Tape dan Beberapa Resep

Tape singkong atau peuyeum, istilah bagi masyarakat Jawa Barat, selalu jadi oleh-oleh favorit kalau bapak dan ibu saya pulang dari Bandung. Meskipun di Jogja banyak dijual tape singkong, tetap saja tape khas Jabar lebih enak menurut Bapak. Apalagi beliau suka sekali berbagai jenis tape. Baik yang dari singkong maupun yang dari ketan. Kalau saya sendiri lebih suka yang tape ketan. Mungkin karena ada kuahnya:D (alasan yang aneh).

Di daerah saya, Jogja, termasuk kampung halaman Ibu di Bantul, menghidangkan tape ketan di acara besar seperti nikahan, kelahiran bayi, atau lebaran sudah merupakan kebiasaan. Biasanya disuguhkan bersama emping melinjo. Nah, saya pun kini jadi penggemar tape. Apalagi tape ketan yang dimakan bareng emping melinjo. Tape ketan dan emping melinjo itu bagi saya seperti sepasang sandal, kalau salah satu nggak ada rasanya kurang lengkap. Perpaduan asam, manis tape dan gurih empingnya hm.. nggak ada duanya.

Kalau Ibu bikin tape ketan sendiri di rumah, saya pasti rebutan deh sama Bapak. Tapi membuat jenis makan ini ternyata cukup lama. Setelah tape dimasak pun proses fermentasinya mesti 3 hari 2 malam dan itu pun diletakkan dalam wadah kedap udara dan tidak boleh terkena sinar matahari, nggak boleh juga dibuka sebelum waktunya. Dari mencuci beras ketan hingga jadi tape kalau diitung-itung bisa sampai 4 harian. Tapi untuk menghabiskannya tentu nggak sampai sejam :))

Ternyata membuat peuyeum pun sama-sama ribetnya. Namun di samping rasanya enak rupanya tape singkong ini mengandung berbagai manfaat positif lho untuk kesehatan tubuh, bahkan konon bisa menyembuhkan jerawat dan anemia.

Ketika peuyeum melimpah di rumah, boleh juga nih dimasak jadi berbagai cemilan selain dimakan langsung. Dibikin cake sepertinya menoton. Apalagi di rumah banyak yang nggak suka makan cake. Kalau ada cake di rumah, sebagian besar pasti jadi jatah makan ayam. Ternyata tape singkong pun bisa dinikmati dengan 3 cara ini.

Tape bakar tabur gula. 

Resep ini terinsirasi dari ibunya murid waktu saya masih mengajar privat di daerah Godean.Si ibu adalah perempuan yang tangguh menurut saya. Sejak suaminya meninggal, ia menghidupi sendiri dua anak dan seorang asisten rumah tangga. Kami sering sharing tentang perkembangan anak-anak. Dan sering kali saya disuguhi tape bakar tabur gula ini setiap mengajar yang merupakan camilan khas keluarga.

Cara membuatnya:
Pertama olesi penggorengan dengan mentega dan panaskan.
Tape dimasak dulu di teflon dengan api kecil sampai kering dan ada semburat gosong, tapi jangan terlalu gosong.
Setelah itu, angkat dan taburi dengan gula/saus caramel santan

Coba deh, rasanya enaaaak banget.

Cassava sweet cake with egg and lope.

Nama yang panjang ini pemberian dari sepupu saya. Kalau di suruh ngulangin secara lesan saya nggak bakal hafal. Cukup saya sebut tape goreng. Cara membuatnya:

Siapkan tape singkong, tepung terigu, telur, gula pasir, garam, mentega cair.
Lumat semua bahan, masak di atas teflon, dengan api sedang
Angkat setelah kecokelatan.

Ini juga rasanya enak banget. Bisa dijadikan camilan atau sarapan.

 

Dicampur es buah.

Bisa ditambahkan pisang, kurma, kolang-kaling, nangka, agar-agar, susu kental manis, dan es puter rasa kelapa.

 

Selain tiga cara di atas, tape singkong juga bisa dibikin variasi makanan lain seperti puding, es krim, dan banyak lagi. Sepertinya kapan-kapan perlu deh eksperimen. 😀

 

IMG_20160309_111822

tape goreng

 

Iklan

kehidupan baru

Aku jadi sering mengantuk dan tidur, setiap jam kelaparan, setiap menit ada yang selalu kukhawatirkan, tiba-tiba jadi sangat sensitif. Semua perasaan itu datang dan pergi bersama dengan kebahagiaan yang tak bisa kujabarkan. Entah bagaimana selalu saja banyak hal terjawab begitu harapan tidak lagi sebegitu besar. Dan dalam hitungan hari belakangan ini, aku merasa jadi orang lain. Barangkali tengah berganti naluri. Atau entah apa.

Hanya bisa berbisik kukatakan selamat datang kehidupan baru. Aku sangat bersyukur dan akan menjagamu, meskipun mungkin akan sedikit seperti orang kalap 😀

Rasa Pedas

Kau penyuka rasa pedas?

Aku nggak terlalu menggemari, tapi makanan pedas kuakui enak. Terlebih bila komposisi bumbu dengan bahan dasarnya pas, entah itu pedas karena cabai atau merica. Mereka akan meninggalkan jejak nikmat (lengkap) sebelum melanjutkan perjalanan ke kerongkongan dan lambung untuk melebur dengan zat HCL, pepsin, renin, dan makanan lainnya. Mulut dapat merasai sensasi menyakitkan tapi enak yang dihasilkan rasa pedas itu. Namun tidak semua lambung lantas menyambut dengan bersahabat. Jadi benar, ada kalanya orang-orang yang memiih makanan enak, cenderung lebih dahulu mempertimbangkan selera yang dituntut oleh indra pengecap, utamanya lidah dan indra peciuman, ketimbang kemampuan alat pencernaan setelah mulut ataupun kesehatan. Terlebih kemampuan perut tak bisa terdeteksi sebelum betulan terlihat dampaknya.

Kata seorang teman rasa pedas itu merusak rasa. Teman lain bilang itu justru memperkuat rasa. Kedua pendapat itu dapat dikatakan benar karena sebetulnya cabai menyangkut selera. Selera berkait erat dengan individu yang tentunya sudah beragam dari sananya. Manusia dan selera adalah identitas yang berpasangan selalu. Ada yang senang bila cabainya melimpah. Ada yang menyerah duluan dengan cabai setengah biji. Ada pula yang menolak sama sekali masakan pedas secuil pun.

