Surat dari Negeri Senja

Hai, A.

Tatkala kutulis ini, aku berharap engkau selalu baik-baik saja. Sedang apa kau di sana? Bagaimana perasaanmu hari ini?

Apakah engkau masih setia dengan kebiasaanmu, menatap jendela setiap bangun pagi yang selalu kesiangan, membuat kopi dengan campuran kayu manis bubuk dan creamer nabati setiap pagi dan sore hari, membaca bertumpuk buku sampai matamu pedas dan berkantung, juga sesekali berbicara pada burung gereja yang gemar mengujungi atap rumah?

A, aku paham engkau sulit berdamai dengan keresahan yang dalam-dalam engkau sembunyikan dan memilih berlari pada kesunyian. Seperti kapas yang rapuh. Bagimu, hidup sering kali bagai lorong gelap tak bercahaya. Atau bunyi kereta yang sebentar lagi hilang dengan sendirinya. Pendiammu itu keterlaluan, A. Aku bahkan sering sekali kehabisan akal untuk sekadar menyapamu.

Ingatkah puisi Subagio Sastrowardoyo yang kita baca bersama dulu A?

Tugasku hanya menterjemah
gerak daun yang tergantung
di ranting yang letih. Rahasia
membutuhkan kata yang terucap
di puncak sepi. Ketika daun
jatuh tak ada titik darah. Tapi
di ruang kelam ada yang merasa
kehilangan dan mengaduh pedih

Melalui surat ini, A, aku ingin mengatakan bahwa aku mau menemanimu berbicara. Aku ingin mendengarmu bercerita. Jangan risaukan kelak, ataupun luka yang datang dari masa lalu. Temuilah kebebasanmu, setidaknya untuk mengakui keresahanmu. Engkau tak sendiri.
Kau harus sadari.

Sesekali waktu engkau berbisik memanggil peri-peri yang kau percaya dapat membawa pergi kesedihan, berharap mereka datang, seperti cerita dongeng kesukaanmu kala usamu masih kanak-kanak. Setiap malam engkau berbisik pada embun dan dingin. Dan setiap itu kau lakukan, hanya angin yang menjawabmu. Rindukah engkau hidup normal seperti yang seharusnya? Jangan tanya mengapa aku tahu semua itu.

Aku bahkan tahu kau selalu menyimpan ketakutan-ketakutan itu. Engkau enggan pada kehidupan. Engkau jera pada harapanmu sendiri. Engkau khawatir ketika mulia melangkah, kau lupa jalan kembali. Engkau takut tatkala mulai jatuh cinta, engkau patah lagi. Lalu akhirnya kau sering kali sembunyi pada topeng-topeng berwajah tawa.

Engkau pun takut mengakui dan membayangkan kejujuran serupa masuk ke dalam jurang, di mana hantu-hantu hutan bersarang. Namun, aku tahu engkau sebenarnya cinta pada hidup. Sebesar engkau cinta pada kematian yang rahasia.

A, ketakutan bukan hal yang salah. Ketakutan membuatmu kuat dan menemanimu menapaki waktu. Sebab kelak ketakutanmu itu menjelma keberanian yang tak kausangka akan hadir, tepat tatkala engkau memerlukan.

A, dekaplah kembali dirimu. Terima apa adanya dan jaga harapanmu. Aku yakin hidup memiliki getar yang bila engkau rasakan, ia serupa napas bagi paru-parumu. Terkadang memang kita butuh penderitaan untuk sekadar membangun imun. Sering kali engkau butuh air mata utuk memaknai tawa. Kau bahkan harus tersesat, untuk menyadari bahwa engkau mesti mencari jalan pulang dan merindukan “rumah”. Aku tahu engkau selalu memikirkan begitu banyak hal yang semestinya engkau biarkan melintas saja.

Tentu kau selalu ingat, A, Tuhan menyayangimu. Mencintai orang-orang yang terjebak dalam ketakutan dan ketakpercayaan, entah kepada dirinya sendiri atau hal-hal di luar itu. Percayalah itu, meski cinta tak selalu berupa wujud. Bukankah demikian?

Sekian suratku, A. Sampai jumpa di senja berikutnya.

diposting di web Ubud Writer Festival rubrik women of letters bertema surat tentang rahasia ketakutanku.

Iklan

episode langit

Di kota kecil ini, setiap siang adalah saat di mana orang-orang angkuh terbangun untuk menggelar panggung. Telingamu akan bising oleh suara-suara yang melengking tajam ketika kau membuka mata, matamu sakit oleh cahaya-cahaya yang menyakitkan, dan kepalamu seperti dihuni ribuan rayap dari berbagai penjuru. Dan dalam kaku dan marah, kita takkan memilih berbicara. Lalu barangkali engkau yang pendatang akan bertanya-tanya bagaimana bisa kota ini kehilangan peta. Kota ini lebih kehilangan langit dan mereka semua bahkan membakar arah. Mereka membangun langit-langitnya sendiri dengan kesombongan. Di tempat ini, cahaya tidak selalu berarti terang atau jawaban yang ditemukan dari kegelapan. Seperti halnya aku yang hidup dalam bayang-bayang rerumputan dan bebatuan yang diam di tepi kali.

Di tempatku berada, malam selalu menjelma sesat, di mana setiap orang menutup semua pintu dan berkhayal tentang kelelawar yang menghisap otakmu tiba-tiba. Tak satu lampu pun menerangi jalan-jalan. Di tempat ini, matahari dapat berhenti bercahaya. Meski setiap orang menudingku aneh karena hanya aku aku mencintai langit malam dan membenci terik yang palsu, tapi tak mengapa. Bagiku langit adalah kekasih sejati dengan segala aksara dan rahasianya. Demikianlah bila aku telah menyimpan sesuatu yang takkan kau urai.

Aku akan selalu suka malam juga hal-hal yang tak disukai orang-orang di kotaku. Barangkali sejak aku harus berpisah denganmu kala itu. Sebab siang dan orang-orang adalah dua hal yang tak menyukaiku. Maka mudah bagiku mengunjungi malam dan lari ke arah pekatnya sementara mereka menutup pintu dan kami tak saling mengganggu. Kurasa tak pernah dan nyaris tak ada yang sempat bersamaku menemukan langit begitu indah di malam hari. Ada ketidakbatasan yang selalu kupertanyakan. Selalu ingin kutuju. Pada suatu hari nanti, kukhayalkan, aku ingin membongkar langit, membangun menara, dan menyimpan semua hujan. Mungkin supaya dapat kusimak engkau dari arah sana. Memastikanmu bahagia.

Aku yang di tempat ini, aksara yang diabaikan waktu, dijauhi musim, dipisahkan dari angin. Aku yang kini menutup semua pintu entah demi apa. Dan hingga detik ini aku masih saja menyimpan sajak-sajakmu. Meski aku belum pernah tahu apa yang kelak dapat menghentikan perasaan itu.

 

(untuk Tuhan dan hari-hari yang senantiasa berganti)

Surat Kepada Kesendirian

Kepada Kesendirian,

Lalu sampailah kita pada hari ini, yang tak pernah aku tunggu dan tak kubayangkan.
Tapi bukankah hidup juga tidak hanya tentang menunggu dan membayangkan? Kata orang, ia butuh dijalani.

Kupu-kupu akan terbang melintas bunga seperti musim kemarau yang biasa, hujan akan merintik jalan-jalan pada musim hujan yang biasanya. Dan burung-burung melintasi embun. Lihat bahwa sekawanan capung kemarin hari menghinggapi bambu-bambu dan kini mereka tersesat karena rumahnya terganti pertokoan. Tidakkah engkau lihat kunang-kunang tak lagi mengunjungi taman-taman kota? Apakah engkau mengamati mengapa senja begitu cepat disergap gelap? Senja yang selalu kita kenang itu? Dan bukankah dalam hidup kita terkadang digariskan bertemu untuk jatuh cinta dan kemudian mengambil jalan masing-masing?

Saatnya pulang dari pengembaraan panjang, menutup pintu, menyimpan rapat rindu. Sudah waktunya menutup gerbang-gerbang mimpi, bagi hal-hal yang tersembunyi jauh di dalam sana. Meski aku mengerti, tak ada yang berhenti dari mimpi, kecuali akan selalu bergandeng tangan dengan kenantian. Aku ingin engkau berbahagia, menelusuri seluruh sudut dunia yang tak kutahu, sementara aku menghitung ranting yang kering dan menuliskan sajak dari daun-daun yang berjatuhan di halaman.
Kita tahu, setiap sepi akan kembali ke hadapan perenungan. Seperti setiap tinta akan bermuara pada lembar-lembar catatan.
Dan setiap cinta akan dilabuhkan ke lautan.

