Andai Waktu Dapat Kembali

Kini Mia menetap di Melbourne, di mana musim mengenal 4 cara untuk membuat bumi tersiram kehidupan. Andai waktu dapat diputar kembali. Ia pasti tak sesedih ini sekarang. Tidak. Ia bukan sedih. Hanya bimbang. Bingung dengan hidupnya. Juga ada sedikit merasa marah. Namun tak mengerti apa yang kini benar-benar membuatnya marah. Kesalahpahaman itu begitu tak tahu diri menyerangnya, sehari setelah mendarat di kampung halamannya. Mengapa begitu terlambat ia tahu? Mengapa tidak kemarin ketika ia masih memiliki waktu mempertimbangkan kapan ia akan pulang? Kenapa tidak kemarin ketika keputusannya dapat berubah?

Ponselnya masih tergeletak di atas meja. Sebaris pesan singkat masih tertera di sana.

 

kamu jangan pergi dulu. Masih ada yang harus kusampaikan soal Galih. Berita bahwa ia menikah hanya rumor. Itu kerjaan iseng Delia. Tak suka bahwa kamu berdekatan dengannya. Galih mencarimu.

Hana

 

Memang Hana salah satu teman lama Mia ketika di Indonesia, yang tak tahu bahwa gadis itu merencanakan kepulangannya cukup mendadak. Terlebih ketika kabar beredar bahwa Galih, pria yang diam-diam dicintainya itu rupanya tak benar-benar sedang akan menikah.

Mia mondar-mandir dari satu ruangan ke ruangan lainnya. Sepi. Sebab hari itu menjelang natal. Keluarganya pasti berada di rumah nenek. Beratus kilometer dari rumahnya. Sebab hanya dia saja yang Budha, ia tak merayakan natal. Namun rumah itu damai baginya. Semua perbedaan tak pernah menjadi persoalan. Meski Budha, tak seorang pun di keluarganya yang menolak keyakinannya. Ia jadi ingat kakak pertamanya, Andrew, yang setahun lalu menjadi muslim dan tak ada yang mengingkarinya. Namun hari ini tiba-tiba ia butuh keluarganya. Sebab bebannya begitu berat. Ia begitu sendirian. Tak mungkin bila ia menyusul mereka, sebab mereka pasti sedang berkonsetrasi dengan hari besar. Ia tak ingin mengganggu.

Tapi ia merasa setengah gila.

Di luar salju turun.

Di dalam, perapian mulai membara, menebarkan hangat. Sekaligus perih.

Ia kembali marah. Seperti semula.

Lalu untuk apa aku berpikir soal itu? Selama ini mereka pun tak benar-bener dekat. Hubungan tak pernah menjadi jelas. Bila ia mencintaiku, mengapa tak sekalipun ia menyatakannya? pikir Mia. Ia sedih dan kecewa. Tapi ia merasa bahwa tak ada gunanya ia memikirkan penyesalan itu. Ia teringat kala itu. Sejak 2 tahun berteman, Galih menjadi perhatian. Perhatian yang tidak biasa. Selama ini mereka hanya suka berbicara banyak hal. Tidak hanya soal kuliah, namun juga masalah global. Hal-hal yang tak selalu bisa dibicarakan dengan semua teman.

Malam itu, ia mengirimi kue tart ketika hari ulang tahun. Ia hanya meletakkannya di depan pintu. Beserta surat. Ia tak tahu mengapa. Tiba-tiba ia terbuka dengannya banyak hal, soal masalah pribadi. Namun tak hanya dengan Mia. Dengan yang lain pun juga. Kadang Mia merasa ada sesuatu yang tengah ia sembunyikan. Tapi ia hanya merasa itu hanya ke-GR-an semata. Sebab sepanjang ia menjadi teman curhat, ia banyak membahas Audrey. Mantannya, yang kebetulan adalah sahabat Mia sendiri. Sahabat sejak mereka selalu aktif di gereja. Dan agak terpisah sejak Mia memilih menjadi Budha, 4 tahun yang lalu. Audrey masih aktif di sana, Mia sudah belajar mengenai keyakinannya.

Ia selalu bercerita seolah ia menyesali. Mengapa hanya karena keyakinan orang-orang menjadi terpisah? Galih seorang muslim yang taat. Sekalipun ketika mereka bersama, tak ada unsur perbedaan keyakinan yang membuat mereka menjadi bersebrangan. Tidak. Mereka bersahabat. Sampai akhirnya Audrey bersama pria lain, dan kemudian Galih 2 tahun memilih menyendiri.

