Ke Sarangan Kita Berdendang

Di dunia ini, kita kadang lupa bersyukur memiliki sepasang telinga. Telinga, bagi yang berfungsi baik, akan menangkap banyak hal di sekitarnya meski belum tentu mampu “mendengar”. Indra kita yang satu ini tidak akan tahan dengan keheningan yang kosong dalam waktu lama. Kemudian sebagian dari kita menyukai bunyi-bunyian yang disebut musik. Memang ada juga orang-orang yang tidak terlalu suka musik sepertiku. Tetapi, bisa dikatakan setiap orang memiliki kecederungan suka mendengar sesuatu yang khas. Bisa sebuah lagu, suara tokek di malam hari, bising pasar, gemerisik daun, atau sekadar suara seseorang yang dirindukan.

Tampaknya kita juga sepakat, mendengar sesuatu yang sama berulang-ulang menjenuhkan bagi siapa pun. Terutama bila kita tidak menyukainya. Tapi bagaimana bila mau tak mau, kita berada dalam kondisi itu dan tak bisa menghindar?

Seperti hari ini, bus besar yang kami tumpangi telah melaju 2 jam dari Yogyakarta, sekarang memasuki Solo dan harus bertemu macet selama sejam. Tidak ada masalah dengan busnya. Bus yang memuat 50 penumpang ini cukup nyaman untuk berwisata. Full AC, wangi apel, coffe maker, kursi berbantal, dan selimut yang baru dicuci, televisi, dan wi-fi. Tapi musik yang menyala dari dari sistem audionya membuat siapa pun seperti sudah 3 hari terperangkap di dalamnya. Katakanlah bila satu lagu berlangsung 7 menit. Kami telah tiga jam mendengarnya.

Terlalu mahal harus kubayar
Kecuranganmu dengan…
Dengan air mata…
Dengan air mata…

“Sudah yang ke-26.” Ternyata seorang teman yang duduk di belakangku menghitungnya. Ia sibuk membaca Mrs. Dalloway sepanjang jalan tetapi sempat menyimak dan menghitung lagu. Yang terlihat paling nelangsa adalah Tina, teman di sampingku. Ia kini membenamkan diri ke dalam selimut, menyerah karena tak bisa menutupi telinganya rapat-rapat. Ponselnya kehabisan daya dan mati. Sedari tadi ia mendengar musik kesukaannya sendiri dengan earphone.

“Aku kangen denger suaranya Bruno Mars, lagu-lagunya Payung Teduh, Banda Neira, John Lagend, dan…” Ia menyebutkan semuanya.

“Sabar. Kita kayaknya sejam lagi sampai,” kataku menenangkannya sekaligus mengingatkan diriku sendiri. “Demi nilai A, kita mesti semangat.”

Aku mengingat beberapa hari lalu Bu Noerna, dosen mata kuliah Penulisan Kreatif kami mengumumkan sesuatu, bahwa ia tidak bisa menemani ujian semester minggu depan karena harus menyusul suaminya ke Belanda. Sebagai gantinya, ia memberikan opsi. Pertama mengerjakan 50 soal open book tapi tidak boleh copy paste. Opsi kedua mengadakan perjalanan wisata dan harus menuliskan sebuah karya terbaik. Kami semua memilih opsi kedua. Apalagi setelah beliau bilang akan mensubsidi separuh dari seluruh biaya perjalanan. Dan semua yang mengerjakan dijamin dapat A, asal tidak plagiat dan harus menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Kulihat semua orang tampak gelisah. Tentu bukan karena macet yang sedang terjadi di pusat Kota Solo. Seorang dari kami maju meminta supir menghentikan bus di pom bensin terdekat dengan alasan mau pipis. Tapi aku tahu ia sedang ingin keluar dari bus untuk muntah yang kelima kalinya. Yang lain ikut menghambur keluar mencari saklar, masjid, minuman hangat, camilan, udara segar, dan sekadar selfie ketika bus menemukan rest area.

