Sang Filsuf

:kepada kita yang mencintai kesadaran dan gemar bertanya

wahai kau budak dunia
cintailah bijaksana
dengan penuh kesadaran pahami dirimu sendiri
lusinan jurnal puisi
zaman berkembang mengikuti mencari jawaban ilmu tentang satu dunia yang baru
masa depan lima benua
manusia alam semesta
tak akan kau ketahui
namun Tuhan bukan pembenci
lupakanlah masa lalu
dan dia yang telah pergi
bukanlah suatu tragedi
jika kamu jatuh cinta lagi

Iklan

Resensi Novel: Maya and the Darkness Surrounding

novel Maya, and the Darkness Surrounding

Judul                        : Maya and the Darkness Surrounding
Penulis                     : Arikho Ginshu
Penerbit                   : PING!!!!
Tahun terbit           : Agustus 2014
Genre                       : Fiksi
ISBN                         : 139786022556190
Jumlah halaman    : 296
Harga                        : Rp42.000,-

 

“Untukku, perkara tersulit dalam mencintai bukanlah belajar mengakhiri, sebab aku bahkan belum memulainya. Namun yang paling rumit adalah memilah hati, sebab cintaku tumbuh di antara dua hal yang sama pentingnya. Kekasih dan sahabat mungkin dua hal yang berbeda, namun sering berada dalam timbangan yang rasa yang nyaris sama.” (halaman 274)

 

Maya, and the Darkness Surrounding bercerita tentang 4 sahabat yang tengah hiking ke Gunung Kerinci sebagai perjalanan kesekian menjelajah alam. Tondi, Binar Saga, Damar, dan Rimba. Namun terjadi sesuatu di tengah perjalanan. Tatkala berhenti untuk berkemah, salah satu dari mereka dan satu-satunya wanita, tidak dapat terbangun dari tidurnya. Mereka bertiga merasa terpukul dan perjalanana pun dihentikan. Mereka membawa Binar ke puskesmas terdekat namun hasilnya nihil. Tidak ditemukan penyebab medis yang membuat Binar saga tak sadarkan diri. Atas saran seorang bidan yang memeriksanya, Binar dibawa ke seorang paranormal yang terkenal di desa tersebut. Ki Rangkat, nama orang pintar tersebut, menjelaskan bahwa Binar berada di dimensi astral. Sang paranormal menjelaskan bahwa Tondi-lah yang bisa menjemputnya pulang. Demi kesetiakawanan dan perasaan yang diam-diam disimpannya, perjalanan astral yang nyaris tidak mungkin itu pun dilakukan.

Di sisi lain, terjadi krisis besar di zaman peradaban suku Maya, tepat Amorza tinggal. Bersamaan dengan munculnya Binar Saga ke dunia mereka. Amorza, yang bertanggung jawab memanggil Binar saga secara tak sengaja ke dunia mereka, menjemput Tondi menyeberangi dunia perantara untuk membantu menyelamatkan Binar Saga yang tersesat di sana.

Di Dimensi Maya, Binar saga yang menjelajahnya lebih dulu menemukan nasib yang tak terduga yang membuatnya tak bisa pulang kembali ke kehidupan nyata. Dalam dimensi yang lain itu, Tondi sadar masih tetap saja mencintai Binar meski sulit menggapainya. Hanya saja, Binar yang di hadapan bangsa Maya, tidak seperti Binar Saga yang sesungguhnya. Tentu saja sebagai orang yang mencintainya, Tondi mencari segala cara untuk menjemputnya, bahkan rela mempertaruhkan nyawanya.

Lalu, apakah Tondi berhasil membawa si gadis pulang? Dan bagaimana kisah persahabatan mereka pada akhirnya?

