Menjadi Bahagia

Saya sempat menangkap obrolan tetangga depan rumah beberapa hari yang lalu. Saya nggak niat nguping, tapi karena suaranya keras banget, jangankan saya yang lagi nongkrong di ruang depan, yang lagi masak di belakang saja dengar. Ceritanya si tetangga ini punya keponakan perempuan yang lagi nyari jodoh. Latar belakang keluarga si keponakan ini bisa dibilang tajir. Orang tuanya pengusaha besar. Rumah di mana-mana dan cuma pembantu yang menempati. Si keponakan ini anak tunggal pula. Ia lulus kuliah di universitas terbaik di Jogja, anaknya manis, pakai jilbab, nggak pernah pacaran. Katanya pengin entar jodohnya pria sholeh yang bisa membahagiakan dia. Maksudnya barangkali, si calon ini setidaknya punya jenjang pendidikan minimal setara, setia, perhatian, pinter ngaji, pinter segala hal, bukan anak mami, mau bantuin sedikit tugas istri, ganteng lah syukur-syukur, nggak merokok, dan ya kalo bisa secara finansial nggak memalukan keluarga besan. Kalau nggak begitu, masalah biasanya terjadi, ini kan negara kawasan Timur. Perbedaan sekecil itu sedikit banyak tetep jadi ganjelan di masa mendatang, terutama bagi keluarga besarnya. Ya toh.

Tapi wajar deh, siapa pun yang punya anggota keluarga yang lagi nyari jodoh, penginnya cari calon mantu yang sempurna supaya kelak bahagia. Pihak perempuan berharap rata-rata si pria impian seperti tadi lah. Begitu juga dari pihak pria. Kalau bisa nyari istri tuh yang cantik, pinter, rajin beberes rumah, terampil, bisa jahit, bisa nyuci, bisa masak, bisa punya anak, keibuan, pinter dandan, minimal lulus S1, lemah lembut, bisa boso kromo alus, nggak matre, nggak bawel, nggak banyak tuntutan, nggak bakal gendut, sholehah, dan kalo bisa sih bisa punya penghasilan sendiri. Tapi kenyataannya ada nggak sih yang se-perfect itu? Kalau elu-nya sudah di surga pasti bakal nemuin kali ya.

Denger itu, saya jadi keinget salah satu proyek pribadi yang selalu saja terlupa: mencari tahu, seperti apakah itu bahagia. Tapi ternyata pertanyaan ini kurang spesifik, sehingga saya menggantinya dengan:apakah selama ini saya sudah bisa membahagiakan diri sendiri dan orang lain, terutama keluarga dan orang-orang terdekat saya?

Apakah ketika orang menikah dan menemukan seseorang yang mirip harapan, lantas kehidupan bakal bahagia terus nggak ada sakit-sakitnya? Apakah kalau nggak sesuai harapan lantas nggak bahagia begitu saja? Kalau begitu jangan-jangan kitanya yang dari sononya miskin kebahagiaan, sehingga berharap orang lain bisa ngasih kebahagiaan pada kita yang “kekurangan” ini.

Tapi yang saya pahami hingga detik ini kebahagiaan itu ternyata nggak bisa kita dapatkan seinstan kita memesan makanan siap saji yang tinggal minta, bayar, selesai. Semuanya mesti diperjuangkan, banyak di dalamnya yang juga butuh berbagai pengorbanan. Kalau nggak diperjuangkan ya itu semua nggak tercapai. Nggak usah juga ya mengharapkan orang lain bisa ngasih kebahagiaan ke kita. Tanpa kita bisa membuat diri kita bahagia, semua itu mustahil. Toh manusia bukan mesin yang bisa kita paksa bekerja memenuhi semua keinginan kita. Mereka bukan badut robot yang setiap saat bisa kita minta menghibur dan bukan juga doraemon yang bisa memenuhi segala keinginan kita. Robot aja kalau baterainya habis kita mesti mengisinya ulang. Di dunia ini nggak mungkin ada yang instan.

Saya gemas ingin menulis perihal ini dikarenakan justru jauh di dalam hati nurani masih suka mikir, jangan-jangan saya masih seperti tipe di atas, jenis orang yang selalu berharap dibahagiakan orang lain, tapi malas bikin diri sendiri bahagia. Karena malas bikin bahagia, maka sudah tentu dari sononya saya tipe yang nggak mudah bersyukur. Kalau sudah begitu percuma kan orang lain pontang-panting bikin saya bahagia, tapi karena saya nggak mudah bersyukur, maka dihadiahi seluruh dunia pun ngak bakal bikin saya senang dan puas dengan hidup. Walhasil saya jadi orang yang nggak bisa pula membahagiakan orang lain.

