Surat Kedua

tentang masa-masa kecil indah yang berlalu begitu saja, seperti baru kemarin ditinggalkan

Di manakah kau merasa pulang, Teman?

Seperti halnya engkau, terkadang aku merasa pulang ke masa lalu. Yang kumaksud adalah masa kecilku. Ketika aku masih bayi, aku dan kedua orang tuaku tinggal di sebah desa kecil di sebelah barat Yogyakarta. Namanya Gamping. Dinamkan Gamping mungkin karena sebagian besar tanahnya ditemukan unsur kapur, dan masyarakatnya menggali gamping/batu kapur sebagai mata pecaharian. Orang-orang juga masih mengadakan Upacara Bekakak untuk memberikan sesaji pada pegunungan gamping. Aku mengingat masa kecilku yang indah di sana. Begitu sering aku mencari bunga-bunga liar yang indah, menangkap kupu-kupu dan menerbangkannya lagi, juga mengikuti arah capung-capung terbang. Aku begitu ingat betapa hangatnya musim hujan dan musim-musim lainnya. Aku sering diajak ibu ke pasar yang letaknya tak jauh dari rumah. Aku juga sering diajak ayahku keliling desa dibonceng sepeda, main ke rumah temannya yang punya peternakan sapi, dan duduk-duduk di taman depan gereja yang begitu tinggi letaknya. Entah kenapa gereja di sana dibuat begitu tinggi dan mushala sejajar dengan tanah. Aku juga tak tahu.

Kami tinggal di sebuah kontrakan, yang ayahku dapat dengan harga murah ketika pada suatu malam beliau iseng mencarinya di sana. Orang tuaku merasa beruntung. Rumah itu luas tapi harga sewanya murah, lantaran menurut isu yang berbedar, rumah itu berhantu sejak penghuni sebelumnya meninggal bunuh diri. Tapi selama kami di situ, segalanya baik-baik saja. Beberapa tetangga yang usil memang menambahkan berbagai cerita. Namun ibu dan ayahku tak pernah gentar. Bagimana pun hidup kami damai, itu sudah lebih dari cukup. Rumah itu bergaya jawa kuno dengan beberapa pilar di dalamnya. Bahkan aku ingat bisa bermain sepeda di dalam rumah. Ada dua kamar mandi dan sumur yang dipisahkan oleh dapur yang juga sangat luas. Bangunan itu juga punya halaman lebar namun berjauhan dengan para tetangga. Banyak pohon besar di depan halaman. Seperti pohon melinjo, jambu biji, jambu klutuk. Bapak melihara ayam di samping rumah, dan tanaman hias di depan rumah.

Sampai pada suatu hari, ketika aku duduk di kelas 3 dan adikku masih TK, kami harus pindah. Mbah kakung kami memintanya. Di Jawa, anak lelaki memang harus terus bersama orang tuanya meskipun sudah menikah dan memiliki banyak anak, sedangkan anak perempuan boleh dibawa pergi pasangannya. Dalam benak anak kecil, perkara pindah rumah memang tidak mudah diterima. Aku masih ingin tinggal di sana, mungkin selamanya. Bukankah rumahku di desa kecil itu? Di rumah tua itu? Kata ibu, itu bukan rumah kami. Hanya sementara. Saat itu logika anak-anakku tak bisa menangkapnya. Hal yang kuingat, salah satu sahabat masa kecilku menangis sore itu, beberapa saat sebelum kami pergi bersama truk berisi barang-barang. Aku ingat sempat bilang padanya, aku akan kembali, mengunjunginya. Aku hanya sempat mengunjunginya 2 kali, setelah itu tak pernah lagi ayahku mengajakku ke sana karena terlalu sibuk di kota, atau mungkin sesi berpamitan pada warga telah selesai. Terakhir aku menemukan sahabatku itu ketika masih punya FB.

Tentu saja, kehidupan di kota tidak sama seperti di desa. Menurutku cukup aneh dan sedikit jahat. Beberapa lama kami di kota, aku melihat wajah riang dan lembut ibuku mulai surut, diganti raut tegang dan sering berbicara dengan nada tinggi. Padahal sebelumnya Ibu tak pernah marah. Tapi ibuku tetap memiliki hati yang dulu meski kini sedikit agak keras. Kuingat ayahku juga semakin jarang di rumah karena pekerjaan di kota lebih padat, persis seperti bentuk kampung-kampungnya yang padat dan ramai. Beliau juga tak pernah lagi membuatkan kami mainan dari bahan-bahan sekitar. Lebih banyak membelikan. Tapi memang begitulah kota. Orang-orang seperti tertuntut untuk bekerja siang malam, demi memenuhi kebutuhan hidup yang juga semakin banyak. Sedangkan waktu di rumah semakin sempit. Kelak setelah masa remaja tiba, aku mulai mempelajari banyak hal tentang perbedaan kota dan desa. Bagaimanapun kehidupan di kota juga harus banyak disyukuri. Kami belajar banyak tentang waktu. Orang-orang kota bukankah sangat menghargai waktu seolah itu hal langka yang bisa hilang sewaktu-waktu? Setidaknya, di kota, lebih mudah menemukan tempat belajar dan buku-buku. Setidaknya, di sini aku dapat mempelajari sifat manusia yang begitu beragam. Biarlah memang terkadang aku tak bisa move on begitu saja dari kehidupan desa.

Dan kau tahu, Teman. Gamping seolah mengingatkanku untuk pulang ke masa itu. Untuk ke rumah sakit di mana ayahku masih di rawat baru-baru ini, kami harus melintasi tempat itu. Jalan di dekat rumah masa kecilku tak sesepi dulu. Banyak pertokoan dan bangunan baru. Satu-satunya swalayan kecil di sana telah jadi rumah makan. Ruko kecil di mana salah satu temanku tinggal berubah jadi kantor agen pengiriman barang. Rumah temanku yang lain, yang ayahnya memiliki truk besar, tak lagi kelihatan dari jalan. Sebetulnya aku ingin tahu, mereka teman-teman masa kecilku, bagaimana kabarnya kini… Meski bentuk desa kecil itu tak sama dari yang dulu, aku tetap merasa sangat akrab. Tidakkah ini aneh. Ayahku dirawat di Gamping. Dan setiap aku ingin melihat ayahku, aku selalu merasa pulang.

Di manakah engkau merasa pulang, Teman? Apakah cukup di hati seseorang?

#PosCintaTribu7e

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s