jalan tengah dan kesabaran: catatan harianku

28 Maret 2014
Jumat–di hari yang tak bersahabat denganku, seperti biasa

 

Belakangan saya kembali menikmati hobi menulis dan membaca di dalam suasana yang sunyi, seperti dulu kala, dan akhirnya, saya tahu betapa bahagianya bisa menulis hal-hal yang memang ingin saya tulis. Seperti catatan kecil yang seharian ini saya buat:

 

1.
Manusia memang mesti berada “di tengah”
Satu sisi agama dan nilai-nilai hidup mengajari manusia untuk hidup sebaik mungkin, tapi di sisi lain kita semua tidak boleh terlalu mencintai dunia.
Dan atas banyak alasan, aku selalu sepakat dengan itu.

 2.

Dalam doa, aku pun berada di tengah. Benar kata seorang kawan di masa lalu, bahwa kita tak perlu berdoa minta rezeki sama Tuhan karena Ia sudah siapkan sesuai jatahnya. Yah, kurasa rezeki memang sudah diatur oleh Tuhan sesuai usaha manusianya. Bahkan anak bayi yang lahir di lingkungan miskin juga sudah ditentukan rezekinya, tergantung apakah orang tuanya korupsi atau tidak.
Maka, menurutku, bila kita hanya berdoa minta ditambah materi, sama saja membuat hidup kita rugi dengan hal-hal indah yang bisa kita harap, seperti: kesehatan, menjadi bermanfaat untuk dunia, kesampaian travelling ke penjuru bumi, atau memiliki sahabat-sahabat sejati misalnya.
Tapi doa yang terbaik bagiku adalah jangan pernah Tuhan jauh dan meninggalkanku. Dan semoga Ia selalu kucintai di atas segala hal dalam hidupku. Dalam doa, hanya mampu kuserahkan segalanya pada Yang Maha Pemberi Hidup dalam kondisi netral.

3

Ukuran baik buruk bukan masyarakat yang menentukan, selama mereka tidak terlalu peduli tentang kita dan selama mereka juga tidak pernah membiayai kita seumur hidup. Keyakinan akan ukuran yang terbaik tergantung individu masing-masing.

Dalam hal ini kesabaran memang dibutuhkan.

 

4.

Aku benci di-PHP-in, oleh apa pun itu. Membuatku ingat sejarah diskriminasi yang dialami penduduk marginal, juga termasuk sejarah para perempuan di Indonesia.
Kini sudah zaman kesetaraan. Dan aku bersyukur bahwa aku tipikal yang selalu memiliki kegiatan sendiri yang menyenangkan selama tidak sedang tidur. Bagaimana bila yang mengalami adalah tipikal yang tidak punya kegiatan di luar kemapanan-kemapanan itu, selain menunggu dan menunggu? Dan bersyukur bahwa selama ini aku memang nyaman dengan kesendirian.
Namun bagaimanapun, kalimat “Aku benci di-PHP-in” adalah keputusan yang sama-sama kita sepakati bukan?

5.

Tidak ada orang tua yang sempurna untuk anak-anaknya. Tapi orang tua adalah ‘jalan’ dan tokoh-tokoh terbaik bagi “jalan hidup” anak-anaknya. Begitu juga anak-anak adalah jalan hidup terbaik bagi orang tuanya. Kita semua dalah pembawa sebab dan akibat bagi orang lain dalam bentuk karakter yang beragam. Dan toh bukan hal yang aneh bila karakter anak-anak bisa sangat berbeda dengan orang tuanya, di zaman sekarang… Dan segala hal itu memang sudah digariskan oleh Tuhan. Begitu juga dengan pasangan hidup.
(dan aku sedang tidak berbicara tentang lakon pewayangan)

 

6.

Dengan hal-hal yang amat bersebrangan, kita hanya butuh memaklumi.

Lalu seluas apa makna sabar? Apakah sungguh kesabaran memiliki batasan?

 

 

Iklan

Sekilas tentang Pernikahan dan Masyarakat

Tulisanku kali ini hanya sekadar opini.