Barangkali sudah cukup rasanya, aku jatuh cinta pada hidup dari sudut kesunyian…
Sekalipun indah, tapi biarlah, seperti halnya kafein, tidak baik bila dikonsumsi berlebihan dan menjadi kebiasaan…

Temanmu, yang Dijemput Keramaian

Surat dari negeri hujan

Dear Penghuni Bulan,

Pernahkah engkau mendengar dongeng tentang peri pemetik air mata?

Apakah kehidupan memang lahir dan berakhir dari air mata? Hm, aku ragu. Terlebih tatkala kubuka kunci ingatan melalui foto-fotomu yang engkau kirim dari negeri bulan. Lalu, sekelebat kenangan menghangat, sejak bertemu engkau pertama kali, tatkala aku belum berdamai pada air mata. Kurasa air mata adalah kesedihan yang gelap dan beku. Maka kita tak boleh memilikinya. Kemudian kehidupanku terus berjalan dengan kita berdua main kucing-kucingan. Tahukah bahwa dalam jarak yang begitu jauh dan dunia yang begitu diam ini, aku selalu mendengar sayup detak jantungmu, menyimak tidurmu, menghafal kebiasaanmu tatkala pagi, dan menerka jam bepergianmu di kala malam, juga selalu dapat menatap keindahan yang engkau tangkap lewat matamu. Seperti segenap kartu pos hasil cuilan air laut yang engkau kirim dari negerimu. Selalu saja aku ingin mencuri-curi kesempatan untuk bisa minggat ke negerimu, tapi kata ibuku, negerimu begitu jauh dan tak terjangkau, aku takkan bisa menempuhnya. Dan aku takkan tahu bagaimana cara pergi ke sana. Ibuku tak pernah percaya bahwa sesungguhnya kita memiliki peri-peri ungu yang setia mengantarkan surat-surat kita tepat waktu, berserta kiriman ekspresi wajah kita dan musik-musik yang kita saling tukar.

Aku bahkan selalu suka melihat rautmu yang memberengut setiap aku terlihat tak memerhatikan perkataanmu. Aku bahkan sampai menghafal eskpresi kecewamu. Sesungguhnya, aku hanya banyak bersikap dingin pada orang yang membaut hatiku nyaman. Takkan kubiarkan ia menemukan pipiku yang merona karena malu dan peri-peri ungu memotretnya untuk dikirim ke negerimu. Meskipun aku akan gagal bersembunyi dari tawa yang lepas tatkala engkau berbicara hal-hal konyol. Peri-peri itu terlanjur merekam tawaku untuk dilempar ke negerimu, ah, pasti wajahku buruk sekali.

Namun, tak kupungkiri, aku juga suka caramu tertawa, lalu dalam diam-diam itu, aku akan senantiasa menyimpan tawamu itu yang menjelma butir-butir berbentuk tetesan embun yang mengkristal, telah kusimpan mereka sejak kita memiliki kebersamaan yang aneh ini. Kini semuanya telah memenuhi dinding kamarku hingga penuh. Hingga aku begitu sedih bila suatu saat aku akan berhenti mengumpulkannya.

Siapa yang tahu tentang nasib seseorang di masa depan? Dan kau takkan menyadari itu. Kau takkan menyadari bahwa aku membenci pagi sejak kutahu hanya pada malam hari aku dapat bersamamu. Menemuimu.

Tapi selalu saja, aku akan menghilang dengan bodohnya, tatkala engkau mulai menemuiku. Aku takut engkau menangkap air mataku yang tak pernah kutahu mengapa bisa begitu mudah membanjir ketika mengingatmu. Aku selalu takut, kenanganmu selalu dapat mengalahkan segalanya yang kusebut kenangan selama ini. Kau tahu kenapa? Sebab selama ini aku tak menganggap kenangan adalah kecacatan, maka ia tak akan kubuang sia-sia. Seperti juga uraian kenanganmu yang selalu aku dengarkan dalam kebahagiaan, melalui surat-suratmu. Namun semenjak itu, tak pernah aku berani memilikimu. Ingatkah engkau tatkala aku bercerita tentang masa kecilku? Aku menelusuri sebuah hutan dan menemukan bunga yang begitu indah dan berwarna abu-abu, warnanya membuat perasaanku damai, dan bunga itulah yang terindah dari yang pernah kulihat. Maka dari itu, aku takkan berani memetiknya. Aku takut melihat bunga itu layu bila dipetik, lalu mati dan bentuknya akan terus membuatku terluka. Maka aku menjaganya dengan membuatnya tetap menjadi rahasia. Demikianlah yang kurasakan.

Tapi aku memang mencintai kebersamaan denganmu–yang membuatku selalu mau menunggumu, dan aku selalu rela membebaskanmu, berdoa agar kamu selalu bahagia, juga akan bersedia membaca setiap suratmu. Dan, ah, kau telah bosan bila menemukan kenyataan itu, bosan mendengar hal yang sama. Barangkali ada juga satu jenis perasaan yang bisa mendebukan perasaan lain yang kukira sudah sedemikian mapan, hanya karena satu orang yang tak pernah dimiliki. Dan aku akan bersedia menyimpan perasaan itu bertahun kemudian bila itu harus kulakukan. Sebab di negeriku aku telah banyak diajari menjadi membosankan dan menyimpan air mata rapat-rapat, menyimpan kebahagiaan rapat-rapat, juga barangkali menyimpan kematian rapat-rapat..
Apakah saat menerima surat ini, kamu sedang bahagia? Aku bahagia bila kamu bahagia. Kau tahu, aku selalu kagum cara negerimu mengajarimu soal menanam dan menyemai kebahagiaan.

Rasanya di negeriku, kehidupan memang terbentuk dan lahir dari air mata, seperti yang pernah diucapkan seorang penyair yang menyukai senja. Tapi pernahkah engkau mendengar dongeng sekawanan peri yang membawa air mata dari bawah bantal kita yang basah bila kita tengah bersedih di tengah malam dan di tengah tidur?

Baiklah kuceritakan.

Peri-peri itu datang dari negeri yang sangat jauh. Mereka hadir diam-diam di kala semua orang tertidur. Di tangannya mereka membawa dua keranjang kosong untuk memunguti air mata yang tersimpan di bawah bantal. Mereka menadah butir air mata yang jatuh dari pelupuk orang-orang yang bersedih dan peri-peri itu mengubahnya jadi kristal. Meskipun tak lebih besar dari biji kenari, tapi keranjang yang mereka bawa itu mampu menampung seluruh air mata kesedihan di negeri bumi. Karena semua orang tak mengetahui perihal itu, maka mereka mengira yang terbang dan beribu jumlahnya itu hanya kunang-kunang atau sekawanan lebah.

Peri-peri itu mencari setiap air mata dan membawanya dalam bentuk kristal bening. Konon air mata itu dikumpulkan ke negeri mereka, di dalam ceruk-ceruk gua, dan peri-peri itu selalu tak pernah kehabisan stok. Dalam air mata itu, tersimpan seluruh kenangan yang diteteskan oleh si empunya air mata. Maka bila butir-butir kristal air mata itu didekatkan di telinga, engkau akan mendengar berbagai kisah yang dialami orang-orang. Bahkan engkau bisa melihat sebuah dunia di sana bila engkau dekatkan kristal itu di depan mata. Juga akan kau temukan setiap rahasia yang tersimpan rapat-rapat. Peri-peri akan menjaganya supaya tidak seorang pun mencuri lalu menjualnya di jalan-jalan.

Betapa selalu absurd cerita-cerita yang berasal dari negeri dongeng. Haha, sudahlah.

Namun, tahukah engkau, suatu hari aku terbangun pada pagi hari yang menjemukan sepeti biasa, aku melihat sekawanan peri-peri itu dalam cahaya kehijauan menjinjing keranjang besar dan meninggalkan kamarku. Semula kukira mereka hanya arak-arakan sekawanan capung. Mereka terbang entah ke mana dan hanya kutangkap ekor cahayanya. Sampai surat ini selesai kutuliskan, aku masih tak tahu, apa yang baru saja mereka bawa dari dalam kamarku semalaman.

Kau percaya itu?

Dari temanmu di Negeri Hujan

 

 

*terinspirasi cerpen Agus Noor tentang peri pemetik air mata

Ending

Dear Nur.
Saat surat ini kubuat, aku sedang mencari kesibukan untuk melupakan segalanya tentang dia. Peristiwa putus memang bukan hal besar karena setiap orang barangkali pernah mengalaminya. Tapi aku sadar, pacaran memang membuatku melupakan banyak hal.

