Cerita 2018

img_20190122_060348

Di Yogyakarta ada sebuah tempat bernama Krapyak. Orang-orang akan langsung teringat kandang menjangan atau panggung krapyak setiap mendengarnya, yaitu sebuah bagunan berbentuk kotak mirip benteng yang dulu digunakan oleh para raja dan para pangeran meletakkan hewan-hewan hasil buruan. Krapyak beratus tahun lalu adalah hutan belantara dengan berbagai binatang liar di dalamnya. Sekarang Krapyak adalah sebuah kampung yang penuh dengan rumah penduduk dan hiruk pikuknya. Kini juga menjadi tempat tinggalku sejak akhir tahun 2017 lalu.

Tak ada jejak hutan lagi di Krapyak, kecuali pohon-pohon tua besar di beberapa tempat dan masih terkadang kita dapat melihat burung-burung yang biasanya dipelihara orang di dalam kandang, asyik mematuk tanah di halaman. Bila kau bangun pagi dan membuka jendela, sejuknya udara akan menyeruak masuk hingga seluruh ruangan. Seperti udara dari masa lalu. Bila pagi, Krapyak seperti desa yang bangun dengan anggun. Terkadang tercium aroma dapur yang seperti masih menggunakan tungku. Pada jam 4, terdengar pula suara orang menyapu halaman. Nenekku yang tinggal di desa juga menyapu halaman di pagi buta. Orang dulu barangkali melakukan itu. Di sini banyak “orang dulu”.

Pada malam satu suro, masih banyak peduduk di sini melakukan ritual keliling benteng keraton. Mereka menganut adat dan begitu sering mengadakan kumpul mengaji. Tapi karena masih setengah desa, mereka juga masih akrab dengan mitos. Yang cukup menjengkelkan adalah perihal tuyul. Setiap ada warga kehilangan uang secara misterius, orang-orang akan ngobrol soal tuyul yang masih berkeliaran. Tetangga yang membuka warung, sempat bercerita padaku bahwa uang-uangnya sampai disimpan rapat, diikat dengan karet dan diberi rerempahan. Aku agak sedikit bergidik dan memakluminya, tapi tak ikut melakukannya. Sebetulanya aku bergidik karena lebih enggan dengan burung hantu besar warna hitam yang dipeliharanya, bertengger begitu dekat dengan kami dan memandangku dengan curiga. Paruhnya yang runcing itu bisa melubangi kulitmu kapan pun ia mau. Dua bulan setelah kami pindah pun, seorang tetangga lain menanyakan apakah pintu rumahku sempat diketuk sama orang yang nggak kelihatan. Aku tak ingat, tapi ia berharap aku tak perlu takut bila itu terjadi, karena biasanya makhluk ini hanya mengucapkan selamat datang. Sementara aku kerap sendiran saja, apalagi ketika dua bocah itu tidur, mitos-mitos ini sempat sedikit mengganggu. Tapi tidak membuatku gentar. Orang tak seharusnya takut sama hal-hal yang tak bisa disentuhnya.

Kampung ini religius menurut pandanganku. Beberapa hal memang sedikit membuat terkejut seperti nyanyian setiap habis azan, yang setelah kuamati betul-betul, ternyata itu sholawatan. Ada pula azan yang dikumandangkan pada jam 3 pagi. Nah, aku beruntung punya pengalaman tinggal di tempat dengan nuansa religius yang berbeda. Di kampung asalku, yang tak jauh dari Krapyak, memiliki kebiasaan yang tidak sama. Orang-orang muslim tidak tahlilan, tak ada sholawatan, dan semacamnya. Kalau mau mempelajari keberagaman, saya rasa di sinilah tempatnya. Sedikit membingungkan tapi seru, syukurlah, toleransi terjalin cukup baik di sini.