Selain di Sumatra dan Yogyakarta, setting novel ini juga di peradaban bangsa Maya. Dan novel bertema kasih sayang, cinta, dan persahabatan ini sebenarnya terpecah menjadi dua fokus yang menyatu dan berhubungan. Dipaparkan pua dengan dua sudut pandang, yaitu sudut pandang Tondi di masa kini dan Amorza di masa lalu, sebagai penduduk bangsa Maya. Hanya saja bagian Tondi mendapat porsi lebih banyak. Terlebih buku ini diawali dan diakhiri dari kisah Tondi. Lepas dari itu, keduanya memiliki bangunan cerita yang utuh. Amorza dan Arzoda, sepasang kembar yang ditakdrkan menjadi orang yang disucikan oleh rakyat di peradaban suku Maya. Amorza memiliki bakat menyeberang ke dunia astral. Sama halnya dengan Tondi.

Bagian pertama diawali dari tengah, di mana Tondi berproses masuk ke penghubung dan bertemu Amorza. Dituturkan dengan deskripsi cerita yang membuat saya ingin mengetahui mengikuti cerita selanjtunya. Kemudian bagian kedua yang bertutur mengenai kisah pertemuan mereka berempat hingga persahabatan terjalin dari sudut pandang Tondi. Hingga datang peristiwa yang menimpa Binar saga di lereng Kerinci. Kemudian kisah berlanjut dri sisi Amorza, penghuni peradaban Maya dari masa lalu yang tengah kehilangan saudara kembarnya, Arzoda. Di bagian ini, Amorza menceritakan bahwa ia masih terhubung dengan roh Arzoda dan dapat menyeberang ke dunia astral. Kemudian cerita pun beranjak ke penyelesaian dengan alur maju dan runut.

Novel Maya, and the Darkness Surrounding merupakan proyek Divapress yang mengusung tema astral projector yang korelasikan dengan peradaban-peradaban dunia di masa lalu. Dalam novel ini Arikho memilih peradaban bangsa Maya sebagai latar dimensi lain. Mendengar bangsa Maya, yang terbayang dalam benak kita barangkali sebuah peradaban yang canggih dan ramalannya kalender matahari yang termasyur itu. Namun dalam novel ini, Maya lebih banyak digambarkan sebagai tempat di mana sekelompok penduduknya rata-rata bar-bar dan memiliki seorang raja yang haus darah. Manusia dengan senang hati melihat manusia lain dikorbankan dengan sadis sebagai bentuk pengorbanan memuja bulan. Sedikit banyak membuat saya ingat film “Pompaii” di mana pembantaian manusia dijadikan hiburan rakyat.

Namun, membaca kisah si kembar Amorza dan Arzoda membuat saya tersentuh. Terlebih ketika mengetahui mereka yatim piatu dan mau tak mau menjalani takdirnya sebagai orang yang disucikan dalam kepercayaan suku Maya. Sebagai penduduk bangsa Maya, mereka termasuk yang merasa nuraninya tersakiti ketika melihat manusia dikorbankan beramai-ramai.  Tatkala Arzoda pun meninggal, saya seperti diajak menyimak kisah kesendirian seorang anak di tengah takdirnya yang sulit. Secara subjektif, cerita kedua kembar tersebut lebih mendalam ketimbang cerita cinta Tondi kepada Binar Saga itu sendiri. Namun barangkali kisah Amorza memang sengaja diposisikan oleh penulis sebagai poin pendukung keseluruhan cerita.

***

Adapun kelebihan novel ini terletak pada deskripsi setting yang rinci dan detail, porsi yang pas antara narasi dan dialog, serta penggarapan alur yang terlihat berhati-hati. Kesalahan ketatabahasaan dan teknis pun tidak banyak ditemukan dan tidak terlalu mempengaruhi jalan cerita. Membaca kisah perjalanan di novel ini seperti ikut menikmati keindahan alam. Diksi yang disajikan pun menarik dan mudah dipahami, saya rasa penulis sudah cukup mampu menyajikan bab demi bab sebagai satu kesatuan cerita yang utuh. Didukung oleh keterhubungan yang berkorelasi antarbab. Meskipun alurnya bercampuran, tetap dapat diikuti hingga selesai.

