doa pagi ini

Tuhan, semoga kami semua selamat dari rasa sombong, serakah, takabur, kikir, dan ketidaksadaran.
Dan semoga kami pun termasuk orang-orang yang ‘berjalan’ karena-Mu, sebab hanya Engkau satu-satunya alasan paling pasti dan masuk akal dari apa pun di dunia ini.

Iklan

Surat dari Negeri Senja

Hai, A.

Tatkala kutulis ini, aku berharap engkau selalu baik-baik saja. Sedang apa kau di sana? Bagaimana perasaanmu hari ini?

Apakah engkau masih setia dengan kebiasaanmu, menatap jendela setiap bangun pagi yang selalu kesiangan, membuat kopi dengan campuran kayu manis bubuk dan creamer nabati setiap pagi dan sore hari, membaca bertumpuk buku sampai matamu pedas dan berkantung, juga sesekali berbicara pada burung gereja yang gemar mengujungi atap rumah?

A, aku paham engkau sulit berdamai dengan keresahan yang dalam-dalam engkau sembunyikan dan memilih berlari pada kesunyian. Seperti kapas yang rapuh. Bagimu, hidup sering kali bagai lorong gelap tak bercahaya. Atau bunyi kereta yang sebentar lagi hilang dengan sendirinya. Pendiammu itu keterlaluan, A. Aku bahkan sering sekali kehabisan akal untuk sekadar menyapamu.

Ingatkah puisi Subagio Sastrowardoyo yang kita baca bersama dulu A?

Tugasku hanya menterjemah
gerak daun yang tergantung
di ranting yang letih. Rahasia
membutuhkan kata yang terucap
di puncak sepi. Ketika daun
jatuh tak ada titik darah. Tapi
di ruang kelam ada yang merasa
kehilangan dan mengaduh pedih

Melalui surat ini, A, aku ingin mengatakan bahwa aku mau menemanimu berbicara. Aku ingin mendengarmu bercerita. Jangan risaukan kelak, ataupun luka yang datang dari masa lalu. Temuilah kebebasanmu, setidaknya untuk mengakui keresahanmu. Engkau tak sendiri.
Kau harus sadari.

Sesekali waktu engkau berbisik memanggil peri-peri yang kau percaya dapat membawa pergi kesedihan, berharap mereka datang, seperti cerita dongeng kesukaanmu kala usamu masih kanak-kanak. Setiap malam engkau berbisik pada embun dan dingin. Dan setiap itu kau lakukan, hanya angin yang menjawabmu. Rindukah engkau hidup normal seperti yang seharusnya? Jangan tanya mengapa aku tahu semua itu.

Aku bahkan tahu kau selalu menyimpan ketakutan-ketakutan itu. Engkau enggan pada kehidupan. Engkau jera pada harapanmu sendiri. Engkau khawatir ketika mulia melangkah, kau lupa jalan kembali. Engkau takut tatkala mulai jatuh cinta, engkau patah lagi. Lalu akhirnya kau sering kali sembunyi pada topeng-topeng berwajah tawa.

Engkau pun takut mengakui dan membayangkan kejujuran serupa masuk ke dalam jurang, di mana hantu-hantu hutan bersarang. Namun, aku tahu engkau sebenarnya cinta pada hidup. Sebesar engkau cinta pada kematian yang rahasia.

A, ketakutan bukan hal yang salah. Ketakutan membuatmu kuat dan menemanimu menapaki waktu. Sebab kelak ketakutanmu itu menjelma keberanian yang tak kausangka akan hadir, tepat tatkala engkau memerlukan.

A, dekaplah kembali dirimu. Terima apa adanya dan jaga harapanmu. Aku yakin hidup memiliki getar yang bila engkau rasakan, ia serupa napas bagi paru-parumu. Terkadang memang kita butuh penderitaan untuk sekadar membangun imun. Sering kali engkau butuh air mata utuk memaknai tawa. Kau bahkan harus tersesat, untuk menyadari bahwa engkau mesti mencari jalan pulang dan merindukan “rumah”. Aku tahu engkau selalu memikirkan begitu banyak hal yang semestinya engkau biarkan melintas saja.

Tentu kau selalu ingat, A, Tuhan menyayangimu. Mencintai orang-orang yang terjebak dalam ketakutan dan ketakpercayaan, entah kepada dirinya sendiri atau hal-hal di luar itu. Percayalah itu, meski cinta tak selalu berupa wujud. Bukankah demikian?

Sekian suratku, A. Sampai jumpa di senja berikutnya.

diposting di web Ubud Writer Festival rubrik women of letters bertema surat tentang rahasia ketakutanku.

rehat

Sebenarnya aku enggan kembali ke tempat itu. Aroma obat, orang-orang berwajah pucat yang menunggu giliran periksa, lalu-lalang perawat mendorong brancard ke mobil ambulans, kenangan tentang almarhum kakek, jarum suntik, juga masa-masa kecil yang pernah opname dua kali karena DB. Tapi sepertinya 2 hari “sempoyongan” sejak hari Minggu sudah cukup alasan tepat ayahku untuk membawaku kesana lagi.

Banyak yang sudah bilang aku keforsir. Tapi aku sungguh menikmati segala kesibukan ini sampai rasanya tidak cukup sehari hanya punya 8 jam untuk bekerja.

Namun sejak dokter menjelaskan ada semacam infeksi di alat pencernaan yang membuatku sering bolak-balik toilet, muntah, dan demam, di mana sebelumnya aku tak pernah mengalaminya, aku jadi sadar, mungkin ada yang salah dengan hidupku. Rasanya memang aku jadi sering sakit tahun ini, yang kukira mungkin karena nggak pernah olahraga, atau faktor usia. Atau entah…
Sekarang aku terpaksa hanya bisa banyak tidur dan ngerepotin orang-orang di sekitarku, sesekali baca buku, sesekali mengerjakan kewajiban beres-beres, dan barangkali waktunya merenungi lagi perkataan orang tuaku bertahun yang lalu.
“Setiap orang bakal hidup sendiri suatu saat nanti, itulah mengapa kamu mesti kuat. Jangan lemah. Jangan tergantung.”

