Untuk Jean Baptiste Grenouille

Ada kalanya aku ingin meminjam sebentar saja indra penciummu yang terlampau tajam. Aku ingin sesekali sibuk mengenali perbedaan aroma bayam dan bunga bugenvile, atau tauge dengan wortel. Aku baru tahu, itu juga dapat mengendus letak lumut-lumut pada bebatuan, atau sekadar menyadari apakah tanaman jerukmu dihuni hama. Suatu saat bila aku tersesat, indramu itu bisa menolongku untuk pulang.

Barangkali akan lebih dapat kutemukan sudut berbeda mengenali segala hal dari aroma yang mereka miliki. Tidakkah sering kali aroma tetumbuhan menunjukkan ia bisa saja mengandung penyembuh atau membunuh?

Tidakkah mudah bagimu, mengenali bau hanya seperti melihat kerumunan orang di pasar? Seperti kamu menelusuri jenis-jenis batu di pantai. Hidungmu bisa demikian, tetapi mengapa kebanyakan mata tidak bisa benar-benar cermat melihat?

Apa kamu tahu, mengapa ada bunga tertentu yang jadi primadona dan yang lain dikesampingkan? Padahal semua bunga sama, ia ada untuk sebuah alasan. Salah satunya membuatmu bersenang-senang mempelajari bagaimana inti wewangian diekstrak dari bunga-bunga yang direbus sedemikia rupa, bukan? Tidakkah orang hanya mengenali bunga sering kali dari penampilan? Sebagian memang ingin mengenal lebih dekat, mengelempokkan dan memberinya nama-nama latin yang panjang. Tapi itu tidak cukup, mereka juga menelisik apa guna mereka pada tubuh. Bunga-bunga ini dipreteli ramai-ramai dan diperas ke sebuah mesin besar.

Pada hidungmu, kau mengerti bunga hanya salah satu jenis makhluk hidup dari jutaan lainnya di bumi yang memiliki identitasnya sendiri. Apakah ada juga salah satu di antaranya yang arogan seperti kekasih pangeran kecil? Apakah ada pula yang berandai-andai ingin berubah jadi kura-kura?

Grenouille,
Terkadang aku mengerti bagaimana menjadi kau yang sering kali menyadari apa yang orang lain tak menyadarinya. Atau ketika kau terkadang memikirkan hal yang benar tetapi aneh bagi sebagian orang. Syukurlah kau bukan orang yang peduli apa kata orang.

Sangat lucu barangkali menjadi dirimu dengan anugerah indra pencium yang mampu mengidentifikasi segala benda dari bau-bauan bahkan dari kejauhan. Apakah lebih mudah rasanya ketimbang mengenali seseorang dari apa yang mampu kita pandang?

Grenouille, kupinjam sebentar saja indra penciummu, karena bila terlalu lama, aku bisa saja segila engkau.

 
(Jean Baptiste Grenouille, tokoh di novel Perfume: The Story of a Murderer karya Patrick Suskind).

Surat untuk Ar

img_20180911_101630.jpg

 

Hai, Ar.

Bagaimana Romadan hari keduamu?

Apa kau masih bersemangat? Apakah ada sesuatu yang membuat hatimu tergerak ke arah sesuatu, mungkin semacam kesadaran? Mungkin hal yang lebih bagus lagi, kesalehan? Ya ampun, mengapa kamu malah tertawa?
Iya, dari wajahmu, aku tahu kau mengalami banyak hal belakangan ini. Beberapa membuatmu bersemangat, kau bisa menjalankan puasa setelah beberapa tahun vakum karena anak-anakmu masih butuh ASI. Dan hari ini kau bersemangat bisa menjalankannya sembari momong. Momong (maksduku, menjadi full time mom) di Indonesia adalah proses yang sulit diceritakan. Di samping kamu sepanjang hidup belajar menjadi ibu yang baik, kamu juga mesti mengalami berbagai “gangguan” yang datang dari luar, seperti nyiyiran dan hal-hal lain yang sesungguhnya tak memberikan kontribusi apa-apa. Kamu sering kali tak selamat dari nyiyiran orang yang sebetulnya tak benar-benar tahu hidupmu. Sementara cuma Tuhan yang tahu segala usaha terbaikmu. Kamu benar itu membuatmu bertambah dewasa. Aku tahu, kita hidup di dalam masyarakat yang gimana ya mengibaratkannya…, semacam “jenis masyarakat yang lebih cerewet mengurusi ibadah orang lain, sedangkan keluarganya sendiri tak beribadah.” Untunglah, kamu cenderung cuek.

Tetapi kau tak bisa membohongi semua orang termasuk aku, kau tengah berusaha untuk selalu bangkit, sebab semakin hari kamu semakin sering kehilangan ketertarikan terhadap hal-hal yang semula membuatmu percaya. Memang sedih mengetahui kamu tengah kehilangan rasa percaya. Apakah itu iman?

Ada apa denganmu akhir-akhir ini?
Tanaman-tenaman depan rumahmu mengering. Rumput-rumput liar di sekitar tanaman daun mint beranak pinak. Bahkan bibit binahong dari ibumu kemarin habis dimakan ayam-ayam tetangga, tidak jadi tumbuh menjadi rimbun seperti yang pernah dibicarakan ibuk kepadamu. Kau tak tahu hal itu?

Rasanya aku tak mengerti. Memang aku tahu ada masa-masa seperti hari ini yang kerap kau lewati dalam diam.
Kau memang sempat mengalami di mana hubunganmu dengan Tuhan tidak terlalu baik. Kau malas salat, kau tak menyimak satu pun kajian keagamaan di televisi atau di media sosial. Memang kamu tak perlu datang ke pengajian karena siapa yang akan menjaga anak-anakmu di rumah? Beberapa waktu lalu ketika kamu datang dengan salah satunya pun, kamu bukannya menyimak materi, tetapi malah sibuk mengawasi anakmu yang lebih tertarik main di jalan dan memanjat gerbang.

