Surat Keenambelas: Sore

untuk diriku sendiri,

Tak ada sore yang secerah ini sebelumnya. Melihat udara begitu hangat dan cahaya menelusup hingga di bawah kaki meja, membuatku sadar, bahwa matahari memang masih selalu bersinar tanpa pilih kasih. Seperti kasih sayang-Nya yang tak memihak. Tapi sore tetaplah sore. Ia mampir sebentar di ruang tamu kita untuk bergegas berganti senja, kemudian malam.

Tapi setidaknya Minggu ini begitu longgar rasanya. Akan kuhabiskan sore ini dengan mencicil pekerjaan sambil ngemil cokelat dan minum segelas air hangat. Sudah lama pula tak membaca buku-buku, hingga rasanya dunia seakan menyempit. Aku butuh membaca, aku juga akan selalu butuh menulis….

Surat Keempatbelas: Harapan

Untuk Isha.

Menyambung suratku yang kemarin.

Barangkali sejak ada istilah kakak juga merupakan orang tua kedua bagi adik-adiknya, sejak itu aku menyadari sedikit banyak rasanya menjadi orang tua. Sejak itu ada sifat pengatur dan posesif ketika dihadapkan oleh kebandelan adik-adik atau ketika mereka tengah akan membuat keputusan hidup. Tapi rupanya benar, sebagai orang tua cadangan itulah, seorang kakak tak bisa memiliki hidup yang santai.

Terlebih ketika menghadapi adik bungsuku laki-laki yang sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja saat ini. Adik kecil yang bahkan masih kuhafal cara berlari dan tertawanya ketika masih balita. Kini ia sudah dewasa dan mahasiswa, badannya lebih besar dan tinggi dibanding aku. Tapi saat ini, aku hanya bisa berdoa dan memohon pertolongan pada Allah untuk segera memulihkannya. Mengembalikannya seperti dulu… Aku rindu ceria dan aksennya yang kadangkala cuek. Aku rindu mengkopi film-film animasi Jepang miliknya dan membicarakan cerita lucu di dalamnya di kala senggang sambi tertawa. Aku rindu omelannya ketika aku goda atau kusembunyikan barang miliknya. Aku juga masih ingat dia selalu usil membawakanku cicak mati di tangannya sampai aku jadi jejeritan nggak jelas. Kini rasanya jarak aku dengannya seperti begitu tak terjangkau dan entah sampai kapan. Aku hanya bisa menangis diam-diam dalam kamar ketika sendirian karena tak mungkin aku seperti itu di depan kedua bapak ibu yang belakangan juga sedih dan bingung. Memang terkadang seorang kakak sulung adalah pembohong yang ulung. Ia bahkan bisa pura-pura tegar di hadapan semua orang. Padahal hancur.
Rasanya sekarang aku mesti mempercayai harapan.
(Oh Tuhan… semoga janin dalam perutku tak protes karena emaknya tengah kacau belakangan ini.)

Sekian suratku ini, Is.
Semoga saja surat berikutnya adalah tentang kabar yang bahagia.

Surat Ketigabelas: Penyakit

Dear Isha,

Malam ini setelah menjerang air dan membuat wedang jahe, akhirnya kuputuskan untuk menulis sesuatu. Sudah lama aku tak menulis surat untukmu. Surat untukmu selalu membuatku merasa bercerita tentang sebagian uneg-uneg dengan buku harian. Sebagian kepenatan.

Kau tahu belakangan aku menulis beberapa surat dalam rangka ikut event 30 hari menulis surat cinta. Tapi entahlah. kurasa aku tak lagi peduli deadline atau aturan yang dibuat di web itu. Aku tetap akan mencoba menuis 30 surat di bulan ini dan tak harus selalu bertema cinta atau sesuai kriteria, karena rasanya akan konyol. Aku ingin lebih jujur dengan tanpa melabelkan istiah “cinta” untuk setiap suratku atau menulis sesuatu yang memang tak aku inginkan.