Ketika aku iseng browsing sejarah makanan pedas, ternyata sulit juga dicari. Ada yang bilang berasal dari Melayu, sebelum Indonesia bernama Indonesia. Masyarakat Thailand pun familier dengan tradisi makan pedas. Ingat penjelasan salah satu dosen ketika zaman kuliah, bahwa setiap daerah bisa berbeda kecenderungan jenis makanan sesuai dengan kondisi alamnya. Semula makanan pedas biasanya dikonsumsi masyarakat sekitar pegunungan atau daerah berhawa dingin. Zat yang terkandung di dalam cabai dipercaya dapat menghangatkan tubuh. Meski demikian, tidak semua orang lantas mengonsumsinya. Sebab di negara-negara lain, seperti negara-negara di Eropa, mereka konon tidak memakan cabai seperti di Asia. Sebagai penghangat mereka meminum semacam wine. Meskipun jahe sebenarnya bisa, tapi jahe digunakan di Indonesia. Sehingga kurasa cara masyarakat mengatasi rasa dingin melalui makanan hanya soal adat dan kebiasaan. Barangkali belum bisa dikatakan melulu tentang adaptasi, melainkan selera. Masyarakat dari tradisi pemakan cabai ekstrem pun ketika berkunjung ke Jogja akan mengeluhkan rasa manis di dalam unsur masakannya, dan akan tetap menambahkan porsi cabai meskipun udara Jogja sudah hangat.

Tapi rupanya rasa pedas tidak berasal dari tanah Melayu. Di India ada jenis cabai Bhut Jolokia yang sempat membuat pemakannya terkapar pada menit ke-30, konon efeknya hingga 12 jam.  Cabe ini menggantikan jenis Red Savina yang semula menjadi cabai terpedas di dunia versi Guinness World Records. Pada versi itu, ada beberapa peraih rekor yang rupanya justru dari Meksiko. Ada pula yang menyatakan Ed Currie yang terpedas di dunia. yang juga berasal dari Meksiko. Tak lama versi Guinness Book of Records menyatakan cabai asal Inggrislah, cabai Infinity, yang terpedas di dunia. Jadi untuk apa cabai diciptakan di dunia selain untuk bumbu makanan dan ikut lomba? Untuk obat. Beberapa artikel ilmiah menjelaskan kegunaannya di bidang kesehatan, tapi dalam porsi yang cukup dan cenderung sedikit. Cabai juga punya manfaat mengobati.

Namun, kemarin hari sedikit menyesal sekaligus bersyukur dengan masakan pedas yang kumakan, memang pada dasarnya lezat sekali, apalagi dikonsumsi di antara suasana ‘hangat’. Hanya saja unsur cabainya melebihi batas normal kemampuanku merespons rasa pedas yang tentunya hanya kusimpan sendiri dalam hati -__-. Sebab sehari setelahnya, selain masih ada rasa panas di pangkal kerongkongan hingga lambung, efek lain yang cukup bikin mules dan lemes pun mengikuti. Tongseng kuah yang rasanya gurih itu semula menimbulkan efek bahagia. Aku memang melihat semua orang tampak menikmatinya. Ada yang megap-megap tapi ketagihan, ada yang memang benar-benar menghindari karena warna kuahnya dominan merah, ada yang malah jadi tambah sehat habis kepedasan meski muka merah dan air mata bercucuran, mirip ekspresiku. Bahkan ada yang memakannya seperti ngemil kacang goreng sambil nonton bola.

Namun, lapar dan perasaan tidak enak menolak hidangan sang koki yang ahli masak tongseng kambing ini adalah perpaduan cocok untuk membuatku tetap makan kemarin hari. Pada detik-detik awal, sedikit masih bisa menikmati sensasi rasa gurih yang pas di dalam masakannya, lama kelamaaan tak sadar secara insting, aku berusaha menghabiskan makanan cepat-cepat tanpa mampu bersuara sepatah kata pun. Begitu melihat air putih, rasanya ingin menenggak seluruh isinya dalam hitungan detik. Berharap pedas itu segera hilang dan kembali pada efek makanan sedapnya. Sampai di rumah cepat-cepat aku menelan semua makanan penetral dan berhenti berpikir yang tidak-tidak. Memang banyak orang di luar sana merasa lebih nyaman dan lebih bugar setelah megap-megap, tapi rupanya aku tak punya respons naluriah bersifat positif semacam itu.

Rasanya untuk beberapa hari ke depan, aku perlu menghindari hal-hal yang pedas. Selain rasa terbakar di leher dan sekitar perut, efek psikologisnya pun bakal tidak sebentar. Untuk soal makanan pedas, yang mewakili keberagaman manusia itu, aku nggak mau lagi bertoleransi. Demi apa pun untuk saat ini.

Postinganku kali ini memang lebih banyak tentang rasa pedas cabai. Berbicara soal rasa pedas, mungkin demikian cara manusia menjalani hidupnya: sekalipun menyakitkan, tapi toh tetap menikmatinya juga sebagai hidangan rutin.:)

Bagaimana pun pengalaman kepedasan adalah pengalaman yang berharga untuk dilewatkan.

target

Sejak bangun tidur sejam yang lalu, aku langsung menyetel musik, membuka jendela, cuci muka, bikin kopi, kemudian mengambil 4 koran langgananku di depan untuk kubawa ke kamar lagi, lalu membaca, seperti yang biasanya.

Udara hangat menyeruak kamar, cericit burung telah ramai, dan sengaja memang kunikmati pagi di hari libur ala masa dulu. Sempat kubayangkan kebun yang penuh tetumbuhan itu dikunjungi ratusan peri semalaman. Barangkali mereka menyanyi dan menari sampai sebagian sayapnya berjatuhan di tanah. Barangkali mereka telah selesai memunguti mimpi-mimpi yang dipinjamkan untuk para manusia kemudian tidur di atas bunga-bunga. Kau percaya pada peri? 🙂

Rasanya sudah lama tak bercengkerama dengan rasa sunyi, melamunkan banyak hal, membaca banyak hal tanpa dibebani segala rutinitas monoton. Begitu saja kuingat banyak target yang tanpa dimulai dari sekarang, takkan jadi sampai kapan pun.