Hubunganku yang kesekian kalinya ini cukup membuatku lelah. Rasanya hanya kertas dan imaji yang selalu setia menemani hari-hariku belakangan ini. Musim hujan belum habis. Pekerjaanku yang freelance alias tidak mapan, membuatku sering kali menemui sosok-sosok aneh di sekitarku. Mereka mengajakku ngobrol. Mengusik lamunanku. Hei, percayalah bahwa mereka ini benar-benar nyata. Aku juga heran sendiri kenapa bisa demikian. Aku selalu dianggap tak waras tatkala ini kuceritakan pada teman-temanku. Mereka mengiraku stres ala perempuan lajang yang tidak juga nikah.
Mereka yang kumaksud itu adalah tokoh-tokoh dalam cerpenku.

Yeah. Sudah kali kedua ‘sesosok tokoh’ mengganggu aktivitas tidur pagiku. Ia seorang perempuan. Usianya sekitar 23 tahun. Berwajah manis, tapi juga tidak bisa disebut cantik. Wajahnya oriental. Dia masih muda memang. Ceritanya dia ini buruk rupa—bagi orang Indonesia. Atau barangkali hanya salah pasar saja, sebab tipikal kulit cokelat rambut hitam, pendek, dan pesek itu bagi para bule sungguh eksotis.

Seperti halnya pagi tadi, ia berteriak-teriak tak jelas dari jendela rumahnya yang letaknya persis di depan kamarku. Tak peduli bahwa aku belum siap bangun. Tak peduli dengan tampang kelelahanku yang sering begadang malam hari ini, yang jelas perempuan ini sedang memperjuangkan sesuatu. Kau tahu untuk apa ia berteriak pagi buta sambil melempari kaca jendelaku dengan potongan genting? (untung nggak sampai pecah) Cuma minta nasibnya diselesaikan. Dasar tokoh cerpen!

“Please, aku tersiksa bila kau biarkan aku begini menggantung.” Begitu ia mengatakan. Tokoh yang waktu itu kunamai Reyna.

Saat itu, aku dan dia sempat berdebat panjang. Sebab aku memilihkan namanya dengan asal. Dan aku juga tak tahu apa artinya selain hanya kelihatan wanita. Dia minta dinamai Zazkia, tapi aku tak suka nama itu. Lalu dia ingin dinamai Sekar agar secantik bunga. Tapi aku tak menyetujuinya. Dia ngambek meskipun sebentar. Sungguh Reyna tokoh cerpen paling bawel yang pernah kukenal.
Tapi aku pun mengerti, jahat bila aku tak menyelesaikan mereka karena kesibukan kerja dan sibuk melupakan masa laluku. Yeah, aku memang penulis yang kurang menggarap mereka dengan baik. Akhirnya sore ini, usai hujan reda, sambil kulantunkan puisi musik Sapardi Djoko Damono yang amat mix dengan dingin sore hari, akhirnya kuhidupkan komputer tuaku. Mencari file yang ia maksud. Astaga. Benar.

Sudah 3 bulan Reyna dan kawan-kawannya kubiarkan menggantung.
Oke. Baiklah. Sembari kubaca ulang, kucari ide untuk menyelesaikan sepenggal cerpen ini.
Reyna, dalam cerpenku, adalah seorang gadis muda yang bekerja di toko peralatan melukis. Ia tinggal di sebuah kota dengan orang-orang yang berbeda padangan soal hidup dan waktu. Kota tua yang sibuk dan plural. Sebagai penjaga toko lukisan, ia sering kali kedatangan pelanggan yang macam-macam. Kadang mereka datang dengan pakaian amburadul, kurang tidur, dan tak jarang juga yang rapi-rapi. Mungkin yang rapi-rapi ini sedang mencari barang-barang untuk dihadiahkan kepada orang-orang terkasih.

Reyna menyukai pekerjaannya, karena disamping ia suka mengamati orang-orang, lukisan dan warna-warna, ia juga dapat melihat
“matahari” terbit di sana. Oke, istilah matahari merujuk pada perihal yang tidak sebenarnya. Nanti juga engkau akan tahu.
Hidup perempuan ini seperti diatur oleh refleksitas hidup. Bangun tepat jam 5, kemudian sarapan jam 6 pagi, menunggu bus jam 7 pagi hingga sampai kantor jam 8 pagi. Ritme rutinitas sesungguhnya membuatnya bosan. Tapi kali ini tidak. Sebab Reyna jatuh cinta dengan teman sekantornya. Namanya Bayu. Untung Bayu tidak protes dengan namanya sendiri.
Jalaran tresno amargo kulina memang benar adanya bagi Reyna, nggak ada cinta yang datang dari pandangan pertama. Bayu memang ganteng, tapi tipe wanita seperti Reyna butuh proses untuk menilai kegantengan. Ganteng hanya kesadaran lapis lanjutan ketika sudah mengenal kepribadian atau hal-hal yang immaterial. Berbeda dengah lelaki yang cenderung melihat cantik dulu baru kepribadian.

Reyna baru merasa ada getar indah ketika menyadari Bayu rajin salat, menghormati orang tua, jujur dengan hal kecil sekalipun dalam pekerjaannya, sederhana, dan tidak mata kranjang. Malah cenderung dingin dengan perempuan yang bukan temannya.
Sikap dingin itulah yang membuat Reyna terpesona. Terlebih ketika menyadari Bayu-lah satu-satunya yang baik kepadanya tanpa peduli SARA, satu-satunya pria yang tidak bertanya kenapa hidupnya begitu pesek misalnya.Ia berwajah ganteng, pintar, juga pekerja keras.

Sungguh sialan, pikir si Reyna. Tapi bagaimana kau bisa mencegah diri sendiri untuk tidak jatuh cinta setelah setiap hari berjumpa? Sekalipun, yeah, percakapan yang terjadi hanya maksimal “selamat pagi”. Apalagi Bayu tipe yang hemat bicara, termasuk terhadap perempuan berkulit cokelat dan tidak mancung ini. Reyna bahkan mengaku, sebelum aku menggiringnya untuk jatuh cinta pada Bayu, tokoh ini sudah jatuh cinta duluan.

Aku jadi bingung.
Bayu telah menjadi matahari bagi Reyna. Tapi Reyna tak tahu bahwa diam-diam aku merencanakan perjodohan mereka, haha. Sebab Reyna berharap andai ia tak jadi dengan Bayu, ia ingin dijodohkan dengan tokoh yang mirip Andrew Garfield. Huft, maunya. “Atau bikin saja aku jadi kupu-kupu dan melupakan perasaanku,” begitu katanya. Tapi kalau sudah begitu naskahku ini nggak akan jadi cerpen, tapi novel.
Namun yang jelas, Reyna sedang jatuh cinta dan ngarep sejuta umat dengan ending ceritanya sendiri. Baiklah…

Dear Nur.
Tiga hari setelah itu, aku kembali menggarap cerpen itu lagi. Reyna sudah bertopang dagu di belakang meja kasirnya. Di kejauhan sana Bayu sibuk dengan orderan dan telepon yang setiap menit berbunyi.
Tapi… Reyna di dalam cerita ini adalah orang yang cukup tahu diri. Maka ia tak perlu melakukan usaha apa pun untuk sekedar dekat, atau ngajak ngopi, atau ngajak nonton, atau ngajak jadian. Bisa-bisa menyesal tujuh turunan karena ditolak.
Cukup ia menyukai si pria dari jauh. Maka si pria ini menjelma semacam wewangian yang selalu membuatnya memiliki semangat hidup dan kesehatan jiwa raga yang baik dalam keseharian. Mirip aromaterapi. Tak perlu ia meminum. Cukup membaui aromanya dari kejauhan.
Sungguh pria ini memiliki feromon yang kuat yang selalu membuatnya rindu. Tentunya diam-diam.
Singkat kata, Reyna tetap menjalani hari-harinya seperti biasa. Ia membaca novel di kala senggang, meminum kopi instan dengan merek yang sama setiap jam 3 sore, menyetel musik-musik aliran Melayu di playlist-nya (atau bisa saja jenis pop, atau lebih baik musik bertema nasionalisme, entahlah), lalu pulang pada jam 8 sore.  Dan terjadilah apa yang dinamakan suspens cerita.

