Si Lugu dan Renungan Kemanusiaan

silugu-voltaire

Pengarang : Voltaire
Diterjemahkan oleh : Ida Sundari Husen
Edisi Kedua : Mei 1996 oleh Yayasan Obor Indonesia

 

 

Judul aslinya L’Ingenu. Dalam bahasa Indonesia artinya Si Lugu. Secara iseng, buku yang sudah langka ini kubawa dari perpus IFI. Seperti yang disampaikan oleh sang penerjemah, Ida Sundari Husein, dalam halaman pengantarnya, novel ini ditulis oleh Voltaire dalam usinya yang ke-73 di tahun 1767. Seperti halnya tema novel Voltaie yang lainnya, Si Lugu dekat dengan gambaran kehidupan Perancis di zaman itu.

Sesuai dengan judulnya, tokoh utama dalam novel ini adalah Si Lugu. Diceritakan, bahwa ia datang dari Huron. (Umat Katholik memiliki sejarah khusus mengenai orang-orang Huron ini). Karena keluguan dan hubungan masa lalu yang dekat dengan keluarga Pastor de Karkabon, ia akhirnya diterima selayak keluarga. Orang selalu penasaran dengan karakter Huron hingga semuanya tampak berfokus padanya. Mereka membaptis Si Lugu sebab di Inggris mereka tidak memperkenalkan agama pada Si Lugu. Setting suasana pada novel tersebut tampak adanya pertentangan samar di dalam tubuh sebuah agama dan juga konflik negara.

Dalam perjalanannya, ia jatuh cinta pada Nona de Seint-Yves, adik dari Pastor de Saint-Yves, yang merupakan ibu permandiannya ketika dibaptis. Tentu saja, banyak orang menentangnya karena tidak dibolehkan seorang ibu pemandian (baptis) menikahi anak pemandiannya. Dan secara polos juga Si Lugu mengancam pembatalan pembaptisan bila rencana pernikahannya dihalangi. Semua seakan tak bisa berkutik. Sementara Nona de Kerkabon, bibinya, berharap Si Lugu menjadi seorang pastor. Namun ia menolak. Keberaniannya melawan orang Inggris, yang pada saat itu menjadi musuh Perancis, membuatnya memperoleh pertimbangan khusus dan malah dijadikan perwira perang.

Dalam usahanya memperoleh penghargaan dan nama demi menikahi pujaan hatinya, ia ditangkap dan dipenjara tanpa alasan.
Ketika berada di penjara, ia bertemu dengan Gordon, orang yang juga dipenjara tanpa alasan, dan pada akhirnya berpengaruh kepada Si Lugu untuk memahami hidupnya lebih luas. Sebab ia memiliki sifat murni dan bersahaja, maka ia pun belajar banyak dari pengalaman hidup.Benar kata seorang esais, bahwa penjara bukan hal yang mampu membelenggu manusia daam diri seseorang. Sebab di dalam penjara, Si Lugu belajar banyak hal, dari hal bersifat politis hingga seputar seni pertunjukan.

Penjara juga mengingatkanku pada sejarah penulisnya, yang bisa dikunjungi di sini.

Pada zaman itu feodalisme masih berkuasa. Hampir segala urusan berpusat dan diserahkan pada kekuasaan. Si kekasih, Nona de Saint-Yves yang ingin menyelamatkanya itu pun harus menyerahkan kehormatannya pada seorang birokrat, Saint-Pouange, sebagai syarat wajib. Seorang politikus dan agamis yang berwenang di ranah politik. Peristiwa itu dianggap telah biasa di Perancis. Dan bahwa meskipun telah melanggar martabat, si pejabat tersebut tetap dihormati. Tak seorang pun mempercayai Nona de Saint-Yves sehingga gadis itu menyimpannya seorang diri. Kekuasaan dalam sistem feodal dan agama di masa itu selalu mengorbankan perempuan dan kaum marginal demi merealisasikan kepentingan dan ambisi. Dan masyarakat telah menganggap itu lumrah. Seperti itulah yang akan ditunjukkan Voltaire dalam novelnya.