Mungkin saja waktu-waktu sebelum ini saya sulit bahagia karena cara pandang saya yang terkalu idealis atau kebanyakan mikir pakai otak, nggak pakai hati. Terlalu bikin patokan harus begini dan begitu. Sebab hidup dengan berbagai patokan ternyata bikin nggak tenang. Apalagi kalau patokan itu cuma kita sendiri yang memilikinya. Patokan cuma bikin saya gampang takut yang nggak jelas. Misal saja anak belum gede tapi sudah takut kalau nanti ia dapet lingkungan yang salah atau pengasuhan yang gagal. Atau, saya takut sekali berkonflik dengan keluarga besan bila kelak tinggal bersama mereka yang beragam itu sehingga saya nuntut suami saya untuk nyari kontrakan atau nyicil rumah seideal pasangan pada umumnya. Ketakutan-ketakutan yang belum tentu terjadi itulah yang membuat kebahagiaan saya berkurang. Tak lain tak bukan dikarenakan saya ini kurang bersyukur. Sudah bagus punya tempat tinggal meski harus satu atap dengan para mertua. Ketimbang mereka yang terpaksa tinggal di tenda karena rumahnya ambruk terkena banjir misalnya.

Memang tahun berganti, meski kehidupan bukan lantas jadi baru. Terkadang hanya melanjutkan tugas-tugas yang belum selesai. Tugas tahun depan untuk saya sendiri sebelum mendaftar proyek pribadi yang lain adalah melanjutkan lagi salah satu proyek pribadi yang sudah saya ceritakan di atas. Tentu harus bisa dong karena saya seorang ibu. Seorang ibu harus bisa membahagiakan diri sendiri dulu sebelum mampu membahagiakan anak-anak dan suami bukan. Tim SAR aja harus mampu menolong dirinya sendiri dulu, minimal tahu dulu jalan pulang sebelum menemukan korban hilang. Nggak mungkin kan terjun bebas trus nanti risikonya ilang bareng. Dokter pun harus menolong dirinya dulu sebelum menolong pasiennya yang sekarat.

Nah kan, ketika saya nulis ini saya jadi ingat. Sebelum nikah, psikolog yang saya sempat temui juga sempat menasihati bahwa kunci dari menjalani rumah tangga adalah kemampuanmu membahagiakan diri sendiri, dan masih banyak lagi. Yang akhirnya saya simpulkan: jangan begitu saja menyederhanakan makna pernikahan dengan memperoleh kebahagiaan (pribadi) semata. Mangkanya Islam menyebut pernikahan sebagai jalan menyempurnakan separuh agama. Bukan menyempurnakan daftar impian ketika masih lajang. Mungkin saja saya sempat lupa tentang itu karena kesibukan dan perubahan pola hidup yang berubah drastis sejak hamil dan jadi ibu rumah tangga. Perubahan pola hidup yang drastis terkadang bikin manusia jadi lupa hal-hal penting bukan?

Iklan

2 thoughts on “Menjadi Bahagia

  1. “Kalau bisa nyari istri tuh yang cantik, pinter, rajin beberes rumah, terampil, bisa jahit, bisa nyuci, bisa masak, bisa punya anak, keibuan, pinter dandan, minimal lulus S1, lemah lembut, bisa boso kromo alus, nggak matre, nggak bawel, nggak banyak tuntutan, nggak bakal gendut, sholehah, dan kalo bisa sih bisa punya penghasilan sendiri.”
    Perhatianku langsung pada frasa “nggak bakal gendut”. Betapa masyarakat kita sempit sekali membatasi kriteria tubuh ideal itu.

    • hoho, iyo mpok. itu berdasarkan pengalamanku pascamelahirkan. waktu masih di RS ada ibu2 kerabat gitu pd datang. pdhl q blm siap nerima tamu. masih pemulihan n stress krn ASI blm lancar. eh ibu2 ini malah sibuk nasehatin hal2 yg nggak kuperluin, nakut2in hal2 yg belum tentu terjadi, n terutama bikin emosi bgt ngomentarin perutku yg masih gendut n kalau nggak pake ini itu nggak bakal pulih, plus banding2n diriku sama mereka yg perutnya langsing, yg ASInya langsung lancar, dsb.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s