“Kamu ngerasa ada yang aneh nggak sih dengan Pak Supir?” Seorang kawanku, Bowo, yang sekaligus koordinator acara ini, berbisik ke arahku. Ia jadi koordinator karena ialah satu-satunya yang bisa disuruh-suruh. Bahkan bila kausuruh ia mengambil sandal jepitmu yang nyemplung sumur, ia akan mengambilnya.

“Iya sih. Mungkin dia nggak punya referensi lagu lain?”

“Aku rasa karena tidak bisa memutar tape-nya. Soalnya aku sudah menyerahkan CD musik kita. Tapi cuma diletakkan aja di dekat bangku.”

“Maaf ya, Adik-Adik.” Tiba-tiba tour guide kami, Mas Tiyok mendekat dengan tampang khawatir. “Perjalanan kalian jadi nggak nyaman. Pak Cipto, driver kita memang penggemar dangdut. Sebetulnya sekarang yang nyetir Pak Mangun, tapi karena tiba-tiba masuk angin, jadi supir satu-satunya yang bisa berangkat cuma Pak Cipto.”

Kami menoleh ke arah Pak Cipto yang tengah merokok di dekat pohon. Ia terlihat menanti dengan sabar seperti cara menyetirnya. Meski tampangnya garang, berkumis tebal, badan  besar, tato di lengan dan separuh wajah, ia driver yang tak suka nyalip bus lain dengan brutal. Bahkan cenderung pelan dan berhati-hati. Kini aku, Tina, Bowo, dan Mas Tiyok tampak seperti membuat perkumpulan kecil yang mencurigakan.

“Boleh minta tolong bilang ke Pak Cipto nggak Mas, supaya ganti musiknya? Dangdut nggak papa, tapi yang penting jangan itu terus,” kata Bowo.

Mas Tiyok ragu. Ia bukan tidak pernah mencoba memintanya pada Pak Cipto.

“Nah itu dia. Sebetulnya dia nggak biasanya seperti ini. Tadi sudah saya tegur, tapi beliau jawab kalau musiknya diganti, dia khawatir bakal ngantuk terus tidur tiba-tiba pas lagi nyetir. Kalau sudah tidur bakal sulit bangunnya.”

Baik Tina maupun Bowo tampak bergidik. Mereka membayangkan betapa nggak asyik mendengar lagu “Mahal” berulang-ulang sampai hari kiamat. Meski demikian, tentu lebih nggak asyik lagi naik bus yang supirnya ketiduran. Mereka pun menerima nasib. Apalagi mengingat bakalan dapat nilai A di mata kuliah yang dosennya terkenal pelit nilai itu.

Tina terlihat sangat kesal. Ia hobi mendengar musik pop indie yang liriknya sulit dimengerti itu dan sangat anti dangdut. Ia berjalan lesu, tampak seperti lebih ingin masuk neraka ketimbang kembali ke bus.

Jalan ke arah Sarangan rupanya sedikit membuat tak sadar menahan napas. Berkelok-kelok dengan pemandangan kanan kiri yang penuh jurang. Sedikit membuat ngeri tetapi sepadan dengan pemandangan indah yang terhampar sejauh mata memandang. Sejenak kami mengabaikan musik favorit Pak Cipto yang masih hingar bingar di dalam bus yang melaju pelan karena teralihkan dengan jajaran rumah di perbukitan seperti di luar negeri. Kabut terlihat di mana-mana. Sebelum turun pun kami sudah membayangkan udara perbukitan yang sejuk dan segar.

Sebelum sampai lokasi, kami sempat deg-degan dengan tanjakan yang sangat curam. Tetapi dengan tenang, Pak Cipto mampu menaikkan kendaraan tanpa membuat seorang pun khawatir. Memarkirnya dengan santai.

Kami sampai di sebuah penginapan kecil. Sepertinya semua orang di bus ini bernapas lega dan buru-buru keluar dari sana seolah lagu “Mahal” bakal mengikuti mereka. Tetapi memang lagu ini cukup membekas bagi beberapa orang. Siang ketika kami bersiap berkemas di kamar masing-masing untuk berkeliling danau, terdengar seorang mahasiswa bernyanyi.

