doa pagi ini

Tuhan, semoga kami semua selamat dari rasa sombong, serakah, takabur, kikir, dan ketidaksadaran.
Dan semoga kami pun termasuk orang-orang yang ‘berjalan’ karena-Mu, sebab hanya Engkau satu-satunya alasan paling pasti dan masuk akal dari apa pun di dunia ini.

Iklan

Surat dari Negeri Senja

Hai, A.

Tatkala kutulis ini, aku berharap engkau selalu baik-baik saja. Sedang apa kau di sana? Bagaimana perasaanmu hari ini?

Apakah engkau masih setia dengan kebiasaanmu, menatap jendela setiap bangun pagi yang selalu kesiangan, membuat kopi dengan campuran kayu manis bubuk dan creamer nabati setiap pagi dan sore hari, membaca bertumpuk buku sampai matamu pedas dan berkantung, juga sesekali berbicara pada burung gereja yang gemar mengujungi atap rumah?

A, aku paham engkau sulit berdamai dengan keresahan yang dalam-dalam engkau sembunyikan dan memilih berlari pada kesunyian. Seperti kapas yang rapuh. Bagimu, hidup sering kali bagai lorong gelap tak bercahaya. Atau bunyi kereta yang sebentar lagi hilang dengan sendirinya. Pendiammu itu keterlaluan, A. Aku bahkan sering sekali kehabisan akal untuk sekadar menyapamu.

Ingatkah puisi Subagio Sastrowardoyo yang kita baca bersama dulu A?

Tugasku hanya menterjemah
gerak daun yang tergantung
di ranting yang letih. Rahasia
membutuhkan kata yang terucap
di puncak sepi. Ketika daun
jatuh tak ada titik darah. Tapi
di ruang kelam ada yang merasa
kehilangan dan mengaduh pedih

Melalui surat ini, A, aku ingin mengatakan bahwa aku mau menemanimu berbicara. Aku ingin mendengarmu bercerita. Jangan risaukan kelak, ataupun luka yang datang dari masa lalu. Temuilah kebebasanmu, setidaknya untuk mengakui keresahanmu. Engkau tak sendiri.
Kau harus sadari.

Sesekali waktu engkau berbisik memanggil peri-peri yang kau percaya dapat membawa pergi kesedihan, berharap mereka datang, seperti cerita dongeng kesukaanmu kala usamu masih kanak-kanak. Setiap malam engkau berbisik pada embun dan dingin. Dan setiap itu kau lakukan, hanya angin yang menjawabmu. Rindukah engkau hidup normal seperti yang seharusnya? Jangan tanya mengapa aku tahu semua itu.

Aku bahkan tahu kau selalu menyimpan ketakutan-ketakutan itu. Engkau enggan pada kehidupan. Engkau jera pada harapanmu sendiri. Engkau khawatir ketika mulia melangkah, kau lupa jalan kembali. Engkau takut tatkala mulai jatuh cinta, engkau patah lagi. Lalu akhirnya kau sering kali sembunyi pada topeng-topeng berwajah tawa.

Engkau pun takut mengakui dan membayangkan kejujuran serupa masuk ke dalam jurang, di mana hantu-hantu hutan bersarang. Namun, aku tahu engkau sebenarnya cinta pada hidup. Sebesar engkau cinta pada kematian yang rahasia.

A, ketakutan bukan hal yang salah. Ketakutan membuatmu kuat dan menemanimu menapaki waktu. Sebab kelak ketakutanmu itu menjelma keberanian yang tak kausangka akan hadir, tepat tatkala engkau memerlukan.

A, dekaplah kembali dirimu. Terima apa adanya dan jaga harapanmu. Aku yakin hidup memiliki getar yang bila engkau rasakan, ia serupa napas bagi paru-parumu. Terkadang memang kita butuh penderitaan untuk sekadar membangun imun. Sering kali engkau butuh air mata utuk memaknai tawa. Kau bahkan harus tersesat, untuk menyadari bahwa engkau mesti mencari jalan pulang dan merindukan “rumah”. Aku tahu engkau selalu memikirkan begitu banyak hal yang semestinya engkau biarkan melintas saja.

Tentu kau selalu ingat, A, Tuhan menyayangimu. Mencintai orang-orang yang terjebak dalam ketakutan dan ketakpercayaan, entah kepada dirinya sendiri atau hal-hal di luar itu. Percayalah itu, meski cinta tak selalu berupa wujud. Bukankah demikian?

Sekian suratku, A. Sampai jumpa di senja berikutnya.

diposting di web Ubud Writer Festival rubrik women of letters bertema surat tentang rahasia ketakutanku.