Aku mengubah cerita, yang semula perempuan ini berakhir tertabrak kereta dalam keadaan sendiri dan nelangsa, kuubah jadi ending bahagia… Reyna sudah menangis duluan sebelum ending tragis itu kucoretkan di draft. Aku tak tega. Tentu saja, aku hanya bercanda soal tertabrak kereta itu.
Rupanya Bayu ini sakit mata. Sebab sejak ia bekerja di toko itu, pria ini juga diam-diam mengagumi Reyna. Ia bahkan membaca apa yang dia baca, meminum kopi yang sama di rumahnya, menghafal rutinitasnya juga, seperti bus apa saja yang Reyna pakai setiap hari. Lebih sinting lagi, dia mengumpulkan foto-foto hasil jepretannya diam-diam, isinya tak lain tak bukan adalah sosok si Reyna. Bedanya, Bayu tak seceroboh Reyna. Nah, nanti kau juga akan tahu seceroboh apa Reyna itu.

Sungguh Bayu jadi mirip pengagum yang agak psikopat. Tapi dia pria normal dengan latar belakang keluarga yang bahagia. Hanya
mengalami delusi akibat mencintai diam-diam. Begitulah orang yang diam-diam mencintai namun tak memiliki cara untuk memulai, terlebih mendekati.
Beberapa kali mata mereka berpapasan. Cara Reyna menatapnya saat berpapasan itu pun tertebak juga. Bayu meresa perasaannya tidak bertepuk sebelah tangan. Bahwa pada suatu sore kupertemukan mereka pada sebuah moment konyol, di mana Reyna menyimpan foto Bayu di komputer kantor, dan lupa menghapusnya ketika Bayu memperbaiki internetnya yang error. Haha, sengaja kubikin komputer Reyna error dan tak ada seorang pun di ruangan itu kecuali Bayu.

Reyna terkejut dan salah tingkah begitu menyadari bahwa ia menyimpan foto-foto lelaki ini di sebuah folder file kantor. Apalagi
dalam folder yang sama, ia juga menyimpan artikel yang ia buru dari internet “Menjadi Istri Solehah.”, “Cara Mendekati Pria Pendiam”, dan masih banyak lagi.
Itu membuat Bayu ngakak. Mereka pun ngobrol. Tapi tidak tentang mengapa fotonya ada di folder itu. Meskipun pada hari itu,
peningkatan hubungan mereka telah memasuki level lanjutan, di mana Reyna menanyakan Bayu asli dari kota mana, dan Bayu menanyakan kapan terakhir komputer diinstal.

Di akhir cerita, di suatu hari menjelang musim kemarau tiba, Bayu meletakkan sebuah cincin di laci meja si perempuan, dengan
taruhan harga dirinya sendiri, bersama sepucuk surat berisi hal yang membuat Reyna melompat. Ia mengajaknya menikah. Dan si perempuan pun pingsan atau mungkin sakit jantung, atau sederhana saja: bahagia tapi hanya bisa menangis sesenggukan—entah mana fokus yang harus dinarasikan… Aaarrggh…
Sebenarnya sampai di sini aku masih bingung bagaimana mengatur ending-nya. Rasanya malah seperti cerita biasa saja tapi berlebihan. Tapi kalau happy ending sebiasa film drama, kalau sad ending kasihan pembaca.

Nur, aku masih memilin-milin rambutku sambil mengamati kebun di luar jendela kamarku, memikirkan ending dari cerpenku.
Yeah, kini aku melihat Reyna dan Bayu adalah sepasang kekasih yang takkan terpisahkan oleh proses editing apa pun. Mereka saling menggegam tangan dan berpesan padaku, “Kelak bila editor mau mengedit konten cerita kami, jangan ditambahi orang ketiga ya. Aku sungguh nggak tahan dengan kondisi cemburu.” Bayu berujar. Reyna sepakat dengan itu.

Kini selesai kurampungkan mereka, kumatikan komputer, dan kurebahkan tubuhku memandang langit-langit kamar. Reyna dan Bayu adalah salah satu dari sekian banyak tokoh yang berhasil kuselesaikan dengan ending bahagia.
Tapi Nur, kapankah akhir bahagiaku sendiri datang?

Hidup itu sendiri, ilusikah?
Ah, Nur, kau pun hanya teman imajiku…

*Cerpen ini ditulis tahun 2013 awal dan telah direvisi. Cerpen ini juga yang sempat membawa saya lolos sebagai peserta sebuah event kampus penulisan di salah satu penerbit di Yogyakarta untuk tahun depan. Tapi sepertinya saya nggak janji bisa datang 🙂

Negeri Mesin

Cerita dalam film animasi tanpa dialog, bisa menjadi kisah dengan beberapa sudut pandang. Rasanya ingin kucoba menuliskan ceritanya dengan persepsiku sendiri.

Seorang perempuan dari suatu tempat di bumi menyendiri di sebuah taman. Ia muda, ayu, dan berambut kecokelatan. Hampir setiap hari ia suka duduk memandangi bunga-bunga di sekitarnya dan membiarkan mereka tumbuh dengan sendirinya. Sesekali ia penasaran, kemudian mencium wangi bunga-bunga liar itu dalam-dalam. Sementara, di atas sana bulan tengah purnama. Betapa bulan itu seperti dirinya. Sendirian.

Suatu hari seorang laki-laki dari negeri antah berantah datang. Ia terpesona pada si gadis yang jelita itu. Laki-laki ini membawa sebuah kuda berbentuk robot, atau mungkin robot berbentuk kuda. Entahlah. Tapi makhluk itu membuat si gadis terkesima. Belum pernah ia melihat hal seperti itu sebelumnya. Tapi dari manakah si lelaki ini datang? Tidak di bumikah?

Si kuda cukup penurut. Ia mengambilkan salah satu bunga di taman itu dan memberikannya pada si gadis yang masih heran. Tentulah ia tercengang. Ada seekor kuda bisa memetik bunga layaknya manusia. Ia mengagumi si kuda aneh itu. Terutama pada si lelaki–si pembuat itu.

Konon, kata si pria, di negerinya, banyak orang pandai membuat mesin. Mereka dapat menciptakan dunia dengan isi kepala. Ide dan gagasan sebagaimana tuhan. Dapat mengatur segala yang hidup. Seperti mimpi.
Gagasan itu tentu terlalu tinggi bagi pemikiran si gadis yang sederhana itu, tapi ia jatuh cinta pada si lelaki.

Kuda itu dapat terbang. Hati si perempuan pun ikut terbang. Pada akhirnya mereka pun menyadari telah saling jatuh cinta. Singkat kata, mereka akhirnya menikah. Si pria sering kali bercerita tentang negerinya. Namanya negeri awan. Ia adalah salah satu insinyur. Katanya “di bumi yang telah sempit ini, semuanya takkan bertahan lama. Segalanya akan punah. Tapi di negeriku, segalnya abadi. Manusialah yang menentukan kehidupan. Bukan malaikat, bukan siapa-siapa. Tinggalah di sana bersamaku.”

Dibawanya si gadis terbang dengan sebuah mesin berbentuk perahu dengan balon udara di atasnya. Mungkin semacam pesawat. Dibawanya ia terbang jauh dan si perempuan tak henti-hentinya memerhatikan angkasa. Pun tak henti-hentinya terbelalak ketika telah sampai di negeri awan yang elok itu. Negeri dongeng yang sering diceritakan suaminya.

Kota itu memang sungguh menyenangkan. Rapi, padat, dan sibuk. Ia tak menyangka sejenius apa penduduk yang pekerjaan sehari-harinya menciptakan mesin, hidup dengan kemudahan mesin, dan menciptakan keindahan-keindahan tersebut dengan serangkaian mesin?

Pada suatu sore, ia ingin jalan-jalan mengelilingi kota yang sibuk itu. Ia ingin sendiri, seperti tatkala sebelum menikah, menikmati sore dan bunga-bunga. Ia berjumpa dengan seekor anjing lucu yang membuatnya kagum dan gemas. Namun ia tersadar seketika sebab si anjing bukanlah makhluk, melainkan salah satu robot. Tidak hanya itu. Rupanya tumbuhan dan rumput-rumput di negeri itu pun juga buatan manusia.

Sepanjang jalan, ia tak juga menemukan bunga-bunga yang segar di malam bulan purnama, tak lagi dijumpinya kupu-kupu yang terbang alami, tak dijumpainya kehidupan sebenarnya. Dalam rindunya akan bumi, ia bertanya, apa artinya ini semua? Barangkali ia tak butuh keabadian bila segalanya palsu. Ia bersedih hati. Ia rindu kembali ke bumi, tapi ia juga mencintai sang suami.

Tak lama ia meninggal dalam penderitaan dan bimbang.