Dalam hal penokohan, Tondi sebagai tokoh utama dideskripsikan karakter dewasa, pengayom, dan tulus. Meskipun ada sisi Tondi yang tak berani menghadapi masalah, terlebih ketika dihadapkan dengan kerumitan suasana di tengah hubungan persahabatan itu. Binar saga tidak begitu banyak diceritakan, selain bahwa ia satu-satunya wanita yang paling disayangi di antara 3 pecinta alam tersebut karena mampu mencairkan suasana. Damar, orang yang disukai Binar dipaparkan sebagai tokoh sampingan yang tidak begitu banyak berpengaruh dalam cerita. Begitu juga dengan Rimba, selain bahwa ia paling akrab dengan Binar sebagai sahabat. Kemudian tokoh Arzoda dan Amorza, keduanya hidup di peradaban Maya, memiliki interaksi psikologis yang cukup kuat. Dapat dikatakan, karakter Tondi dan Amorza-lah yang memiliki bangunan karakter lebih kuat daripada yang lain. Meski sepertinya ini novel pertama yang diterbitkan Arikho, tapi saya menduga si penulis sudah berpengalaman menulis sebelumnya.

***

Secara kesuluruhan, penampilan novel ini sudah lumayan. Hanya saja ada beberapa poin dalam novel ini yang sepertinya perlu disempurnakan lagi.

Untuk cover, sebetulnya konsep bangunan kuil dengan seorang gadis berkupluk merah sudah menggambarkn isi novel, hanya saja kurang sesuai lantaran tokoh utama dalam novel ini justru bukan Binar Saga. Terlebih gambar tokoh wanita di sana agak terlalu besar dan kurang seimbang dengan gambar di belakangnya. Melihat covernya, saya sempat mengira bahwa tokoh utamanya si gadis bertopi merah ini. Selain itu, saya juga menemukan beberapa missing link, pertama, masa lalu Tondi tentang neneknya: mengapa Tondi sebagai penyebab neneknya tidak juga meninggal? Kedua, secara umum, dunia astral tidak dapat diterima begitu saja sehingga oleh logika manusia biasa sehingga mestinya ada bagian khusus untuk menceritakan hal tersebut sehingga dapat diterima tokoh-tokohnya. Atau barangkali ini hanya keterbatasan pengetahuan saya mengenai perihal astral kecuali yang pernah ditampilkan di film Insidious yang pernah saya tonton. Namun, saya pikir proses deskripsi astral perlu disempurnakan lagi. Ketiga, ada ketidaksamaan konsep. Di dalam novel ini saya menangkap inkonsistensi, seperti mengapa roh Tondi dan Binar dapat terlihat di masa lalu, sedangkan Amorza tidak terlihat di dimensi sekarang? Malah prolog dalam cerita tersebut menempatkannya seperti makhluk asral sementara di masa bangsa Maya, Amorza belum meninggal.

Beberapa point dari novel ini juga terkesan datar dan agak berbelit. Tadinya saya kira bakal menemukan adegan duel bebas ala film “Gladiator” ketika masuk pada inti konflik, hehe. Tapi tak mengapa, dalam hal menulis fiksi, penulis bebas berimajinasi.

Bagaimana pun, pesan tersembunyi yang sengaja dipaparkan penulis cukup tersampaikan, apakah cinta memang dapat menembus ruang dan waktu?

 

“Cinta mungkin tidak akan pernah mati, namun cinta bisa saja berubah, Tondi. Melihatnya orang yang kau cintai bahagia jauh lebih penting daripada kau harus mengekangnya dalam cinta yang mungkin tak lagi sama untuk kalian berdua.” (halaman  294)

 

Nah, untuk pembaca muda dan remaja yang kelak menemukan buku ini, selamat membaca dan selamat menelusuri dimensi Maya.