Sementara Si Lugu mengalami perkembangan berpikir yang cukup pesat selama berada di dalam penderitaan penjara.
Pada narasi dan dialog-dialognya, kita dapat menemukan nilai-nilai filosofis, kritik sosial, dan parodi yang ditampilkan Voltaire dalam novel Si Lugu, tampaknya membuat dongeng Voltaire bukan sekadar dongeng petualangan biasa, ia lebih pada perjalanan dan nilai-nilai hidup yang dikemas dalam sebuah bangunan cerita. Seringkali dalam perjalanan, tokoh-tokonya menyentil degan sindiran dan kritik. Seperti halnya pada cuplikan di halaman 54-56:

Sesungguhnya sejarah hanya rangkuman kejahatan dan kemalangan. Sejumlah besar orang yang tak bersalah dan cinta perdamaian selalu lenyap di arena sandiwara yang maha luas ini. yang menjadi tokoh-tokoh tak lain hanyalah orang-orang ambisius yang keji. Tampaknya sejarah hanyalah menyenangkan kalau mirip kisah-kisah sandiwara. Drama akan membosankan, apabila tidak diramaikan oleh pertikaian hawa nafsu, kejahatan-kejahatan, dan kemalangan-kemalangan.

Si Lugu dan sahabatnya Gordon pun dikeluarkan dari penjara. Namun Nona de Saint-Yves menyimpan rapat rasa malu dan penderitaannya karena telah menukarkan harga dirinya demi membebaskan kekasihnya, Si Lugu.

Sayang ending-nya mungkin tidak sesuai ukuran novel populer. Kita tidak akan menemukan akhir cerita di mana si birokrat tadi dihukum penjara, kena nasib sial sepanjang hidup, atau benar-benar dibunuh oleh si Lugu. Si kekasih yang mengorbankan dirinya itu pada akhirnya meninggal dalam sakitnya dan menimbulkan luka dalam bagi Si Lugu. Tapi pada akhirnya tokoh hidung belang yang menyebabkannya itu menyesal dan diampuni. Sebab di dalam kebebasan, manusia selalu dimaklumi dan dimaafkan. Dan selalu ada pengampunan.
Ya begitulah sistem kebebasan.

Sebelumnya, kukenal Voltaire lewat salah satu karyanya berjudul Candide. Seperti halnya penulis-penulis produktif lain, Voltaire membangun karakter tokoh-tokoh utama dengan serangkaian kemiripan satu sama lain. Seperti halnya tokoh Si Lugu yang digambarkan sebagai tokoh yang polos dan murni. Karena keluguannya, maka hampir tak pernah terlintas prasangka di benaknya. Kata-kata, pendapat, dan sikapnya selalu sesuai apa yang terlintas di pikiran dan hatinya. Dan kepolosan berarti membawanya mampu menyerap begitu banyak hal di sekitarnya. Ia menjadi pembelajar yang berkembang pesat. Dan konsekuensi dari karakter itu adalah, ia menjadi loyal terhadap sesuatu yang telah dipercayainya. Hal itu ditujukkan dalam beberapa bab buku, seperti ketika ia dibaptis, ketika menjawab dan bertanya dengan orang-orang, melawan sistem feodalisme, dan ketika ia jatuh cinta dengan Nona de Saint-Yves, dan reaksinya tatkal kekasihnya ini meninggal karena tekanan jiwa.

Voltaire, si pengarang novel ini, lahir pada abad 18 di negeri Perancis. Karya-karyanya dikenal sebagai salah satu hal yang berpengaruh pada zaman renaisans. Tema besarnya selalu mengenai optimisme, kebebasan berpikir, dan kritik sosial.

Buku ini memiliki tampilan yang barangkali memang tidak laku dijual bila digabungkan di deretan buku lain di masa sekarang. Yeah, karena saat ini, belum sempat mencari buku-buku baru, jadi maklum, saya mengambil buku-buku seadanya untuk digunakan belajar menulis resensi.

Tapi buku kecil yang tua ini membuatku mengingat sesuatu. Yeah, kita pernah mengenal bangsa Arab yang dikenal lugu dan primitif itu. Yeah, memang awalnya jahiliyah, jahil adalah milik orang primitif dan polos, tapi bila sudah yakin, mereka loyal. Itulah mengapa Islam lahir di sana dan bukan di Jawa. Lalu sang nabi yang lahir di dalam lingkungan Arab, yang kita kenal dengan sifat “murni’ dan rendah hatinya itu membuatnya pantas dipilih sebagai rasul akhir zaman.

Kurasa barangkali hidayah dan mukjizat tidak menyapa orang-orang berpendidikan dan pintar. Sebab pintar konon berpotensi ‘memintari’ orang lain dan tahu cara menutupi dengan rapi fakta-fakta yang mestinya disampaikan. Yeah, barangkali demikian. Menjadi pintar kadang adalah kutukan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s