Menjadi Bahagia

Saya sempat menangkap obrolan tetangga depan rumah beberapa hari yang lalu. Saya nggak niat nguping, tapi karena suaranya keras banget, jangankan saya yang lagi nongkrong di ruang depan, yang lagi masak di belakang saja dengar. Ceritanya si tetangga ini punya keponakan perempuan yang lagi nyari jodoh. Latar belakang keluarga si keponakan ini bisa dibilang tajir. Orang tuanya pengusaha besar. Rumah di mana-mana dan cuma pembantu yang menempati. Si keponakan ini anak tunggal pula. Ia lulus kuliah di universitas terbaik di Jogja, anaknya manis, pakai jilbab, nggak pernah pacaran. Katanya pengin entar jodohnya pria sholeh yang bisa membahagiakan dia. Maksudnya barangkali, si calon ini setidaknya punya jenjang pendidikan minimal setara, setia, perhatian, pinter ngaji, pinter segala hal, bukan anak mami, mau bantuin sedikit tugas istri, ganteng lah syukur-syukur, nggak merokok, dan ya kalo bisa secara finansial nggak memalukan keluarga besan. Kalau nggak begitu, masalah biasanya terjadi, ini kan negara kawasan Timur. Perbedaan sekecil itu sedikit banyak tetep jadi ganjelan di masa mendatang, terutama bagi keluarga besarnya. Ya toh.

Tapi wajar deh, siapa pun yang punya anggota keluarga yang lagi nyari jodoh, penginnya cari calon mantu yang sempurna supaya kelak bahagia. Pihak perempuan berharap rata-rata si pria impian seperti tadi lah. Begitu juga dari pihak pria. Kalau bisa nyari istri tuh yang cantik, pinter, rajin beberes rumah, terampil, bisa jahit, bisa nyuci, bisa masak, bisa punya anak, keibuan, pinter dandan, minimal lulus S1, lemah lembut, bisa boso kromo alus, nggak matre, nggak bawel, nggak banyak tuntutan, nggak bakal gendut, sholehah, dan kalo bisa sih bisa punya penghasilan sendiri. Tapi kenyataannya ada nggak sih yang se-perfect itu? Kalau elu-nya sudah di surga pasti bakal nemuin kali ya.

Denger itu, saya jadi keinget salah satu proyek pribadi yang selalu saja terlupa: mencari tahu, seperti apakah itu bahagia. Tapi ternyata pertanyaan ini kurang spesifik, sehingga saya menggantinya dengan:apakah selama ini saya sudah bisa membahagiakan diri sendiri dan orang lain, terutama keluarga dan orang-orang terdekat saya?

Apakah ketika orang menikah dan menemukan seseorang yang mirip harapan, lantas kehidupan bakal bahagia terus nggak ada sakit-sakitnya? Apakah kalau nggak sesuai harapan lantas nggak bahagia begitu saja? Kalau begitu jangan-jangan kitanya yang dari sononya miskin kebahagiaan, sehingga berharap orang lain bisa ngasih kebahagiaan pada kita yang “kekurangan” ini.

Tapi yang saya pahami hingga detik ini kebahagiaan itu ternyata nggak bisa kita dapatkan seinstan kita memesan makanan siap saji yang tinggal minta, bayar, selesai. Semuanya mesti diperjuangkan, banyak di dalamnya yang juga butuh berbagai pengorbanan. Kalau nggak diperjuangkan ya itu semua nggak tercapai. Nggak usah juga ya mengharapkan orang lain bisa ngasih kebahagiaan ke kita. Tanpa kita bisa membuat diri kita bahagia, semua itu mustahil. Toh manusia bukan mesin yang bisa kita paksa bekerja memenuhi semua keinginan kita. Mereka bukan badut robot yang setiap saat bisa kita minta menghibur dan bukan juga doraemon yang bisa memenuhi segala keinginan kita. Robot aja kalau baterainya habis kita mesti mengisinya ulang. Di dunia ini nggak mungkin ada yang instan.

Saya gemas ingin menulis perihal ini dikarenakan justru jauh di dalam hati nurani masih suka mikir, jangan-jangan saya masih seperti tipe di atas, jenis orang yang selalu berharap dibahagiakan orang lain, tapi malas bikin diri sendiri bahagia. Karena malas bikin bahagia, maka sudah tentu dari sononya saya tipe yang nggak mudah bersyukur. Kalau sudah begitu percuma kan orang lain pontang-panting bikin saya bahagia, tapi karena saya nggak mudah bersyukur, maka dihadiahi seluruh dunia pun ngak bakal bikin saya senang dan puas dengan hidup. Walhasil saya jadi orang yang nggak bisa pula membahagiakan orang lain.

Mungkin saja waktu-waktu sebelum ini saya sulit bahagia karena cara pandang saya yang terkalu idealis atau kebanyakan mikir pakai otak, nggak pakai hati. Terlalu bikin patokan harus begini dan begitu. Sebab hidup dengan berbagai patokan ternyata bikin nggak tenang. Apalagi kalau patokan itu cuma kita sendiri yang memilikinya. Patokan cuma bikin saya gampang takut yang nggak jelas. Misal saja anak belum gede tapi sudah takut kalau nanti ia dapet lingkungan yang salah atau pengasuhan yang gagal. Atau, saya takut sekali berkonflik dengan keluarga besan bila kelak tinggal bersama mereka yang beragam itu sehingga saya nuntut suami saya untuk nyari kontrakan atau nyicil rumah seideal pasangan pada umumnya. Ketakutan-ketakutan yang belum tentu terjadi itulah yang membuat kebahagiaan saya berkurang. Tak lain tak bukan dikarenakan saya ini kurang bersyukur. Sudah bagus punya tempat tinggal meski harus satu atap dengan para mertua. Ketimbang mereka yang terpaksa tinggal di tenda karena rumahnya ambruk terkena banjir misalnya.

Memang tahun berganti, meski kehidupan bukan lantas jadi baru. Terkadang hanya melanjutkan tugas-tugas yang belum selesai. Tugas tahun depan untuk saya sendiri sebelum mendaftar proyek pribadi yang lain adalah melanjutkan lagi salah satu proyek pribadi yang sudah saya ceritakan di atas. Tentu harus bisa dong karena saya seorang ibu. Seorang ibu harus bisa membahagiakan diri sendiri dulu sebelum mampu membahagiakan anak-anak dan suami bukan. Tim SAR aja harus mampu menolong dirinya sendiri dulu, minimal tahu dulu jalan pulang sebelum menemukan korban hilang. Nggak mungkin kan terjun bebas trus nanti risikonya ilang bareng. Dokter pun harus menolong dirinya dulu sebelum menolong pasiennya yang sekarat.

Nah kan, ketika saya nulis ini saya jadi ingat. Sebelum nikah, psikolog yang saya sempat temui juga sempat menasihati bahwa kunci dari menjalani rumah tangga adalah kemampuanmu membahagiakan diri sendiri, dan masih banyak lagi. Yang akhirnya saya simpulkan: jangan begitu saja menyederhanakan makna pernikahan dengan memperoleh kebahagiaan (pribadi) semata. Mangkanya Islam menyebut pernikahan sebagai jalan menyempurnakan separuh agama. Bukan menyempurnakan daftar impian ketika masih lajang. Mungkin saja saya sempat lupa tentang itu karena kesibukan dan perubahan pola hidup yang berubah drastis sejak hamil dan jadi ibu rumah tangga. Perubahan pola hidup yang drastis terkadang bikin manusia jadi lupa hal-hal penting bukan?

Selamat Milad yang Pertama Kekasih Kecilku :)

Ada ribuan kelahiran di dunia setiap hari, tapi moment melahirkan memang selalu jadi keajaiban bagi seorang ibu. Termasuk bagi saya, yang sejak Satya lahir, saya jadi seperti tengah menjalani sejenis kehidupan dengan alasan dan tujuan yang lebih jelas.

Saya pun mengerti, menjadi ibu adalah tentang kasih sayang tulus dan tak berbatas meski sering kali tak diakui. Menjadi ibu adalah pembelajaran ngemong banyak orang demi kebaikan anak meski sering kali gagal karena anak ternyata selalu lebih utama, bahkan ketimbang diri sendiri. Menjadi ibu adalah tentang menjadi asing karena seluruh kebaikan yang dilakukan untuk sang anak selalu saja berbeda dengan cara orang lain, meski demikian ia tentu tetap tak tergoyahkan. Menjadi ibu adalah tentang kehilangan hari-hari istimewa lain karena baginya hari kelahiran anaknya telah menjadi hari terpenting sedunia.

Selamat hari lahir kekasih kecilku. Tentu saja seperti doa-doa yang terucap setiap waktu, Bunda selalu berharap semoga Allah selalu menjagamu dari segala keburukan di dunia maupun di akherat. Semoga selalu sehat dan sejahtera. Semoga engkau selalu tumbuh dan berkembang di lingkungan yang mendukungmu untuk menjadi anak yang shaleh. Amin.