Untuk itulah, kini waktunya memulai semuanya. Abaikan hal-hal yang bikin gelisah dan terhambat. 🙂

Pagi di Hari Sabtu

Demikianlah bila sedang libur puasa sementara seluruh keluargamu berpuasa: bangun kesiangan, bikin kopi sampai tumpah, dan berjumpalitan ngebut 80 km/jam berangkat ke kantor. Seperti zaman single dulu. (Yeah, perempuan nikah kan biasanya dianggap berkepribadian lebih hati-hati dan “lebih wanita” dariapda ketika single).

Tapi lebih santai memang berangkat kerja di hari Sabtu dan aku selalu suka itu. Jalanan lebih lengang dari biasanya karena sebagian besar kantor di kota ini libur. Kau akan menemukan nuansa yang lebih hangat meski kamu merasa sepi. Kau takkan bertemu kemacetan yang dipenuhi orang-orang yang kalut memikirkan pekerjaannya. Kau bahkan akan sempat mengamati warna langit dan jajaran pegunungan di kejauhan sana yang diselimuti kabut samar. Juga bisa mengamati bangunan dan pertokoan serta aktivitas paginya sepanjang jalan yang kini semakin berdesakan.

Dan demikian bila kamu sedang sendiri. Tak perlu selalu diperhatikan sebab Tuhan toh merasa engkau mampu mengurus hidupmu sendiri. Itulah gunannya bersyukur dengan semua kondisi. 🙂

Hari-hari Menjelang Ramadhan (3)

Diari hari ini

Dalam ngantuk kusempat menulis catatan yang potong-potong ini. Semuanya beranjak dari hal-hal biasa dari keseharian yang kutemukan hari ini.

SATU

Pernikahan itu ibadah. Yeah, benar. Bila kedua pelakunya memosisikan perjalanan hubungan tersebut atas patokan nilai-nilai religius, komitmen, tanggung jawab, kasih sayang, dan kebersamaan yang setia. Bila tidak, pernikahan hanya sekadar ikatan di atas hukum resmi, selebihnya hanya tentang dua orang yang tinggal satu atap namun ‘hidup sendiri-sendiri’. Barangkali mereka hanya tinggal menunggu kapan waktu yang tepat untuk tak lagi serumah.

*Catatan ini terinspirasi dari: betapa punya teman ngobrol yang sedang galau nikah, membuat hidup kita kadang menarik karena mampu membuat kita kembali pada perenungan dan kesadaran tentang hal-hal di sekitar.

DUA

Obrolan bareng sahabat pagi ini:

“Jenk, aku kadang khawatir deh kalo punya suami ganteng,” begitu katanya di sela curcol kami.

Beberapa waktu yang lalu, kami berdua terharu dengan kisah cinta dari Aceh. Seorang bule cakep jatuh cinta pada pribumi aceh yang (maaf, bisa dibilang) kurang cantik menurut ukuran Indonesia. Mereka menikah sejak perkenalan pertama pasca-Tsunami. Pada sebuah acara talkshow di stasiun televisi, si istri berjalan masuk ke panggung. Susah payah karena memakai high heels, ia jatuh. Eh, dengan siap, si suami yang bule itu memeluknya dengan kasih sayang sambil menolongnya bangkit. Tidak malu pula dilihat orang se-Indonesia. Anda pasti ingat dengan kisah Jono, mengingatkan betapa cinta sejati itu ada, dan ia tak mengenal siapa orangnya. Ya, lepas dari terpaan gosip yang emndera mereka akhir-akhir ini sih.

“Ah, nggak masalah kok punya suami ganteng,” kata saya meyakinkan. “Yang jadi masalah itu kalau suamimu sok kegantengan. Udah gitu suka mbribik pula. Alias playboy. Njelehi pastinya. Jangan sampai.”

Dia ngakak. Saya ngakak. Obrolan itu kami akhiri dengan tawa lepas yang kurang sopan kalau dilihat dari ukuran wanita jawa. Dan entah apa yang sedang kami tertawakan sesungguhnya.

TIGA

*Perempuan kedang takut menemukan suami yang ternyata tak sesuai yang terlihat di kala pacaran. Tapi memang benar, pacaran dan menikah bisa jadi dua hal yang sangat lain. Terlebih bila dari awl sudah terlalu berharap. Banyak hal manis yang dialami di masa pacaran tak lagi terjadi di masa menikah. Ingat obrolan konyol salah satu teman. “Sekarang kamu dipanggil pacarmu darling, beb, say, dan lain-lain. Bisa saja udah nikah kamu dipanggil ‘cuk'”.Kekurangan yang barangkali bikin engkau dongkol dan bosan takkan terlihat di masa pacaran, selama apa pun kalian menjalani pacaran itu. Yup, hanya bisa bilang, menikahlah Jenk, dengan yang sudah terbukti seiman dan sayang denganmu. Setiap orang punya kekurangan, tapi aku yakin Tuhan takkan membiarkan kita sekarat karena bosan.

Tentu saja, perempuan paling beruntung adalah tahu-tahu ia menikahi pria setia.

EMPAT

Sudahlah ah, mari berhenti ngomongin seputar hubungan.

Kebetulan saya lagi semangat untuk masuk dalam kesibukan bekerja. Memang dalam Islam, tidak wajib wanita bekerja di luar rumah. Tapi boleh bila itu jadi pelarian rasa suntuk dan kemudian membuat hidup kita lebih berkualitas daripada membusuk di dalam rumah.

LIMA

Tentu saja, ngopi itu tetap penting. Selama belum ada alasan kuat untuk berhenti, hehehe.

ENAM

Akhirnya saya, adik perempuan saya, dan Ibu yang jarang bertemu, menjadi tim sharing seru sambil ngopi bareng. 🙂 Kadang keadaan bisa menyatukan tiga perempuan yang biasanya saling berseberangan.

TUJUH

Bila di Kota Jogja ini masih banyak sekumpulan pengajian yasinan (untuk leluhur) yang hanya dihadiri oleh kaum bapak-bapak saja dengan para ibu jumpalitan di dapur untuk bikin suguhan, semoga hal itu bukan karena tradisi patriakhat masih dominan. Saya masih sensitif dengan fenomena semacam itu. Allah saja nggak membedakan ia laki-laki atau perempuan dalam soal nilai beribadah.

DELAPAN

Maka, akhir dari curhat saya malam ini adalah doa.

Tuhan, semoga saya menjadi umat yang bahagia dunia akherat dan selalu dekat dengan Engkau. Dan terangilah selalu jalan hidup saya. Amin.