Sahabat Pena

Dapat dikatakan ini sekadar iseng berkhayal

Kadangkala aku ingin punya sahabat pena. Seorang teman yang barangkali jauh dari tempat ini dan sama-sama hanya bisa menulis untuk dapat nyaman berbicara. Barangkali ia juga benci arisan, malas pula berada di antara orang-orang yang berebut disimak untuk pamer, ia juga nggan punya jejaring sosial yang bising dan memusingkan. Mungkin ia juga membutuhkan seorang teman yang belum pernah ditemui tapi ia tahu bakal berkirim surat setiap akhir pekan, bercerita banyak hal tanpa khawatir terekspose media karena untuk apa, menyebarkan cerita orang yang bahkan belum dikenal kecuali lewat tulisan tangan?

Menulis surat pada sahabat pena tak perlu saling melihat ekspresi dan foto selfie, tak perlu khawatir bahwa kami berbeda, tak perlu menyamakan status sosial atau nasib, tak eprlu memandang apakah kami menikah atau tidak, kaya atau tidak, tak perlu risau soal prasangka sebab kami dapat terbuka dengan leluasa, kami boleh jujur atau tidak tergantung kita sendiri, asal tetap terhubung dan saling merespons.dan lama-kelamaan mungkin saja saling menginspirasi. Yah barangkali akan mustahil, mengingat, alih-alih sahabat pena, sepanjang hidup punya teman saja sudah merupakan kemewahan bukan?

Lanjut… Kemudian, kami akan bercerita apa pun yang ingin kami ceritakan, menanyakan pendapat, menjabarkan pemikiran, menguraikan perasaan, ataupun memberikan argumen sebebas mungkin tanpa takut membuat tersinggung sebab segalanya begitu jelas lewat surat, seperti Kartini, atau seperti Minke dalam Bumi Manusia. Barangkali kami hanya sekadar berkirim surat, tanpa harus bertemu dan belanja bareng dan lalu merasa berdosa karena demi punya teman dan tahu kabar, kami seolah harus pakai smartphone dan memiliki beberapa akun sosial. Sedangkan tak semua orang suka smartphone, dan tak setiap orang kuat membelinyaSebab kurasa sekadar surat cukup. Entah dia berasal dari pelosok pulau yang mepet perbatasan, entah dari pedalama lereng gunung, entah dari bawah air terjun, atau di daerah konflik, atau dari kota besar yang membosankan, tak masalah bagiku. Tak perlu ada syarat ribet demi saling memahami dengan cara masing-masing. Kami bisa menulis di atas kertas, atau di atas daun kering atau tisu, boleh tulisan tangan, atau mesin ketik. Kurasa akan lebih menyenangkan ketika kami terhubung melalui surat-surat yang rutin diantar pak pos akhir bulan atau akhir pekan. Surat lebih universal dan membumi daripada jejaring sosial atau sejenisnya.

Barangkali akan menyenangkan bisa bersahabat dengan surat menyurat, membagi sebagian cerita hidup, yang mungkin berlangsung selamanya. Sampai barangkali kami tua dan isi tulisan kami pendek-pendek karena sudah tak senergik dulu, dan mungkin sampai salah satu dari kami lebih dahulu tak membalas surat. Sebab terlalu sulit bagiku menjadi bagian dari keramaian ini, mematuhi segala kepentingan, aturan-aturan tak terlihat yang aku kurang paham, atau mengkhawatirkan banyak hal yang mestinya tak perlu dikhawatirkan. Berat rasanya terjebak dalam kerumitan kita sendiri yang tak bisa menjadi diri sendiri di tengah hingar bingar. Sementara kita ingin menjadi diri kita sepenuhnya. Andai semua itu mudah.

Sahabat pena mungkin adalah sahabat yang ideal di satu sisi sebab dapat saling menerima tanpa pretensi, tidak di sisi lain karena tentu ia tak menjadi bagian dari kehidupan keseharian kita. Mungkin saja suatu saat kami bertemu pada sebuah kesempatan, mengumpulkan surat-surat-surat kami untuk dibuatkan museum khusus bertema sahabat pena. Saat itu pastilah kami terbahak karena menyadari begitu banyak yang berbeda dari kami, dan begitu jauh sosok kami semua dari bayangan masing-masing sebelum ini. Dan begitu akrab dan dekat sebetulnya kami sebelum kikuk berkenalan lagi di dunia nyata. Atau barangkali takkan pernah bertemu.

Sungguh kurasa, akan sangat mengasyikan bila punya banyak sahabat pena….

Tapi apakah demi berangan tentang ini, aku juga mesti memandang zaman?

DSCN3501

teruntuk embun yang barangkali datang besok pagi

embun,

ada saat ketika rasanya ada begitu banyak kekosongan di sana, di hatiku, entah bagaimana… barangkali benar manusia selalu rindu hal-hal spiritual–saat di mana ia berada dalam kondisi bahwa Tuhan begitu dekat dan melihat, dan kita tak pernah sendirian….

ada saat ketika rasanya begitu sendirian,namun ingin diam dan memandang bahwa dunia ini terang dan kegelapan bukan jalan kita. dan segalanya akan baik-baik saja.

ada saat tatkala aku ingin sesekali pergi jauh untuk mengerti bahwa hidup yang kujalani bukan sekadar omong kosong. barangkali orang perlu menyendiri untuk libur dari ‘menjadi orang lain dan segala tugasnya menjalani bertumpuk rutinitas atau kepentingan’

tapi barangkali aku hanya sedang merasa peka terhadap rasa kosong.
ah, embun, bagaimana kalau kita lebih banyak bertemu dan ngobrol? kadang orang butuh membuang waktu untuk sekadar didengarkan, juga dimengerti… ada saat ketika seseorang sama sekali tidak butuh menerima nasihat atau arahan. sebab kita semua ada untuk setara dan seiring, bukan didikte terlalu sering.

bukankah demikian?