Sepertinya sudah sekitar 50 persen adikku dan calonnya menggarap persiapan pernikahanan, kemarin hari mereka mengurusi undangan. Dan, yeah, aku memang lebih suka mengamati obrolan calon pasangan yang akan menikah daripada obrolan mereka yang cuma pacaran. Ada perbedaan bobot konten di dalamnya.

Awal mulanya dari sini. Seperti biasa, calon iparku ini akan lama bila berdiskusi dengan adikku, dan tatkala ia sedang salat di masjid, berhamburlah ibu-ibu (tetangga sekitar rumah) ini mengajak bicara adikku, nggak penting sih isinya. Tapi membuatku jadi ingin menuliskan ini sebagai bahan perenunganku juga. Sebab ibu-ibu ini kuanggap miniatur dari masyarakat kita.

Ibu-ibu pertama menanyakan, kok kamu mau sih dilamar dia padahal belum lama kenal? Kalau aku dulu pacaran 4 tahun. Kemudian ibu-ibu lainnya menambahi tentang betapa lamanya mereka pacaran sebelum menikah. Dan barangkali heran dengan adikku yang selama ini tak pernah pacaran tapi tiba-tiba langsung mau married. Dan tentu saja talk show mereka berlanjut dengan memberi opini tentang aku—sebagai kakak yang malah santai-santai saja, yang tidak terprediksi apakah bakal akan menikah atau tidak, atau entah kapan bakal menikah kalaupun iya. Nyatanya, sampai dilangkahi adik sendiri.
Aku sih nggak komen apa-apa. Kalau aku sedang berada di depan mereka, paling aku hanya senyum sambil nyiramin tanaman. Barangkali karena wilayah hidupku tidak lagi mengurusi masalah privasi orang lain tanpa izin. Dan maklum sih kenapa ibu-ibu ini heboh soal tetangga dan urusan orang lain, sebab ketika mereka menikah dan terlepas dari ranah publik, dunia mereka pun otomatis menyempit. Perempuan punya kodrat hidup yang multitasking daripada pria. Kalau bukan rumahnya, apa lagi kalau bukan tetangga lain yang jadi bahan pengamatan sampingan? Masa ya mau mengamati kondisi politik di Afrika misalnya? Sering kali aku berpikir, ibu-ibu yang sering bergosip ini bakal akan jadi pihak yang memunahkan budaya gosip, andai para suami mereka dan adat istiadat memberi ruang selebar mungkin untuk menempuh studi sampai tuntas dan ikut organisasi nasional dan internasional (misalnya). Perhatian mereka bakal cuma ke pendidikan anak, keluarganya sendiri, dan kesibukan sampingnya adalah permasalahan negara [hal-hal bersifat publik]. Bayangkan bahwa bila demikian, negara ini akan maju karena mereka punya penduduk wanita yang cerdas-cerdas yang mendidik anak-anaknya dengan terbaik juga. Haha. Tapi kan itu memang hanya khayalanku semata. Sebab sekali lagi, aku mesti melihat kondisi.

Kembali pada persoalan awal, pemikiranku berkait adat istiadat ini kutarik garis lurus:

Pertama, apa pun yang terjadi, aku bahagia dengan pernikahan adikku, tahu kenapa? Sebab untuk menemukan pasangan terbaik, orang tidak harus memilih prosedur pacaran lama. Dan untuk memutuskan menikah, orang tak perlu tergantung pada penilaian orang lain. Secara logika, menikahlah yang riil daripada pacaran itu sendiri. Seingatku juga, ibu-ibu muda yang barusan mengomentari adikku ini, pernah mengalami rentetan galau bertahun-tahun deh sebelum akhirnya menikah. Aku memang kelihatan cuek, tapi kan mengamati. Bisa-bisanya menganjurkan hal yang sama.
Kurasa belum pernah menemukan orang yang pacaran bahagia dengan statusnya yang menggantung. Ada berapa banyak orang di laur sana yang menderita karena sudah telanjur milih pacaran tapi nggak nikah juga? Mengingat Indonesia begitu rekat dengan adat dan religi.
Kalau orang sudah mau pacaran, berarti ia sudah berdamai dengan status yang lebih pasti dan malah menunggu kepastian. Kalau tidak ingin menikah, ya jangan suruh-suruh orang untuk pacaran. Bukankah dalam pacaran, orang tidak (boleh) bisa loyal dengan hubungannya karena terbentur status dan kondisi? Orang pacaran di Indonesia kan tidak boleh serumah seperti di negara liberal. Kalau cuma buat alasan mengenal calon pasangan, pacaran itu nggak cukup. Sebab apa? Sering kali kebiasaan buruk ketika pacaran baru kelihatan setelah menikah. Malah dalam soal ini, aku setuju dengan para ustadz, bahwa pacaran (yang nggak didasari niat dan proses akan menikah) malah justru serupa pintu gerbang menuju maksiat. Sebaliknya, pernikahan adalah gerbangnya menuju ibadah. Kecuali mereka yang nikahnya karena dorongan hormon, material, atau tuntutan sosial. Bukan karena dorongan spiritual. Jika kita sepakat pernikahan itu institusi yang sakral, sebaiknya jangan pernah mencampurinya dengan niat busuk.
Dalam hal ini adat kalah dengan agama.

Kedua. Yeah, memang aku sering tidak mau meng-agama-kan sesuatu yang bukan agama. Masalah melompati kakak adalah masalah adat, maka aku akan ambil pembanding yang lebih kuat daripada adat, yaitu agama. Bila permasalahan terbentur karena agama, maka pembandingnya langsung pada kajian kitab suci sedunia. Nah, dalam agama sendiri tidak ada larangan adik melangkahi kakaknya untuk soal menikah. Larangan itu hanya ada pada adat yang masih berlangsung di beberapa tempat di Indonesia. Kalau sudah begitu, jangan ajak bicara aku soal adat. Aku tidak berkarib dengan itu. Yeah, memang sih, aku tetap menghargai adat lama yang memperahankan nilai-nilai bahwa “adik haram melompati kakaknya.” kalau bisa malah ngorbanin pacar yang sudah lama nunggu daripada mengalahkan adat. Begitulah kata mereka yang menjadikan adat sebagai alibi untuk tidak (berani) menikah. Di zaman sekarang please deh, jangan bersikap udik soal begituan. Nikah itu bukan persoalan adat saja. Tapi kemanusiaan dan ketaatan terhadap agama.
Bukan berarti aku menolak nilai-nilai yang ada di dalam adat. Sebab di sana banyak pelajaran moral yang baik untuk menusia. Meskipun, nggak semuanya mematuhi.
Menurutku ada sisi adat yang cuma bersifat prosedural.
Misal, masalah sopan santun aja, kalau sudah terbentur adat, jadinya tidak terjadi hubungan yang murni antarmanusia. Bagiku sopan terhadap yang lebih tua bukan lagi persoalan adat, tapi filsafat. Sikap sopan adalah tanda bahwa manusia sudah menyadari dan memahami kemanusiaan dalam dirinya juga kemanusiaan orang lain. Sedangkan sopan dalam adat istiadat adalah kewajiban semata.

Selama ini, orang Jawa yang dikenal suka basa-basi karena mereka menjadikan adat sebagai prosedur wajib untuk mengatur bentuk hubungan. Menantu yang menghormati mertua (misalnya) bukan lagi karena tulus menghormati dan menyayangi, tapi karena prosedural adat itu tadi. Akhrnya malah terjadi ketidakcocokan di segala aspek kehidupan. Bukankah lebih tulus alasan kemanusiaan daripada prosedural? Bukankah lebih indah saling menghormati dan mencintai yang didasari dorongan hati dan moralitas daripada adat?
Dalam hal ini, adat kalah dengan hati.