Iya, aku harus kuat 🙂

Tapi, aku rindu pekerjaanku… yang juga sering kali menguatkanku.
Ya sudahlah, waktunya tiduran lagi sambil dengerin musik-musik nggak jelas ini :p

Resensi Novel Gadis Kretek

DSCN3905

Judul: Gadis Kretek
Penulis: Ratih Kumala
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Maret 2012
ISBN:  978-979-22-8141-5
Tebal: 274 hlm
Genre: historical fiction

kaya wangi tembakau, sarat aroma cinta

Soeraja, pemilik pabrik rokok kretek Djagad Soeraja sekarat karena stroke. Setengah sadar ia mengigaukan sebuah nama yang tak pernah terdengar sekali pun di rumahnya: Jeng Yah. Nama itu bukan milik istrinya. Rumah jadi geger. Purwanti, istri Soeraja meradang. Ia melarang siapa pun menanyakan dan membicarakannya. Siapa Jeng Yah? Siapa pun ia, ketiga anaknya tahu wanita itulah yang ingin ditemui ayahnya sebelum ajal. Mustahil bagi Tegar, Lebas, dan Karim menanyakan itu kepada ibunya, mereka pun menempuh segala cara untuk mencari sosok Jeng Yah. Namun, demi menemukan Jeng Yah, mau tak mau mereka pun melakukan napak tilas sejarah kejayaan pabrik kretek milik ayah dan mendiang kakeknya itu dengan melintasi Jogja, Magelang, Kudus hingga Kota M.

Kemudian cerita bergerak flashback menuju tokoh bernama Idroes Moeria, seorang buruh kretek klobot di tahun 40-an. Idroes diceritakan sebagai pemuda yang gigih. Perasan cintanya pada Roemaisa membuatnya mampu berjuang mengubah hidupnya, dan memutuskan untuk membaut pabrik rokok sendiri mulai dari nol. Soejagad, semula adalah teman IM murka sejak ia tahu Idroes Moeria yang akhirnya mampu merebut hati si gadis. Sejak Idroes membeli bahan kretek juragannya, ia pun telah merasa kalah. Kekalahan Soejagad adalah awal dari persaingan bisnis dan intrik yang cukup menggila di waktu-waktu setelahnya. Selama perjalanan bisnis Idroes, Soejagad menjadi pesaing.

Perisiwa demi peristiwa membuat Idroes dan Roemaisa mengalami jatuh bangun. Padahal kretek Merdeka baru saja populer. Namun itu tak membuat Idroes berhenti menciptkan formula baru, dan produk baru. Terlebih setelah lahir Dasiyah, putri pertama mereka. Pabrik rokok tetap mengalami perkembangan, dan Soejagad tetap menjadi saingan. Hingga berlanjut ke generasi kemudian.

Dasiyah yang terbiasa membantu membuat kretek, akhirnya menjadi tangan kanan Idroes. Bahkan mampu membuat formula yang membuat rokok menjadi lebih enak dari yang lainnya. Bahkan Idroes pun menyukainya. Dasiyah tumbuh dengan keterampilan entrepreneur yang baik. Kariernya itulah yang mempertemukan dengan Soeraja, lelaki miskin yang juga pekerja keras seeprti ayahnya di masa muda. Mereka menjalankan bisnis bersama hingga akhirnya saling jatuh cinta dan merencanakan pernikahan. Namun sebuah peritsiwa besar terjadi tatkala ia sedang mempersiapkan pernikahannya dengan Soeraja. Peristiwa geger G30S PKI membuat bisnis Idroes pun terancam karena warna merah di etiketnya dituduh komunis padahal warna etiket itu sudah ada sejak zaman kemerdekaan. Kondisi politik yang meresahkan membuat Dasiyah dan Soeraja harus terpisah. Saya tak melupakan suasana sedih yang terjadi ketika membaca momen rusuh PKI itu.

Kisah meluncur kembali ke masa sekarang, ketika Lebas, Tegar, dan Karim melakukan perjalanan ke Kota M, dan menemukan keluarga Dasiyah, hingga cerita mengalir pada alur yang akan membuat pembaca tak ingin beranjak hingga menuntaskan bacaan. Dan jarang bagi saya menemukan buku yag endingnya bikin geleng-geleng kepala, kadang geli, kadang mengernyitkan dahi, dan juga terkejut. Terlebih akhirnya terungkap mengapa nama ayahnya dapat bersanding dengan nama besar kakeknya. Kebenaran luka gores di dahi Soeraja, dan rahasia-rahasia lainnya. Oh rupanya… 🙂

Melihat cover depannya, semula seperti mengingatkan saya tentang kisah Roro Mendut dan Pranacitra. Tapi setelah membaca semuanya, rupanya novel ini lebih njelimet. Diwarnai oleh latar belakang sejarah, tradisi, suasana politik, bahkan kisah-kisah tentang cinta yang sederhana namun dalam maknanya.

Cerita Gadis Kretek dituturkan dengan berbagai Pov. Diawali dengan sudut pandang tokoh Lebas, salah seorang cucu Soejagad, lalu di bab-bab selanjutnya sudut pandang berganti menjadi sudut pandang ketiga berbagai tokoh sehingga pembaca dapat memahami alur cerita. Di samping itu, novel tentang tiga generasi ini menampilkan berbagai karakter dengan latar belakang kehidupan dan cara berpikir yang berdiri sendiri-sendiri.

Selain itu penulis juga menguraikan dengan lancar segala hal tentang kretek hingga cara membuatnya, mulai dari yang dilinting dengan klobot (daun jagung yang dikeringkan) lalu diisi tembakau dicampur cengkih, dengan klobot klembak menyan, dan akhirnya menggunakan papier (semacam kertas pembungkus campuran tembakau). Tak lupa pula proses pembuatan rokok secara manual dari masa ke masa bahkan ditambahi semacam saus yang menjadikan rokok kretek beraroma lebih sedap.

Bahkan dipaparkan pula bahwa rokok sempat dijual di toko obat karena kandungan cengkihnya yang dapat mengobati asma. Hm, berbeda dengan sekarang yang justru cenderung merusak kesehatan.