Katanya tebu manis airnya
Kucoba tanam di pinggir hati
Tumbuh memang tumbuh
Sayang sayang sayang
Tebu berduri menusuk hati

Layar berlayar
Perahu kayu
Biarlah biarlah kini
Tanpa dirimu

“Itu lagi, itu lagi!” Seorang anak melemparinya dengan kaus kaki bau hingga ia terkejut dan berhenti bernyanyi. Terdengar tawa berderai sambil misuh-misuh setelahnya.

Sarangan tempat yang indah untuk refreshing dan mencari inspirasi. Kami memanfaatkan waktu dua hari itu untuk berkeliling danau, melihat air terjun dan mencoba makanan khas seperti sate kelinci. Tak lupa mencicil tugas karya tulis mumpung ide mendadak berdatangan.

Sore di hari selanjutnya kami pulang dengan bus yang sama dan tentu driver dan musik yang tak berubah.

Lama kutunggu kejujuranmu
Terkadang harus menanggung kekecewaan

Terlalu mahal harus kubayar
Kecuranganmu dengan dengan air mata
Dengan air mata
Dengan air mata…

Bowo dan beberapa yang lain bersenandung menirukan lagu dengan riang. Beberapa yang lain menirukan dengan nada pilu. Sepertinya mau tidak mau banyak dari kami akhirnya menghafal lagu ini di luar kepala karena selalu mendengarnya baik sedang terjaga maupun tidur.

Anak-anak geng bondes di kursi paling belakang sibuk membicarakan cara-cara yang mungkin bisa membuat supir mau menghentikan lagu konyolnya. Entah itu dengan menyetel musik hard rock di HP keras-keras, menggemboskan ban, mengunci Pak Sopir di kamar mandi umum, dan hal-hal dungu lainnya. Tetapi, aku yakin takkan ada yang berani melakukannya. Di samping ide-ide itu dapat merugikan seluruh penumpang juga, melihat perangai Pak Cipto yang jarang bicara tapi bermuka sangar itu pun sudah bikin siapa pun keder. Akhirnya tak ada hal lain yang dilakukan semua orang kecuali pasrah menyimak dan terkadang mendendangkan lagu itu dalam hati.

“Aku kepikiran satu cara,” kataku nyaris seperti bergumam.

“Apa itu?” tanya Tina yang sudah terlihat tak punya harapan hidup.

“Kayaknya itu tugasmu deh, Wok.” Aku memanggil Bowo yang duduk tak jauh dari tempatku.

“Iya, semua kan memang tugasku.”

Dalam hal ini Bowo yang paling bisa diandalkan. Apalagi kalau sudah denger iming-iming nilai A dan dibantuin garap tugas. Kami bertiga, bersama Tina, melakukan rapat kecil sambi berbisik ketika bus berhenti di rest area dan semua keluar untuk pipis dan muntah.

“Kamu yakin bakal berhasil?”

“Nggak tahu.”

“Terus aku kudu ngapain dulu?”

“Ajak dia ke warung, traktir kopi atau apa kek,” kataku.

“Otak kamu pasti jadi ikutan miring kayak anak belakang ya,” katanya jengkel. “Kalau terjadi apa-apa sama aku tolong kabari ibuku ya,” ucapnya kepadaku dan Tina, sambi menyanyi kecil lagu “Mahal”-nya Maggie Z. dan keluar dari bus. Mencari Pak Cipto.

Kami semua sudah di bus sepuluh menit kemudian kecuali Pak Cipto dan Bowo.

“Itu lagi ngapain si Bowo?” tanya salah satu teman sekelas.

“Melancarkan misi.”

“Misi apaan sih?” Banyak orang kini penasaran.

“Tunggu aja.”

30 menit, 40 menit, 60 menit.

Ternyata lama juga. Yang lain ikut khawatir.

Dari arahku duduk, tak sulit mencari di mana mereka berdua berada. Mereka tengah duduk di sebelah warung kopi agak jauh dari parkiran, menghadap hamparan sawah dan bukit. Tempat itu memang paling sepi. Beberapa anak ikut mengintip di dekatku. Tapi segera bosan dan kemudian kembali ke kursi.