Toh memang tak selalu keinginan menulis itu datang setiap hari akhir-akhir ini, tak lagi seperti dulu ketika beban hidup tidak sebanyak keasyikan untuk membuat tulisan. Kini mungkin saja kondisinya sedang terbalik. Hanya malam-malam seperti ini, tiba-tiba saja aku ingin mengobrolkan banyak hal. Kurasa benar, setiap orang selalu butuh teman bicara, sekalipun ia hanyalah teman imajinasi. Sepertimu, Is. Teman yang mungkin dapat mengerti dan selalu menyimak hal-hal yang tak bisa gamblang kuceritakan.

Baiklah barangkali di surat ini aku hanya seperti berputar-putar dan bicara hal yang tidak jelas, tapi aku lega. Aku hanya ingin mengatakan bahwa, makhluk dalam perutku telah membuatku membenci sangat penyakit-penyakit yang belakangan menengokku; flu, sariawan, radang tenggorokan, dan batuk parah, dan sejak penyakit itu datang, aku tak belum berkesempatan pergi ke dokter atau menentukan obat yang tepat. Padahal katanya, bumil itu nggak boleh sampai ngedrop, kurus, apalagi penyakitkan. Meskipun seperti sebelum-sebelumnya, belum tentu aku akan patuh pada obat-obat resep dokter karena lagi-lagi mengkhawatirkan buah hatiku. Di luar sana banyak kasus mapraktik bukan? Aku bakan beberapa kali ketemu dokter yang salah. Barangkali benar, ‘(insya Allah) punya anak’ adalah hal yang ajaib bagi seorang perempuan, karena tidak pernah sebelumnya ia begitu mengkhawatirkan banyak hal, mencintai sesuatu dengan aneh, atau menakutkan masa depan, seperti yang terjadi padaku. Aku bahkan rela bila sakit ini hanya kualami sendiri, jangan calon anakku.

Ishak, andai saja aku bisa lekas tidur malam ini dan bermimpi indah. Tapi dalam malam yang sunyi dan baru saja diguyur gerimis seperti ini, aku memang hanya mampu mengisinya dengan doa. Tak hanya itu, aku juga ingin bercerita bahwa hari ini adalah hari yang cukup berat untuk perempuan yang lagi rentan virus dan penyakitan. Doakan segalanya berjalan lancar dan aku cepat sembuh ya….

-temanmu

Surat Keduabelas: Belajar dari Pabrik Susu di Arab Saudi

Dear A,

Hari Minggu adalah waktu untuk iseng belajar hal-hal beda.
Melalui surat ini, aku ingin bercerita tentang negeri tetangga. Tidak lama, aku menemukan link ini di Youtube. Dan aku berharap kami, warga yang merasa SDA-nya melimpah ini, sempat melihat dan merenungkannya.

Kita tahu bahwa di Almarai, Arab Saudi memiliki iklim yang tidak sebaik Indonesia. Cuacanya panas kering dan rawan badai pasir. Gilanya ada pabrik susu cukup besar yang dibangun di padang pasir. Masyarakat dan pemerintahnya kompak untuk menghidupi sendiri warganya secara berdikari. Mereka yang bekerja di pabrik adalah orang-orang yang terampil. Mereka melakukan segala upaya untuk tetap bisa memproduksi susu segar dan olahannya bahkan dengan cara-cara yang canggih dan sangat menyenangkan bagi para sapi itu sendiri. Yah, bahkan proses memeras puting susu dengan alat modern yang membuat sapi-sapinya tidak stres. Di samping memperoleh bahan dengan optimal, mereka juga tak lupa memperlakukan sapi-sapi dengan layak, mengelompokkan yang akan melahirkan dengan setting seperti di alam hingga memastikan seluruh makanannnya berkualitas. Hasilnya, 100.000 liter susu murni yang aman diminum untuk anak-anak hingga lansia berhasil diproduksi dan dipasarkan tiap jam dengan harga yang tentunya terjangkau oleh setiap warga. Tak hanya itu, mereka juga mengolah sendiri produk lainnya yang berasal dari susu, dari yogurt hingga keju.