Dulu, di Kudus ada Pak Haji Jamari. Dia hidup tahun 1980-an. Suatu hari lelaki itu sesak napas, dan mencari cara memasukkan woor (cengkeh) ke paru-parunya. Dia pun merajang cengkeh dan mencampurkannya dengan tembakau rajang yang lalu dilinting dengan klobot. Ketika api menyulut dan menghabiskan batang lintingan itu, terdengar suara kretek-kretek akibat terbakarnya cengkeh rajangan. Itulah asal mula kretek. (hlm. 179)

Membaca Gadis Kretek, membuat saya jadi tahu, bahwa dulu kretek juga bersifat universal dan tidak berhubungan dengan gender. Baik laki-laki maupun perempuan tidak tabu bila merokok di depan umum. Terbukti dengan kisah perjalanan Roemaisa yang sempat menjual kretek selama suaminya diciduk ke Soerabaja, dan Dasiyah yang merupakan bos Kretek Gadis, dengan demikian, tentu saja mereka pun menjajal rokok. Hal itu juga merepresentasi rokok adalah produk universal. (Oh yeah, tentu saja. Deskriminasi gender justru lahir kembali sejak zaman orde baru). Bahkan dikatakan bahwa banyak orang yang menyukai kretek buatan Dasiyah. Terlebih sang ayah. Momen ketika sang ayah begitu menyukai kretek anak gadisnya melengkapi tema novel ini dengan nuansa cinta dan keluarga.

Detail setting ditulisakan Ratih Kumala dengan sangat menarik, yang tampaknya telah mengalami riset yang panjang dan hati-hati. Suasana vintage yang nyaris sempurna membuat saya seperti pergi berpiknik ke zaman lampau dan menyelami sejarah dan tradisi masyarakatnya. Meski bertema kretek (rokok) novel ini juga menceritakan sejarah nasional, sebab konon perkembagan rokok dapat menjadi penanda sejarah nasional, seperti penamaan merk dan iklannya. Di samping itu gaya bahasa yang lugas, ringan, dan cenderung humor menjadi daya tarik tersendiri. Novel ini menjadi tidak membosankan untuk dibaca. Nyatanya ini kali kedua saya baca sejak saya membelinya beberapa bulan yang lalu. Meski saya nggak pro dengan kretek/rokok, tapi ternyata mengasyikan menelusuri sejarah kretek di Indonesia.

Jalinan cerita yang menarik, penuh makna, dan pengetahuan juga twist-twist yang membuat saya penasaran akut hingga terkejut membuat saya merasa beruntung menemukan novel ini. Adapun kekurangan tidak banyak. Barangkali karena buku ini menarik dari awal, kekurangan-kekurangannya jadi terlewat. Namun alangkah baiknya keterangan tentang istilah bahasa Jawa diletakkan sebagai footnote, tidak di belakang bab, supaya memudahkan pembaca yang tidak berbahasa Jawa. Ada pula beberapa typo di sana-sini juga penulisan nama tokoh yang sepertinya tertukar. Di samping itu lebih banyak dibahas sejarah rokok kretek dan bagian Idroes Muria dan Soejagad ketimbang yang lainnya. Gadis Kretek justru mendapat porsi lebih sedikit. Meski demikian, si gadis sepertinya memang pas diposisikan sebagai kunci pembuka rahasia masa lalu mereka. Sehingga secara kesuluruhan novel ini menjadi salah satu favorit saya dan layak diberi bintang 5.

Selamat membaca 🙂

Beberapa cuplikan iklan rokok dalam novel Gadis Kretek yang sempat bikin saya geli :p

DSCN3925

DSCN3926

DSCN3927

DSCN3929

Perempuan di tengah Perang: Silent Honor, Putri dari Timur

DSCN3911

Judul: Silent Honor, Putri dari Timur
Penulis: Danielle Steel
Genre: Romance, Historical Fiction
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2004  (catakan kedua)
Jumlah halaman: 333

Shikata ga nai, yang terjadi terjadilah–168

Sudah kali kedua saya baca sejak novel ini dipinjami seorang sahabat tahun 2010 lalu. Pertama hanya saya baca sebagai selingan. Yang kedua ketika benar saya selami, rupanya ada banyak hal menarik di novel ini dan rasanya perlu dibuat review.

Novel ini bercerita tentang dua generasi. Cerita dibuka dengan pertemuan Masao dan Hademi yang dijodohkan seperti tradisi Jepang kuno pada tahun 20-an akhir. Masao berpikiran moderat, sedangkan Hademi seperti halnya wanita Jepang kebanyakan di zaman itu, konservatif, patuh dan santun. Ia bahkan tak berani menatap mata Masao sebelum menikah. Ada begitu banyak perbedaan di antaranya, namun itu tak menghalangi perasaan keduanya yang saling jatuh cinta. Meski sulit bagi Masao mengajarkan kemodernan dan kesetaraan kepada istrinya, namun Hademi tetap menghormati dan mengagumi suaminya. Meski senantiasa menyimak pemikiran Masao, ia tak  terlalu setuju dengan ide-ide itu. Konflik perbedaan itu terlihat seperti ketika Hademi merahasiakan seraya membebat perut hamilnya sampai benar-benar kelihatan pada waktunya. Di samping itu ia juga ingin melahirkan di rumah ditemani ibu dan saudaranya dan berharap melahirkan anak laki-laki, sedangkan Masao bersikeras membawanya ke rumah sakit karena ia begitu takut kehilangan Hademi dan anak mereka. Sebagai pria modern, beberapa tindakan Masao mengejutkan Hademi, seperti membantu pekerjaan domestik, menemaninya melahirkan, dan menginginkan anak perempuan.

Dan ambisi itulah yang membawa kisah mengarah pada Hiroko, tokoh utama dalam novel ini.

