Hatiku Tidak Ada di Paris) disajikan dengan tema cinta dan perjuangan hidup yang mengalir dengan ringan. Adapun deskripsi latar yang detail, diksi yang enak dibaca, nilai-nilai kesederhanaan, juga pesan moral dan mitos-mitos yang bertabaran menjadi kelebihan novel ini. Cara Mbak Mini GK menceritakan keindahan alam Guning Kidul tak kalah menarik. Tak lupa ia memadukan nilai-nilai keluhuran asli Indonesia, ibarat long dress bergaya modern dengan sentuhan batik.

Kesukaan Sekar terhadap sepasang boneka mannequin yang disebutkan beberapa kali di dalam novel membuatnya tidak lepas dari judul yang dipilih. Mbak Mini tak kehilangan ketahanannya memperkenalkan hal yang baru namun beridentitas dalam karyanya yang satu ini. Tidak hanya itu, novel ini pun dilengkapi dengan cerita dongeng Sam Pek Eng Tay. Boleh jadi novel ini memiliki napas yang berbeda meskipun dari segi cerita sebetulnya umum. Kisah gadis desa yang berjuang ke kota, ditinggal nikah sama pacar, dan kebimbangan di antara banyak pilihan adalah tema yang klise.

Tentu saja tidak ada karya yang sempurna. Masih banyak hal yang sepertinya dapat diperbaiki dalam novel ini.

Misalnya, pada bagian pertemuan dengan Demian di pembukaan novel terkesan agak instan. Kalau saya jadi Sekar,
barangkali butuh pertemanan tahun kedua untuk mau difoto menggunakan kamera pribadinya, hehe. Di samping itu, banyak hal yang kerap dihadirkan Mbak Mini GK dalam novel ini tentang kebetulan-kebetulan yang kurang masuk akal. Jakarta, Bandung, dan Paris seolah dihadirkan sebagai kota kecil di mana kita akan sering ketemu tetangga kita yang itu-itu aja. Lalu bagaimana proses pekerjaan mendesain itu sendiri? Bagaimana proses berperasaan terhadap seseorang? Saya belum begitu menangkap feel-nya selain rata-rata disebabkan oleh kekaguman secara fisik. Tapi tidak mengapa.

Karakter Sekar sendiri digambarkan sebagai gadis desa yang polos tapi bersemangat. Kenekatananya meraih cita-cita membawanya pada serangkaian kesuksesan dan keberuntungan. Secara fisik, ia ditampilkan sangat mempesona. Kecantikan ini membuat setiap pria tampan langsung “memuja”. Sekar digambarkan sebagai gadis sukses namun tidak terlalu banyak memiliki wawasan mengenai kehidupan dan cenderung nerimo (pasrah). Metamorfosis karakternya ditopang oleh orang-orang di sekitarnya. Namun penggambarannya pas sebab di dalam novel, Sekar pun bukan orang yang suka membaca, melainkan sibuk di wilayah pekerjaan dan mengejar mimpi di bidang fashion. Kehadiran tokoh Candra yang digambarkan sebagai pria penyabar dan kutu buku hadir sebagai peyeimbang dan pengisi. Sebagai sahabat masa kecil yang cukup berpangaruh dalam hidup Sekar.

Sebagai karya yang merepresentasikan genre chick lit, novel ini tampaknya sengaja dihadirkan bertema cinta dengan segala aspeknya yang sempurna. Hampir semua tokoh wanita dan prianya ganteng, cantik, berkulit cerah, tinggi, dan tajir. Konsekuaensi dari itu, tokoh sampingannya kurang memiliki bangunan karakter yang kuat. Pada dasarnya kan manusia itu terdiri dari kelebihan dan kekurangan. Namun, karakter para pria yang cukup penting dalam novel ini nyaris tidak dideskripsikan secara realistis. Barangkali akan lebih natural bila, misalnya nih: pria cerdas berwajah oriental berambut kaku, jarang mandi, punya kebiasaan gigit kuku kalau gugup, atau pobhia gerobak misalnya. Untungnya tokoh Candra yang seorang guru dan tak ingin hijrah dari desa digambarkan lumayan detail sekalipun tidak jauh dari jenis ‘sempurna’. Barangkali akan lebih menggambarkan penduduk Gunung Kidul kalau tokoh Candra berkulit sawo matang dan tidak terlalu tinggi.

Segi tampilan, seperti ukuran font dan margin sudah pas. Hanya beberapa saja kesalahan eja dan diksi tapi tidak terlalu berpengaruh.
Overall, novel ini memberikan kesan manis dan menarik. Apalagi banyak quote yang dapat dijadikan pelajaran hidup, salah satunya seperti berikut.

Adalah kado termahal yang pernah ada, yaitu kesempatan–189

Selamat berburu novel dan selamat membaca 🙂