Rasa Pedas

Kau penyuka rasa pedas?

Aku nggak terlalu menggemari, tapi makanan pedas kuakui enak. Terlebih bila komposisi bumbu dengan bahan dasarnya pas, entah itu pedas karena cabai atau merica. Mereka akan meninggalkan jejak nikmat (lengkap) sebelum melanjutkan perjalanan ke kerongkongan dan lambung untuk melebur dengan zat HCL, pepsin, renin, dan makanan lainnya. Mulut dapat merasai sensasi menyakitkan tapi enak yang dihasilkan rasa pedas itu. Namun tidak semua lambung lantas menyambut dengan bersahabat. Jadi benar, ada kalanya orang-orang yang memiih makanan enak, cenderung lebih dahulu mempertimbangkan selera yang dituntut oleh indra pengecap, utamanya lidah dan indra peciuman, ketimbang kemampuan alat pencernaan setelah mulut ataupun kesehatan. Terlebih kemampuan perut tak bisa terdeteksi sebelum betulan terlihat dampaknya.

Kata seorang teman rasa pedas itu merusak rasa. Teman lain bilang itu justru memperkuat rasa. Kedua pendapat itu dapat dikatakan benar karena sebetulnya cabai menyangkut selera. Selera berkait erat dengan individu yang tentunya sudah beragam dari sananya. Manusia dan selera adalah identitas yang berpasangan selalu. Ada yang senang bila cabainya melimpah. Ada yang menyerah duluan dengan cabai setengah biji. Ada pula yang menolak sama sekali masakan pedas secuil pun.

Ketika aku iseng browsing sejarah makanan pedas, ternyata sulit juga dicari. Ada yang bilang berasal dari Melayu, sebelum Indonesia bernama Indonesia. Masyarakat Thailand pun familier dengan tradisi makan pedas. Ingat penjelasan salah satu dosen ketika zaman kuliah, bahwa setiap daerah bisa berbeda kecenderungan jenis makanan sesuai dengan kondisi alamnya. Semula makanan pedas biasanya dikonsumsi masyarakat sekitar pegunungan atau daerah berhawa dingin. Zat yang terkandung di dalam cabai dipercaya dapat menghangatkan tubuh. Meski demikian, tidak semua orang lantas mengonsumsinya. Sebab di negara-negara lain, seperti negara-negara di Eropa, mereka konon tidak memakan cabai seperti di Asia. Sebagai penghangat mereka meminum semacam wine. Meskipun jahe sebenarnya bisa, tapi jahe digunakan di Indonesia. Sehingga kurasa cara masyarakat mengatasi rasa dingin melalui makanan hanya soal adat dan kebiasaan. Barangkali belum bisa dikatakan melulu tentang adaptasi, melainkan selera. Masyarakat dari tradisi pemakan cabai ekstrem pun ketika berkunjung ke Jogja akan mengeluhkan rasa manis di dalam unsur masakannya, dan akan tetap menambahkan porsi cabai meskipun udara Jogja sudah hangat.

Tapi rupanya rasa pedas tidak berasal dari tanah Melayu. Di India ada jenis cabai Bhut Jolokia yang sempat membuat pemakannya terkapar pada menit ke-30, konon efeknya hingga 12 jam.  Cabe ini menggantikan jenis Red Savina yang semula menjadi cabai terpedas di dunia versi Guinness World Records. Pada versi itu, ada beberapa peraih rekor yang rupanya justru dari Meksiko. Ada pula yang menyatakan Ed Currie yang terpedas di dunia. yang juga berasal dari Meksiko. Tak lama versi Guinness Book of Records menyatakan cabai asal Inggrislah, cabai Infinity, yang terpedas di dunia. Jadi untuk apa cabai diciptakan di dunia selain untuk bumbu makanan dan ikut lomba? Untuk obat. Beberapa artikel ilmiah menjelaskan kegunaannya di bidang kesehatan, tapi dalam porsi yang cukup dan cenderung sedikit. Cabai juga punya manfaat mengobati.