Dari tempat dudukku, kulihat punggung Pak Cipto tiba-tiba bergetar seperti orang terisak. Bowo menepuk-nepuk pundaknya seperti menenangkan. Pak Cipto betulan menangis. Beberapa mahasiswa seakan tertarik menonton dan menebak-nebak apa yang terjadi di laur sana. Bowo memberikan sapu tangannya untuk mengelap ingus Pak Cipto. Mereka berdua beranjak dari warung menuju bus, dan kini gantian Bowo yang ditepuk-tepuk pundaknya oleh Pak Cipto seperti mengucapkan terima kasih.

Pak Cipto masuk dengan wajah lebih cair, sekilas memandang kami semua sebelum menuju kursi kebesarannya. Tak menyangka, ia menyuruh Mas Tiyok menyetelkan CD yang diberikan Bowo sebelum berangkat. Lagu-lagu band Indie kesukaan Tina mengalun ke dari segala arah. Kini semua orang justru terheran.

Mereka celingukan ke arah Bowo minta penjelasan.

“Bukan ideku. Idenya si Alin tuh.” Bowo menunjukku dengan suara hampir tak terdengar. Ia memencet-mencet gawainya, menulis sesuatu di grup WA kelas kami.

“Tadi aku cuma disuruh jadi temen curhat Pak Cipto aja kok. Bener rupanya, Pak Cipto seneng ada yang mau dengerin curhat. Dia butuh pendengar yang baik. Eh, ternyata nyimak cerita hidupnya aku jadi ikut sedih lho, Gaes. Ternyata Pak Cipto habis ditinggal istrinya, selingkuh sama supir bus lain yang lebih mapan dan ganteng. Sekarang dia ngurus 4 anaknya sendirian. Mana dua anaknya ada yang tunarungu. Yang paling kecil masih balita lagi. Makanya dia sering dengerin lagu dangdut karena bagi dia musik itu kayak sahabat karib. Penyemangat kalau pas lagi kerja sama teringat nasib pahitnya sendiri.” Begitu yang Bowo tulis.

Semua orang kini membaca pesan Bowo di grup dengan hening. Entah kenapa aku jadi ikut sedih. Pantes saja tadi Pak Cipto terlihat menangis. Aneh juga melihat pria berpenampilan sangar menangis. Ternyata kita memang nggak bisa melihat seseorang dari penampilan.

Tiba-tiba, Dodit, anak bondes paling acakadul dari yang lain berdiri. Memberikan sebuah CD pada Mas Tiyok untuk disetel. Isinya lagu-lagu Maggie Z semua. Bedanya, kini tak ada wajah-wajah protes di dalam bus, semua ikut berdendang. Kecuali Tina tentu saha. Dan Pak Cipto menyetir dengan riang melajukan bus mengantar kami pulang.

 

 

*Cuplikan lagu diambil dari lagu Maggie Z. berjudul “Mahal”

*Dikirim untuk memenuhi tantangan ke-3 menulis bertema interpretasi lagu.

#katahatichallenge #katahatiproduction #cerpen #fiksi

Iklan

Ending

Dear Nur.
Saat surat ini kubuat, aku sedang mencari kesibukan untuk melupakan segalanya tentang dia. Peristiwa putus memang bukan hal besar karena setiap orang barangkali pernah mengalaminya. Tapi aku sadar, pacaran memang membuatku melupakan banyak hal.

Hubunganku yang kesekian kalinya ini cukup membuatku lelah. Rasanya hanya kertas dan imaji yang selalu setia menemani hari-hariku belakangan ini. Musim hujan belum habis. Pekerjaanku yang freelance alias tidak mapan, membuatku sering kali menemui sosok-sosok aneh di sekitarku. Mereka mengajakku ngobrol. Mengusik lamunanku. Hei, percayalah bahwa mereka ini benar-benar nyata. Aku juga heran sendiri kenapa bisa demikian. Aku selalu dianggap tak waras tatkala ini kuceritakan pada teman-temanku. Mereka mengiraku stres ala perempuan lajang yang tidak juga nikah.
Mereka yang kumaksud itu adalah tokoh-tokoh dalam cerpenku.