Tapi Mia hanya percaya, bahwa pria seperti Galih, adalah tipikal setia. Ia butuh waktu untuk melupakan Audrey. Mungkin bertahun lamanya, atau mungkin baru ketika ia sudah menjadi manula. Ia sering kali mengajak Mia ke acara soasial. Yang ia yakini adalah salah satu cara melupakan Audrey. Galih pekerja keras, namun berhati lembut. Ia ingin melupakan Audrey, sekalipun Mia merasa ada sikap Galih yang sedikit tak biasa. Tapi Mia lagi-lagi tidak ingin menjadi terlalu perasa. Ia mencintai Galih dengan caranya. Ia merahasiakannya. Sebab persahabatan lebih segalanya daripada cinta. Begitu pikirnya.

Tapi Galih pernah menanyakan, “Apakah salah bila seandainya, aku mencintai seseorang yang semula adalah sahabatku?” perkataannya tak jelas ke arah mana. Namun Mia hampir saja terbang, merasa bahwa itu tentang dirinya. Ia membayangkan cara romantis yang berakhir bahagia karena dua orang mampu saling mengerti tanpa harus berkata-kata. Tapi Mia adalah perempuan yang realistis. Ia kembali ingat. Sahabat Galih tak hanya dia. Ada Jean, Annisa yang selalu aktif di masjid, ada Fera, Kea, dan yang lainnya, yang kebetulan juga teman-teman organisasinya. Mereka lebih pintar, cantik, juga… seiman. Huft. Ia tak boleh GR.

Kemudian begitu menginjak semester akhir, mereka banyak berpisah. Masing-masing sibuk mengurus kampus. Mia bahkan sempat ke luar pulau karena menjadi guru relawan. Namun itu hanya cara Mia mengusir gelisah yang membuatnya gila. Sejak Galih terlihat dekat dengan seorang adik angkatan. Mia sempat sedih. Terbakar cemburu dan pikiran yang tidak-tidak. Tapi ia ingat, ia hanya sahabatnya. Ia harus rela sahabatnya menentukan piilihan degan siapa ia akan bersama. Ia terluka. Tapi untunglah, kesibukannya organisasi membuat perasaannya teralihkan. Sekalipun masih sesekali ia dan Galih bertukar kabar melalui email.

Dan menjelang wisuda, kabar bahwa ia akan menikah pun sampai di telinganya. Tak sanggup berhadapan langsung dengan Galih, ia menghilang usai wisuda, yang kebetulan ada Galih di sana. Ia berangkat ke Jakarta sebelum mengurus segalanaya untuk kembali ke Aussi. Tanpa pamit. Kecuali dengan teman-temannya seasramanya.

Udara dingin. Salju memenuhi jalan-jalan. Mia duduk di salah satu sofa dekat jendela. Memandang langit yang putih dan samar. Ia menghela napas. Kenangan memang selau hadir dengan begitu misterius. Kenangan selau membuat seseorang berdiri antara kenyaaan dan masa lalu dengan cukup menyesakkan. Ia hangat sekaligus gelap. Tiba-tiba ia melihat bayangan wajah Galih di mana-mana. Ia merasa keputusannya telah tepat. Ia bertekad tak akan kembali kecuali bila ada hal sangat mendesak. Dua tahun sejak ia merasa Galih menjadi bersikap berbeda, namun tak sekali pun ia merasa bahwa Galih benar-benar ingin bersamanaya. segalanya tak pernah jelas. Ia juga marah pada keadaan itu.

Pria yang benar-beanr mencintai, mestinya memiliki nyali untuk membuktikan, begitu pikir Mia. Ia menjadi begitu kecewa. Ah, andai waktu dapat diputar kembali dan ia memilih untuk menjadi lebih berani mengatakan. Apa yang salah dari perasaan? Tapi lagi-lagi, ia bertanya, apakah benar Galih mencintainya? Ataukah semua ini terjadi karena perbedaan keyakianan bisa mejadi masalah yang begitu sensitif di Indonesia sehingga ia pun berhati-hati? Barangkali Galih pun ingin tak sekadar mencintai, tapi perbedaan begitu menjadi tembok besar yang menghalangi. Sehingga segalanya harus berhenti.

