Film Refrain dan Opini tentang Persahabatan

“Persahabatan itu nggak memilih. Persahabatan bukan didasari oleh gender, usia, motif, atau apa pun itu. Persahabatan yang tulus nggak harus punya alasan.”

Benar. Tapi omong-omong, apa sih artinya Refrain? Kalau menurut google translate sih ‘menahan diri. Tentang apa sih film ini kok sampai ada soal menahan diri? Atau bisa jadi refrain adalah istilah musik yang berarti bagian perulangan dari lagu. Ya marilah kita abaikan sejenak judul, karena agak sulit memang dihubungkan dengan pesan moral filmnya :p

Refrain bercerita tentang Niki (Maudy Ayunda) dan Nata (Afgansyah Reza). Mereka bersahabat sejak kecil. Kedua orang tuanya bekerja di satu perusahaan dan sama-sama harus dinas ke luar kota. Oleh karenanya mereka selalu bersama ke mana pun itu. Apa keburukan dan kelebihan yang dimiliki satu sama lain, mereka pun sudah hafal. Setiap pada Niki di sana ada Nata, dan begitu juga sebaliknya. Bahkan saking dekatnya, mereka berjanji siapa yang lebih dulu jatuh cinta, harus ngasih tahu. Tapi janji itu tidak tertepati. Suatu hari Niki jatuh cinta pada Oliver, kapten tim basket di sekolahnya. Sejak itu, Nata merasa ada yang hilang. Niki sudah tak lagi sering ada waktu untuknya. Namun, tak hanya sekadar itu, Nata cemburu. Rupanya diam-diam Nata menyukai Niki, perasaan itu ada begitu saja tanpa bisa diprediksi, tapi rahasia itu disimpannya jauh karena mereka bersahabat. Sejak itu, dunia terasa berubah di mata Nata. Sedangkan dunia baru berubah di mata Niki ketika ia tahu sikap Nata yang antipati terhadap Oliver itu karena ia menyayangi Niki. Niki pun menjauh. Namun perasan cinta juga bagian dari proses dan tidak bisa instan. Ada sesuatu yang akhirnya membuat Niki menyusul Nata ke Austria 5 tahun kemudian. Tak bisa dipungkiri, bahwa cinta juga melampaui hubungan bernama persahabatan, sebab tahu bahwa Nata adalah pria terbaik dalam hidup Niki, telebih sejak Oliver, cinta pertamanya menyakitinya, dan tahun-tahun yang entah bagaimana telah dilaluinya. Yuhu, ini film remaja yang menarik meskipun ide tentang sahabat jadi cinta memang klise.

Refrain film yang rilis tahun 2013-an, yang memang awalnya tak berniat saya tonton karena kesibukan dan tak terkondisikan nonton film sejenis drama. Tapi jenuh juga terus-terusan nonton film idealis sehingga film ringan sesekali jadi pilihan. Awalnya sih karena tokoh utamanya memang artis di dunia musik, ngarepnya sih bakal seperti film August Rush. Ternyata beda sih, hehe. Film remaja yang satu ini ‘imut’, apalagi diselipi dengan iklan di adegan pembuka =)). Sebenarnya film yang disutradarai Fajar Nugros ini diadaptasi oleh novel karangan Winna Efendi yang judulnya Refrain juga, tapi saya sendiri belum baca novelnya. Ya entah mengapa, pengalaman dan firasat selalu mengatakan novel selalu lebih bagus daripada versi filmnya. Tak mengapa. Ada beberapa adegan manis yang mengesankan di film itu.

Pertama, ketika Nata dengan tegas ngelarang Niki diajakin kencan tiba-tiba sama Oliver sepulang sekolah. “Ngapaian sih mau sama dia? Entar kamu diapa-apain lho? Ngaco ah, nggak usah!” Tapi toh akhirnya Niki berangkat juga dan Nata membawakan tas Niki sambil mencemaskannya. Karakter Nata ini kadang dingin tapi protektif, sering ia ngingetin Niki untuk belajar biar nggak ketinggalan. Mungkin sih di dunia ini memang ada tipe sobat cowok yang ‘keibuan’ seperti itu.

Kedua ketika si Nata berani memukul Oliver atas tindakan kurang ajarnya pada Niki di acara promnait lalu menggandengnya pulang, padahal sebelumnya mereka lagi marahan karena Niki tahu Nata ‘mengkhianati’ persahabatan dengan menyayanginya. Tapi perempuan mana yang tidak terenyuh ketika ada yang membelanya ketika dalam posisi “tersudut”? Ya toh?

Ketiga, ketika 5 tahun kemudian akhirnya Niki nyusul Nata ke Austria dan happy ending, walaupun adegan yang ini terkesan buru-buru. Meski dari awal, film ini predictable, tapi jalan ceritanya menarik untuk diikuti dan tidak terlalu mainstream kok. Beberapa kekurangan tentu ada, sebagai film remaja, saya belum pernah menemukan dua tokoh ini hidup dalam pengaruh keluarga dan orang tua, melainkan pyur hanya tentang mereka. Kecuali kakak Nata yang lebih tepat disebut sampingan. Malahan Annalise (Chelsea Elizabeth Islan) benaran hanya sampingan, terbukti ketika adegan buka-bukaan perasaan yang bersifat kecelakaan itu (karena deim-diem Annalise suka Nata), sepertinya ngambang entah bagaimana kelanjutannya. Tiba-tiba di promnait, Annalise jejer bedua dengan kakak lelakinya Nata.