Yeah. Sudah kali kedua ‘sesosok tokoh’ mengganggu aktivitas tidur pagiku. Ia seorang perempuan. Usianya sekitar 23 tahun. Berwajah manis, tapi juga tidak bisa disebut cantik. Wajahnya oriental. Dia masih muda memang. Ceritanya dia ini buruk rupa—bagi orang Indonesia. Atau barangkali hanya salah pasar saja, sebab tipikal kulit cokelat rambut hitam, pendek, dan pesek itu bagi para bule sungguh eksotis.

Seperti halnya pagi tadi, ia berteriak-teriak tak jelas dari jendela rumahnya yang letaknya persis di depan kamarku. Tak peduli bahwa aku belum siap bangun. Tak peduli dengan tampang kelelahanku yang sering begadang malam hari ini, yang jelas perempuan ini sedang memperjuangkan sesuatu. Kau tahu untuk apa ia berteriak pagi buta sambil melempari kaca jendelaku dengan potongan genting? (untung nggak sampai pecah) Cuma minta nasibnya diselesaikan. Dasar tokoh cerpen!

“Please, aku tersiksa bila kau biarkan aku begini menggantung.” Begitu ia mengatakan. Tokoh yang waktu itu kunamai Reyna.

Saat itu, aku dan dia sempat berdebat panjang. Sebab aku memilihkan namanya dengan asal. Dan aku juga tak tahu apa artinya selain hanya kelihatan wanita. Dia minta dinamai Zazkia, tapi aku tak suka nama itu. Lalu dia ingin dinamai Sekar agar secantik bunga. Tapi aku tak menyetujuinya. Dia ngambek meskipun sebentar. Sungguh Reyna tokoh cerpen paling bawel yang pernah kukenal.
Tapi aku pun mengerti, jahat bila aku tak menyelesaikan mereka karena kesibukan kerja dan sibuk melupakan masa laluku. Yeah, aku memang penulis yang kurang menggarap mereka dengan baik. Akhirnya sore ini, usai hujan reda, sambil kulantunkan puisi musik Sapardi Djoko Damono yang amat mix dengan dingin sore hari, akhirnya kuhidupkan komputer tuaku. Mencari file yang ia maksud. Astaga. Benar.

Sudah 3 bulan Reyna dan kawan-kawannya kubiarkan menggantung.
Oke. Baiklah. Sembari kubaca ulang, kucari ide untuk menyelesaikan sepenggal cerpen ini.
Reyna, dalam cerpenku, adalah seorang gadis muda yang bekerja di toko peralatan melukis. Ia tinggal di sebuah kota dengan orang-orang yang berbeda padangan soal hidup dan waktu. Kota tua yang sibuk dan plural. Sebagai penjaga toko lukisan, ia sering kali kedatangan pelanggan yang macam-macam. Kadang mereka datang dengan pakaian amburadul, kurang tidur, dan tak jarang juga yang rapi-rapi. Mungkin yang rapi-rapi ini sedang mencari barang-barang untuk dihadiahkan kepada orang-orang terkasih.

Reyna menyukai pekerjaannya, karena disamping ia suka mengamati orang-orang, lukisan dan warna-warna, ia juga dapat melihat
“matahari” terbit di sana. Oke, istilah matahari merujuk pada perihal yang tidak sebenarnya. Nanti juga engkau akan tahu.
Hidup perempuan ini seperti diatur oleh refleksitas hidup. Bangun tepat jam 5, kemudian sarapan jam 6 pagi, menunggu bus jam 7 pagi hingga sampai kantor jam 8 pagi. Ritme rutinitas sesungguhnya membuatnya bosan. Tapi kali ini tidak. Sebab Reyna jatuh cinta dengan teman sekantornya. Namanya Bayu. Untung Bayu tidak protes dengan namanya sendiri.
Jalaran tresno amargo kulina memang benar adanya bagi Reyna, nggak ada cinta yang datang dari pandangan pertama. Bayu memang ganteng, tapi tipe wanita seperti Reyna butuh proses untuk menilai kegantengan. Ganteng hanya kesadaran lapis lanjutan ketika sudah mengenal kepribadian atau hal-hal yang immaterial. Berbeda dengah lelaki yang cenderung melihat cantik dulu baru kepribadian.

