Of Mice and Men by John Steinbeck: Ulasan Singkat

32212419_1706975229351864_5420380845040992256_n

Judul: Of Mice and Men (Tragedi Hidup Manusia)
Penulis: John Steinbeck
Penerjemah: Shita Athiya
Penerbit: Selasar Surabaya Publishing
Cetakan 1: September 2011
Bahasa: Indonesia
ISBN: 978-979-25-9413-3
Jumlah halaman: 150

 

Blurb:

Berusahalah memahami masing-masing manusia, karena dengan memahami satu sama lain. kalian bisa bersikap baik satu sama lain. Mengenal baik seorang manusia tak pernah berakhir dengan membencinya dan nyaris selalu menjadi mencintainya.

 

George bertubuh kecil namun cerdas dan pemimpi. Ia ingin suatu hari dapat memperbaiki hidup, tak lagi menjadi buruh kasar dan memiliki tanah sendiri. Sedangkan Lennie bertubuh besar namun memiliki keterbelakangan mental. Mereka harus pindah lagi dan mencari pekerjaan pada tuan tanah yang baru di Soledad.

Mereka terusir karena sebuah kasus. Lennie dituduh memperkosa seorang gadis, padahal yang sebenarnya ia hanya tertarik pada tekstur roknya. Bahkan suka memegangi hewan-hewan kecil seperti tikus, kelinci, dan anak anjing hanya karena tertarik dengan bulu-bulunya, tanpa menyadari bahwa perbuatannya membuat hewan-hewan kecil tersebut terbunuh. Hal-hal kecil seperti yang Lennie lakukan ini sering kali menyulitkan hidup sahabatnya, George yang tengah berjuang mewujudkan impian.

Novel ini terbit tahun 1937, pada dekade 1930-an, ketika masih terjadi krisis global. Bahkan merupakan kisah yang terinspirasi oleh pengalaman hidup penulis sendiri yang pernah menjadi buruh. George dan Lennie merepresentasikan kaum buruh kasar. Novel ini menceritakan dua orang sahabat dari kelas pekerja kasar yang melakukan perjalanan bersama karena perasaan sepi. Goerge pun membutuhkan Lennie sebagai teman perjalanan yang tak memiliki niat jahat sedikit pun.

“Tak perlu otak untuk menjadi orang yang baik. Kelihatan bagiku kadang-kadang tepat terjadi sebaliknya. Lihat saja orang yang benar-benar pintar dan biasanya hampir tak pernah jadi orang baik.” (Hlm. 54)

Sebetulanya novel ini memiliki ide cerita yang sederhana. Memberikan pesan kepada pembaca bahwa memiliki teman yang menyulitkan lebih baik daripada tidak memilikinya sama sekali. Meski seolah bercerita tentang perjalanan 2 orang sahabat yang mengadu nasib dalam keadaan yang penuh keterbatasan, secara tersirat, Steinbeck lebih banyak bercerita tentang kondisi para buruh dan kisah-kisah kemanusiaan lain. Termasuk juga isu rasisme terhadap warga kulit berwarna.

Novel ini tentulah keren pada zamannya. Dituturkan dengan gaya sederhana ala Steinbeck dan ide yang dekat dengan kondisi masyarakat saat itu, membuat novel ini pantas meraih penghargan di bidang kesusastraan. Of Mice and Men, yang membuat miris perasaan ini pun menyuguhkan ending yang bikin geleng-geleng kepala.

John Steinbeck sendiri konon telah menerbitkan 27 buku selama hidupnya, termasuk 16 novel, 5 kumcer, dan 6 buku nonfiksi. Dan setelah membaca karya yang ini, saya jadi penasaran sama karya Steinbeck yang lain.

 

 

Iklan

Film Refrain dan Opini tentang Persahabatan

“Persahabatan itu nggak memilih. Persahabatan bukan didasari oleh gender, usia, motif, atau apa pun itu. Persahabatan yang tulus nggak harus punya alasan.”

Benar. Tapi omong-omong, apa sih artinya Refrain? Kalau menurut google translate sih ‘menahan diri. Tentang apa sih film ini kok sampai ada soal menahan diri? Atau bisa jadi refrain adalah istilah musik yang berarti bagian perulangan dari lagu. Ya marilah kita abaikan sejenak judul, karena agak sulit memang dihubungkan dengan pesan moral filmnya :p

Refrain bercerita tentang Niki (Maudy Ayunda) dan Nata (Afgansyah Reza). Mereka bersahabat sejak kecil. Kedua orang tuanya bekerja di satu perusahaan dan sama-sama harus dinas ke luar kota. Oleh karenanya mereka selalu bersama ke mana pun itu. Apa keburukan dan kelebihan yang dimiliki satu sama lain, mereka pun sudah hafal. Setiap pada Niki di sana ada Nata, dan begitu juga sebaliknya. Bahkan saking dekatnya, mereka berjanji siapa yang lebih dulu jatuh cinta, harus ngasih tahu. Tapi janji itu tidak tertepati. Suatu hari Niki jatuh cinta pada Oliver, kapten tim basket di sekolahnya. Sejak itu, Nata merasa ada yang hilang. Niki sudah tak lagi sering ada waktu untuknya. Namun, tak hanya sekadar itu, Nata cemburu. Rupanya diam-diam Nata menyukai Niki, perasaan itu ada begitu saja tanpa bisa diprediksi, tapi rahasia itu disimpannya jauh karena mereka bersahabat. Sejak itu, dunia terasa berubah di mata Nata. Sedangkan dunia baru berubah di mata Niki ketika ia tahu sikap Nata yang antipati terhadap Oliver itu karena ia menyayangi Niki. Niki pun menjauh. Namun perasan cinta juga bagian dari proses dan tidak bisa instan. Ada sesuatu yang akhirnya membuat Niki menyusul Nata ke Austria 5 tahun kemudian. Tak bisa dipungkiri, bahwa cinta juga melampaui hubungan bernama persahabatan, sebab tahu bahwa Nata adalah pria terbaik dalam hidup Niki, telebih sejak Oliver, cinta pertamanya menyakitinya, dan tahun-tahun yang entah bagaimana telah dilaluinya. Yuhu, ini film remaja yang menarik meskipun ide tentang sahabat jadi cinta memang klise.