Si suami merasa terpukul. Sang insinyur itu merasa sangat kehilangan. Tak pernah dirasakannya rasa pedih yang demikian. Dipungutnya bunga hias milik istrinya yang sempat ia buang, sebagai cara mengenang yang tiada. Tapi ada kekosongan sangat yang mulai ia sadari, sama seperti istrinya sebelum ia pergi. Ia tahu, keahlian dan kegeniusannya tak bisa membuat kekasihnya bahagia, tak pula membuat si istri bangkit lagi dari kuburnya.
Si insinyur hanya bisa membuat boneka robot yang menyerupai mendiang istrinya, juga sebentuk jantung yang hanya dikendalikan oleh mesin. Sembari menghabiskan usianya yang sia-sia.

*Short film berdurasi 9 menitan ini berjudul Invention of Love (dibuat oleh Andrey Shushkov).

Film ini sungguh bikin sedih.

Sebentuk Mimpiku

AKU lupa di mana kutaruh mimpi. Kemarin hari masih tergeletak dengan tak berdaya di atas meja kerjaku, di dalam kotak kaca besar yang biasanya dipakai untuk akuarium. Ia berbeda dengan mimpi-mimpi yang lainnya. Tidak seperti yang kualami biasanya. Mimpiku yang satu itu kumiliki dan kurawat sejak beberapa bulan lalu—sejak ia tiba-tiba bertengger di jendela kamar kosku.

Dan baru saja kutinggal tidur sore ini, sudah raib di kegelapan. Kantor tentu masih buka. Bila kubuka tirai jendela dari ruanganku, terlihat di luar sana jalan masih ramai. Mereka semua barangkali bergegas ke rumah, untuk pulang, atau mungkin saja mengisi malamnya entah ke mana. Tapi aku yang anak perantauan tak selalu merasa wajib pulang. Apalagi di kantorku tersedia ruang bila karyawan akan menginap jika perlu menyelesaikan pekerjaan sampai selesai. Bagiku pekerjaan selalu nomor satu dibandingkan hang out atau sekadar nongkrong di kafe. Barangkali karena sebelum menjadi pegawai kantoran, aku terbiasa dengan kesendirian. Di samping itu, pada dasarnya, aku toh tak suka berada di antara banyak orang yang tidak membicarakan hal-hal yang kupahami.

Kuamati seluruh ruangan, dan tak ada tanda-tanda sedikit pun mimpi itu menempel di salah satu sisi dindingnya. Di balik figura yang membingkai karya sketsaku pun tak ada. Apakah si mimpi sedang bermain petak umpet? Oh, tiba-tiba aku merasa bersalah. Mungkin dia bosan lalu melepaskan diri dari sangkar kaca. Mestinya aku ajak dia sesekali berjalan dan menikmati kesibukan. Bukan dibiarkan saja seperti hamster di pojok ruangan sekretaris bosku. Aku jadi menyesal mengapa aku harus ketiduran di sofa hanya karena terlalu ngantuk baca naskah klien yang panjang, berbelit, dan tidak bermutu, terpaksa harus kurombak total untuk diterbitkan. Si penulis ini kebetulan adalah adiknya bos, sehingga mau tak mau novel itu harus terbit. Dan buruknya, harus terbit dengan tampilan yang sesempurna mungkin. Dan akhirnya aku kecapekan dan marah dengan diri sendiri. Bosan kutinggal tidur. Tapi mestinya aku tak melupakan bahwa aku masih punya sebentuk mimpi di atas meja kerjaku. Ia yang justru lebih berharga daripada pekerjaanku sendiri.

Dia satu-satunya yang kumiliki. Sepenting kucing bagi pecintanya. Jenis mimpi ini tak bisa berjalan-jalan sendiri di lorong-lorong, ia juga tak pernah lapar lalu mencari makan sendiri, atau merampok kantin. Biasanya bila lapar, aku yang akan mencarikannya, bahkan terkadang harus disuapi.

Sungguh, mimpiku ini sebetulnyaa amat pasif dan tergantung padaku. Mau aku apa-apakan pun ia tak protes. Tapi apakah justru karena aku terlalu seenaknya, sehingga ia pergi tiba-tiba seperti malam ini? Ia marah padaku? Apakah ia sudah lama ingin meninggalkanku? Ataukah ia merasa ia terkhianati? Sebab meski sebentar aku tertidur, aku seperti mengunjungi mimpi yang lain, bahkan lebih dari mengunjungi, aku memakannya, melumatnya, menghabisinya, bermain layang-layang dengannya, lalu aku terbangun begitu saja. Dan terkejut ketika kusadari mimpi yang kutaruh di dalam kotak kaca itu sirna.

Terpaksa kutinggalkan setumpuk pekerjaan ini dan mencoba keluar ke ruangan lain. Mataku memicing, menelusuri sudut demi sudut. Beberapa karyawan bagian keuangan masih di sana. Mereka ngobrol sambil minum teh. Lamat-lamat kudengar mereka berbicara seputar kabar terbaru artis sinetron.

“Kamu nyari apa?” salah satu menengok ketika menyadari aku celingukan menelusuri lantai.

“Mimpi. Kalian lihat dia lewat?”

Alih-alih menjawab, mereka malah mengernyit heran dan saling pandang. Ketika aku berlalu mereka bisik-bisik. “Dia gila ya?”

“Biasa, namanya juga anak redaksi. Mana ada yang tidak gila?” yang lain menyahut, dengan berbisik pula.

“Atau bisa saja, dia mulai sinting sejak putus dengan cowoknya dua tahun yang lalu.”

“Oh, benar juga….”

Lalu aku sampai ke dapur. Office boy heran melihatku kebingungan dan menggeledah seluruh kolong meja.

“Nyari apa Mbak?”

“Mimpi saya, Pak,” jawabku. “Lihat tidak Pak?”

Office boy ini satu-satunya yang mengerti apa maksduku, bahkan mengerti karakter semua karyawan di gedung ini. Dan selalu berusaha nyambung dalam percakapan tak biasa sekalipun.

“Oh.. nggak liat tuh Mbak. Kok bisa ilang gimana?”

“Gak tahu Pak, tadi saya sempat ketiduran, lalu bangun-bangun mimpinya udah nggak ada.”

“Wah, aneh ya Mbak.”

“Aneh kenapa Pak?”

“Soalnya saya punya juga, koleksi malah. Tapi gak pernah ada yang hilang walaupun ditinggal ke mana-mana… wong kalau pagi itu suka pada terbang jauh, terus sorenya balik lagi ke kandang….” Si Bapak menjelaskan panjang lebar seperti menjelaskan ciri segerombol merpati peliharaan.

Tapi malah tiba-tiba aku jadi sadar, bisa saja mimpiku dicuri.

“Aduh, gawat dong Pak!”

“Gawat kenapa Neng?”

“Mimpi saya mungkin dicuri orang.” Saya mulai gelagapan.

“Duh. Bagaimana bisa Neng, kantor ini kan aman?”

“Bukan maling. Mungkin ada orang yang bekerja di kantor ini dan tertarik dengan mimpi saya.” Aku mulai menuduh.

“Hm… bisa jadi Neng.”

Aku merasa sedih.

Dan seusai aku meningalkan dapur, si office boy memegang jidatnya, barangkali ia tak benar-benar paham arah pembicaraanku. Ia lantas bertanya pada penjaga kantin. Apakah yang dimaksud ‘mimpi’ sampai hilang dari kandang dan dicari-cari? Sebab ia lebih paham bahasa daerah darapada bahasa nasional.

Aku harus segera menemukannya. Segera, bila tidak barangkali aku akan kehilangan nafsu makanaku beberapa hari lagi. Aku tak mau kehilangan dia. Aku belum siap berpisah dengan mimpiku itu. Dan aku janji dalam hati untuk mengajaknya jalan-jalan sore setiap hari.

Seorang pria keesokan harinya itu membawakan mimpiku ke kantor. Tampan dan kelihatan sederhana dengan wajah yang belum sempat dicukur. Tapi aku selalu risih dan tak nyaman dengan orang yang punya penampilan tampan. Entah kenapa. Ada sesuatu yang tersirat dari sorot mata itu, mengingatkkanku pada seseorang yang pernah kutemui di dunia mimpi. Entah kapan, tapi cukup membuat detak jantungku mendadak memiliki ritme aneh.

Katanya si mimpi tergeletak begitu saja di depan rumahnya. Aku tak percaya, tapi mimpiku benar-benar ada di genggamannya. Aku menerima dengan ragu, si mimpi menjauhiku, masih ingin lekat-lekat pada sang pria. Berloncatan seperti kera. Tangan saya jadi gatal untuk menempeleng si mimpi saya yang bandel itu.

Ia tersenyum.

