“Hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya

“tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar

‘terimalah dan hadapilah

-Soe Hok Gie-

Jakarta 19-7-1966

Iklan

mimpi hari ini

Mimpi seperti lorong waktu yang menghubungkanku di masa lalu.  Aku seperti telah mengalaminya semalam.  Seperti mimpi-mimpi biasanya, jalan cerita yang terjadi pastilah melompat-lompat dan kadang samar.

Tapi jelas semalam aku bermimpi datang di keluarga besar bapak, seperti bertahun yang lalu. Kakek dan nenekku masih muda, bapak dan bulek bulek juga bude masih remaja. Mereka tinggal di sebuah rumah jawa yang sederhana, dengan beberapa keluarga yang lain. Tatanan rumahnya persis seperti tatanan rumah ini di zaman lampau. Lukisan-lusisan dinding yang dikoleksi kakek hasil membeli di malioboro, bau khas dapur nenek, kursi bambu, juga kulihat kakek, yang sekarang sudah almarhum, sedang melinting tembakau dan dijadikannya rokok.

Tiba-tiba aku rindu kakek.

Dulu waktu aku kecil sering sekali kuperhatikan kakek meracik rokoknya sendiri. Beliau menumbuk cengkeh kering, mencampurkannya dengan tembakau dan melintingnya dengan kertas. Lalu duduk di teras depan, mendengar siaran di saluran yang sama, RRI, lewat radio tua ala zaman Jepangnya. Lalu merenung, entah apa yang direnungkannya, duduk, terkantuk-kantuk, ditemani secangkir teh dan pisang goreng kesukaannya.
Entah mengapa, dalam mimpiku semalam, aku seperti tamu yang akrab disambut mereka, mungkin tidak sadar bahwa aku adalah aku di masa sekarang yang datang berkunjung di masa lalu. Mereka tidak sadar bahwa kelak aku ini cucu kakek. Namun aku diam tak menjelaskan apa-apa, hanya menikmati suasana itu.. ah, mimpi, masih selalu negeri rahasia yang menyimpan tanda tanya, dan selalu memiliki sisi damainya tersendiri.

Merapi

 

 

barangkali ada taman keabadian
tumbuh di pucuk-pucuk edelweiss,
dawainya menuruni perbukitan,
bercakap pada lusinan musim
membuka batas cakrawala pagi
membingkai ingatanku,
di masa lalu…..

 

 

 

jogja-pada waktu yang tak lagi kembali-

tawa dan sedihku

Hari ini suntuk menjalari duniaku tanpa ampun, seolah tidak cukup cuaca dingin seharian ini mencekik pori-pori tubuhku. banyak hal yang tak berhasil, banyak hal yang buntu, dan banyak hal yang menggantung penuh tanda tanya. hidup begitu membuatku sangat emosional hari ini, terlebih jika banyak target yang tak sempat tercapai. Pagi yang dingin hari ini harus kumulai dengan hati yang dingin, juga semangat yang ragu-ragu untuk tumbuh. dan siang adalah perasaan penat yang ingin meledak menjadi tangis.  Sungguh gelap sekali rasanya.

setidaknya aku berada di rumah, dengan keluarga yang menyayangiku.

Di antara gelap ini tentunya ada terang, salah satu muridku akhirnya mampu mendapat nilai seratus bulat di ulangan sekolahnya. ia tertawa dan tawa kebahagiaan memang menular sehingga aku pun lega (seperti belahan bumi yang baru kebagian terbit matahari), ia beringkrak-jingkrak karena saking senangnya dan menunjukkan padaku. namun ketika anak itu berterimakasih karena merasa nilai itu didapat karena les denganku sambil memeluk lenganku, aku lantas mengatakan: nilaimu bagus bukan karena mbak, tapi karena memang kamu pinter.  pertahanin ya. kamu bisa, kamu bisa lebih hebat dari yang sekarang!
sebab tak adil jika prestasi seorang anak diaku-aku sebagai hasil kerja keras orang lain, bukan karena kerja kerasnya sendiri, bukankah ulangan itu yang mengerjakan juga bukan aku? itu sebabnya penting bagi mereka, anak-anak kecil yang kebetulan butuh perhatian itu, untuk memilki harga dirinya sendiri. guru hanya bertugas menyampaikan ilmu dan memotivasi, murid berhak memilih jalannya sendiri.