Omurice

Janjian masak sama temen memang mengasyikan. Sejak Mpok Tanti mengirimkan foto omurice dan kemudian ngajak janjian masak akhir pekan di rumah masing-masing, saya jadi penasaran dengan salah satu makanan ini. Intinya, saya jadi semangat masak.

Omurice kepanjangan dari omelette rice. Maksudnya adalah telur dadar isi nasi goreng. Makanan ini rupanya berasal dari negeri sakura. Menurut berbagai sumber, omurice pertama kali diciptakan di sebuah restoran yang bernama Hokkyokusei yang terletak di Namba, Osaka. Restoran ini membuat omurice pertama kali khusus untuk pengunjung restoran yang terkena gangguan pencernaan. Namun ada pula yang mengatakan omurice diciptakan lebih dulu di restoran Renga-tei yang terletak di Ginza, Tokyo. Entah benar yang mana, yang jelas sekarang makanan ini menjadi populer dengan bentuk yang beragam dan bisa dimasak sendiri dengan variasi bahan sesuai selera.

Omong-omong soal omurice, Indonesia juga punya jenis kuliner yang masih family, lho. Namanya semarmendem. Nasi yang sama-sama dibalut dadar telur. Bedanya, bila omurice lebih besar dan berisi nasi goreng, semarmendem berisi lemper (nasi ketan isi daging). Bila semarmendem biasanya dikonsumsi sebagai camilan, omurice adalah makanan utama. Bila omurice ini telur dadarnya murni, semarmendem pakai adonan telur yang dicampur tepung. Begitulah.

Ternyata membuat omurice cukup simpel dan bisa menggunakan bahan seadanya.

Bahan kulit

  • Telur
  • Garam
  • Merica

Bahan nasi goreng (untuk satu porsi, untuk diri saya sendiri yang lagi nggak puasa :D)

  • nasi 1 piring
  • 1 buah cabe rawit
  • 2 buah bawang merah
  • 2 buah bawang putih
  • 1 buah sosis sapi
  • 1 buah wortel ukuran kecil, potong dadu
  • lada bubuk secukunya
  • pala bubuk secukupnya
  • garam secukupnya
  • 1 sdm margarin
  • 1 sdm kecap manis
  • 1 buah daun bawang
  • 2 sdm minyak goreng

Di resep ini saya masak telurnya dulu. Sebetulnya sesuai tekniknya sih nasi dulu. Tapi karena saya sulit membayangkan bagaimana melipatnya kalau sudah jadi, makanya milih yang lebih mudah dulu :D.

Caranya:

Kulit

Seperti bikin telur dadar pada umumnya, kocok telur, tambahkan merica bubuk dan garam, goreng di atas penggorengan yang sudah diolesi margarin. Masak dengan api kecil. Saya menggunakan teflon supaya bisa lebih lebar dan merata permukaannya.

Setelah matang, angkat, letakkan di atas piring.

Isi

  • Pertama, panaskan minyak goreng dan margarin dengan api kecil.
  • Cincang bumbu bawang merah dan bawang putih. Iris tipis cabe rawit. Potong-potong daun bawang kira-kira 1 cm-an dan sosis.
  • Tumis bumbu tersebut hingga harum.
  • Masukkan wortelnya dan beri sedikit air.
  • Tambahkan kecap, saus tomat, merica bubuk, garam, dan pala bubuk.
  • Masukkan nasi sambil diaduk supaya bumbunya merata.
  • Setelah matang, angkat di atas telur dadar untuk dibungkus, kemudian dibalik dengan hati-hati.
  • Hias dengan saus kesukaan. Saya pakai saus tomat.

Eh ternyata hasilnya sungguh di luar dugaan. Jumlah nasi gorengnya melebihi kapasitas si telur dadar membungkus sesuatu. Jadi saya hanya mengambil sebagian untuk dibungkus telur dadar. Sesudah difoto, digabungin deh semuanya.

Dan… beginilah penampakan omurice kreasi saya. Memang agak sedikit berantakan. Namanya juga baru pertama nyoba 😀

img_20160629_064929.jpg

img_20160629_065011.jpg

Tape dan Beberapa Resep

Tape singkong atau peuyeum, istilah bagi masyarakat Jawa Barat, selalu jadi oleh-oleh favorit kalau bapak dan ibu saya pulang dari Bandung. Meskipun di Jogja banyak dijual tape singkong, tetap saja tape khas Jabar lebih enak menurut Bapak. Apalagi beliau suka sekali berbagai jenis tape. Baik yang dari singkong maupun yang dari ketan. Kalau saya sendiri lebih suka yang tape ketan. Mungkin karena ada kuahnya:D (alasan yang aneh).

Di daerah saya, Jogja, termasuk kampung halaman Ibu di Bantul, menghidangkan tape ketan di acara besar seperti nikahan, kelahiran bayi, atau lebaran sudah merupakan kebiasaan. Biasanya disuguhkan bersama emping melinjo. Nah, saya pun kini jadi penggemar tape. Apalagi tape ketan yang dimakan bareng emping melinjo. Tape ketan dan emping melinjo itu bagi saya seperti sepasang sandal, kalau salah satu nggak ada rasanya kurang lengkap. Perpaduan asam, manis tape dan gurih empingnya hm.. nggak ada duanya.

Kalau Ibu bikin tape ketan sendiri di rumah, saya pasti rebutan deh sama Bapak. Tapi membuat jenis makan ini ternyata cukup lama. Setelah tape dimasak pun proses fermentasinya mesti 3 hari 2 malam dan itu pun diletakkan dalam wadah kedap udara dan tidak boleh terkena sinar matahari, nggak boleh juga dibuka sebelum waktunya. Dari mencuci beras ketan hingga jadi tape kalau diitung-itung bisa sampai 4 harian. Tapi untuk menghabiskannya tentu nggak sampai sejam :))

Ternyata membuat peuyeum pun sama-sama ribetnya. Namun di samping rasanya enak rupanya tape singkong ini mengandung berbagai manfaat positif lho untuk kesehatan tubuh, bahkan konon bisa menyembuhkan jerawat dan anemia.

Ketika peuyeum melimpah di rumah, boleh juga nih dimasak jadi berbagai cemilan selain dimakan langsung. Dibikin cake sepertinya menoton. Apalagi di rumah banyak yang nggak suka makan cake. Kalau ada cake di rumah, sebagian besar pasti jadi jatah makan ayam. Ternyata tape singkong pun bisa dinikmati dengan 3 cara ini.

Tape bakar tabur gula. 

Resep ini terinsirasi dari ibunya murid waktu saya masih mengajar privat di daerah Godean.Si ibu adalah perempuan yang tangguh menurut saya. Sejak suaminya meninggal, ia menghidupi sendiri dua anak dan seorang asisten rumah tangga. Kami sering sharing tentang perkembangan anak-anak. Dan sering kali saya disuguhi tape bakar tabur gula ini setiap mengajar yang merupakan camilan khas keluarga.

Cara membuatnya:
Pertama olesi penggorengan dengan mentega dan panaskan.
Tape dimasak dulu di teflon dengan api kecil sampai kering dan ada semburat gosong, tapi jangan terlalu gosong.
Setelah itu, angkat dan taburi dengan gula/saus caramel santan

Coba deh, rasanya enaaaak banget.

Cassava sweet cake with egg and lope.

Nama yang panjang ini pemberian dari sepupu saya. Kalau di suruh ngulangin secara lesan saya nggak bakal hafal. Cukup saya sebut tape goreng. Cara membuatnya:

Siapkan tape singkong, tepung terigu, telur, gula pasir, garam, mentega cair.
Lumat semua bahan, masak di atas teflon, dengan api sedang
Angkat setelah kecokelatan.

Ini juga rasanya enak banget. Bisa dijadikan camilan atau sarapan.

 

Dicampur es buah.

Bisa ditambahkan pisang, kurma, kolang-kaling, nangka, agar-agar, susu kental manis, dan es puter rasa kelapa.

 

Selain tiga cara di atas, tape singkong juga bisa dibikin variasi makanan lain seperti puding, es krim, dan banyak lagi. Sepertinya kapan-kapan perlu deh eksperimen. 😀

 

IMG_20160309_111822

tape goreng

 

9 Bulan Si Kecil-ku

Nggak terasa Satya sudah berumur 9 bulan. Sudah lulus ASI ekslusif 6 bulan, dan sekarang latihan makan MPASI sehat yang lebih padat. Geraknya makin lincah, dan bahkan sekarang sudah belajar turun dari tempat tidur sendiri. Sebelumnya, saya sempet berada di moment “panik akut” ketika Satya masih berumur 4 bulan dan ia belum bisa tengkurap sendiri. Tadinya saya nggak bermasalah dengan itu, sampai orang-orang dengan mudahnya mengklaim ia keseleo lah, karena nggak pernah didadah ke dukun bayilah, dan lebih buruknya dibandingkan sama bayi-bayi lain yang sudah bisa tengkurap sendiri. Padahal kan mereka nggak mengikuti perkembangan Satya dari hari ke hari karena nggak tinggal serumah. Meski saya sadar, membesarkan anak di lingkungan masyarakat gotong royong semacam ini memang mesti bisa juga ngemong banyak orang.

