Tepi (3)

Manusia itu seperti sebuah rumah berbentuk kastil besar dengan bagian isi yang berlapis-lapis. Kita adalah pemiliknya. Orang-orang hanya berkunjung di beranda, maksimal di ruang tamu dan ruang tengah. Tapi di kastil itu, ada kamar untuk keluarga, tamu, dan pribadi, ada juga sebuah ruang yang letaknya lebih ke dalam, semakin ke dalam semakin orang lain tak diperbolehkan masuk selain si empunya kastil… bahkan kucing peliharaan pun tak boleh turut mengekor seperti biasa… sehingga saking rahasia ruang itu, orang-orang hanya menganggapnya mitos.

Ruang itu barangkali bernama hati, begitulah kata si pemilik kastil.

Dan karena manusia adalah kastil tua dengan ruangan berlapis-lapis, aku tengah berjalan lebih ke dalam ruang paling rahasia itu..menemui kesunyian…

Sebab kesunyian, satu-satunya hal yang mengakui tanpa pretensi, bahwa sepenuhnya dirinya manusia…

 

Traditional-Diwali-Wallpapers

Ilmu

Ada nasihat bagus yang datang dari seorang teman secara spontan, mengingatkanku kembali untuk tidak terlalu antipati dengan ilmu-ilmu tertentu:

Sebagai orang yang memutuskan bergerak di jalur ilmu, yang pertama adalah pikiran kita harus terbuka. Kita mesti tahu ilmu-ilmu yang muncul di hadapan kita, apapun itu. Meskipun kemudian kita memilih salah satu atau beberapa saja yang kita jadikan pedoman, yang paling kita percayai, atau yang mungkin saja sejalur dengan pokok keimanan kita.

 

Belajar itu kegiatan yang sungguh menarik karena pikiran dan hati kita mesti sungguhan terbuka.

 

 

 

Hujan Pun Turun

Hujan pun turun, di antara padat kesibukan akhir pekan. Hujan rasanya antara nyata dan bagian dari pesan, sebagai awal musim yang menguatkan semua hal yang membutku akhirnya memutuskan berubah, pindah dari kondisi pembodohan menuju jalan-jalan lapang yang mencerahkan..
Hujan akhirnya turun, melalui liku jalan hati, menemui muaranya. Rasanya sudah lama tak kuhirup udara sedemikian sejuknya. Rasanya sudah lama meniti jalan sempit dan galap bahkan seringkali ragu apakah aku tengah tersesat atau tidak.
Rasanya sudah lama, aku tak merasakan kebebasan selonggar ini…

Tapi aku selalu yakin, Tuhan menyediakan hidup begitu luas, agar aku tak hanya berada di sini, dalam keraguan, apalagi kekonyolan masa lalu. Maka Tuhan mengirim hujan, membersihkan jalan dari kegelapan kotor agar ia pergi jauh entah kemana.. Tuhan bahkan sering kali menjawab hal-hal kecil dalam harapku dengan cara paling tepat dan ajaib…
Dan aku tahu, aku tak bakal rindu sedikit pun hal yang kerap membuat perasaanku jera, maka aku tak lagi takut.. hanya enggan bila sekali lagi mengorbankan sebagian hidup pada hal-hal yang tak lagi penting.

Hujan pun turun, benar-benar turun siang ini…
membuatku berpikir, bahwa mungkin saja, mau tidak mau, musim memang harus berganti.

Hujan pun berhenti.. sore ini. Digantikan cerah lagi

Jarang ada konsep musik sekeren ini di Indonesia….
Seringkali musik dengan konsep serius membuat pemaknaan liriknya pun tidak sekadar hal-hal sepele, atua bisa saja hal sepele namun dikondisikan lebih bermakna. Konsep cinta yang dihadirkan di musik Bonita & The HusBand ini pun universal, menjangkau kehumanisan manusia dalam menangkap entitas rasa yang lebih luas dan merdeka.

ber”ada”

Adek, apa kabar? Sedang apa?

demikian seseorang mengirim sebuah pesan melalui ponsel, pada suatu malam hening yang tidak benar-benar hening.
Pertanyaan sederhana yang membuatku merasa ada dan harus melakukan sesuatu sebab ditanyai sedang melakukan apa.

Tiidak mungkin lagi bagiku mengatakan sedang membaca SMSnya–sebab amatlah remaja.
Tidak mungkin juga mengatakan sedang gak ngapa-ngapain, karena bisa saja berarti tidak melakukan apapun. Bahkan terdengar munafik, sebab secara tidak langsung setidaknya aku sedang memegang HP untuk membaca sebaris SMS… berarti sedang melakukan suatu pekerjaan.

Maka setidaknya aku harus melakukan sesuatu–memiliki kegiatan untuk dibicarakan, agar si penanya mendapatkan jawaban, dan si penjawab tidak terlihat pengangguran..

Tapi apakah setiap pertanyaan berisi tanya kabar seperti itu selalu bersifat serius karena ingin tahu apa yang sedang kulakukan, atau sekadar hanya ingin menyapa? atau bisa jadi kebetulan si empunya nomor sedang mendapat bonus pulsa, atau bisa jadi salah mengirim SMS. kemungkinan selalu ada bukan? dan hak untuk menjawab atau tidak juga sedang ada di tanganku.

Tetapi pesan berisi tanya kabar hampir memiliki makna semacam ini: menganggapku cukup ada dan tengah ber-“ada”
Meskipun tidak setiap saat aku ingin benar-benar ada.

 

Lalu, suatu hari Tuhan datang, menyapa: 

 

Apa kabar? Sudah baca pesan-Ku? Siap dijemput?

 

kemudian hening lagi