Dan anak-anak ini adalah tolak belakang dari kondisi tugas administrasi yang membebaniku akhir-akhir ini. tugas administrasi yang rasanya justru tak membuatku maju dan berkembang.  Perusahaan kecilku ini memang seperti berjalan merangkak penuh pesimis. dan bermasa depan yang kurang jelas. Jika mengurusi administrasi membuatku pusing tujuh keliling dan selalu bikin drop mud, tapi murid-muridku adalah penyeimbangnya. Sehingga aku bersyukur tentang itu, bersama mereka aku bisa menjadi anak-anak untuk sekedar konyol, ketawa, bermuka lucu dan berbicara ala dunia mereka. dan aku bisa menjadi orang gila tanpa dikira gila karena yang lihat hanya murid2ku.  Sebab rupanya kegilaan guru yang ikut masuk dunia anak-anak membuat mereka lebih semangat belajar daripada yang bersikap menjaga jarak dan memperlihatkan batas strata antara guru dan siswa.

Hari ini setidaknya, aku mampu beristirahat tanpa hati yang mendongkol. Memang inilah risiko lajang, harus bekerja keras dan berani menghadapi hidup yang keras tanpa ada orang yang mendampingi di kala sendiri,,tanpa ada yang menyupport dari balakang sebagai suami, dan tanpa ada anak-anak lucu yang menungguku pulang dan minta gendong..

karena lajang berarti berjuang untuk diri sendiri, menjalani apapun masalahnya seorang diri dan pulang kerja untuk menyendiri.

sudahlah, daripada bermimpi jadi tidak lajang lagi,  sebaiknya ikuti kata motivasi Mahatma Gandhi:

“Menangislah, maka kau akan menangis sendiri. Tertawalah, maka dunia akan tertawa bersamamu”

yeah, itu sebabnya mengapa satu orang yang menemani menangis adalah yang paling berharga daripada seribu orang yang menemani tertawa…

😉

musim

baru saja kita bertatapan
di ambang pintu sebuah gedung tua
engkau yang sempat bertandang di mimpiku
engkau yang menjadi puisi itu
engkau yang membingkai hari-hariku yang ungu

dan malam-malam kini adalah seribu jam penantian
kala engkau mengirim pesanku bahwa di rumahmu
musim gugur baru saja dimulai
kau duduk di salah satu halte,
menunggu bus di selepas dini hari
mengirim ulang pesanmu padaku yang tertunda

di tempatku berada
gerimis tengah menghanyutkan rinduku
yang bisu
orang-orang ramai berjalan membawa payung
berjalan seraya mendengar rinainya
sebagiannya mendiamkan diri di bawah atap tanah liat

seuntai waktu ini tiba menjemput kata-kata mu
setahun dari musim yang lalu, waktu bahkan menitipkannya kembali

bersediakah bila suatu saat aku pergi sejenak
untuk memastikan engkaulah itu
atau hanya sekedar ambisi mimpi
yang telah terlanjur kubawa berlari?

bersediakah engkau mencintaiku meski
zaman tak lagi berujar mengenai perasaan ini?
atau usia telah menua bersama rambut kita yang beruban?
bersediakah engkau, bahwa demi aku,
engkau mau
mempertaruhakan
ribuan kehidupan yang renta mengasingkan kita sebab kita
tak lagi muda?

namun engkau memang bayangan
di sela sepi yang hiruk pikuk bersama angin pagi
juga raga-raga yang selalu menentang waktu
kita mendamba keabadian di mimpi-mimpi kita
tapi kita pun absurd

engkaupun hilang
aku tlah tiada
aksara aksara kian purba
dan bahasa kita tak lagi saling menggapai
lalu kita mencoba menandai celah
karena di sanalah hati kecil itu bersembunyi
sebab di sana lah nurani itu menerjemahkan tanda

engkau pada musim semi yang ambigu
aku pada hujanku yang bertahun
dan berdiri di ambang jendela putih memandangi mekar kemuning,

bertanya-tanya,

abadikah kelak perasaan kita?