 

Hidup memang tak hanya tentang membayar kesalahan di masa lalu, tapi tentang mencari jalan pulang di kemudian hari, maka aku suntuk dengan keramaian-keramaian itu, di mana orang-orang membicarakan hal-hal yang dunia dan tak selamanya ada….

Betapa kini lebih mudah bagiku menghargai hal-hal kecil yang kutemukan setiap hari, ketimbang banyak berharap hal-hal yang belum tentu kumiliki…

Seperti keindahan kecil yang kutemukan di liburan kemarin hari….

 

DSCN0072

mesti kejar-kejaran dulu sama makhluk ini sebelum berhasil ambil gambarnya 🙂

 

DSCN0063

bunga tapak doro

 

DSCN0076

 

 

 

 

Reuni Orang-Orang Asing

Sepertinya saya memang mengalami dua reuni yang agak menggelikan belakangan ini. Kemarin dan hari ini. Saya memang suka bertemu teman-teman dalam sebuah forum, apalagi kalau tidak lama-lama. Hanya sedikit menangkap kejanggalan di reuni semalam. Bayangkan engkau sebagai wanita yang belum menikah, berada di antara teman-teman lama sesama wanita yang semuanya telah berkeluarga dan punya beberapa anak. Kira-kira apakah obrolan yang banyak terjadi?

Kedua, rupanya reuni baru akan terasa aneh kalau dikemas dalam tema yang formal. Ada satu sesi di mana para alumni dari berbagai angkatan menyebutkan pekerjaaan-pekerjaan mereka usai lulus dengan bergiliran. Hasilnya sudah diduga. Hampir semua nggak bekerja di bidang sastra dan yang berhubungan dengan itu. Menurut saya sudah hal yang wajar di Indonesia, alumnus sarjana bekerja di bidang yang tidak nyambung dengan ilmu yang dipelajarinya 4-5 tahun.

Saya guru Matematika, sejak semester 8, kujawab demikian dengan ekspresi biasa saja. Juga jujur menyatakan kalau hal menyenangkan selama kuliah adalah karena angkatan saya cuma 3 orang, dan saya suka belajar di suasana yang tidak terlalu ramai. Rasanya ingin menyampaikan bahwa, pekerjaan fulltime saya cuma membaca dan menyepi, apa pun itu yang lain pekerjaan parttime, terima kasih. Dan acara semacam ini sungguh kurang bermutu. Lalu sesi lain, para dosen banyak membahas mereka yang pernah dapat besiswa atau ke luar negeri. Juga dosen lain pun bercerita pengalamannya di luar negeri. Sebagai semacam ‘patokan’. Baru sadar kalau peserta dari sastra Indonesia cuma saya seorang.

Jadi inget kata kakak angkatan yang terbiasa ngomong ceplas-ceplos tapi kadang bener: “mepelajri sastra memiliki visi misi mengubah keadaan di masyarakat. Lebih luas lagi dunia. Kalau sastra inggris nggak mempelajari karya sastra secara mendalam, malah banyak tata bahasa dan manfaatnya di bidang pekerjaan, sama saja kayak les bahasa Inggris di elti dong. Banyak toh yang akhirnya kerja di bank atau perhotelan?”
Tapi itu dulu, waktu sastra Inggris dan Indonesia, masih saling sindir dalam forum-forum tertentu. Sekarang, kedua jurusan itu tampak saling membutuhkan dan bergantung.

Sebaliknya, prodiku sendiri juga masih kacau bin tidak jelas. Sampai tahun ini bahkan masih mencari identitas, dan sampai 3 kali, saya, yang termasuk alumni, bahkan dimintai ide mata kuliah tambahan yang bermanfaat untuk profesi mahasiswa ke depannya.”
Semakin ngawur lagi. Ide-ide keren yang dulu bermunculan dikemanakan?
Memang bakal disetujui apa kalau saya usulkan yang aneh-aneh, seperti Matkul Kesetaraan Gender dan Feminisme misalnya? Perasaan dulu mahasiswa yang bertampang sosialis dan mempelajari buku-buku kiri dicap komunis juga deh. Usulan skripsinya pun alot dan njulik. Tapi menarik juga, usaha tetep penting bukan? Saya bakal usulkan hal-hal yang memang dibutuhkan di zaman edan semacam sekarang.

Kembali ke masalah acara.

Tahu bakal ditodong mic, aku hanya bolak-balik ke arah meja snack, ambil kopi, ambil camilan, dan lain-lain sebelum disodori benda tersebut untuk berbicara. Kami semua berbicara satu-satu brgiliran menceritakan (memamerkan) kesibukan sekarang. Kerja freelance dan wiraswasta masih dianggap pengangguran di negeri ini, saya sadar itu. Dan akhirnya di depan umum seperti itu, tentu saja aku hanya bicara sedikit dan secukupnya saja. Selain malas ngomong, memang sudah lama sekali tidak terbiasa di depan publik, sejak tidak lagi akif di organisasi dan sejak pekerjaan editor membuat saya jadi semaikin introvert. Sejujurnya, selain pohon tebu dan pria bertampang ganteng, suasana formal seperti itu juga salah satu hal yang membuat saya agak elergi dan pengin cepet menjauh.

Maklum kalau akhirnya banyak yang tidak jadi datang karena alasan malu dan nggak nyaman dengan acara formal. Dan selanjutnya, aku menyadari, orang-orang terbaik yang mestinya dapat menghidupkan hal yang “sastra” di kampus, lama kelamaan menjadi terpecah sendiri-sendiri dan hilang. Kukira acaranya bakal seperti pesta kebun sambil bakar jagung dan ngobrol bebas seperti tadi malam.

Tiba-tiba jadi bertanya-tanya, apakah reuni ini memang untuk reuni itu sendiri?
Atau apakah ada hubungannya dengan unsur marketing dan peningkatan akreditasi kampus?
Apakah ada gunannya perkumpulan reuni diadakan setiap dua tahun? Bukannya malah efektif kalau 10 tahun sekali?

Omong-omong, memang kesuksesan seseorang dapat dinilai dari kantor tempat ia bekerja atau apakah ia pernah keluar negeri?