 

episode langit

Di kota kecil ini, setiap siang adalah saat di mana orang-orang angkuh terbangun untuk menggelar panggung. Telingamu akan bising oleh suara-suara yang melengking tajam ketika kau membuka mata, matamu sakit oleh cahaya-cahaya yang menyakitkan, dan kepalamu seperti dihuni ribuan rayap dari berbagai penjuru. Dan dalam kaku dan marah, kita takkan memilih berbicara. Lalu barangkali engkau yang pendatang akan bertanya-tanya bagaimana bisa kota ini kehilangan peta. Kota ini lebih kehilangan langit dan mereka semua bahkan membakar arah. Mereka membangun langit-langitnya sendiri dengan kesombongan. Di tempat ini, cahaya tidak selalu berarti terang atau jawaban yang ditemukan dari kegelapan. Seperti halnya aku yang hidup dalam bayang-bayang rerumputan dan bebatuan yang diam di tepi kali.

Di tempatku berada, malam selalu menjelma sesat, di mana setiap orang menutup semua pintu dan berkhayal tentang kelelawar yang menghisap otakmu tiba-tiba. Tak satu lampu pun menerangi jalan-jalan. Di tempat ini, matahari dapat berhenti bercahaya. Meski setiap orang menudingku aneh karena hanya aku aku mencintai langit malam dan membenci terik yang palsu, tapi tak mengapa. Bagiku langit adalah kekasih sejati dengan segala aksara dan rahasianya. Demikianlah bila aku telah menyimpan sesuatu yang takkan kau urai.

Aku akan selalu suka malam juga hal-hal yang tak disukai orang-orang di kotaku. Barangkali sejak aku harus berpisah denganmu kala itu. Sebab siang dan orang-orang adalah dua hal yang tak menyukaiku. Maka mudah bagiku mengunjungi malam dan lari ke arah pekatnya sementara mereka menutup pintu dan kami tak saling mengganggu. Kurasa tak pernah dan nyaris tak ada yang sempat bersamaku menemukan langit begitu indah di malam hari. Ada ketidakbatasan yang selalu kupertanyakan. Selalu ingin kutuju. Pada suatu hari nanti, kukhayalkan, aku ingin membongkar langit, membangun menara, dan menyimpan semua hujan. Mungkin supaya dapat kusimak engkau dari arah sana. Memastikanmu bahagia.

Aku yang di tempat ini, aksara yang diabaikan waktu, dijauhi musim, dipisahkan dari angin. Aku yang kini menutup semua pintu entah demi apa. Dan hingga detik ini aku masih saja menyimpan sajak-sajakmu. Meski aku belum pernah tahu apa yang kelak dapat menghentikan perasaan itu.

 

(untuk Tuhan dan hari-hari yang senantiasa berganti)

sepi

 

Sepi itu adil. Ia tak memandang kamu seorang bos, suami/istri, seorang anak, artis, pemimpin negara, politikus sekalipun.

Kesepian menyapamu bagai angin di musim hujan bila ia hadir. Engkau menggigil dalam bosan dan lelah tapi betah. Saat itu, engkau berharap memiliki lorong yang bisa engkau pakai berjalan ke arah-Nya sewaktu-waktu untuk sekadar curhat. Sebab barangkali hanya Ia Yang Maha Memahami, sampai kau menyadari bahwa manusia bukan tempat bergantung.

 

 

 

Surat Kepada Kesendirian

Kepada Kesendirian,

Lalu sampailah kita pada hari ini, yang tak pernah aku tunggu dan tak kubayangkan.
Tapi bukankah hidup juga tidak hanya tentang menunggu dan membayangkan? Kata orang, ia butuh dijalani.

Kupu-kupu akan terbang melintas bunga seperti musim kemarau yang biasa, hujan akan merintik jalan-jalan pada musim hujan yang biasanya. Dan burung-burung melintasi embun. Lihat bahwa sekawanan capung kemarin hari menghinggapi bambu-bambu dan kini mereka tersesat karena rumahnya terganti pertokoan. Tidakkah engkau lihat kunang-kunang tak lagi mengunjungi taman-taman kota? Apakah engkau mengamati mengapa senja begitu cepat disergap gelap? Senja yang selalu kita kenang itu? Dan bukankah dalam hidup kita terkadang digariskan bertemu untuk jatuh cinta dan kemudian mengambil jalan masing-masing?