Refrain film yang rilis tahun 2013-an, yang memang awalnya tak berniat saya tonton karena kesibukan dan tak terkondisikan nonton film sejenis drama. Tapi jenuh juga terus-terusan nonton film idealis sehingga film ringan sesekali jadi pilihan. Awalnya sih karena tokoh utamanya memang artis di dunia musik, ngarepnya sih bakal seperti film August Rush. Ternyata beda sih, hehe. Film remaja yang satu ini ‘imut’, apalagi diselipi dengan iklan di adegan pembuka =)). Sebenarnya film yang disutradarai Fajar Nugros ini diadaptasi oleh novel karangan Winna Efendi yang judulnya Refrain juga, tapi saya sendiri belum baca novelnya. Ya entah mengapa, pengalaman dan firasat selalu mengatakan novel selalu lebih bagus daripada versi filmnya. Tak mengapa. Ada beberapa adegan manis yang mengesankan di film itu.

Pertama, ketika Nata dengan tegas ngelarang Niki diajakin kencan tiba-tiba sama Oliver sepulang sekolah. “Ngapaian sih mau sama dia? Entar kamu diapa-apain lho? Ngaco ah, nggak usah!” Tapi toh akhirnya Niki berangkat juga dan Nata membawakan tas Niki sambil mencemaskannya. Karakter Nata ini kadang dingin tapi protektif, sering ia ngingetin Niki untuk belajar biar nggak ketinggalan. Mungkin sih di dunia ini memang ada tipe sobat cowok yang ‘keibuan’ seperti itu.

Kedua ketika si Nata berani memukul Oliver atas tindakan kurang ajarnya pada Niki di acara promnait lalu menggandengnya pulang, padahal sebelumnya mereka lagi marahan karena Niki tahu Nata ‘mengkhianati’ persahabatan dengan menyayanginya. Tapi perempuan mana yang tidak terenyuh ketika ada yang membelanya ketika dalam posisi “tersudut”? Ya toh?

Ketiga, ketika 5 tahun kemudian akhirnya Niki nyusul Nata ke Austria dan happy ending, walaupun adegan yang ini terkesan buru-buru. Meski dari awal, film ini predictable, tapi jalan ceritanya menarik untuk diikuti dan tidak terlalu mainstream kok. Beberapa kekurangan tentu ada, sebagai film remaja, saya belum pernah menemukan dua tokoh ini hidup dalam pengaruh keluarga dan orang tua, melainkan pyur hanya tentang mereka. Kecuali kakak Nata yang lebih tepat disebut sampingan. Malahan Annalise (Chelsea Elizabeth Islan) benaran hanya sampingan, terbukti ketika adegan buka-bukaan perasaan yang bersifat kecelakaan itu (karena deim-diem Annalise suka Nata), sepertinya ngambang entah bagaimana kelanjutannya. Tiba-tiba di promnait, Annalise jejer bedua dengan kakak lelakinya Nata.

Soal akting tidak diragukan lagi, mereka cukup menjiwai dan tidak lebay, baik ketika berperan sebagai remaja maupun ketika dewasanya. Apalagi bawaan karakter Afgan yang romantis, menurut saya pas meranin Nata di film itu. Nonton ini saya jadi ngerasa betulan ngerasa balik jadi remaja, zaman masih suka nontonin fenomena temen-temen yang mirip sinetron. Gimana tidak, nggak banyak remaja yang punya nasib seperti Niki kecuali dalam imaji. Remaja cantik, sugih, sukses, populer, anggota cheerleader, dan punya sahabat ganteng yang selalu ngejagain serta membelanya seperti seorang kakak itu hanya milik mereka yang beruntung aja. Urusan entar jadi sahabat doang atau bakal pacaran, yang jelas punya sahabat yang selalu ada itu berkah tersendiri bagi kaum hawa. Memang sih jenis cerita remaja di film itu atau di banyak cerita lainnya selalu klise, persahabatan yang jadi cinta. Tapi tak mengapa, mengingat animo pasar, tipe remaja nggak cantik dan kaku yang hanya punya teman buku dan petugas perpus yang akhirnya punya pacar di masa kuliah tentu agak merepotkan untuk dituliskan dan kurang menarik untuk dijadikan ide cerita remaja, haha.

Pesan moral menurut versi saya (versi pemikiran tua maksudnya)

Benar memang rasanya galau bagi perempuan dihadapkan dengan kondisi ketika teman atau sahabat pria ternyata punya perasaan lebih. Padahal selama itu kita udah nyaman deket tanpa pretensi, selama itu kita percaya teman/sahabat kita sudah jadi teman curhat yang tidak punya maksud lain. Tapi tidak bisa dipungkiri pada akhirnya perempuan itu kompleks, mereka tetap butuh persahabatan ketika sudah masuk pada hubungan cinta yang berlangsungnya bakal lama. Itulah yang sering kali sulit dipahami kaum lelaki. Memang gimana tuh maksudnya? Jadi begini, hubungan cinta tidak hanya sekadar status dan kewajiban-kewajiban standar ala timur sebagaimana lelaki dan perempuan bentukan masyarakat patriakhat, tapi juga hubungan yang bahkan seperti sahabat dan kekasih sejati: interaksi, kesetaraan, saling pengertian, kedekatan batin, negosiasi, keterbukaan, kejujuran, ada diskusi, hingga kepekaan emosi. Perempuan (terutama yang berpikiran maju) jelas nggak mau bertahan di hubungan yang hanya bersifat ‘ngasih makan status’ untuk melegalkan cinta hormonal atau sekadar nafsu semata, sehingga aslinya ‘saling terpisah’, serba hierarki, nggak ada “komunikasi”, dan berbicara hanya soal kebutuhan sehari-hari. Nggak percaya? Buktikan aja kalau sudah nikah:)