“Saya mau mengembalikan ini. Untung si mimpi bisa menjelaskan di mana alamat kantor Mbak. Tapi saya gak tahu kenapa mimpi Mbak seperti gak mau jauh-jauh dari saya.”

Aku menerima setengah memaksa. Tapi tak bisa. Si mimpi tenggelam dalam pelukan si pria. Pria yang benar-benar tak kukenal dan suka nyengir tak jelas ini. Aku gelisah dan pengin cepat-cepat masuk ke ruang sunyiku. Terlebih pria ini memandangku antara heran dan ingin tahu.

“Sepertinya dengan cara lain, mengambil mimpi Mbak dari tangan saya.” Si pria semula ragu, tapi ia paham situasinya.

Aku masih membeku, namun tak sadar telah menganggukkan kepala.

 

Yogyakarta, November 2012
Pernah diterbitkan di http://wartakota.tribunnews.com

NB buat Penamerah: karena sedang tak punya bahan cerita, izinkan saya comot cerpen saya 2012 lalu 😀 hehe, peace.

Berlari Tanpamu

Suara satu orang saja takkan didengar, sekalipun berteriak di tengah hingar dan mengatakan, “please, suara kembang api kalian tak semua orang suka. Hargai yang tidak merayakan, seperti para simbah, bayi, dan orang-orang yang sedang sakit. Mereka gak merayakan.” Saya juga nyaris nggak pernah merayakan kecuali dua kali bersama teman-teman sewaktu masih kuliah dan hanya berniat menemani. Tapi tentu saja saya hanya molekul kecil di tengah lautan hingar bingar tahun baru ini.

Hidup adalah soal berbagi, maka harus sabar dan pasrah. Tapi bahkan sampai sekarang, saya tak terlalu bisa berdamai dengan keriuhan semacam ini. Hanya bisa pakai headset dan bersiap tidur bila semua ini sudah selesai.

Tapi ah biarlah saya pasrah melewati malam ini, sambi menulis salah satu lagu yang saya dengar malam ini.

Salah satu lagu keren ini diciptakan oleh kawan saya yang tergabung dalam grup band The Secret. Karena kebetulan belum ada versi youtube yang bisa di-link, sementara posting liriknya dulu :p.

Berlari Tanpamu

Ku ingin angin berembus
Menampar sepi
di akhir hari
Ku ingin buih membaur di ujung kakiku
Yang terus berdiri
Kulihat diriku pada cerminan alam
Dan kukesahkan padamu tentang lukaku
dan lukamu yang tak selesai
didekap badai

Biruku juga birumu direnggut malam
Tak kau hadapi semua ini bersamaku

Ku berlari tanpamu inginku bersamamu
Tak sempat kumengerti engkau yang menghindari
Semua keputusanmu aku sadari dulu
Aku tak pernah tahu tentang isi hatimu

Aku tak pernah tahu tentang semua itu

 

Oke, biar saya coba membuat ilustrasi lagu ini, dan tentu hasil imaji saya sendiri:

Mendengar lagu ini, saya seperti melihat sebuah film pendek dengan latar pulau yang terletak di luar Indonesia, yeah, katakanlah demikian. Hanya ada burung camar, kapal-kapal nelayan yang hendak berangkat melaut, aroma asin garam dan ikan, juga klorofil yang menguar dari hutan tak jauh dari lokasi itu.

Kemudian, seseorang terlihat sendirian di sana, ia berlari di sepanjang pantai, menembus hutan dengan kakinya yang telanjang dan bebas, menemui rasa sepinya sendiri… Direngkuhnya kenangan yang pahit dan manis. Melawan semua waktu…
Sesekali ia terperangkap damai. Sesekali ia terpenjara pedih. Ingatan telah membuatnya seperti gelombang…
Di seberang sana badai mengintip di sela awan, dan ia tak sempat berlari, barangkali ia tak punya daya, barangkai ia juga tak mau.. Pada pantai itu seseorang menunggu. Senja belum berurai. Malam masih di kejauhan. Badai seakan memperingatkannya untuk pergi. tapi ia mencintai pantai: pasir dan lautannya, semua hal tentang keabadiannya. Juga sepenggal masa lalu yang dimilikinya.

Pada sepi, seseorang itu bertanya: apa arti kosong dalam ruang hati
apa arti semua yang ia pernah jalani
apa artinya perasaan
apa artinya masa lalu itu
dan apa artinya hidup.

Barangkali ia memang harus terus berlari…

Matahari bagi Sang Guru

Ia ingat sebuah catatan seorang penyair yang dibacanya ketika masih kuliah di Jawa. “Sekolah pun keliru bila ia tidak tahu diri bahwa peranannya tidak seperti yang diduga selama ini. Ia bukan penentu gagal tidaknya seorang anak. Ia tak berhak menjadi perumus masa depan.”

Negerinya memang terlalu sibuk untuk sekadar mengingat bagian terjauh yang tak terjamah pendidikan itu, termasuk tempat tinggalnya. Lima tahun yang lalu ia memutuskan kembali ke kampungnya, meninggalkan seluruh mimpi yang gemerlapan seperti ibu kota. Sepanjang hidupnya, ia selalu bangun pagi buta, menyiapkan sarapan untuk suami dan anak-anaknya, kemudian merapikan hal-hal yang akan dibawanya menuju sekolah. Pagi itu, melewati jalan desa yang berbatu dan belantara, ia mengayuh sepeda tuanya dengan riang seperti hari-hari biasanya.

Semalaman ia merancang sebuah dongeng untuk diceritakan di dalam kelas: tentang anak-anak gunung yang berhasil menemukan harta karun. Anak-anak gunung itu datang dari sebuah negeri yang amat tertinggal dan kehabisan bahan makanan. Penduduknya kelaparan dan kekurangan air. Lalu mereka mencari sumber mata air hingga naik ke puncak sebuah gunung, melawan semua bahaya. Sampai di sebuah puncak, mereka tak hanya menemukan sumber mata air, tapi juga harta karun yang akan menyelamatkan desanya.

Begitulah yang akan ia ceritakan hari ini di depan kelas sebelum memulai pelajaran Matematika.

Mengingat bahwa kemarin hari nilai murid-muridnya buruk. Ia merasa sedih, tapi tentu ia tak merasa gagal. Ia tahu anak-anak didiknya telah mengerjakan dengan maksimal, tak satu pun mencontek seperti yang dilakukan anak-anak kota. Ada hal lain yang lebih bernilai daripada sekadar angka yang ia mengerti dari anak-anak didiknya. Setiap anak berhak memilih menjadi apa yang diinginkan. Mereka berhak menjadi dirinya dengan yang terbaik.

Matahari telah berjalan semakin ke atas. Ia tiba di depan gedung reot itu. Di halamannya, bendera merah putih berpenampilan lusuh masih berkibar-kibar tertiup angin. Anak-anak berpakaian kumal dan tanpa alas kaki ini berhamburan memasuki halaman. Disapanya mereka satu-satu. Anak-anak ini seriang matahari pagi. Mereka bahagia dan sehat. Sebagai seorang guru, ia pun percaya mereka memiliki masa depan yang cerah. Seperti matahari pagi itu.

 

Terinspirasi dari perjuangan guru-guru di wilayah perbatasan RI

Kekasih Kirana

Orang-orang ini begitu teganya ingin memisahkan gadis itu dengan kekasihnya. Sebelumnya semua orang tahu, gadis bernama Kirana ini mencintai kekasihnya melebihi dirinya sendiri. Semua orang tahu sejak 5 tahun yang lalu, ia telah memutuskan akan tetap bersama kekasihnya, Menikah ataupun tidak. Meskipun tentu, kebersamaan lama tanpa pernikahan itu mengusik hampir semua orang. Tepatnya nilai-nilai yang berlaku di masyarakat secara umum.

Kirana pun akhirnya memutuskan akan menikahi kekasihnya. Namun, tiba-tiba, mengapa orang-orang ini malah terkejut dan tidak suka ketika Kirana memutuskan untuk menikah dengan kekasihnya itu? Bukankah mestinya itu kabar gembira?
Mendadak gadis itu tak suka teman-temannya berkomentar yang seolah ia mengambil jalan yang salah dan keji, ia juga pusing setiap kali Tama, kakak satu-satunya mencoba mencomblanginya dengan teman-temannya yang belum menikah… Hapir semua orang ingin memisahkan mereka berdua. Lantaran apa?

Bukankah yang Kirana lakukan sama dengan yang dilakukan banyak orang? Mencintai dan ingin bersama. Apakah ia salah?

