Kekasih Kirana

Orang-orang ini begitu teganya ingin memisahkan gadis itu dengan kekasihnya. Sebelumnya semua orang tahu, gadis bernama Kirana ini mencintai kekasihnya melebihi dirinya sendiri. Semua orang tahu sejak 5 tahun yang lalu, ia telah memutuskan akan tetap bersama kekasihnya, Menikah ataupun tidak. Meskipun tentu, kebersamaan lama tanpa pernikahan itu mengusik hampir semua orang. Tepatnya nilai-nilai yang berlaku di masyarakat secara umum.

Kirana pun akhirnya memutuskan akan menikahi kekasihnya. Tapi mengapa orang-orang ini malah terkejut dan tidak suka ketika Kirana memutuskan untuk menikah dengan kekasihnya itu? Bukankah mestinya itu kabar gembira?
Mendadak gadis itu tak suka teman-temannya berkomentar yang seolah ia mengambil jalan yang salah dan keji, ia juga pusing setiap kali Tana, kakak satu-satunya mencoba mencomblanginya dengan teman-temannya yang belum menikah… Hapir semua orang ingin memisahkan mereka berdua. Lantaran apa?

Bukankah yang Kirana lakukan sama dengan yang dilakukan banyak orang? Mencintai dan ingin bersama. Apakah ia salah?

“Please, Kiran, bisakah kamu membuka mata lebar-lebar?”
“Aku bahkan sudah buka hatiku lebar-lebar. Tapi aku tak dapat mencintai yang lainnya, selain dia.”
Lalu bebannya bertambah, tatkala si ibu pun seolah ingin menghentikan niatnya.
“Nduk, bangunlah dari mimpimu. Dia nggak pantas buat kamu. Nggak pantas sama sekali.”
“Kenapa Bu? Karena Kiran sudah mapan? Karena dia tak bisa memberi Kiran nafkah?”
“Bukan begitu maksud Ibu, Kiran…”
“Kirana lebih mengenalnya Bu. Kiran nggak bisa jauh-jauh dari dia.” Gadis itu menatap ibunya dengan ekspresi memohon.
“Kenapa Kiran? Kamu bisa menikah dengan yang lebih baik. Yang lebih dapat menjagamu.”
“Ibu, Kiran sudah berkali-kali jatuh cinta dan patah. Kirana selalu menemukan pria-pria yang tidak benar-benar mencintai, mereka selalu menyakiti seolah Kiran selalu pantas disakiti dan ditinggalkan. Kiran bosan, Bu. Perasan Kiran sudah mati untuk pria-pria macam mereka.”
Kali ini ibunya terdiam, ia tak tahu lagi harus bagaimana.
“Selain itu, Kiran tak mau mengalami hal yang sama seperti yang dialami Ibu waktu dulu, ditinggalkan Ayah demi wanita lain. Meskipun pada akhirnya kita berdua menerima.”
“Iya, Ibu paham sulit bagi kamu menerima keputusan ayahmu. Tapi Kiran, Ibu tetap mau kamu pikirkan baik-baik keputusanmu.”
“Kiran tahu apa yang terbaik bagi Kiran. Aku mencintanya, Bu. Kiran menemukan hal benar di sana. Dan Kiran tahu dia juga mencintaiku. Dia takkan berkhanat dan meninggalkan Kiran. Kiran sudah memutuskan untuk menikah dengannya, bila memang harus menikah untuk membuat status Kiran sempurna sebagai wanita.”