Apakah kau sedang terlalu lelah? Aku heran, karena biasanya kau bisa bangkit sendiri dari gelapnya rasa lelah tanpa bantuan.

Tapi ada sisi di mana kamu berusaha tetap tegak berdiri karena dua anakmu membutuhkanmu. Dan kamu harus senantiasa memakai berbagai topeng supaya tidak terlihat lelah atau tengah marah dengan sesuatu. Kamu ini kuat, percayalah padaku.
Kamu juga tak sendirian, ada jutaan ibu sepertimu di luar sana, meskipun tak saling mengenal, mereka tak beda jauh darimu.
Kau tak membayangkan sebelumnya ini akan terjadi, tapi ternyata terjadi. Kamu memang harus menerima dan butuh waktu untuk itu. Dan kehidupan tetap berjalan.

Sudahlah, mari kita bicara hal-hal yang lain saja. Omong-omong… masih bisa fokuskah kamu dengan pekerjaan-pekerjaan baru yang datang belakangan ini? Menarik bukan, karena mereka sesuai dengan bidangmu. Masih bersemangatkah dirimu memegang cita-cita? Masihkah kamu nyaman menjadi diri sendiri?
Atau malah mengalami sesuatu yang berkebalikan, seperti ingin melepaskan semuanya dan pergi jauh? Kuharap itu tak pernah terjadi. Tolong jalanilah sebab kamu bisa, Ar. Ada orang-orang seperti keluargamu yang bahkan selalu ada untukmu. Maka demi mereka, orang-orang yang butuh kamu bahagia, bekerjalah dengan gembira.

Sesungguhnya, jauh dari kesibukan yang kini kau jalani, di dalam lubuk perasaanmu, kulihat kamu amatlah kesepian, Ar. Aku paham soal itu. Barangkali kau sedang kembali mengalami reading slump? Oh, jangan. Jangan pernah meninggalkan kebasaan itu, Ar. Setiap kau membaca buku, kau dapat hidup dengan normal. Maksudku, kau tidak akan jadi makhluk aneh yang suka bengong dan bingung di tengah malam atau pagi buta. Membaca membuatmu memiliki teman ngobrol yang mampu mengisi kekosongan jiwamu bukan? Kau takkan merasa sendirian. Tapi bagaimana sih kamu ini, belakangan bahkan kamu hanya membaca buku dan melupakannya? Kadang membaca beberapa halaman, sebagian halaman, tanpa ingin tahu kelanjutannya… bahkan tanpa menuliskan sesuatu yang mungkin bisa kau bagi di media sosial spaya orang tertarik pula membacanya. Bukunya Matt Haig yang kemarin hari kau baca? Bukankah kontennya menarik? Kamu juga sempat membaca karya Mira W. tentang penderita bipolar yang menurutmu perlu dibaca semua orang, kamu juga sempat membaca beberapa esai di buku Catatan Pinggir-nya Goenawan Muhamad yang mampu mengisi insomniamu.

Ke mana kebiasaan menulismu? Ada apa dengan hobi membacamu?
Jangan lupa menulis sesuatu setiap kali kamu merasa tak mengerti dengan dirimu sendiri, Ar. Itu penting supaya kamu tidak lekas meledak.

Kau boleh kehilangan rasa percaya pada keindahan di dunia, tapi jangan menyerah untuk mencari cahaya meski hanya dari seberkas lilin.

Mungkin saat ini, kamu merasa kegelapan pantas untukmu, tapi tidak untukku. Aku juga membutuhkanmu. Bagaimana jadinya aku tanpa dirimu yang tersenyum utuh?

 

 

-Dari seseorang di cermin kamarmu-

Surat Ketujuh

Dear Pos Cinta,

Surat kali ini aku hanya ingin berterima kasih kepadamu telah mengantar surat-suratku yang beberapa hari ini kebanyakan berisi hal-hal yang berlalu dan juga cerita-cerita kecil lainnya. Terima kasih Pos, karena itu aku dapat bercerita tentang apa saja. Setidaknya, kehadiranmu seminggu ini, membuatku terdorong untuk menulis surat dan merenungkan berbagai hal, meski tidak semua hal, karena toh seberapa banyak yang mampu seseorang tulis dalam seminggu. Pos, aku hanya berharap tahun depan ada lagi kesempatan untuk berkirim surat seperti ini.

Sekian suratku. Semoga berkenan ya. 🙂

Surat Keenam

Dear Hujan,

Entah bagaiamana aku justru lebih sering membayangkan dapat berpergian ke berbagai belahan dunia akhir-akhir ini dan melanjutkan mimpi-mimpi terdahulu. Aku juga membayangkan, kelak ketika anakku sudah bisa diajak jalan-jalan dan diskusi, aku ingin mewujudkan salah satu mimpiku, jadi travel writer, tentu sambil mengajak anakku mengenal dunia lebih luas. Jangan tertawa ketika kau membaca ini, kawan. Memang aku tak pandai menulis sesuatu apalagi kisah perjalanan. Namanya juga impian, berharap dulu kan nggak ada salahnya.