Nggak henti-hentinya, sejak saya melahirkan, suara-suara semacam itu mudah sekali bikin saya down ketimbang percaya diri. Mungkin sebal sekali rasanya dikasih kritik dan nasihat tanpa diminta dan efeknya saya malah merasa nggak pantas jadi ibu yang baik. Terutama nasihat yang sifatnya kuran masuk akal. Mungkin karena ibu pasca melahirkan jadi lebih rentan daripada ketika belum punya anak. Terlebih baru pertama kali saya punya bayi dan tentunya lebih butuh dimotivasi dan diberi ruang untuk beradaptasi dengan status baru. Siapa sih yang nggak gampang parno begitu ditakut-takutin dengan hal-hal yang belum terbukti kebenarannya? Nggak cuma ibu-ibu tetangga, kerabat, atau keluarga besar, tapi dokter pun turut menyuntikkan teror, yang akhirnya membuat saya terpaksa memutuskan untuk ganti dokter.

Namanya juga ibu, se-down apa pun tetep berusaha positive thinking dan tetap kuat demi terus merawat dan menjaga buah hati. Saya juga nggak lantas begitu saja menyerahkannya ke dukun bayi. Memijatnya sendiri lebih aman. Sebelum itu, saya pernah membaca referensi bahwa bayi 4 bulan belum tengkurap masih tergolong normal. Entah bagaimana saya selalu percaya kok setiap anak mengalami tumbuh kembang yang nggak bisa dibandingkan satu dengan yang lainnya. Dan pada akhirnya, semua itu terlewat. Satya nggak kenapa-kenapa. Normal seperti yang seharusnya. Begitu ia bisa tengkurep sendiri, maka ia pun berguling-guling sepengin dia sendiri dan berkembang sesuai yang ia  mau.

Ada-ada saja tingkah polahnya setiap hari yang bikin orang-orang dewasa di sekitarnya gemas dan geli. Kalau dulu orang-orang menakut-nakutin ibunya bahwa si anak ini mungkin ada yang kurang karena belum bisa tengkurap sendiri, sekarang mereka kewalahan kalau kedapatan kunjungan karena polah Satya yang sering tak bisa diprediksi dan cenderung mengacaukan barang-barang =)), dan mereka pun jadi banyak melarang si kecil. “Jangan pegang ini, jangan ke sana, jangan bla.. bla. bla.. ” Kadang aneh deh rata-rata masyarakat kita. Menuntut para bayi supaya cepet besar dan bisa jalan, begitu bisa jalan malah sering dilarang ini itu. Dihambat berkembang.

Sekarang ia sedang aktif-aktifnya. Sudah belajar berdiri sendiri, berpindah tempat tanpa bantuan, duduk sendiri, mengoceh (dengan bahasa yang masih belum jelas), selalu penasaran dengan benda-benda di sekitarnya, dan bahkan memakan apa saja yang dipegangnya sebagai proses dimulainya latihan makan sendiri. Sebagai orang tua, kekhawatrian pun tentu saja bertambah. Tak jarang ia jatuh, kebentur sesuatu, bahkan kemarin hari sempat terantuk pagar box bayi sampai berdarah gusinya. Apakah lantas saya nggak ngasih izin dia main di box-nya lagi? Tentu saja tidak. Lebih karena ada hal lebih penting dari sekadar luka terantuk lingir.

Hal-hal yang sifatnya naluri kan butuh dipalajari juga secara mandiri. Makan, berjalan, dan hal-hal semacam itu. Nggak mungkin kan Satya saya larang ini itu, atau menggendongnya sepanjang waktu, karena kalau begitu ia jadi stress. Nggak mungkin juga saya bentak dia supaya kaget dan takut melanjutkan rasa penasarannya dengan sesuatu, karena konon malah akan berisiko pada kondisi psikologisnya. Paling saya hanya akan menyingkirkan benda-benda berbahaya atau tegas menjauhkannya dari hal-hal seperti kompor atau setrika panas. Jatuh, kotor, terluka, memang risiko belajar. Setiap ia jatuh, tentu saja saya hanya akan memeluknya dan bilang “nggak papa, lain kali hati-hati ya, pegangannya pelan-pelan aja.” Padahal dalam hati cemas banget dan jantung rasanya mau copot. Tapi mau gimana lagi, proses belajar harus dilanjutkan. Karena semua itu memang nggak sia-sia kok. Setelah momen terantuk pinggiran kayu, atau jatuh, saya pun melihat perubahan Satya yang akhirnya lebih hati-hati dari sebelumnya. Mungkin saja bayi seusianya sudah mampu membedakan benda-benda mana yang bikin sakit, mana yang tidak.

Semakin aktif Satya, semakin was-was pula rasanya setiap akan meninggalkannya. Padahal nggak mungkin punya bayi nggak punya moment nitip. Apalagi ketika bayi sudah mulai penasaran dengan lantai dan kabel listrik. Setidaknya untuk ditinggal ke pasar pun pasti nitip siapa pun yang ada di sekitar bayi. Beberes peralatan mandi saja mesti harus titip atau memastikan si baby bisa ditingal sendiri di box-nya. Ditinggal sebentar dan Satya cuma diem lebih dari 2 menit, saya pasti curiga karena biasanya ada hal aneh yang ia pegang. Teringat beberapa minggu lalu, sepupu Satya yang lagi nginep di rumah, dan usianya lebih tua dua bulan dari Satya, diem-diem sibuk mainan resrespo yang mungkin saja baginya selucu tedy bear. Gimana saya nggak ketar-ketir? Apalagi rumah lagi sering kedatangan resrespo yang berasal dari pekarangan tetangga samping yang terbangkalai. Nggak tahu kenapa, sarang-sarang sudah coba dibersihkan, telur-telur dimusnahkan, tapi tetep aja muncul. Yang punya pekarangan entah ke mana.

Memang kalau saya mesti pergi karena keperluan mendesak, ibu saya adalah satu-satunya yang bisa saya titipi. Tinggal satu kompleks dengan orang tua memang banyak kemudahan. Tapi saya juga nggak lupa, ibu saya adalah ibu rumah tangga, mengurus bapak, adik bungsu, simbah, dan terkadang masih juga mengurus saya sepertinya sudah membuatnya cukup kelelahan. Menitipkan Satya juga perlu melihat kondisi beliau apakah lagi benar-benar selo atau tidak.

Jadi kesimpulan sementaranya, saya mesti melanjutkan proses jadi fulltime mommy, dan juga siap bila ada tanggung jawab pekerjaan freelance yang bisa dikerjakan di rumah. Menjadi ibu nggak perlu berhenti mengembangkan diri kan. Diem-diem saya jadi salut sama ibu-ibu kantor yang tetep bisa kerja dan merawat keluarga kecil. Saya yang nggak ngantor saja sempoyongan dan selalu mengkhawatirkan anak yang saya pelototi setiap saat. Gimana dengan mereka yang hanya bisa ketemu beberapa jam saja dalam sehari?

Sejauh ini, saya merasakan salah satu sisi positifnya punya bayi, semua orang seperti memberi permakluman. Kalau saya telat datang di acara keluarga misalnya, mereka akan maklum karena saya pastinya ngurus bayi lebih dulu. Dan bila saya bangun kesiangan, keluarga saya pun maklum karena pastinya semalaman begadang menyusui dan mengganti popok si dedek bayi. Kalau saya nggak bisa datang acara formal tertentu, sudah pasti orang-orang maklum karena punya bayi memang demikian sibuknya. Dan beruntungnya, karena kehadiran Satya membuat saya belajar menyaring berbagai jenis informasi (saran, kritik, nyiyiran, dan sebagainya), dan juga bertumbuh menjadi orang tua yang terus berusaha belajar mengambil yang penting dan mengabaikan yang nggak penting. Saya percaya memiliki buah hati bikin seseorang jadi lebih ‘bijak’.

Semoga Allah selalu menjaga Satya dan senantiasa memampukan kami untuk menjadi orang tua yang baik baginya. Amin.

Hari Jadian

Ternyata, sudah lama aku nggak menulis sesuatu.

Pagi ini seperti halnya hari-hari biasanya. Bangun pagi, ngurusin anak, beberes banyak hal dan semuanya dikerjakan berdua. Sementara aku menyusui si kecil, suamiku menjerang air, nyuci piring, kemudian memandikannya. Sementara aku beberes peralatan mandi dan membuat sarapan, suami akan mengajaknya jalan-jalan sebelum berangkat kerja. Hari berlangsung seperti biasa. Memang sejak ada bayi di rumah kami, setiap hari selalu istimewa. Hanya saja hari ini terasa berbeda ketika masih dalam keadaan ngantuk, ia mengingatkanku tentang sesuatu:

“Tahu nggak Dek sekarang hari apa?”
“Senin.”
“Tanggal?”
“Hm.. berapa ya Mas? Duh lama nggak lihat kalender…”
“Sekarang tuh hari ulang tahun pernikahan kita…”

Lucunya dua tahun kami menikah, baru kali ini satu di antara kami mengingat hari bersejarah itu. Tahun kemarin? Entahlah… mungkin karena kesibukan masing-masing atau memang kami berdua cenderung nggak romantis, hari penting itu pun terlupa :p.