Saya setuju dengan apa yang dikatakan Nata ketika nasehatin Niki dalam adegan di film itu:

Di dunia nggak ada yang namanya cinta pada pandangan pertama. Yang ada juga nafsu atau suka pada pandangan pertama. Yang lalu disalahartikan sebagai cinta.

Itulah mengapa menurut saya mungkin saja kok perempuan atau laki-laki jatuh cinta sama sahabat sendiri. Jodoh bisa datang dengan cara apa saja. Saya yang selama ini selalu jadi pihak penonton, sering banget menyaksikan ending yang semacam itu di kehidupan sehari-hari. Entah dari cerita teman, para tetangga, hingga mbah-mbah, yang malahan menurut mereka lebih langgeng ketimbang yang ketemu gede, karena ya sejak dulu cuma si dia saja yang udah dikenal dan udah nyaman 🙂Nonton film remaja yang satu ini, saya jadi ngerasa keyakinan saya sejak dulu ada benarnya. Tidak ada persahabatan murni lawan jenis di dunia ini, kecuali dua alasan, pertama have fun aja, kedua karena cinta yang tak bisa dijelaskan karena terbentur nilai buatan masyarakat itu sendiri di Indonesia, ketiga barangkali pihak perempuan/lelakinya homoseksual :|. Film ini lumayan juga dijadikan selingan di tengah kesibukan monoton.

Sesuai pengalaman pribadi, saya nggak terlalu percaya ada persahabatan sejati antara lelaki dan perempuan di dunia ini. Tapi saya percaya persahabatan dapat dibangun oleh dua orang yang memutuskan untuk saling mencintai dan ingin bersama selamanya. 🙂


Bahagia Pun Butuh Alasan: You’re Not Funny Enough

Judul: You’re Not Funny Enough (Novel)
Penulis: Jacob Julian
Penerbit: PING!!! (Juni, 2014)
Halaman: 280 halaman
ISBN: 9786022556176

Apa yang membuatmu ingin bahagia? Siapa yang akan kau bahagiakan? Kenapa kau ingin bahagia? (halaman164)

Kapabilitas seorang comic atau komedian ditentukan apakah show-nya berhasil. Apa yang terjadi bila seorang comic sudah tak lagi berhasil membuat audience-nya tertawa? Dan mengapa demikian?

Jamie adalah seorang comic yang sedaang meniti kariernya dari bawah. Semula, ia menemukan sisi gelap dan menariknya stand up comedy sebab berhubungan erat dengan seni menggembirakan banyak orang dengan komedi yang dibawakan. Seorang comedian selalu butuh memperbarui ide, kemampuan tampil, dan waktu untuk mempersiapkan materi demi membuat penontonya terhibur.

Dalam kesuntukannya kuliah, ia menemukan hiburan yang menarik pada stand up comedy. Kemudian ia bercita-cita menjadi comic terkenal. Demi menekuni karier impiannya ini, ia bahkan sempat berhenti kuliah.Ia lalu bekerja di kafe Beni, seorang sahabat yang bahkan mau memberikan pekerjaan lengkap dengan fasilitas selama ia mau tampil rutin di kafenya. Namun rupanya nasib baik belum berpihak padanya. Sejak putus dari Sonya, Jamie mengalami kemunduran. Tak seorang pun datang untuk menonton pertunjukan tunggalnya di kafe sebab penontonnya tak merasa Jamie selucu yang dulu. Kegagalannya tampil dalam show tunggal membuatnya terdorong untuk berhenti bekerja dengan Beni, bahkan ingin melupakan dunianya dan berganti profesi. Segala daya upaya sudah dilakukan. Ia merasa bahwa dunia comic tak lagi memberikan keuntungan dalam hidupnya. Ia juga menyadari bahwa kesedihannya membuatnya tak memiliki semangat untuk menggali lagi kemampuannya. Alasan-alasan itulah yang menyebabkan ia memutuskan untuk tetap berhenti. Jamie kehilangan kepercayaan diri dan merasa bahwa menjadi comic bukan lagi jalannya. Ia pun memutuskan move on ke Kalimantan.

Dalam perjalanannya ke Kalimantan, ia bertemu dengan sepasang backpaker, Fey dan Luka. Mereka mendesaknya untuk menampilkan stand up comedy di lounge kapal sebagai hadiah pertunangan. Demi pertemanan, ia pun melakukannya. Pada saat itulah, ia justru mendapat respons yang lumayan bagus dari penonton. Apalagi Fey yang pada akhinya malah menjadi fansnya dan berharap ia dapat menontonnya kembali. Namun kehadiran Fey dan tunangannya belum cukup membuat kepercayaan dirinya kembali. Tawaran kapten untuk tampil rutin di kapalnya pun ia tolak. Namun, ia merasa ada sepercik semangat dalam hidupnya tatkala Fey yang ceria dan manis itu memposisikannya idola. Bahkan terang-terangan di depan Luka, tunangannya. Sayang, itu tak cukup membuatnya bangkit ketika menyadari Fey sudah ada yang punya.

