Resensi: Le Mannequin (Hatiku Tidak Ada di Paris)

DSCN3645

Judul : Le Mannequin, Hatiku Tidak Ada di Paris
Penulis : Mini GK
Penerbit : Diva Press
Genre : Chick Lit
Tahun Terbit : 2014
Editor : Ratna Mariastuti
ISBN : 978-602-255-588-9
Harga : Rp48.000,-

Hal yang menyedihkan tentang cinta adalah jika kamu telah bertemu seseorang yang berarti buat kamu tapi pada akhirnya kalian tidak dapat bersatu... –318

Tidak seperti bayangan awal saya ketika melihat cover depan. Membaca fragmen pertama novel ini memang seperti berjalan-jalan sebentar di tengah Kota Paris yang romantis dan nyeni, namun melanjutkan membacanya, saya banyak menemukan local wisdom ala Indonesia, berada di Indonesia, dan menyimak orang-orang yang hidup di Indonesia. Sekaligus juga menelusuri suasana ala Gunung Kidul dengan keindahan alamnya.

Le Mannequin (Hatiku Tidak Ada di Paris) bercerita tentang seorang gadis bernama Sekar Purnomo, yang meski lahir dan tinggal di wilayahpedesaan Gunung Kidul, tetapi memiliki mimpi besar menjadi desainer ternama. Terbatasnya ekonomi keluarga, ia tak berkesempatan menempuh pendidikan yang tinggi. Bermodal kepercayaan diri dan cita-cita, ia pun memutuskan hijrah ke Jakarta dan bekerja di perusahaan garmen. Candra Kusuma, satu-satunya sahabatnya, berusaha menahannya. Candra adalah sahabat masa kecilnya. Mereka tumbuh bersama namun memiki impian yang berbeda. Sekar yang ingin mendunia, sedang Candra hanya ingin memajukan desanya. Namun, keduanya selalu saling ada. Kebersamaan hinga dewasa mampu menumbuhkan benih cinta di hati Candra yang akhirnya ia simpan dalam-dalam. Mau tak mau, ia pun merelakannya pergi jauh ke Jakarta untuk waktu yang lama. Meski berat pula bagi Sekar meninggalkan orang tua dan sahabat yang selalu memberinya nasihat dan dukungan itu.

Sekar datang ke Jakarta dengan tanpa pengetahuan apa pun tentang kota tersebut. Lukman, pria yang tak sengaja ditemuinya di kereta inilah yang kelak membantu segala keperluan dan akhirnya menjadi kekasihnya. Tahun-tahun berlalu, membawa Sekar menemukan kesempatan di bidang yang dia impikan, menjadi desainer di butik Pavo milik Madame Diamanta. Ia bermetamorfosa menjadi gadis yang berpenampilan menawan dan memiiki karier yang gemilang. Daya kreatif dan kerja kerasnya sedikit banyak berpengaruh pada kemajuan butik. Sementara hubungnnya dengan Lukman yang sudah hampir 2 tahun belum menemukan titik jawaban. Malah cobaan demi cobaan mendera dengan hadirnya Sabinta dan isu perjodohan yang digadang-gadang orang tua Lukman. Membuat saya ikut gemas.

Di sisi lain, ia pun bertemu dengan Yasak, anak sulung Diamanta yang jatuh cinta padanya pada pandangan pertama. Namun pertemuannya barangkali kurang tepat sebab Sekar tengah diliputi kegalauan. Meski demikian, Yasak selalu ada untuknya, terutama ketika melewati berbagai kesulitan termasuk menghadapi teror Gita, salah satu karyawan Pavo yang menyimpan dengki kepadanya. Gita ini menurut saya mirip tokoh antagonis sinteron.

Cobaan Sekar tak berhenti sampai di sana. Hubungannya dengan Lukman kandas lantaran pria tersebut memilih menikahi Sabinta. Mimpinya terancam retak dengan kabar itu hingga akhirnya ia memutuskan untuk resign dan pulang kampung. Tentu saja Yasak dan Diamanta tidak sependapat, terlebih mereka memahami mimpi besar Sekar yang tinggal selangkah lagi. Hingga akhirnya, Sekar mengambil cuti untuk memikirkan kembali keputusannya sambil pulang ke Gunung Kidul. Kembali ke kampung halaman mampu mengobati luka hatinya, meski bayangan Lukman masih ada di benaknya. Pertemuan kembali dengan sahabat masa kecilnya dan tawaran Diamanta mengikuti fashion week di Perancis cukup mengembalikan kebahagiaannya. Terlebih pada saat yang sama ia pun tahu alasan Candra selama ini menunggunya.

Namun meski cita-cita sudah di depan mata dan kondisi mengikatnya pada jalan yang harus ditempuh, ia tetap harus menentukan dengan siapa ia akan menyandarkan hatinya. Kakak beradik Yasak dan Demian yang romantis dan sama-sama mencintainya, Candra yang telah mengenalnya sejak kecil, atau Lukman yang kembali mencarinya karena menyesali keputusannya menikahi Sabinta?

Nggak kebayang ribetnya kan, sebab satu aja repot, apalagi 4, :))).

