Surat Keduabelas: Belajar dari Pabrik Susu di Arab Saudi

Dear A,

Hari Minggu adalah waktu untuk iseng belajar hal-hal beda.
Melalui surat ini, aku ingin bercerita tentang negeri tetangga. Tidak lama, aku menemukan link ini di Youtube. Dan aku berharap kami, warga yang merasa SDA-nya melimpah ini, sempat melihat dan merenungkannya.

Kita tahu bahwa di Almarai, Arab Saudi memiliki iklim yang tidak sebaik Indonesia. Cuacanya panas kering dan rawan badai pasir. Gilanya ada pabrik susu cukup besar yang dibangun di padang pasir. Masyarakat dan pemerintahnya kompak untuk menghidupi sendiri warganya secara berdikari. Mereka yang bekerja di pabrik adalah orang-orang yang terampil. Mereka melakukan segala upaya untuk tetap bisa memproduksi susu segar dan olahannya bahkan dengan cara-cara yang canggih dan sangat menyenangkan bagi para sapi itu sendiri. Yah, bahkan proses memeras puting susu dengan alat modern yang membuat sapi-sapinya tidak stres. Di samping memperoleh bahan dengan optimal, mereka juga tak lupa memperlakukan sapi-sapi dengan layak, mengelompokkan yang akan melahirkan dengan setting seperti di alam hingga memastikan seluruh makanannnya berkualitas. Hasilnya, 100.000 liter susu murni yang aman diminum untuk anak-anak hingga lansia berhasil diproduksi dan dipasarkan tiap jam dengan harga yang tentunya terjangkau oleh setiap warga. Tak hanya itu, mereka juga mengolah sendiri produk lainnya yang berasal dari susu, dari yogurt hingga keju.

Melihat video ini, aku jadi merasa bahwa kami, orang Indonesia yang selalu terlena dengan SDA-nya, mestinya belajar dari ini. Memang pabrik susu di Almarai hanya salah satu dari sekian hal yang perlu dikunjungi ramai-ramai ketika kita ingin mengintip perekonomian negera lain. Selama ini kami seperti merasa memiliki alam yang sangat kaya, sayang si bahan alam tadi tidak dapat membangun pabrik pangan sendiri untuk kita semua. Aku percaya bahwa keberhasilan bangsa ditentukan oleh bagaiaman SDM-nya. Seperti halnya keberhasilan hubungan ditentukan oleh orang-orang yang menjalaninya (eh.. ). Persetan dengan tongkat ditanam pun jadi tanaman di Indonesia. Kalau tidak ada yang menanam tongkat, tanah subur di Indonesia cuma bisa jadi mall dan perumahan elit dihuni penduduk yang jarang di rumah, dengan menggeser yang marginal ke pinggir sungai dan wilayah kumuh lainnya.

Bayangkan bila Indonesia yang cuacanya tropis, memiliki hutan, tanaman, rumput yang melimpah, serta lahan yang luas ini, mampu membuat pabrik olahan susu sapi sendiri tanpa import, seberapa banyak anak Indonesia yang selamat dari gizi buruk dan sakit-sakitan?

Sayangnya, aku hanya bisa bertanya pada rumput yang bergoyang.

Salam A.
Menunggu cerita tentang negerimu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s