penyuka sendiri yang enggan disendirikan

Saya penyuka kesendirian dan suasana sepi. Kedua hal itu dapat menyelamatkan saya dari kesuntukan untuk kelak dapat berbaur lagi dengan akal sehat dan perasaan yang lebih longgar. Terlebih ketika usai menghadapi masalah. Dalam sepi, saya juga dapat lebih berkonsentrasi dalam bekerja atau berkarya.
Namun anehnya, bila itu dalam kebersamaan, saya selalu benci ditinggal pergi lama, apalagi bila begitu saja tanpa pamit.
Saya merasa sulit berdamai dengan inkonsistensi. Sekalipun konsisiten juga hal yang sulit bagi saya. Misal perasaan elergi saya (zaman ‘muda’ dulu) ketika ketemu orang yang notabene sedang mencari pasangan hidup tapi berpola pikir “aku mencari calon istri/suami yang bisa ditinggal-tinggal.” Bukannya malah “yang mau bersamaku untuk saling mendampingi dalam susah dan bahagia“. Karena cuma benda yang tidak akan protes ditinggal ke mana-mana tanpa pamit dan dapat dibuang sewaktu-waktu.

Barangkali terdengar aneh, penyendiri seperti saya bisa sangat penat ditinggal-tinggal tanpa pamit, disendirikan oleh hal apa pun itu. Sebab setiap kali itu terjadi, saya selalu diliputi perasaan menunggu dalam ragu. Saya nggak akan tahu kapan ia kembali, apakah ia bakal kembali, atau apakah benar bila saya tetap menunggu. Saya nggak tahu apakah ini disebabkan oleh kelainan mood atau suatu trauma di masa lalu… entahlah. Mudah-mudahan itu perasaan yang (masih) manusiawi.

 

demikianlah sedikit lamunan saya hari ini,
dan sekarang waktunya nyetel sealbum lagu-lagunya Chrisye sambil menyelesaikan pekerjaan 🙂