Saatnya pulang dari pengembaraan panjang, menutup pintu, menyimpan rapat rindu. Sudah waktunya menutup gerbang-gerbang mimpi, bagi hal-hal yang tersembunyi jauh di dalam sana. Meski aku mengerti, tak ada yang berhenti dari mimpi, kecuali akan selalu bergandeng tangan dengan kenantian. Aku ingin engkau berbahagia, menelusuri seluruh sudut dunia yang tak kutahu, sementara aku menghitung ranting yang kering dan menuliskan sajak dari daun-daun yang berjatuhan di halaman.
Kita tahu, setiap sepi akan kembali ke hadapan perenungan. Seperti setiap tinta akan bermuara pada lembar-lembar catatan.
Dan setiap cinta akan dilabuhkan ke lautan.

Barangkali sudah cukup rasanya, aku jatuh cinta pada hidup dari sudut kesunyian…
Sekalipun indah, tapi biarlah, seperti halnya kafein, tidak baik bila dikonsumsi berlebihan dan menjadi kebiasaan…

Temanmu, yang Dijemput Keramaian

jalan tengah dan kesabaran: catatan harianku

28 Maret 2014
Jumat–di hari yang tak bersahabat denganku, seperti biasa

 

Belakangan saya kembali menikmati hobi menulis dan membaca di dalam suasana yang sunyi, seperti dulu kala, dan akhirnya, saya tahu betapa bahagianya bisa menulis hal-hal yang memang ingin saya tulis. Seperti catatan kecil yang seharian ini saya buat:

 

1.
Manusia memang mesti berada “di tengah”
Satu sisi agama dan nilai-nilai hidup mengajari manusia untuk hidup sebaik mungkin, tapi di sisi lain kita semua tidak boleh terlalu mencintai dunia.
Dan atas banyak alasan, aku selalu sepakat dengan itu.

 2.

Dalam doa, aku pun berada di tengah. Benar kata seorang kawan di masa lalu, bahwa kita tak perlu berdoa minta rezeki sama Tuhan karena Ia sudah siapkan sesuai jatahnya. Yah, kurasa rezeki memang sudah diatur oleh Tuhan sesuai usaha manusianya. Bahkan anak bayi yang lahir di lingkungan miskin juga sudah ditentukan rezekinya, tergantung apakah orang tuanya korupsi atau tidak.
Maka, menurutku, bila kita hanya berdoa minta ditambah materi, sama saja membuat hidup kita rugi dengan hal-hal indah yang bisa kita harap, seperti: kesehatan, menjadi bermanfaat untuk dunia, kesampaian travelling ke penjuru bumi, atau memiliki sahabat-sahabat sejati misalnya.
Tapi doa yang terbaik bagiku adalah jangan pernah Tuhan jauh dan meninggalkanku. Dan semoga Ia selalu kucintai di atas segala hal dalam hidupku. Dalam doa, hanya mampu kuserahkan segalanya pada Yang Maha Pemberi Hidup dalam kondisi netral.

3

Ukuran baik buruk bukan masyarakat yang menentukan, selama mereka tidak terlalu peduli tentang kita dan selama mereka juga tidak pernah membiayai kita seumur hidup. Keyakinan akan ukuran yang terbaik tergantung individu masing-masing.

Dalam hal ini kesabaran memang dibutuhkan.

 

4.

Aku benci di-PHP-in, oleh apa pun itu. Membuatku ingat sejarah diskriminasi yang dialami penduduk marginal, juga termasuk sejarah para perempuan di Indonesia.
Kini sudah zaman kesetaraan. Dan aku bersyukur bahwa aku tipikal yang selalu memiliki kegiatan sendiri yang menyenangkan selama tidak sedang tidur. Bagaimana bila yang mengalami adalah tipikal yang tidak punya kegiatan di luar kemapanan-kemapanan itu, selain menunggu dan menunggu? Dan bersyukur bahwa selama ini aku memang nyaman dengan kesendirian.
Namun bagaimanapun, kalimat “Aku benci di-PHP-in” adalah keputusan yang sama-sama kita sepakati bukan?

5.

Tidak ada orang tua yang sempurna untuk anak-anaknya. Tapi orang tua adalah ‘jalan’ dan tokoh-tokoh terbaik bagi “jalan hidup” anak-anaknya. Begitu juga anak-anak adalah jalan hidup terbaik bagi orang tuanya. Kita semua dalah pembawa sebab dan akibat bagi orang lain dalam bentuk karakter yang beragam. Dan toh bukan hal yang aneh bila karakter anak-anak bisa sangat berbeda dengan orang tuanya, di zaman sekarang… Dan segala hal itu memang sudah digariskan oleh Tuhan. Begitu juga dengan pasangan hidup.
(dan aku sedang tidak berbicara tentang lakon pewayangan)

 

6.

Dengan hal-hal yang amat bersebrangan, kita hanya butuh memaklumi.

Lalu seluas apa makna sabar? Apakah sungguh kesabaran memiliki batasan?