Lalu, tahun 2018 adalah tahun adaptasi terberat yang pernah kujalani. Di sisi lain tempat ini cukup nyaman bagiku. Kami bekerja keras membuat rumah di atas sepetak tanah leluhur suami kemudian memutuskan tinggal mandiri. Lokasinya sedikit jauh dari jalan raya, tapi semua tempat seperti dapat terjangkau. Tak jauh dari rumah ada pula superindo, pom bensin, toko-toko, rumah makan, dan meski pasar juga tidak jauh, tiap pagi sudah ada tukang sayur mangkal di depan rumah. Kendati demikian, mengurus dua balita dan tak ke mana-mana, dengan suami lebih banyak kesibukan di luar rumah tentu bukan hal mudah bagi siapa pun yang terbiasa dengan orangtua di sekitarnya. Bagiku yang terbiasa dengan riuhnya suasana rumah, kampung yang ramai, dan juga bisingnya jalanan, rumah ini jauh dari semua itu. Berat karena jadi sering kali tak memiliki teman bicara remeh-temeh. Tentu aku belum bisa bercerita bebas dengan anak-anak balita.

Tetapi tahun 2018 setidaknya banyak hal tercapai dengan cukup mudah. Seperti si sulung yang lebih cepat mandiri karena sering melihat emaknya harus nyambi-nyambi mengurus adiknya. Dalam setahun, tatangan demi tantangan sebagai ibu syukurlah mampu kulewati. Awal yang baik untukku.

Tahun 2018 pula, buku single pertamaku terbit. Memang hanya buku resep diet ala golongan darah tetapi cukup membuatku bersemangat menulis hal-hal bermanfaat di kemudian hari. Meskipun buku resep itu akhirnya jarang dieksekusi lagi karena tak ada yang diet di rumah. Tahun itu aku juga dapat pesanan membuat buku bertema pendidikan, yang sepertinya terbit tahun ini.

Pada tahun 2018 pula akhirnya aku bergabung dalam komunitas membaca buku di Instagram, yang akhirnya mengalihkanku dari rasa penat yang rawan. Senang karena jadi termotivasi menghabiskan timbunan di rak buku dan menambah wawasan. Setidaknya buku-buku ini adalah teman ngobrol yang mungkin jauh lebih baik daripada tembok dan laba-laba.

Apakah aku tak pernah merasa takut di tempat tinggal yang baru ini?
Tentu saja pernah.
Ketakutan pertamaku adalah sering berjumpa secara tiba-tiba dengan binatang-binatang berbahaya yang kukira hanya ada di ensiklopedi. Seperti kalajengking di wastafel dapur, kelabang yang tiba-tiba muncul di lantai, ular kisi di garasi, dan luwing yang katanya suka masuk di telinga orang. Dengan begitu aku jadi lebih serius bersih-bersih rumah dan bersikap waspada.

 

 

#catatanharian #kaleidoskop #katahatichallenge  #katahatiproduction

 

 

Review: Modern Islamic Parenting

35564780_2087462968242531_2209632391708803072_n

Judul: Modern Islamic Parenting
Penulis: DR. Hasan Syamsi
Penerbit: Aishar Publishing
Cetakan 1: November 2017
Bahasa: Indonesia
ISBN: 978-602-1243-08-4
Jumlah halaman: 312

 

Hampir tidak ada gaya parenting yang sempurna di dunia ini. Tapi setiap orang tua menginginkan cara yang ideal untuk menerapkannya. Meski bertahun berkecimpung di dunia pendidikan anak, saya tetap merasa harus belajar lebih banyak. Sebab mengajari anak orang lain ternyata bisa beda ceritanya dengan mengajari anak kandung sendiri. Mendidik anak sendiri tidak hanya terbatas sekian jam di kelas, tetapi sepanjang waktu di mana pun itu. Tanggung jawabnya juga lebih berat. Konon bahkan dilaporkan kepada Allah kelak di hari akhir. Dalam proses belajar mendidik anak, tak jarang saya mengadopsi ilmu dari berbagai buku dan artikel. Terkadang masih terpengaruh juga dengan beberapa gaya mendidik orang tua saya. Tetapi pada intinya, saya setuju anak-anak (di keluarga muslim) mestinya dibesarkan sesuai dengan nilai-nilai islami pula. Nah dari sini saya tahu, ini sedikit menantang bagi saya mengingat anak-anak tumbuh di lingkungan islami yang sedikit beragam. Maklum tinggal di Jawa, keluarga besar kami tergolong plural. Tapi tentu saya tidak mempermasalahkan keberagaman itu, karena anak-anak akan tetap tumbuh dalam dunia yang menantang di luar sana, yang perlu bagi saya sebagai orang tua, menjadi pengarah yang mampu membawa mereka pada pencerahan, dan bukan sebaliknya. Memiliki anak-anak yang mampu menjaga dirinya dan tak mudah terbawa arus negatif pastilah sungguh damai rasanya.