Mia menghela napas lagi. Menghirup seangkir kopi yang masih mengepul dalam cangkir di tangannya. Bagaimanapun ia seharusnya menyadari, bahwa ada hak seseorang yang tak boleh dilanggar. Ia mengerti setiap orang, termasuk juga Galih berhak memutuskan apapun yang ia inginkan. Sekalipun hak itu adalah untuk tidak bersamanya. Ia tahu, ia sudah memutuskan, ia takkan kembali ke Indonesia.

 

 

cerita ini dikirim untuk tugas GWA 3, karya kedua. dikirim jam 11.40 hari Minggu, setelah diedit segera pagi hari-

 

 

Iklan

Tamu

-Sebuah Cerita Pendek

Pagi sudah menjelang. Sayup suara burung gereja bersenandung di atap-atap kamar. Aku berusaha mengingat mimpi. Sudah mimpi keempat aku bertemu pria yang sama. Dalam wajah yang semula samar. Lalu begitu jelas gestur dan raut wajahnya. Entah siapa dia. Ah, barangkali aku kecapekan. Setiap hari, hampir sejak pagi hingga malam menjelang tidur aku dihajar pekerjaan.

Aku cukup tak mempercayai hal-hal abstrak semacam mimpi. Meskipun seorang teman sempat begitu antusias menjelaskan bahwa mimpi itu ada hubungan dengan dunia nyata. Dia mengatakan bahwa bisa saja itu jodohku nanti. Dia bahkan berani sumpah. Dan aku hanya tertawa.

Mimpi hanya bunga tidur, pikirku. Dan aku lebih percaya bahwa harapan kita di alam bawah sadar secara tak sengaja terekam dalam mimpi. Tapi itu jelas hasil pemikiran. Obsesi. Sedikit khayalan.

Barangkali pada suatu saat di masa lalu, aku sempat memikirkan satu wajah pria yang bagiku ideal untuk diimpikan. Dalam kehidupan nyata memang aku tak pernah menemuinya. Mimpi pertama, pria itu memberiku bunga. Mimpi kedua ia membawa sepasang merpati putih. Mimpi ketiga, ia mengajak jalan-jalan di suatu tempat, juga ngobrol dalam bahasa mimpi. Mimpi keempat pria dalam mimpi itu mengatakan bahwa ia suka musik jazz. Tapi namanya juga mimpi, sehari kemudian, semua itu sudah terlupa. Anehnya, sekarang, aku mengingatnya lagi, menghubungankannya.

Lamunanku terhenti ketika bel pintu rumahku berbunyi nyaring. Rasa kantuk masih menguasaiku. Mungkin tukang antar susu. Tapi kenapa sepagi ini datangnya? Aku segera berlari ke ruang depan dan membukakan pintu dengan malas.

Sesosok pria berdiri di hadapanku. Memandangku sambil tersenyum, memamerkan derertan giginya yang putih.
“Hai. Mau sarapan bareng?”

“Eh? Kamu? Kamu?” Mulutku terasa terkunci. Antara percaya atau tidak, pria dalam mimpi itu kini ada di depan mataku. Butuh beberapa menit memercayai penglihatanku. Alih-alih mengatakan ya atau tidak, aku malah bengong. Kantukku tiba-tiba lenyap.

“Siapa kamu? Kenapa bisa ada di dunia nyata?”

“Apa? Dunia nyata?” pria itu malah heran. Tapi ia langsung menyadari. “Oh ya lupa. Kenalkan saya Abid. Baru saja pindah depan rumah kamu. Maaf ya bikin kaget pagi-pagi.”

Aku menjabat tanganya dengan gugup dan kalut. Mungkin aku sudah mendadak gila.

“Nama kamu?”

“Aku… aku, Maricia Zaska. Eh.. biasa dipanggil Caca saja. Lalu kenapa tiba-tiba kamu ingin sarapan bareng?”

“Aku… sekalian sambil kenalan. Jadi, apa kita bisa sarapan bareng? Di depan sana ada bubur ayam sepertinya.”

“Iya. Oke,” aku buru-buru mengambil sandal. Sampai jalan kompleks, aku baru sadar bahwa aku masih memakai piyama dan rambut acak-acakan. Orang-orang yang sempat melihat kami, melirikku dengan aneh. Barangkali mereka pikir, aku ini pasien RSJ, yang diajak jalan-jalan seorang perawat yang ganteng dan rapi.