“Please, Kiran, bisakah kamu membuka mata lebar-lebar?”
“Aku bahkan sudah buka hatiku lebar-lebar. Tapi aku tak dapat mencintai yang lainnya, selain dia.”
Lalu bebannya bertambah, tatkala si ibu pun seolah ingin menghentikan niatnya.
“Nduk, bangunlah dari mimpimu. Dia nggak pantas buat kamu. Nggak pantas sama sekali.”
“Kenapa Bu? Karena Kiran sudah mapan? Karena dia tak bias memberi Kiran Nafkah?”
“Bukan begitu maksud Ibu, Kiran…”
“Kirana lebih mengenalnya Bu. Kiran nggak bisa jauh-jauh dari dia.” Gadis itu menatap ibunya dengan ekspresi memohon.
“Kenapa Kiran? Kamu bisa menikah dengan yang lebih baik. Yang lebih dapat menjagamu.”
“Ibu, Kiran sudah berkali-kali jatuh cinta dan patah. Kirana selalu menemukan pria-pria yang tidak benar-benar mencintai, mereka selalu menyakiti seolah Kiran selalu pantas disakiti dan ditinggalkan. Kiran bosan, Bu. Perasan Kiran sudah mati untuk pria-pria macam mereka.”
Kali ini ibunya terdiam, ia tak tahu lagi harus bagaimana.
“Selain itu, Kiran tak mau mengalami hal yang sama seperti yang dialami Ibu waktu dulu, ditinggalkan Ayah demi wanita lain. Meskipun pada akhirny kita berdua menerima.”
“Iya, Ibu paham sulit bagi kamu menerima keputusan ayahmu. Tapi Kiran, Ibu tetap mau kamu pikirkan baik-baik keputusanmu.”
“Kiran tahu apa yang terbaik bagi Kiran. Aku mencintanya, Bu. Kiran menemukan hal benar di sana. Dan Kiran tahu dia juga mencintaiku. Dia takkan berkhanat dan meninggalkan Kiran. Kiran sudah memutuskan untuk menikah dengannya, bila memang harus menikah untuk membuat status Kiran sempurna sebagai wanita.”

Dan itulah pembicaraan terakhir mereka, sebelum Tama, dan beberapa orang yang kalap ini mengendap-endap membawa parang, pisau, bahkan bensin dan korek api, di pagi buta itu.
“Mau Ke mana kalian dengan benda-benda itu?” Kiran yang kebetulan sudah bangun menemukan keributan kecil di halaman.
“Membunuh pacarmu.” Tama berkata lantang.
“Hentikan itu Kak, kumohon. Membunuhnya, sama saja dengan Kakak membunuhku!” gadis itu berteriak, sembari berlari menghadang di pintu gerbang. “Apa salah dia, Kak?”
“Salahnya adalah… membuat kamu gila. Aku yakin kamu sudah kerasukan.” Tama tak mau kalah, ia sudah nyaris mendorong Kirana supaya menyingkir.
“Kalian yang kerasukan!” Ibu datang menghentikan keributan. Tama dan teman-temannya ini mendadak terdiam. Bila Ibu sudah demikian, maka tak seorang pun berani berkutik.
“Hentikan sekarang juga. Kalian, kembali ke urusan kalian masing-masing. Kamu, Tama pulang dan urus saja istri dan anak-anakmu.”
“Tapi, Bu…” Sekalipun Tama masih tak terima dengan keputusan adik semata wayangnya, ia pun terpaksa mengalah. Mereka semua pun berjalan menjauhi halaman. Berangsur rumah kembali sepi, sementara Kirana sudah didekap sang ibu, berjuang menghentikan tangisnya sendiri.

“Ya sudah, Nak. Ibu mengizinkanmu menikah dengannya, asal kamu bahagia. Ibu hanya berharap hidup kamu bahagia, disertasimu sukses, pekerjaanmu lancar, organisasi kemanusiaanmu di Kongo tak tersendat gara-gara pusing soal pernikahan.”
“Ibu benar-benar merestui kami?”

Melihat ibunya mengangguk mantap, gadis berusia 30 tahun itu melompat-lomapat seperti anak remaja.
“Tak ada yang akan memisahkan kita lagi,” bisik Kirana dalam senyum bahagia sambil mendekap kekasihnya.

Matahari seperti bersinar lebih cantik hari itu. Kirana memeluk kekasihnya dengan begitu bahagia, ibunya di belakangnya tersenyum terharu. Tak ada pemandangan yang lebih aneh hari itu, kecuali seorang perempuan yang mendekap sebatang pohon asem, benda yang paling dekat dengannya sejak kecil dan seorang ibu yang berdiri dengan senyum kelegaan.

Terinspirasi dari fenomena unik, Eija-Riitta Berliner-Mauer (54) di Jerman, yang memutuskan menikahi tembok Berlin pada tahun 1979.

*Karya ini ditulis untuk memenuhi tugas Komunitas Penamerah.

Senja di Matanya

Barangkali bila ia tak berwarna jingga, oranye, dan kemerahan, ia tak akan diberi nama senja. Tapi bila setiap senja, tidak ada sosok kerempeng dan suka duduk menyendiri di taman itu, maka ia bukan lagi senja untukku. Melainkan kegelapan. Sebetulnya aku lebih suka pagi. Tapi kini, sore berarti menemukannya di salah satu sudut taman. Perasaan itu terlalu lucu bila kusebut cinta. Dan aku terlalu belia untuk menyebut itu.

Aku melihat senja di matanya. Di mana aku hanya akan melihat rona itu ketika kami berpapasan sepulang sekolah dengan ia masih memakai seragamnya, yang berbeda dengan seragamku. Mula-mula aku merasa aneh dengan tingkahnya yang menjauhi orang-orang, dia pun aneh dengan mataku yang sering mengekorinya diam-diam dengan penuh tanda tanya.
Tapi kini, kami selalu memiliki hal untuk dibicarakan. Aku merasa diam-diam bahagia.

Sementara taman ramai seperti hari-hari biasanya. Nelayan, pedagang, petani kopra. Juga orang-orang yang sekadar berjalan-jalan. Kami duduk berdua di tempat favoritnya. Ia melihat langit, aku melihat laut.

“Ada yang hilang di ingatanku. Membuatku harus terus ke tempat ini,” jawabnya, ketika aku menanyakan mengapa sering sekali ia di sini. Matanya menerawang masa lalu.
“Aku selalu bisa melihat wajahnya bila sedang menghadap barat menjelang azan Magrib tiba.”
Entah menunggu dalam arti sebenarnya atau menyimpan makna lain. Ah, bukankah bahasa itu sendiri sering diperalat manusia untuk menyampain sesuatu yang maknanya tersembunyi? Itu kata guru bahasaku.
“Siapa?”
“Perempuan bersayap itu.”
Meski tak mampu membaca kehilangannya, perlahan hatiku terperangkap mata itu. Ada marah yang kemudian hadir sesaat. Sepanjang jam, ia hanya menceritakan si perempuan bersayap ini dengan berbinar. Mungkin aku cemburu. Atau merasa takut.

“Aku akan pergi, dan aku menunggu malaikat cantik itu datang dari langit senja dan menjemputku.”
“Perempuan bersayap itu?”
“Ya.”
“Dia bukan malikat!”
“Bagaimana aku bisa membuktikan padamu bahwa ia benar malaikat?” Kami beradu argumen.

Lelaki ini pasti tidak waras, namun mengapa aku masih mencintainya?

“Kenapa kamu ingin pergi?” Pertanyaan itu begitu saja membuat tenggorakku tercekat. Aku tak tahu kenapa aku menanyakan itu. Padahal aku tak suka membicarakan perpisahan. Terlebih hari ini.
“Tidak mungkin dia yang akan menjemputmu pulang. Kau tahu, konon wujud malaikat amat buruk untuk digambarkan.”

Tapi ia hanya terdiam, matanya mendekap senja rekat-rekat.
Seperti ada yang tiba-tiba membentang jauh antara aku dan dia. Ada sesak yang tak dapat kujabarkan. Yang berat dari pertemuan memang hanya pada menghadapi perpisahan. Andai aku bisa menahannya, andai aku bisa mengatakan bahwa hidupnya masih begitu panjang. Andai aku dapat membuatnya melupakan perempuan bersayap itu.

“Apa kamu juga ingin melihat malaikat?” Ia bertanya.
“Aku bahkan tidak ingin membayangkannya,” jawabku, bernada beku.

Dan malam memulangkan mimpi kami. Pagi dan sore seperti tak bersua. Namun, entah bagaimana aku ingin menemuinya di taman yang sama. Sosok yang membuatku ingin mencari warna senja di matanya. Kurasa hanya senja yang dapat membuatku menemuinya.