Tanggal 4 April 2014 lalu tepatnya, kami “jadian” di depan penghulu. Tentu sebelumnya, kami tahu bahwa tidak ada “pernikahan” yang enak di dunia ini, tapi memang hanya berbekal saling percaya satu sama lain, kami memutuskan bersama. Ya begitulah, ceritanya cukup panjang.

Masih kuingat ketika ia melantunkan ijab kabul dengan tegas tanpa diulang. Hari itu segalanya berlangsung sederhana namun khidmat. Dan tentu selalu kuingat sejak itu, segala tanggung jawab dan kesulitan mesti dihadapi. Memang cinta tak hanya sebatas romantisme, maka seperti itulah yang setiap hari dan hari-hari yang akan datang selalu kami jalani. Terlebih ketika menghadapi perbedaan. Aku yang introvert, dia yang ekstrovert. Aku yang elergi keramaian, dia yang bisa banget menghebohkan suasana. Dia yang penyuka kerapaian, dan aku yang lebih nyaman kalau di tempat yang berantakan, dan masih banyak lagi yang akhirnya toh tetap berjalan beriringan.

Salah satu pelajaran penting dari pernikahan adalah bahwa cinta memang bukan tentang kata-kata atau sekadar karangan bunga, tapi ketika pasangan kita selalu ada di sisi dalam kondisi apa pun kita, menerima kekurangan, dan mau saling memahami. Memang rasanya beruntung bertemu seseorang yang berkebalikan dengan kita tapi selalu peduli. Hidup bareng tipikal suami yang bersedia membantu tugas-tugas domestik di luar jam kantornya itu sungguh berkah bagi seorang istri. Bertemu dengannya membuatku belajar tentang menjalani segala sesuatunya bersama, meski seperti halnya pasangan yang baru menikah pada umumnya, segalanya tampak nggak mudah. Belum lagi kami mesti membuktikan pada orang tua kami, bahwa kami bisa menjalani rumah tangga dan bisa berdikari.

Alhamdulillah, sudah dua tahun pernikahan kami, dan bahkan Tuhan mengamanahi kami seorang bayi laki-laki yang sekarang sudah belajar merangkak dan tertawa ngakak. Tentu banyak hal yang kusyukuri hingga detik ini. Dan sejak si kecil tiba, entah bagaimana, kami pun seperti tengah berproses menjadi “orang lain”, mungkin bisa disebut orang tua kali ya. Kalau ada yang bilang sering kali karakter kebapakan laki-laki dan tanggung jawabnya muncul setelah jadi bapak, aku setuju. Masih teringat bagaimana ia selalu mendampingiku sejak anak pertama kami hadir :). Ah, mungkin lain waktu saja kalau sempat, aku akan cerita.

Baiklah. Hanya doa dan sedikit pesan yang mampu kusampaikan hari ini padamu,

Aku bersyukur dapat menjalani hidup bersamamu, berdua menghadapi hal-hal yang kadang jelas kadang nggak jelas tapi kita tetep kompakan. Aku bersyukur atas semua hal yang mampu kita lewati hingga hari ini, dan juga kesediaan kita belajar dan belajar lagi untuk jadi ibu bapak yang baik untuk anak kita.

Selamat hari pernikahan kita yang kedua ya Sayang 🙂 semoga kita selalu jadi keluarga samawa. Dan semoga Allah selalu memberkahi pernikahan kita. Amin.

IMG_20160404_224839

Oh iya, kurasa masih ada satu tugas besar dan berat menanti kita di waktu-waktu selanjutnya yang nggak habis membuatku khawatir, cemas, sekaligus bersemangat: parenting. 😀

IMG_20160404_201109

dua lelakiku 🙂

Para Perempuan dalam Dunia Alice: Review Novel Karya Alice Pung

“Waaaahhh …,” nenek menyeletuk takjub saat melihat mobil berhenti dan menaikkan seorang penumpang.

Celetukan semacam itu sangat kerap terlontar dari mulut Alice dan keluarganya. Sebagai pendatang baru, kehidupan di Australia penuh dengan kejutan. Mobil bertebaran di mana-mana, dan mereka tak menolak berhenti hanya untuk seorang nenek tua! Di Kamboja, asal mereka, hal semacam itu jelas tidak mungkin.

Kejutan yang luar biasa mereka temukan justru di supermarket. Di rak, berderet daging kaleng dijual dengan harga sangat murah. Merasa girang, mereka membelinya beberapa.

Hari itu makan malam mereka istimewa, hingga televisi memperlihatkan sebuah iklan daging kalengan. Astaga! Ternyata daging yang mereka beli adalah makanan anjing.

Dunia Alice menuturkan kehidupan sebuah keluarga imigran Kamboja di negeri baru, Australia. Kocak dan menggelitik, novel ini benar-benar menghibur sampai ke sumsum tulang belakang Anda.

Saya selalu percaya setiap manusia memiliki dunia yang menarik untuk diceritakan bila saja mereka bisa berbagi dalam sebuah buku. Seperti halnya Alice Pung yang kali ini berbagai melalui novelnya yang berjudul Unpoliced Gem, yang setelah diterjemahkan versi Indonesia berjudul Dunia Alice. Buku yang tak sengaja dipinjam adik saya dari Perpustakaan Daerah ini rupanya menarik sekali.
Kebetulan saya juga senang membaca sejenis buku autobiografi atau semacam buku harian. Dunia Alice bercerita tentang kisah dirinya dan keluarga yang bermigrasi dari Kamboja pada masa konflik era Pol Pot. Alice baru lahir setelah keluarganya pindah. Ia tumbuh besar di negeri baru tersebut.

Dunia yang ia simak dan alami sejak kecil hingga memasuki masa dewasa adalah dunia yang cukup berwarna. Lewat kehidupan sehari-hari yang dialaminya, Alice kecil bercerita tentang generasi sang nenek yang menyatu dengan tradisi dan kemudian tentang ibunya yang lebih banyak dilatarbelakangi oleh peristiwa konflik. Alice lahir dari etnis Cina dengan keluarga yang selalu berjuang mempertahankan tradisi. Dengan daya kritisnya, ia menggambarkan nuansa culture shock yang dialami keluarganya di tengah kehidupan maju dan bebas seperti di Australia. Ia menuliskan berbagai perbedaan cara hidup keluarganya yang taat adat dan masyarakat negara yang ditempatinya dengan sekilas-sekilas. Dan secara tak langsung pula, Alice seakan membagi sekelumit pandangan seputar pengasuhan orang tua ala Asia, kebiasaan masyarakat, opininya mengenai negara yang ditinggali, beberapa kisah tragis negeri yang ditinggalkan menurut cerita nenek dan ayah meski dengan cara humor, hingga cerita lucu dan romantis ketika jatuh cinta pertama kali dengan seseorang yang berbeda etnis dan asal negara di kemudian hari.

Menurut saya, banyak hal menarik di buku ini yang sayang untuk tidak dibocorkan, beberapa di antaranya adalah:

Pertama,
Alice kecil akrab dengan perseteruan orang-orang dewasa. Di benaknya, orang dewasa adalah manusia-manusia rumit. Seperti iklim umum di keluarga Asia, ibu mertua bahkan jarang sekali dapat sehati dengan menantu perempuan. Alice kecil tentu tidak memiliki bahasa yang tepat untuk menyampaikan betapa itu tidak menyenangkan, kecuali hanya diam. Baik nenek maupun ibunya tentu dua orang yang sama berharganya. Di samping itu, biasanya figur anak-anak adalah nenek-kakeknya karena mereka cenderung lebih luwes. Demikian juga dengan Alice yang bahkan merasa bahwa semestinya neneknya hidup selamanya untuk dia sebab hanya neneknya yang mengatakan hal-hal baik tentangnya dan membuatkannya telur rebus setiap pagi. Sedangkan orang tuanya, terutama ibu yang telah sibuk bekerja dan mengurus anak-anak, selalu bersikap keras kepadanya dan jarang memiliki waktu untuk sekadar mengobrol.

“Seorang tidak ada yang mengingatkanku untuk bangga menjadi bagian dari kebudayaan yang berumur seribu tahun, tak seorang pun mengatakan bahwa aku ini emas dan bukannya kuning.” (h. 210)

Alice kecil juga merupakan anak-anak biasa yang memiliki bermacam tingkah konyol. Ia pernah punya kutu di rambutnya sehingga dijauhi teman-teman dan sepupunya. Suatu hari ia berkunjung ke rumah sepupu untuk bermain, namun para sepupu malah bersembunyi dan tak mau menemui Alice. Terbit ide iseng Alice dengan berbaring di karpet sepupunya dan membayangkan kutu-kutu tersebut menyerbu sela-selanya sehingga kelak menulari mereka.