“Jadi kamu baru pindah ke sini?” tanyaku memecah keheningan.

“Yap, aku dari Blora, baru pindah dua hari yang lalu dan tinggal sendirian.”

“Dalam rangka?”

“Pindah tugas,” jawabnya singkat.

Pria itu memesankan teh hangat untuk kami berdua. Sementara deru kendaraan semakin ramai, begitu juga dengan denyut jantungku. Aku masih tak mempercayai bahwa mimpiku menyiratkan semacam pesan. Ini pasti hanya kebetulan. Tapi aku benar-benar seperti digulung-gulung oleh kondisi. Ini situasi yang lucu dan agak konyol memang. Aku didera perasaan antara heran, lucu, sedikit ngeri, dan entah apa lagi. Sampai tak terasa bubur di depanku habis, kami tak banyak bicara.

“Apa kamu juga suka musik jazz?” teringat mimpi yang terakhir, sekadar ingin menguji hal aneh ini.
Ia tersedak. “Lho, kamu kok tahu aku suka musik jazz?”

“Kok bisa betul?” aku terperanjat.

“What?”

“Berarti yang kamu bilang waktu itu benar, ups.” Aku mencari kosakata yang pas agar dia tak mengaggapku edan. “Maksudnya barusan waktu masih di jalan.”

“Memang tadi aku bilang aku suka musik jazz?” ia masih terlihat heran.

“Sepertinya begitu, hehe….” Berhentilah tolol Ca, kataku dalam hati. Aku mengaduk es teh yang kupegang, padahal sudah kosong.

Pria itu tertawa kecil. “Kamu lucu juga ya. Kapan-kapan, kalau kamu nggak keberatan, kita sarapan bareng lagi ya?”

“Siap.”

Entah mengapa, hari Minggu ini rasanya begitu indah.

Karya ini hasil tugas GWA kedua, tulisan kedua, yang dikirim email, sebagai salah satu kegiatan iseng

Tera

Kamarin, tawamu masih begitu jelas di ingatanku. Seperti biasa, bila ada masalah kau akan megajakku di bertemu di kafe, dan kau biarkan aku dulu yang bercerita. Kamu kadang aneh dan tak tertebak. Kamu yang pengin ketemu, aku yang disuruh cerita dulu. Namun itu tak masalah. Akhir dari moment nongkrong kita pasti selalu berbentuk tawa.

Aku bersyukur, bertahun-tahun sejak kita bertemu waktu SMP, sampai sekarang kita tetap bersahabat. Kamu pendiam, dan aku tak bisa diam. Kamu rapi dan sempurna, aku berantakan. Kamu genius matematika dan mata pelajaran lain, sedangkan satu-satunya keahlianku cuma memainkan gitar. Aku tomboy sedangkan kamu begitu manis dan feminin. Memang benar yang namanya sahabat, sekalipun berbeda banyak hal, masih saja mau saling menerima.

Malam itu, tiba-tiba kau bilang bahwa kedua orang tuamu akhirnya bercerai. Aku bersedih untukmu. Tapi kau tak menangis. Seolah sudah terbiasa menerima kepahitan yang serupa. Justru aku yang menangis. Aku tomboy, tapi hanya tampilan luar.
Rasanya baru kemarin, kamu minta aku mengiringi nyanyianmu, lagu yang kau suka, dan kau dengarkan setiap akan tidur di malam hari.

Ucapkan salammu
Pada bulan dan bintang
Mereka yang setia
Menjagamu tidur

Malam kemarin di kafe, kau memang tak seperti biasanya. Kita memesan cokelat ketiga, akhirnya saling mengingat kekonyolan masa SMP, yang sudah kita bicarakan ratusan kali, agar kau pun teralihkan dari duka yang membuatmu banyak diam beberapa hari ini. Kamu tidak pernah bisa tidur tanpa ditemani, hingga akhirnya aku mengajarimu berdoa dulu sebelum tidur, hal yang mestinya diajarkan orang tuamu sejak kecil.

