Sesuai Harapan

Tuhan tentu paling tahu karakter diri saya yang selalu tak tahu pasti apa yang benar-benar diinginkan, disukai, ataupun dituju. Itulah mengapa ada lebih banyak “semoga” dalam hidup saya yang akhirnya tidak dikabulkan-Nya, namun saya pun lebih banyak mengerti. Kemudian, pada akhirnya saya memiliki tujuan jelas, setidaknya yang saya rasa hal itu benar-benar jelas, ketika menjadi ibu. Tuhan begitu maha pemurah sehingga “semoga” saya kala itu dikabulkan tanpa saya duga. Harapan untuk bisa melahirkan secara gentle pun tercapai.

Mungkin saja saya sedikit heran sekaligus takjub pada proses persalinan saya sendiri. Sekitar 7 minggu lalu, proses itu berjalan lembut. Tama (Tsaqif Adhitama Ardi), anak kedua kami lahir alami dengan bobot yang sedikit lebih besar dari kakaknya, dan alhamdulillah sehat walafiat. Tama agaknya bayi yang sedikit terabaikan ketika di dalam perut namun justru memilih proses yang mudah. Terbaikan yang saya maksud ini adalah selama ia di perut, ibunya tak disiplin senam, tak teratur menata pola makan, minum kopi setiap hari, jarang tidur, tak terlalu diperhatikan seperti ketika hamil Satya, dan tentu saja lebih banyak memikirkan si sulung yang cukup menyita semua perhatian karena polahnya yang super aktif dan lagi lucu-lucunya. Hanya ada sedikit waktu tiap harinya untuk mengajak si bungsu ini ngobrol. Bahkan si bungsu ini termasuk lebih jarang dielus ayahnya ketimbang Satya ketika di perut. Sering ditinggal pergi pula. Mestinya saya punya potensi mengalami proses melahirkan yang lebih kacau dari bayangan. Namun kali ini saya mesti percaya bahwa bulan Romadhon memang membawa berkah tersendiri meski saya lagi-lagi tak bisa menjalankan puasa.

Saat itu di tanggal 19 Juni, di mana saya bahkan ragu apakah saya sudah merasakan kontraksi menuju kelahiran ataukah belum. Lebih cepat dari HPL adalah hal biasa dialami ibu hamil. Belum lagi nyeri yang terjadi tak terlalu kuat seperti pengalaman yang pertama. Ketika gelombang rahim itu datang, waktunya sungguh tak teratur, dengan jarak yang lambat ditambah ingatan tentang melahirkan yang pertama yang durasinya sangat lama, selama 2 hari, membuat saya masih menunggu dengan santai. Ah, barangkali yang ini lama juga, begitu pikir saya. Siang itu bahkan saya masih sempat mencuci baju, tidur, dan main dengan Satya. Maka setiap gelombang datang, saya hanya mengajak negosiasi Tama dengan perasaan sedikit pasrah, “Kapan pun kamu lahir, Nak, Bunda siap, tapi kalau bisa nunggu ayahmu pulang ya.” 😀

Sesuai pinsip kelahiran alami yang pernah saya baca di berbagai referensi, janin juga bisa merespons apa yang seorang ibu katakan atau rasakan. Dan benar saja, kontraksi baru mulai intens 5 menit sekali menjelang jam pulang kerja ayahnya. Jam 4 sore ketika ayahnya pulang ia baru membereskan berkas-berkas yang mesti dibawa ke puskesmas. Jam 4 lebih kami berangkat ke rumah bersalin, di Puskesmas Jetis. Saya masih ingat sopir Go Car yang menyetir merasa sedikit gugup dan akhirnya ngebut menerobos keramaian yang biasa terjadi di jam pulang kantor dan menjelang buka puasa. Padahal kami sudah meminta pelan saja. Saya jadi merasa sedang di film Fast and Furious.

Kami sampai di sana jam 5 lebih, setiap kontraksi datang saya hanya bisa berdzikir dan mengatur napas tapi memang sudah tak bisa merespons secara normal ketika diajak bicara. Ibu yang sudah mendekati detik-detik melahirkan mengalami hal yang sama. Meski demikian, bersama dua bidan di ruang bersalin terlihat sangat santai dan menikmati pekerjaannya, saya merasa semakin tenang. Ditambah suasana di sana yang sangat sepi hari itu. Mereka bahkan sempat mengajak bercanda sebelum membantu dengan aba-aba. Singkat kata, Tama lahir dengan cepat beberapa detik menjelang buka puasa. Bahkan mendapatkan hak IMD dan langsung rawat gabung.

Alhamdulilllah, Mahabesar Allah, yang telah memberikan begitu banyak keberkahan pada kami, di tanggal 19 Juni lalu, bertepatan dengan ulang tahun ibu saya. Betapa simpelnya melahirkan kedua kali ini. Yang “ribet” hanya proses jahit menjahitnya setelah itu. 😀

 

Iklan

2 thoughts on “Sesuai Harapan

  1. Alhamdulillah, barakallah mba untuk kelahiran keduanya. Iyaa bener si jabang bayi udah bisa diajak kompromi pas ada di perut. Dulu anak pertama saya pas lahiran, istri saya bilang biar pas ayahnya liburan lahirnya. 😁

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s