Dulu, ketika masih sangat muda, aku berharap aku pernah sangat ingin tahu bagaimana rasanya pulang ke rumah ketika lebaran atau libur panjang. Bertahun sejak lahir, kau tahu sendiri kan, aku tak pernah ke mana pun. Lebih karena terlalu sayangnya orang tua kepadaku, aku tak pernah dilepasnya ke mana-mana. Pulang dari liburan ke luar kota tentu nggak sedramatis ketika harus mudik setelah berbulan tak bertemu Bapak Ibu dan keluarga. Kini, ketika aku telah memiliki keluarga sendiri, perasan ingin keluar kota sekadar hanya membayangkan bisa terwujud kalau sewaktu-waktu suamiku harus ditugaskan ke luar daerah dengan keluarga kecilnya ikut serta. Tapi itu mustahil untuk saat ini. Suamiku kan pria Jawa. Di Jawa anak lelaki harus terus di tempat kelahirannya, atau bersama orang tuanya. Di Jawa, kekeluargaan sangat erat. Saking eratnya kalau bisa sih satu kampung isinya keluarga semua.

Lagi-lagi bisa sesekali tinggal di luar kota hanya bayangan kecil bertahun yang lalu. Kini, aku telah banyak menyimak berbagai cerita teman dan kerabat, hidup di luar kota itu tak senyaman tinggal di kampung sendiri. Apalagi bila harus tinggal hingga bertahun lamanya. Aku membayangkan para TKW yang terdampar di negeri asing. Juga membayangkan para ayah yang harus berpisah dari keluarganya demi pekerjaan di luar kota. Aku juga mengingat salah satu temanku yang pernah jadi guru di Thailand, yang meski hanya setahun, ia toh tak ingin lagi melanjutkan pekerjaannya itu dan memilih tinggal di dekat orang tuanya karena ia anak perempuan. Padahal itu kan kesempatan keren. Tapi tinggal jauh dari rumah menurutku adalah perkara apakah kepercayaan diri dan kesiapan mentalmu cukup untuk itu.

Kawanku Hujan, tapi profesi semacam travel writer rasanya cukup menarik untuk diabaikan. Terlebih kesempatan itu sepertinya masih terbuka lebar. Kau tahu kenapa? Dulu suamiku pernah berjanji, ia ingin berhenti merokok. Kalau dalam dua tahun kami menikah ia belum berhasil berhenti merokok, saya kelak boleh meraih impian yang satu itu. Menarik sekali bukan. Itung-itung sambil mengajak si kecil melihat dunia lebih luas di akhir pekan, supaya tak penat seminggu terkungkung di kesibukan sekolah mislanya. Mudah-mudahan bila hari itu rupanya tiba, phobiaku pada pesawat juga sudah sembuh.

Sekian suratku, Hujan. Berharap pula kau segera bisa jalan-jalan juga ke negeri impian di belahan dunia lain. Tidakkah kau juga merasa ingin berpergian?

Surat Kelima

Dear Hujan,

Februari rupanya berjalan cepat. Terbesit di benakku, aku ingin merasa bulan ini cepat berlalu. Sudah tanggal berapa ini? Aku bahkan tak ingat tanggal dan terkadang lupa hari.
Sudah lama aku tidak membaca sesuatu, jangan pernah tanya lagi buku apa yang sedang aku baca hari ini, Hujan. Aku pasti lebih sering menjawabnya tak ada. Mungkin saja aku baru tahu rasanya berjarak dengan hal-hal yang telah melekat sejak kecil: membuat hidupmu tampak kosong. Tentunya kosong yang tidak berarti tak ada apa pun di sana. Menjalani peranku kini tetaplah menarik. Tapi membiarkan diri sendiri beku karena tak pernah lagi baca buku di sela kesibukan itu soal lain. Buku sering kali berhasil mengalihkanku dari pikiran negatif. Setiap si kecil tidur, pikiranku yang sering berputar-putar malah terbangun. Entah apa yang tengah kuresahkan. Tanpa buku atau bacaan yang sedari dulu jadi teman karibku, hidupku seperti hanya berputar-putar di dunia yang sempit.

Sekian surat singkatku hari ini.

Surat Keempat

Teman, apa kabarmu hari ini? Masih ingatkah pertama kali engkau jatuh cinta dan patah hati?

Masih melekat dalam ingatan masa kecilku, ketika masih tinggal di Gamping, aku pernah jatuh cinta pada seekor bayi burung gereja yang jatuh dari pohon. Kutemukan ia sewaktu pulang sekolah. Burung itu masih bersembunyi aman di dalam sangkar dan masih hidup. Karena sangat lucu, aku membawanya pulang. Aku membayangkan aku bisa membesarkannya hingga ia bisa terbang sendiri kelak.

Sejak itu, aku merasa orbitku hanya pada si burung yang sebatang kara itu. Sebelumnya, tiap pulang sekolah, akan merengek minta dibelikan layang-layang dan bermain di luar, juga dibelikan kapur tulis warna-warni untuk mencorat-coret tembok rumah seperti yang biasa kulakukan, atau bergabung dengan teman-teman yang sedang pasaran.

Tapi segalanya berubah ketika bayi gereja itu jadi anggota keluarga. Melihat matanya yang polos, bulu-bulunya yang jarang, dan tubuhnya yang kurus, membuatku merelakan waktu-waktu bermainku itu untuk menemaninya.

Sangkar mungil dengan bayi burung di dalamnya itu kusimpan dalam salah satu laci meja belajar dengan sedikit agak terbuka supaya tetap ada udara masuk. Si bayi selalu bercericit ketika lapar. Dan tidur setelah kenyang. Begitulah aku jadi menyadari bahwa makhluk hidup selalu butuh makan dan tidur. Tak lupa tubuhnya kuberi selimut hangat dari kain bekas supaya tetap hangat. Ah, kasihan, entah di mana induknya.