Kedua,
Setelah beranjak remaja (mulai menstruasi), kebanyakan orang tua Asia (tradisi Timur) akan mendoktrin bahwa di luar sana laki-laki adalah penjahat yang sewaktu-waktu dapat memperkosamu di jalan. Bila kamu tidak perawan lagi, maka kamu tidak akan punya suami dan menikah yang layak, atau akan dianggap “benda” yang telah rusak. Seperti halnya orang tua Alice yang selalu mewanti-wanti dengan tegas untuk waspada dan jangan dekat-dekat dengan laki-laki. Dan itu salah satu cara orang tua khas Timur melindungi dan memberikan pendidikan moral pada anak-anaknya.

Suatu ketika Alice remaja menerima telepon dari teman laki-laki untuk pertama kali. Peristiwa itu membuatnya depresi karena seluruh orang berpikir hal terburuk tentang dia. Akhirnya karena peristiwa ditelepon cowok itulah, ia pun dihukum orang tuanya untuk menghabiskan seluruh waktu liburan di dalam kamar. Ditelepon seorang laki-laki adalah aib dan hal besar bagi remaja putri yang akan membuatnya jadi bulan-bulanan seluruh keluarga dan bahan gunjingan para tetangga. Hal ini agak berkebalikan dengan aturan orang tua ketika Alice beranjak dewasa, karena justru ia diharuskan membuka diri untuk mencari calon suami yang tepat.

Yang kauinginkan di usia lima belas tahun adalah memiliki pacar, dan bukan memilih calon ayah anak-anakmu di masa depan. Yang diinginkan pemuda berusia lima belas tahun adalah diterima cintanya oleh si gadis, dan mungkin lebih kalau ia beruntung–bukan memilih calon menantu untuk ibunya. (h. 110)

Alice memang tumbuh jadi remaja yang penakut tatkala dewasa, ragu, tak percaya diri, namun ada sisi kepribadian kuat di dalamnya yang membuatnya mampu bertahan di dalam setiap masalah. Alice Pung seakan menunjukkan bahwa didikan keras ala masyarakat Timur tidak selalu buruk. Ia berhasil menunjukkan dirinya sebagai orang yang memiliki sifat tangguh justru karena didikan itu.

Ketiga,
Alice hadir dari tradisi bernilai patriakhat di mana anak lelaki lebih berharga daripada anak perempuan, hal itu ditunjukkan dalam kisah masa lalu nenek Alice ketika menikah dengan sang kakek. Dalam tradisi ketimuran yang dipaparkan Alice Pung, tak peduli bila seorang perempuan sukses pendidikan ataupun pekerjaan, jika tidak bisa mengerjakan pekerjaan domestik, tak punya penghasilan, dan tak bisa punya anak lelaki maka ia adalah perempuan tak berguna sehingga tak layak dinikahi.  Namun kedatangan mereka ke negeri semacam Aussi mengubah sedikit cara berpikir. Di buku ini saya banyak menemukan cerita kocak seputar perjodohan dan pernikahan yang bisa direnungkan sekaligus cukup menghibur.

Ketika dewasa Alice menyadari bahwa semua lelaki tidak sama seperti gambaran orang tuanya ketika remaja, ia menemukan Michael yang mengingatkannya akan karakter santun, romantis, dan sedikit rapuh seperti tokoh-tokoh dalam karya sastra yang sering dibacanya. Pendidikan formal, bahan bacaan, sekaligus lingkungan pergaulan semasa belianya membuat Alice juga begitu sering mengkritisi pria-pria asal budayanya sendiri. Ia tentu menemukan perbedaan mencolok mengenai gambaran lelaki dalam doktrin orang tuanya dengan lelaki dalam buku-buku dan pergaulan di sekolahnya. Tak hanya itu, lewat pengetahuan yang ia simpan dalam sifat introvertnya, ia pun mengkritisi pria model Barat yang baginya bersikap terlalu berlebihan sebagai wujud kesadaran atas keperempuannya yang utuh dan tak terjebak arus. Menunjukkan bahwa ada sisi feminis dalam diri Alice yang menarik untuk dikaji.

Saya juga suka pandangan Alice ketika berbicara perihal kesetaraan gender. Ia selalu mengalami perang batin dan keterasingan yang membuat saya tersenyum geli, merasa pernah di posisi itu. Salah satunya ketika berhadapan dengan kebiasaan wanita Barat mencium teman-teman prianya setiap bertemu. Terutama ketika melihat langsung para wanita berkontak fisik dengan Michael, pacarnya, meski ia bersikap menerima dan tak ingin terlihat mengawasi kekasihnya.

Secara sekilas ia juga mengkritisi sikap Gemma, salah satu teman Michael, yang mewakili para wanita Barat yang mencoba menjadi feminis negara dunia ketiga.

Kalau mereka menghormatimu, mereka akan mengurangi cium-cium, kau tahu, kataku pada diriku sendiri, lagi pula kau pacarnya. (h. 272)

Hal itu menunjukkan karakter Alice yang terbuka dengan hal-hal baru namun tetap menghargai tradisi aslinya sendiri. Ia tipe pendatang dari Timur yang cukup kritis yang tak asal mengikuti cara Barat.

Keempat,
Sejak pindah ke Austarlia, ibunya mengalami culture shock lebih parah daripada anggota keluarga yang lain. Ia pun menyebut masyarakat kaukasoid sebagai hantu putih yang begitu berbeda dunia dengan mereka. Ia juga tak bisa berbahasa Inggris sehingga membuatnya asing di antara orang-orang di sekitarnya, terlebih ketika Alice, Ayah, dan anggota keluarga lain pada akhirnya fasih berbahasa tersebut dan sesekali menggunakananya ketika makan bersama. Membaca Dunia Alice, membuat saya jadi ikut hanyut dalam pergantian suasana yang disuguhkan.

Diceritakan bahwa sang ibu adalah sosok workaholic, ia merasa hidupnya runtuh dan tak berarti setiap kehilangan pekerjaan dan pendapatan, meskipun sebetulanya dengan pekerjaan sang suami yang cukup bagus, ia bisa juga tidak perlu bekerja. Hal itu membuat setiap anggota keluarganya memberikan permakluman yang luas. Dengan kesibukan sang ibu berbisnis atau bekerja di luar rumah itu, Alice pun menggantikan pekerjaan domestik dan mengasuh adik-adiknya. Sosok ibu menurut saya cukup menarik, meskipun memiliki sisi keras dan kaku, ia merepresentasikan perempuan Asia yang gemar bekerja keras dan tak ingin selalu tergantung pada suaminya. Bahkan seolah tak ingin tergantung pada keluarga besarnya. Saya kira, itu salah satu gagasan besar dalam novel ini. Mengingat banyak tokoh perempuan yang lebih banyak dipaparkan dalam novel ini ketimbang tokoh prianya. Sedikit banyak, novel ini yang seperti mengingatkan saya pada ciri khas perempuan feminis.

Secara tidak langsung membaca novel ini membuat saya dapat mengenal akrab, tak hanya seorang Alice, tapi seperti apa kehidupan imigran Kamboja dengan segala keetnisan dan budayanya itu harus tinggal di negeri seperti Melbourne Australia. Dan lebih dari itu, saya menikmati cara berpikir salah satu penulis mudah perempuan ini yang sedikit banyak tidak melepaskan unsur kritik sosial dan tradisi, yang melesat lebih maju daripada nilai-nilai lama ala keluarga asalnya.

Memang tidak mudah bertahan dalam bacaan yang jenis uraiannya panjang-panjang, namun ketika terus membacanya, saya justru banyak menemukan hal-hal yang dapat dipetik, seperti bahwa menjadi warga negara “dunia ketiga” memang cukup menantang. Novel ini dituturkan dalam bahasa yang runut dan meski beberapa kali menemukan hal yang mesti dibaca ulang karena saya tidak terlalu terbiasa membaca kalimat terjemahan yang rumit. Hal lain yang menarik adalah ketika sampai pada bab masa pacaran, Alice Pung menunjukkannya dengan deskripsi dan pembukaan yang tidak langsung sehingga pembaca dapat memahami dengan cara sendiri dan bebas memberikan penilaian.

Dari segala keistimewaan dan isi yang dapat ditemukan di novel ini, tak heran bila Dunia Alice terpilih sebagai Newcomer of The Year Award tahun 2007, kemudian masuk dalam kategori NSW Premier Literary Award dan Booksellers Choice Award.