Namun, kemarin hari sedikit menyesal sekaligus bersyukur dengan masakan pedas yang kumakan, memang pada dasarnya lezat sekali, apalagi dikonsumsi di antara suasana ‘hangat’. Hanya saja unsur cabainya melebihi batas normal kemampuanku merespons rasa pedas yang tentunya hanya kusimpan sendiri dalam hati -__-. Sebab sehari setelahnya, selain masih ada rasa panas di pangkal kerongkongan hingga lambung, efek lain yang cukup bikin mules dan lemes pun mengikuti. Tongseng kuah yang rasanya gurih itu semula menimbulkan efek bahagia. Aku memang melihat semua orang tampak menikmatinya. Ada yang megap-megap tapi ketagihan, ada yang memang benar-benar menghindari karena warna kuahnya dominan merah, ada yang malah jadi tambah sehat habis kepedasan meski muka merah dan air mata bercucuran, mirip ekspresiku. Bahkan ada yang memakannya seperti ngemil kacang goreng sambil nonton bola.

Namun, lapar dan perasaan tidak enak menolak hidangan sang koki yang ahli masak tongseng kambing ini adalah perpaduan cocok untuk membuatku tetap makan kemarin hari. Pada detik-detik awal, sedikit masih bisa menikmati sensasi rasa gurih yang pas di dalam masakannya, lama kelamaaan tak sadar secara insting, aku berusaha menghabiskan makanan cepat-cepat tanpa mampu bersuara sepatah kata pun. Begitu melihat air putih, rasanya ingin menenggak seluruh isinya dalam hitungan detik. Berharap pedas itu segera hilang dan kembali pada efek makanan sedapnya. Sampai di rumah cepat-cepat aku menelan semua makanan penetral dan berhenti berpikir yang tidak-tidak. Memang banyak orang di luar sana merasa lebih nyaman dan lebih bugar setelah megap-megap, tapi rupanya aku tak punya respons naluriah bersifat positif semacam itu.

Rasanya untuk beberapa hari ke depan, aku perlu menghindari hal-hal yang pedas. Selain rasa terbakar di leher dan sekitar perut, efek psikologisnya pun bakal tidak sebentar. Untuk soal makanan pedas, yang mewakili keberagaman manusia itu, aku nggak mau lagi bertoleransi. Demi apa pun untuk saat ini.

Postinganku kali ini memang lebih banyak tentang rasa pedas cabai. Berbicara soal rasa pedas, mungkin demikian cara manusia menjalani hidupnya: sekalipun menyakitkan, tapi toh tetap menikmatinya juga sebagai hidangan rutin.:)

Bagaimana pun pengalaman kepedasan adalah pengalaman yang berharga untuk dilewatkan.

Iklan

es krim pengalih galau

Sebetulnya sulit bagi saya menjelaskan perihal makanan paling unik, apalagi saya sendiri tidak hobi makan. Dulu, memang makaanan apa pun itu sulit untuk dideskripsikan sebagai sesuatu. Entah mana yang unik, biasa, aneh, atau sebetulnya saya yang tidak gaul soal makanan. Sebab karena tidak hobi makan hal-hal baru itulah, saya sering ragu dengan diri saya sendiri. Ketika makan hal baru, saya berpikir, jangan-jangan sebetulnya makanan ini enak, tapi saya cuma ketinggalan trend. Atau saya anggap ini enak, tapi ternyata yang lain bilang itu nggak banget. Misal pada sayur pare. Bagi saya, pare itu enak, tapi tidak bagi banyak orang yang saya temui. Saat itu penilaian saya tentang makanan hanya sehat atau tidak sehat.

Bagi saya makanan hanya sesuatu yang harus dikonsumsi demi melangsungkan kehidupan, oleh karenanya ia mesti dikonsumsi sesuai standar kesehatan. Tapi rupanya, makanan juga bisa memiliki karakter tersendiri. Itulah mengapa tradisi wisata kuliner menjadi cukup populer. Nah, sejak saya menyadari adanya perbedaan reaksi manusia terhadap makanan itulah, saya jadi mulai peduli. (Meskpun jarang juga sih). Apalagi jenis makanan bisa jadi menceritakan suatu sejarah, kenangan, atau peristiwa penting, separti salah satu cerpen Putut EA, berjudul “Sambal Keluarga”, yang rupanya menyimpan kisah tersendiri mengenai sebuah keluarga. Makanan rupanya juga mewakili keragaman budaya dan tradisi di berbagai belahan dunia.

Nah, baiklah, omong-omogn masakan aneh, saya jadi inget makanan aneh yang tahun 2012 lalu berhasil tercicipi. Yeah, karena sebetulnya makanan itu dibeli karena rasa penasaran dan sedikit frustrasi kerena sesuatu yang sedang bikin resah saat itu.

