jalan tengah dan kesabaran: catatan harianku

28 Maret 2014
Jumat–di hari yang tak bersahabat denganku, seperti biasa

 

Belakangan saya kembali menikmati hobi menulis dan membaca di dalam suasana yang sunyi, seperti dulu kala, dan akhirnya, saya tahu betapa bahagianya bisa menulis hal-hal yang memang ingin saya tulis. Seperti catatan kecil yang seharian ini saya buat:

 

1.
Manusia memang mesti berada “di tengah”
Satu sisi agama dan nilai-nilai hidup mengajari manusia untuk hidup sebaik mungkin, tapi di sisi lain kita semua tidak boleh terlalu mencintai dunia.
Dan atas banyak alasan, aku selalu sepakat dengan itu.

 2.

Dalam doa, aku pun berada di tengah. Benar kata seorang kawan di masa lalu, bahwa kita tak perlu berdoa minta rezeki sama Tuhan karena Ia sudah siapkan sesuai jatahnya. Yah, kurasa rezeki memang sudah diatur oleh Tuhan sesuai usaha manusianya. Bahkan anak bayi yang lahir di lingkungan miskin juga sudah ditentukan rezekinya, tergantung apakah orang tuanya korupsi atau tidak.
Maka, menurutku, bila kita hanya berdoa minta ditambah materi, sama saja membuat hidup kita rugi dengan hal-hal indah yang bisa kita harap, seperti: kesehatan, menjadi bermanfaat untuk dunia, kesampaian travelling ke penjuru bumi, atau memiliki sahabat-sahabat sejati misalnya.
Tapi doa yang terbaik bagiku adalah jangan pernah Tuhan jauh dan meninggalkanku. Dan semoga Ia selalu kucintai di atas segala hal dalam hidupku. Dalam doa, hanya mampu kuserahkan segalanya pada Yang Maha Pemberi Hidup dalam kondisi netral.

3

Ukuran baik buruk bukan masyarakat yang menentukan, selama mereka tidak terlalu peduli tentang kita dan selama mereka juga tidak pernah membiayai kita seumur hidup. Keyakinan akan ukuran yang terbaik tergantung individu masing-masing.

Dalam hal ini kesabaran memang dibutuhkan.

 

4.

Aku benci di-PHP-in, oleh apa pun itu. Membuatku ingat sejarah diskriminasi yang dialami penduduk marginal, juga termasuk sejarah para perempuan di Indonesia.
Kini sudah zaman kesetaraan. Dan aku bersyukur bahwa aku tipikal yang selalu memiliki kegiatan sendiri yang menyenangkan selama tidak sedang tidur. Bagaimana bila yang mengalami adalah tipikal yang tidak punya kegiatan di luar kemapanan-kemapanan itu, selain menunggu dan menunggu? Dan bersyukur bahwa selama ini aku memang nyaman dengan kesendirian.
Namun bagaimanapun, kalimat “Aku benci di-PHP-in” adalah keputusan yang sama-sama kita sepakati bukan?

5.

Tidak ada orang tua yang sempurna untuk anak-anaknya. Tapi orang tua adalah ‘jalan’ dan tokoh-tokoh terbaik bagi “jalan hidup” anak-anaknya. Begitu juga anak-anak adalah jalan hidup terbaik bagi orang tuanya. Kita semua dalah pembawa sebab dan akibat bagi orang lain dalam bentuk karakter yang beragam. Dan toh bukan hal yang aneh bila karakter anak-anak bisa sangat berbeda dengan orang tuanya, di zaman sekarang… Dan segala hal itu memang sudah digariskan oleh Tuhan. Begitu juga dengan pasangan hidup.
(dan aku sedang tidak berbicara tentang lakon pewayangan)

 

6.

Dengan hal-hal yang amat bersebrangan, kita hanya butuh memaklumi.

Lalu seluas apa makna sabar? Apakah sungguh kesabaran memiliki batasan?

 

 

Satu komentar di “jalan tengah dan kesabaran: catatan harianku

  1. Mengalir, seperti air.
    Mengalir, seperti ilalang yang terhempas angin.
    Mengalir dan mengalir.
    Mengalir adalah yang terbaik.
    hehehe…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s