 

teruntuk embun yang barangkali datang besok pagi

embun,

ada saat ketika rasanya ada begitu banyak kekosongan di sana, di hatiku, entah bagaimana… barangkali benar manusia selalu rindu hal-hal spiritual–saat di mana ia berada dalam kondisi bahwa Tuhan begitu dekat dan melihat, dan kita tak pernah sendirian….

ada saat ketika rasanya begitu sendirian,namun ingin diam dan memandang bahwa dunia ini terang dan kegelapan bukan jalan kita. dan segalanya akan baik-baik saja.

ada saat tatkala aku ingin sesekali pergi jauh untuk mengerti bahwa hidup yang kujalani bukan sekadar omong kosong. barangkali orang perlu menyendiri untuk libur dari ‘menjadi orang lain dan segala tugasnya menjalani bertumpuk rutinitas atau kepentingan’

tapi barangkali aku hanya sedang merasa peka terhadap rasa kosong.
ah, embun, bagaimana kalau kita lebih banyak bertemu dan ngobrol? kadang orang butuh membuang waktu untuk sekadar didengarkan, juga dimengerti… ada saat ketika seseorang sama sekali tidak butuh menerima nasihat atau arahan. sebab kita semua ada untuk setara dan seiring, bukan didikte terlalu sering.

bukankah demikian?

 

Kei: Ada Cinta di Tengah Perang

novel Kei

Judul     : Kei
Penulis  : Erni Aladjai
Penerbit: GagasMedia
Terbit    : 2013
Tebal    : 250 halaman
ISBN      : 9789797806491

 

 

 

 

 

 

Inilah menara dari mana aku menyaksikan,
antara cahaya dan air yang membisu,
waktu dengan pedangnya,
dan aku mengalir ke dalam hidup
-Pablo Neruda-

 

Konflik di Kepulauan Maluku semenjak tahun 1999 hingga 2001, telah memakan ribuan jiwa. Begitu banyak orang kehilangan keluarga, kekasih, harta benda, harapan, dan juga kebahagiaan. Namun, seperti yang tertulis dalam pengantar novel tersebut, di antara pulau-pulau yang lain, Kei-lah salah satu pulau yang terlambat terkena dampak konflik tetapi paling cepat menyembuhkan dirinya. Novel ini pun diberi judul “Kei”.

Namun, ada yang menakjubkan di sini. Selain tradisi persaudaraan yang tak pernah kita kenali, ada juga pelajaran hidup dan cinta yang tumbuh di antara peperangan itu tatakala membaca novel ini. Perang seperti mengingatkan saya pada salah sebait puisi Subagio Sastrowardoyo:

Mulut dan bumi berdiam diri. Satunya suara
hanya teriak nyawa yang lepas dari tubuh luka,
atau jerit hati mendendam mau membalas kematian…

Erni, penulis novel ini, menempatkan tokoh Namira Evav dan Sala sebagai tokoh sentral. Sala kehilangan ibu–keluarga satu-satunya karena penyerangan antaretnis dan agama. Namira kehilanagn kedua orang tuanya pun karena konflik yang sama. Sala yang protestan dan Namira yang muslim, jatuh cinta di pengungsian, di dalam suasana rusuh itu. Dalam kesedihan, mereka mencoba tegar demi menjadi relawan untuk sesama. Kebersamaan dalam kesamaan nasib tidak dapat mencegah keduanya saling menyayangi dan mencintai. Bahkan kelak ingin bersama. Sementara konflik berlangsung, banyak orang islam, katholik, dan protestan berlindung di gereja, saling melindungi dan berusaha untuk tidak terpengaruh pada konflik antarras dan agama. Dalam suasana demikian kesedihan digambarkan sebagai nasib yang tidak mengenal perbedaan ras maupun keyakinan.

Erni Aladjai agaknya memiliki keahlian menyajikan sebuah cerita dalam perpaduan sejarah, cinta dan persahabatan, juga kemanusiaan yang membawa pembacanya seperti mengalami dan ikut merasakan suasana perang dengan cukup mendalam. Disusun dengan riset yang tentunya menguatkan fakta di balik cerita, novel ini tidak saja tentang kisah korban peperangan, tapi juga sejarah bangsa Indonesia. Peperangan seolah memang selalu merupakan kisah tentang kepedihan dan harapan, juga bangsa yang seperti tengah diombang-ambingkan. Namun, bila saja novel ini tidak bertema peperangan, beberapa bagian yang cukup kocak ditemukan di sana dan membuat saya tersenyum.