Ketiga. Menikah itu sendiri adalah pilihan. Dalam agama disebut sunah. Boleh dijalankan, boleh tidak. Aku agak risih dengan masyarakat tertentu yang notabene paham agama, menyebut menikah adalah kodrat, dan terlebih malah ditekankan pada wanita seolah itu kewajiban dan beban yang ditanggung kaum wanita itu sendiri. Yeah, memang melahirkan dan menyusui adalah kodrat wanita. Tapi menikah adalah pilihan. Ada beda antara kodrat dengan konstruksi sosial bernama pernikahan. Dalam pernikahan, wanita yang sedang hamil dan menyusui pun merupakan tanggung jawab suami dan keluarga besarnya juga, sebab itu semua dilakukan karena pilihan.
Kalau si anak lahir, bukankah pendidikan awal adalah orang tua dan keluarga besarnya?
Sekarang sudah nggak zaman berpatriakhat ria. Yang ada adalah kesetaraan dan tanggung jawab yang dijalani bersama.

Tatkala mereka menganggap pemikiranku nyeleneh ya toh biar saja, aku yang menjalani. Dan aku memang mempersilakan adikku menikah lebih dulu karena tidak mungkin kan menyuruh mereka (adik dan calon iparku) yang sudah matang soal niat, malah jadi nunggu aku yang belum didatangi nasib yang sama…?
Aku nggak mau kejam dong sama adik sendiri. Aku juga nggak mau egois terhadap orang tuaku.

Dalam hal ini, adat pun kalah dengan kemanusiaaan.

Sekian.

*Hasil pemikiran sepanjang jalan sambil hujan-hujan tadi pagi.

sekadar catatan

 

Kurasa “hantu” setiap zaman itu beda-beda. Zaman dulu hantu bolehlah semacam makhluk halus penunggu hutan atau rumah tua. Zaman sekarang yang suka nebar teror di mana-mana bukankah kebanyakan manusia?

Zaman di mana iblis dan malaikat tak bisa dibedakan seperti sekarang ini, masih bisa ya manusia dinilai dari tampilan luar?

 

 

Keperempuanan dan Skripsiku

Sebetulnya aku sendiri sudah pernah menulis perihal skripsi secara detail, sampai pada akhir yang dramatis ketika memperjuangkan kelulusan itu. Mungkin di blog sebelum ini dan juga di blog ini. Aku terbiasa menulis peristiwa penting dalam hidup karena hanya ingin kutitipkan semua itu pada kertas dan masa lalu saja, tidak perlu lagi dibahas. Tapi baiklah, meskipun telat, demi komitmen memenuhi tugas Komunitas Penamerah tercinta, aku akan mengingatnya sebentar. Maaf, bila isinya mbulet.

Saat itu aku masih jadi mahasiswi labil yang bosan kuliah di tahun ketiga. Karakter dan cara berpikirku waktu itu sedikit kelaki-lakian, atau sangat “feminis”—wanita dengan obsesi kesetaraan gender, dan saat itu juga aku sedang asyik-asyiknya belajar banyak hal, kerja, organisasi, dan cenderung anti dengan pernikahan, juga yeah… enggan dengan laki-laki. Seingatku seperti itu. Maksudku, selama mereka tak menghargai wanita, maka wanita tak harus menghargai mereka.

Waktu itu aku berpikir bahwa menyukai seseorang itu nggak sama dengan menikahi. Mencintai tidak bisa direncakan seperti pernikahan. Aku pernah baca cuplikan ini di sebuah buku dan menyetujuinya.

Menikah di negara berkembang bagiku sama saja dengan bunuh diri karena bakal tidak sesuai dengan nilai-nilai feminisme (parah banget ya :|). Sedangkan ide-ide feminisme terlihat lebih riil daripada pernikahan itu sendiri, maka skripsi pun kuperjuangkan yang bertema perempuan, sesuai dengan passion-ku dan juga dilatarbelakangi sedikit rasa dendam dengan sejarah patriakhat Indonesia, terutama yang dimulai pada zaman feodalisme dan kolonialisme. Saat itu novel yang kukaji kebetulan adalah novel favorit, Bumi Manusia karya Pramoedya AT. Sejak draft skripsi itu terlintas di pikiran—di tahun ketiga kuliah—akhirnya skripsi pun selesai setahun kemudiannya. Tentunya setelah melewati masa-masa bertarung dengan banyak hal, riset sana-sini, dan gonta-ganti judul.