Dan itulah pembicaraan terakhir mereka, sebelum Tana, dan beberapa orang yang kalap ini mengendap-endap membawa parang, pisau, bahkan bensin dan korek api, di pagi buta itu.
“Mau Ke mana kalian dengan benda-benda itu?” Kiran yang kebetulan sudah bangun menemukan keributan kecil di halaman.
“Membunuh pacarmu.” Tana berkata lantang.
“Hentikan itu Kak, kumohon. Membunuhnya, sama saja dengan Kakak membunuhku!” gadis itu berteriak, sembari berlari menghadang di pintu gerbang. “Apa salah dia, Kak?”
“Salahnya adalah… membuat kamu gila. Aku yakin kamu sudah kerasukan.” Tana tak mau kalah, ia sudah nyaris mendorong Kirana supaya menyingkir.
“Kalian yang kerasukan!” Ibu datang menghentikan keributan. Tana dan teman-temannya ini mendadak terdiam. Bila Ibu sudah demikian, maka tak seorang pun berani berkutik.
“Hentikan sekarang juga. Kalian, kembali ke urusan kalian masing-masing. Kamu, Tana pulang dan urus saja istri dan anak-anakmu.”
“Tapi, Bu…” Sekalipun Tana masih tak terima dengan keputusan adik semata wayangnya, ia pun terpaksa mengalah. Mereka semua pun berjalan menjauhi halaman. Berangsur rumah kembali sepi, sementara Kirana sudah didekap sang ibu, berjuang menghentikan tangisnya sendiri.

“Ya sudah, Nak. Ibu mengizinkanmu menikah dengannya, asal kamu bahagia. Ibu hanya berharap hidup kamu bahagia, disertasimu sukses, pekerjaanmu lancar, organisasi kemanusiaanmu di Kongo tak tersendat gara-gara pusing soal pernikahan.”
“Ibu benar-benar merestui kami?”

Melihat ibunya mengangguk mantap, gadis berusia 30 tahun itu melompat-lompat seperti remaja.
“Tak ada yang akan memisahkan kita lagi,” bisik Kirana dalam senyum bahagia sambil mendekap kekasihnya.

Matahari seperti bersinar lebih cantik hari itu. Kirana memeluk kekasihnya dengan begitu bahagia, ibunya di belakangnya tersenyum terharu. Tak ada pemandangan yang lebih aneh hari itu, kecuali seorang perempuan yang mendekap sebatang pohon asem, benda yang paling dekat dengannya sejak kecil, dan seorang ibu yang berdiri dengan senyum kelegaan.

Terinspirasi dari fenomena unik, Eija-Riitta Berliner-Mauer (54) di Jerman, yang memutuskan menikahi tembok Berlin pada tahun 1979.

*Karya ini ditulis untuk memenuhi tugas Komunitas Penamerah.

Senja di Matanya

Barangkali bila ia tak berwarna jingga, oranye, dan kemerahan, ia tak akan diberi nama senja. Tapi bila setiap senja, tidak ada sosok kerempeng dan suka duduk menyendiri di taman itu, maka ia bukan lagi senja untukku. Melainkan kegelapan. Sebetulnya aku lebih suka pagi. Tapi kini, sore berarti menemukannya di salah satu sudut taman. Perasaan itu terlalu lucu bila kusebut cinta. Dan aku terlalu belia untuk menyebut itu.

Aku melihat senja di matanya. Di mana aku hanya akan melihat rona itu ketika kami berpapasan sepulang sekolah dengan ia masih memakai seragamnya, yang berbeda dengan seragamku. Mula-mula aku merasa aneh dengan tingkahnya yang menjauhi orang-orang, dia pun aneh dengan mataku yang sering mengekorinya diam-diam dengan penuh tanda tanya.
Tapi kini, kami selalu memiliki hal untuk dibicarakan. Aku merasa diam-diam bahagia.

Sementara taman ramai seperti hari-hari biasanya. Nelayan, pedagang, petani kopra. Juga orang-orang yang sekadar berjalan-jalan. Kami duduk berdua di tempat favoritnya. Ia melihat langit, aku melihat laut.

“Ada yang hilang di ingatanku. Membuatku harus terus ke tempat ini,” jawabnya, ketika aku menanyakan mengapa sering sekali ia di sini. Matanya menerawang masa lalu.
“Aku selalu bisa melihat wajahnya bila sedang menghadap barat menjelang azan Magrib tiba.”
Entah menunggu dalam arti sebenarnya atau menyimpan makna lain. Ah, bukankah bahasa itu sendiri sering diperalat manusia untuk menyampain sesuatu yang maknanya tersembunyi? Itu kata guru bahasaku.
“Siapa?”
“Perempuan bersayap itu.”
Meski tak mampu membaca kehilangannya, perlahan hatiku terperangkap mata itu. Ada marah yang kemudian hadir sesaat. Sepanjang jam, ia hanya menceritakan si perempuan bersayap ini dengan berbinar. Mungkin aku cemburu. Atau merasa takut.