Burung gereja mengajariku tentang kehidupan kecil. Aku membayangkan di mana sebetulnya burung-burung liar tinggal dan berkumpul dengan keluarganya. Perlahan ia menjadi teman bicaraku. Tapi kala itu aku masih kecil. Aku tak tahu bagaimana cara terbaik merawatnya kecuali hanya memberinya makan dengan ujung batang lidi dan pelan-palan memberinya nasi sebutir demi sebutir, lalu mengajaknya ngobrol.

Aku memang tak beruntung. Bayi gereja itu mati seminggu setelah bertahan hidup di laci meja belajarku. Aku terkejut menemukannya tak bergerak ketika pulang sekolah. Tubuhnya dingin dan matanya terpejam. Itulah kali pertama aku merasa patah hati. Kusentuh badannya dan kugoncang sedikit. Tidak ada kehidupan yang menyapa. Rupanya yang telah tiada takkan bisa kembali. Dan aku mulai menerima kepergiannya berhari-hari setelah si bayi burung dikuburkan di halaman rumah. Setelah itu, aku kembali bermain dengan ayam-ayam peliharaan ayahku.

Kelak ketika dewasa (yang baru pertama kualami belum lama ini), perasaan patah hati tak ada apa-apanya dibanding ketika gigimu sakit. Ketika patah hati, kamu masih tetap bisa tertawa, nonton film, makan keripik, karaoke bersama teman, jalan-jalan, dan tidur dengan nyenyak. Semua itu takkan bisa kau lakukan bila gigimu yang tengah sakit.

Apakah yang pertama kali membuatmu patah hati, Teman?

 

 

Surat Ketiga

Teman, sepertinya, dengan “pulang”, aku bisa mengingat.
Biarlah surat-suratku berisi tentang ingatan-ingatan kecil

Hari-hari setelah kepindahan bukan hal menyenangkan untuk dilalui, dalam ingatan masa kecilku. Memang, ketika masih di desa, aku senang tiap kali menginap di tempat nenek di kota. Berbeda rasanya jika bakal menetap. Anak kecil barangkali memang punya perasaan yang membingungkan dan mudah berubah bukan.

Betapa lucunya masa-masa SD dulu, Teman.

Ayahku memilihkan sekolah islam yang tak terlalu jauh dari rumah setelah kami indah ke kota. Saat itu, aku masih kelas tiga. Banyak hal baru yang kutemukan. Anak-anak kelas 3 yang baik lelaki atau perempuannya urakan. Ada beberapa dari mereka yang suka memakai rok mini, mengirim surat pada lelaki, dan lebih banyak membicarakan mereka ketimbang mata pelajaran atau bermain layaknya anak-anak. Kelak mereka rupanya tak melanjutkan sekolah karena harus menikah karena hamil di luar pernikahan. Itu aneh sekali di benakku, anak-anak sudah punya anak. Anak lelaki ada yang suka memalak teman lain, berkelahi, memiliki keusilan yang tak pernah kusangka: suka menyibak rok teman-teman perempuannya. Dengan yang begini aku milih menjauh atau memasang tampang kasar. Ada pula kakak angkatan yang konon suka mengerayang tubuh anak perempuan. Maka sampai mereka belum lulus dari sana, aku memilih menghabiskan jam istirahat di depan kantor guru yang selalu terbuka, atau di perpustakaan yang ruangnya paling sepi karena hampir jadi satu dengan kantor kepala sekolah. Meski ibuku bukan wanita masa kini yang berpendidikan tinggi dan suka baca buku psikologi, tapi sejak kecil aku sudah diajarinya menjaga diri. Kata Ibu, jadi anak perempuan nggak mudah. Harus bisa menjaga dirinya sebaik mungkin dan harus berani berteriak minta tolong atau melawan bila dibutuhkan.

Teman-temanku sedikit yang baik. Karena muridnya juga memang sedikit. Di kota, baru kali pertama aku melihat ada teman mem-bully teman lain. Aku dibully karena nilai ulanganku selalu lebih baik dan disenangi guru-guru. Tak seharusnya murid baru mendapat perhatian dari guru. Aku baru pertama melihat ada orang tua dan murid memprotes gurunya seolah mereka terdakwa, padahal guru-guru kami baik. Sebab seharusnya anak mereka yang juara, bukan murid yang masih baru. Saat itu, habis pembagian rapor, dan aku mendapat rangking satu. Di sekolah sebelumnya aku juga begitu. Aku mendapat rangking itu hingga lulus. Kupikir itu sangat lucu. Tapi saat aku kecil, aku tidak merasa itu lucu. Terlebih di SMP dan sekolah selanjutnya, toh perihal rangking tergantung seperti apa sainganmu di sekolah, semakin rajin teman-temanmu melebihimu, jangan harap kamu bisa mengalahkannya. Semakin tinggi jenjangmu, semakin besar pula tantangannya. Syukurlah sekarang rangking tidak berlaku di sekolah-sekolah. Aku hanya sedih saat itu, banyak teman memusuhiku meski aku paling pendiam di antara mereka dan tak pernah mengganggu. Ada pula yang sempat berteriak padaku supaya aku kembali saja ke sekolah dasar yang dulu.

Kota menurutku begitu tak menenteramkan. Beberapa lama sejak kami pindah, aku mulai melihat Ibu sering berbicara sedikit dengan nada tinggi seperti orang yang tengah dipaksa keadaan. Ayahku tak lagi membuatkan kami mainan dari bahan sekitar. Beliau juga semakin jarang di rumah karena barangkali tuntutan pekerjaan lebih banyak. Aku juga sering mendengar ribut-ribut kecil yang meski aku tak paham, tapi membuat tak lega. Ketegangan rumah saat itu terasa lebih sering sejak adik keduaku lahir. Andai waktu itu aku sudah besar dan tahu soal baby blues, mungkin aku bisa meringankan beban ibuku.