Reyna baru merasa ada getar indah ketika menyadari Bayu rajin salat, menghormati orang tua, jujur dengan hal kecil sekalipun dalam pekerjaannya, sederhana, dan tidak mata kranjang. Malah cenderung dingin dengan perempuan yang bukan temannya.
Sikap dingin itulah yang membuat Reyna terpesona. Terlebih ketika menyadari Bayu-lah satu-satunya yang baik kepadanya tanpa peduli SARA, satu-satunya pria yang tidak bertanya kenapa hidupnya begitu pesek misalnya.Ia berwajah ganteng, pintar, juga pekerja keras.

Sungguh sialan, pikir si Reyna. Tapi bagaimana kau bisa mencegah diri sendiri untuk tidak jatuh cinta setelah setiap hari berjumpa? Sekalipun, yeah, percakapan yang terjadi hanya maksimal “selamat pagi”. Apalagi Bayu tipe yang hemat bicara, termasuk terhadap perempuan berkulit cokelat dan tidak mancung ini. Reyna bahkan mengaku, sebelum aku menggiringnya untuk jatuh cinta pada Bayu, tokoh ini sudah jatuh cinta duluan.

Aku jadi bingung.
Bayu telah menjadi matahari bagi Reyna. Tapi Reyna tak tahu bahwa diam-diam aku merencanakan perjodohan mereka, haha. Sebab Reyna berharap andai ia tak jadi dengan Bayu, ia ingin dijodohkan dengan tokoh yang mirip Andrew Garfield. Huft, maunya. “Atau bikin saja aku jadi kupu-kupu dan melupakan perasaanku,” begitu katanya. Tapi kalau sudah begitu naskahku ini nggak akan jadi cerpen, tapi novel.
Namun yang jelas, Reyna sedang jatuh cinta dan ngarep sejuta umat dengan ending ceritanya sendiri. Baiklah…

Dear Nur.
Tiga hari setelah itu, aku kembali menggarap cerpen itu lagi. Reyna sudah bertopang dagu di belakang meja kasirnya. Di kejauhan sana Bayu sibuk dengan orderan dan telepon yang setiap menit berbunyi.
Tapi… Reyna di dalam cerita ini adalah orang yang cukup tahu diri. Maka ia tak perlu melakukan usaha apa pun untuk sekedar dekat, atau ngajak ngopi, atau ngajak nonton, atau ngajak jadian. Bisa-bisa menyesal tujuh turunan karena ditolak.
Cukup ia menyukai si pria dari jauh. Maka si pria ini menjelma semacam wewangian yang selalu membuatnya memiliki semangat hidup dan kesehatan jiwa raga yang baik dalam keseharian. Mirip aromaterapi. Tak perlu ia meminum. Cukup membaui aromanya dari kejauhan.
Sungguh pria ini memiliki feromon yang kuat yang selalu membuatnya rindu. Tentunya diam-diam.
Singkat kata, Reyna tetap menjalani hari-harinya seperti biasa. Ia membaca novel di kala senggang, meminum kopi instan dengan merek yang sama setiap jam 3 sore, menyetel musik-musik aliran Melayu di playlist-nya (atau bisa saja jenis pop, atau lebih baik musik bertema nasionalisme, entahlah), lalu pulang pada jam 8 sore.  Dan terjadilah apa yang dinamakan suspens cerita.

Aku mengubah cerita, yang semula perempuan ini berakhir tertabrak kereta dalam keadaan sendiri dan nelangsa, kuubah jadi ending bahagia… Reyna sudah menangis duluan sebelum ending tragis itu kucoretkan di draft. Aku tak tega. Tentu saja, aku hanya bercanda soal tertabrak kereta itu.
Rupanya Bayu ini sakit mata. Sebab sejak ia bekerja di toko itu, pria ini juga diam-diam mengagumi Reyna. Ia bahkan membaca apa yang dia baca, meminum kopi yang sama di rumahnya, menghafal rutinitasnya juga, seperti bus apa saja yang Reyna pakai setiap hari. Lebih sinting lagi, dia mengumpulkan foto-foto hasil jepretannya diam-diam, isinya tak lain tak bukan adalah sosok si Reyna. Bedanya, Bayu tak seceroboh Reyna. Nah, nanti kau juga akan tahu seceroboh apa Reyna itu.