Aku ingat ketika kamu membenci pelajaran Bahasa Indonesia dan kugambarkan karikatur pria botak mirip guru kita, dan kau tak bisa menahan tawa. Aku ingat kau tahu aku benci pelajaran Sejarah, dan kau menggambar manusia purba mirip guru kita, dan aku tertawa terbahak di tengah pelajaran, gambarmu lebih bagus. Dan aku simpan itu sampai sekarang.
Ah, kenangan yang begitu melekat, sebab kau sahabat pertamaku, dan selamanya.

Kini obrolan kita sudah mulai seputar cowok. Tapi kali ini kau lebih banyak mendengar curhatanku tentang seorang cowok yang tengah kusuka di kelas tapi yang paling sering kucaci-maki.

Kau tersenyum sekilas. Dan kembali kita berbicara tentang bagaimana seharusnya kau menyikapi perpisahan kedua orang tuamu. Tampaknya ada sesautu di matamu yang seperti tak ingin kuketahui.

Lalu gerimis datang. Malam sudah pekat. Waktunya kita tidur. Kau menolak menginap di rumahku, maka kubiarkan kau pulang sendirian. Dan aku sungguh kepikiran semalaman. Entah mengapa perasaanku tak nyaman. Hujan semakin deras. Aku semakin gelisah. Kau tak mengabariku seperti biasa, sekadar mengatakan sudah mau tidur dan sudah berdoa.

Hingga kudengar kabarmu, beberapa saat yang lalu melalui telepon. Kau dalam perjalanan ke rumah sakit. Segores luka di pergelangan tanganmu, juga dengan darah yang berceceran ke mana-mana. Ibumu bercerita lewat telepon dengan terbata. Hatiku mencelos. Aku berlari menelusuri sepanjang jalan yang seolah begitu jauh. Ada pedih yang ikut tergores di sana. Sampai di rumah sakit, aku berlari menuju lorong ke arah UGD, yang juga begitu jauh… dengan perasaan tak karuan.

Apa yang kau lakukan Tera? Pisau? Luka sayatan di pergelangan tangan kirimu.. aku tak mengerti. Apa kau tengah melakukan hal bodoh? 

Aku sampai di depan UGD. Ibumu menangis di salah satu kursi. Aku duduk di kursi lainnya, di sampingnya. Tak ada yang bicara satu sama lain, selain isak tangis perlahan. Lampu menyala, kau masih ditangani di dalam sana. Kau dengar aku Tera? Aku di sini menenamimu. Aku tak akan lagi kemana-mana.
Dan sayup-sayup terdengar lagu kesukaanmu bergema di hatiku….

Ucapkan salammu
Pada bulan dan bitang
Mereka yang setia
Menjagamu tidur

Semoga nyenyak tidurmu
Dihiasi mimpi indah…

Hingga lampu padam, dan seorang dokter yang menanganimu keluar dengan wajah yang sungguh tak ingin kulihat.

Tulisan ini adalah hasil tugas GWA ke-2 tulisan yang pertama.

Senja di Pantai

Pantai itu ramai seperti hari-hari libur akhir pekan. Setiap menjelang senja tiba, orang-orang akan berkumpul di sana. Beberapa ada yang menghidupkan kamera, ada juga yang bersiap mengambil gambar. Ada juga yang hanya duduk dan ngobrol. Pantai itu telah dikenal orang menyimpan senja paling rupawan daripada tempat-tempat lain. Terkadang pantai itu pun dijadikan lokasi prewedding.

Senja di pantai ini, pada suatu hari di masa lalu, sempat menjadi saksi impianku, tentang mencintai hingga maut menjemput, tentang masa depan yang saling setia, tentang dia yang tak tergantikan. Tentang pertama kali aku menemuinya. Tentang saat-saat saling mencintai kemudian tak lagi bersama. Senja ini yang akan selalu kutemui sejak ia tak di sini.

Senja di pantai itu seolah memiliki warna yang tak tergantikan waktu-waktu lain. Mereka yang berkunjung menikmati setiap kesiur angin serta bau khas lautan. Menambah romantis suasana pantai tatkala beranjak malam. Semua orang barangkali setuju, bahwa senja selalu saja menyimpan seribu rahasia dan keindahan. Ada yang tak ambil pusing, sebab senja hanya semacam hiasan selayak karang dan buih. Namun ada yang hidupnya habis memandangi senja setiap sore tiba. Sebab ia begitu berbeda setiap hari, juga berbeda makna pada setiap yang memandang. Seperti sekarang, aku melihat senja begitu misteri di ufuk Pantai Parangtritis. Namun senja ini, tetap misteri. Tatkala aku melihat ada separuh hati yang tersisa.