Di kota segalanya memang sedikit tidak santai, Kawan. Suatu hari aku ikut TPA di masjid dekat rumah dan diajari iqra seorang pengurus masjid yang masih muda. Tapi sesungguhnya aku juga ikut rutin TPA lebih resmi di tempat lain karena menurut ibuku, di sana aku kelak bisa wisuda ketika katam Alquran. Ibuku sangat ingin melihat anak-anaknya wisuda. Di masjidku kan baru ada TPA kalau guru-gurunya tidak libur. Guruku yang masih muda itu sempat membetulkan bacaanku sambil menanyaiku siapa saja guruku di TPA resmiku itu. Kemudian ia mulai menjelek-jelekkan mereka, mengatakan alirannya salah. Di masa remaja aku melihat ada perbedaan di dalam masyarakat hanya karena yang satu mengadakan tahlilan, yang satunya tidak. Aneh bukan, sekecil itu, aku sudah menyimak orang-orang saling menjelekkan orang lain meski seagama. Kelak, aku menyadari di negeriku, itu akan jadi hal biasa.

Begitulah, Teman, sekelumit masa kecilku yang lucu. Yang kebetulan saja kuingat karena sedang sedikit merasa sepi.
#PosCintaTribu7e

Surat Kedua

tentang masa-masa kecil indah yang berlalu begitu saja, seperti baru kemarin ditinggalkan

Di manakah kau merasa pulang, Teman?

Seperti halnya engkau, terkadang aku merasa pulang ke masa lalu. Yang kumaksud adalah masa kecilku. Ketika aku masih bayi, aku dan kedua orang tuaku tinggal di sebah desa kecil di sebelah barat Yogyakarta. Namanya Gamping. Dinamkan Gamping mungkin karena sebagian besar tanahnya ditemukan unsur kapur, dan masyarakatnya menggali gamping/batu kapur sebagai mata pecaharian. Orang-orang juga masih mengadakan Upacara Bekakak untuk memberikan sesaji pada pegunungan gamping. Aku mengingat masa kecilku yang indah di sana. Begitu sering aku mencari bunga-bunga liar yang indah, menangkap kupu-kupu dan menerbangkannya lagi, juga mengikuti arah capung-capung terbang. Aku begitu ingat betapa hangatnya musim hujan dan musim-musim lainnya. Aku sering diajak ibu ke pasar yang letaknya tak jauh dari rumah. Aku juga sering diajak ayahku keliling desa dibonceng sepeda, main ke rumah temannya yang punya peternakan sapi, dan duduk-duduk di taman depan gereja yang begitu tinggi letaknya. Entah kenapa gereja di sana dibuat begitu tinggi dan mushala sejajar dengan tanah. Aku juga tak tahu.

Kami tinggal di sebuah kontrakan, yang ayahku dapat dengan harga murah ketika pada suatu malam beliau iseng mencarinya di sana. Orang tuaku merasa beruntung. Rumah itu luas tapi harga sewanya murah, lantaran menurut isu yang berbedar, rumah itu berhantu sejak penghuni sebelumnya meninggal bunuh diri. Tapi selama kami di situ, segalanya baik-baik saja. Beberapa tetangga yang usil memang menambahkan berbagai cerita. Namun ibu dan ayahku tak pernah gentar. Bagimana pun hidup kami damai, itu sudah lebih dari cukup. Rumah itu bergaya jawa kuno dengan beberapa pilar di dalamnya. Bahkan aku ingat bisa bermain sepeda di dalam rumah. Ada dua kamar mandi dan sumur yang dipisahkan oleh dapur yang juga sangat luas. Bangunan itu juga punya halaman lebar namun berjauhan dengan para tetangga. Banyak pohon besar di depan halaman. Seperti pohon melinjo, jambu biji, jambu klutuk. Bapak melihara ayam di samping rumah, dan tanaman hias di depan rumah.

Sampai pada suatu hari, ketika aku duduk di kelas 3 dan adikku masih TK, kami harus pindah. Mbah kakung kami memintanya. Di Jawa, anak lelaki memang harus terus bersama orang tuanya meskipun sudah menikah dan memiliki banyak anak, sedangkan anak perempuan boleh dibawa pergi pasangannya. Dalam benak anak kecil, perkara pindah rumah memang tidak mudah diterima. Aku masih ingin tinggal di sana, mungkin selamanya. Bukankah rumahku di desa kecil itu? Di rumah tua itu? Kata ibu, itu bukan rumah kami. Hanya sementara. Saat itu logika anak-anakku tak bisa menangkapnya. Hal yang kuingat, salah satu sahabat masa kecilku menangis sore itu, beberapa saat sebelum kami pergi bersama truk berisi barang-barang. Aku ingat sempat bilang padanya, aku akan kembali, mengunjunginya. Aku hanya sempat mengunjunginya 2 kali, setelah itu tak pernah lagi ayahku mengajakku ke sana karena terlalu sibuk di kota, atau mungkin sesi berpamitan pada warga telah selesai. Terakhir aku menemukan sahabatku itu ketika masih punya FB.