Tidak seperti bayangan Masao, Hiroko rupanya tumbuh seperti replika ibunya, bahkan lebih pemalu dan rapuh. Tidak seperti Yuri adik lelakinya yang mirip Masao. Hiroko terdidik dengan cara tradisonal dan selama 7 tahun, Masao dan Hidemi terus bertengkar tentang pendidikan anak-anaknya. Kedua pandangan yang berseberangan itu membuat jarak yang aneh. Sang ayah yang keukeuh, dan pada akhirnya ibunya yang demi tradisi tetap tunduk pada keputusan suami, lalu melepaskan Hiroko pergi. Hiroko pun patuh dan pergi demi menghormati sag ayah yang bahkan sudah menabung untuk mengirimnya ke Amerika, meskipun itu membuatnya merasa tercerabut dari kehidupannya yang sesunguhnya. Ia telah mencintai Jepang seperti bagian jiwanya. Tapi ia juga menghormati ayahnya.

Di sana, ia dititipkan oleh keluarga Tanaka yang masih kerabat. Keluarga Tanaka, yaitu Takeo dan Reiko, besikap baik padanya meski mereka sepenuhnya orang Amerika secara hukum, gaya hidup, dan kejiwaan.  Hiroko menjalani sekolah dan tinggal di asrama. Dari sana, kehidupan Hiroko yang sulit dimulai. Ia tak diterima di lingkungannya. Salah satu teman sekamarnya pun hanya ramah ketika di kamar, dan cuek ketika di luar. Yang satunya lagi bahkan bersikap dingin. Secara keseluruhan, warga ‘Barat’ termasuk Amerika bersikap deskriminatif terhadap bangsa kulit berwarna. Saat itu, bahkan orang Jepang ataupun setiap orang yang berasal dari “Timur” dipandang rendah dan mirip bangsa budak. Tak terkecuali Hiroko yang akhirnya lebih banyak di-bully teman-temannya dan tak diterima di lingkungan mereka. Kehidupan di sana ternyata tidak seperti harapannya. Dan moment di-bully dan tak diterima oleh semua teman sekampusnya itu cukup membuat saya ikut hanyut.

Dalam kesedihan dan keterasingannya itu, ia bertemu dengan Peter Jenkins, salah satu sahabat Takeo yang bekerja di sebuah universitas. Peter adalah orang yang mengagumi kebudayaan Jepang dan juga mencintai Hiroko sejak pertama mengenal. Kepribadian Hiroko yang rapuh membuat Peter ingin selalu mengasihi dan melindunginya. Peter-lah yang akhirnya mampu mengisi kekosonganya. Namun Tidak mudah bagi mereka bersama karena perbedaan-perbedaan itu. Terlebih sikap Hiroko yang amat pemalu, hati-hati, dan taat tradisi. Peter berumur jauh lebih tua dari Hiroko. Barangkali kedewasaan sekaligus kebosanannya terhadap perempuan modern Amerika itulah yang membuatnya ingin menghabiskan usia bersama Hiroko. Percintaan mereka mengalir lembut namun membara. Mereka bahkan sempat menyusun impian bersama dan memiliki banyak anak bila kelak dapat menikah. Namun permasalahan politik harus memisahkan mereka sebelum mimpi itu terwujud.

Tatkala Pearl Herbour diserang Jepang pada tahun 1941, posisi warga Jepang semakin terpojok. Penyerangan itu membuat warga Amerika, temasuk Kalifornia marah. Mereka melampiaskan kemarahan kepada siapa pun yang berwajah Jepang. Termasuk Hiroko yang menjadi sasaran anarkisme siswa di sekolahnya. Situasi semakin sulit. Hingga pada akhirnya masyarakat yang dinilai “Jepang” dipaksa meninggalkan tempat tinggalnya dan harus mengungsi dari kamp pengasingan satu ke kamp pengungsian yang lain. Keluarga Tanaka yang setia dengan Amerika merasa ditolak oleh negaranya sendiri. Bersama Hiroko mereka harus menjalani hari-hari berat sebagai “warga musuh”. Hiroko yang baru saja menjalin hubungan dengan Peter pun harus terpisah jarak dan waktu. Sementara Peter justru ditugaskan bergabung dengan militer untuk menyerang Jepang.

Namun dalam kondisi sulit itu, Hiroko mampu menjalani pengasingannya dan bertahan hidup. Ia sempat turut membersihkan kandang kuda yang dijadikan kamp hingga membantu di klinik darurat ketika wabah menyerang, hingga kehilangn orang-orang yang dicintai yang pergi ke medan perang. Lebih buruk lagi, kewarganegaannya yang masih Jepang membuatnya menghadapi introgasi dan intimidasi dari militer. Meski demikian, Hiroko selalu berusaha bertahan hidup dan bahkan tidak segan untuk barakhir asal itu demi kehormatan keluarga dan martabatnya. Namun rupanya kehidupan di kamp memang cukup berat untuk dijalani, terlebih bila harus berdampingan dengan segala kesedihan dan duka.

Namun, apakah Hiroko pada akhirnya dapat bersama lagi dengan keluarganya di Jepang, dan juga Peter?

Novel Danielle Steel yang satu ini kaya dengan detail suasana pada saat Perang Dunia II dan berbagai sejarah yang mengikutinya, seperti kondisi politik dunia, kemanusiaan, dan juga cinta yang saling menguatkan. Bobot yang dilengkapkan dalam novel ini, membuatnya tak sekadar romance biasa. Kelihaian Daniel mendeskripsikan adegan dan peristiwa sering kali bikin saya nahan napas, sedih tiba-tiba, dan sekaligus penasaran karena twist-twist yang ditampilkan cukup mengejutkan. Juga tentang persahabatan yang tiba-tiba lahir karena peperangan. Di mana pun perang memang bisa merusak hubungan antarmanusia yang beragam, namun novel ini menceritakan secara tersirat bahwa di dalam kondisi tergelap pun akan tetap ada celah cahaya yang akan ditemui oleh orang-orang yang tak berputus asa.

Diwarnai dengan ketegangan yang mengalir halus dan manis, novel ini memang memiliki kemampuan untuk menarik pembaca terus mengetahui kelanjutan ceritanya sampai selesai. Hanya sayang porsi endingnya dituturkan lebih singkat ketimbang bab-bab sebelumnya. Namun itu tidak terlalu mempengaruhi bobot cerita.