“Aku akan pergi, dan aku menunggu malaikat cantik itu datang dari langit senja dan menjemputku.”
“Perempuan bersayap itu?”
“Ya.”
“Dia bukan malikat!”
“Bagaimana aku bisa membuktikan padamu bahwa ia benar malaikat?” Kami beradu argumen.

Lelaki ini pasti tidak waras, namun mengapa aku masih mencintainya?

“Kenapa kamu ingin pergi?” Pertanyaan itu begitu saja membuat tenggorakku tercekat. Aku tak tahu kenapa aku menanyakan itu. Padahal aku tak suka membicarakan perpisahan. Terlebih hari ini.
“Tidak mungkin dia yang akan menjemputmu pulang. Kau tahu, konon wujud malaikat amat buruk untuk digambarkan.”

Tapi ia hanya terdiam, matanya mendekap senja rekat-rekat.
Seperti ada yang tiba-tiba membentang jauh antara aku dan dia. Ada sesak yang tak dapat kujabarkan. Yang berat dari pertemuan memang hanya pada menghadapi perpisahan. Andai aku bisa menahannya, andai aku bisa mengatakan bahwa hidupnya masih begitu panjang. Andai aku dapat membuatnya melupakan perempuan bersayap itu.

“Apa kamu juga ingin melihat malaikat?” Ia bertanya.
“Aku bahkan tidak ingin membayangkannya,” jawabku, bernada beku.

Dan malam memulangkan mimpi kami. Pagi dan sore seperti tak bersua. Namun, entah bagaimana aku ingin menemuinya di taman yang sama. Sosok yang membuatku ingin mencari warna senja di matanya. Kurasa hanya senja yang dapat membuatku menemuinya.

Tapi ia tak ada di sana. Aku mencari-cari hingga putus asa. Kurasa tak seorang pun juga dapat ditanyai perihal si misterius itu. Ke mana dia?

Air mataku tiba-tiba saja jatuh. Bersama itu, sekelebat bayang seorang perempun bersayap sepasang melayang di angkasa dan menghilang di balik senja. Ia tersenyum kepadaku, atau sebetulnya sedang memandangku sinis. Entahlah. Yang jelas, malam terlanjur menggantikan hari. Takkan bisa aku jelaskan rasa kehilangan ini, sebab terlalu dalam.

 

 

*FF ini ditulis untuk memenuhi tugas mingguan Komunitas Penamerah.

Rumah Tua Bergaya Belanda

“Sudah hampir sertus tahunan, rumah itu kosong. Tapi sudah dua hari ini aku lihat lampunya menyala, setiap jam 10.” Hardio memberitahukan kabar penting itu kepada tiga temannya: Argo, Rahman, dan Sofia. Sembari berjalan pulang dari tempat les. Sejak mereka kecil, rumah tua bergaya Belanda yang terletak di ujung kompleks itu memang sudah menjadi bahan pembicaraan dan imajinasi.
“Lalu kamu sudah tahu siapa yang menempati?” tanya Sofia antusias.
Memang di kawasan itu, kebanyakan rumahnya bergaya lama. Ada yang sudah direnovasi, ada yang tidak. Dan salah satu rumah tua yang kebetulan dekat dengan rumah Hardio ini, adalah yang tertua yang tak pernah dihuni.
This_Old_House_Wallpaper_wlymd
“Belum tahu. Tapi anehnya, ibuku sendiri gak yakin rumah itu sudah dihuni. Soalnya selalu sepi seperti biasa.”
Argo berpikir. “Jangan-jangan, kamu cuma ngebohong aja.”
“Wong aku lihat sendiri!”
“Kan sendiri. Bukan barengan?”
“Sudah-sudah. Sepertinya rumah itu memang berhantu,” Rahman berargumen.
“Jangan kalian pikir aku membual? Aku bahkan dengar musik klasik walaupun gak jelas.”
“Sebenarnya aku lebih percaya kalau cuma alien yang bisa tinggal di sana,” Sofia berspekulasi. Bertahun lamanya, ia masih mempertahankan keyakinan ini.
“Ah, mengkhayal terus Sof. Mau alien lah, vampire lah. Kalo bukan? Kalau misal malah dipakai sarang penjahat? Zaman sekarang, dari cecunguk sampai orang besar bisa berbuat kejahatan bukan?” Argo mengomel. Tapi pendapat spontannya ini malah mendadak membuat mereka saling pandang. Teringat berbagai kasus kejahatan terjadi di kampung mereka akhir-akhir ini.
“Bagaimana bila kita selidiki?”
“Ide yang bagus.”