Turun dari kapal, Jimie menemukan kehidupan yang berbeda dan menuntutnya untuk mulai dari nol. Namun hidup rupanya menyimpan kejutan lain. Menjadi tukang bersih-bersih mal membuatnya bertemu dengan Pak Gaiman–orang lokal yang menetap tinggal di atas tanah leluhurnya yang kini menjadi bangunan mal. Rupanya Pak Gaiman adalah seorang pesulap. Perkenalan dengan Pak Gaiman mengantar Jamie pada kesadaran bahwa menjadi komedian memang profesi sejatinya. Dari seorang Gaiman yang keras dan banyak pengalaman, Jamie banyak mendapat petuah berharga darinya.

Di tengah menjalani profesi barunya sebagai tukang bersih-bersih, tak disangka ia bertemu dengan Fey yang rupanya telah putus dari Luka. Dari pertemuan itu, ia tahu bahwa Fey ternyata memedulikannya. Ia juga berharap Jamie dapat menjadi comedian kembali seperti yang ia kenal dulu, dan di samping itu, Fey juga mengutarakan isi hatinya pada Jamie yang saat itu malah tidak ngeh dengan maksudnya. Fey lantas menghilang lagi dengan meninggalkan tanda tanya bagi Jamie.

Pada suatu hari Jimie ditawari Gaiman dan rekannya untuk mengisi pembukaaan sirkus. Dalam kebimbangannya, Jamie tahu ia hanya butuh kerja keras dan konsisten di jalan yang pernah ditempuh yang bahkan pernah harus berkorban demi berada di jalan itu. Tapi rupanya perasaan pada Fey yang ceria dan manis juga mampu mengembalikan semangatnya. Jamie mau menjalani profesi sebagai pembuka sirkus Gaiman dan kawan-kawan dengan stand up comedy. Kerja kerasnya membuahkan hasil. Secara berkala ia mulai mendapat banyak perhatian dan penggemar. Pada akhirnya ia bahkan mendapatkanan kesempatan tur stand up comedy ke beberapa kota dari sponsor. Hal itu membuat Jamie bersemangat. Tentu saja ia siap menjadi populer dan muncul di televisi hanya demi menemukan Fey kembali. Ia sadar rupanya Fey adalah salah satu alasan terkuat yang membuat ia bangkit kembali ke dunia stand up comedy.

Novel karya Jacob Julian ini memiliki ending yang manis di mana tokoh Jamie kembali sukses menjadi comic atas kerja kerasnya dan sadar bahwa ia butuh Fey, seseorang yang akan selalu mendukung kariernya dan tak akan meninggalkannya. Kehadiran seorang kekasih yang setia tentu membuat Jamie bahagia. Menunjukkan pada kita bahwa kebahagiaan pun juga butuh alasan. Terlebih seorang comic juga butuh berbahagia untuk bisa membuat orang lain tertawa dan bahagia.

Alur dalam novel Julian ini cukup menarik dan mampu menggambarkan kehidupan comedian dari sisi yang lain secara lebih dekat. Pembaca seperti diajak untuk memahami dunia comedian dari latar belakang dan sepak terjangnya. Hanya saja masih ditemukan beberapa kalimat rancu seperti yang ada dalam halaman 107: “Karena suatu saat. orang berpacaran juga bisa berakhir dengan kata-kata… “, halaman 238: “kau sudah pacar?”, dan juga beberapa di halaman lainnya. Untuk itulah, baik penulis maupun editor perlu mencermati lebih teliti karena kesalahan-kesalahan kecil yang bersifat gramatikal juga bisa berpengaruh pada feel pembaca. Kemudian perlu juga bagi penulis untuk riset logat/aksen bahasa, sebab Pak Gaiman yang penduduk suku daerah tentu berbeda gaya bahasa dengan Jamian dan Beni misalnya.

Namun demikian, lepas dari hal-hal itu, novel You’re Not Funny Enough cukup menarik sehingga dapat dijadikan bacaan ringan di kala suntuk. Saya yang sudah lama tak membaca novel teenlit pun menikmati novel ini dan menemukan banyak hal yang membuat saya akhirnya tersenyum di bagian akhir kisahnya. Bila saya harus menggunakan bintang untuk menilai novel ini, baiklah saya akan kasih 3 bintang 🙂

Ending

Dear Nur.
Saat surat ini kubuat, aku sedang mencari kesibukan untuk melupakan segalanya tentang dia. Peristiwa putus memang bukan hal besar karena setiap orang barangkali pernah mengalaminya. Tapi aku sadar, pacaran memang membuatku melupakan banyak hal.

Hubunganku yang kesekian kalinya ini cukup membuatku lelah. Rasanya hanya kertas dan imaji yang selalu setia menemani hari-hariku belakangan ini. Musim hujan belum habis. Pekerjaanku yang freelance alias tidak mapan, membuatku sering kali menemui sosok-sosok aneh di sekitarku. Mereka mengajakku ngobrol. Mengusik lamunanku. Hei, percayalah bahwa mereka ini benar-benar nyata. Aku juga heran sendiri kenapa bisa demikian. Aku selalu dianggap tak waras tatkala ini kuceritakan pada teman-temanku. Mereka mengiraku stres ala perempuan lajang yang tidak juga nikah.
Mereka yang kumaksud itu adalah tokoh-tokoh dalam cerpenku.

Yeah. Sudah kali kedua ‘sesosok tokoh’ mengganggu aktivitas tidur pagiku. Ia seorang perempuan. Usianya sekitar 23 tahun. Berwajah manis, tapi juga tidak bisa disebut cantik. Wajahnya oriental. Dia masih muda memang. Ceritanya dia ini buruk rupa—bagi orang Indonesia. Atau barangkali hanya salah pasar saja, sebab tipikal kulit cokelat rambut hitam, pendek, dan pesek itu bagi para bule sungguh eksotis.

