Surat Keenam

Dear Hujan,

Entah bagaiamana aku justru lebih sering membayangkan dapat berpergian ke berbagai belahan dunia akhir-akhir ini dan melanjutkan mimpi-mimpi terdahulu. Aku juga membayangkan, kelak ketika anakku sudah bisa diajak jalan-jalan dan diskusi, aku ingin mewujudkan salah satu mimpiku, jadi travel writer, tentu sambil mengajak anakku mengenal dunia lebih luas. Jangan tertawa ketika kau membaca ini, kawan. Memang aku tak pandai menulis sesuatu apalagi kisah perjalanan. Namanya juga impian, berharap dulu kan nggak ada salahnya.

Dulu, ketika masih sangat muda, aku berharap aku pernah sangat ingin tahu bagaimana rasanya pulang ke rumah ketika lebaran atau libur panjang. Bertahun sejak lahir, kau tahu sendiri kan, aku tak pernah ke mana pun. Lebih karena terlalu sayangnya orang tua kepadaku, aku tak pernah dilepasnya ke mana-mana. Pulang dari liburan ke luar kota tentu nggak sedramatis ketika harus mudik setelah berbulan tak bertemu Bapak Ibu dan keluarga. Kini, ketika aku telah memiliki keluarga sendiri, perasan ingin keluar kota sekadar hanya membayangkan bisa terwujud kalau sewaktu-waktu suamiku harus ditugaskan ke luar daerah dengan keluarga kecilnya ikut serta. Tapi itu mustahil untuk saat ini. Suamiku kan pria Jawa. Di Jawa anak lelaki harus terus di tempat kelahirannya, atau bersama orang tuanya. Di Jawa, kekeluargaan sangat erat. Saking eratnya kalau bisa sih satu kampung isinya keluarga semua.

Lagi-lagi bisa sesekali tinggal di luar kota hanya bayangan kecil bertahun yang lalu. Kini, aku telah banyak menyimak berbagai cerita teman dan kerabat, hidup di luar kota itu tak senyaman tinggal di kampung sendiri. Apalagi bila harus tinggal hingga bertahun lamanya. Aku membayangkan para TKW yang terdampar di negeri asing. Juga membayangkan para ayah yang harus berpisah dari keluarganya demi pekerjaan di luar kota. Aku juga mengingat salah satu temanku yang pernah jadi guru di Thailand, yang meski hanya setahun, ia toh tak ingin lagi melanjutkan pekerjaannya itu dan memilih tinggal di dekat orang tuanya karena ia anak perempuan. Padahal itu kan kesempatan keren. Tapi tinggal jauh dari rumah menurutku adalah perkara apakah kepercayaan diri dan kesiapan mentalmu cukup untuk itu.

Kawanku Hujan, tapi profesi semacam travel writer rasanya cukup menarik untuk diabaikan. Terlebih kesempatan itu sepertinya masih terbuka lebar. Kau tahu kenapa? Dulu suamiku pernah berjanji, ia ingin berhenti merokok. Kalau dalam dua tahun kami menikah ia belum berhasil berhenti merokok, saya kelak boleh meraih impian yang satu itu. Menarik sekali bukan. Itung-itung sambil mengajak si kecil melihat dunia lebih luas di akhir pekan, supaya tak penat seminggu terkungkung di kesibukan sekolah mislanya. Mudah-mudahan bila hari itu rupanya tiba, phobiaku pada pesawat juga sudah sembuh.

Sekian suratku, Hujan. Berharap pula kau segera bisa jalan-jalan juga ke negeri impian di belahan dunia lain. Tidakkah kau juga merasa ingin berpergian?

Surat Kelima

Dear Hujan,

Februari rupanya berjalan cepat. Terbesit di benakku, aku ingin merasa bulan ini cepat berlalu. Sudah tanggal berapa ini? Aku bahkan tak ingat tanggal dan terkadang lupa hari.
Sudah lama aku tidak membaca sesuatu, jangan pernah tanya lagi buku apa yang sedang aku baca hari ini, Hujan. Aku pasti lebih sering menjawabnya tak ada. Mungkin saja aku baru tahu rasanya berjarak dengan hal-hal yang telah melekat sejak kecil: membuat hidupmu tampak kosong. Tentunya kosong yang tidak berarti tak ada apa pun di sana. Menjalani peranku kini tetaplah menarik. Tapi membiarkan diri sendiri beku karena tak pernah lagi baca buku di sela kesibukan itu soal lain. Buku sering kali berhasil mengalihkanku dari pikiran negatif. Setiap si kecil tidur, pikiranku yang sering berputar-putar malah terbangun. Entah apa yang tengah kuresahkan. Tanpa buku atau bacaan yang sedari dulu jadi teman karibku, hidupku seperti hanya berputar-putar di dunia yang sempit.

Sekian surat singkatku hari ini.