“Sekiranya kamu bersikap keras lagi kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. (Ali Imlan: 159)

Beruntung saya menemukan buku Modern Islamic Parenting yang ditulis oleh DR. Hasan Syamsi melalui pengalamannya selama 20 tahun membesarkan anak-anak. Menjadi orang tua kan, meminjam istilah Elly Risman, nggak bisa terjun bebas. Melainkan harus belajar juga. Saya juga membacanya berulang-ulang selama beberapa minggu ini dan merasa tertarik dengan isinya. Buku ini berisi paduan mendidik anak dengan lembut sesuai ajaran Nabi namun masih relevan diterapkan di masa sekarang. Sayangnya buku ini belum terdaftar di goodreads. Padahal menurut saya, isinya mencakup hampir semua yang dibutuhkan para orang tua mendidik anak-anaknya untuk berkarakter islami. Secara garis besar buku ini menerangkan beberapa poin untuk dijadikan pedoman dalam membentuk anak-anak yang islami. Pertanyaan-pertanyaan kecil saya terkait bagaimana sih cara paling ideal membentuk generasi islami, terjawab di buku ini.

Dibuka dengan uraian singkat terkait tanggung jawab orang tua terhadap kehidupan anak-anak termasuk juga pentingnya memposikan diri sebagai orang tua yang diidolakan anak. Sampai di sini, saya menyadari perlunya refleksi diri sebagai orang tua selama ini karena bagaimanapun orang tualah figur utama anak-anak. Mereka akan meniru dan bertindak sesuai apa yang dilihat sejak dini. Menerapkan kebiasaan baik seperti mengucapkan tolong, maaf, dan permisi, menggosok gigi, sholat, bahkan menyukai buku meski belum bisa membacanya, mudah dilakukan ketika mereka masih berada di usia dini. Nah ternyata, mereka pun juga peniru ulung yang belum bisa memilah baik dan buruk. Belajar dari pengalaman, saya pernah shock mendengar anak pertama saya mengucapkan istilah kasar yang tidak pernah didengar di rumah. Maka kami yang orang rumah selalu mengalihkan pada istilah lain dan lucu untuk diucapkan hingga ia lupa dengan sendirinya. Sejak itu, saya jadi tahu pentingnya menjaga anak-anak dari efek buruk lingkungan luar yang kurang sesuai dengan prinsip keluarga.

Pada buku ini, ada banyak poin yang dibahas terkait mendidik anak secara islami, yaitu seperti:

  • Memahami jenis mainan dan hadiah untuk anak,
  • Pentingnya belajar menyelesaikan masalah,
  • Menghukum dengan tepat,
  • Pendidikan seks usia dini,
  • Hingga pada membentuk karakter anak sejak dini.

 

Tak hanya itu, buku ini juga merangkum hal-hal yang akan ditemui orang tua tatkala anaknya beranjak remaja dan apa yang sebaiknya dilakukan. Tak lupa, karena ini buku yang full mengarahkan para orang tua membentuk anak-anak yang soleh, maka di beberapa bab di buku ini Hasan Syamsi juga menambahkan arahan mengenai bagaimana agar anak-anak kita dapat menjadi pengafal Al-Quran, salah satunya adalah meminimalisir atau malah menjauhkan mereka dari hingar bingar televisi dan gadget. Di akhir halaman, buku ini dilengkapi pula dengan doa agar anak-anak kita dimudahkan dalam menghafal Al-Quran. Sekalipun saya nggak muluk-muluk ingin anak saya mengahafal seluruh isi Al-Quran, tapi saya memprioritasnkan hanya hal-hal baik yang dipelajari mereka pada usia dini sebagai landasan untuk proses belajar di tahun-tahun berikutnya. Dan tak terasa, di usia anak pertama yang belum 3 tahun, alhamdulillah, ia hafal beberapa surat (yang pendek) Juz ‘Ama, doa sehari-hari, dan juga ayat kursi.