Soal tradisi Kei, ada tiga point yang saya temukan di sana. Kei memiliki tradisi yang bagi saya begitu luhur, seperti mutiara di dasar lautan yang tak sempat terambil.

Pertama, mereka sangat menjaga alam sebab pada alamlah manusia bergantung, tentunya melalui cerita tentang ritual-ritual unik yang dapat engkau baca di sana. Kedua, bahwa Kei yang plural memiliki perjanjian keramat yang dilakukan para nenek moyang terdahulu, bahwa semua orang Kei adalah bersaudara, untuk kemudian dipatuhi setiap orang dan semua generasi sepanjang usia.

Kita adalah telur-telur yang berasal dari ikan yang sama dan seekor burung yang sama pula. demikian bunyi pepatah adat Pulau Kei.

Ketiga, para prianya menempatkan kaum perempuan dengan begitu mulia, mereka dilindungi selayak permata. Perempuan bahkan memiliki peran besar dalam mendamaikan dua daerah yang berperang. Kebudayaan semacam itulah yang turut mengambil bagian penting dalam sejarah perdamaian.

Melindungi kaum perempuan adalah panggilan yang mengurat biru di nadi-nadi lelaki Kei. Itu adalah ajaran para leluhur...” (hlm 60)

Keempat, adalah, menurut yang pernah saya cari tentang etnis di Indonesia, hampir tak ditemukan ajaran tua mengenai tradisi untuk membantai sesama manusia, terlebih yang sebangsa. Dalam Kei, tidak ada Protestan, Katholik, maupun Islam. Tidak ada pengkotak-kotakan dalam pluralisme. Maka Erni menjelaskan secara selintas dalam novelnya, bahwa konflik memang datang dari orang-orang yang bukan Kei. Pendatang yang disebut dengan istilah ‘orang asing’yang membawa tujuan memecah belah bangsa Indonesia’. Untuk itulah, keadaan selalu mengajak kita berpikir.

Novel ini ditulis dalam sudut pandang orang ketiga yang serba tahu. Setting dalam ceritanya cukup tergambarkan dengan baik, dan karakter tokohnya berdiri sendiri dengan kuat. Cerinya pun mengalir dalam alur maju, kadang mundur di beberapa poin ketika Namira dan Maya mengenang masa dulu, dan juga menyimpan kejutan-kejutan, hal-hal yang tak pernah disangka, ironi, dan tragedi, yang membuat perasaan jadi miris.

Membaca kisah dramatis dalam novel ini sekaligus membuat saya bertanya-tanya. Apakah cinta memang harus bersama? Apakah orang-orang yang terpisah karena konflik ini dapat bertemu kembali? Apakah luka akan tersembuhkan?

Novel ini layak menjadi referensi pengetahuan kita tentang local wisdom dan sejarah konflik daerah di Indonesia. Menurut saya, pantas bila novel Kei menjadi pemenang unggulan Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta tahun 2012 lalu.

 

 

Yang Sempat Kubayangkan

aku selalu membayangkan ini sejak dulu:

dingin pun turun
di luar badai salju deras menyelimuti kota dan hutan-hutan
kita menghabiskan makan malam berdua di sebuah liang di bawah tanah
dalam hangat
aku membuatkanmu sup labu dan kopi panas
engkau melingkarkan syal biru di leherku
selusin lilin menerangi setiap dinding, dan bayangan kita direkam batu-batu
dunia tinggal kita berdua memilikinya
dan kenangan milik orang-orang tak bernama
ah, barangkali kita sepasang serigala yang beruntung

 

gambar diambil dari http://www.pinterest.com/pin/458170962064466295/

gambar oleh Chuck Groenink,  diambil dari http://www.pinterest.com/pin/458170962064466295/