Rangkaian kisah hidup yang terinspirsai kisah nyata penulis ini rasanya membuat saya beruntung telah membacanya.

sahabat

Hampir setiap hari, ibu-ibu lansia seusia Mbah Uti berkumpul di rumah, mereka ngobrol hingga berjam-jam, terkadang saling pijit atau minta dikerik kalau ada yang sakit. Mereka berbicara tentang banyak hal dengan blak-blakan dan kocak. Setiap hari, seperti yang kuceritakan di postingan dulu, rumah ini justru ramai karena komunitas kecil itu. Setiap hari terdengar tawa dan guyon. Rumah kecil simbah yang berdempetan dengan kamarku. Tapi lebih dari itu, persahabatan mereka membuatku sedikit iri. Mereka bahkan beberapa kali travelling bersama ke luar kota dengan dana pensiun masing-masing tanpa ditemani cucu atau anak-anak. Memang punya sahabat yang dapat ditemui kapan pun adalah berkah tersendiri, yang tak dimiliki semua orang. Teman-teman terdekat yang barangkali akan selalu di samping kita hingga pada waktunya kita akan pergi untuk selamanya.

Aku jadi ingat, ada yang mengatakan (saya lupa di situs mana) bahwa bila engkau sudah bersahabat dengan seseorang selama 7 tahun, ia akan menjadi sahabatmu selamanya. Betapa beruntungnya. Tapi tentu, setiap orang akan memilkinya dengan jumlah yang tak sama. Bahkan sedihnya, ada pula yang tak memilikinya sama sekali. Dan mungkin saja memang benar, kita hanya butuh beberapa gelintir sahabat sejati yang akan bersama kita selama hidup.

Terkadang aku bertanya, apakah itu sahabat sejati? Barangkali bukan mereka yang dipersatukan karena sama-sama punya gadget dan hobi belanja, bukan yang hanya punya niat nyari utangan dan kabur, bukan mereka yang ternyata hanya membawa “modus” tertentu, bukan sekadar karena sama-sama masih single dan galau, bukan juga mereka yang tiba-tiba pergi begitu kita menikah, tapi mereka yang memang benar-benar akan selalu ada dalam bahagia dan duka. Manusia takkan bisa bertahan dalam kondisi yang berubah-ubah seperti yang biasa kita alami. Bukankah terkadang kita mengalami hal indah dan kelam selama hidup? Bahkan ketika berbahagia pun kita butuh keluarga dan sahabat-sahabat untuk ikut tersenyum bersama.

Barangkali sahabat memang tidak ditemukan semudah kita menemukannya di serial Harry Potter, seperti halnya seorang kekasih, tapi ia bagian dari proses hubungan kita terhadap mereka yang kini masih bersedia berteman sekacau apa pun kondisi kita hari ini. Dan kurasa sahabat juga tentang siapa pun: teman main, teman senam, ibu atau ayah kita, teman nge-blog, pasangan kita, atau seekor kucing. Aku selalu tak pernah menyesali bila hubunganku dengan teman-temanku berkembang jadi sahabat abadi melalui berbagai proses itu. Dan anggaplah barangkali ini hanya tulisan yang didorong rasa sepi dan rindu memiliki teman-teman dekat yang selalu ada dalam hidup kita.

yang akan selalu menerima dan menyayangi kelak hingga kulit kita keriput dan beraroma minyak kayu putih.

Surat Ketujuhbelas: Kamar Loteng

Hai Isha’,

Barangkali sudah pernah kuceritakan dalam surat yang kukirim padamu, yang kuhanyutkan di aliran air, ketika hujan deras tiba. Aku pernah tinggal di sebuah istana kecil, tepatnya sebuah kamar di loteng, di mana aku merasa begitu nyaman dan begitu “aku” di sana. Sejak tahun 2010 akhir, aku harus pindahan karena ayahku membuatkan kamar baru di dekat kebun, yang mirip sebuah rumah kecil yang kutinggali hingga sekarang, yang mungkin sebentar lagi tidak.

Tapi entah bagaimana tiba-tiba malam ini rasanya aku rindu tidur di lotengku dulu. Maka bila rasanya percuma aku memaksakan diri untuk tidur, kupikir sebaiknya aku mengunjungi kamar itu.
Semua orang sudah tidur. Perlahan dan hati-hati kunaiki tangga kayu yang menuju ke sana. Tentu saja aku tak bisa kemonyet-monyetan lagi seperti dulu. Aku tiba-tiba teringat begitu cepatnya kuturuni anak tangga ini ketika terjadi gempa Jogja 2006 silam mirip seperti tentara sedang latihan perang. Aku takkan segesit itu lagi bila gempa seperti dulu datang malam ini.

Lama sekali kamar lotengku itu berubah jadi gudang kedua. Tapi seminggu yang lalu adik bungsuku menyulapnya kembali jadi ruang perpustakaan, tempat membaca, atau sejenisnya. Yang jelas memang benar settingan baru di tempat ini bisa menyelamatkan siapa pun dari penat. Atapnya yang berbentuk miring memang telah lama dilapisi tripleks di bagian dalam, mengikuti bentuknya. Kini, dilapisi kertas motif batik sehingga terasa berbeda. Bagian dinding kayu telah dicat ulang. Ada sebuah meja kecil dan sebuah rak yang baru diiisi buku-buku tua berbahasa Belanda, juga buku-buku adikku yang lain yang baru dipindah sebagian di sini. Ada karpet dan bantal juga kini lebih lengang karena hanya benda-benda itu yang ada di sana tapi lebih rapi dan tentu saja bersih, karpet ini bisa difungsikan untuk rebahan dan tidur. Jendela yang menghadap depan kini tidak lagi dibiarkan terbuka dan hanya ditutupi gorden transparan. Kini ditutupi papan tulis bekas dan hanya dibuka kala siang. Kamar ini memang telah berubah. Dari kamar, gudang, sekarang ruang belajar dan bersantai.

Teringat masa dulu, kamar lotengku ini berantakan. Ada sebuah kasur busa yang hanya dialasi karpet, 2 meja kecil, kardus-kardus berisi berkas kliping dan kertas penuh coretan, ada dua rak buku yang isinya tak karuan, sebab buku-buku dan kertas, juga benda-benda lain yang cenderung hanya hiasan berkumpul jadi satu dan jarang sekali ditata ulang. Belum lagi harus kuberi ruang untukku menggelar sajadah dan salat, juga ada kipas angin kecil yang selalu kupindah-pindah karena aku tak betah di ruang bersuhu panas. Ada kala setiap teman-temanku datang, mereka takjub, menyadari bahwa bukan hanya mickey mouse yang betah tinggal di loteng yang berbentuk antik begini.

Berada di sini memang membuatku terbang sejenak ke masa lalu, juga perjalanku menuju sekarang. Di kamar inilah aku menjatuhkan diriku di kasur dengan begitu bahagia karena pendadaranku berhasil dan dapat nilai A+. Di tempat ini aku mulai mengumpulkan coretan dan draft-draft tulisan yang sekarang entah di mana, mulai membaca buku-buku berat, dan di kamar ini dulu aku rajin menulis buku harian, kebiasaan yang pudar sejak aku pindah kamar. Di ruang ini pula sesekali aku melihat dunia luar lewat jendela. Sungguh aku begitu berdamai dengan dunia yang hanya diisi olehku sendirian. Di kamar ini tersimpan segala ingatan yang berbuku-buku rasanya bila dituliskan, sebab aku memang banyak berpikir dan begitu sering melamunkan banyak hal.

Aku merasa rindu dengan kamar ini dan rasanya malam ini aku ingin berada di sini, juga sendirian. Menunggu kantukku tiba, aku akan membaca salah satu novel yang pernah kubeli dan belum sempat kubaca. Novel yang judulnya begitu panjang “Surat Panjang tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya” yang kebetulan pernah memenangkan Sayembara Novel DKJ tahun 2012.

Demikianlah bila aku melarikan penat dan tak seorang pun dapat diajak bicara dan mengerti. Aku yakin, pada dinding-dinding kamar loteng ini, segala masalah dan gajalan akan selesai dengan sendirinya, seperti yang sudah-sudah.

Jendela

Jendela melengkapi satu kelemahan manusia. Jendela adalah mata yang bisa melihat ke luar dan ke dalam sekaligus. Pada saat bersamaan, ketika melihat jauh ke luar jendela, kita melihat jauh ke dalam diri kita.
—Aan Mansyur

Ketika kusadar bahwa jendela adalah benda terdekat dari keseharianku

Resensi Novel Tip of Bones

Tip of Bones

Tip of Bones

Judul: Tip of Bones, A Strange Night After The Date
Penulis: Jacob Julian
Penerbit: De Teens
Cetakan: Pertama, Oktober 2014
Editor: Nonov
ISBN: 978-602-255-579-7

Dua orang remaja bernama Neil dan Beatrix tengah berkencan di sebuah taman pada malam hari. Di tengah jalan mereka melihat keanehan, sebuah rumah terbakar lalu padam seketika dengan cara yang tak wajar. Tak lama kemudian Beatrick tiba-tiba hilang dibawa pergi sebuah bayangan. Neil terkejut dan kebingungan. Sebisa mungkin ia harus menemukan kembali pacarnya yang hilang. Sementara kota terlihat kacau dengan datangnya makhluk-makhluk yang berbentuk menyeramkan. Demikian cerita ini bermula.