 

 

Mbah Uti

1
Di sebelah kamarku adalah rumah kecil mbah utiku. Di antara semua ruang di rumah ini, ruang kecil itulah yang selalu hingar dan ramai. Yeah, mbah utiku adalah tipikal wanita gaul era dulu dan kini. Beliau eyang yang punya banyak teman, ceria, dan selalu bersemangat menjalani hidup meskipun telah janda. Setiap hari, selalu berkumpul para embah untuk ngibrol ngalor-ngidul, bercanda, atau numpang tidur berjam-jam bila bosan di rumah mereka. Mereka adalah teman-teman Mbah Uti dari berbagai kalangan. Ada yang teman senam, teman angklung, temen belanja, ataupun sekadar teman galau. Hampir setiap hari rumah kecil itu seperti mirip basecamp komunitas simbah-simbah. Sering kali terdengar tawa, orang-orang yang ngobrol, hingga denting piring dan gelas, hingga membuat rumah ini tidak sesunyi kuburan. Bila iseng, aku sering ikut nimbrung sekadar duduk atau nguping aja mendengar obrolan mereka yang sering konyol itu. Namanya juga mbah-mbah. Ada juga yang saling tidak nyambung saat bercakap lantaran salah satunya mengalami masalah pada pendengaran.

Mbah Uti sangat bertolak belakang denganku dalam hal pertemanan. Mbah Uti ekstrovert, sedangkan aku sangat introvert. Sejak kecil teman-teman yang main ke rumah bisa dihitung dengan jari. Tapi kalau teman-teman Mbah, hm, belum pernah ada anggota keluarga yang hafal berapanya saking banyaknya. Mbah Uti sebenarnya agak sama ekstrovertnya dengan adik perempuanku. Bedanya dunia adik perempuaku dulu sebelum berkeluarga adalah di luar rumah. Dan baru ketahuan betapa banyaknya teman-temannya ketika ia diwisuda dan menikah. Yeah, kurasa “teman dan sahabat” adalah kemewahan bagi orang-orang tertentu.

Tapi memang tidak setiap manusia supel barangkali selalu nyaman menempatkan dirinya di tengah publik terus menerus. Rupanya manusia gaul seperti Mbah juga punya sisi di mana ia juga butuh privasi. Hari ini, bahkan menyuruh adik lelakiku yang sering nongkrong sambil ngelukis di deket pintu untuk membukakan setiap tamu, dan mengatakan kalau simbah tidak di rumah. Intinya, seharian ini adik lelakiku jadi front office sementara.

Eh, kebetulan aja siang tadi ibuku tidak sempat dipesenin apa-apa, dan adikku itu sedang ke belakang. Dengan polosnya Ibu mengizinkan seorang mbah untuk masuk, dan langung saja si Mbah tersebut menerobos gang kecil rumahku, duduk di ruang tengah, kemudian menyetel radio. Mau nunggu Uti pulang katanya. Maka dengan sopan dan hati-hati, kubilang bahwa Uti kebetulan sedang pergi. Beliau merespons dengan tawa dan maklum. Lalu si mbah tadi pun akhirnya pulang. Sudah itu, aku mencari Mbah ke sebuah kamar yang dulu dipakai Uti dan mbah Kung tidur sebelum Mbah Kung meninggal. Rupanya Mbah Uti lagi selonjor di belakang lemari pojok sambil nunggu ruang tamunnya sepi. Kulihat beliau mengehela napas lega sambil bangkit ketika kukatakan kondisinya sudah aman. Rasanya aku nggak pernah lihat Mbah Uti seperti ini sebelumnya.

“Uti lagi nggak mau nerima tamu.”
“Lho kenapa Ti?”
Dan dengan enteng Uti menjawab, “lagi pengin merenung sendirian aja.”
“Oh, oke.” Kami semua mengangguk mengerti.

Entah si Embah yang lagi ketularan aura keluarga intiku yang rata-rata gemar menyendiri, atau memang setiap manusia punya sisi ingin sendiri sehingar apa pun ia? Karena hari ini mbah utiku sedang menolak semua tamunya.

Entahlah… tapi siang ini, usai hujan deras tiba, rumah jadi lebih sunyi dari biasanya. Gerimis dan teh hangat di kamar menemaniku menyelesaikan pekerjaan.

2
Orang introvert juga manusia. Maka dari itu, wajar bila punya cita-cita bersifat kemanusiaan. Aku ingin hidupku bermanfaat bagi banyak orang. Punya sekolah membaca gratis bagi masyarakat, punya perpustakaan umum, jadi donatur tetap, punya usaha yang bisa mengurangi pengangguran di negriku, dan lain-lain adalah cita-cita dan rencana yang tak akan beranjak dari benakku. Meski aku belum tahu akan mulai dari mana…

3.
Pelajaran penting hari ini:
Jangan heran dengan perbedaan-perbedaan di seluruh dunia dalam hidup kita. Setiap manusia dihuni jiwa yang berbeda. Dan semuanya mengabdi pada apa yang “jiwa” itu mau.