Meskipun rasanya di negara-negara berkembang seperti Indonesia memang tak banyak yang ingin tahu atau peduli perihal emansipasi, aku tetap tertarik dengan perihal feminisme dan perjuangan menyetarakan, meskipun dengan caraku sendiri. Dan saat itu, dengan keringat, pikiran, air mata darah (kalau ini sih lebay) akhirnya berhasil merampungkan 103 halaman skripsi bertema perempuan, memang tidak sebanyak yang aku rencanakan.

Yeah, tak banyak juga yang ingin kuingat di tahun-tahun menyusun skripsi itu, tapi setidaknya aku mengerti dua hal: betapa pentingya menjadi perempuan secara penuh, dan betapa berantakannya skripsiku dulu. Kenapa nggak jadi editor dari dulu aja sih? -____-. Baiklah, semua itu ada waktunya sendiri-sendiri.

Hal yang berat waktu itu adalah melawan sifatku sendiri yang ingin “segalanya harus sempurna” karena setelah dijalani, ternyata mudah. Huft. Rasanya aku kurang maksimal mengerjakan skripsi, sekalipun dapat nilai A. Pendadaran juga berlangsung lancar. Segalanya mudah dan tak sesulit yang dibayangkan. Atau memang karena semua itu sudah sangat lama dan sudah selesai…? Skripsi itu mudah. Yang tidak mudah cuma birokrasi kampusnya. Sialan. Ya sudahlah.

Malam ini usai bongkar-bongkar skripsi, pikiranku jadi melayang-layang. Teori Naomi Wolf sampai Friedrich Engels berputar-putar di ingatanku. Yeah, kesetaraan gender masih jadi hal sensitif dan penting di benakku. Hanya saja sekarang sudah agak berdamai dengan nilai-nilai pernikahan. Rasa dendamku dengan zaman feodal dan kolonial terkait dengan perempuan pun terobati dengan kehidupan di sekitarku, terutama keluarga. Demi hidup normal, terkadang kita memang harus menutup mata dari hal-hal yang buruk dan kekhawatiran yang tidak-tidak.

Dan kini, aku berpikir, mencintai sebenarnya bisa sejalan dengan rencana pernikahan di masa depan. Sekalipun itu tak mudah.

Yeah, kau tahu, berdamai dengan ideologi pernikahan adalah perjuangan yang sungguh merepotkan, seperti memilih agama. Itu butuh waktu dan perenungan yang amat panjang. Yang rupanya jauh lebih rumit daripada garap skripsi (haha, jadi curhat deh…)

 

 

Berikut adalah beberapa potongan halaman skripsiku waktu itu.

bagian abstraksi.

bagian abstraksi.

waktu itu, masih berkeyakinan kalau "stereotip" adalah salah satu penyebab deskriminasi terhadap perempuan.

waktu itu, masih berkeyakinan kalau “stereotip” adalah salah satu penyebab deskriminasi terhadap perempuan.

sepenggal tentang keadaan perempuan di zaman feodal dan kolonial

sepenggal tentang keadaan perempuan di zaman feodal dan kolonial

wanita banyak menjadi "objek" di beberapa karya sastra lainnya.

wanita banyak menjadi “objek” di beberapa karya sastra lainnya. Baik secara minor maupun mayor

tentang diskriminasi terhadap permepuan di masyarakat

tentang diskriminasi terhadap perempuan di masyarakat, secara umum

ya ampun, kok bisa nulis kayak gitu ya dulu? =))

ya ampun, kok bisa nulis kayak gitu ya dulu? =)) Oh tentu saja dong, para bule zaman kolonial juga punya sejarah diskriminasi yang parah di wilayah jajahannya.

novel "Bumi Manusia" cukup menyedihkan bagiku :(

novel “Bumi Manusia” cukup menyedihkan bagiku 😦

Halaman "motto", quote Mahatma Gandhi paling kusuka waktu itu. Yeah, sebab substansi dari feminisme tetap saja ke arah "memanusiakan" , terutama terhadap perempuan

Halaman “motto”, quote Mahatma Gandhi paling kusuka waktu itu.
Yeah, sebab substansi dari feminisme tetap saja ke arah “memanusiakan” , terutama terhadap perempuan

*Untuk memenuhi tugas Komunitas Penamerah

Perempuan

Suatu hari di catatan harian.