Bahasa yang dituturkan dengan ringan pada buku ini membuat pembaca mudah memahaminya. Namun menurut saya, tiap bab di buku ini dibahas dengan kurang mendalam. Tiap subbab dalam buku ini kalaupun dipecah menjadi beberapa buku pun tetap bisa. Kendati demikian, buku ini isinya berbobot dan mudah dipahami, meskipun susunan per pembahasan sedikit acak-acakkan. Membaca buku ini ibarat sedang menyimak seorang ustadz dalam sebuah forum yang tengah sibuk menjawab seabrek pertanyaan dari para jamaah. Terkadang tidak berurutan tapi setiap pembahasan mengandung informasi penting yang rugi kalau dilewatkan.

“Kita ajarkan kepadanya bahwa dusta dan iman tidak menyatu, dan dusta kecil ataupun besar sama saja.”–(h. 236)

Sayang ditemukan banyak kalimat negasi yang pilih penulis dalam buku yang bertema pendidikan islami ini, padahal kalimat positif lebih mudah dipahami ketimbang yang negatif. Seperti pada halamn 40- “Ketika salah seorang teman berbuat tidak baik, jangan berlaku kasar dan berkata kepadanya, ‘Saya tidak ingin kau membawa perilaku burukmu ke rumah kami'” dan kalimat selanjutnya hanya berupa “Usahakan untuk memberi penjelasan kepadanya dengan tenang.” Pada halaman 45 bahkan hanya berisi contoh-contoh kalimat ancaman yang tidak boleh dilontarkan tanpa dilengkapi dengan alternatif kalimat yang positif yang dapat diterapkan orang tua. Namun tidak mengapa, dengan begitu, pembaca seolah diajak aktif berpikir dan kretif mencari sendiri kalimat terbaik untuk dikatakan kepada putra-putrinya. Syukurlah kalimat negatif yang sejenis hanya sebagian kecil saja di buku ini.

Buku ini menarik untuk dibaca dan diterapkan orang tua kepada anak-anaknya. Apalagi seperti halnya buku-buku islami lain, materinya didukung oleh pengalan surat Al-Quran dan hadist yang sahih. Kalau sudah begitu saya, jadi tambah luluh. Namun orang tua meski tak habis ikhtiarnya untuk menjadikan anak-anaknya ahli surga, perlu juga bertawakal. Sebab, hasil kan tetap saja di tangan Allah. Saya bahkan ingin sekali menjadikan isi buku ini pedoman. Barangkali sejak selesai baca ini saya terdorong membuat semacam evaluasi dalam jurnal pribadi berdasarkan poin-poin di buku ini seiring dengan perkembangan dan proses belajar saya sebagai orang tua.

Buku ini diperuntukkan bagi siapa pun yang membutuhkan semacam gambaran bagaimana mendidik yang tepat dan islami sesuai dengna anjuran Nabi. Recommended bagi orang tua, calon orang tua, atau siapa pun yang tengah berjuang mendidik anak-anak.

 

Batik Trusmi dan Kesetaraan

Berawal dari mention-mentionan saya dan teman-teman kantor lama via Twitter, teringat lagi nostalgia kompakan pakai batik kala itu. Bertepatan juga di hari batik, seperti hari kemarin. Untuk itulah, rasanya ingin menulis hal-hal bertema batik. Namun sempat agak bingung memilih topik batik dari daerah mana. Jogja yang memang mau nggak mau setiap hari saya kunjungi, atau asal daerah lain yang belum saya kunjungi?

Sepertinya saat ini lebih menarik mengulas batik asal daerah yang bukan Jogja karena jenis batiknya sudah sangat familier di mata saya -_-. Akhirnya saya putuskan memilih batik trusmi karena bentuknya yang berbeda sekali dengan batik Jawa. Siapa tahu kelak betulan berkunjung ke sana dan membeli kainnya.

Seperti yang pernah saya tulis di blog ini waktu itu, selama ini saya memang kurang gaul soal fashion dan kain, namun selalu berusaha memahami, hingga akhirnya menulis tentang batik Truntum beberapa waktu lalu sebagai awal saya mengenali produk budaya berbentuk bahan pakaian.