Yeah, kuakui, ada sebagian dari masyarakat kita yang merasa menemukan perasaan pulang dan bahagia ketika telah berada di negeri-negeri yang jauh di sana. Ada juga yang demi sesuatu yang lebih penting di tanah airnya, mereka bersedia berlama-lama menahan ketidakbetahan. Dan kita juga tahu, ada juga manusia yang sudah merasa bahagia dan sukses ketika dia terbebas dari tanggung jawab pekerjaan apa pun. Ada juga yang bahagia bila ia bekerja lebih dari 20 jam per hari meskipun gajinya sama seperti pegawai bank yang masih training. Ukuran sukses dan bahagia tentu bermacam-macam. Orang juga berkarakter macam-macam. Bagaimana fakultas sastra bisa kurang menjangkau hal-hal yang mestinya “sastra”?

Tapi, hei, apakah itu arti sukses yang sebenarnya?
entahlah..
Sebab tatkala aku mengatakan pada seorang teman yang baru pulang menjelesaikan tugasnya di luar negeri, “Kamu beruntung kesampaian jalan-jalan ke luar negeri, Jenk. Aku baru mimpi aja sudah harus ingat kalau itu mustahil. Kenapa nggak lanjutin kontrak kalau di sana memang banyak tawaran?”
Mukanya malah berubah sendu, dan ia mengatakan, “Aku pulang dan memutuskan tidak melanjutkan kontrak karena pengen menikah, Jenk… tapi calon belum ada, padahal usiaku sudah nggak muda, selain itu aku khawatir dengan ibuku yang sudah sepuh dan belum melihatku menikah.” Dan intinya dia belum merasa sukses. Atau barangkali setiap kesuksesan yang dicapai orang-orang belum tentu merupakan kesuksesan sempurna seperti kelihatannya?

Hari ini aku pulang mengajar dengan resah. Jalan-jalan macet. Sedari siang parade kampanye semakin brutal bentuknya. Cuaca gerah. Dan saya, baru sadar kalau sekarang lagi musim liburan. Pantes.

jalan tengah dan kesabaran: catatan harianku

28 Maret 2014
Jumat–di hari yang tak bersahabat denganku, seperti biasa

 

Belakangan saya kembali menikmati hobi menulis dan membaca di dalam suasana yang sunyi, seperti dulu kala, dan akhirnya, saya tahu betapa bahagianya bisa menulis hal-hal yang memang ingin saya tulis. Seperti catatan kecil yang seharian ini saya buat:

 

1.
Manusia memang mesti berada “di tengah”
Satu sisi agama dan nilai-nilai hidup mengajari manusia untuk hidup sebaik mungkin, tapi di sisi lain kita semua tidak boleh terlalu mencintai dunia.
Dan atas banyak alasan, aku selalu sepakat dengan itu.

 2.

Dalam doa, aku pun berada di tengah. Benar kata seorang kawan di masa lalu, bahwa kita tak perlu berdoa minta rezeki sama Tuhan karena Ia sudah siapkan sesuai jatahnya. Yah, kurasa rezeki memang sudah diatur oleh Tuhan sesuai usaha manusianya. Bahkan anak bayi yang lahir di lingkungan miskin juga sudah ditentukan rezekinya, tergantung apakah orang tuanya korupsi atau tidak.
Maka, menurutku, bila kita hanya berdoa minta ditambah materi, sama saja membuat hidup kita rugi dengan hal-hal indah yang bisa kita harap, seperti: kesehatan, menjadi bermanfaat untuk dunia, kesampaian travelling ke penjuru bumi, atau memiliki sahabat-sahabat sejati misalnya.
Tapi doa yang terbaik bagiku adalah jangan pernah Tuhan jauh dan meninggalkanku. Dan semoga Ia selalu kucintai di atas segala hal dalam hidupku. Dalam doa, hanya mampu kuserahkan segalanya pada Yang Maha Pemberi Hidup dalam kondisi netral.

3

Ukuran baik buruk bukan masyarakat yang menentukan, selama mereka tidak terlalu peduli tentang kita dan selama mereka juga tidak pernah membiayai kita seumur hidup. Keyakinan akan ukuran yang terbaik tergantung individu masing-masing.

Dalam hal ini kesabaran memang dibutuhkan.

 

4.

Aku benci di-PHP-in, oleh apa pun itu. Membuatku ingat sejarah diskriminasi yang dialami penduduk marginal, juga termasuk sejarah para perempuan di Indonesia.
Kini sudah zaman kesetaraan. Dan aku bersyukur bahwa aku tipikal yang selalu memiliki kegiatan sendiri yang menyenangkan selama tidak sedang tidur. Bagaimana bila yang mengalami adalah tipikal yang tidak punya kegiatan di luar kemapanan-kemapanan itu, selain menunggu dan menunggu? Dan bersyukur bahwa selama ini aku memang nyaman dengan kesendirian.
Namun bagaimanapun, kalimat “Aku benci di-PHP-in” adalah keputusan yang sama-sama kita sepakati bukan?

5.

Tidak ada orang tua yang sempurna untuk anak-anaknya. Tapi orang tua adalah ‘jalan’ dan tokoh-tokoh terbaik bagi “jalan hidup” anak-anaknya. Begitu juga anak-anak adalah jalan hidup terbaik bagi orang tuanya. Kita semua dalah pembawa sebab dan akibat bagi orang lain dalam bentuk karakter yang beragam. Dan toh bukan hal yang aneh bila karakter anak-anak bisa sangat berbeda dengan orang tuanya, di zaman sekarang… Dan segala hal itu memang sudah digariskan oleh Tuhan. Begitu juga dengan pasangan hidup.
(dan aku sedang tidak berbicara tentang lakon pewayangan)

 

6.

Dengan hal-hal yang amat bersebrangan, kita hanya butuh memaklumi.

Lalu seluas apa makna sabar? Apakah sungguh kesabaran memiliki batasan?

 

 

Catatan Senin Malam

1
Aku ingat pernah menuliskan film The Lady, tapi entah di manakah file itu berada.
Film itu begitu menarik, dan setiap peristiwanya kuingat… setiap apa pun yang menyangkut film itu di tahun 2012-an.

Barangkali di dunia ini, cinta yang sempurna tidak ada. Seperti yang ada di film itu.

Cinta? hm, sejak kapan aku sanggup jujur dengan perasaanku?

2.
Karena mimpi itu gratis, kenapa tidak kita tulis mimpi kita sebanyak-banyaknya?

Akhir-akhir ini, aku sedang terus menuliskan mimpi dan rencana-rencana hidup di setiap kesempatan. Belakangan kutahu, menulis rencana hidup juga sudah menjadi tradisi sejak zaman Romawi Kuno. Tapi seperti halnya banyak orang di laur sana, aku juga selalu takut. Bukan takut bermimpi, melainkan tentang hal-hal yang mungkin kelak menghalangi supaya aku berubah pikiran.