Dan malam itu, tepat di jam 10, mereka mulai bergerak—jam yang sama ketika Hardio melihat lampu rumah itu menyala. Seperti biasa mereka berkumpul di pos ronda. Membawa perlengkapan seperti senter, perekam, buku catatan, dan tentunya keberanian.
“Kalau ternyata rumah itu digunakan sebagai markas kejahatan, kita langsung telepon polisi,” kata Argo. Kemudian menyuruh Sofia mengondisikan HP-nya. Sementara ia menyuruh Rahman, yang bertubuh paling bongsor, mengambil pentungan sebagai senjata untuk berjaga-jaga.
Mereka pun mulai mengendap-endap mencari tempat yang tepat di semak-semak sekitar halaman rumah tua tersebut.
Betul. Pada jam 10, terdengar mobil memasuki pintu gerbang.
“Sst, jangan berisik. Lihat ada mobil masuk,” Hardio berbisik, ia memimpin teman-temannya merapat ke pohon jambu.
Anehnya, tak seorang pun dari anak-anak remaja ini berani mengintip. Keberanian mereka buyar seketika.
Lalu terdengar suara dua orang memasuki rumah. Menyusul suara anak perempuan dan seorang nenek. Bunyi Lampu dinyalakan. Mereka ngobrol dengan riang. Hardio menyimak.
Hingga lamat terdengar dari dalam rumah.
“Nek, Mila bosan keluar masuk rumah sakit mulu….”
“Itu semua demi kebaikanmu, Mila.. lihat, daerah ini cukup sejuk. Bagus untuk masa penyembuhanmu….”
……
“Owalah.. kirain siapa. Ternyata emang ada penghuni baru. Seorang nenek dan anak permepuan.” Hardio menghela napas lega. Sementara teman-teman lainnya masih bergeming. Menatap Hardio dengan tatapan penuh tanya. Argo hanya mengangkat bahu.
“Ya sudah yuk. Bubar!” lanjut Hardio, memimpin mereka pulang.
Baru beberapa langkah berjalan, Sofia menghentikan, “Tunggu, Har.”
“Apa lagi?”
“Yang kamu bilang tadi… anak perempuan, nenek-nenek….”
“Ya? Kenapa?”
“Aku gak ngeliat.”
“Apa?” Hardio seketika menatap seluruh temannya meminta jawaban. Mereka juga menggeleng serentak.
“Aku juga nggak….”
Hardio membeku.

 

 

kisah ini diikutsertakan dalam kontes menulis salah satu blog, bergenre ringan.

[Berani Cerita #1] Sekali Ini Saja

Cilacap, 1989

Aku mencintai Rusman sejak masih sama-sama SMP. Kami bersahabat sejak kecil. Hanya saja, kebetulan aku berhenti sekolah karena orang tuaku tak mampu membiayai, sedangkan ia melanjutkan hingga SMA, hingga menjadi seorang tentara 2 tahun kemudian.