Novel ini memiliki alur mau dan mundur. Akhir dari kisah ini mengalir manis dan menyajikan ending yang cukup mendebarkan. Seperti kata Pak Ahmad Tohari dalam endorsement-nya, bahwa karya Mini GK ini memang mengesankan. Tentunya Mini GK telah berpengalaman menulis kisah romance setelah sebelumnya menerbitkan dua novel berjudul Abnormal dan Stand by Me.

Novel Le Mannequin (Hatiku Tidak Ada di Paris) disajikan dengan tema cinta dan perjuangan hidup yang mengalir dengan ringan. Adapun deskripsi latar yang detail, diksi yang enak dibaca, nilai-nilai kesederhanaan, juga pesan moral dan mitos-mitos yang bertabaran menjadi kelebihan novel ini. Cara Mbak Mini GK menceritakan keindahan alam Guning Kidul tak kalah menarik. Tak lupa ia memadukan nilai-nilai keluhuran asli Indonesia, ibarat long dress bergaya modern dengan sentuhan batik.

Kesukaan Sekar terhadap sepasang boneka mannequin yang disebutkan beberapa kali di dalam novel membuatnya tidak lepas dari judul yang dipilih. Mbak Mini tak kehilangan ketahanannya memperkenalkan hal yang baru namun beridentitas dalam karyanya yang satu ini. Tidak hanya itu, novel ini pun dilengkapi dengan cerita dongeng Sam Pek Eng Tay. Boleh jadi novel ini memiliki napas yang berbeda meskipun dari segi cerita sebetulnya umum. Kisah gadis desa yang berjuang ke kota, ditinggal nikah sama pacar, dan kebimbangan di antara banyak pilihan adalah tema yang klise.

Tentu saja tidak ada karya yang sempurna. Masih banyak hal yang sepertinya dapat diperbaiki dalam novel ini.

Misalnya, pada bagian pertemuan dengan Demian di pembukaan novel terkesan agak instan. Kalau saya jadi Sekar,
barangkali butuh pertemanan tahun kedua untuk mau difoto menggunakan kamera pribadinya, hehe. Di samping itu, banyak hal yang kerap dihadirkan Mbak Mini GK dalam novel ini tentang kebetulan-kebetulan yang kurang masuk akal. Jakarta, Bandung, dan Paris seolah dihadirkan sebagai kota kecil di mana kita akan sering ketemu tetangga kita yang itu-itu aja. Lalu bagaimana proses pekerjaan mendesain itu sendiri? Bagaimana proses berperasaan terhadap seseorang? Saya belum begitu menangkap feel-nya selain rata-rata disebabkan oleh kekaguman secara fisik. Tapi tidak mengapa.

Karakter Sekar sendiri digambarkan sebagai gadis desa yang polos tapi bersemangat. Kenekatananya meraih cita-cita membawanya pada serangkaian kesuksesan dan keberuntungan. Secara fisik, ia ditampilkan sangat mempesona. Kecantikan ini membuat setiap pria tampan langsung “memuja”. Sekar digambarkan sebagai gadis sukses namun tidak terlalu banyak memiliki wawasan mengenai kehidupan dan cenderung nerimo (pasrah). Metamorfosis karakternya ditopang oleh orang-orang di sekitarnya. Namun penggambarannya pas sebab di dalam novel, Sekar pun bukan orang yang suka membaca, melainkan sibuk di wilayah pekerjaan dan mengejar mimpi di bidang fashion. Kehadiran tokoh Candra yang digambarkan sebagai pria penyabar dan kutu buku hadir sebagai peyeimbang dan pengisi. Sebagai sahabat masa kecil yang cukup berpangaruh dalam hidup Sekar.

Sebagai karya yang merepresentasikan genre chick lit, novel ini tampaknya sengaja dihadirkan bertema cinta dengan segala aspeknya yang sempurna. Hampir semua tokoh wanita dan prianya ganteng, cantik, berkulit cerah, tinggi, dan tajir. Konsekuaensi dari itu, tokoh sampingannya kurang memiliki bangunan karakter yang kuat. Pada dasarnya kan manusia itu terdiri dari kelebihan dan kekurangan. Namun, karakter para pria yang cukup penting dalam novel ini nyaris tidak dideskripsikan secara realistis. Barangkali akan lebih natural bila, misalnya nih: pria cerdas berwajah oriental berambut kaku, jarang mandi, punya kebiasaan gigit kuku kalau gugup, atau pobhia gerobak misalnya. Untungnya tokoh Candra yang seorang guru dan tak ingin hijrah dari desa digambarkan lumayan detail sekalipun tidak jauh dari jenis ‘sempurna’. Barangkali akan lebih menggambarkan penduduk Gunung Kidul kalau tokoh Candra berkulit sawo matang dan tidak terlalu tinggi.

Segi tampilan, seperti ukuran font dan margin sudah pas. Hanya beberapa saja kesalahan eja dan diksi tapi tidak terlalu berpengaruh.
Overall, novel ini memberikan kesan manis dan menarik. Apalagi banyak quote yang dapat dijadikan pelajaran hidup, salah satunya seperti berikut.

Adalah kado termahal yang pernah ada, yaitu kesempatan–189

Selamat berburu novel dan selamat membaca 🙂

3 komentar di “Resensi: Le Mannequin (Hatiku Tidak Ada di Paris)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s