Buku Danielle Steel pertama yang saya baca bersjudul Now and Forever tahun 2005 lalu, setelah saya baca Silent Honor, Putri dari Timur, saya merasa kelak mesti baca buku-buku Danielle yang lainnya. 🙂

Resensi Novel: Senyum Pertama di Pagi Airin

DSCN3921

Judul: Senyum Pertama di Pagi Airin
Penulis: Okta Rahasti
Penerbit: de TEENS
Tahun terbit: August 2014
Genre: teenlit
ISBN: 9786022960034
Jumlah halaman: 200

Bahagia itu bukan bukan sesuatu yang kita dapat dari orang  lain, tapi bagaimana kita memberikan sesuatu pada orang lain.”–Hime, halaman 119

Cerita dalam novel ini dibuka dengan tokoh Airin yang suka melukis dan bersikap dingin terhadap semua orang di rumahnya. Bila sedang menyendiri, tak seorang pun bisa mengganggunya. Begitupun adiknya. Sikap pendiamnya ini akibat dari trauma terhadap mantannya, Dennis. Di rumah besar itu, ia tinggal dengan adik perempuannya, Hime, dan juga beberapa pembantu. Airin dan Hime adalah dua gadis keturunan warga Jepang yang dititipkan kepada neneknya sejak sang ibu meninggal dunia.

Airin memiliki kebiasaan berjalan sendirian di sekitar jalan raya. Hal itu membuatnya bertemu dengan seorang cowok misterius bernama Reza. Perkenalannya dengan Reza rupanya mampu mengubah sifat dinginnya menjadi lebih hangat.

Sementara Hime pacaran dengan Andra, cowok yang semula ia benci. Kesalahpahaman terjadi sehinga membuat Airin tak mengizinkan mereka pacaran. Hime dan Andra pun menyembunyikan hubungan. Segala cara Hime upayakan agar Andra diterima oleh Airin. Namun banyak hal akhirnya jadi kacau sejak Airin dan Reza bertemu secara tidak sengaja dengan Hime dan Andra di sebuah restoran Jepang.

Kemudian, masuklah di bagian menuju inti konflik. Masa lalu Airin, jawaban dari masa lalu Reza, dan kehidupan mereka selanjutnya ditentukan oleh sebuah peristiwa. Hime termasuk korban luka pengeboman di sebuah mall, dan kemudian Reza pergi begitu lama membawa sebuah rahasia besar yang disimpannya dari Airin. Kemudian 5 tahun berlalu dan jawaban demi jawaban terungkap.

Mampukah Airin tetap berbahagia meski keadaan telah berubah? Dan masihkah Hime tetap bersama Andra?

Novel ini sebetulnya sederhana, dituturkan dengan gaya bahasa yang ringan dan mudah dimengerti serta berusaha menghadirkan celah untuk pembaca terus bertanya tentang ending dan tokoh-tokohnya dengan cara yang sangat simpel. Bentuk alurnya yang campuran lumayan tidak bikin jenuh untuk membacanya sampai selesai.

Berbicara mengenai tokoh, Airin, sebagai judul dalam novel ini, merupakan tokoh yang bersikap dingin dan berubah ceria di saat-saat kemudian. Kalau membaca bagian awal, akan tampak sebagai orang sombong dan ketus. Berbeda dengan adiknya, Hime, yang cenderung penyabar dan banyak melakukan aksi di novel ini. Bisa dibilang, Hime sebetulnya lebih cocok menjadi tokoh utama dalam novel ini. Reza adalah cowok misterius yang memiliki masa lalu. Sedangkan Andra adalah siswa sekelas Hime, anak basket, dan sering mengganggu Hime. Secara keseluruhan, karakter-karakter dalam novel tidak terlalu khas, semuanya punya sisi ketus dan lembutnya masing-masing. Kecuali pada nama dan penggunaaan bahasa keseharian aku kamu atau lo-gue yang membedakan mana Andra yang Indonesia, dan mana kedua gadis yang blesteran Jepang. dua per tiga novel awal novel ini masih menceritakan kehidupan sehari-hari tokoh-tokohnya dengan datar. Meski lumayan terdapat adegan “ramai” di bagian sepertiga akhir di novel ini.

Sebetulnya novel ini masih bisa ‘digarap’ lagi. Masalah ide latar belakang tokoh, misalnya, cowok-cowok tampan misterius, kaya, dan pemain basket atau sekolah di luar negeri selalu disandingnya dengan putri-putri cantik yang tinggal di puri (baca:  rumah gedong dengan banyak pelayan) sudah sangat sering ada di novel atau film-film remaja. Akan lebih berbeda bila diperkaya dengan karakter dan latar belakang yang tidak mainstream untuk menghindari kesan datar.

Dan untuk dialognya, saya pernah membaca sebuah nasihat seorang penulis novel (lupa namanya), bahwa dialog yang ideal adalah dialog yang bertukar pikiran. Hanya saja di dalam novel ini lebih banyak saling respons yang cenderung impulsif dan minim tukar pikiran, seperti nada bentak dan reaksi cuek yang banyak ditemukan membuatnya sulit terlihat chemistry antartokohnya. Malah sekilas mirip adegan sinetron yang sarat bully-bully-an. Namun hal ini masih dapat dimaklumi karena persoalan dialog memang penyakit umum para penulis yang mesti ditaklukan.

Nah, akhirnya saya mesti menjelaskan juga kekurangan novel ini yang menurut saya termasuk banyak :p. Informasi mengenai setting dalam novel misalnya, perlu adanya riset dan deskripsi yang lebih memadai, sebab setting lokasi misalnya, hanya disebutkan Jakarta dan Bandung saja tanpa ada ciri khas pendukung, membuatnya masih dapat dipindah di sembrang kota. Miasalnya di halaman 99 hanya disebutkan sebuah taman yang asri, tidak disebutkan nama taman atau deskripsinya.

Di samping itu, memberikan unsur kebetulan boleh-boleh saja, asal masih logis dan dalam porsi yang cukup. Hanya saja di novel ini dapat dibilang ada banyak kebetulan yang kurang logis, seperti pada bagian awal. Barangkali akan sulit diterima ketika di dalam hujan deras, dua orang gadis dari jepang “ilang” nyari alamat neneknya di jakarta, berteduh secara tidak sengaja di bawah atap pagar rumah orang, dan taraa.. rupanya itulah rumah si nenek. Belum lagi kebetulan-kebetulan lain yang cenderung agak dipaksakan.