Batik Trusmi berasal dari Cirebon. Nama Trusmi sediri diambil dari kepanjangan terus bersemi. Istilah trusmi juga diambil dari nama desanya, yaitu Desa Trusmi yang sekarang juga menjadi kampung batik terkenal di sana. Trusmi tersebut tergolong jenis batik pesisir (pantai). Mungkin itulah sebab mengapa kebanyakan bergaya kebebasan dan fleksibel. Seperti bentuk awan dan burung (entah burung atau naga terbang ya…) menunjukkan hal-hal yang luas dan transenden. Karena bentuknya yang khas dan warnanya yang cukup tegas serta makna yang terkandung di dalamnya, membuatnya pantas menyandang predikat salah satu ikon batik nasional. Daerah Cirebon sendiri semula memiliki dua kerajaan maka batiknya disebut batik keraton.

Menurut sejarah, seperti halnya batik-batik lain di nusantara, batik Cirebon pun merupakan hasil asimilasi dan akulturasi beragam budaya. Batik gaya Cirebon yang sekarang semula lahir sejak Pelabuhan Muara Jati di daerah tersebut dijadikan tempat transit para pedagang. Pedagang yang singgah rata-rata berasal dari Tiongkok, Arab, Persia, dan India.

Selain itu, filosofi dan religiusitas yang terkandung dalam batik Trusmi berhubungan erat dengan sejarahnya dan juga berkait tatkala Sunan Gunung Jati menyebarkan Islam pada abad ke-16. Menurut berbagai sumber, pernikahan Sunan Gunung Jati dengan Putri Ong Tien wanita berketurunan Tiongkok disinyalir menjadi awal bergabungnya dua kebudayaan tersebut. Kala itu keraton menjadi pusat kosmik sehingga ide atau gagasan serta pernak-pernik budaya Tiongkok masuk dan berasimilasi dengan budaya Cirebon. Termasuk hasil asimilasi itu adalah batik Cirebon dengan motif awan yang lekat dengan mitologi Tiongkok yang dinamakan dengan motif mega mendung.

Motif mega mendung sekalipun dipengaruhi gaya Tiongkok namun sarat makna religius dan filosofi. Garis-garis gambarnya merupakan simbol dari perjalanan hidup manusia dari lahir, anak-anak, remaja, dewasa, berumah tangga sampai meninggal dunia. Antara lahir dan mati tersambung garis penghubung yang kesemuanya menyimbolkan kebesaran Illahi. Menarik sekali.

Selain itu ada beberapa jenis batik Cirebon yang lain dan juga sarat degan legenda dan filosofinya masing-masing, yang barangkali akan lebih total bila diuraikan sambil travelling ke kampung batiknya langsung.

Batik menurut pengamatan saya, juga sedikit banyak menggambarkan kondisi masyarakat tempat batik ini dibuat. Misal di Jawa, batik menggambarkan masyarakat yang berlapis-lapis karena hampir semua memiliki fungsi masing-masing dan lumayan ribet. Bahkan batik jenis parang tidak bisa dipakai di keraton karena dianggap kurang sopan. Secara antropologi, batik trusmi juga menggambarkan masyarakat Cirebon yang lugas dan egaliter, maka tepat bila mewakili hubungan masyarakat yang blak-blakan dan setara. Barangkali sedikit berkebalikan dengan Jawa yang serba hati-hati, suka mbatin, dan cenderung agak feodal, hehe. (peace ^^)

So, Selamat Hari Batik 2 Oktober 2014 🙂

contoh batik trusmi

contoh batik trusmi

contoh batik trusmi motif mega mendung

contoh batik trusmi motif mega mendung

keluarga kedua

Sering kali saya berpikir,  Tuhan mungkin memang memberi setiap individu 2 jenis keluarga dalam hidupnya. Pertama, mereka yang telah otomatis menjadi keluarga karena kesamaan genetik (sejak lahir) atau ikatan pernikahan. Kedua mereka yang datang karena pertemuan di tengah-tengah perjalanan, barangkali karena sesuatu alasan, dan kemudian bersama, saling merepotkan, saling membutuhkan, merasa senasib, lalu akhirnya menjadi keluarga.
Dalam keluarga, penonton dan ditonton adalah dua pihak yang penting. Termasuk saya yang selama ini lebih senang berada di pojokan untuk nonton hingga cicak-cicak di dinding barangkali lebih eksis daripada saya selama ini. Tapi dalam keluarga, semua pahak adalah yang utama.

