Perkiraan

Di dunia ini, apalagi yang dibuat manusia, apakah ada yang benar-benar pasti? 

Suatu hari Satya (yang waktu itu belum satu tahun) ditimbang di posyandu kampung saya, bobot di timbangan menunjukkan angka 7 kg. Lalu sehari kemudian eyangnya (orangtua suamiku) menjemputnya untuk main di sana seharian, kebetulan di sana juga iseng ikut posyandu, bobotnya 7.3 kg. Ibu mertua bilang, timbangan di sana paling akurat. Belum sampai seminggu Satya harus imunisasi di puskesmas. Sebelum disuntik ia tentu harus ditimbang dulu. Bobotnya 7.1 kg. Saya pun bingung yang mana yang harus saya percaya. Apakah hanya dengan hitungan hari berat badan bayi bisa naik turun? Atau timbangannya yang memang tidak “kompak”. Baiklah, mungkin berat badan bukan hal besar. Paling-paling cuma sedikit mengacaukan catatan grafik si kecil di buku kesehatannya. Selama si anak selalu sehat, ceria, dan perkembangan bagus, bobot bukan hal besar. 

Tapi belum lama kadar hemoglobin saya juga dites dengan alat kesehatan dari bidan praktik, menunjukkan angka 10.8 sehingga dinyatakan anemia. Tapi tak lama kemudian dites hb di puskesmas masih menunjukkan angka 11 dan terbilang normal. Padahal dua angka itu menentukan apakah saya bisa melahirkan normal atau dengan tindakan dan bisa saja butuh transfusi. Tidak hanya itu, tensi saya menurut tensimeter di puskesmas dengan tempat bersalin juga berbeda. Pengalaman-pengalaman kecil semacam itu membuat saya jadi berpikir bahwa bahkan peralatan medis bisa membingungkan karena banyak versi. Rupanya bisa juga hal-hal yang sepertinya akurat menjadi tidak pasti.

Apalagi bila berbicara tentang HPL (hari perkiraan lahir). Namanya juga perkiraan, maka tak bisa dijadikan patokan. Barangkali rata-rata ibu yang pernah melahirkan akan setuju bahwa HPL hanya sebagai penanda. Setidaknya, yang saya tahu, ada 2 macam cara menghitung umur kehamilan dan menentukan kapan bayi lahir. Dengan perhitungan manual tanggal terakhir haid yang biasanya dilakukan para bidan dengan rumus, atau melihat hasil USG. Meski demikian, HPL cukup berpotensi membikin cemas. Pasalnya, karena perbedaan pendapat bidan dan para doktet itulah, ibu hamil bisa mengalami kekhawatiran yang malah mempengaruhi kesehatannya dan janin. Mungkin bidan satu akan mengatakan itu normal bila belum 42 minggu, bidan yang lain bisa tidak percaya diri dan menolak menolong persalinan. Dokter satu bisa saja beropini lain sehingga merasa bahwa mengakhiri kehamilan segera dengan operasi meski belum datang kontraksi adalah cara terbaik. Dokter lain bisa saja bersikap lebih santai selama kondisi ibu dan janin baik-baik saja. 

Saya pun memilih untuk tak banyak memikirkannya. Mungkin Satya dulu lahir lebih cepat dari HPL. Entah yang kedua bagaimana. Konon anak kedua memiliki pola sama dengan yang pertama. Sayangnya, HPL keduanya ditentukan oleh dokter yang berbeda. Mungkin saja Satya berdasarkan USG dan adiknya berdasarkan hitung manual. Saya sendiri lupa. Belum lama ketika saya USG diantar sahabat saya Fitri di klinik tujuan bersalin, dokter yang jaga punya opini lain, mundur hingga seminggu lebih dari yang selama ini saya tahu. Padahal menggunakan USG.

Baiklah, saya pun memutuskan untuk menghabiskan hari-hari sekitar HPL dengan sibuk mengurus Satya, beberes, membaca buku dan artikel, juga tetap mengerjakan pekejaan freelance di rumah. Bila dulu di kehamilan pertama saya sempat stress akut dan jengkel karena belum HPL banyak orang menanyakan kapan lahir, kok belum lahir, si itu aja udah lahiran, dan sebagainya.  Sekarang mungkin saya lebih cuek dan santai. Orang-orang di sekitar saya dan keluarga besar bahkan tidak tahu persis HPL saya tanggal berapa 😂. Sebagai perempuan yang belum lama jadi ibu, saya mengerti terkadang bersikap cuek dalam beberapa hal sangat dibutuhkan dalam menjalani hidup. Semua itu tentu saja, supaya tetap waras. Toh HPL itu manusia yang membuat. Yang paling tahu kapan bayi akan lahir cuma Allah kan. 😉 Lagipula kehamilan kali ini sepertinya si dedek mengajak ibunya prihatin dan mandiri. Habisnya apa-apa saya mesti bisa sendiri. Termasuk survive ketika menghadapi mood swing atau tiba-tiba merasa kesepian dan insomnia seperti bulan-bulan belakangan ini.

Namun, dalam diam, saya tetap berharap semoga Allah memberikan kemudahan dan kelancaran di persalinan nanti, kapan pun itu.

Ramadhan hari ke-21

(5 hari menuju HPL)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s