Saya juga sempat agak bingung dengan bagian kenapa tiba-tiba Dennis yang menembakkan pistol sementara ada banyak polisi di belakangnya. Bukankah di Indonesia bahkan membeli pistol pun mesti mendapatkan izin yang tidak mudah, atau kecuali si pemiliknya polisi? Sementara Dennis tidak dijelaskan sebagai polisi dari awal novel. Dengan sembarangan menembak buron yang sedang tidak berontak apakah malah justru menjadi tersangka percobaan pembunuhan juga ya? 🙂 Namun tidak mengapa karena novel ini memang bergenre fiksi.

Konflik dalam novel ini dihadirkan serba singkat dan terburu. Jujur selain sedikit membingungkan, rangkaian konfliknya tergolong terlalu banyak dan melebar untuk diringkas menjadi 200 halaman. Akan lebih baik bila satu dua konflik saja yang dikembangkan. Beberapa adegan yang penting seperti momen meninggalnya ibu Andra juga diceritakan terlalu ramping. Karater sang ibu juga lebih sebagai pelengkap yang tak terlalu berpengaruh dalam alurnya. Tentunya bila digarap lebih serius lagi akan menjadi lebih menarik. Di samping itu, pertemuan Airin dengan Reza disorot lebih sebentar daripada cerita hubungan Hime dan Andra.

Untuk penampilan buku ini, bagian margin, font dan penataan sudah oke. Covernya juga eye-catching dengan warna oranye dan kuning yang terlihat manis. Selain itu sudah nyaris tidak ada typo di sana.

Memang tidak ada naskah yang sempurna, namun setidaknya ada beberapa quote menarik yang dapat dijadikan inspirasi remaja yang membaca novel ini, salah satunya yang tertera pada blurb:

Hal yang paling menyakitkan adalah bukan saat orang-orang yang kita cintai membenci kita, bahkan pergi untuk selamanya, tapi saat kita membiarkan mereka berada dalam bahaya karena kita.

Novel ini dapat dijadikan bacaan ringan untuk remaja di kala senggang.

Sahabat Pena

Dapat dikatakan ini sekadar iseng berkhayal

Kadangkala aku ingin punya sahabat pena. Seorang teman yang barangkali jauh dari tempat ini dan sama-sama hanya bisa menulis untuk dapat nyaman berbicara. Barangkali ia juga benci arisan, malas pula berada di antara orang-orang yang berebut disimak untuk pamer, ia juga nggan punya jejaring sosial yang bising dan memusingkan. Mungkin ia juga membutuhkan seorang teman yang belum pernah ditemui tapi ia tahu bakal berkirim surat setiap akhir pekan, bercerita banyak hal tanpa khawatir terekspose media karena untuk apa, menyebarkan cerita orang yang bahkan belum dikenal kecuali lewat tulisan tangan?

Menulis surat pada sahabat pena tak perlu saling melihat ekspresi dan foto selfie, tak perlu khawatir bahwa kami berbeda, tak perlu menyamakan status sosial atau nasib, tak eprlu memandang apakah kami menikah atau tidak, kaya atau tidak, tak perlu risau soal prasangka sebab kami dapat terbuka dengan leluasa, kami boleh jujur atau tidak tergantung kita sendiri, asal tetap terhubung dan saling merespons.dan lama-kelamaan mungkin saja saling menginspirasi. Yah barangkali akan mustahil, mengingat, alih-alih sahabat pena, sepanjang hidup punya teman saja sudah merupakan kemewahan bukan?

Lanjut… Kemudian, kami akan bercerita apa pun yang ingin kami ceritakan, menanyakan pendapat, menjabarkan pemikiran, menguraikan perasaan, ataupun memberikan argumen sebebas mungkin tanpa takut membuat tersinggung sebab segalanya begitu jelas lewat surat, seperti Kartini, atau seperti Minke dalam Bumi Manusia. Barangkali kami hanya sekadar berkirim surat, tanpa harus bertemu dan belanja bareng dan lalu merasa berdosa karena demi punya teman dan tahu kabar, kami seolah harus pakai smartphone dan memiliki beberapa akun sosial. Sedangkan tak semua orang suka smartphone, dan tak setiap orang kuat membelinyaSebab kurasa sekadar surat cukup. Entah dia berasal dari pelosok pulau yang mepet perbatasan, entah dari pedalama lereng gunung, entah dari bawah air terjun, atau di daerah konflik, atau dari kota besar yang membosankan, tak masalah bagiku. Tak perlu ada syarat ribet demi saling memahami dengan cara masing-masing. Kami bisa menulis di atas kertas, atau di atas daun kering atau tisu, boleh tulisan tangan, atau mesin ketik. Kurasa akan lebih menyenangkan ketika kami terhubung melalui surat-surat yang rutin diantar pak pos akhir bulan atau akhir pekan. Surat lebih universal dan membumi daripada jejaring sosial atau sejenisnya.

Barangkali akan menyenangkan bisa bersahabat dengan surat menyurat, membagi sebagian cerita hidup, yang mungkin berlangsung selamanya. Sampai barangkali kami tua dan isi tulisan kami pendek-pendek karena sudah tak senergik dulu, dan mungkin sampai salah satu dari kami lebih dahulu tak membalas surat. Sebab terlalu sulit bagiku menjadi bagian dari keramaian ini, mematuhi segala kepentingan, aturan-aturan tak terlihat yang aku kurang paham, atau mengkhawatirkan banyak hal yang mestinya tak perlu dikhawatirkan. Berat rasanya terjebak dalam kerumitan kita sendiri yang tak bisa menjadi diri sendiri di tengah hingar bingar. Sementara kita ingin menjadi diri kita sepenuhnya. Andai semua itu mudah.