Teman-teman seperjuangan, seperti halnya teman kampus dan teman kerja, termasuk keluarga kedua bagi saya.
Sejak dulu, proses sosialisasi ibarat buku pelajaran yang selalu harus saya pahami isi dan maknanya. Adaptasi selalu bukan perihal mudah. Merekalah yang secara langsung atau tidak langsung, membuatku mengerti dan menyadari bahwa hidup itu nggak mungkin sendiri, nggak bisa sendiri, dan tentu bukan hanya untuk diri sendiri. Teman-teman di Penerbit L misalnya. Mereka, yang ketika nggak ada rasanya seperti ada bagian yang hilang, mereka teman yang selama dua tahun lebih sebulan ini, dan tetap ada dalam suka duka, dalam badmood dan riang, dalam cuek dan kepo, dalam diam, bawel, malas, rajin, rempong, praktis, judes, dan ramah yang sama alami sekalipun. Dan selalu saling menerima apa adanya… mungkin bukan sekali dua kali saya menemukan teman-teman kerja yang akhirnya jadi seakrab keluarga sebab kebiasaan saya yang cukup sering pindah-pindah kerja.

Memang benar, bahwa hubungan kerja tak hanya sekadar pekerjaan dan kepentingan. Namun, yang terasa spesial dari teman-teman Penerbit L ini barangkali memang kekeluargaannya, yang sejak awal hingga detik terakhir, masih selalu berkesan, yang barangakali hanya akan saya temukan di tempat itu.

Yeah, akhirnya saya mengerti, yang paling berat dialami oleh mereka yang resign dari penerbit L adalah momen pamitannya, di mana seseorang harus mengikrarkan sesuatu kepada kawan-kawan seperjuangannya itu untuk melanjutkan perjalanan di tempat lain.

Tapi selama mengabdi di sana, banyak pengalaman berharga yang saya alami. Saya yang rumit rempong, panik-an, dan paranoid, di tempat itulah, akhinya belajar banyak, salah satunya termasuk tentang menjadi sederhana. Hidup sering kali hanya tentang hal-hal yang sederhana. Hidup sering kali butuh kesederhanaan daripada kerumitan yang biasanya dibuat diri sendiri. Pada dasarnya keluarga adalah penyeimbang. Mungkin saja setiap individu selalu berpotensi menjadi rumit, maka mereka terdidik oleh keluarga yang cenderung sederhana.

Ternyata memang keluargalah, mereka yang terdiri dua janis tadi, yang membuat saya tetap ingat untuk tetap di bumi, menyeimbangkan kecenderungan saya yang mudah menghilang ke galaksi entah berantah.
Demikianlah yang kelak juga akan saya jalani, kemampuan membelah diri: dunia sunyi yang individual dan kehidupan sosial yang juga sama pentingnya.

Kurasa hari perpisahan tempo hari terasa campur aduk, sedih, lega, dan entahlah…
Tapi perjalanan memang harus dilanjutkan.

*Spesial buat teman-teman rempong saya, yang akan selalu saya rindukan. Tetap semangat dan sukses! 🙂

waktu jalan-jalan ngisi liburan ke Candi Plaosan.

waktu jalan-jalan ngisi liburan ke Candi Plaosan.

acara ultah kantor (tahun 2012) di salah satu panti asuhan di GunKid

acara ultah kantor (tahun 2012) di salah satu panti asuhan di GunKid

souvenir dari mpok-mpok rempong :)

souvenir dari mpok-mpok rempong 🙂

merci beaucoup à tous :')

merci beaucoup à tous :’)

Tradisi Kain di Indonesia

Ketika berbicara mengenai kain, pertama yang terlintas di benakku adalah Indonesia dengan segala yang plural di dalamnya. Kita tahu, Indonesia itu sendiri memiliki 1700 kepulauan, juga lebih dari 300 suku, dan 350-an bahasa. Tentunya nggak terbayang berapa jumlah kekayaan dan warisan budaya yang tersimpan di sana. Dari cara membuat rumah hingga memposisikan kain setiap daerah memiliki caranya sendiri-sendiri. Di berbagai catatan dan sastra lama, kain tardisonal pun banyak ditulisakan sebagai produk masyarakat yang memiliki nilai budaya tinggi karena selain memiliki keragaman bentuk, kain-kain tersebut diciptakan dengan lambang seni dan nilai falsafah.