Seperti halnya pagi tadi, ia berteriak-teriak tak jelas dari jendela rumahnya yang letaknya persis di depan kamarku. Tak peduli bahwa aku belum siap bangun. Tak peduli dengan tampang kelelahanku yang sering begadang malam hari ini, yang jelas perempuan ini sedang memperjuangkan sesuatu. Kau tahu untuk apa ia berteriak pagi buta sambil melempari kaca jendelaku dengan potongan genting? (untung nggak sampai pecah) Cuma minta nasibnya diselesaikan. Dasar tokoh cerpen!

“Please, aku tersiksa bila kau biarkan aku begini menggantung.” Begitu ia mengatakan. Tokoh yang waktu itu kunamai Reyna.

Saat itu, aku dan dia sempat berdebat panjang. Sebab aku memilihkan namanya dengan asal. Dan aku juga tak tahu apa artinya selain hanya kelihatan wanita. Dia minta dinamai Zazkia, tapi aku tak suka nama itu. Lalu dia ingin dinamai Sekar agar secantik bunga. Tapi aku tak menyetujuinya. Dia ngambek meskipun sebentar. Sungguh Reyna tokoh cerpen paling bawel yang pernah kukenal.
Tapi aku pun mengerti, jahat bila aku tak menyelesaikan mereka karena kesibukan kerja dan sibuk melupakan masa laluku. Yeah, aku memang penulis yang kurang menggarap mereka dengan baik. Akhirnya sore ini, usai hujan reda, sambil kulantunkan puisi musik Sapardi Djoko Damono yang amat mix dengan dingin sore hari, akhirnya kuhidupkan komputer tuaku. Mencari file yang ia maksud. Astaga. Benar.

Sudah 3 bulan Reyna dan kawan-kawannya kubiarkan menggantung.
Oke. Baiklah. Sembari kubaca ulang, kucari ide untuk menyelesaikan sepenggal cerpen ini.
Reyna, dalam cerpenku, adalah seorang gadis muda yang bekerja di toko peralatan melukis. Ia tinggal di sebuah kota dengan orang-orang yang berbeda padangan soal hidup dan waktu. Kota tua yang sibuk dan plural. Sebagai penjaga toko lukisan, ia sering kali kedatangan pelanggan yang macam-macam. Kadang mereka datang dengan pakaian amburadul, kurang tidur, dan tak jarang juga yang rapi-rapi. Mungkin yang rapi-rapi ini sedang mencari barang-barang untuk dihadiahkan kepada orang-orang terkasih.

Reyna menyukai pekerjaannya, karena disamping ia suka mengamati orang-orang, lukisan dan warna-warna, ia juga dapat melihat
“matahari” terbit di sana. Oke, istilah matahari merujuk pada perihal yang tidak sebenarnya. Nanti juga engkau akan tahu.
Hidup perempuan ini seperti diatur oleh refleksitas hidup. Bangun tepat jam 5, kemudian sarapan jam 6 pagi, menunggu bus jam 7 pagi hingga sampai kantor jam 8 pagi. Ritme rutinitas sesungguhnya membuatnya bosan. Tapi kali ini tidak. Sebab Reyna jatuh cinta dengan teman sekantornya. Namanya Bayu. Untung Bayu tidak protes dengan namanya sendiri.
Jalaran tresno amargo kulina memang benar adanya bagi Reyna, nggak ada cinta yang datang dari pandangan pertama. Bayu memang ganteng, tapi tipe wanita seperti Reyna butuh proses untuk menilai kegantengan. Ganteng hanya kesadaran lapis lanjutan ketika sudah mengenal kepribadian atau hal-hal yang immaterial. Berbeda dengah lelaki yang cenderung melihat cantik dulu baru kepribadian.

Reyna baru merasa ada getar indah ketika menyadari Bayu rajin salat, menghormati orang tua, jujur dengan hal kecil sekalipun dalam pekerjaannya, sederhana, dan tidak mata kranjang. Malah cenderung dingin dengan perempuan yang bukan temannya.
Sikap dingin itulah yang membuat Reyna terpesona. Terlebih ketika menyadari Bayu-lah satu-satunya yang baik kepadanya tanpa peduli SARA, satu-satunya pria yang tidak bertanya kenapa hidupnya begitu pesek misalnya.Ia berwajah ganteng, pintar, juga pekerja keras.

Sungguh sialan, pikir si Reyna. Tapi bagaimana kau bisa mencegah diri sendiri untuk tidak jatuh cinta setelah setiap hari berjumpa? Sekalipun, yeah, percakapan yang terjadi hanya maksimal “selamat pagi”. Apalagi Bayu tipe yang hemat bicara, termasuk terhadap perempuan berkulit cokelat dan tidak mancung ini. Reyna bahkan mengaku, sebelum aku menggiringnya untuk jatuh cinta pada Bayu, tokoh ini sudah jatuh cinta duluan.