 

 

 

Efek Feromon dalam Imaji Dua Sisi

novel Imaji Dua Sisi

Judul : Imaji Dua Sisi
Penulis : Sayfullan
Penerbit : de TEENS
ISBN : 978-602-7968-86-8
Editor : Itanov
Desain kaver : Ann_Retiree
Layouter : Fitri Raharjo
Tahun Terbit : 2014
Tebal : 333 halaman

Sering kali perasaan cinta disebut chemistery, maka ia tak terjelaskan kapan, mengapa, dan bagaimana, serta seperti apa bentuknya.

Tadinya saya kira novel ini seperti novel remaja biasa dengan cerita cinta yang itu-itu saja. Dibuka dengan kisah masa lalu Bumi sebagai salah satu tokoh, kemudian cerita tentang moment ospek kampus menjadi pembuka novel Imaji 2 Sisi ini. Tapi setelah lanjut membaca, ternyata dugaan saya meleset. Membaca bab demi bab, saya sadar bahwa novel ini memiliki pengaruh yang cukup ‘menohok’ perasaan saya :D, ditambah lagi dengan analogi teori kimia yang dipadukan dengan istilah cinta yang selama ini dikenal merujuk pada sesuatu yang tak berwujud.

Nggak ada ilmu pengetahuan apa pun yang bisa merumuskan cinta, Bum. Kalaupun ada, gue pasti juga bakal meraciknya. (halaman 158)

Demikian yang dikatakan Lintang tatkala Bumi menyampaikan teorinya. Bumi, dalam novel ini, meyakini feromon–salah satu hormon yang memiliki kontribusi besar dalam proses jatuh cinta, mempunyai pengaruh begitu besar dalam mendapatkan pasangan yang diincarnya.

Menyimak teori Bumi tentang bau tubuh manusia yang diekstrak, membuat saya ingat novel karya Patrick Süskind yang berjudul Perfume the Story of a Murderer, di mana tokoh utamanya yang jenius aroma, membuat parfum dari ekstrak manusia. Hanya saja novel tersebut membuat pembacanya seperti melihat konsep keindahan berpadu dengan kisah seram pembunuhan.

Lintang, Bara, dan Bumi dalam novel ini, adalah tiga orang yang bertemu di kampus jurusan Kimia di salah satu universitas negeri di Semarang. Sama-sama mendapat tugas aneh dalam ospek, mereka pun saling dekat dan terlibat, dan akhirnya terjebak dalam kondisi yang cukup membingungkan.

Lintang yang asal Jakarta pindah ke Semarang untuk lari dari masalahnya, yaitu menghindari Rakai, mantannya yang akan menikah. Dalam kerja keras melupakan itulah, ia bertemu dengan kehidupan baru di kampus dan dua orang yang mengisi harinya dengan persahabatan: Bara yang ekstrovert, berpenampilan keren, dan lucu, juga Bumi yang introvert dan culun namun genius, yang malah akhirnya sama-sama mencintai Lintang diam-diam. Ada pula Repi, mahasiswi rempong salah satu sahabat yang se-kost dengan Lintang yang berantusias ingin menjadi pacar Bara. Namun dalam novel ini, Repi tidak begitu sering diekspose. Menyimak pertemanan mereka yang kadang kocak itu, membuat kita lebur antara apa itu cinta, apa itu persahabatan. Keduanya menjadi hubungan aneh, persahabatan ganjil yang tapi berjalan harmonis dari waktu ke waktu yang berawal dari perasaan tertindas yang sama di masa ospek.

Yeah, kekaburan antara persahabatan dan cinta memang sering kali dialami oleh para gadis.

Lintang semula dikenal sebagai pribadi yang jutek dan anti lelaki. Namun Bara melihatnya sebagai kamuflase yang menutupi kepribadian yang sesungguhnya. Lintang sering kali ketus terhadap Bara. Namun ia juga penasaran apakah sikap itu karena Lintang memang membencinya atau sebaliknya. Sedangkan terhadap Bumi, Lintang malah sangat ramah. Bara bingung dan geram, tapi nyatanya ia sadar diri tatkala ia tahu kondisinya tak memungkinkan untuk bersama Lintang, ia pun pasrah.