3.

Betapa akhir dari sesuatu yang telah lama ditunggu dan ditebak-tebak jawabannya, bisa menimbulkan rasa sedih dan lelah dua kali lipat sepertinya. Dan yang kumaksud ini, tentang ditemukannya bangkai pesawat Malaysia Airlines MH370 yang hilang, yang kubaca beberapa saat yang lalu.
Tapi meski demikian, meski kepastian kadang menyakitkan, tak ada lagi penantian dan prasangka yang tak pasti yang berlarut dan berlanjut.
Demikianlah kadang hidup itu mengajari kita.

4.
Perpisahan selalu menimbulkan kesedihan, sekalipun kita sadar, kesedihan selalu tak berlangsung lama dan kadang datang kemudian pergi, kadang menjadi awal dari sesuatu atau akhir dari sesuatu.

Hari ini, seorang guru yang telah bekerja sama denganku 3 bulan ini mengundurkan diri karena akan pindah ke Kalimantan. Namanya Rina. Dia mahasiswa di salah atu universitas swasta islam di Yogyakarta. Sejak awal aku mewawancarainya, aku telah melihat kesungguhannya. Dia menemuiku tidak lewat iklan yang kupasang di koran atau jejaring sosial, tapi inisiatif begitu ada info terdengar dari temannya. demikianlah, langsung kuserahkan beberapa murid kepadanya yang sedang menunggu guru yang bersedia.

Aku selalu menaruh kepercayaan dengan mudah terhadap mereka yang mau mengajar, dan benar, Rina adalah salah satu dari mereka yang memang berjiwa mengajar. Sebab selama ini aku menghafal seperti apa tipikal pengajar yang orientasinya cenderung hanya pada materi. Tapi untunglah itu hanya satu dua yang kutemui. Rina tipikal yang tulus. Sejak awal dia sudah care dengan permasalahan murid, bila aku harus mengganti jadwalnya dengan guru lain, ia akan meminta nomor si guru tersebut, untuk menjelaskan perihal si murid, supaya ke depannya dapat melanjutkan materi yang diajarkan sebelumnya. Dan itu dia lakukan tanpa kuminta. Yeah, barangkali sebab dia juga paling dewasa dia antara yang lain, maksudnya, sebab guru-guru lain masih semester awal dan masih awam soal mengajar, tapi di samping itu, Rina inilah yang paling mengerti kalau tidak mudah bagiku meng-handle semua ini sendirian.

Dan di antara 12 guru yang bekerja sama denganku akhir-akhir ini, alhamdulillah kebanyakan memang tak berorientasi pada gaji. Melainkan pada kualitas. Termasuk dia. Maka, aku menjadi yakin, suatu hari cita-cita bikin sekolah untuk rakyat menemukan cahaya. Tapi saking loyalnya, Rina bahkan saat pamitan tadi dia minta honor dua kali mengajarnya bulan ini diberikan salah satu temennya, temen guru juga 😐 . Padahal sudah kuyakinkah bahwa gaji bisa ditransfer ke mana pun guru-guru ini bepergian. Tapi katanya, itu sudah menjadi niatnya. Akhinya itu pun jadi amanah yang mesti kusampaikan akhir bulan nanti.

Oke, akhirnya kami share soal cita-cita. Dia juga tertarik di bidang itu. Kami saling mendoakan semoga sukses di masa mendatang. Dan akhirnya aku juga malah curhat, kelak sku memang ingin membuat sekolah gratis untuk masyarakat yang tidak mampu, juga yang berada di pinggir wilayah Indonesia, supaya tidak ketinggalan hidup di zaman kapitalis seperti ini. Untuk itulah, aku bakal bekerja keras di waktu mendatang, supaya dalam proses itu, segalanya dapat terlaksana dengan lancar satu per satu. Tentu aku butuh doa untuk membuat segalanya terlaksana.
Dan rupanya, cita-citaku sama dengan Rina. Kami akhirnya memutuskan untuk jangan lost contact, sebab suatu hari siapa tahu Tuhan mengizinkan, kami bisa bekerja sama. Amin untuk segala doa yang berniat dari jiwa.

Mbah Uti

1
Di sebelah kamarku adalah rumah kecil mbah utiku. Di antara semua ruang di rumah ini, ruang kecil itulah yang selalu hingar dan ramai. Yeah, mbah utiku adalah tipikal wanita gaul era dulu dan kini. Beliau eyang yang punya banyak teman, ceria, dan selalu bersemangat menjalani hidup meskipun telah janda. Setiap hari, selalu berkumpul para embah untuk ngibrol ngalor-ngidul, bercanda, atau numpang tidur berjam-jam bila bosan di rumah mereka. Mereka adalah teman-teman Mbah Uti dari berbagai kalangan. Ada yang teman senam, teman angklung, temen belanja, ataupun sekadar teman galau. Hampir setiap hari rumah kecil itu seperti mirip basecamp komunitas simbah-simbah. Sering kali terdengar tawa, orang-orang yang ngobrol, hingga denting piring dan gelas, hingga membuat rumah ini tidak sesunyi kuburan. Bila iseng, aku sering ikut nimbrung sekadar duduk atau nguping aja mendengar obrolan mereka yang sering konyol itu. Namanya juga mbah-mbah. Ada juga yang saling tidak nyambung saat bercakap lantaran salah satunya mengalami masalah pada pendengaran.

Mbah Uti sangat bertolak belakang denganku dalam hal pertemanan. Mbah Uti ekstrovert, sedangkan aku sangat introvert. Sejak kecil teman-teman yang main ke rumah bisa dihitung dengan jari. Tapi kalau teman-teman Mbah, hm, belum pernah ada anggota keluarga yang hafal berapanya saking banyaknya. Mbah Uti sebenarnya agak sama ekstrovertnya dengan adik perempuanku. Bedanya dunia adik perempuaku dulu sebelum berkeluarga adalah di luar rumah. Dan baru ketahuan betapa banyaknya teman-temannya ketika ia diwisuda dan menikah. Yeah, kurasa “teman dan sahabat” adalah kemewahan bagi orang-orang tertentu.