Melihat video ini, aku jadi merasa bahwa kami, orang Indonesia yang selalu terlena dengan SDA-nya, mestinya belajar dari ini. Memang pabrik susu di Almarai hanya salah satu dari sekian hal yang perlu dikunjungi ramai-ramai ketika kita ingin mengintip perekonomian negera lain. Selama ini kami seperti merasa memiliki alam yang sangat kaya, sayang si bahan alam tadi tidak dapat membangun pabrik pangan sendiri untuk kita semua. Aku percaya bahwa keberhasilan bangsa ditentukan oleh bagaiaman SDM-nya. Seperti halnya keberhasilan hubungan ditentukan oleh orang-orang yang menjalaninya (eh.. ). Persetan dengan tongkat ditanam pun jadi tanaman di Indonesia. Kalau tidak ada yang menanam tongkat, tanah subur di Indonesia cuma bisa jadi mall dan perumahan elit dihuni penduduk yang jarang di rumah, dengan menggeser yang marginal ke pinggir sungai dan wilayah kumuh lainnya.

Bayangkan bila Indonesia yang cuacanya tropis, memiliki hutan, tanaman, rumput yang melimpah, serta lahan yang luas ini, mampu membuat pabrik olahan susu sapi sendiri tanpa import, seberapa banyak anak Indonesia yang selamat dari gizi buruk dan sakit-sakitan?

Sayangnya, aku hanya bisa bertanya pada rumput yang bergoyang.

Salam A.
Menunggu cerita tentang negerimu.

Surat Kesebelas: Tentang Iklan Rokok

Dear A,

Kali ini aku ingin bercerita tentang salah satu iklan rokok yang lagi sering tayang di televisi.

Ceritanya ada Tuan Jin berpakaian Jawa yang memberikan satu kesempatan pada seorang wanita single di hadapannya untuk meminta satu hal.
Si wanita muda menjawab, ia pengin punya “teman hidup” (jodoh) yang baik, pengertian, sabar, penurut, dan juga setia.
Tuan Jin pun mengabulkan permintaan kliennya apa adanya, dan ia memberikan seekor anjing. Aku jadi ngakak, kau tahu? Tampang anjingnya memang lucu.

Apakah kamu sudah dapat tertawa hari ini?

Surat Kesepuluh: Tentang Cara Mengisi Sepi

kepada kamu

Apa kabar?

Setiap orang punya cara mengisi sepinya masing-masing. Meski kadang memberikan rasa nyaman, perasaan sepi juga sering kali tidak menyenangkan. Terlebih akan begitu terasa ketika cuaca selalu mendung sepanjang hari dengan angin yang berembus kencang, mulai turun hujan menjelang sore, dan mendingin di malam hari. Atau tiba-tiba saja menjadi panas di hari-hari tertentu.
Di kesempatan ini akan kujawab suratmu lalu tentang apa yang kulakukan belakangan ini.

Aku sudah menceritakan bahwa sejak resign dari kantorku yang terakhir bulan Desember kemarin, aku memang seperti terjebak kebiasaan yang sungguh berbeda. Rutinitasku berganti dengan minum obat pagi hari, membuat jus di siang hari lalu tidur setelahnya, dan sisa waktu luang kugunakan untuk membereskan urusan rumah. Tapi memang ini pilihan terbaik untuk saat  ini.
Tentu tidak ada lagi keriuhan kantor dengan banyak orang di sebuah ruangan yang sibuk setiap pagi hingga sore yang biasa kusimak. Melainkan kini lebih sering aku menonton mimpi-mimpi tidurku sendiri yang berganti-ganti atau sekadar memandangi tanaman kebun di samping kamar. Atau sesekali menonton film Masha and the Bear.

