sekadar catatan

 

Kurasa “hantu” setiap zaman itu beda-beda. Zaman dulu hantu bolehlah semacam makhluk halus penunggu hutan atau rumah tua. Zaman sekarang yang suka nebar teror di mana-mana bukankah kebanyakan manusia?

Zaman di mana iblis dan malaikat tak bisa dibedakan seperti sekarang ini, masih bisa ya manusia dinilai dari tampilan luar?

 

 

Iklan

Keperempuanan dan Skripsiku

Sebetulnya aku sendiri sudah pernah menulis perihal skripsi secara detail, sampai pada akhir yang dramatis ketika memperjuangkan kelulusan itu. Mungkin di blog sebelum ini dan juga di blog ini. Aku terbiasa menulis peristiwa penting dalam hidup karena hanya ingin kutitipkan semua itu pada kertas dan masa lalu saja, tidak perlu lagi dibahas. Tapi baiklah, meskipun telat, demi komitmen memenuhi tugas Komunitas Penamerah tercinta, aku akan mengingatnya sebentar. Maaf, bila isinya mbulet.

Saat itu aku masih jadi mahasiswi labil yang bosan kuliah di tahun ketiga. Karakter dan cara berpikirku waktu itu sedikit kelaki-lakian, atau sangat “feminis”—wanita dengan obsesi kesetaraan gender, dan saat itu juga aku sedang asyik-asyiknya belajar banyak hal, kerja, organisasi, dan cenderung anti dengan pernikahan, juga yeah… enggan dengan laki-laki. Seingatku seperti itu. Maksudku, selama mereka tak menghargai wanita, maka wanita tak harus menghargai mereka.

Waktu itu aku berpikir bahwa menyukai seseorang itu nggak sama dengan menikahi. Mencintai tidak bisa direncakan seperti pernikahan. Aku pernah baca cuplikan ini di sebuah buku dan menyetujuinya.

Menikah di negara berkembang bagiku sama saja dengan bunuh diri karena bakal tidak sesuai dengan nilai-nilai feminisme (parah banget ya :|). Sedangkan ide-ide feminisme terlihat lebih riil daripada pernikahan itu sendiri, maka skripsi pun kuperjuangkan yang bertema perempuan, sesuai dengan passion-ku dan juga dilatarbelakangi sedikit rasa dendam dengan sejarah patriakhat Indonesia, terutama yang dimulai pada zaman feodalisme dan kolonialisme. Saat itu novel yang kukaji kebetulan adalah novel favorit, Bumi Manusia karya Pramoedya AT. Sejak draft skripsi itu terlintas di pikiran—di tahun ketiga kuliah—akhirnya skripsi pun selesai setahun kemudiannya. Tentunya setelah melewati masa-masa bertarung dengan banyak hal, riset sana-sini, dan gonta-ganti judul.

Meskipun rasanya di negara-negara berkembang seperti Indonesia memang tak banyak yang ingin tahu atau peduli perihal emansipasi, aku tetap tertarik dengan perihal feminisme dan perjuangan menyetarakan, meskipun dengan caraku sendiri. Dan saat itu, dengan keringat, pikiran, air mata darah (kalau ini sih lebay) akhirnya berhasil merampungkan 103 halaman skripsi bertema perempuan, memang tidak sebanyak yang aku rencanakan.

Yeah, tak banyak juga yang ingin kuingat di tahun-tahun menyusun skripsi itu, tapi setidaknya aku mengerti dua hal: betapa pentingya menjadi perempuan secara penuh, dan betapa berantakannya skripsiku dulu. Kenapa nggak jadi editor dari dulu aja sih? -____-. Baiklah, semua itu ada waktunya sendiri-sendiri.

Hal yang berat waktu itu adalah melawan sifatku sendiri yang ingin “segalanya harus sempurna” karena setelah dijalani, ternyata mudah. Huft. Rasanya aku kurang maksimal mengerjakan skripsi, sekalipun dapat nilai A. Pendadaran juga berlangsung lancar. Segalanya mudah dan tak sesulit yang dibayangkan. Atau memang karena semua itu sudah sangat lama dan sudah selesai…? Skripsi itu mudah. Yang tidak mudah cuma birokrasi kampusnya. Sialan. Ya sudahlah.