Bila dikelompokkan, kain taradisional yang setidaknya suku di Indonesai mengenal 2 jenis kain, yaitu tenun dan batik. Menurut referensi yang kucari dari beberapa sumber, tenun merujuk pada jenis kain yang disulam dari benang dengan pilihan warna alami tertentu dan biasanya dibuat dengan menggunakan alat tenun. Banyak yang memasukkanya dalam golongan tekstil. Sejarah mengatakan bahwa tenun telah dikenal oleh nenek moyang kita sejak abad 8 hingga 2 sebelum masehi. Kala itu tenun diciptakan sebagai cermin penghormatan terhadap leluhur dan penghormatan terhadap kebesaran alam. Dan kebiasaan itu pun dilestarikan hingga sekarang.

Misal, masyarakat suku Batak pun mengenal 3 sumber kehangatan yang utama, yaitu matahari, api, dan kain ulos. Sebab suku Batak kebanyakan tinggal di bukit yang bertemperatur dingin, oleh karenanya selain matahari, ulos bahkan menjadi sumber kehangatan. Kain ulos memiliki peranan penting di kehidupan mereka. Selain dipakai dalam kegiatan sehari-hari, kain ulos juga digunakan dalam acara-acara besar seperti pernikahan, kelahiran, dan upacara kematian. Sementara di Sumba pun dikenal kain tenun yang memiliki corak fauna dan memiliki nilai religius yang tinggi. Belum lagi di daerah Bali, Kalimantan, dan daerah lainnya yang juga memiliki tradisi kain tenun.

Karena faktor geofrafi dan budaya itulah, maka setiap daerah memiliki corak kain yang berbeda. Di samping itu tenun juga mengandung fungsi sosial budaya yang penting. Sejak terjadi perdagangan global di zaman kerajaan Sriwijaya, di mana pedagang India, Arab, Tiongkok, dan sebagainya berdatangan dan mempengaruhi budaya, kain tenun pun mengalami akulturasi, kita dapat melihatnya pada perkembangan tenun yang ada di Palembang.

Tentunya akan sangat panjang bila kain tenun dibahas secara kesuluruhan. Aku juga baru tahu, di kotaku, Jogja, tradisi kain tenun juga sudah cukup poluler. Kain itu dinamakan lurik. Owalah, jian…

Sedangkan tradisi batik sebenarnya lebih meluas di Indonesia dan jenisnya pun bergam. Dari ujung wilayah suku Baduy hingga Madura pun kita akan menemukan sederet jenis batik yang berbeda corak, gaya, dan filosofinya. Karena batik di Jawa lebih banyak diekspos, ia jadi lebih populer dibanding kain batik di pulau-pulau lainnya. Batik Jawa yang polanya rumit dan lebih bervariasi akan berbeda dengan jenis batik Madura yang bisanya hanya satu tema, bunga-bungaan saja atau hewan saja. Belum lagi Pekalongan dan Jambi yang punya gaya batiknya sendiri, yang tak kalah keren juga.

Bila dicari dari asal usulnya, batik sebenarnya lebih merujuk pada budaya tulis. Secara etimologi, kata batik berasal dari gabungan dua kata bahasa Jawa, yaitu “amba” dan “titik”. Amba yang berarti “menulis” dan titik berarti sebuah noktah kecil. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, batik merupakan jenis kain yang dilukis dengan malam, kemudian diolah dan diproses dengan cara tertentu. Dalam bahasa Inggris teknik ini dikenal dengan istilah wax-resist dyeing. Itu berarti nenek moyang kita telah mengenal budaya tulis, menunjukkan bahwa mereka telah maju dalam ilmu pengetahuan. Amat pantas bila batik disebut sebagai wujud eksistensi budaya karena mengandung nilai-nilai filosofi.
Sehingga kelak bila mau memakai batik ke acara pernikahan, jangan sampai memilih jenis batik suwung, sebab itu dipakai untuk acara kematian. Begitu juga sebaliknya. Atau jangan juga memakai jenis parang di acara kerajaan, karena bisa-bisa dikira nantangin perang.

Saking kayanya nilai budaya yang terkandung dalam batik (khusus yang batik tulis) sampai-sampai pada tahun 2009 lalu, untuk pertama kalinya batik diakui sebagai World Heritage oleh UNESCO. Yeah, barangkali engkau telah membaca berulang kali mengenai batik sehingga tak perlu lagi kutulis ulang. Yeah, semacam itulah. Sayangnya batik tulis tersaingi oleh batik yang cap yang lebih laris di pasaran karena harganya lebih murah.