Aku jadi bingung.
Bayu telah menjadi matahari bagi Reyna. Tapi Reyna tak tahu bahwa diam-diam aku merencanakan perjodohan mereka, haha. Sebab Reyna berharap andai ia tak jadi dengan Bayu, ia ingin dijodohkan dengan tokoh yang mirip Andrew Garfield. Huft, maunya. “Atau bikin saja aku jadi kupu-kupu dan melupakan perasaanku,” begitu katanya. Tapi kalau sudah begitu naskahku ini nggak akan jadi cerpen, tapi novel.
Namun yang jelas, Reyna sedang jatuh cinta dan ngarep sejuta umat dengan ending ceritanya sendiri. Baiklah…

Dear Nur.
Tiga hari setelah itu, aku kembali menggarap cerpen itu lagi. Reyna sudah bertopang dagu di belakang meja kasirnya. Di kejauhan sana Bayu sibuk dengan orderan dan telepon yang setiap menit berbunyi.
Tapi… Reyna di dalam cerita ini adalah orang yang cukup tahu diri. Maka ia tak perlu melakukan usaha apa pun untuk sekedar dekat, atau ngajak ngopi, atau ngajak nonton, atau ngajak jadian. Bisa-bisa menyesal tujuh turunan karena ditolak.
Cukup ia menyukai si pria dari jauh. Maka si pria ini menjelma semacam wewangian yang selalu membuatnya memiliki semangat hidup dan kesehatan jiwa raga yang baik dalam keseharian. Mirip aromaterapi. Tak perlu ia meminum. Cukup membaui aromanya dari kejauhan.
Sungguh pria ini memiliki feromon yang kuat yang selalu membuatnya rindu. Tentunya diam-diam.
Singkat kata, Reyna tetap menjalani hari-harinya seperti biasa. Ia membaca novel di kala senggang, meminum kopi instan dengan merek yang sama setiap jam 3 sore, menyetel musik-musik aliran Melayu di playlist-nya (atau bisa saja jenis pop, atau lebih baik musik bertema nasionalisme, entahlah), lalu pulang pada jam 8 sore.  Dan terjadilah apa yang dinamakan suspens cerita.

Aku mengubah cerita, yang semula perempuan ini berakhir tertabrak kereta dalam keadaan sendiri dan nelangsa, kuubah jadi ending bahagia… Reyna sudah menangis duluan sebelum ending tragis itu kucoretkan di draft. Aku tak tega. Tentu saja, aku hanya bercanda soal tertabrak kereta itu.
Rupanya Bayu ini sakit mata. Sebab sejak ia bekerja di toko itu, pria ini juga diam-diam mengagumi Reyna. Ia bahkan membaca apa yang dia baca, meminum kopi yang sama di rumahnya, menghafal rutinitasnya juga, seperti bus apa saja yang Reyna pakai setiap hari. Lebih sinting lagi, dia mengumpulkan foto-foto hasil jepretannya diam-diam, isinya tak lain tak bukan adalah sosok si Reyna. Bedanya, Bayu tak seceroboh Reyna. Nah, nanti kau juga akan tahu seceroboh apa Reyna itu.

Sungguh Bayu jadi mirip pengagum yang agak psikopat. Tapi dia pria normal dengan latar belakang keluarga yang bahagia. Hanya
mengalami delusi akibat mencintai diam-diam. Begitulah orang yang diam-diam mencintai namun tak memiliki cara untuk memulai mengatakan, terlebih mendekati.
Beberapa kali mata mereka berpapasan. Cara Reyna menatapnya saat berpapasan itu pun tertebak juga. Bayu meresa perasaannya tidak bertepuk sebelah tangan. Bahwa pada suatu sore kupertemukan mereka pada sebuah moment konyol, di mana Reyna menyimpan foto Bayu di komputer kantor, dan lupa menghapusnya ketika Bayu memperbaiki internetnya yang error. Haha, sengaja kubikin komputer Reyna error dan tak ada seorang pun di ruangan itu kecuali Bayu.

Reyna terkejut dan salah tingkah begitu menyadari bahwa ia menyimpan foto-foto lelaki ini di sebuah folder file kantor. Apalagi
dalam folder yang sama, ia juga menyimpan artikel yang ia buru dari internet “Menjadi Istri Solehah.”, “Cara Mendekati Pria Pendiam”, dan masih banyak lagi.
Itu membuat Bayu ngakak. Mereka pun ngobrol. Tapi tidak tentang mengapa fotonya ada di folder itu. Meskipun pada hari itu,
peningkatan hubungan mereka telah memasuki level lanjutan, di mana Reyna menanyakan Bayu asli dari kota mana, dan Bayu menanyakan kapan terakhir komputer diinstal.

Di akhir cerita, di suatu hari menjelang musim kemarau tiba, Bayu meletakkan sebuah cincin di laci meja si perempuan, dengan
taruhan harga dirinya sendiri, bersama sepucuk surat berisi hal yang membuat Reyna melompat. Ia mengajaknya menikah. Dan si perempuan pun pingsan atau mungkin sakit jantung, atau sederhana saja: bahagia tapi hanya bisa menangis sesenggukan—entah mana fokus yang harus dinarasikan… Aaarrggh…
Sebenarnya sampai di sini aku masih bingung bagaimana mengatur ending-nya. Rasanya malah seperti cerita biasa saja tapi berlebihan. Tapi kalau happy ending sebiasa film drama, kalau sad ending kasihan pembaca.

Nur, aku masih memilin-milin rambutku sambil mengamati kebun di luar jendela kamarku, memikirkan ending dari cerpenku.
Yeah, kini aku melihat Reyna dan Bayu adalah sepasang kekasih yang takkan terpisahkan oleh proses editing apa pun. Mereka saling menggegam tangan dan berpesan padaku, “Kelak bila editor mau mengedit konten cerita kami, jangan ditambahi orang ketiga ya. Aku sungguh nggak tahan dengan kondisi cemburu.” Bayu berujar. Reyna sepakat dengan itu.

Kini selesai kurampungkan mereka, kumatikan komputer, dan kurebahkan tubuhku memandang langit-langit kamar. Reyna dan Bayu adalah salah satu dari sekian banyak tokoh yang berhasil kuselesaikan dengan ending bahagia.
Tapi Nur, kapankah akhir bahagiaku sendiri datang?

