Menyapih

Semula dalam bayangan saya, menyapih si kecil bakal jadi drama yang penuh tangis-tangisan. Saya pun masih ingat bagaimana Ibu menyapih adik bungsu saya dengan susah payah waktu itu. Tiap malam Bapak yang harus menggantikan Ibu menggendongnya sambil memberinya susu dalam dot menjelang tidur karena adik saya terus menangis minta jatah ASI-nya. Belum lagi saya juga sering mendengar cerita menyapih yang terdengar tidak mudah dilalui. Kalau Satya juga bakal gitu gimana ya?

Rupanya sejak awal usia 16 bulan, bayangan menyapih penuh drama itu pudar. Bagaimana tidak, sejak usianya 16 bulan lalu, Satya mulai jarang minta ASI. Sayalah yang justru sering menawarinya. Memang sih sejak usia 13 bulan, Satya sudah diperkenalkan susu tambahan. Tapi tetap harus minum ASI. Sebenarnya saya nggak terlalu percaya dengan susu formula sekadar hanya minuman selingan, karena selain ASI, makanan bayi terbaik tetap berasal dari bahan alami dan buatan sendiri. Bila makanan berkualitas sudah terpenuhi dalam sehari, maka susu formula tak terlalu dibutuhkan.

Ingatan saya melompat ke 21 bulan yang lalu. Di hari-hari setelah ia lahir ke dunia. Tentu saja bayi baru lahir hanya membutuhkan ASI untuk bertahan hidup. ASI adalah makanan terbaik. Sekalipun menyusui adalah proses alami, tapi kalau tak diusahakan juga tak bisa. Perjuangan memberi ASI saat itu tidak mudah, belum lagi harus menghadapi baby blues. Pasalnya, hari-hari awal pasca melahirkan, ASI biasanya tak langsung keluar. Di samping itu, wacana ASI eksklusif belum banyak diketahui. Belum juga diterima oleh sebagian orang. Bahkan termasuk para dokter dan perawatnya ada pula yang lebih pro formula. Namun, alhamdulillah, pada akhirnya Satya hanya mendapatkan ASI di 6 bulan awal kehidupannya sesuai haknya sebagai bayi. Dan berlanjut pada bulan-bulan berikutnya dengan mulai mengonsumsi MPASI. Semua itu juga tak lepas dari dukungan suami dan keluarga. Meskipun meyakinkan mereka supaya pro ASI pada awalnya juga membutuhkan proses.

Memberikan ASI tidak hanya semacam insting sebagai wujud cinta kasih ibu kepada bayinya, tapi juga termasuk perintah Allah yang juga termuat di Alquran.

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” (Al-Baqarah [2]: 233)

Karena itu, proses 2 tahun menyusui bagi ibu sama halnya memberikan kehidupan yang terbaik untuk buah hati. Tak hanya berkaitan dengan nutrisi dan kekebalan tubuh terhadap penyakit, tapi ASI juga terkait psikologi dan masih banyak lagi.

Namun penolakannya terhadap ASI belakangan ini membuat saya menyadari Satya jenis anak yang sudah mandiri. Ia juga cukup mandiri dalam beberapa hal seperti misalnya makan (meski masih sering juga disuapi ibu saya), tidur (tidak lagi digendong sejak usia 15 bulan), tidak mencari ibunya meski harus ditinggal karena urusan urgen, dan juga suka beberes seperti orang-orang dewasa di sekitarnya (meskipun suka juga bikin berantakan lagi 😂). Alhamdilillah ia juga telah mampu memahami instruksi dan meresponsnya dengan positif, menyampaikan permintaan, mengerti batasan (karena terkadang saya melarang beberapa hal yang memang cukup berbahaya), dan mudah mempelajari sesuatu yang dilihat dan didengarnya. Artinya, tidak ada masalah dalam tumbuh kembangnya. Sedikit banyak ia telah bisa diajak ngobrol. Saya bahagia tapi juga sedih karena semingguan ini ia benar-benar menyapih dirinya sendiri. Kalau ditawari, ia pasti cuma menjawab “Ndak… unda atit, gigit atya… katian…”. “Nggak… Bunda sakit, kegigit Satya… kasihan.” Mungkin karena pernah melihat tampang bundanya sering mengeryit setiap ia tak sengaja menggigit, atau entah apa ya…

Sebetulnya sejak saya dinyatakan hamil lagi, hampir setiap orang menganjurkan untuk menyapihnya. Tapi saya memilih tetap melanjutkannya, setidaknya sampai Satya sendiri yang ingin berhenti. Terutama karena setelahnya saya telah bertanya pada beberapa bidan, dokter, dan referensi lainnya sehingga lebih yakin untuk tetap menyusuinya. Alhamdulillah, Satya nyaris juga nggak pernah rewel.

Sejujurnya saya belum siap menyapih. Satya baru 21 bulan. Mestinya masih 3 atau beberapa bulan lagi ia disapih. Setiap melihatnya mandiri dan tidak banyak menuntut sebetulnya saya jadi agak baper. Barangkali alam semestalah sudah mengkondisikannya karena sebentar lagi akan menjadi kakak. Maka, terlihat pula dalam dirinya karakter seorang kakak yang mengalah dan pengertian. Mudah-mudahan nanti nggak ada drama cemburu-cemburuan ya kalo dedek bayi lahir :D. Sebab saya akan selalu menyayangi mereka sepenuhnya dan berusaha memberikan perhatian yang adil tanpa ada yang terkurangi.



Ramadhan hari ke-14

(13 hari menuju HPL)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s