Tapi memang tidak setiap manusia supel barangkali selalu nyaman menempatkan dirinya di tengah publik terus menerus. Rupanya manusia gaul seperti Mbah juga punya sisi di mana ia juga butuh privasi. Hari ini, bahkan menyuruh adik lelakiku yang sering nongkrong sambil ngelukis di deket pintu untuk membukakan setiap tamu, dan mengatakan kalau simbah tidak di rumah. Intinya, seharian ini adik lelakiku jadi front office sementara.

Eh, kebetulan aja siang tadi ibuku tidak sempat dipesenin apa-apa, dan adikku itu sedang ke belakang. Dengan polosnya Ibu mengizinkan seorang mbah untuk masuk, dan langung saja si Mbah tersebut menerobos gang kecil rumahku, duduk di ruang tengah, kemudian menyetel radio. Mau nunggu Uti pulang katanya. Maka dengan sopan dan hati-hati, kubilang bahwa Uti kebetulan sedang pergi. Beliau merespons dengan tawa dan maklum. Lalu si mbah tadi pun akhirnya pulang. Sudah itu, aku mencari Mbah ke sebuah kamar yang dulu dipakai Uti dan mbah Kung tidur sebelum Mbah Kung meninggal. Rupanya Mbah Uti lagi selonjor di belakang lemari pojok sambil nunggu ruang tamunnya sepi. Kulihat beliau mengehela napas lega sambil bangkit ketika kukatakan kondisinya sudah aman. Rasanya aku nggak pernah lihat Mbah Uti seperti ini sebelumnya.

“Uti lagi nggak mau nerima tamu.”
“Lho kenapa Ti?”
Dan dengan enteng Uti menjawab, “lagi pengin merenung sendirian aja.”
“Oh, oke.” Kami semua mengangguk mengerti.

Entah si Embah yang lagi ketularan aura keluarga intiku yang rata-rata gemar menyendiri, atau memang setiap manusia punya sisi ingin sendiri sehingar apa pun ia? Karena hari ini mbah utiku sedang menolak semua tamunya.

Entahlah… tapi siang ini, usai hujan deras tiba, rumah jadi lebih sunyi dari biasanya. Gerimis dan teh hangat di kamar menemaniku menyelesaikan pekerjaan.

2
Orang introvert juga manusia. Maka dari itu, wajar bila punya cita-cita bersifat kemanusiaan. Aku ingin hidupku bermanfaat bagi banyak orang. Punya sekolah membaca gratis bagi masyarakat, punya perpustakaan umum, jadi donatur tetap, punya usaha yang bisa mengurangi pengangguran di negriku, dan lain-lain adalah cita-cita dan rencana yang tak akan beranjak dari benakku. Meski aku belum tahu akan mulai dari mana…

3.
Pelajaran penting hari ini:
Jangan heran dengan perbedaan-perbedaan di seluruh dunia dalam hidup kita. Setiap manusia dihuni jiwa yang berbeda. Dan semuanya mengabdi pada apa yang “jiwa” itu mau.

Antara Kita dan Semut-Semut di Kepala

Cerpen yang saya baca pagi ini di koran Kompas mengisahkan seorang perempuan yang berpikiran rumit. Ia kehilangan seorang pria sederhana yang telah 6 tahun mengencaninya dan 6 tahun pula menikahinya. Beberapa bulan suaminya ini meninggalkannya. Namun ia tetap sibuk pada pekerjaan dan melanjutkan hidup. Orang-orang bertaruh tentang apa yang akan ia lakukan setelah suaminya pergi. Akan merutuki nasibnya atau kalap mencari si suami di penjuru kota. Tapi si perempuan terlihat seperti tetap melakukan aktivitas seperti yang sudah-sudah, bekerja, pulang tepat waktu, dan belanja kebutuhan sehari-hari di hari Minggu, seperti hari-hari biasanya sehingga orang-orang pun bosan bertaruh.

Terakhir sebelum suaminya meninggalkannya, mereka sempat bertengkar. Sebelum pergi si suami mengumpat tentang otaknya yang rumit dan akan habis dimakan semut. Sedangkan semut dalam cerpen tersebut menggambarkan isi pikiran. Sejak menerima sebuah surat dari suaminya, si perempuan terbawa oleh ilusi semut-semut yang menyerang rumahnya dari hari ke hari. Orang-orang telah menggapnya kehilangan kewarasan karena berbulan lamanya suaminya memutuskan meninggalkannya. Si perempuan menghabiskan waktu dengan berusaha membersihkan semut-semut di rumahnya namun hanya ia yang melihatnya. Semut-semut dilihatnya semakin banyak yang berdatangan sampai tak ada yang bisa dilakukan selain menjadikan jutaan semut itu teman bicaranya untuk terakhir kali. Hingga pada akhirnya, ia meninggal dalam sepi dengan obat serangga bertebaran di rumahnya. Jasadnya ditemukan dalam keadaan masih menggenggam surat gugatan cerai dari suaminya.

Bila kita berbicara populasi manusia dengan pemikiran yang beragam, kita tak hanya menemukan jenis manusia yang berpikiran sederhana, ada juga yang kompleks dan karakter tersebut tidak lahir dengan sendirinya. Hanya saja ‘komunitas rumit’ hanya akan memahami yang sama-sama rumit itu pun tidak selalu, dan yang ‘kelompok sederhana’ hanya nyaman berinteraksi dengan yang sederhana. Meskipun dalam beberapa hal, mereka bisa saling membutuhkan. Sayangnya demikian hukum alam sering kali berkata. Sayang, orang juga sering tidak dapat memilih menjadi sederhana bila sudah telanjur merumit.

Jalan ceritanya menarik, antara narasi dan dialog antartokoh tersaji dengan pas dan runut, menujukkan kualitas si penulis yang memang produktif. Dan toh yang namanya cerpen ia bisa saja semacam ide atau imajinasi, atau barangkali berasal dari kehidupan sehari-hari. Tapi ia tetap menyiratkan realitas. Hanya saja, cerpen ini seperti campuran antara tragedi dan humor dalam porsi yang seimbang di benak saya. Rasanya ingin tersenyum geli sekaligus sedih. Membaca cerpen ini membuat saya bertanya pada diri sendiri:

Benarkah selalu demikian? Apakah harus menjadi sederhana, perempuan dapat dicintai pasangannya dengan tulus?
Apakah kerumitan itu salah sehingga setiap individu yang rumit selalu diingatkan soal keterasingan?
Apakah kerumitan termasuk kecacatan?