Mestinya dengan demikian, aku punya banyak waktu untuk menulis atau sekadar membaca. Anehnya aku jadi sering tidak bersemangat membaca buku, kecuali yang benar-benar kusuka. Anehnya aku jadi sering nonton film-film horor via Youtube di siang hari. Aku juga mengikuti serial india setiap jam 20.30 hingga jam 10 sebelum membuat segelas susu, berlanjut acara TV berikutnya hingga tertidur. Kamu pasti heran sebab sebelumnya aku anti televisi apalagi mengikuti film serial. Segalanya memang bisa berubah.
Aku bahkan sudah jarang sekali memegang ponselku sendiri.

Lalu apa kegiatanmu belakangan ini?
Kuharap kamu masih sempat menulis buku harianmu

Surat Kedelapan: Perihal Ngambang

:untuk sobatku Pit

Sudah lama kita tidak mbolang lagi ke bukit-bukit atau pantai sambi lewat jalan yang hanya dilalui kambing. Rasanya hari-hari telah memisahkan kita yang sebetulnya hanya berjarak 45 menit perjalanan motor. Meski kita berdua akhirnya hanya bisa saling curhat via SMS atau telepon, aku ingin lagi bercerita panjang lebar. Namun kali ini aku ingin menulis surat untukmu. Terutama tentang kamu kali ini.

Belakangan kamu menggelisahkan hal-hal berkait masa depan. Sering kali mengeluhkan priamu yang sering mengambang, atau seseorang lain yang begitu serius ingin bersamamu namun tak menggapai hatimu. Perihal ngambang memang kerap bikin goyah dan kerap mengganggu kewarasan. Namun kamu tahu, aku bukan lagi tipikal sobat yang ceriwis menggunakan kata “nyusullah” sebagai untuk pilihan-pilihan hidup yang privat seperti menikah. Aku sadar itu istilah yang terdengar jahat. Terlebih perempuan zaman sekarang itu umumnya ‘mbulet’. Tak jarang pula dihadapkan oleh pilihan yang membingungkan. Menjalani perihal yang rasional tapi nggak terlalu sesuai hati, atau tetap pada jalur yang diinginkan yang sudah tahu bakal nggak sampai-sampai. Ah, kau tahu sendiri maksudku.

Tapi kamu tahu aku selalu mendukungmu apa pun pilihan hidupmu. Bila kamu yakin itu jalanmu, aku akan mendukung, bila tidak aku juga akan dukung. Hanya saja aku akan selalu ikut sedih ketika kamu menyedihkan hal-hal jauh yang belum juga sampai itu. Seperti belakangan ini. Kuatlah Pit. Berpijaklah.
Katakanlah pernikahan memang jalan hidup yang harus dijalani perempuan Indonesia dengan waktu dan kondisi yang berbeda-beda. Tapi segalanya mesti dihadapi dengan kesiapan, terutama hati dan mental. Ada banyak perempuan zaman kita yang tak siap memasuki institusi itu karena berbagai hal, termasuk trauma yang sering mereka simak di televisi atau koran, atau memang karena kurang yakin dengan konsep pernikahan. Aku paham dengan itu. Akan sangat panjang bila kujelaskan dalam surat ini. Lain waktu kamu mesti baca bukunya Elizabeth Gilbert sekadar tahu gambaran pernikahan di barat sana, dan bedanya dengan di sini. Hidup di negeri ini memang tidak mudah bagi perempuan.

