Kepada Pagi yang Selalu Menemani Sejak Terbangun dari Mimpi

Selalu ketika engkau mengirim cerah matahari dan udara yang berdamai dengan dada, yang senantiasa mengingatkanku tentang segala sesuatu yang akan diawali, juga yang harus dibenahi. Aku ingin selalu menyimak kehadiranmu, meski engkau terkadang menjadi sepi yang membuatku ingin terlelap kembali.

Sering kali engkau menemaniku bercerita. Lebih banyak menjadi pendengar yang begitu setia. Tentang hari kemarin yang mendung, atau mimpi semalam yang kusut dan gaduh. Tak jarang engkau datang kala subuh, mengajakku berdoa untuk meredam segala kekhawatiran dan mencoba menyusun lagi sesuatu yang kita sepakat menyebutnya harapan. Engkau tahu di waktu yang telah berlalu aku marah kepada begitu banyak hal. Dan aku sempat mengutuki hari yang datang begitu cepat. Atau tatkala aku merasa ada hari-hari yang telah kulewati begitu saja tanpa sempat merasa menjalaninya.

Melalui surat hari ketiga bulan Februari ini, ingin kusampaikan bahwa bagaimanapun hari-hariku lengkap sejak engkau menjadi senyum pertama sebelum hari beranjak tua. Dan engkaulah yang mengajari tentang makna. Engkaulah, hatiku.