Si Pendiam yang Unik dalam Film Le Fabuleux Destin d’Amélie Poulain


Film Le Fabuleux Destin d’Amélie Poulain disutradarai oleh Jean-Pierre Jeunet dan ditulis Guillaume Laurant. Film ini dirilis tahun 2001. Kalau diindonesiakan kira-kira judulnya “Takdir Menakjubkan Amélie Poulain”. Film tersebut dikopikan oleh salah satu teman kursus dan tersimpan (terabaikan) dua bulanan di FD sampai akhirnya Penamerah memunculkan ide tugas yang sungguh spektakuler bagiku: review film. Akhirnya film itu pun jadi korban pengamatanku. 😀

Film berdurasi 123 menit ini seperti membawaku menyelami dunia personal para tokoh dari kecil hingga dewasa, terutama tokoh utamanya: Amélie Poulain. Di samping dialog, film tersebut dilengkapi dengan narasi yang bercerita dengan akrab dan terbuka. Babak pertama menampilkan bagaimana tokoh Amélie dibesarkan dalam keluarga yang aneh. Ibunya seorang kepala sekolah yang keras dan mudah gugup. Ayahnya jarang bicara dan sering kali bersikap dingin. Keduanya memiliki karakter yang kaku.

Amélie kecil tak mau bersekolah karena si ayah tak pernah memeluknya seperti ayah-ayah lainnya. Akhirnya ia belajar dengan ibunya sendiri di rumah. Karena didikan yang kaku tersebut ia tumbuh jadi gadis pendiam yang tak bergaul dengan dunia luar. Ayahnya yang seorang dokter bahkan mengira ia terkena penyakit jantung.

Sebagai gadis kecil yang pendiam, ia hanya berteman akrab dengan Blubber, seekor ikan koi di akuarium kecil berbentuk bulat yang diletakkan di dapur. Namun si ikan pun tertekan dengan kondisinya sehingga mencoba bunuh diri. Hal itu membuat Amélie histeris sampai membuat seisi rumah pun ikut panik. Akhirnya Blubber dilepas oleh sang ibu ke sungai. Sebagai gantinya, Amélie dibelikan sebuah kamera.

Ketika ia sedang memotret langit, pada saat bersamaan terjadi tabrakan di perempatan jalan di depannya. Tak lama kemudian seorang tetangga menuduhnya sebagai penyebab dari kecelakaan. Amélie kecil berhari-hari menderita karena perasaan bersalahnya. Namun tatkala ia menonton televisi dan menemukan penyebab kecelakaan bukanlah cahaya dari kamera, ia memendam kemarahan. Diam-diam ia naik ke atap rumah si tetangga tadi dan mencopot kabel televisi tepat ketika si tetangga sedang asyik menyimak siaran sepakbola. Sebagai pendiam yang terisolir, Amélie kecil pun tumbuh dan terbiasa hidup dengan imaji-imajinya.

Sejak kematian ibunya yang instan (kejatuhan seorang turis wanita yang hendak bunuh diri dari atap gereja) Amélie kecil semakin pendiam. Bersama ayahnya yang terobsesi mengoleksi benda-benda kuil untuk makam ibunya, ia memutuskan untuk terus berada di rumah. Namun tatkala dewasa, ia memutuskan keluar rumah dan bekerja sebagai waitress di salah satu kafe di Monmerthe.

Amélie dewasa pun tetap identik dengan berkhayal dan mengamati hal kecil. Setiap ia pergi ke bisokop, ia suka mengamati wajah orang-orang di kegelapan ketika menonton. Layaknya seorang introvert, ia selalu melihat detail-detail yang orang lain tak melihat, seperti gambar serangga yang merayap di tengah adegan romantis atau tokoh yang tidak melihat ke jalan ketika mengendarai mobil. Selain ia juga suka memasukkan diam-diam tangannya di biji-bijian di dalam sak, melempari kanal air dengan batu-batu yang ia kumpulkan di dalam saku jasnya, dan juga memiiki pertanyaan-pertanyaan yang hanya dia yang tahu. Seluruh detail kecil itu membawa penonton ikut menyelami kepribadian si tokoh secara utuh.

dari @googleimage

dari @googleimage

Di samping itu, narator dalam film tersebut masih terus men-shot tokoh-tokoh utamanya hingga pada hal yang tersembunyi. Seperti keinginannya memiliki kekasih yang belum pernah kesampaian. Karakter setiap tokoh dalam film tersebut tampak berdiri sendiri-sendiri.