Sahabat pena mungkin adalah sahabat yang ideal di satu sisi sebab dapat saling menerima tanpa pretensi, tidak di sisi lain karena tentu ia tak menjadi bagian dari kehidupan keseharian kita. Mungkin saja suatu saat kami bertemu pada sebuah kesempatan, mengumpulkan surat-surat-surat kami untuk dibuatkan museum khusus bertema sahabat pena. Saat itu pastilah kami terbahak karena menyadari begitu banyak yang berbeda dari kami, dan begitu jauh sosok kami semua dari bayangan masing-masing sebelum ini. Dan begitu akrab dan dekat sebetulnya kami sebelum kikuk berkenalan lagi di dunia nyata. Atau barangkali takkan pernah bertemu.

Sungguh kurasa, akan sangat mengasyikan bila punya banyak sahabat pena….

Tapi apakah demi berangan tentang ini, aku juga mesti memandang zaman?

DSCN3501

Rasa Pedas

Kau penyuka rasa pedas?

Aku nggak terlalu menggemari, tapi makanan pedas kuakui enak. Terlebih bila komposisi bumbu dengan bahan dasarnya pas, entah itu pedas karena cabai atau merica. Mereka akan meninggalkan jejak nikmat (lengkap) sebelum melanjutkan perjalanan ke kerongkongan dan lambung untuk melebur dengan zat HCL, pepsin, renin, dan makanan lainnya. Mulut dapat merasai sensasi menyakitkan tapi enak yang dihasilkan rasa pedas itu. Namun tidak semua lambung lantas menyambut dengan bersahabat. Jadi benar, ada kalanya orang-orang yang memiih makanan enak, cenderung lebih dahulu mempertimbangkan selera yang dituntut oleh indra pengecap, utamanya lidah dan indra peciuman, ketimbang kemampuan alat pencernaan setelah mulut ataupun kesehatan. Terlebih kemampuan perut tak bisa terdeteksi sebelum betulan terlihat dampaknya.

Kata seorang teman rasa pedas itu merusak rasa. Teman lain bilang itu justru memperkuat rasa. Kedua pendapat itu dapat dikatakan benar karena sebetulnya cabai menyangkut selera. Selera berkait erat dengan individu yang tentunya sudah beragam dari sananya. Manusia dan selera adalah identitas yang berpasangan selalu. Ada yang senang bila cabainya melimpah. Ada yang menyerah duluan dengan cabai setengah biji. Ada pula yang menolak sama sekali masakan pedas secuil pun.

Ketika aku iseng browsing sejarah makanan pedas, ternyata sulit juga dicari. Ada yang bilang berasal dari Melayu, sebelum Indonesia bernama Indonesia. Masyarakat Thailand pun familier dengan tradisi makan pedas. Ingat penjelasan salah satu dosen ketika zaman kuliah, bahwa setiap daerah bisa berbeda kecenderungan jenis makanan sesuai dengan kondisi alamnya. Semula makanan pedas biasanya dikonsumsi masyarakat sekitar pegunungan atau daerah berhawa dingin. Zat yang terkandung di dalam cabai dipercaya dapat menghangatkan tubuh. Meski demikian, tidak semua orang lantas mengonsumsinya. Sebab di negara-negara lain, seperti negara-negara di Eropa, mereka konon tidak memakan cabai seperti di Asia. Sebagai penghangat mereka meminum semacam wine. Meskipun jahe sebenarnya bisa, tapi jahe digunakan di Indonesia. Sehingga kurasa cara masyarakat mengatasi rasa dingin melalui makanan hanya soal adat dan kebiasaan. Barangkali belum bisa dikatakan melulu tentang adaptasi, melainkan selera. Masyarakat dari tradisi pemakan cabai ekstrem pun ketika berkunjung ke Jogja akan mengeluhkan rasa manis di dalam unsur masakannya, dan akan tetap menambahkan porsi cabai meskipun udara Jogja sudah hangat.

Tapi rupanya rasa pedas tidak berasal dari tanah Melayu. Di India ada jenis cabai Bhut Jolokia yang sempat membuat pemakannya terkapar pada menit ke-30, konon efeknya hingga 12 jam.  Cabe ini menggantikan jenis Red Savina yang semula menjadi cabai terpedas di dunia versi Guinness World Records. Pada versi itu, ada beberapa peraih rekor yang rupanya justru dari Meksiko. Ada pula yang menyatakan Ed Currie yang terpedas di dunia. yang juga berasal dari Meksiko. Tak lama versi Guinness Book of Records menyatakan cabai asal Inggrislah, cabai Infinity, yang terpedas di dunia. Jadi untuk apa cabai diciptakan di dunia selain untuk bumbu makanan dan ikut lomba? Untuk obat. Beberapa artikel ilmiah menjelaskan kegunaannya di bidang kesehatan, tapi dalam porsi yang cukup dan cenderung sedikit. Cabai juga punya manfaat mengobati.

Namun, kemarin hari sedikit menyesal sekaligus bersyukur dengan masakan pedas yang kumakan, memang pada dasarnya lezat sekali, apalagi dikonsumsi di antara suasana ‘hangat’. Hanya saja unsur cabainya melebihi batas normal kemampuanku merespons rasa pedas yang tentunya hanya kusimpan sendiri dalam hati -__-. Sebab sehari setelahnya, selain masih ada rasa panas di pangkal kerongkongan hingga lambung, efek lain yang cukup bikin mules dan lemes pun mengikuti. Tongseng kuah yang rasanya gurih itu semula menimbulkan efek bahagia. Aku memang melihat semua orang tampak menikmatinya. Ada yang megap-megap tapi ketagihan, ada yang memang benar-benar menghindari karena warna kuahnya dominan merah, ada yang malah jadi tambah sehat habis kepedasan meski muka merah dan air mata bercucuran, mirip ekspresiku. Bahkan ada yang memakannya seperti ngemil kacang goreng sambil nonton bola.