Malam ini usai bongkar-bongkar skripsi, pikiranku jadi melayang-layang. Teori Naomi Wolf sampai Friedrich Engels berputar-putar di ingatanku. Yeah, kesetaraan gender masih jadi hal sensitif dan penting di benakku. Hanya saja sekarang sudah agak berdamai dengan nilai-nilai pernikahan. Rasa dendamku dengan zaman feodal dan kolonial terkait dengan perempuan pun terobati dengan kehidupan di sekitarku, terutama keluarga. Demi hidup normal, terkadang kita memang harus menutup mata dari hal-hal yang buruk dan kekhawatiran yang tidak-tidak.

Dan kini, aku berpikir, mencintai sebenarnya bisa sejalan dengan rencana pernikahan di masa depan. Sekalipun itu tak mudah.

Yeah, kau tahu, berdamai dengan ideologi pernikahan adalah perjuangan yang sungguh merepotkan, seperti memilih agama. Itu butuh waktu dan perenungan yang amat panjang. Yang rupanya jauh lebih rumit daripada garap skripsi (haha, jadi curhat deh…)

 

 

Berikut adalah beberapa potongan halaman skripsiku waktu itu.

bagian abstraksi.

bagian abstraksi.

waktu itu, masih berkeyakinan kalau "stereotip" adalah salah satu penyebab deskriminasi terhadap perempuan.

waktu itu, masih berkeyakinan kalau “stereotip” adalah salah satu penyebab deskriminasi terhadap perempuan.

sepenggal tentang keadaan perempuan di zaman feodal dan kolonial

sepenggal tentang keadaan perempuan di zaman feodal dan kolonial

wanita banyak menjadi "objek" di beberapa karya sastra lainnya.

wanita banyak menjadi “objek” di beberapa karya sastra lainnya. Baik secara minor maupun mayor

tentang diskriminasi terhadap permepuan di masyarakat

tentang diskriminasi terhadap perempuan di masyarakat, secara umum

ya ampun, kok bisa nulis kayak gitu ya dulu? =))

ya ampun, kok bisa nulis kayak gitu ya dulu? =)) Oh tentu saja dong, para bule zaman kolonial juga punya sejarah diskriminasi yang parah di wilayah jajahannya.

novel "Bumi Manusia" cukup menyedihkan bagiku :(

novel “Bumi Manusia” cukup menyedihkan bagiku 😦

Halaman "motto", quote Mahatma Gandhi paling kusuka waktu itu. Yeah, sebab substansi dari feminisme tetap saja ke arah "memanusiakan" , terutama terhadap perempuan

Halaman “motto”, quote Mahatma Gandhi paling kusuka waktu itu.
Yeah, sebab substansi dari feminisme tetap saja ke arah “memanusiakan” , terutama terhadap perempuan

*Untuk memenuhi tugas Komunitas Penamerah

Yang Kekurangan dan Menginspirasi

Sering kan kita menjumpai kondisi di mana kita berusaha keras menjadi yang si kekasih inginkan. Kita harus seperti ini, membuang baju yang ini, memakai yang seperti ini, harus melepas pekerjaan yang itu, kehilangan teman-teman, harus ngorbanin hari libur, waktu, privasi, impian, hobi, keluarga, usia, dan banyak lagi, tapi kita nggak jadi diri sendiri–hanya demi orang yang kita cinta apa adanya tetapi belum tentu mencintai kita apa adanya. Di situlah kadang letak kelemahan dan kesalahan para perempuan. Terutama yang terlanjur lahir dan hidup di dalam kebudayaan feodal-patriakhat ala Jawa. (Aslinya aku masih selalu mencurigai budayaku sendiri)

Kita nggak boleh buta. Sering kali yang demikian, menunjukkan bahwa: pertama, si lelaki mencintai dirinya sendiri lebih dari apa pun sehingga kita nggak boleh mengusik egonya yang satu itu. Kedua dia punya bayangan perempuan idaman di kepalanya, yang sebenarnya bukan diri kita. Sehingga kita hanya jadi boneka barbie-nya yang harus mau “didandani” sesuai imajinasinya. Lama-lama kita jadi nggak apa adanya. Dengan cara demikian, perempuan nggak bisa jadi dirinya sendiri. Memangnya bisa menghabiskan hidup bersama seorang pria yang nggak tulus dan di samping itu, dan kita akan terus dituntut berpura-pura jadi orang lain?

Ke depannya perempuan sendiri yang kesusahan, karena toh yang namanya kekurangan itu manusiawi, sedangkan kita hanya dicintai karena syarat-syarat yang dipikirakan si lelaki tadi, misalnya. Barangkali kita sedang diciptakannya serupa mantan. Nggak tulus banget. Tapi itu banyak terjadi di sekeliling kita. Di zaman modern ini.