Soal akting tidak diragukan lagi, mereka cukup menjiwai dan tidak lebay, baik ketika berperan sebagai remaja maupun ketika dewasanya. Apalagi bawaan karakter Afgan yang romantis, menurut saya pas meranin Nata di film itu. Nonton ini saya jadi ngerasa betulan ngerasa balik jadi remaja, zaman masih suka nontonin fenomena temen-temen yang mirip sinetron. Gimana tidak, nggak banyak remaja yang punya nasib seperti Niki kecuali dalam imaji. Remaja cantik, sugih, sukses, populer, anggota cheerleader, dan punya sahabat ganteng yang selalu ngejagain serta membelanya seperti seorang kakak itu hanya milik mereka yang beruntung aja. Urusan entar jadi sahabat doang atau bakal pacaran, yang jelas punya sahabat yang selalu ada itu berkah tersendiri bagi kaum hawa. Memang sih jenis cerita remaja di film itu atau di banyak cerita lainnya selalu klise, persahabatan yang jadi cinta. Tapi tak mengapa, mengingat animo pasar, tipe remaja nggak cantik dan kaku yang hanya punya teman buku dan petugas perpus yang akhirnya punya pacar di masa kuliah tentu agak merepotkan untuk dituliskan dan kurang menarik untuk dijadikan ide cerita remaja, haha.

Pesan moral menurut versi saya (versi pemikiran tua maksudnya)

Benar memang rasanya galau bagi perempuan dihadapkan dengan kondisi ketika teman atau sahabat pria ternyata punya perasaan lebih. Padahal selama itu kita udah nyaman deket tanpa pretensi, selama itu kita percaya teman/sahabat kita sudah jadi teman curhat yang tidak punya maksud lain. Tapi tidak bisa dipungkiri pada akhirnya perempuan itu kompleks, mereka tetap butuh persahabatan ketika sudah masuk pada hubungan cinta yang berlangsungnya bakal lama. Itulah yang sering kali sulit dipahami kaum lelaki. Memang gimana tuh maksudnya? Jadi begini, hubungan cinta tidak hanya sekadar status dan kewajiban-kewajiban standar ala timur sebagaimana lelaki dan perempuan bentukan masyarakat patriakhat, tapi juga hubungan yang bahkan seperti sahabat dan kekasih sejati: interaksi, kesetaraan, saling pengertian, kedekatan batin, negosiasi, keterbukaan, kejujuran, ada diskusi, hingga kepekaan emosi. Perempuan (terutama yang berpikiran maju) jelas nggak mau bertahan di hubungan yang hanya bersifat ‘ngasih makan status’ untuk melegalkan cinta hormonal atau sekadar nafsu semata, sehingga aslinya ‘saling terpisah’, serba hierarki, nggak ada “komunikasi”, dan berbicara hanya soal kebutuhan sehari-hari. Nggak percaya? Buktikan aja kalau sudah nikah:)

Saya setuju dengan apa yang dikatakan Nata ketika nasehatin Niki dalam adegan di film itu:

Di dunia nggak ada yang namanya cinta pada pandangan pertama. Yang ada juga nafsu atau suka pada pandangan pertama. Yang lalu disalahartikan sebagai cinta.

Itulah mengapa menurut saya mungkin saja kok perempuan atau laki-laki jatuh cinta sama sahabat sendiri. Jodoh bisa datang dengan cara apa saja. Saya yang selama ini selalu jadi pihak penonton, sering banget menyaksikan ending yang semacam itu di kehidupan sehari-hari. Entah dari cerita teman, para tetangga, hingga mbah-mbah, yang malahan menurut mereka lebih langgeng ketimbang yang ketemu gede, karena ya sejak dulu cuma si dia saja yang udah dikenal dan udah nyaman 🙂Nonton film remaja yang satu ini, saya jadi ngerasa keyakinan saya sejak dulu ada benarnya. Tidak ada persahabatan murni lawan jenis di dunia ini, kecuali dua alasan, pertama have fun aja, kedua karena cinta yang tak bisa dijelaskan karena terbentur nilai buatan masyarakat itu sendiri di Indonesia, ketiga barangkali pihak perempuan/lelakinya homoseksual :|. Film ini lumayan juga dijadikan selingan di tengah kesibukan monoton.

Sesuai pengalaman pribadi, saya nggak terlalu percaya ada persahabatan sejati antara lelaki dan perempuan di dunia ini. Tapi saya percaya persahabatan dapat dibangun oleh dua orang yang memutuskan untuk saling mencintai dan ingin bersama selamanya. 🙂


Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s