Namun, lapar dan perasaan tidak enak menolak hidangan sang koki yang ahli masak tongseng kambing ini adalah perpaduan cocok untuk membuatku tetap makan kemarin hari. Pada detik-detik awal, sedikit masih bisa menikmati sensasi rasa gurih yang pas di dalam masakannya, lama kelamaaan tak sadar secara insting, aku berusaha menghabiskan makanan cepat-cepat tanpa mampu bersuara sepatah kata pun. Begitu melihat air putih, rasanya ingin menenggak seluruh isinya dalam hitungan detik. Berharap pedas itu segera hilang dan kembali pada efek makanan sedapnya. Sampai di rumah cepat-cepat aku menelan semua makanan penetral dan berhenti berpikir yang tidak-tidak. Memang banyak orang di luar sana merasa lebih nyaman dan lebih bugar setelah megap-megap, tapi rupanya aku tak punya respons naluriah bersifat positif semacam itu.

Rasanya untuk beberapa hari ke depan, aku perlu menghindari hal-hal yang pedas. Selain rasa terbakar di leher dan sekitar perut, efek psikologisnya pun bakal tidak sebentar. Untuk soal makanan pedas, yang mewakili keberagaman manusia itu, aku nggak mau lagi bertoleransi. Demi apa pun untuk saat ini.

Postinganku kali ini memang lebih banyak tentang rasa pedas cabai. Berbicara soal rasa pedas, mungkin demikian cara manusia menjalani hidupnya: sekalipun menyakitkan, tapi toh tetap menikmatinya juga sebagai hidangan rutin.:)

Bagaimana pun pengalaman kepedasan adalah pengalaman yang berharga untuk dilewatkan.

Batik Trusmi dan Kesetaraan

Berawal dari mention-mentionan saya dan teman-teman kantor lama via Twitter, teringat lagi nostalgia kompakan pakai batik kala itu. Bertepatan juga di hari batik, seperti hari kemarin. Untuk itulah, rasanya ingin menulis hal-hal bertema batik. Namun sempat agak bingung memilih topik batik dari daerah mana. Jogja yang memang mau nggak mau setiap hari saya kunjungi, atau asal daerah lain yang belum saya kunjungi?

Sepertinya saat ini lebih menarik mengulas batik asal daerah yang bukan Jogja karena jenis batiknya sudah sangat familier di mata saya -_-. Akhirnya saya putuskan memilih batik trusmi karena bentuknya yang berbeda sekali dengan batik Jawa. Siapa tahu kelak betulan berkunjung ke sana dan membeli kainnya.

Seperti yang pernah saya tulis di blog ini waktu itu, selama ini saya memang kurang gaul soal fashion dan kain, namun selalu berusaha memahami, hingga akhirnya menulis tentang batik Truntum beberapa waktu lalu sebagai awal saya mengenali produk budaya berbentuk bahan pakaian.

Batik Trusmi berasal dari Cirebon. Nama Trusmi sediri diambil dari kepanjangan terus bersemi. Istilah trusmi juga diambil dari nama desanya, yaitu Desa Trusmi yang sekarang juga menjadi kampung batik terkenal di sana. Trusmi tersebut tergolong jenis batik pesisir (pantai). Mungkin itulah sebab mengapa kebanyakan bergaya kebebasan dan fleksibel. Seperti bentuk awan dan burung (entah burung atau naga terbang ya…) menunjukkan hal-hal yang luas dan transenden. Karena bentuknya yang khas dan warnanya yang cukup tegas serta makna yang terkandung di dalamnya, membuatnya pantas menyandang predikat salah satu ikon batik nasional. Daerah Cirebon sendiri semula memiliki dua kerajaan maka batiknya disebut batik keraton.

Menurut sejarah, seperti halnya batik-batik lain di nusantara, batik Cirebon pun merupakan hasil asimilasi dan akulturasi beragam budaya. Batik gaya Cirebon yang sekarang semula lahir sejak Pelabuhan Muara Jati di daerah tersebut dijadikan tempat transit para pedagang. Pedagang yang singgah rata-rata berasal dari Tiongkok, Arab, Persia, dan India.

Selain itu, filosofi dan religiusitas yang terkandung dalam batik Trusmi berhubungan erat dengan sejarahnya dan juga berkait tatkala Sunan Gunung Jati menyebarkan Islam pada abad ke-16. Menurut berbagai sumber, pernikahan Sunan Gunung Jati dengan Putri Ong Tien wanita berketurunan Tiongkok disinyalir menjadi awal bergabungnya dua kebudayaan tersebut. Kala itu keraton menjadi pusat kosmik sehingga ide atau gagasan serta pernak-pernik budaya Tiongkok masuk dan berasimilasi dengan budaya Cirebon. Termasuk hasil asimilasi itu adalah batik Cirebon dengan motif awan yang lekat dengan mitologi Tiongkok yang dinamakan dengan motif mega mendung.

Motif mega mendung sekalipun dipengaruhi gaya Tiongkok namun sarat makna religius dan filosofi. Garis-garis gambarnya merupakan simbol dari perjalanan hidup manusia dari lahir, anak-anak, remaja, dewasa, berumah tangga sampai meninggal dunia. Antara lahir dan mati tersambung garis penghubung yang kesemuanya menyimbolkan kebesaran Illahi. Menarik sekali.

Selain itu ada beberapa jenis batik Cirebon yang lain dan juga sarat degan legenda dan filosofinya masing-masing, yang barangkali akan lebih total bila diuraikan sambil travelling ke kampung batiknya langsung.

Batik menurut pengamatan saya, juga sedikit banyak menggambarkan kondisi masyarakat tempat batik ini dibuat. Misal di Jawa, batik menggambarkan masyarakat yang berlapis-lapis karena hampir semua memiliki fungsi masing-masing dan lumayan ribet. Bahkan batik jenis parang tidak bisa dipakai di keraton karena dianggap kurang sopan. Secara antropologi, batik trusmi juga menggambarkan masyarakat Cirebon yang lugas dan egaliter, maka tepat bila mewakili hubungan masyarakat yang blak-blakan dan setara. Barangkali sedikit berkebalikan dengan Jawa yang serba hati-hati, suka mbatin, dan cenderung agak feodal, hehe. (peace ^^)

So, Selamat Hari Batik 2 Oktober 2014 🙂

contoh batik trusmi

contoh batik trusmi

contoh batik trusmi motif mega mendung

contoh batik trusmi motif mega mendung