Sementara kesetaraan yang ideal selalu akan menuntut: “Bila kamu mau mengubah aku, kamu juga harus rela aku ubah.” Demikianlah supaya kehidupan berjalan adil. Sekalipun tentu saja, itu bukan cara hidup bersama yang nge-soul.
Sebab yang benar adalah hidup dengan tanpa peduli soal perbedaan, kekurangan, dan juga pandangan orang lain, kecuali hanya ingin tetap bersama, saling menerima, dan melengkapi, sebelum ajal menjemput. Cukup.

Perempuan yang terlahir cacat, mendapatkan yang tulus ingin bersama dia tanpa memandang kekurangan–hal yang barangkali begitu langka bagi para perempuan yang normal. Kedua, sebagai orang berfisik normal aku merasa tertampar, selama ini apa yang sudah aku lakukan untuk dunia?

Artikel tentang Mbak Putri Herlina berhasil menginspirasiku pagi ini. 🙂

Salah satu cuplikan artikel tentang Mbak Putri ketika ia ditawari tangan buatan:

Snapshot_2013-10-14_091216

Berbahagialah mereka yang diterima apa adanya, dicintai dengan tulus tanpa pretensi.
Meskipun seringkali yang bisa demikian hanya orang tua terhadap anak-anaknya.

Liburan Singkat di Pantai Trisik

Jalan-jalan hari Sabtu sore memang rasanya singkat. Namun, weekend singkat memang sebaiknya pergi ke pantai. Selain dapet udara segar untuk mengobati penat kesibukan, siapa tahu (kalau beruntung) bisa merekam senja.

Berikut ini beberapa foto Pantai Trisik yang saya ambil dengan kamera digital pocket.

perpaduan yang puitis: pepohonan dan pantai :)

perpaduan yang puitis: pepohonan dan pantai 🙂

Trisik sendiri dalam bahasa Jawa artinya pantai berpasir yang berbatu kecil-kecil. Mungkin karena tampilannya yang kurang menarik, pantai ini jadi sepi sekalipun di akhir pekan. Tapi tak mengapa, bagiku setiap pantai yang sepi, memiliki kecantikannya sendiri.

2

3

salah satu tumbuhan liar di Pantai Trisik.  (Nggak tahu namanya ^^)

salah satu tumbuhan liar di Pantai Trisik.
(Nggak tahu namanya ^^)

Seperti pantai lainnya, pantai ini mengalami abrasi. Ombaknya lumayan besar, mungkin sedang musimnya. Harap hati-hati kalau jalan-jalan ke pantai untuk musim ini.

??????????

jejak kaki

jejak kaki

Hal yang menarik lainnya adalah, ketika sore tiba, terlihat beberapa nelayan menjaring ikan hanya di pinggir pantai. Mereka melemparkan jaring ketika ombak menghambur ke arah daratan. Meski demikian, hasil buruannya lumayan banyak. Beberapa dari mereka berangkat mencari ikan dengan kapal. (Maaf tidak sempat mengambil fotonya)

??????????

dan inilah bagian yang paling ditunggu ^^

senja

senja

Namun, sayang banyak sampah alami yang bertebaran di sana. Semoga tidak perlu ada timbunan sampah plastik seperti di pantai-pantai lainnya. Alam akan tampak indah dan alami tanpa sampah plastik. Bukankah demikian?

Liburan singkat ini cukuplah untuk ngisi energi lagi, karena besok minggunya kembali bekerja.

Rehat

 

Membicarakan hidup, tidak selalu berarti membicarakan cerita-cerita bahagia, tapi juga pedih dan hari-hari sialnya. Terutama pelajaran pentingnya.

Maka buanglah segala pedih yang hadir hari ini, dan simpan bahagia untuk menemani bila suatu saat kepenatan datang lagi.

Kini waktunya tidur kembali.

Fermez vous les yeux
Faites de beaux rêves
Et n’oubliez pas que je suis là
Dans la chambre à côté

 

🙂

 

rinai

kurekam percakapanmu semalam, sayangku
aku diam mengamati bulan, menghirup wangi rumput, dedaunan, dan embun
juga menilik gesturmu dari kejauhan
hingga jejak angin dan bunga yang kau letakkan di tanganku
digawai rinai dan puisi yang kehilangan metafor
barangkali hanya sebait: la pluie, yang sayup terdengar di sepanjang jalan
berdesakan dengan waktu, dan lalulalang
–mendahului malam
dan perjalananku, sayangku, berpulang di pucukpucuk jarak
di perbatasan rindu
ke arahmu