Hanya baru beberapa kali selama ini saya membaca sebuah karya dengan merasa berada dalam tokoh utama. Selebihnya, saya biasa membaca karya dengan terkesan dengan teknik bercerita, ide, pemikiran, atau sejarah. Tapi jarang ada yang bisa memengaruhi perasaan seperti cerpen “Wanita dan Semut-Semut di Kepalanya” yang ditulis oleh Anggun Prameswari.

Membaca cerpen ini, seperti membaca diri saya. Sebab saya juga rumit. Bahkan rasanya tidak hanya semut-semut yang selalu menyerang kepala saya, tapi juga setan dan debu-debu.  Andai dapat memilih, saya tentu ingin berpikir sederhana dan segalanya akan berjalan sesuai yang semestinya.

00:08, tentang anak-anak di tepi zaman

Malam ini berakhir dalam hujan. Kesibukan berbenturan. Satu pemandangan miris sempat kutemui di jalan tadi sore yang sendu. Seorang remaja yang tidak kelihatan gelandangan kelaparan di pinggir jalan. Kulitnya bersih. Pakaiannya bagus. Sandal yang dipakainya pun bermerk. Tapi ia duduk sendirian di pinggir jalan beralaskan koran, di depan rumah tua tak berpenghuni yang sudah setengahnya roboh. Menatap kosong jalan. Perasaanku mendadak lengang. Mungkin karena aku pun rapuh, anak ini mengingatkanku pada krisis yang dialami zaman kini, yang menimpa sebagian besar anak-anak yang tentunya sempat kuamati.

Pertama, kesusahan anak-anak yang tengah tumbuh di zaman sekarang tidak lagi hanya tentang pangan, biaya pendidikan, atau berobat. Tapi lebih banyak pada permasalahan psikologis yang berawal dari rumah–sebagai tempat pendidikan awal. Yang iroisnya, mereka ini berasal dari keluarga yang mampu secara ekonomi. Barangkali mereka tumbuh besar, tapi rentan. Bagaimana zaman di masa depan dijalani oleh generasi yang tak seimbang?

Kedua, anak-anak di zaman sekarang tak memiliki lahan bermain yang membuat mereka tumbuh secara alami. Mereka tak mengenal alam persawahan dan hutan, karena telah diganti gedung-gedung tinggi dan pemandangan yang selalu menyilaukan. Oleh karena itu, wajar bila mereka tak belajar menghargai alam. Lahan belajar mereka tergantikan oleh gadget. Tapi bagaimana mereka tumbuh dengan ‘hanya’ bergantung pada semacam gadget dan tidak mencintai alam?

Ketiga, mereka lebih banyak diasuh pembantu atau malah dititipkan keluarga besar seperti nenek dan kakek. Meski bekerja, kedua orang tua mereka terlalu lelah untuk sekadar membacakan dongeng sebelum tidur. Bagaimana bisa seorang anak berjarak dengan orang tuanya sendiri? Lalu, di mana dongeng-dongeng yang memberi pelajaran moral anak-anak yang biasa disampaikan para orang tua sebelum mereka tidur? Kenyataannya bahwa anak harus les membaca dulu, iklas ataupun tidak, padahal semestinya anak-anak termotivasi secara murni untuk membaca karena cinta.

Saya tentu tak sempat menyatakan si remaja tadi mengapa ia terdampar di jalan dengan wajah melas dan menahan perih di ulu hati. Hanya mengira-ngira bahwa si anak barangkali sebah dengan rumah kemudian minggat, tapi rupanya hidup di jalan tak memberikan apa-apa selain sepi dan lapar. Tapi ia memang mengingatkanku pada berbagai kasus di sekitar–anak-anak yang tumbuh dalam keluarga yang kompleks, broken home, KDRT, dan banyak hal lagi. Mereka terlanjur lahir pada keadaan keluarga yang tak harmonis. Di sanalah, mestinya konstruksi pemikiran masyarakat perlu dibenahi, bahkan sejak dini.

Yeah, tentu jangkauan kita memang hanya orang-orang di sekitar kita. Okelah, memaki pemimpin negara anggaplah hanya selingan di kala suntuk. Tapi di luar itu, tanggung jawab kita sendiri memang cukup besar di hadapan orang-orang di sekitar kita. Kurasa, memperbaiki kehidupan sosial, memang berawal dari diri sendiri. Mengubah negara, dimulai dari memimpin sebuah keluarga, dengan anak-anak di dalamnya.

sisi buruk

Karena memang beginilah aku. Sisi buruk yang kupunya: selalu membuat keputusan cepat seorang diri ketika menghadapi hal-hal yang samar dan tak jelas. Secepat aku berubah pikiran ketika sesuatu yang kuputuskan itu salah. (meskipun aku juga bukan orang yang ‘jelas’). Aku bahkan terbiasa cepat ketika berjalan kaki. Sering kali tak takut dengan medan terjal. Tak takut bila sewaktu-waktu terjatuh pada lubang. Toh masih bisa bangkit lagi. Toh itu bukan hal yang baru. Demikianlah aku menjalani hidup.

Dan aku hanya lebih sering diam tatkala tak ada hal penting yang harus aku bicarakan. Dan lebih baik sibuk bekerja daripada berbicara. Akan lebih baik berpikir hal-hal penting dan berat daripada mengerjakan hal-hal ringan namun hanya menguras waktu dan tenaga.

Dengan begitu orang akan tahu cara menyiksaku: membuatku menunggu dalam ketakpastian dan memberiku tanggung jawab dengan hal-hal yang tak jelas, atau membuatku tak memiliki kesibukan apa pun. Tapi aku selalu punya cara untuk lari ketika aku memang harus lari, secepat yang kupikirkan saat itu juga. Secepat aku mendekat dan terikat pada yang kukasihi.

Aku akan hanya mudah bertoleran dengan yang lemah dan bodoh. Bahkan aku ini keras kepala, yang akan semakin keras bila dihadapi dengan keras juga. Di samping itu, aku bahkan nggak bisa bersikap sabar pada orang dewasa yang “kurang dewasa”. Dan lantas pergi begitu saja dengan alasan “jeleh” karena bakal takkan betah dengan hal-hal yang “njelehi”.

Jangan tanya kenapa bisa demikian, nggak ada hubungannya dengan zodiak capricornus-ku atau wetonku yang katanya tipikal keras. (Aku nggak mau menghubungkan dengan semua itu, karena merasa kasihan sama yang sudah susah-susah bikin ramalan).

Yeah, anggaplah saja aku mempelajarinya dari iblis.