Saat itu, kami (saya dan Pit-pit, sobat keluyuran saya) jalan-jalan ke pasar seni Vredeburg. Seperti biasa, jalan-jalan ala kawan sepergalauan adalah sambil curhat hal pen(t)ing dan berbagi uneg-uneg. Dan kebetulan sekali, di sela kesibukan pekerjaan sehari-hari, kami rupanya mengalami kegaluaan yang sama dan harus di-share. Karena perempuan punya keistimeawaan multitasking, kami bisa jalan-jalan, sambil curhat, sambil foto-foto dengan pose se-edan mungkin, sambil memikirkan bisnis masa depan, sambil ngobrol situasi sosial, dan melihat-lihat stand produk kesenian. Sobat saya ini bahkan bisa sambil FB-an dan SMS-an. Sementara saya masih lebih banyak menjadi penyimak.

Tidak lama, akhirnya kami menemukan satu jenis makanan yang cukup menarik di salah satu stand. Namanya es krim temulawak. Seperti biasa, saya selalu menghargai produk inovasi apa pun itu. Apalagi produk asli Indonesia dan terbuat dari rempah bernama temulawak. Dan konon es krim itu dibuat oleh mahasiswa UGM dalam suatu proyek. Yeah, cukup keratif. Apalagi saya sendiri menempatkan es krim, cokelat, dan kopi sebagai alternatif obat penat. Siapa tahu es krim inovasi ini bisa meredam stres. Penasaran dengan eskrim temulawak bergambar wayang itu, akhirnya kami pun membelinya.

Temulawak itu sendiri adalah jenis tanaman herbal yang mengandung zat yang menyehatkan. Apalagi rasa asli Indonesia tentunya akan familiar di lidah kita. Temulawak adalah rempah yang sarat gizi karena memiliki kandungan kurkumin yang tinggi. Zat kurkumin, seperti yang kita tahu, bermanfaat menjaga kesehatan hati, sebagai anti oksidan, dan dapat menambah nafsu makan.

Namun, begitu dimakan, olala.. Wajah kami berubah seketika. Dari melow karena menanggung beban, tiba-tiba terkejut dengan heran. Kami tercengang dan saling pandang sebelum sama-sama mengomentari dengan berbisik-bisik…
“Apaa menurutmu rasanya?”
“Kayu. Lha menurutmu?”
“Sama.”

Kemudian kami pun nggak bisa nahan geli dan akhirnya ngakak, atau malah sebetulnya tambah pengin nangis. Entahlah. Kami pun berjalan menjauhi stand supaya tidak bikin penjualnya berpikir macam-macam. Rasanya mirip kayu. Yeah, memang sih tentu saja kami belum pernah makan kayu sebelumnya. Tapi aromanya jelas cenderung kayu. Tiba-tiba saya membayangkan sejumlah serbuk kayu mabel dihaluskan sebelum dicampur dengan bahan es krim, dan tentunya itu hanya imaji konyol saya.

“Dibuang aja ya?” Pit-pit, sobat saya itu sepetinya tidak tahan dengan rasanya sejak jilatan pertama.
“Jangan, mubadzir lho,” kata saya. Dan setelah dipikir-pikir, akirnya kami sepakat menghabiskannya apa pun yang terjadi. Jarang-jarang juga kan makan hal unik sambil curhat soal beban hidup yang sedang mendera.

Kami pun mencari tempat aman di salah satu taman yang agak tersembunyi supaya ekspresi katro makan es krimnya tidak vulgar di depan umum. Sekaligus saya pun mencoba mempelajari dan merenungkan apakah lidah saya yang salah atau memang rasa kayu bukan hal yang aneh di dunia perkulineran. Dan kami putuskan sebaiknya es krim ini rasanya lucu dan unik. Bukan nggak enak, sebab dengan begitu kami tetap bisa memberikan apresisasi positif terhadap si pencipta es krim kayu tersebut, eh, maksudnya es krim temulawak. Tapi keanehan itulah yang saat itu sedikit mengalihkan rasa galau berbagai hal waktu itu. Mungkin efek baik temulawak, atau memang rasanya yang membuat mengalihkan perhatian sesaat. Kadang memang makanan aneh, mengalihkan dunia kita sementara.

Ah, jadi kangen sama sobat dolan-dolan saya yang satu itu.

@googleimage

@googleimage

*ditulis untuk memenuhi tugas Komunitas Penamerah bertema makanan terunik yang pernah dimakan.