Neil mengalami perjalanan yang panjang dan membingungkan. Ia bertemu dengan dua makhluk berwujud merpati dan anjing ras husky berkelahi satu sama lain ketika ia menerobos rumah aneh yang terbakar tadi untuk mencari kekasihnya. Merpati dan anjing itu jelmaan dua sosok berfisik manusia. Mereka adalah dua makhuk penjaga dunia bawah dan atas. Seaman adalah penjaga dunia atas sedangkan Syamalan penjaga dunia bawah. Neil mengejar mereka dan mencari tahu hingga menemukan bahwa bumi tengah menuju kehancuran karena kecerobohan Seaman dan Syamalan.

Lalu datang sosok lain menolong Neil ketika akan ditangkap oleh salah satu makhluk buas. Sosok itu berwujud pak tua yang berpenampilan seperti gelandangan yang menunggangi seekor kerbau. Pak Tua yang misterius itu mengatakan pada Neil bahwa hanya ada satu cara untuk mengakhiri kekacauan itu dan menemukan kekasihnya, yaitu dengan menemukan sebuah tulang.

Demi mencari tulang yang masih misterius itu, Neil, Seaman dan Syamalan harus menghadapi makhluk jahat bernama Amon, makhluk yang selama ini menjelama Wali Kota Chuck yang dicurigai menyimpan benda itu. Namun ternyata bukan Amon yang membawanya.

Barangkali cukup sulit memahami cerita yang bagian pendahuluannya terlalu cepat sebelum sampai bagian konflik. Sebetulanya saya kurang bisa menikmati teknik bercerita yang semacam ini, kecuali bila sebelumnya sudah ada novel yang mendahului, semacam novel serial yang setiap serinya memiliki kaitan.

Membaca novel ini saya harus berusaha akrab dengan tokoh-tokohnya, meski belum menemukan greget hingga setengah lebih bagian novel. Terkadang muncul pertanyaan, mengapa segala kekacauan yang mirip kiamat itu seolah harus terhenti karena seorang manusia bernama Neil? Mengapa Beatrix begitu berharga untuk diselamatkan oleh dua penjaga dunia atas dan bawah? Mengapa tokoh seperti Neil dan Beatrix yang tak terlalu memiliki keistimewaan dibanding penduduk lain memiliki peran penting menyangkut masa depan bumi?

Dilihat dari karakter tokoh-tokohnya, Neil digambarkan memiliki karakter kuat seperti kepedulian, kasih sayang, dan kegigihan. Terbukti ia memiliki keberanian untuk menemukan kekasihnya bahkan dengan cara menghadapi makhluk jahat meski tanpa keahlian apa pun. Barangkali sifat itu yang mengesankan para makhluk aneh di novel ini. Namun di samping itu, ia juga remaja biasa yang labil, sedikit ceroboh, dan cenderung keras kepala. Sementara Beatrix hanya muncul di awal dan akhir sehingga kurang terjelaskan karakternya dengan lengkap. Sedangkan karakter Seaman dan Syamalan menurut saya lebih menggambarkan sisi manusiawi ketimbang makhluk di luar manusia, seperti sifat ceroboh, pemarah, ataupun belas kasihan.

Namun setidaknya dalam bab selanjutnya penulis telah berusaha menjelaskan point-point yang membuat ia dipertimbangkan sehingga menjadi makhluk yang istimewa dengan ending yang tidak terlalu buruk. Ceritanya bahkan diakhiri dengan obrolan menarik antara Neil dan Pria Tua yang misterius tersebut tentang peristiwa yang tengah terjadi berhubungan dengan ide-ide penciptaan.

Unsur setting penting dalam bangunan cerita untuk menguatkan pemahaman dan imajinasi pembaca. Perihal setting, menurut saya deskripsi lokasi dan suasannya sudah cukup bagus dan detail. Namun akan lebih baik bila dilengkapi dengan nama kota/negara meskipun tidak ditemukan dalam peta. Saya sendiri masih bertanya-tanya, suasana yang seperti digambarkan dalam novel Tip Of Bones terinspirasi dari negara/kota mana.

Perihal teknik seperti layout dengan corak dan gambar di halaman-halaman tertentu menurut saya menarik sehingga pembaca tidak bosan. Begitu juga dengan cover sudah cukup sesuai namun mungkin sedikit kurang mencerminkan isi novel yang cenderung bertema petualangan ketimbang horor. Hanya ada sedikit terkait kebahasaan yang sepertinya perlu diperbaiki lagi, seperti kata “memperhatikan” seharusnya memerhatikan, “supir” semestinya sopir, “berhembus” yang benar adalah berembus, dan sebagainya.

Bagaimanapun novel ini cocok dibaca mereka yang menyukai genre fiksi fantasi.

Resensi Novel Erau Kota Raja

23657332

Judul: ERAU, Kota Raja
Penulis: Endik Koeswoyo
Penerbit: PING!!!
Jumlah halaman: 203
Tahun terbit: 2015
ISBN: 978-602-296-056-0

Kapal yang berlabuh akan selalu kembali ke dermaga untuk berlabuh. Begitu juga dengan cinta yang selalu tahu ke mana dia harus pulang (halaman 117).

Kirana pun akhirnya menyerah dan memutuskan untuk tidak lagi bersama Doni yang telah bersamanya selama 4 tahun. Sekian lama ia menunggu dan berkali-kali menanyakan kepastian, namun Doni masih selalu ragu berkomitmen. Ia tak juga terlihat ingin membawa hubungan mereka ke arah pernikahan. Terlebih Kirana telah berusia 26 tahun, yang bagi wanita itu bukan lagi usia muda. Sementara ia terus berjuang mengatasi patah hatinya sendiri, Pak Joko bosnya yang sebenarnya tahu situasi hubungan Kirana, malah menugaskannya ke Kalimantan Timur untuk meliput upacara adat terpenting di daerah itu. Dengan masih menyimpan galau, ia pun tetap berangkat ke Kalimantan Timur. Tempat yang tak pernah terbanyangkan akan dikunjunginya.

Perjalanan Kirana memang tidak terlalu lancar. Sampai di sana ia menemukan berbagai kendala. Hotel-hotel dan penuh menjelang festival. Belum lagi transportasi sulit didapat. Padahal ia tidak familiar dengan daerah Kutai dan sekitarnya. Ia juga mesti berhadapan dengan Ridho yang sok kenal dan agak menyebalkan begitu datang di area souvenir. Namun untunglah ia bertemu dengan Pak Camat yang menolongnya menyediakan tempat tinggal di rumahnya, selain itu, ia juga bertemu dengan Reza. Kirana tak lantas akrab dengan Reza, namun pada akhirnya, Reza banyak membantu liputannya. Melalui perkenalannya itu, sedikit banyak kepribadian Reza yang unik mampu membuat Kirana kagum.

Tugas meliput Erau mampu sejenak mengalihkannya dari patah hati. Ia merasa beruntung berkesempatan melihat kebudayaan yang begitu kaya di Kaltim. Terlebih selama di sana, Kirana tinggal dengan Pak Camat dan istrinya yang ramah dan begitu perhatian seperti keluarganya sendiri. Liputannya pun terbantu karena ada Reza yang mau mengantarnya ke mana-mana dan hafal dengan perihal kebudayaan dan festival Erau. Kirana yang baru saja menjomblo dan tiba-tiba kagum dengan sosok Reza yang penuh kejutan, begitu pula dengan Reza yang tak pernah melihat gadis seperti Kirana sebelumnya tentu dapat memunculkan benih perasaan di antara keduanya.

Namun kedekatan mereka diiringi berbagai kendala. Kirana harus menghadapi Bu Tati, ibunda Reza yang protektif dan menganggapnya adalah pengganggu masa depan Reza. Bu Tati tiba-tiba merasa tak suka dengan Kirana sebab ia memiliki calon istri pilihan yang lebih pantas mendampingi Reza.
Masalahnya Reza terlanjut jatuh cinta dengan Kirana, pun juga gadis itu. Meski demikian mereka masing-masing menyadari kenyataan yang terjadi ketimbang mengutamakan keinginan pribadi. Kirana yang gesit, mandiri, dan berprinsip itu memahami situasi yang terjadi. Ia menjadi pembuka jalan untuk Reza dan ibunya berdamai hingga keinginan keduanya terjembatani. Meski tidak mudah dijalani baik Kirana maupun Reza.