Tentu saja, kehidupan di kota tidak sama seperti di desa. Menurutku cukup aneh dan sedikit jahat. Beberapa lama kami di kota, aku melihat wajah riang dan lembut ibuku mulai surut, diganti raut tegang dan sering berbicara dengan nada tinggi. Padahal sebelumnya Ibu tak pernah marah. Tapi ibuku tetap memiliki hati yang dulu meski kini sedikit agak keras. Kuingat ayahku juga semakin jarang di rumah karena pekerjaan di kota lebih padat, persis seperti bentuk kampung-kampungnya yang padat dan ramai. Beliau juga tak pernah lagi membuatkan kami mainan dari bahan-bahan sekitar. Lebih banyak membelikan. Tapi memang begitulah kota. Orang-orang seperti tertuntut untuk bekerja siang malam, demi memenuhi kebutuhan hidup yang juga semakin banyak. Sedangkan waktu di rumah semakin sempit. Kelak setelah masa remaja tiba, aku mulai mempelajari banyak hal tentang perbedaan kota dan desa. Bagaimanapun kehidupan di kota juga harus banyak disyukuri. Kami belajar banyak tentang waktu. Orang-orang kota bukankah sangat menghargai waktu seolah itu hal langka yang bisa hilang sewaktu-waktu? Setidaknya, di kota, lebih mudah menemukan tempat belajar dan buku-buku. Setidaknya, di sini aku dapat mempelajari sifat manusia yang begitu beragam. Biarlah memang terkadang aku tak bisa move on begitu saja dari kehidupan desa.

Dan kau tahu, Teman. Gamping seolah mengingatkanku untuk pulang ke masa itu. Untuk ke rumah sakit di mana ayahku masih di rawat baru-baru ini, kami harus melintasi tempat itu. Jalan di dekat rumah masa kecilku tak sesepi dulu. Banyak pertokoan dan bangunan baru. Satu-satunya swalayan kecil di sana telah jadi rumah makan. Ruko kecil di mana salah satu temanku tinggal berubah jadi kantor agen pengiriman barang. Rumah temanku yang lain, yang ayahnya memiliki truk besar, tak lagi kelihatan dari jalan. Sebetulnya aku ingin tahu, mereka teman-teman masa kecilku, bagaimana kabarnya kini… Meski bentuk desa kecil itu tak sama dari yang dulu, aku tetap merasa sangat akrab. Tidakkah ini aneh. Ayahku dirawat di Gamping. Dan setiap aku ingin melihat ayahku, aku selalu merasa pulang.

Di manakah engkau merasa pulang, Teman? Apakah cukup di hati seseorang?

#PosCintaTribu7e

Surat Pertama

Dear Hujan,

Kata orang bulan Februari adalah bulan kasih sayang. Mungkin karena di dalamnya ada satu tanggal yang biasa orang-orang merayakannya sebagai hari kasih sayang. Tapi sesungguhnya kasih sayang tak memerlukan perayaan bila setiap hari orang menjadikannya ada dan terus membuatnya berdenyut. Bukankah begitu?

Aku jadi ingat zaman SMP dan SMA dulu, bulan Februari akan menjadi hari resah sekaligus bergairah bagi sebagian besar teman-temanku. Kemeriahannya sungguh melebihi bulan Romadhon. Mereka bakal memiliki hajatan penting. Ramai-ramai mereka akan sibuk menyiapkan kado atau kartu ucapan. Entah itu untuk pacar, idola, atau sahabat. Tanggal 14 seolah hari pembuktian seberapa penting diri mereka di hadapan pacar, gebetan, atau sahabat. Sebagian yang lain tak peduli. Termasuk diriku.

Padahal kasih sayang semestinya tidak dipersempit dengan sekadar berkirim bunga, cokelat, atau ucapan romantis. Tidakkah kehidupan telah mencatat begitu banyak bentuk kasih? Tidakkah seorang ibu yang menjaga anak-anaknya sepanjang hari tidak disebut pula sebagai bentuk kasih sayang? Atau apakah seorang ayah yang berangkat sangat pagi dan pulang larut malam demi membelikan si kecil sepeda, bukan bentuk kasih sayang?

Kasih sayang terdengar terlalu univesal untuk disingkat ke dalam satu hari perayaan. Setiap perayaan toh selalu bermakna kasih sayang. Menurutku lebih tepat barangkali disebut bulan berkah bagi pemilik toko bunga dan cokelat. Mereka akan kebanjiran pesanan. Tak ketinggalan pula mereka yang mungkin tengah riang di bulan ini: para pemilik restoran, bioskop, kafe, souvenir, penjual boneka, penjual pulsa, dan banyak lagi. 

Baiklah lebih tepatnya lagi mungkin bisa disebut hari pacaran bagi remaja atau mereka yang masih berjiwa belia. Pasalnya tatkala kau sudah dewasa dan banyak tanggung jawab yang perlu diselesaikan, kau tak akan sempat berpikir tentang hari itu. Engkau mungkin akan meragukan arti kasih sayang yang sering kau dengar tatkala kekasihmu tak kunjung melamar. Barangkali kau lebih berdebar dengan karier yang tak sadar telah jauh melesat sekaligus membuat jam terbangmu lebih tinggi di negeri perantauan hingga lebaran atau natal jadi hari paling dirindukan. Atau kau mungkin hanya peduli tentang kebutuhan hidup sehari-hari keluargamu, atau sudah sibuk dengan urusan sekolah anak-anakmu. Barangkali ada pula yang baru saja memiliki bayi hingga memiliki kebahagiaan dan kesibukan baru yang sulit dijelaskan. Di ibukota, aku kok malah yakin orang-orang lebih memikirkan pilgub ketimbang valentine di Februari tahun ini.