Bumi diliputi cemburu ketika Bara dekat dengan Lintang, sebaliknya, Bara pun tak begitu suka melihat Lintang akrab dengan Bumi.
Bumi adalah sosok serius dan mencintai kimia. Ia bahkan sempat menceritakan impian dan teorinya mengenai feromon kepada Lintang. Bumi percaya bahwa bahwa ada semacam metode kimia yang dapat menyerap aroma alami manusia, zat yang dipercaya sebagai biang keladi cinta. Aroma yang diambil dari seseorang tersebut dapat menimbulkan perasaan cinta. Tentu Lintang yang realistis tidak menerima pemikiran itu. Sebab selain sadis, akan terdengar palsu bila feromon direkayasa sedemikian rupa demi mendapatkan cinta yang diinginkan. Bahkan perasaan ketertarikan yang dimaksud akan hilang ketika feromon telah habis. Namun menyerap feromon Bara demi mendapatkan Lintang merupakan bagian dari rencana besar Bumi.

Konflik pun meruncing. Bumi mencari cara dan keberanian untuk menyatakan maksud hatinya kepada Lintang. Demi memilikinya, segala cara dilakukan. Dengan rencana gila sekali pun. Namun dalam hati kecilnya, Bumi menyadari bahwa karakter yang secara iseng disampaikan Lintang sebenarnya ada pada Bara.
Anehnya, Bara yang sebenarnya juga mencintai Lintang malah memilih untuk membantu Bumi dan terpaksa meladeni Repi sebagai pelarian. Belum lagi perasaan Bumi tersampaikan, Bara malah mendapat permohonan dari Lintang untuk berpura-pura jadi pacarnya dan menemaninya pulang ke Jakarta karena pernikahan sang mantan dengan kakak kandungnya sendiri akan berlangsung. Lintang tidak mau seluruh keluarganya tahu bahwa Rakai adalah mantannya sebelum kecelakaan yang menimpa sang kakak terjadi. Namun sialnya usahanya gagal dan kekacauan pun terjadi.

…Setiap orang di sini pernah merasakan patah hati, kan? Tapi, bukankah itu tak lantas membuat seseorang harus berhenti berjalan? (halaman 252)

Sementara, melihat mereka berdua pergi bersama, Bumi menganggap itu sebagai pengkhianatan Bara terhadapnya. Bukan Bumi tidak tahu perasaan Bara terhadap Lintang, tapi bahwa perasaan dikhianati dan keyakinan bahwa Lintang lebih mencintai Bara, membuat impiannya mengekstrak feromon Bara ingin segera terealisasikan.

Lintang terkejut tatkala tiga orang terdekatnya malah menghilang satu-satu sepulang ia dari Jakarta. Repi pindah kost tanpa pamit, Bumi dikabarkan pindah kampus, dan pada saat yang sama Bara menghilang secara misterius. Dalam prasangka yang berkecamuk, Lintang mendatangi rumah nenek Bumi. Ia menerima surat berisi pernyataan hati Bumi selama ini terhadapnya, yang belum sempat disampaikan Bara kepada Lintang. Juga skema ekstrak feromon yang tertera di papan laboratorium pribadi Bumi yang terdapat nama Bara sebagai sasarannya. Bimbang dan kalap, Lintang mencari Bumi, ia berusaha menghentikan rencana gila Bumi. Hingga ia menemukan Bumi di Bandung, Bumi mengaku bahwa ia pun tak tahu keberadaan Bara meski Lintang masih curiga. Lalu tatkala hubungan Lintang dan Bumi berjalan setahun, petunjuk mengenai keberadaan Bara pun datang dengan cara tak terduga. Petunjuk yang barangkali membawa mereka pada jawaban. Arah perasaan Lintang, keberadaan Bara, rahasia di antara mereka, dan juga kisah akhir eksperimen mengerikan milik Bumi.