Melalui surat ini kuminta padamu, rajinlah kuliah dan baca buku. Berkesempatan masuk S2 itu berkah yang aku saja belum pernah tahu kapan giliranku. Syukuri saja kesendirianmu sekarang, karena bila kamu sudah menikah, kamu takkan bisa lagi keluyuran dan bangun siang. Walaupun kutahu, memang belakangan kamu mesti banyak tutup telinga dan mata untuk orang-orang di sekitarmu yang gatal menanyakan usia ataupun yang memajang foto-foto pernikahan dan bayinya di akun jejaring sosial. Aku tahu kamu selalu merasa depresi dengan fenomena itu meski sebetulanya kamu mencintai anak-anak kecil. Kita bahkan sering ngobrol tentang konsep pendidikan modern untuk anak-anak yang jarang diterapkan masyarakat di sekitar rumah kita. Kamu bahkan masih konsisten mengajar di ilmu yang kamu geluti.

Akan ada saatnya kamu sampai pada doamu yang satu itu, Pit, menjadi istri yang berbakti dan ibu yang baik untuk anak-anakmu. Dan semoga itu memang pilihan sejati hidupmu. Kudoakan selalu yang terbaik deh.
Sekian surat dariku, jaga kesehatan supaya maagmu tidak kambuh lagi ya. Jangan lupa juga nonton Warkop DKI 🙂

Sobatmu.

Surat Keenam: Perihal Makanan Tradisional

: untuk penjual jajan pasar di seluruh penjuru kotaku.

Sungguh jangan pernah gantikan makanan tradisonal yang engkau jual itu dengan yang modern. Yang terbaru tak selalu mengandung kejujuran. Bahan pewarna, pemanis, atau pengawet tidakkah cukup riskan untuk kesehatan kita?
Mengapa demi sebuah rasa, mereka beramai-ramai harus menggunakan bahan-bahan palsu itu?
Bukankah rasa hanya sekadar mampir di lidah, dan dampak selalu bertahan lama di tubuh kita?
Seperti halnya cinta?

:salah satu pelangganmu

Surat Kelima: Cuplikan

Aku hanya ingin mencuplik sesuatu yang kuambil dari bukumu yang lama kupinjam dan belum juga sempat kukembalikan.

Kita sulit untuk mengerti mengapa ada orang yang mengusulkan masa tenang dari “segala yang telah berlalu” sehingga kata-kata yang telah disalahgunakan bisa dibebaskan. Namun ini bukanlah cara untuk menebusnya. Kita tidak bisa membersihkan istilah “Tuhan” dan kita tidak bisa membuatnya utuh: namun, betapapun ia telah cemar dan memar, kita bisa membangkitkan dan melepaskannya dari sengsara.

Dan aku mencuplik ini sebab sampai sekarang aku belum paham maknanya. Atau barangkali aku sedang tak yakin dengan yang kuartikan sendiri.

 

Kepada Pagi yang Selalu Menemani Sejak Terbangun dari Mimpi

Selalu ketika engkau mengirim cerah matahari dan udara yang berdamai dengan dada, yang senantiasa mengingatkanku tentang segala sesuatu yang akan diawali, juga yang harus dibenahi. Aku ingin selalu menyimak kehadiranmu, meski engkau terkadang menjadi sepi yang membuatku ingin terlelap kembali.

Sering kali engkau menemaniku bercerita. Lebih banyak menjadi pendengar yang begitu setia. Tentang hari kemarin yang mendung, atau mimpi semalam yang kusut dan gaduh. Tak jarang engkau datang kala subuh, mengajakku berdoa untuk meredam segala kekhawatiran dan mencoba menyusun lagi sesuatu yang kita sepakat menyebutnya harapan. Engkau tahu di waktu yang telah berlalu aku marah kepada begitu banyak hal. Dan aku sempat mengutuki hari yang datang begitu cepat. Atau tatkala aku merasa ada hari-hari yang telah kulewati begitu saja tanpa sempat merasa menjalaninya.

Melalui surat hari ketiga bulan Februari ini, ingin kusampaikan bahwa bagaimanapun hari-hariku lengkap sejak engkau menjadi senyum pertama sebelum hari beranjak tua. Dan engkaulah yang mengajari tentang makna. Engkaulah, hatiku.