Hidup itu sendiri, ilusikah?
Ah, Nur, kau pun hanya teman imajiku…

*Cerpen ini ditulis tahun 2013 awal dan telah direvisi. Cerpen ini juga yang sempat membawa saya lolos sebagai peserta sebuah event kampus penulisan di salah satu penerbit di Yogyakarta untuk tahun depan. Tapi sepertinya saya nggak janji bisa datang 🙂

Sebentuk Mimpiku

AKU lupa di mana kutaruh mimpi. Kemarin hari masih tergeletak dengan tak berdaya di atas meja kerjaku, di dalam kotak kaca besar yang biasanya dipakai untuk akuarium. Ia berbeda dengan mimpi-mimpi yang lainnya. Tidak seperti yang kualami biasanya. Mimpiku yang satu itu kumiliki dan kurawat sejak beberapa bulan lalu—sejak ia tiba-tiba bertengger di jendela kamar kosku.

Dan baru saja kutinggal tidur sore ini, sudah raib di kegelapan. Kantor tentu masih buka. Bila kubuka tirai jendela dari ruanganku, terlihat di luar sana jalan masih ramai. Mereka semua barangkali bergegas ke rumah, untuk pulang, atau mungkin saja mengisi malamnya entah ke mana. Tapi aku yang anak perantauan tak selalu merasa wajib pulang. Apalagi di kantorku tersedia ruang bila karyawan akan menginap jika perlu menyelesaikan pekerjaan sampai selesai. Bagiku pekerjaan selalu nomor satu dibandingkan hang out atau sekadar nongkrong di kafe. Barangkali karena sebelum menjadi pegawai kantoran, aku terbiasa dengan kesendirian. Di samping itu, pada dasarnya, aku toh tak suka berada di antara banyak orang yang tidak membicarakan hal-hal yang kupahami.

Kuamati seluruh ruangan, dan tak ada tanda-tanda sedikit pun mimpi itu menempel di salah satu sisi dindingnya. Di balik figura yang membingkai karya sketsaku pun tak ada. Apakah si mimpi sedang bermain petak umpet? Oh, tiba-tiba aku merasa bersalah. Mungkin dia bosan lalu melepaskan diri dari sangkar kaca. Mestinya aku ajak dia sesekali berjalan dan menikmati kesibukan. Bukan dibiarkan saja seperti hamster di pojok ruangan sekretaris bosku. Aku jadi menyesal mengapa aku harus ketiduran di sofa hanya karena terlalu ngantuk baca naskah klien yang panjang, berbelit, dan tidak bermutu, terpaksa harus kurombak total untuk diterbitkan. Si penulis ini kebetulan adalah adiknya bos, sehingga mau tak mau novel itu harus terbit. Dan buruknya, harus terbit dengan tampilan yang sesempurna mungkin. Dan akhirnya aku kecapekan dan marah dengan diri sendiri. Bosan kutinggal tidur. Tapi mestinya aku tak melupakan bahwa aku masih punya sebentuk mimpi di atas meja kerjaku. Ia yang justru lebih berharga daripada pekerjaanku sendiri.

Dia satu-satunya yang kumiliki. Sepenting kucing bagi pecintanya. Jenis mimpi ini tak bisa berjalan-jalan sendiri di lorong-lorong, ia juga tak pernah lapar lalu mencari makan sendiri, atau merampok kantin. Biasanya bila lapar, aku yang akan mencarikannya, bahkan terkadang harus disuapi.

Sungguh, mimpiku ini sebetulnyaa amat pasif dan tergantung padaku. Mau aku apa-apakan pun ia tak protes. Tapi apakah justru karena aku terlalu seenaknya, sehingga ia pergi tiba-tiba seperti malam ini? Ia marah padaku? Apakah ia sudah lama ingin meninggalkanku? Ataukah ia merasa ia terkhianati? Sebab meski sebentar aku tertidur, aku seperti mengunjungi mimpi yang lain, bahkan lebih dari mengunjungi, aku memakannya, melumatnya, menghabisinya, bermain layang-layang dengannya, lalu aku terbangun begitu saja. Dan terkejut ketika kusadari mimpi yang kutaruh di dalam kotak kaca itu sirna.

Terpaksa kutinggalkan setumpuk pekerjaan ini dan mencoba keluar ke ruangan lain. Mataku memicing, menelusuri sudut demi sudut. Beberapa karyawan bagian keuangan masih di sana. Mereka ngobrol sambil minum teh. Lamat-lamat kudengar mereka berbicara seputar kabar terbaru artis sinetron.

“Kamu nyari apa?” salah satu menengok ketika menyadari aku celingukan menelusuri lantai.

“Mimpi. Kalian lihat dia lewat?”

Alih-alih menjawab, mereka malah mengernyit heran dan saling pandang. Ketika aku berlalu mereka bisik-bisik. “Dia gila ya?”

“Biasa, namanya juga anak redaksi. Mana ada yang tidak gila?” yang lain menyahut, dengan berbisik pula.

“Atau bisa saja, dia mulai sinting sejak putus dengan cowoknya dua tahun yang lalu.”

“Oh, benar juga….”

Lalu aku sampai ke dapur. Office boy heran melihatku kebingungan dan menggeledah seluruh kolong meja.

“Nyari apa Mbak?”

“Mimpi saya, Pak,” jawabku. “Lihat tidak Pak?”

Office boy ini satu-satunya yang mengerti apa maksduku, bahkan mengerti karakter semua karyawan di gedung ini. Dan selalu berusaha nyambung dalam percakapan tak biasa sekalipun.

“Oh.. nggak liat tuh Mbak. Kok bisa ilang gimana?”

“Gak tahu Pak, tadi saya sempat ketiduran, lalu bangun-bangun mimpinya udah nggak ada.”

“Wah, aneh ya Mbak.”