Pagi ini, melalui kain, aku jadi banyak baca artikel soal adat istiadat suku-suku budaya di Indonesia, yeah, itung-itung sambil ingat pelajaran Antropologi waktu SMA dulu.
Suatu saat kalau punya kesempatan jalan-jalan keliling Indonesia, pengin banget deh sekalian bikin buku tentang kain-kain tradisional dan kebiasaan masyarakat suku adatnya. 🙂 Tentunya itu akan sangat menarik.

*Untuk memenuhi tugas mingguan Komunitas Penamerah

ke(per)damaian

Okay, memang bakal ribet dan butuh waktu lama untuk mengurai suatu kasus menggunakan banyak sisi. Hanya saja, aku bayangkan aku sedang memegang sekotak krayon, warnanya beragam. Kuibaratkan krayon seperti manusia. Kita semua membawa sepaket warna, dan Tuhan terlanjur memasangkan sebuah misi yang berbeda-beda sebagai alasan kita ada di dunia sejak kita masih segumpal janin. Ketika dewasa kita juga tumbuh dengan lingkungan dan “makanan” yang berbeda pula.

Katakanlah di sekitar kita adalah warna-warna yang tidak sama atau sering kali tak lazim. Tapi biarlah, selama itu membentuk konsep lukisan yang indah, mengapa kita mesti khawatirkan detail warna? Mungkin di matamu: lanskap langit terlihat bertabrakan oleh warna hijau, laut akan aneh ditaburi warna hitam keabu-abuan, warna rambut sosok gadis di sana menjadi tak biasa dengan ungu, atau barangkali lukisan batu-batunya menjadi kontras dengan warna orange. Namun bila lukisan itu tak membunuhmu atau membuatmu praktis ingin membunuh pelukisnya, biarlah saja ia menjadi salah satu karya yang diam dan baik-baik saja di salah satu galeri.

Biar saja kita semua hidup dengan keyakinan yang plural, dan manusia toh fitrahnya mencari cahaya, sebab setiap manusia pun membawa bagian gelapnya masing-masing. Tugas kita cuma memperjuangkan dan menjaga ke(per)damaian selama hidup di bumi dengan apa pun caranya.
Urusan benar salah, itu nanti kalau sudah kiamat.

Barangkali, aku pun butuh belajar lagi soal perdamaian dan kedamaian.

(Terinspirasi surah Al-Kafirun)

Tahu Diri

Pagi ini, aku bangun terlalu pagi. Ayam-ayam belum juga berkokok, malam masih biru pekat. HP belum juga kuaktifkan karena biasanya pagi menjelang ngantor aku baru memegangnya. Udara dingin begitu nyaman di kulit, membasuh wajahku, mataku, sebagian kulitku. Kubiarkan gambaran mimpi menari-nari, duniaku sendiri. Daun-daun sibuk bertanya pada embun, tentang purnama yang kapan datang. Tapi sekaligus tak peduli, karena hidup tidak soal melihat purnama kemudian gugur seperti musim-musim biasanya.

Embun melupakan alasan tentang mengapa ia harus memilih dingin sementara mereka tak saling berjumpa pada cahaya. Mereka hidup, mereka bekerja, mereka memilih takdirnya, mereka tak berusaha saling menggantikan satu sama lain. Tak satu pun mengeluh…

Ada kupu-kupu, burung gereja, capung yang kemudian bermunculan, melupakan ribuan tanya tentang esok yang masih tua. Disusul kokok ayam dan suara adzan.

Ah, cahaya mulai menyusup sela-sela kamar. Tidak sampai pada hatiku sepenuhnya. Barangkali nanti. Suatu saat nanti, ketika kelak kutemukan di jalan mana yang semestinya kulalui. Mungkin pagi hanya terlalu gelap untukku. Mungkin tirai jendela tak terlalu lebar kubuka. Padahal semua hidup berkata, pada bahasa yang dapat dimengerti tanpa harus membuka mata lebar-lebar.

Karena sederhana saja, terkadang hidup hanya soal menyadari dan tahu diri….

🙂

ws_Green_Dew_1680