Lin, mana mungkin kita bisa melalui satu tahun lebih bersama tanpa ada cinta? Mana logis ikatan kita ini hanya karena hanya feromon yang sampai sekarang pun masih tersimpan di lemari pendingin laborat! (halaman 325)

Novel yang disajikan dalam 3 sudut pandang tokoh ini menarik untuk diikuti. Dengan alur yang runut juga penokohan yang cukup kuat membuat novel ini mudah dipahami. Tampaknya Sayfullan memiliki keahlian mengkomposisikan gaya bahasa yang ringan dan sering kali kocak. Novel ini juga menyimpan kejutan-kejutan. Bisa dikatakan, kedua hal itu, kekocakan dan nuansa romantis bisa berganti-ganti dapat tersaji dengan komposisi yang pas. Novel Imaji 2 Sisi ini cukup keren dan recommended untuk dibaca.

Di novel ini, sesuai dengan temanya, cinta dan kehidupan seperti diibaratkan dengan rumus-rumus kimia. Saya hanya belum mengerti mengapa novel ini diberi judul Imaji 2 Sisi, hehe. Beberapa kesalahan ejaan dan diksi memang masih ditemukan namun tidak terlalu mempengaruhi daya tarik ceritanya. Di samping itu, saya juga merasa ending-nya agar terlalu buru-buru. Ada sempat merasakan keganjilan cerita ketika sampai pada bab pernikahan Langit, kakak Lintang. Tapi untunglah bagian yang agak bikin deg-degan itu selesai dengan indah.

Anyway, novel ini keren sekali dan saya ingin memberinya 4 bintang. ^^

penyuka sendiri yang enggan disendirikan

Saya penyuka kesendirian dan suasana sepi. Kedua hal itu dapat menyelamatkan saya dari kesuntukan untuk kelak dapat berbaur lagi dengan akal sehat dan perasaan yang lebih longgar. Terlebih ketika usai menghadapi masalah. Dalam sepi, saya juga dapat lebih berkonsentrasi dalam bekerja atau berkarya.
Namun anehnya, bila itu dalam kebersamaan, saya selalu benci ditinggal pergi lama, apalagi bila begitu saja tanpa pamit.
Saya merasa sulit berdamai dengan inkonsistensi. Sekalipun konsisiten juga hal yang sulit bagi saya. Misal perasaan elergi saya (zaman ‘muda’ dulu) ketika ketemu orang yang notabene sedang mencari pasangan hidup tapi berpola pikir “aku mencari calon istri/suami yang bisa ditinggal-tinggal.” Bukannya malah “yang mau bersamaku untuk saling mendampingi dalam susah dan bahagia“. Karena cuma benda yang tidak akan protes ditinggal ke mana-mana tanpa pamit dan dapat dibuang sewaktu-waktu.

Barangkali terdengar aneh, penyendiri seperti saya bisa sangat penat ditinggal-tinggal tanpa pamit, disendirikan oleh hal apa pun itu. Sebab setiap kali itu terjadi, saya selalu diliputi perasaan menunggu dalam ragu. Saya nggak akan tahu kapan ia kembali, apakah ia bakal kembali, atau apakah benar bila saya tetap menunggu. Saya nggak tahu apakah ini disebabkan oleh kelainan mood atau suatu trauma di masa lalu… entahlah. Mudah-mudahan itu perasaan yang (masih) manusiawi.

 

demikianlah sedikit lamunan saya hari ini,
dan sekarang waktunya nyetel sealbum lagu-lagunya Chrisye sambil menyelesaikan pekerjaan 🙂

 

Kepada Tuhanku,

Yang tak bisa kulawan ialah
Cinta-Mu yang tak pernah luntur kepadaku
Waktu aku mendekati-Mu
Atau waktu aku berusaha melupakan-Mu

 

– Emha Ainun Nadjib –