Pernikahan dan Kampanye Ala Ibu-ibu

Benar kata sebuah pepatah (agak lupa di mana menemukan) : Topik pembicaraan yang sering dihindari, justru semakin sering ditemui. 

Hari itu bukan hanya isu kampanye parpol yang saya temui, tapi juga topik yang satu ini. Seorang teman lama bersemangat mengampanyekan salah satu institusi sosial terkenal yang menjadi langganan orang Indonesia yang masih normal: pernikahan. Kami sudah lama tak bertemu, dan kami ngobrol banyak hal perihal dunia wanita. Ia telah menikah. Dan keputusan mereka menikah justru setelah pacaran selama seminggu. Jalan ceritanya pun konyol dan lucu.

 

Pembicaraan ini berawal dari opini saya bahwa menikah dan pacaran, adalah dua hal yang berbeda. Dari substansi komitmen hingga perpisahannya pastilah semua orang tahu, lebih ribet bila itu di dalam ranah pernikahan. Kalau pacaran administrasinya gampang, tinggal “bye bye...” maka perceraian pun sah.

“Kalau menurutku ya pacaran lama itu rugi waktu, tenaga, pikiran, dan keimanan…” Teman saya ini mulai presentasi.
Keimanan? Wow.. saya memang pernah jadi atheis gara-gara pacaran: Apakah jodoh kekasih itu ada? dan apakah Tuhan itu ada? Ah, sudahlah.

Kami baru saja menonton acara infotainment di televisi, acara yang sebetulnya membuat saya elergi.
“Mbak emang ingin menikah waktu pacaran itu?” saya iseng tanya.
“Ya,” jawabnya sambil menerawang jauh. Wajahnya berseri. Begitulah wajah orang-orang yang lagi mengingat sejarah percintaan.
“Dan nggak takut kalau ketemu pasangan yang salah?” saya masih penasaran.
“Setiap manusia adalah makhluk yang salah. Nggak ada yang sempurna,” demikian si Mbak menjelaskan. “Bodoh banget kalau anggap pacaran adalah jalan untuk saling mengenal pasangan.”
Saya merasa tertampar. Oh, idelisme…

“Kalau mau mengenal pasangan yang menikah resmi, seumur hidup aja orang nggak akan bisa mengenali pasangan resmi sepenuhnya, bagaimana yang cuma pacaran? Tapi banyak sih, muda-mudi yang milih pacaran cuma buat seneng-seneng aja. Lucunya mereka karena nggak serumah, maka satu sama lain hanya melihat tampilan baik. Begitu menikah, jedueeer, nggak bisa menerima kebiasaan buruk alami si pasangan.”

“Iya sih. Itu masuk akal.”

“Makanya, ada beberapa agama yang tidak menganjurkan pacaran karena dirasa memang kurang menghargai hak asasi pasangan. Pertama, pacaran menutup kesempatan menemukan yang terbaik, padahal sebelum menikah, setiap orang bahkan masih berhak mencintai siapa pun dalam hatinya. Banyak juga yang meskipun sudah lama pacaran, tapi menikah juga karena terpaksa, sebab para ortu sudah ngejar-ngejar misalnya. Kedua, mereka memilih pacaran karena aslinya sebagai alibi pengin ada yang merhatiin tapi nggak berani bertanggung jawab membangun rumah tangga, huahahaha..”

Jleb.

“Mbak sendiri bahagia setelah menikah?”
“Bahagia itu relatif. Manusia itu sendiri makhluk yang pasang surut. Kadang bahagia, kadang sedih. Kadang waras, kadang edan. Tapi setidaknya ada seseorang di sampingku yang entah ikhlas atau enggak, atau mau nggak mau, tetap berada di sampingku.” Si mbak ngikik. “Sering kan teman-teman kita yang pacaran malah ngajakin kita nongkrong atau nonton pas lagi sedih, dan bukannya bersandar ke pacarnya. Karena si pacar selalu nggak ada, huhahahaha.”

Aku senyum dan mengangguk-angguk saja.

Si mbak ini pasti bakal cocok dengan ibu dan adik perempuan saya dari segi prinsip. Kalau sedang ngobrol berempat, pasti 3 lawan satu.

Beruntunglah mereka yang berpikir lurus-lurus saja. Sebab yang selalu merekam dan berpikir segala hal, akan kesulitan mempercayai begitu saja.

“Nah kalau agama itu sendiri nggak menganjurkan sesuatu, karena ada alasan di sana. Contohnya soal hormon itu sendiri. Realitasnya, hubungan spesial laki-laki dan perempuan biasanya hanya bertahan setahun dua tahu saja karena pengaruh hormon. Hormon itu ada masa kadaluarsanya lho. Tahun ketiga sudah mulai logis. Jangan ngarep bakal romantis-romantisan terus. Tanya aja deh sama yang udah nikah.”

Aku masih menyimak dalam diam, sambil menatap cicak yang melintas di kaca jendela.

“Tapi jangan khawatir…”
Lamunan pun goyah, bukan karena kontennya, tapi karena si Mbak masih bersemangat kampanye sambil menepuk kaki saya.

