Surat Kedelapan: Perihal Ngambang

:untuk sobatku Pit

Sudah lama kita tidak mbolang lagi ke bukit-bukit atau pantai sambi lewat jalan yang hanya dilalui kambing. Rasanya hari-hari telah memisahkan kita yang sebetulnya hanya berjarak 45 menit perjalanan motor. Meski kita berdua akhirnya hanya bisa saling curhat via SMS atau telepon, aku ingin lagi bercerita panjang lebar. Namun kali ini aku ingin menulis surat untukmu. Terutama tentang kamu kali ini.

Belakangan kamu menggelisahkan hal-hal berkait masa depan. Sering kali mengeluhkan priamu yang sering mengambang, atau seseorang lain yang begitu serius ingin bersamamu namun tak menggapai hatimu. Perihal ngambang memang kerap bikin goyah dan kerap mengganggu kewarasan. Namun kamu tahu, aku bukan lagi tipikal sobat yang ceriwis menggunakan kata “nyusullah” sebagai untuk pilihan-pilihan hidup yang privat seperti menikah. Aku sadar itu istilah yang terdengar jahat. Terlebih perempuan zaman sekarang itu umumnya ‘mbulet’. Tak jarang pula dihadapkan oleh pilihan yang membingungkan. Menjalani perihal yang rasional tapi nggak terlalu sesuai hati, atau tetap pada jalur yang diinginkan yang sudah tahu bakal nggak sampai-sampai. Ah, kau tahu sendiri maksudku.

Tapi kamu tahu aku selalu mendukungmu apa pun pilihan hidupmu. Bila kamu yakin itu jalanmu, aku akan mendukung, bila tidak aku juga akan dukung. Hanya saja aku akan selalu ikut sedih ketika kamu menyedihkan hal-hal jauh yang belum juga sampai itu. Seperti belakangan ini. Kuatlah Pit. Berpijaklah.
Katakanlah pernikahan memang jalan hidup yang harus dijalani perempuan Indonesia dengan waktu dan kondisi yang berbeda-beda. Tapi segalanya mesti dihadapi dengan kesiapan, terutama hati dan mental. Ada banyak perempuan zaman kita yang tak siap memasuki institusi itu karena berbagai hal, termasuk trauma yang sering mereka simak di televisi atau koran, atau memang karena kurang yakin dengan konsep pernikahan. Aku paham dengan itu. Akan sangat panjang bila kujelaskan dalam surat ini. Lain waktu kamu mesti baca bukunya Elizabeth Gilbert sekadar tahu gambaran pernikahan di barat sana, dan bedanya dengan di sini. Hidup di negeri ini memang tidak mudah bagi perempuan.

Melalui surat ini kuminta padamu, rajinlah kuliah dan baca buku. Berkesempatan masuk S2 itu berkah yang aku saja belum pernah tahu kapan giliranku. Syukuri saja kesendirianmu sekarang, karena bila kamu sudah menikah, kamu takkan bisa lagi keluyuran dan bangun siang. Walaupun kutahu, memang belakangan kamu mesti banyak tutup telinga dan mata untuk orang-orang di sekitarmu yang gatal menanyakan usia ataupun yang memajang foto-foto pernikahan dan bayinya di akun jejaring sosial. Aku tahu kamu selalu merasa depresi dengan fenomena itu meski sebetulanya kamu mencintai anak-anak kecil. Kita bahkan sering ngobrol tentang konsep pendidikan modern untuk anak-anak yang jarang diterapkan masyarakat di sekitar rumah kita. Kamu bahkan masih konsisten mengajar di ilmu yang kamu geluti.

Akan ada saatnya kamu sampai pada doamu yang satu itu, Pit, menjadi istri yang berbakti dan ibu yang baik untuk anak-anakmu. Dan semoga itu memang pilihan sejati hidupmu. Kudoakan selalu yang terbaik deh.
Sekian surat dariku, jaga kesehatan supaya maagmu tidak kambuh lagi ya. Jangan lupa juga nonton Warkop DKI 🙂

Sobatmu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s