Dongeng Calon Arang

download

 

Judul : Cerita Calon Arang
Penulis : Pramoedya Ananta Toer (1954)
Penerbit : Lentera Dipantara
Edisi : Cetakan 5, Februari 2010
Format : Paperback, 94 halaman

 

 

 

Kala itu, Daha adalah sebuah negeri yang megah dan makmur. Kini bernama Kediri. Hasil pertanian selalu baik, kemanan negerinya terjaga, dan seperti yang dijabarkan pada bagian awal, setiap orang berbahagia. Daha diperintah oleh seorang raja yang bijaksana dan disegani bernama Erlangga. Namun tak jauh dari istana, terdapat sebuah dusun bernama Dusun Girah, di sana tinggal seorang janda yang begitu ditakuti semua orang. Begitu pula orang selalu takut mendengar nama dusun tersebut. Sebab si janda bernama Calon Arang merupakan ahli tenun yang memiliki perangai yang buruk. Ia tengah marah sebab tak seorang pun mau mempersunting putri semata wayangnya, Ratna Manggali. Kendati Ratna Manggali seorang gadis yang begitu cantik, tak seorang pun mau karena takut kepada ibunya. Dimulailah bencana yang mengusik kedamaiana Daha dan sekitarnya.

Ribuan orang dikirimi teluh dan dibunuh secara sadis. Penyakit mematikan ditebarkan di mana-mana. Bahkan darah orang-orang yang dibunuhnya dipakai keramas oleh Calon Arang dan pengikutnya.
Raja memerintahkan pasukan untuk menumpas Calon Arang, namun gagal karena para pemimpin kelompok terbunuh dengan mudah oleh kesaktian si dukun, membuat seluruh prajurit mundur seketika. Maka, sang raja memanggil setiap orang salih untuk mencoba mencegah calon arang dengan cara lain. Hingga ia menemukan seorang tokoh pertapa yang taat kepada agama dan paling disegani di wilayah Daha bernama Mpu Baradah. Ia pun dimintai bantuan oleh sang raja untuk menghentikan Calon Arang yang semakin menjadi.

Mpu Baradah meminta raja untuk mengutus seseorang untuk mempersunting Ratna Manjali sebelum rencana penaklukan itu dimulai. Erlangga yang telah mempercayai Mpu Baradah sebagai pendeta yang cerdas dan bersahaja pun mengutus Empu Bahula hingga lamaran pun diselenggarakan. Musibah mereda sesaat ketika acara pernikahan tersebut berlangsung. Namun rupanya wabah penyakit yang bertebaran di sekitar Dusun Girah masih berlangsung.

Pada akhirnya Empu Bahula berhasil meminta tolong pada istrinya untuk mengungkap rahasia Calon Arang. Setelah menemukan rahasia Calon Arang, Mpu Baradah pergi membunuhnya. Calon Arang berhasil dibunuh, namun Mpu Baradah menghidupkan si penyihir untuk mensucikan jiwanya sebelum dibunuh kembali. Calon Arang pun meninggal dengan tenang. Mpu Baradah juga menolong para penduduk yang masih dapat diselamatkan.

Seperti halnya kita tahu, dongeng Calon Arang telah secara turun temurun diceritakan, dari mulut ke mulut, juga dari naskah ke naskah. Termasuk yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer. Karena dituturkan oleh masyarakat dari berbagai daerah, maka dongeng tersebut menjadi beberapa versi.

“Semua manusia bersaudara satu sama lain. Karena itu tiap orang membutuhkan pertolongan harus memperoleh pertolongan. Tiap orang keluar dari satu turunan, karena itu satu sama lain adalah saudara.” (hal.21)

Setidaknya ada beberapa hal yang kupetik ketika membaca dongeng ini.
– rupanya, seiblis apa pun seorang ibu, ia tetap akan mencintai anak kandungnya
– setiap yang berlaku jahat dan brutal sekalipun, tetep ingin berakhir menjadi baik
– jangan main-main dengan seorang anak gadis yang belum menikah, bila kau tak ingin dibunuh oleh ibunya

haha, tentu saja saya cuma bercanda karena tidak sesederhana itu. Sejujurnya, banyak hal menyedihkan yang saya temukan dalam buku ini.

Memang sesungguhnya tidak mudah membedah karya-karya yang ditulis seorang Pramoedya meskipun karya tersebut disajikan dalam konsep dongeng. Namun, saya menangkap beberapa hal penting dari dongeng Calon Arang yang sepertinya berada “di balik layar”:
Pertama, bahwa sejak dulu, pertentangan antar dan intern agama selalu terjadi, dan setiap konflik menimbulkan korban, pertentangan Calon Arang dan Mpu Baradah menandakan terdapat pertentangan agama di zaman kerajaan Daha. Intinya dalam buku ini, banyak diceritakan tentang dua kubu kekuatan, dua hal yang kontradiksi, tokoh-tokoh yang bersebrangan, juga tentang permusuhan terhadap sesuatu yang bertolak belakang. Barangkali demikianlah gaya khas penulis yang dalam hidupnya selalu melakukan perlawanan dan selalu berkelahi dengan halangan dan kekuasaan. Mereka tentu menulis dengan cara yang lain.

Kedua, dongeng Calon Arang dalam buku ini juga mengantarkan pembacanya untuk menolak lupa pada sebuah rezim di mana, kala itu, pembantaian juga terjadi di mana-mana, genosida dan bahkan penghilangan sejumlah orang terjadi tanpa kita tahu alasan tepatnya. Dan hingga hari ini masih banyak yang hanya menjadi tanda tanya.

Ketiga: jangan lupa juga tentang sejarah penjajahan yang cukup mengubah sistem di Indonesia bahkan hingga hari ini, dan membuat kita belajar mengenai bagaimana itu penjajahan dari masa ke masa.

Oleh karena beberapa konten yang agak sadis di beberapa bagiannya, barangkali cerita dongeng ini lebih cocok dibaca masyarakat berusia 15 tahun ke atas.

Satu komentar di “Dongeng Calon Arang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s