“Biasanya, meskipun nggak lagi saling romantis, pasangan menikah yang lama meskipun sudah ‘kayak temen’, tapi masing-masing udah saling menjaga keutuhan rumah tangga. Entar kerasanya kalau udah pada sepuh.”

Saya sendiri sebenarnya ingin meminta pendapat, apakah di zaman sekarang institusi pernikahan itu harus dijalani setiap individu? Tapi lebih menarik dibicarakan dengan mereka yang agak liberal, karena biasanya netral.
Tapi saya lebih ingin bertanya pada diri sendiri, apakah saya ini sudah cukup baik untuk menikah? Dan rasanya monster-monster dalam diri saya sudah bosan mengajak diskusi.

Tiba-tiba teringat kata seseorang kemarin hari, “barangkali kamu selalu mencurigai institusi pernikahan karena baru mendengar dari orang-orang di luar sana, bukan karena mengalaminya sendiri.”
Maka mari kita benarkan, menikah adalah kehidupan baru yang penuh kejutan. Yang kita tidak akan tahu akan seperti apa. 🙂

ah, Tuhan, bukan sekali dua kali saya diceramahi soal pernikahan, hanya hari itu seperti diingatkan ulang.
Menjadi idealis itu memang ruwet…
Muarakan segala hati saya kepada Engkau saja, Tuhan.

Kalau sampai waktuku… (meminjam sebaris puisi Chairil Anwar)
Toh juga mesti dijalani juga.

sisi buruk

Karena memang beginilah aku. Sisi buruk yang kupunya: selalu membuat keputusan cepat seorang diri ketika menghadapi hal-hal yang samar dan tak jelas. Secepat aku berubah pikiran ketika sesuatu yang kuputuskan itu salah. (meskipun aku juga bukan orang yang ‘jelas’). Aku bahkan terbiasa cepat ketika berjalan kaki. Sering kali tak takut dengan medan terjal. Tak takut bila sewaktu-waktu terjatuh pada lubang. Toh masih bisa bangkit lagi. Toh itu bukan hal yang baru. Demikianlah aku menjalani hidup.

Dan aku hanya lebih sering diam tatkala tak ada hal penting yang harus aku bicarakan. Dan lebih baik sibuk bekerja daripada berbicara. Akan lebih baik berpikir hal-hal penting dan berat daripada mengerjakan hal-hal ringan namun hanya menguras waktu dan tenaga.

Dengan begitu orang akan tahu cara menyiksaku: membuatku menunggu dalam ketakpastian dan memberiku tanggung jawab dengan hal-hal yang tak jelas, atau membuatku tak memiliki kesibukan apa pun. Tapi aku selalu punya cara untuk lari ketika aku memang harus lari, secepat yang kupikirkan saat itu juga. Secepat aku mendekat dan terikat pada yang kukasihi.

Aku akan hanya mudah bertoleran dengan yang lemah dan bodoh. Bahkan aku ini keras kepala, yang akan semakin keras bila dihadapi dengan keras juga. Di samping itu, aku bahkan nggak bisa bersikap sabar pada orang dewasa yang “kurang dewasa”. Dan lantas pergi begitu saja dengan alasan “jeleh” karena bakal takkan betah dengan hal-hal yang “njelehi”.

Jangan tanya kenapa bisa demikian, nggak ada hubungannya dengan zodiak capricornus-ku atau wetonku yang katanya tipikal keras. (Aku nggak mau menghubungkan dengan semua itu, karena merasa kasihan sama yang sudah susah-susah bikin ramalan).

Yeah, anggaplah saja aku mempelajarinya dari iblis.

Tahun Depan?

Setiap hari Senin aku selalu tak mau peduli perihal pekerjaan dan kehidupan sejak bangun tidur. Karena biasanya bakal menyebalkan dan melelahkan. Tapi setidaknya pagi ini aku sempat ngobrol dengan temen dekat yang sedang berada jauh di negeri orang, melalui YM. Seperti biasa, kami bercerita ngalor-ngidul tentang hal-hal kecil di sekitar. Kemudian ia pun bercerita tentang pria yang dekat dengannya. Memang, di antara kami berdua, dialah yang paling antusias segera menikah dan punya keluarga dan juga selalu khawatir soal usia. Padahal aku yang lebih tua beberapa bulan dengannya nggak lagi terlalu khawatir soal itu. Namun aku paham sekali posisinya. Sayang lagi-lagi nasib baik seolah belum menghampirinya. Selain perasaannya belum sreg betul, si pria juga penganut sekte “tahun depan”. Pria  yang ia maksud baru (kemungkinan) siap menikah tahun depan. Soalnya dia mau nyelesein S2 dulu, katanya. Masalahnya, temanku yang satu ini tipenya bukan pria yang sudah matang.

