Surat Keempat

Teman, apa kabarmu hari ini? Masih ingatkah pertama kali engkau jatuh cinta dan patah hati?

Masih melekat dalam ingatan masa kecilku, ketika masih tinggal di Gamping, aku pernah jatuh cinta pada seekor bayi burung gereja yang jatuh dari pohon. Kutemukan ia sewaktu pulang sekolah. Burung itu masih bersembunyi aman di dalam sangkar dan masih hidup. Karena sangat lucu, aku membawanya pulang. Aku membayangkan aku bisa membesarkannya hingga ia bisa terbang sendiri kelak.

Sejak itu, aku merasa orbitku hanya pada si burung yang sebatang kara itu. Sebelumnya, tiap pulang sekolah, akan merengek minta dibelikan layang-layang dan bermain di luar, juga dibelikan kapur tulis warna-warni untuk mencorat-coret tembok rumah seperti yang biasa kulakukan, atau bergabung dengan teman-teman yang sedang pasaran.

Tapi segalanya berubah ketika bayi gereja itu jadi anggota keluarga. Melihat matanya yang polos, bulu-bulunya yang jarang, dan tubuhnya yang kurus, membuatku merelakan waktu-waktu bermainku itu untuk menemaninya.

Sangkar mungil dengan bayi burung di dalamnya itu kusimpan dalam salah satu laci meja belajar dengan sedikit agak terbuka supaya tetap ada udara masuk. Si bayi selalu bercericit ketika lapar. Dan tidur setelah kenyang. Begitulah aku jadi menyadari bahwa makhluk hidup selalu butuh makan dan tidur. Tak lupa tubuhnya kuberi selimut hangat dari kain bekas supaya tetap hangat. Ah, kasihan, entah di mana induknya.

Burung gereja mengajariku tentang kehidupan kecil. Aku membayangkan di mana sebetulnya burung-burung liar tinggal dan berkumpul dengan keluarganya. Perlahan ia menjadi teman bicaraku. Tapi kala itu aku masih kecil. Aku tak tahu bagaimana cara terbaik merawatnya kecuali hanya memberinya makan dengan ujung batang lidi dan pelan-palan memberinya nasi sebutir demi sebutir, lalu mengajaknya ngobrol.

Aku memang tak beruntung. Bayi gereja itu mati seminggu setelah bertahan hidup di laci meja belajarku. Aku terkejut menemukannya tak bergerak ketika pulang sekolah. Tubuhnya dingin dan matanya terpejam. Itulah kali pertama aku merasa patah hati. Kusentuh badannya dan kugoncang sedikit. Tidak ada kehidupan yang menyapa. Rupanya yang telah tiada takkan bisa kembali. Dan aku mulai menerima kepergiannya berhari-hari setelah si bayi burung dikuburkan di halaman rumah. Setelah itu, aku kembali bermain dengan ayam-ayam peliharaan ayahku.

Kelak ketika dewasa (yang baru pertama kualami belum lama ini), perasaan patah hati tak ada apa-apanya dibanding ketika gigimu sakit. Ketika patah hati, kamu masih tetap bisa tertawa, nonton film, makan keripik, karaoke bersama teman, jalan-jalan, dan tidur dengan nyenyak. Semua itu takkan bisa kau lakukan bila gigimu yang tengah sakit.

Apakah yang pertama kali membuatmu patah hati, Teman?

 

 

Iklan