Senja yang menjadi saksi bisu keputusanku. Senja yang berhari-hari setelahnya menemani kesunyianku yang begitu kuat mengiris. Senja yang membuktikan dirinya bahwa tidak hanya warnanya saja yang terasing dari luasnya warna langit, tetapi juga tentang kesendirian yang sudah mulai kujalani.

Di pantai ini senja semburat jingga, menemani kesunyianku. Menemani sepanjang hidupku. Bola oranye menyala yang senantiasa menggantung di antara awan kelabu di perbatasan cakrawala itu. Mengiris waktu, membunuhi ingatan, namun tetap saja, perasaan itu lekat, bagai senja di hati orang-orang yang mempercayainya. Sayup-sayup ombak berbisik membelai pantai, mereka dan senja berubah puisi di hatiku.

Angin menerbangkan helai rambutku. Setahun sudah kupandangi senja setiap sore tiba. Barangkali para penjual dan penduduk di sana sudah begitu hafal dengan kebiasaanku mengunjungi Parangtritis untuk menunggui senja. Entah itu akan kuambil gambar, entah itu kulukis atau kutuliskan. Seperti halnya setiap orang yang berada di sana, mereka akan menunggui momen saat surya menampilan bentuk bulat yang menyala, lalu bergerak begitu cepat seolah tenggelam di dasar samudra. Kecuali bila ia terhalang awan dan terganti gelap begitu saja. Bagiku tak mengapa. Bagaimanapun kelihatannya, ia tetap memiliki arti tersendiri bagi hatiku. Bagi sisa usiaku.

Senja dan perasaan itu, barangkali akan senantiasa ada. Seperti pantai ini, yang riuh dan damai setiap senja menyapa….

Tugas GWA tahap pertama, karya kedua:

–dikirim hari Minggu tanggal 9 September 2012, bersamaan dengan karya yang satunya, sebelum tulisan ini.–

Back to the Past

Terlempar di Zaman Purba

Siang itu perasaanku masih saja dingin, sedingin kutub utara. Sebulan sudah aku patah hati. Dan demi melupakan itu, aku mengambil freelance di toko bunga yang terletak di pusat kota. Maksudnya agar tidak melulu memikirkan sakit semacam itu di waktu-waktu luang.
Suatu hari aku harus mengantar pesanan bunga di apartemen sebelah. Jalanan ramai seperti biasa dan aku berjalan melintasi trotoar, kemudian berbelok ke arah kafe. Tiba-tiba saja seseorang berteriak di belakangku.

“Awas!!!”

Dan setelahnya dunia terasa gelap dan entah bagaimana aku terbangun dengan bingung di suatu tempat yang aneh.

Ini bukan lagi di tengah kota. Tidak lagi di tengah keramaian. Sekitarku adalah padang rumput dengan ukuran besar, bukit bebatuan di kejauhan, dan…

“Garu! Kamu tidak apa-apa?”

Seorang pria berpakaian minim, maksudnya berpenampilan begitu purba mendatangiku. Aku terperanjat sebelum bersiap lari. Ia berbahasa aneh dan anehnya lagi, aku justru mengerti. Aku begitu bingung tentang suasana yang tiba-tiba ini sehingga kepalaku berdenyut-denyut tak karuan.

“Kamu siapa? Jangan dekat-dekat! Tolong!”

Rambut gondrong, pakaian minim dari kulit entah apa juga tongkat panjang yang dibawanya. Ia benar-benar manusia purba. Sementara aku pun heran luar biasa dengan penampilanku yang tak jauh beda dengannya.

“Aku Kharpha! Calon suamimu. Oh mungkin ada yang salah dengan kepalamu karena terantuk batu tadi,” katanya dengan intonasi cepat. Ia tiba-tiba menarik tanganku untuk berdiri,” ayo cepat Gharu. Tidak ada waktu lagi. Kita harus pergi. Daerah kita sudah diinvansi sekelompok banteng liar.”

Calon suami? Invansi banteng? Apa lagi itu?

Belum sempat berpikir, manusia purba itu sudah menarik tanganku sementara suara gedebum dari belakang menciutkan nyaliku untuk bertanya. Barangkali sekitar ribuan jumlahnya, binatang hampir mirip banteng berukuran superbesar sedang menuju arah kami. Kami berlari sekencang mungkin seperti setan jalan. Dan tak lama kami sampai di sebuah bukit, di dalam goa.