Ya kalau lulus di tahun itu. Kalau tidak? Kalau malah keburu kepincut sama yang lain? Kalau ternyata dia berubah pikiran di tahun depan itu? Atau malah nggak lulus karena kampusnya kebakaran? Masih ikhlas nunggu? Kemungkinan begitu banyak berkelebat. Setahun itu lamanya berlipat bagi yang nunggu. Udah deh milih yang udah siap aja… Dan aku selalu mencoba mengajak berpikir dengan banyak sisi pada teman-teman atau saudara perempuan di sekitarku bila menyikapi hal itu. (memang lebih mudah ngasih nasihat pada orang lain daripada diri sendiri, haha). Sebab para perempuan agak lemah ketika membedakan makna di balik ucapan lawan jenisnya.

Yang dia maksud tahun depan ini betulan janji atau masih wacana?

Begini bila aku memberi sedikit gambaran untuk mereka yang pro pernikahan: Laki-laki secara biologis bisa nikah usia berapa pun. Perempuan nggak. Bahkan perempuan punya masa menopause lebih cepat dari laki-laki. Itu fakta. Pasti nggak mau kan punya anak dalam keadaan sudah tua? Anak masih SD tapi sudah pensiun itu susah lho ngejalaninya. Belum lagi risiko-risiko kesehatan yang bakal ditanggung perempuan. Kalau kamu nunggu dia yang belum pasti, bagaimana bila Tuhan malah memberi kebijakan lain (yang kita nggak tahu) terhadapmu atau terhadapnya? Sudah siap?

Tapi jauh dari semua itu, aku memang agak risih dengan istilah “tahun depan”. Rasanya sama abu-abunya dengan istilah “besok” dan “nanti”—yang disebut tanpa keterangan lebih detail seperti tanggal berapa dan jam berapa. Sahabatku itu pun sepakat denganku, sekalipun masih sambil mikir. Aku sering ketemu kata ‘tahun depan’ yang bahkan sudah menjadi tahun belakang yang tidak terjadi apa-apa.

Membahas ini, aku jadi ingat jawaban konyol salah satu teman kampusku dulu. Ceritanya dia udah lama berkomitmen dengan pacarnya, sudah lebih dari 6 tahunan. Orang-orang di sekitar mereka juga usil (baca: tega) menanyakan kapan mereka nikah. Temanku ini dengan enteng selalu menjawab “tahun depan”.
“Yang benar?” Mereka tentu heboh mendengar jawaban itu.
“Iya. Masa mau tahun belakang,” lanjutnya santai.

Dan untungnya mereka pun akhirnya menikah juga dan sekarang sudah punya anak. Tapi betapa memperjuangkan ‘tahun depan’ itu kelihatannya bukan hal yang mudah. Kebetulan ia teman wira-wiriku di akhir-akhir tahun kuliah. Orang lain barangkali nggak tahu ia bahkan harus ekstra sabar mengalahkan perasaannya yang sudah capek berharap demi kepastian hubungan. Selama 6 tahun, ia selalu mengalami pasang surut hubungan. Nggak jadi, jadi, nggak jadi, jadi. Putus, nyambung, putus nyambung, dan seterusnya. Kalau aku paling lebih milih pindah kewarganegaraan daripada ngurusi pacaran nggak jelas semacam itu. Yeah walaupun akhirnya mereka menikah juga, tapi ingat, di luar sana banyak yang mengalami hal serupa tapi nggak jadi lho. Alias gagal. Pernikahan lebih pada urusan masing-masing dan bersifat privat. Bagiku lebih bersifat “iman.”

Oke, aku akui, manusia memang hanya bisa merencanakan dan menyusun angan-angan. Tapi semua itu ditentukan nanti. Karena bagaimana pun yang pasti adalah yang sedang dijalani. Dalam hal ini, aku setuju dengan ideologinya orang-orang atheis. Mereka nggak peduli masa depan dan lebih yakin dengan masa sekarang. Seperti halnya kadang aku juga setuju dengan pemikiran kelompok warga RI pendukung nuklir—yang lebih percaya prospek untuk pembangunan daripada dampak buruk ke lingkungan yang sedang tidak terjadi sekarang. Meski tidak benar-benar mendukung.

Kembali pada penganut paham “tahun depan”. Selalu dari masa lalu aku belajar tentang kini. Aku juga sering belajar dari hal-hal di sekitar. Seperti halnya, mimpi-mimpi masyarakat Aceh tahun 2003, akhirnya tersapu Tsunami di tahun 2004-nya. Bagi orang-orang Jogja pada tahun 2006, rencana-rencana tahun 2005-nya juga ambruk oleh gempa. Mimpi tahun depan masyakarat lereng Merapi di 2009 juga tersapu awan panas di tahun 2010. Bukankah bila demikian tahun depan lebih merujuk pada sesuatu yang tidak pasti.

Begitulah. Istilah “tahun depan” sering kali terdengar begitu absurd di telingaku….
Sekalipun demikian, kita memang harus mengambil hal baik dari proses “merencanakan”. Sebab itu memang bagian dari hidup.

*memenuhi tugas Komunitas Penamerah edisi denda