 

Ada perempuan yang dicintai karena wajah, kulit bersih, kepintaran, kepopuleran, kemudaan, jabatan ayahnya, kebaikan, atau barangkali karena harta. Ada pula yang dipilih karena pelarian. Mereka akhirnya sakit dan terjatuh, karena rupanya alasan-alasan itu tak menjamin kebahagiaan yang berlangsung lama di masa depan. Realitasnya manusia punya lebih banyak sisi keji daripada indah. Dan romantisme memiliki kadalursa. Sedangkan kasih sayang yang sejati tak memilikinya.

Dan aku, mereka, atau barangkali kamu, adalah perempuan, yang secara nurani ingin dicintai tanpa pretensi. Sebab perempuan butuh cinta yang tulus, bukan diterbangkan dengan pujian selayak layang-layang, lalu dibuang ketika koyak.

Perempuanlah yang melahirkan kehidupan, ia butuh berani mati untuk itu…
Tak perlu jadi “murahan” untuk hal yang bakal membuatmu banyak berkorban di masa yang akan datang.

Berterimakasihlah pada agama untuk soal ini. Tuhan toh pemilik keputuasan terbaik.

Belajar dari romantisme Kakek-Nenek dan Ayah-Ibu.
“cinta adalah soal jiwa, bukan hal-hal bersifat kulit”

riset kecil tentang kebahagiaan

Beberapa hari ini, aku ngulik hal-hal berkait masa lalu, kini, dan masa depan. Bahan referensinya kuambil dari kehidupan biksu, nabi, pejabat, kaum revolusioner, seniman, pengusaha, masyarakat marginal, menengah ke atas, bahkan pada hal-hal di sekitarku…  dari berbagai hal.

Awalnya dari menemukan beberapa artikel dan tulisan yang merujuk pada beda tebal antara ‘kesenangan’ dan ‘kebahagiaan’. Secara etimologi pun beda.

Intinya begini:

Orientasi kesenangan mengacu pada syarat-syarat meterial yang harus dipenuhi. Sayang sekali, rata-rata ‘kesenangan’ menunjukkan bahwa ia bersifat sementara, egois, terbatas, dan rakus. Sisanya menunjukkan adanya ketidakstabilan. Kesenangan tidak selalu menunjukkan kebahagiaan.

Sedangkan kebahagiaan hampir tak memiliki syarat apa pun untuk mencapainya. Ajaibnya, bersifat lebih abadi, berkelanjutan, menyebar luas, dan tak berhingga (bila kita hubungkan secara matematis). ‘kesenangan’ hanya menjadi salah satu ciri di dalamnya. So, ada kebenaran slogan populer yang berbunyi “bahagia itu sederhana.”

Semula riset kecil-kecilan ini (iseng) dilakukan dengan cara studi teks secara simpel, dan dari kasus yang pernah ada aku kumpulkan dalam sebuah notes. Kemudian menganalisisnya menjadi berlembar tulisan, yang mungkin tidak perlu aku posting di blog. Seperti biasa, proses ini hanya untukku pribadi, demi mengetahui apakah hingga usia 26 ini, aku telah berada di jalan yang benar atau tidak.

(memang sih, kurang kerjaan banget, tapi penting, bagi perempuan, itu usia rentan bukan?)