Saya barangkali terkesan dengan sifat Alia yang teguh dan penyabar. Barangkali perempuan seperti Kirana dapat menyerah begitu saja ketika penantiannya tak kunjung menemukan jawab, sementara Alia mampu bertahan menunggu sekian lama meski Reza tak juga membuka hati untuknya. Saya tak terlalu suka dengan karakter Doni yang tak bernyali untuk serius menikahi Kirana, meski demikian akhirnya ia pun mendapat konsekuensi logis, yaitu kehilangan kepercayaan Kirana. Sedangkan tokoh Reza, di balik sifat keras kepala dan cueknya, tetap memiliki karakter positif, yaitu memiliki kepedulian dengan masyarakat di daerahnya dan keukeuh mempertahankan pilihan hidupnya, hingga pada akhirnya mampu membuktikan bahwa dirinya memang ingin berbakti pada sang ibu.

Erau, Kota Raja merupakan versi novel yang sebelumnya diadaptasi dari film yang judulnya sama. Terlihat dari pemilihan gambar di covernya yang diambil dari tokoh-tokoh filmnya. Meski setting yang diambil dari novel ini adalah Kalimantan Timur dengan festival Erau-nya yang megah dan meriah itu, tema besar ini lebih pada seputar permasalahan yang dialami oleh umumnya perempuan usia 26 tahun. Terutama tentang apakah itu jodoh, bila jodoh itu ada siapakah ia. Selain itu, melalui cerita hidup Reza dan Kirana, novel ini juga sedikit mengingatkan pada kita apakah pekerjaan yang dijalani selama ini sudah sesuai dengan hati.

Kita akan mengikuti cara khas Kirana yang cukup bijak ketika menyelesaikan permasalahannya, Reza, hingga ibunya. Pun ketika akhirnya memutuskan langkah hidupnya selanjutnya. Juga akhir yang menarik tentang rahasia jodoh yang selalu ia pertanyakan.

Namun sayang, interaksi dan dialog antara Kirana dan Reza agak kurang menggigit. Saya sendiri tak terlalu terhanyut suasana yang mestinya terbangun romantis karena barangkali selain pertemuan mereka singkat, obrolan terkesan datar. Proses move on Kirana juga terkesan cepat untuk pasca berakhirnya hubungan yang telah 4 tahunan dijalani. Untungnya interaksi dengan tokoh lain cukup menarik untuk diikuti, terlebih ketika Kirana harus menghadapi Ibu Tati yang semula membencinya dan Alia yang cemburu dengannya.

Melalui novel ini, kita sedikit banyak membaca perjalanan Kirana yang dapat menjadikan pelajaran hidup bagi pembaca, juga memberikan motivasi untuk tetap berusaha bangkit dari masalah. Novel yang memiliki 204 halaman ini dituliskan dengan gaya bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti. Sisi menarik novel ini juga terletak pada penggambaran suasana yang membuat kita seolah ikut jalan-jalan menonton keriuhan festival Erau. Selain itu, plot dan penyelesaian konflik tidak terkesan berlebihan.

Novel ini reccomended untuk ditambahkan di daftar koleksi.

Surat Keenambelas: Sore

untuk diriku sendiri,

Tak ada sore yang secerah ini sebelumnya. Melihat udara begitu hangat dan cahaya menelusup hingga di bawah kaki meja, membuatku sadar, bahwa matahari memang masih selalu bersinar tanpa pilih kasih. Seperti kasih sayang-Nya yang tak memihak. Tapi sore tetaplah sore. Ia mampir sebentar di ruang tamu kita untuk bergegas berganti senja, kemudian malam.

Tapi setidaknya Minggu ini begitu longgar rasanya. Akan kuhabiskan sore ini dengan mencicil pekerjaan sambil ngemil cokelat dan minum segelas air hangat. Sudah lama pula tak membaca buku-buku, hingga rasanya dunia seakan menyempit. Aku butuh membaca, aku juga akan selalu butuh menulis….

Surat Keempatbelas: Harapan

Untuk Isha.

Menyambung suratku yang kemarin.

Barangkali sejak ada istilah kakak juga merupakan orang tua kedua bagi adik-adiknya, sejak itu aku menyadari sedikit banyak rasanya menjadi orang tua. Sejak itu ada sifat pengatur dan posesif ketika dihadapkan oleh kebandelan adik-adik atau ketika mereka tengah akan membuat keputusan hidup. Tapi rupanya benar, sebagai orang tua cadangan itulah, seorang kakak tak bisa memiliki hidup yang santai.

Terlebih ketika menghadapi adik bungsuku laki-laki yang sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja saat ini. Adik kecil yang bahkan masih kuhafal cara berlari dan tertawanya ketika masih balita. Kini ia sudah dewasa dan mahasiswa, badannya lebih besar dan tinggi dibanding aku. Tapi saat ini, aku hanya bisa berdoa dan memohon pertolongan pada Allah untuk segera memulihkannya. Mengembalikannya seperti dulu… Aku rindu ceria dan aksennya yang kadangkala cuek. Aku rindu mengkopi film-film animasi Jepang miliknya dan membicarakan cerita lucu di dalamnya di kala senggang sambi tertawa. Aku rindu omelannya ketika aku goda atau kusembunyikan barang miliknya. Aku juga masih ingat dia selalu usil membawakanku cicak mati di tangannya sampai aku jadi jejeritan nggak jelas. Kini rasanya jarak aku dengannya seperti begitu tak terjangkau dan entah sampai kapan. Aku hanya bisa menangis diam-diam dalam kamar ketika sendirian karena tak mungkin aku seperti itu di depan kedua bapak ibu yang belakangan juga sedih dan bingung. Memang terkadang seorang kakak sulung adalah pembohong yang ulung. Ia bahkan bisa pura-pura tegar di hadapan semua orang. Padahal hancur.
Rasanya sekarang aku mesti mempercayai harapan.
(Oh Tuhan… semoga janin dalam perutku tak protes karena emaknya tengah kacau belakangan ini.)

Sekian suratku ini, Is.
Semoga saja surat berikutnya adalah tentang kabar yang bahagia.

Surat Ketigabelas: Penyakit

Dear Isha,

Malam ini setelah menjerang air dan membuat wedang jahe, akhirnya kuputuskan untuk menulis sesuatu. Sudah lama aku tak menulis surat untukmu. Surat untukmu selalu membuatku merasa bercerita tentang sebagian uneg-uneg dengan buku harian. Sebagian kepenatan.

Kau tahu belakangan aku menulis beberapa surat dalam rangka ikut event 30 hari menulis surat cinta. Tapi entahlah. kurasa aku tak lagi peduli deadline atau aturan yang dibuat di web itu. Aku tetap akan mencoba menuis 30 surat di bulan ini dan tak harus selalu bertema cinta atau sesuai kriteria, karena rasanya akan konyol. Aku ingin lebih jujur dengan tanpa melabelkan istiah “cinta” untuk setiap suratku atau menulis sesuatu yang memang tak aku inginkan.

Toh memang tak selalu keinginan menulis itu datang setiap hari akhir-akhir ini, tak lagi seperti dulu ketika beban hidup tidak sebanyak keasyikan untuk membuat tulisan. Kini mungkin saja kondisinya sedang terbalik. Hanya malam-malam seperti ini, tiba-tiba saja aku ingin mengobrolkan banyak hal. Kurasa benar, setiap orang selalu butuh teman bicara, sekalipun ia hanyalah teman imajinasi. Sepertimu, Is. Teman yang mungkin dapat mengerti dan selalu menyimak hal-hal yang tak bisa gamblang kuceritakan.

Baiklah barangkali di surat ini aku hanya seperti berputar-putar dan bicara hal yang tidak jelas, tapi aku lega. Aku hanya ingin mengatakan bahwa, makhluk dalam perutku telah membuatku membenci sangat penyakit-penyakit yang belakangan menengokku; flu, sariawan, radang tenggorokan, dan batuk parah, dan sejak penyakit itu datang, aku tak belum berkesempatan pergi ke dokter atau menentukan obat yang tepat. Padahal katanya, bumil itu nggak boleh sampai ngedrop, kurus, apalagi penyakitkan. Meskipun seperti sebelum-sebelumnya, belum tentu aku akan patuh pada obat-obat resep dokter karena lagi-lagi mengkhawatirkan buah hatiku. Di luar sana banyak kasus mapraktik bukan? Aku bakan beberapa kali ketemu dokter yang salah. Barangkali benar, ‘(insya Allah) punya anak’ adalah hal yang ajaib bagi seorang perempuan, karena tidak pernah sebelumnya ia begitu mengkhawatirkan banyak hal, mencintai sesuatu dengan aneh, atau menakutkan masa depan, seperti yang terjadi padaku. Aku bahkan rela bila sakit ini hanya kualami sendiri, jangan calon anakku.

Ishak, andai saja aku bisa lekas tidur malam ini dan bermimpi indah. Tapi dalam malam yang sunyi dan baru saja diguyur gerimis seperti ini, aku memang hanya mampu mengisinya dengan doa. Tak hanya itu, aku juga ingin bercerita bahwa hari ini adalah hari yang cukup berat untuk perempuan yang lagi rentan virus dan penyakitan. Doakan segalanya berjalan lancar dan aku cepat sembuh ya….

-temanmu