Pada suatu hari, sebuah berita yang menyangkan kematian Lady Di secara tragis membuatnya terkejut hingga tutup parfum yang dipegangnya jatuh sehingga mengenai ubin yang merupakan lubang suatu ruangan. Lubang itulah yang membuatnya menemukan benda berisi kotak mainan dan foto milik seorang anak yang 40 tahun yang lalu pernah menempati flatnya.
Ia bermimpi ingin menemukan pemilik kotak mainan itu, dan mulai mencari informasi pada penghuni flat lainnya. Hal itu malah membawanya pada orang-orang di sekitarnya yang akhirnya menjadi teman akrabnya.

Hingga pada akhirnya ia bertemu Raymond Dufayel, seorang pelukis tua yang tinggal di flat di bawahnya. Yang membantu Amélie menemukan Dominique Bredoteau, pemilik kotak kenangan itu. Amélie pun menggunakan imajinasinya yang agak konyol untuk membuat Bredoteau menemukan kotaknya. Dan kala itu, melihat Brodoteau menangis bahagia menemukan kotak yang telah hilang selama 40 tahun, Amélie merasakan gelombang kebahagiaan yang menakjubkan dan tak pernah dirasakan sebelumnya. Yeah, seperti halnya perasaan bahagia bila menjadi bermakna bagi orang lain.

Sejak itulah ia memutuskan mengubah hidupnya dengan membantu orang-orang demi membuat mereka tersenyum dan bahagia. Ia selalu mengambil setiap kesempatan untuk menolong orang-orang. Seperti membantu seorang buta berjalan sambil menjelaskan tempat-tempat yang ia lewati, mencomblangi salah satu teman kerjanya, hingga berhasil mencari cara paling usil dan kreatif membuat si pemilik toko yang suka membentak pegawainya itu, menjadi kapok melakukan hal yang sama. Dan uniknya, semua itu dilakukannya secara gerilya.

Film ini memiliki keterhubungan yang digarap dengan apik. Ada beberapa adegan di mana penonton dapat melihat korelasi tersirat antara lukisan Raymond Dufayel tentang perempuan dengan gelas yang mirip dengan kehidupan Amélie. Bila diamati, ada sisi simbolis yang coba dipaparkan oleh sang sutradari melalui album milik Nino Quincampoix (diperankan oleh Mathieu Kassovitz) yang berisi kumpulan sobekan foto orang-orang dari sampah foto box. Foto yang dikumpulkan dalam satu album tersebut merupakan karya unik yang membuat Amélie kagum. Album tersebut menyimbolkan bahwa eksistensi manusia serupa foto retak yang perlu disatukan.

dari @googleimage

dari @googleimage

Film ini ditampilkan dengan romantis dan kadang hiporbolis. Bercerita tentang orang-orang yang menemukan eksistensinya sendiri-sendiri. Namun Amélie yang diperankan Audrey Tautou patut mendapat pujian. Sang artis juga bermain dengan sempurna di film tersebut. Ia mampu menampilkan sebuah dunia seorang perempuan kompleks dan introvert yang mencari jati dirinya.
Hingga akhirnya membawa Amélie pada perasaan jatuh cinta pada si korektor retakan foto, namun ia sangat pemalu dan sering kali menyangkal identitasnya. Terjadilah drama kucing-kucingan yang sebenarnya dampak dari karakter Amélie yang amat pemalu dan lebih suka bermimpi daripada menjalaninya dengan terang. Meskipun pada akhirnya ia sadar bahwa hidupnya pun butuh ditolong.

Akhir dari film tersebut membuat penonton tetap tersenyum sebab masih memadukan antara romantisme dan kekonyolan. Rupanya anak kecil yang dulunya terisolir dan wanita dewasa yang introvert, juga bisa berbahagia.
Film itu sekalipun konyol, tapi selesai dengan cantik. Tema film ini seperti halnya kehidupan sehari-hari serta memiliki alur yang sering kali bertabrakan dan berloncatan. Bahkan beberapa kali ditampilkankan dengan tempo yang kadang lambat kadang cepat. Film ini recommended bagi yang menyukai jenis film festival.

*Nah kenapa aku akhirnya suka film itu? Karena karakter masa kecil Amélie agak mirip denganku :p
Masa kecil yang pendiam. (haha, malah jadi curhat)

dari @googleimage

dari @googleimage

Untuk memenuhi tugas mingguan Komunitas Penamerah

Iklan

3 thoughts on “Si Pendiam yang Unik dalam Film Le Fabuleux Destin d’Amélie Poulain

  1. seperti di video klipnya Avril Lavigne yg berjudul Smile, di mana ia memunguti tiap serpihan kaca berwarna merah, lalu menjadikannya satu, dan didapatilah banyak orang yang awalnya murung, menjadi bahagia. ia memunguti serpihan-serpihan itu, dari satu orang ke orang yang lain, hingga terwujudlah kaca utuh berbentuk lambang cinta. ya, ia bahagia, karena setidaknya orang-orang yang tadinya murung, berubah tersenyum. bukankah membuat orang lain bahagia itu menyenangkan? 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s