Memang tidak serta merta aku mengerti kondisi kehidupan pada biksu/bikhuni—misalnya—tanpa riset langsung. Yeah setidaknya, ada gambaran dan pelajaran penting di sana, bahwa untuk berbahagia, hal-hal bersifat material tidak menjadi faktor penentu. Kasarnya, hal-hal duniawi takkan bisa membeli kebahagiaan.

seperti halnya kita takkan bisa membeli keimanan seseorang.

dan ending sementara dari analisis dan perenungan ini adalah… Kita sama-sama tahu, mana dari kedua hal tadi yang sejatinya paling banyak dicari (dirindukan).

sekian.
Selamat beristirahat,

semoga esok menjemput bahagia

Tepi (3)

Manusia itu seperti sebuah rumah berbentuk kastil besar dengan bagian isi yang berlapis-lapis. Kita adalah pemiliknya. Orang-orang hanya berkunjung di beranda, maksimal di ruang tamu dan ruang tengah. Tapi di kastil itu, ada kamar untuk keluarga, tamu, dan pribadi, ada juga sebuah ruang yang letaknya lebih ke dalam, semakin ke dalam semakin orang lain tak diperbolehkan masuk selain si empunya kastil… bahkan kucing peliharaan pun tak boleh turut mengekor seperti biasa… sehingga saking rahasia ruang itu, orang-orang hanya menganggapnya mitos.

Ruang itu barangkali bernama hati, begitulah kata si pemilik kastil.

Dan karena manusia adalah kastil tua dengan ruangan berlapis-lapis, aku tengah berjalan lebih ke dalam ruang paling rahasia itu..menemui kesunyian…

Sebab kesunyian, satu-satunya hal yang mengakui tanpa pretensi, bahwa sepenuhnya dirinya manusia…

 

Traditional-Diwali-Wallpapers

Sebuah Pernyataan

catatan:

-dari perempuan kepada laki-laki-

pada lebaran ketigaku:

 

Sudahlah, jangan lagi banyak berbicara soal hal-hal duniawi: kecantikan fisik, fashion, foya-foya, tentang menimbun harta, atau bluefilm yang kerap engkau nikmati dan kau sebut itu kumpulan kesenangan, yang kau mumpung-mumpungkan selagi masih hidup. Jangan lagi berbicara soal kenikmatan-kenikmatan yang semu dan segera akan pergi. Jangan ajari aku tentang cara menikmati hal-hal yang aku sendiri enggan menyentuhnya. Jangan banyak mengajakku berdiskusi tentang hal-hal yang jarang sekali kupercayai: kebahagiaan sementara, janji-janji kosong, dan obsesi duniawi yang kurasa cukup mengerikan untuk kuselami. Bukankah kita semua tahu, ada kebahagiaan yang sesungguhnya kita cari, dan tidak selalu soal dunia?

Mari duduk berdua di sini. Sediakan sedikit waktu untuk berbicara tanpa obsesi, saling memahami arah tatapan mata dan perasaan masing-masing. Mari kita pergunakan bahasa hati saja sesekali, dan dengarkan apa yang akan aku katakan sebagai pernyataan:

Mari mulai detik ini, kita berbicara saja tentang kemanusiaan, tentang negara kita yang masih terjajah, tentang sejarah agama juga persamaan ketika kita ingin dunia kita damai, tentang betapa sia-sianya manusia yang berebut harta benda, juga tentang apa keimanan dan makna takwa yang sesungguhnya. Mari kita berbincang saja tentang ilmu-ilmu filsafat, tentang kebaikan dan kebenaran, tentang eksistensi Tuhan, tentang perkembangan ilmu pengetahuan, tentang perihal karya sastra, tentang iklim sosial, tentang anarkisme, tentang sejarah budaya, dan barangkali tentang pendidikan anak. Atau bila kau bosan berbicara tentang itu semua, baiklah kita bisa berbicara hal-hal sederhana di sekitar kita. Tanaman organik, atau pendapatmu tentang suasana pagi.

Kau tahu, secantik apa sesuatu yang engkau pandang saat ini, akan beranjak keriput dan beruban, dan semakin berbau tanah suatu saat nanti. Marilah sejenak berhenti, kita berbicara hal-hal lain yang membuat kita tumbuh setiap hari, belajar setiap waktu, mencintai Tuhan sepanjang hidup, dan berjanji bertemu lagi pada keabadian. Saling ada dan tidak hanya untuk saat ini saja.

Sebab aku lebih ingin engkau menikahi jiwa dan isi pikiranku, tidak sekedar tubuhku—yang kelak akan binasa bersama bumi seisinya.

heart-key-love-silver-true-love-Favim.com-47258