rasionalisasi atas pengalaman kreatif: Afrizal Malna

Puisi seperti berusaha mencari korespondensi antara progresivitas Barat dengan keselarasan Timur.
Antara hamparan salju yang membeku dengan hempasan ombak di pantai-pantai tropis, lambaian pohon kelapa. Antara gereja-gereja gotik yang merepresentasi ketinggian ilahiah lewat tiang-tiang serta menaranya yang menghujam langit, dengan candi-candi yang tidak terlalu menciptakan hubungan kontras vertikalitas dengan horisontalitas bangunannya.

Iklan

“Menulis puisi bagi saya adalah membebaskan kata-kata,
yang berarti mengembalikan kata pada awal mulanya.
Pada mulanya adalah kata.
Dan kata pertama adalah mantera.
Maka menulis puisi bagi saya
adalah mengembalikan kata kepada mantera.”

Kredo Puisi Sutardji Calzoum Bachri, 1973.

catatan kecil

sebuah penafsiran dari sudut pandangku:

tinggi hati itu;
ketika orientasimu tak jauh dari dirimu sendiri,
terhadap orang lain
dan hanya berputar soal kau lagi, kau lagi, kau lagi
barangkali demi menjadi yang utama,
menjadi yang terpenting
maka bagimu kau harus memamerkan segala yg kau punya

rendah diri itu;
ketika bahkan kau tak mampu mengetahui
apapun kelebihanmu
dan tak berusaha menjadi setara

dan narsisme itu;
ketika engkau merasa seolah seluruh dunia
menatapmu dan menyoroti langkah hidupmu
padahal kau sadar, kau terlalu kosong
untuk melangkah ke depan
dan diam-diam orang muntah karena terlalu banyak tertawa melihat tingkahmu

rendah hati itu
ketika engkau lebih tahu
namun tak kau biarkan pujian mengalir sebab engkau merundukkkan rasa
hilangkan kesilauan dunia secara santun
tapi orang dengan sendirinya merasai ketulusanmu, sebab kau bergerak samar
menumbuhkan segala di sekitarmu, jauh lebih cerdas

21:23

sajak

kepada gelap:

usungkan mimpiku, malam, kepada lilin yang menjadi nyala cahaya
agar aku tidur sebentar lagi, pergi dari lelah
sampaikan pada kunang-kunang yang setia mencahayakan keajaiban langit
sebab hanya gelap yang dapat mengirim rasi gemintang, hingga kabut galaksi
mengantar sebagai bidadari

kepada rindu:
rebahkan penatmu menanti akhir episode, yang tak pernah ada untuk sekedar jawab..
biar ia berlari ke delapan penjuru mata angin
hingga aku lenyap
meresap imaji

kepada embun:
seantiasalah membelai jendela tua samping tempat tidurku,
agar aku sadar ini telah terlalu malam
sebab esok mungkin akan segera tiba dan aku harus kembali memijak dunia
dan aku menyanyikan diatonis lagu, untukku sendiri
menjelang dini hari

:gelap, rindu, embun, tetaplah menjadi sajakku hari ini..
hingga habis malam nanti

Pesan tentang Waktu

Pada suatu pagi aku berkaca padamu
Wajah ini yang melayap mencari sisa-sisa hidup
Menantikan hujan untuk
Kering di taman jiwaku

Dan sayup-sayup alunan itu terdengar, bagai bisik musim hujan di penghujung malam, mungkin wajah, membingkai memoar, membangunkan mimpi burukku, juga mata angin bagi lamunan tersesatku…

 

 

*cuplikanpuisi di atas diambil dari salah satu lagunya The Secret.