Sungguh Bayu jadi mirip pengagum yang agak psikopat. Tapi dia pria normal dengan latar belakang keluarga yang bahagia. Hanya
mengalami delusi akibat mencintai diam-diam. Begitulah orang yang diam-diam mencintai namun tak memiliki cara untuk memulai mengatakan, terlebih mendekati.
Beberapa kali mata mereka berpapasan. Cara Reyna menatapnya saat berpapasan itu pun tertebak juga. Bayu meresa perasaannya tidak bertepuk sebelah tangan. Bahwa pada suatu sore kupertemukan mereka pada sebuah moment konyol, di mana Reyna menyimpan foto Bayu di komputer kantor, dan lupa menghapusnya ketika Bayu memperbaiki internetnya yang error. Haha, sengaja kubikin komputer Reyna error dan tak ada seorang pun di ruangan itu kecuali Bayu.

Reyna terkejut dan salah tingkah begitu menyadari bahwa ia menyimpan foto-foto lelaki ini di sebuah folder file kantor. Apalagi
dalam folder yang sama, ia juga menyimpan artikel yang ia buru dari internet “Menjadi Istri Solehah.”, “Cara Mendekati Pria Pendiam”, dan masih banyak lagi.
Itu membuat Bayu ngakak. Mereka pun ngobrol. Tapi tidak tentang mengapa fotonya ada di folder itu. Meskipun pada hari itu,
peningkatan hubungan mereka telah memasuki level lanjutan, di mana Reyna menanyakan Bayu asli dari kota mana, dan Bayu menanyakan kapan terakhir komputer diinstal.

Di akhir cerita, di suatu hari menjelang musim kemarau tiba, Bayu meletakkan sebuah cincin di laci meja si perempuan, dengan
taruhan harga dirinya sendiri, bersama sepucuk surat berisi hal yang membuat Reyna melompat. Ia mengajaknya menikah. Dan si perempuan pun pingsan atau mungkin sakit jantung, atau sederhana saja: bahagia tapi hanya bisa menangis sesenggukan—entah mana fokus yang harus dinarasikan… Aaarrggh…
Sebenarnya sampai di sini aku masih bingung bagaimana mengatur ending-nya. Rasanya malah seperti cerita biasa saja tapi berlebihan. Tapi kalau happy ending sebiasa film drama, kalau sad ending kasihan pembaca.

Nur, aku masih memilin-milin rambutku sambil mengamati kebun di luar jendela kamarku, memikirkan ending dari cerpenku.
Yeah, kini aku melihat Reyna dan Bayu adalah sepasang kekasih yang takkan terpisahkan oleh proses editing apa pun. Mereka saling menggegam tangan dan berpesan padaku, “Kelak bila editor mau mengedit konten cerita kami, jangan ditambahi orang ketiga ya. Aku sungguh nggak tahan dengan kondisi cemburu.” Bayu berujar. Reyna sepakat dengan itu.

Kini selesai kurampungkan mereka, kumatikan komputer, dan kurebahkan tubuhku memandang langit-langit kamar. Reyna dan Bayu adalah salah satu dari sekian banyak tokoh yang berhasil kuselesaikan dengan ending bahagia.
Tapi Nur, kapankah akhir bahagiaku sendiri datang?

Hidup itu sendiri, ilusikah?
Ah, Nur, kau pun hanya teman imajiku…

*Cerpen ini ditulis tahun 2013 awal dan telah direvisi. Cerpen ini juga yang sempat membawa saya lolos sebagai peserta sebuah event kampus penulisan di salah satu penerbit di Yogyakarta untuk tahun depan. Tapi sepertinya saya nggak janji bisa datang 🙂