Surat untuk Ar

img_20180911_101630.jpg

 

Hai, Ar.

Bagaimana Romadan hari keduamu?

Apa kau masih bersemangat? Apakah ada sesuatu yang membuat hatimu tergerak ke arah sesuatu, mungkin semacam kesadaran? Mungkin hal yang lebih bagus lagi, kesalehan? Ya ampun, mengapa kamu malah tertawa?
Iya, dari wajahmu, aku tahu kau mengalami banyak hal belakangan ini. Beberapa membuatmu bersemangat, kau bisa menjalankan puasa setelah beberapa tahun vakum karena anak-anakmu masih butuh ASI. Dan hari ini kau bersemangat bisa menjalankannya sembari momong. Momong (maksduku, menjadi full time mom) di Indonesia adalah proses yang sulit diceritakan. Di samping kamu sepanjang hidup belajar menjadi ibu yang baik, kamu juga mesti mengalami berbagai “gangguan” yang datang dari luar, seperti nyiyiran dan hal-hal lain yang sesungguhnya tak memberikan kontribusi apa-apa. Kamu sering kali tak selamat dari nyiyiran orang yang sebetulnya tak benar-benar tahu hidupmu. Sementara cuma Tuhan yang tahu segala usaha terbaikmu. Kamu benar itu membuatmu bertambah dewasa. Aku tahu, kita hidup di dalam masyarakat yang gimana ya mengibaratkannya…, semacam “jenis masyarakat yang lebih cerewet mengurusi ibadah orang lain, sedangkan keluarganya sendiri tak beribadah.” Untunglah, kamu cenderung cuek.

Tetapi kau tak bisa membohongi semua orang termasuk aku, kau tengah berusaha untuk selalu bangkit, sebab semakin hari kamu semakin sering kehilangan ketertarikan terhadap hal-hal yang semula membuatmu percaya. Memang sedih mengetahui kamu tengah kehilangan rasa percaya. Apakah itu iman?

Ada apa denganmu akhir-akhir ini?
Tanaman-tenaman depan rumahmu mengering. Rumput-rumput liar di sekitar tanaman daun mint beranak pinak. Bahkan bibit binahong dari ibumu kemarin habis dimakan ayam-ayam tetangga, tidak jadi tumbuh menjadi rimbun seperti yang pernah dibicarakan ibuk kepadamu. Kau tak tahu hal itu?

Rasanya aku tak mengerti. Memang aku tahu ada masa-masa seperti hari ini yang kerap kau lewati dalam diam.
Kau memang sempat mengalami di mana hubunganmu dengan Tuhan tidak terlalu baik. Kau malas salat, kau tak menyimak satu pun kajian keagamaan di televisi atau di media sosial. Memang kamu tak perlu datang ke pengajian karena siapa yang akan menjaga anak-anakmu di rumah? Beberapa waktu lalu ketika kamu datang dengan salah satunya pun, kamu bukannya menyimak materi, tetapi malah sibuk mengawasi anakmu yang lebih tertarik main di jalan dan memanjat gerbang.

Apakah kau sedang terlalu lelah? Aku heran, karena biasanya kau bisa bangkit sendiri dari gelapnya rasa lelah tanpa bantuan.

Tapi ada sisi di mana kamu berusaha tetap tegak berdiri karena dua anakmu membutuhkanmu. Dan kamu harus senantiasa memakai berbagai topeng supaya tidak terlihat lelah atau tengah marah dengan sesuatu. Kamu ini kuat, percayalah padaku.
Kamu juga tak sendirian, ada jutaan ibu sepertimu di luar sana, meskipun tak saling mengenal, mereka tak beda jauh darimu.
Kau tak membayangkan sebelumnya ini akan terjadi, tapi ternyata terjadi. Kamu memang harus menerima dan butuh waktu untuk itu. Dan kehidupan tetap berjalan.

Sudahlah, mari kita bicara hal-hal yang lain saja. Omong-omong… masih bisa fokuskah kamu dengan pekerjaan-pekerjaan baru yang datang belakangan ini? Menarik bukan, karena mereka sesuai dengan bidangmu. Masih bersemangatkah dirimu memegang cita-cita? Masihkah kamu nyaman menjadi diri sendiri?
Atau malah mengalami sesuatu yang berkebalikan, seperti ingin melepaskan semuanya dan pergi jauh? Kuharap itu tak pernah terjadi. Tolong jalanilah sebab kamu bisa, Ar. Ada orang-orang seperti keluargamu yang bahkan selalu ada untukmu. Maka demi mereka, orang-orang yang butuh kamu bahagia, bekerjalah dengan gembira.

Sesungguhnya, jauh dari kesibukan yang kini kau jalani, di dalam lubuk perasaanmu, kulihat kamu amatlah kesepian, Ar. Aku paham soal itu. Barangkali kau sedang kembali mengalami reading slump? Oh, jangan. Jangan pernah meninggalkan kebasaan itu, Ar. Setiap kau membaca buku, kau dapat hidup dengan normal. Maksudku, kau tidak akan jadi makhluk aneh yang suka bengong dan bingung di tengah malam atau pagi buta. Membaca membuatmu memiliki teman ngobrol yang mampu mengisi kekosongan jiwamu bukan? Kau takkan merasa sendirian. Tapi bagaimana sih kamu ini, belakangan bahkan kamu hanya membaca buku dan melupakannya? Kadang membaca beberapa halaman, sebagian halaman, tanpa ingin tahu kelanjutannya… bahkan tanpa menuliskan sesuatu yang mungkin bisa kau bagi di media sosial spaya orang tertarik pula membacanya. Bukunya Matt Haig yang kemarin hari kau baca? Bukankah kontennya menarik? Kamu juga sempat membaca karya Mira W. tentang penderita bipolar yang menurutmu perlu dibaca semua orang, kamu juga sempat membaca beberapa esai di buku Catatan Pinggir-nya Goenawan Muhamad yang mampu mengisi insomniamu.

Ke mana kebiasaan menulismu? Ada apa dengan hobi membacamu?
Jangan lupa menulis sesuatu setiap kali kamu merasa tak mengerti dengan dirimu sendiri, Ar. Itu penting supaya kamu tidak lekas meledak.

Kau boleh kehilangan rasa percaya pada keindahan di dunia, tapi jangan menyerah untuk mencari cahaya meski hanya dari seberkas lilin.

Mungkin saat ini, kamu merasa kegelapan pantas untukmu, tapi tidak untukku. Aku juga membutuhkanmu. Bagaimana jadinya aku tanpa dirimu yang tersenyum utuh?

 

 

-Dari seseorang di cermin kamarmu-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s