Februari tidak selalu berati bulan pink bagiku. Terlebih karena ayahku, superhero keluarga kami, yang nggak pernah kami sangka bakal sakit, tiba-tiba mesti opname. Entah bagaimana ayahku yang pekerja keras dan humoris itu, tatkaka jatuh sakit, rumah bagai didatangi mendung. Maka awal bulan ini adalah tentang hari-hari sendu penuh doa. Sendu karena pikiran dan hatiku seperti terbelah antara rumah dan rumah sakit, dan tak bisa kuceritakan bagaimana itu, pada siapa pun. Bila kau anak perempuan, kau akan tahu apa itu artinya seorang ayah dalam hidupmu. Kuharap mendung ini akan segera bertemu cahayanya… (lekas sembuh ya, Pak, Satya pun kangen diajak ngasih makan ikan di kolam pagi-pagi)

Tapi omong-omong ini memang bulan Februari. Bulan ini si kecil juga dijadwalkan imunisasi. Bulan ini pula suamiku berulang tahun yang ke-31. Dan aku juga tengah mencoba ikut program pos cinta untuk membuat 7 hari menulis surat. Seperti yang sudah kumulai hari ini. Surat pertama ini untukmu, Hujan, yang selalu jadi teman berceritaku.

#PosCintaTribu7e #7harimenulissuratcinta #suratpertama

dandelion

Bagiku alam itu selalu berbicara dan setiap waktu bertumbuh bersama kita. Aku mendengar bisiknya seperti tengah bercerita bagai puisi. Seperti sore kemarin yang tatakala sunyi, aku berbincang pada bunga-bunga liar di kebun. Menemaniku melamun. Lalu muncul kemudian, hal yang akhirnya aku tulis di bawah ini :^_^

Aku dandelion, kutatap pagi begitu sibuk sejak aku dibangunkan embun. Kabut hadir membisikkan lara, dan aku berkemas segera…
Ah, biar awan membawaku menghilang, aku takut tinggal lagi di sisimu, lalu tak lebih tiada dari debu di samping jendelamu. Atau mawar-mawar yang menghiasi meja kamarmu. Ah, sekalipun aku tak lupa mengecupmu yang juga tengah terjaga, sebagai yang tiada.

Aku dandelion. Biar aku liar. Rapuh tanpa akar-akar dan tangkai yang kekar. Aku telah terbiasa dibakar siang hingga wajahku tak beda dari bebatuan.
Aku tak ingin lagi kembali pada masa itu, di mana aku hidup dan mati dalam kesilapan waktu, Lalu aku tak tahu siapa diriku, lalu meragukan engkau, lalu meragukan Tuhan yang menciptaku.

Barangkali aku mesti tahu diri dan menghindari. Dan takkan berubah segalanaya. Hujan akan datang pada Januari mendatang. Menemanimu. Kemarau akan tetap setia menunggu hujan menghabiskan seluruh nestapanya. Mendamaikanmu. Awan-awan akan senatiasa menempuh perjalanan dan kembali tanpa aku ada di sini. Dan kau akan baik-baik saja.

Aku dandelion, Biar bumi menguburku, atau angin mengusirku pergi, atau sungai menghanyutkanku ke lautan….
Sebab bukan tentang ketiadaanku yang mesti engkau sadari, Tapi tentang mencintamu yang pernah tanpa henti. Dan hingga kini masih kubawa pergi.

 

 

 

 

 

*terinspirasi dari bunga-bunga liar yang kulihat sore kemarin.

untuk Ibu

Untuk Ibu yang menemaniku malam ini–yang sama-sama terbangun karena keributan kembang api.

Bu, tidak pernah sia-sia engkau mendidikku sejak kecil dengan segala daya upaya, meski sering kali tak dengan ala-ala psikolog zaman kini

. Tak perlu terus-terusan merasa cemas. Tidak pernah ada yang sia-sia yang dilakukan seorang ibu kepada anak-anaknya. Sejujurnya, sampai detik ini aku tak merasa berbangga dengan kelebihan atau terlalu rendah diri dengan kekurangan. Kecuali rasa syukur sebab aku dilahirkan dari rahimmu.

Bukankah Ibu selalu mengatakan, Tuhan selalu memberi ujian dengan lebih berat sesuai dengan seberapa tinggi engkau tumbuh supaya belajar menjadi lebih baik dari sebelumnya…?

Sudah sebesar ini anakmu, Bu. Selama itu pula aku tak pernah merasa mau mengkhianati prinsip sendiri sekalipun ada banyak kesempatan terbentang di depanku. Aku sudah memilih, aku juga akan bertanggung jawab. Meskipun zaman berubah, berubah, dan berubah…. Sekalipun sebagai perempuan, aku belum menjadi sesempurnamu, Ibu… Maaf bila sering perilaku membuatmu khawatir. Namun aku tak berhenti berusaha… sekalipun sering juga terjatuh. Percayalah, Bu, aku baik-baik saja.

Kita semua tahu, kita tak memiliki hal mewah untuk dipamerkan, segalanya milik Tuhan, segala datang dan kembali pada-Nya. Selalu demikian yang Ibu ingatkan padaku dan selalu juga kusimpan dan kuterapkan….
Maaf Bu, bila selalu mengeluh tentang duniaku yak tak pernah aman, atau masa depan yang tak pernah jelas. Meskipun, tak pernah terucap di tuturmu, untuk membuatku mundur atau berhenti menjalani hidup….

Tak ada alasan untuk tidak mendengar wejanganmu, nasihatmu, peringatanmu.. bilamana memang Tuhan, atau surga dan neraka tak pernah ada, setidaknya, aku memiliki ibu sebaik dirimu…. yang mengajariku pertama kali mempercayai semua itu, juga memperkenalkan nama Tuhan untuk kusebut setiap saat… Meski ya, kadang aku lupa itu.

Aku bersyukur untuk semua wejangan penting hari ini, juga bersyukur memiliki sahabat terdekat yang sehebat engkau…
doakan aku selalu Bu… supaya tetap istiqomah, apa pun yang terjadi 🙂

Love you

love-world-friends-quotes-flowers-love-quotes-Mensajes-en-texto-art-photography-cute-Imgs-Used-wordsn-quotes-WORD-COMMENTS-hearts-words-g1-Signs-Etc-Grab-and-Lock-bobbi-love-words-comments-lanena-Love_large_large

Bismillah untuk tahun baru ini.