Tapi ia tak ada di sana. Aku mencari-cari hingga putus asa. Kurasa tak seorang pun juga dapat ditanyai perihal si misterius itu. Ke mana dia?

Air mataku tiba-tiba saja jatuh. Bersama itu, sekelebat bayang seorang perempun bersayap sepasang melayang di angkasa dan menghilang di balik senja. Ia tersenyum kepadaku, atau sebetulnya sedang memandangku sinis. Entahlah. Yang jelas, malam terlanjur menggantikan hari. Takkan bisa aku jelaskan rasa kehilangan ini, sebab terlalu dalam.

 

 

*FF ini ditulis untuk memenuhi tugas mingguan Komunitas Penamerah.

Rumah Rasa: 1

Apa yang engkau pandang dari aku, atau yang kupandang dari kamu, kita tak pernah benar-benar tahu. Terlebih aku… sulit memang memercayai ketiba-tibaan yang kau sebut dengan sederhana saja: “aneh”, lalu kita terbahak bersama. Kita tak benar-benar menjalani hal yang tiba-tiba memang. Terlebih saat kamu menjelaskan hal yang sempat terjadi lebih dari 7 tahun yang lalu. Tapi butuh waktu bagiku untuk terbiasa dengan ini. Malah aku merasa semua alasanmu atau alasanku itu biar tersimpan saja pada satu yang bernama rahasia. Kelak waktu yang akan menjelaskan. Bukan kita.

Selamat datang di dalam kontradiksiku, Mas…

Perjalanan kita masih panjang dan bakal sangat perlahan, kita baru selangkah. Dan aku bahkan masih begitu canggung. Aku tak akan cepat terbiasa dengan semua ini. Seperti halnya ketika mencoba sembuh dari luka-luka masa lalu….

dari google image

dari google image

dandelion

Bagiku alam itu selalu berbicara dan setiap waktu bertumbuh bersama kita. Aku mendengar bisiknya seperti tengah bercerita bagai puisi. Seperti sore kemarin yang tatakala sunyi, aku berbincang pada bunga-bunga liar di kebun. Menemaniku melamun. Lalu muncul kemudian, hal yang akhirnya aku tulis di bawah ini :^_^

Aku dandelion, kutatap pagi begitu sibuk sejak aku dibangunkan embun. Kabut hadir membisikkan lara, dan aku berkemas segera…
Ah, biar awan membawaku menghilang, aku takut tinggal lagi di sisimu, lalu tak lebih tiada dari debu di samping jendelamu. Atau mawar-mawar yang menghiasi meja kamarmu. Ah, sekalipun aku tak lupa mengecupmu yang juga tengah terjaga, sebagai yang tiada.

Aku dandelion. Biar aku liar. Rapuh tanpa akar-akar dan tangkai yang kekar. Aku telah terbiasa dibakar siang hingga wajahku tak beda dari bebatuan.
Aku tak ingin lagi kembali pada masa itu, di mana aku hidup dan mati dalam kesilapan waktu, lalu aku tak tahu siapa diriku, lalu meragukan engkau, lalu meragukan Tuhan yang menciptaku.

Barangkali aku mesti tahu diri dan menghindari. Dan takkan berubah segalanaya. Hujan akan datang pada Januari mendatang. Menemanimu. Kemarau akan tetap setia menunggu hujan menghabiskan seluruh nestapanya. Mendamaikanmu. Awan-awan akan senatiasa menempuh perjalanan dan kembali tanpa aku ada di sini. Dan kau akan baik-baik saja.

Aku dandelion, biar bumi menguburku, atau angin mengusirku pergi, atau sungai menghanyutkanku ke lautan….
Sebab bukan tentang ketiadaanku yang mesti engkau sadari, tapi tentang mencintamu yang pernah tanpa henti. Dan hingga kini masih kubawa pergi.

*terinspirasi dari bunga-bunga liar yang kulihat sore kemarin.

dari google image

dari google image

Rumah Tua Bergaya Belanda

“Sudah hampir sertus tahunan, rumah itu kosong. Tapi sudah dua hari ini aku lihat lampunya menyala, setiap jam 10.” Hardio memberitahukan kabar penting itu kepada tiga temannya: Argo, Rahman, dan Sofia. Sembari berjalan pulang dari tempat les. Sejak mereka kecil, rumah tua bergaya Belanda yang terletak di ujung kompleks itu memang sudah menjadi bahan pembicaraan dan imajinasi.
“Lalu kamu sudah tahu siapa yang menempati?” tanya Sofia antusias.
Memang di kawasan itu, kebanyakan rumahnya bergaya lama. Ada yang sudah direnovasi, ada yang tidak. Dan salah satu rumah tua yang kebetulan dekat dengan rumah Hardio ini, adalah yang tertua yang tak pernah dihuni.
This_Old_House_Wallpaper_wlymd
“Belum tahu. Tapi anehnya, ibuku sendiri gak yakin rumah itu sudah dihuni. Soalnya selalu sepi seperti biasa.”
Argo berpikir. “Jangan-jangan, kamu cuma ngebohong aja.”
“Wong aku lihat sendiri!”
“Kan sendiri. Bukan barengan?”
“Sudah-sudah. Sepertinya rumah itu memang berhantu,” Rahman berargumen.
“Jangan kalian pikir aku membual? Aku bahkan dengar musik klasik walaupun gak jelas.”
“Sebenarnya aku lebih percaya kalau cuma alien yang bisa tinggal di sana,” Sofia berspekulasi. Bertahun lamanya, ia masih mempertahankan keyakinan ini.
“Ah, mengkhayal terus Sof. Mau alien lah, vampire lah. Kalo bukan? Kalau misal malah dipakai sarang penjahat? Zaman sekarang, dari cecunguk sampai orang besar bisa berbuat kejahatan bukan?” Argo mengomel. Tapi pendapat spontannya ini malah mendadak membuat mereka saling pandang. Teringat berbagai kasus kejahatan terjadi di kampung mereka akhir-akhir ini.
“Bagaimana bila kita selidiki?”
“Ide yang bagus.”

Dan malam itu, tepat di jam 10, mereka mulai bergerak—jam yang sama ketika Hardio melihat lampu rumah itu menyala. Seperti biasa mereka berkumpul di pos ronda. Membawa perlengkapan seperti senter, perekam, buku catatan, dan tentunya keberanian.
“Kalau ternyata rumah itu digunakan sebagai markas kejahatan, kita langsung telepon polisi,” kata Argo. Kemudian menyuruh Sofia mengondisikan HP-nya. Sementara ia menyuruh Rahman, yang bertubuh paling bongsor, mengambil pentungan sebagai senjata untuk berjaga-jaga.
Mereka pun mulai mengendap-endap mencari tempat yang tepat di semak-semak sekitar halaman rumah tua tersebut.
Betul. Pada jam 10, terdengar mobil memasuki pintu gerbang.
“Sst, jangan berisik. Lihat ada mobil masuk,” Hardio berbisik, ia memimpin teman-temannya merapat ke pohon jambu.
Anehnya, tak seorang pun dari anak-anak remaja ini berani mengintip. Keberanian mereka buyar seketika.
Lalu terdengar suara dua orang memasuki rumah. Menyusul suara anak perempuan dan seorang nenek. Bunyi Lampu dinyalakan. Mereka ngobrol dengan riang. Hardio menyimak.
Hingga lamat terdengar dari dalam rumah.
“Nek, Mila bosan keluar masuk rumah sakit mulu….”
“Itu semua demi kebaikanmu, Mila.. lihat, daerah ini cukup sejuk. Bagus untuk masa penyembuhanmu….”
……
“Owalah.. kirain siapa. Ternyata emang ada penghuni baru. Seorang nenek dan anak permepuan.” Hardio menghela napas lega. Sementara teman-teman lainnya masih bergeming. Menatap Hardio dengan tatapan penuh tanya. Argo hanya mengangkat bahu.
“Ya sudah yuk. Bubar!” lanjut Hardio, memimpin mereka pulang.
Baru beberapa langkah berjalan, Sofia menghentikan, “Tunggu, Har.”
“Apa lagi?”
“Yang kamu bilang tadi… anak perempuan, nenek-nenek….”
“Ya? Kenapa?”
“Aku gak ngeliat.”
“Apa?” Hardio seketika menatap seluruh temannya meminta jawaban. Mereka juga menggeleng serentak.
“Aku juga nggak….”
Hardio membeku.

 

 

kisah ini diikutsertakan dalam kontes menulis salah satu blog, bergenre ringan.