Setelah segalanya sudah berangsur tenang, aku kembali mengingat-ingat. Ini pasti ada kesalahan. Beberapa menit lalu aku sedang mengantar bunga, lalu mendadak dunia gelap dan tiba-tiba aku ada di sini. Yang jelas ini bukan di akherat. Mana ada akherat pakai dikejar-kejar banteng?

“Kita di sini dulu Gharu? Kamu pasti lapar. Sebentar, aku carikan sesuatu dulu untuk kita makan. Kamu jangan ke mana-mana.”

Sementara pria purba bernama Kharpa itu menghilang, aku mengambil napas untuk sekedar menerima dan percaya bahwa aku mungkin sedang terlempar di dimensi masa lalu. Di sebuah zaman yang barangkali belum ada teknologi. Kutengok alam di luar sana. Sebenarnya tempat ini jauh lebih indah. Bintang bertaburan dengan begitu jelas. Padang rumput meliuk-liuk diterpa angin juga tetumbuhan raksaasa yang tak pernah ditemui di zamanku. Suara hewan liar terdengar samar. Aku membayangkan sekawanan dinosaurus seperti di film-film.

Tak lama kemudian Kharpa datang dengan seonggok kayu dan seekor kelinci besar di tangan satunya. Ia tersenyum ke arahku seraya menata kayu-kayu itu dan menyalakannya dengan batu. Ia membuat api unggun. Malam yang dingin pun menjadi hangat.

Lelaki itu tak banyak bicara. Seperti sudah terlatih alam, ia menguliti kelinci itu sebelum dijadikannya kelinci panggang. Dari remang cahaya api unggun, sebenarnya bila tanpa bulu, ia begitu tampan. Ia mungkin jenis manusia purba campuran Austronesia-Melayu, seperti yang pernah kutahu di pelajaran Sejarah sekolahku dulu. Dan aku lega ketika aku yakin, manusia purba tidak serupa monyet yang selama ini diyakini. Yah, itung-itung study tour lintas waktu, pikirku dalam hati. Aku tersenyum-senyum sendiri.

“Ini makanlah,” katanya.

“Terima kasih Kharpa,” kataku. “Bisa kau jelaskan mengapa kita terdampar di sini?”

“Kelompok kita sudah pindah, dan kamu sempat hilang. Itu sebabnya aku mencarimu. Aku khawatir kamu dimakan binatang buas. Aku nggak akan ikut pindah sebelum menemukanmu,” jawabnya sambil mengumpulkan daun-daun kering, menatanya di bawah pohon tak jauh dari tempatku, kemudian tidur di atasnya.

Dan entah mengapa mendadak ada perasaan hangat yang menjalar di hatiku. Di zamanku, nyaris tak pernah ada pria semanis itu, rela mengorbankan nyawa demi menyelamatkan perempuannya dari bahaya. Namun itu tak berlangsung lama. Setelah aku tertidur, seseorang memanggilku.

“Mbak… Mbak… sudah sadar?”

Aku membuka mata dan menangkap deretan gedung apartemen. Cahaya matahari menyilaukan mataku.  Ok, itu tadi mimpi atau apa? Sebenarnya aku sedikit menyesal tapi aku yakin pastilah aku sudah kembali ke masa sekarang.

“Apa yang terjadi?” tanyaku.

“Mbak tadi kejatuhan pot bunga dari atas, lalu pingsan.” Seorang pria yang tengah menahan bahuku menjawab.

Sekerumunan orang berangsur pergi setelah melihatku sadar. Dan aku terkejut pria yang kini mencoba menolongku berdiri mirip sekali dengan Kharpa. Hanya saja tentu ia tak berbulu dan memakai pakaian kulit kayu.

“Kharpa?!”

“Apa? Bukan, nama saya Bayu. Mari aku antar pulang,” jawabnya sambil tersenyum.

Mendadak dunia aneh ini pun menghangatkan hatiku. Aku berjalan pulang sambil bertanya-tanya, apa tadi mimpi? Fenomena alam? Atau suatu pertanda?

*karya ini dibuat untuk lomba nulis Gagasmedia, dan dibuat secara ekspress, 1 jam sebelum dikirim