Surat Pertama

Dear Hujan,

Kata orang bulan Februari adalah bulan kasih sayang. Mungkin karena di dalamnya ada satu tanggal yang biasa orang-orang merayakannya sebagai hari kasih sayang. Tapi sesungguhnya kasih sayang tak memerlukan perayaan bila setiap hari orang menjadikannya ada dan terus membuatnya berdenyut. Bukankah begitu?

Aku jadi ingat zaman SMP dan SMA dulu, bulan Februari akan menjadi hari resah sekaligus bergairah bagi sebagian besar teman-temanku. Kemeriahannya sungguh melebihi bulan Romadhon. Mereka bakal memiliki hajatan penting. Ramai-ramai mereka akan sibuk menyiapkan kado atau kartu ucapan. Entah itu untuk pacar, idola, atau sahabat. Tanggal 14 seolah hari pembuktian seberapa penting diri mereka di hadapan pacar, gebetan, atau sahabat. Sebagian yang lain tak peduli. Termasuk diriku.

Padahal kasih sayang semestinya tidak dipersempit dengan sekadar berkirim bunga, cokelat, atau ucapan romantis. Tidakkah kehidupan telah mencatat begitu banyak bentuk kasih? Tidakkah seorang ibu yang menjaga anak-anaknya sepanjang hari tidak disebut pula sebagai bentuk kasih sayang? Atau apakah seorang ayah yang berangkat sangat pagi dan pulang larut malam demi membelikan si kecil sepeda, bukan bentuk kasih sayang?

Kasih sayang terdengar terlalu univesal untuk disingkat ke dalam satu hari perayaan. Setiap perayaan toh selalu bermakna kasih sayang. Menurutku lebih tepat barangkali disebut bulan berkah bagi pemilik toko bunga dan cokelat. Mereka akan kebanjiran pesanan. Tak ketinggalan pula mereka yang mungkin tengah riang di bulan ini: para pemilik restoran, bioskop, kafe, souvenir, penjual boneka, penjual pulsa, dan banyak lagi. 

Baiklah lebih tepatnya lagi mungkin bisa disebut hari pacaran bagi remaja atau mereka yang masih berjiwa belia. Pasalnya tatkala kau sudah dewasa dan banyak tanggung jawab yang perlu diselesaikan, kau tak akan sempat berpikir tentang hari itu. Engkau mungkin akan meragukan arti kasih sayang yang sering kau dengar tatkala kekasihmu tak kunjung melamar. Barangkali kau lebih berdebar dengan karier yang tak sadar telah jauh melesat sekaligus membuat jam terbangmu lebih tinggi di negeri perantauan hingga lebaran atau natal jadi hari paling dirindukan. Atau kau mungkin hanya peduli tentang kebutuhan hidup sehari-hari keluargamu, atau sudah sibuk dengan urusan sekolah anak-anakmu. Barangkali ada pula yang baru saja memiliki bayi hingga memiliki kebahagiaan dan kesibukan baru yang sulit dijelaskan. Di ibukota, aku kok malah yakin orang-orang lebih memikirkan pilgub ketimbang valentine di Februari tahun ini.

Februari tidak selalu berati bulan pink bagiku. Terlebih karena ayahku, superhero keluarga kami, yang nggak pernah kami sangka bakal sakit, tiba-tiba mesti opname. Entah bagaimana ayahku yang pekerja keras dan humoris itu, tatkaka jatuh sakit, rumah bagai didatangi mendung. Maka awal bulan ini adalah tentang hari-hari sendu penuh doa. Sendu karena pikiran dan hatiku seperti terbelah antara rumah dan rumah sakit, dan tak bisa kuceritakan bagaimana itu, pada siapa pun. Bila kau anak perempuan, kau akan tahu apa itu artinya seorang ayah dalam hidupmu. Kuharap mendung ini akan segera bertemu cahayanya… (lekas sembuh ya, Pak, Satya pun kangen diajak ngasih makan ikan di kolam pagi-pagi)

Tapi omong-omong ini memang bulan Februari. Bulan ini si kecil juga dijadwalkan imunisasi. Bulan ini pula suamiku berulang tahun yang ke-31. Dan aku juga tengah mencoba ikut program pos cinta untuk membuat 7 hari menulis surat. Seperti yang sudah kumulai hari ini. Surat pertama ini untukmu, Hujan, yang selalu jadi teman berceritaku.

#PosCintaTribu7e #7harimenulissuratcinta #suratpertama 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s