“Aneh kenapa Pak?”

“Soalnya saya punya juga, koleksi malah. Tapi gak pernah ada yang hilang walaupun ditinggal ke mana-mana… wong kalau pagi itu suka pada terbang jauh, terus sorenya balik lagi ke kandang….” Si Bapak menjelaskan panjang lebar seperti menjelaskan ciri segerombol merpati peliharaan.

Tapi malah tiba-tiba aku jadi sadar, bisa saja mimpiku dicuri.

“Aduh, gawat dong Pak!”

“Gawat kenapa Neng?”

“Mimpi saya mungkin dicuri orang.” Saya mulai gelagapan.

“Duh. Bagaimana bisa Neng, kantor ini kan aman?”

“Bukan maling. Mungkin ada orang yang bekerja di kantor ini dan tertarik dengan mimpi saya.” Aku mulai menuduh.

“Hm… bisa jadi Neng.”

Aku merasa sedih.

Dan seusai aku meningalkan dapur, si office boy memegang jidatnya, barangkali ia tak benar-benar paham arah pembicaraanku. Ia lantas bertanya pada penjaga kantin. Apakah yang dimaksud ‘mimpi’ sampai hilang dari kandang dan dicari-cari? Sebab ia lebih paham bahasa daerah darapada bahasa nasional.

Aku harus segera menemukannya. Segera, bila tidak barangkali aku akan kehilangan nafsu makanaku beberapa hari lagi. Aku tak mau kehilangan dia. Aku belum siap berpisah dengan mimpiku itu. Dan aku janji dalam hati untuk mengajaknya jalan-jalan sore setiap hari.

Seorang pria keesokan harinya itu membawakan mimpiku ke kantor. Tampan dan kelihatan sederhana dengan wajah yang belum sempat dicukur. Tapi aku selalu risih dan tak nyaman dengan orang yang punya penampilan tampan. Entah kenapa. Ada sesuatu yang tersirat dari sorot mata itu, mengingatkkanku pada seseorang yang pernah kutemui di dunia mimpi. Entah kapan, tapi cukup membuat detak jantungku mendadak memiliki ritme aneh.

Katanya si mimpi tergeletak begitu saja di depan rumahnya. Aku tak percaya, tapi mimpiku benar-benar ada di genggamannya. Aku menerima dengan ragu, si mimpi menjauhiku, masih ingin lekat-lekat pada sang pria. Berloncatan seperti kera. Tangan saya jadi gatal untuk menempeleng si mimpi saya yang bandel itu.

Ia tersenyum.

“Saya mau mengembalikan ini. Untung si mimpi bisa menjelaskan di mana alamat kantor Mbak. Tapi saya gak tahu kenapa mimpi Mbak seperti gak mau jauh-jauh dari saya.”

Aku menerima setengah memaksa. Tapi tak bisa. Si mimpi tenggelam dalam pelukan si pria. Pria yang benar-benar tak kukenal dan suka nyengir tak jelas ini. Aku gelisah dan pengin cepat-cepat masuk ke ruang sunyiku. Terlebih pria ini memandangku antara heran dan ingin tahu.

“Sepertinya dengan cara lain, mengambil mimpi Mbak dari tangan saya.” Si pria semula ragu, tapi ia paham situasinya.

Aku masih membeku, namun tak sadar telah menganggukkan kepala.

 

Yogyakarta, November 2012
Pernah diterbitkan di http://wartakota.tribunnews.com

NB buat Penamerah: karena sedang tak punya bahan cerita, izinkan saya comot cerpen saya 2012 lalu 😀 hehe, peace.

dandelion

Bagiku alam itu selalu berbicara dan setiap waktu bertumbuh bersama kita. Aku mendengar bisiknya seperti tengah bercerita bagai puisi. Seperti sore kemarin yang tatakala sunyi, aku berbincang pada bunga-bunga liar di kebun. Menemaniku melamun. Lalu muncul kemudian, hal yang akhirnya aku tulis di bawah ini :^_^

Aku dandelion, kutatap pagi begitu sibuk sejak aku dibangunkan embun. Kabut hadir membisikkan lara, dan aku berkemas segera…
Ah, biar awan membawaku menghilang, aku takut tinggal lagi di sisimu, lalu tak lebih tiada dari debu di samping jendelamu. Atau mawar-mawar yang menghiasi meja kamarmu. Ah, sekalipun aku tak lupa mengecupmu yang juga tengah terjaga, sebagai yang tiada.

Aku dandelion. Biar aku liar. Rapuh tanpa akar-akar dan tangkai yang kekar. Aku telah terbiasa dibakar siang hingga wajahku tak beda dari bebatuan.
Aku tak ingin lagi kembali pada masa itu, di mana aku hidup dan mati dalam kesilapan waktu, Lalu aku tak tahu siapa diriku, lalu meragukan engkau, lalu meragukan Tuhan yang menciptaku.

Barangkali aku mesti tahu diri dan menghindari. Dan takkan berubah segalanaya. Hujan akan datang pada Januari mendatang. Menemanimu. Kemarau akan tetap setia menunggu hujan menghabiskan seluruh nestapanya. Mendamaikanmu. Awan-awan akan senatiasa menempuh perjalanan dan kembali tanpa aku ada di sini. Dan kau akan baik-baik saja.

Aku dandelion, Biar bumi menguburku, atau angin mengusirku pergi, atau sungai menghanyutkanku ke lautan….
Sebab bukan tentang ketiadaanku yang mesti engkau sadari, Tapi tentang mencintamu yang pernah tanpa henti. Dan hingga kini masih kubawa pergi.

 

 

 

 

 

*terinspirasi dari bunga-bunga liar yang kulihat sore kemarin.