Seorang tentara di kampung halamanku sangat disegani. Tak peduli apa pangkatnya. Orang berseragam akan memiliki kedudukan yang dihormati. Berkali-kali juga aku tak percaya diri. Namun dalam surat-suratnya, dia selalu mengatakan bahwa kami akan bersama. Maka aku yakin dan setia menunggu. Aku percaya, sekalipun sering terdengar gosip miring tentangnya. Tapi itu setahun yang lalu, sebelum ia benar-benar berhenti mengirimiku surat.

Aku kehilangan kabarnya, rupanya ia menikah diam-diam dengan seorang perawat. Dengan sahabatku sendiri—Rukmini. Ada yang bilang bahwa mereka sudah lama bersama diam-diam di belakangku. Aku paham. Siapa yang tidak bangga beristri perawat?

Pernah suatu sore, ibu Rusman bercerita pada para tetangga, bahwa ia bangga anaknya menjadi tentara, kelak akan dinikahkan dengan seorang yang setara. Bukan denganku. Itu yang kudengar dari ibuku.
“Mestinya kamu ngaca, sebelum kamu nikah sama tentara,” begitu kata sahabatku Rukmini, yang setahun setelahnya menikah dengan Rusman. Aku sedih. Tak pernah menyangka. Tapi aku pasrah dan sadar diri.

Apakah sebab aku hanya anak seorang penjual ikan, maka ia meninggalkanku? Bahkan tak menjelaskan apapun padaku.
Maka, kuputuskan sekali ini saja, tak akan lagi aku menoleh ke belakang.

Berkali-kali Simbok mewanti-wanti. “Jangan sama tentara Nak, ingat, kamu gak setara.” Betapa kami seolah ditakdirkan untuk dihina.

“Iya, Bu. Aku nggak akan mencari yang tentara. Aku akan cari yang setia, menerima apa adanya, bertanggung jawab. Pekerjaan apapun bukan masalah. Yang penting mencintaiku.”

Aku menitikkan air mata.

Cilacap, 1992

Tiga tahun berlalu, masa lalu tentangnya sudah jauh-jauh kulupa. Bahkan aku sempat membenci tentara. Tentara bagiku adalah pria-pria palyboy yang hanya bisa mempermainkan perempuan. Tentara juga yang telah menculik Kakek tahun 60-an dan tak kembali sampai hari ini. Aku benci aparat berseragam. Sebab mereka yang pernah menggusur warung ikan milik Simbok. Aku benar-benar lelah membenci sampai kemudian berdamai dengan kondisi.

Tiga tahun aku menutup hati, hingga aku bertemu seorang pria yang mencintaiku apa adanya. Aku juga tak lagi mempermasalahkan apa latar belakang profesinya. Pemulung sampah sekalipun. Begitu juga dirinya. Ia bahkan mencintai keluargaku. Ia menyayangiku dengan hormat meskipun aku hanya anak penjual ikan.

“Apa kamu mau jadi istiku? Menerimaku apa adanya? Meskipun aku hanya seorang pelayan?” Begitu ia melamarku kala itu. Aku tak tahu persis apa pekerjaannya, yang kutahu setiap akhir pekan ia meminta diri untuk membantu membawa dagangan simbok dan ayahku ke pasar. Dan saat itulah aku yakin, dia mencintaiku. Bukankah perempuan mencintai pria yang terbiasa mendekat?

Yogyakarta, 1993
Tak menyangka hari itu datang juga. Aku bahkan tak percaya memakai kebaya ini. duduk di sampaing seorang pria yang sudah setahun lebih kukenal tapi tak pernah kupedulikan apa profesinya.

Mobil pengantinku sampai di gedung, dan entah bagaimana tiba-tiba aku melihatnya—mantan pacarku—Rusman. Dia membungkuk dan membukakan pintu mobil seraya menatapku terkejut, seakan tak percaya. Yeah, aku sudah memaafkan, sehingga aku pun hanya tersenyum sekilas dan menghela napas, sekalipun juga sama terkejutnya. Sebab rupanya, aku menikahi komandannya.

gambar dari google image

gambar dari google image

Flash Fiction ini disertakan dalam Giveaway BeraniCerita.com yang diselenggarakan oleh Mayya dan Miss Rochma.