Samar

Hari ini, seperti sepasang sahabat, kita masih memiliki tawa yang sama. Senyummu secerah matahari biasanya. Lagi-lagi tiada terik melukai sepori pun kulitku, sekalipun aku seringkali berbicara bagai bara dan arang yang liar terlempar. Lalu kita pun menelusuri senja dalam diam, seperti biasanya. Kau ceritakan tawamu yang menyimpan luka, kukeluhkan kerisauanku yang begitu samar. Kita hampir saja tak pernah memiliki bahasa yang dapat saling menangkap makna. Tapi mengapa kurasakan begitu dalam luka itu, dan kau sadari begitu abu-abunya hatiku saat ini.

Ah, apa yang mereka tahu soal kenangan? Apa yang mereka tahu soal hidup kita? Apa yang dapat mereka pahami dari terjalnya perjalanan kita? Aku selalu saja berpura-pura tak peduli itu. Diam-diam kita nyaris menyimpan dalam hal yang beracun, entah kapan meledak serupa bom waktu.

Barangkali ketika kita berpisah lagi, lalu menemui ruang-ruang sunyi kita masing-masing: ada yang tinggal separuh, atau barangkali habis dan tiada lagi apa-apa di sana.

Selayak udara, kita berhembus seperti biasanya. Kita berlari ke arah yang memang kita tuju. Kita berjalan pada liku yang hanya kita sendiri yang menapakinya. Bertahun-tahun ini, kita memang berjalan sendiri-sendiri. Tak lagi tahu apa-apa soal masa depan. Tak lagi peduli soal rasa.. sebab kita telah jera, mungkin saja.

Lagi-lagi tawa kita sama. Seperti semula. Bagai sepasang sahabat. Seperti biasa, tatkala kutemukan begitu jurang yang ada di antara kita. Tatkala kutemukan ada yang begitu tebal sebagai tembok di sana. Ada luka yang yang pernah kurasakan, dan hitam yang sempat tertera. Seperti saat aku merasa aku seperti tak dapat menjangkaumu. Adakah selamanya kita tak pernah saling mengisi? Atau barangkali kita tak sempat menyadarinya? Andai kita tak pernah melewatkan semua kesempatan, andai waktu berbicara dengan begitu lugas dan tegas, andai kita pun saling mengerti tanpa harus menelaah aksaranya.

Barangkali antara kita hanya sebatas tawa, yang mencoba saling bertukar kabar, mengirim radar-radar pesan yang samar… dan selalu masih menyimpan rahasia hati. Yang terdalam—paling tersembunyi.

Kau dan aku—masih saja terpisah rasa

Sebuah Pernyataan

catatan:

-dari perempuan kepada laki-laki-

pada lebaran ketigaku:

 

Sudahlah, jangan lagi banyak berbicara soal hal-hal duniawi: kecantikan fisik, fashion, foya-foya, tentang menimbun harta, atau bluefilm yang kerap engkau nikmati dan kau sebut itu kumpulan kesenangan, yang kau mumpung-mumpungkan selagi masih hidup. Jangan lagi berbicara soal kenikmatan-kenikmatan yang semu dan segera akan pergi. Jangan ajari aku tentang cara menikmati hal-hal yang aku sendiri enggan menyentuhnya. Jangan banyak mengajakku berdiskusi tentang hal-hal yang jarang sekali kupercayai: kebahagiaan sementara, janji-janji kosong, dan obsesi duniawi yang kurasa cukup mengerikan untuk kuselami. Bukankah kita semua tahu, ada kebahagiaan yang sesungguhnya kita cari, dan tidak selalu soal dunia?

Mari duduk berdua di sini. Sediakan sedikit waktu untuk berbicara tanpa obsesi, saling memahami arah tatapan mata dan perasaan masing-masing. Mari kita pergunakan bahasa hati saja sesekali, dan dengarkan apa yang akan aku katakan sebagai pernyataan:

Mari mulai detik ini, kita berbicara saja tentang kemanusiaan, tentang negara kita yang masih terjajah, tentang sejarah agama juga persamaan ketika kita ingin dunia kita damai, tentang betapa sia-sianya manusia yang berebut harta benda, juga tentang apa keimanan dan makna takwa yang sesungguhnya. Mari kita berbincang saja tentang ilmu-ilmu filsafat, tentang kebaikan dan kebenaran, tentang eksistensi Tuhan, tentang perkembangan ilmu pengetahuan, tentang perihal karya sastra, tentang iklim sosial, tentang anarkisme, tentang sejarah budaya, dan barangkali tentang pendidikan anak. Atau bila kau bosan berbicara tentang itu semua, baiklah kita bisa berbicara hal-hal sederhana di sekitar kita. Tanaman organik, atau pendapatmu tentang suasana pagi.

Kau tahu, secantik apa sesuatu yang engkau pandang saat ini, akan beranjak keriput dan beruban, dan semakin berbau tanah suatu saat nanti. Marilah sejenak berhenti, kita berbicara hal-hal lain yang membuat kita tumbuh setiap hari, belajar setiap waktu, mencintai Tuhan sepanjang hidup, dan berjanji bertemu lagi pada keabadian. Saling ada dan tidak hanya untuk saat ini saja.

Sebab aku lebih ingin engkau menikahi jiwa dan isi pikiranku, tidak sekedar tubuhku—yang kelak akan binasa bersama bumi seisinya.

heart-key-love-silver-true-love-Favim.com-47258