Resensi Novel Haseki Sultan

novel Haseki Sultan

novel Haseki Sultan

Judul: Haseki Sultan
Penulis: Zhaenal Fanani
Editor: Addin Negara
Penerbit: Divapress
Tahun Terbit: Oktober 2014
Tebal: 480 halaman
ISBN: 978-602-296-036-2

Sebelum membaca buku ini, saya hanya tahu sedikit sejarah Turki Ottoman dan sekelumit cerita Harem melalui film serial yang sedang berlangsung di salah satu stasiun TV. Dapat dikatakan Sulayman adalah raja tersukses dalam sejarah Islam dan merupakan terbesar di Eropa pada abad ke-16. Di bawah kekuasaannya, armada Turki Utsmani bahkan menguasai laut Tengah hingga teluk Persia.

Banyak hal yang terjadi di istana Ottoman tak lepas dari pengaruh yang datang dari area Harem. Harem adalah istana khusus para selir. Di dalam Harem, ada ratusan wanita menunggu panggilan untuk melayani sang raja. Penggilan tersebut dianggap penting bagi setiap gadelki (calon selir) yang dapat mengubah nasib untuk selamanya. Ratusan wanita tersebut harus menunggu sampai raja menginginkannya. Banyak di antara mereka yang tidak terpilih akan dilempar ke medan perang untuk menjadi pelayan prajurit. Upaya ini tidak lepas dari pengaruh para kasim dan orang-orang yang cukup penting di sana. Mereka tidak akan terpilih bila tidak ada kasim yang “mempromosikan” kepada Sultan. Dari sanalah nuansa yang mirip persaingan dagang terjadi selayak yang terjadi kompleks remang-remang. Terlebih seorang kasim yang berhasil meluluskan selir untuk menjadi istimewa, derajatnya pun ikut terbawa.

Sedangkan Haseki adalah istilah untuk merujuk pada selir kesayangan sultan. Apakah syarat untuk menjadi selir terpilih Sultan? Selain ia lolos dari seleksi awal, ia harus cantik dan mampu menarik hati sang raja, beragama Islam, dan diharapkan kelak dapat mengandung anak berjenis kelamin laki-laki. Namun nasib menjadi selir kerajaan bukan serta merta jadi hal yang diimpikan para perempuan.

Seperti yang dialami oleh Alexa, sebelumnya ia mengalami nasib yang cukup tragis. Alexa lahir dari keluarga Kristen Ortodoks. Ia mempunyai pembawaan keras kepala, cukup cerdas, dan memiliki fisik yang cantik jelita. Alexa yang di kemudian hari bernama Roxelana semula bermimpi jadi seperti Cleopatra. Ia cukup keras kepala hingga mengabaikan pesan ayahnya untuk tinggal di asrama dan memperdalam agama. Ketika dewasa, saat ia telah yatim piatu, ia diculik dan disekap oleh pria-pria brutal tak dikenal sebelum dijual di pasar budak. Roxelana adalah satu dari sekian banyak wanita di zaman itu yang mengalami nasib serupa. Hanya keberuntunganlah yang membawanya ke istana dan kemudian menjadi gedikli karena kecantikannya.

Istana Harem dipenuhi politik kotor yang dikendalikan oleh selir-selir senior, para kasim, dan juga beberapa pejabat istana yang korup. Para selir harus pandai bersaing demi mendapat kesempatan menghangatkan peraduan sultan, mereka juga berlomba untuk bisa punya anak laki-laki. Para selir bahkan ada yang menjual dirinya pada kasim, prajurit yang mengurusi istana harem, supaya mendapat kesempatan melayani sultan. Kasim meski rata-rata dikebiri, tapi tetap saja memiliki fungsi sebagai laki-laki normal. Tak jarang pula yang berbuat curang dengan membunuh atau berkonspirasi untuk menjatuhkan saingan. Toh satu dua selir atau kasim yang tiba-tiba hilang, bukan menjadi hal besar. Akan menjadi gawat bila itu terjadi pada selir yang paling dicintai sultan.

Roxelana harus menghadapi segala kesulitan dan ancaman ketika akan sampai pada cita-citanya. Terlebih berbagai ancaaman datang, terutama dari Selir Mahidevran dan kasim-kasim seperti Kiral Berk dan Ugur Yildrim. Semakin dekat dengan cita-cita itu, semakin banyak penghalang yang menghadang. Bahkan bahaya itu pun melibatkan pelayan kesayangannya.

Novel ini banyak mengulas politik yang terjadi di istana harem sebab di istana itulah yang menentukan kelak putra siapa yang berhak menggantikan tahta raja. Kelebihan novel Haseki Sultan adalah pada detail dan suasana istana harem yang cukup menegangkan dan alur cerita yang berkembang sehingga menarik untuk terus diikuti. Dilihat dari istilah hingga penggarambaran istana, tampaknya penulis cukup mengusai sejarah Turki. Novel ini menggunakan bahasa yang ringan sehingga mudah dipahami. Membaca novel ini seperti menyimak sebuah film sejarah. Terlebih novel ini juga dilengkapi dengan catatan kaki sehingga memudahkan pembaca.

Hanya saja tidak seperti gambaran awal saya ketika membaca judulnya “kehidupan sesungguhnya” para wanita di istana masih kurang tereksplore, termasuk ciri khas karakter, pemikiran, pandangan politik, dunia batin, atau tentang bentuk pemberontakannya. Namun ternyata para selir lebih bayak berkutat pada usaha untuk menarik perhatian Sultan dengan berbagai cara yang ditopang oleh cara-cara ala kasim.

Saya merasa baik konflik maupun penyelesaian masih banyak diambil oleh tokoh-tokoh lelaki, dapat dikatakan sebagian besar politik yang digambarkan dalam novel ini dimainkan oleh para pria. Tokoh perempuan jarang diposisikan sebagai subjek yang menggerakkan cerita. Seperti ketika cerita beralih pada Mahidevran, pengaruh lebih banyak datang dari Kiral Berk. Penggambaran karakternya berputar pada kecantikan dan sisi kelicikan yang tidak terlalu mengubah keadaan. Demikian pula dengan tokoh Roxelana yang tidak begitu memiliki karakter yang berdiri sendiri, kecuali kecantikan yang dijelaskan secara subjektif dan tergantung oleh tokoh ayah di awal cerita, dan ia seolah kena batunya dengan mengalami nasib tragis karena memberontak sang ayah.

Salah satu selir seperti Sofia misalnya, malah akhirnya hanya menjadi selingan Kiral Berk karena bentuk fisiknya mirip Mahidevran. Ia ditinggalkan oleh Kiral Berk begitu saja setelah jatuh cinta. Pada bagian ini saya memang sedikit agak kecewa karena Sofia diposisikan sebagai perempuan lemah meski ia semula cukup memenuhi kriteria untuk jadi selir Sultan. Karena lemah, ia jadi pihak yang dipermainkan dan dijadikan alat.

Memang di balik keputusan seorang raja, ada seorang wanita yang berperan di belakangnya. Semua itu tetap saja ditentukan oleh kecantikan fisik, kelembutan, keberuntungan, dan sedikti kecerdikan untuk mampu meluluhkan hati raja dan memengaruhi jalannya kekaisaran. Selebihnya, novel ini meski menggambarkan keadaan di istana Harem dengan cara fiktif, namun dapat sedikit membuka wawasan dan mengingatkan kembali tentang kejayaan Zaman Turki Ottoman. Setelah saya iseng searching ternyata nama Selir Roxelana memang ada dalam sejarah Turki.

Selamat membaca.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s